About us

Golgotha Ministry adalah pelayanan dari Pdt. Budi Asali,M.Div dibawah naungan GKRI Golgota Surabaya untuk memberitakan Injil ke seluruh dunia dan mengajarkan kebenaran firman Tuhan melalui khotbah-khotbah, pendalaman Alkitab, perkuliahan theologia dalam bentuk tulisan maupun multimedia (DVD video, MP3, dll). Pelayanan kami ini adalah bertujuan agar banyak orang mengenal kebenaran; dan bagi mereka yang belum percaya, menjadi percaya kepada Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadinya, dan bagi mereka yang sudah percaya, dikuatkan dan didewasakan didalam iman kepada Kristus.
Semua yang kami lakukan ini adalah semata-mata untuk kemuliaan nama Tuhan Yesus Kristus.

Kami mengundang dengan hangat setiap orang yang merasa diberkati dan terbeban didalam pelayanan untuk bergabung bersama kami di GKRI Golgota yang beralamat di : Jl. Raya Kalirungkut, Pertokoan Rungkut Megah Raya D-16, Surabaya.

Tuhan Yesus memberkati.

Rabu, 09 September 2015

PRO KONTRA TENTANG PERSEMBAHAN PERSEPULUHAN (3)

Pemahaman Alkitab

G. K. R. I. ‘GOLGOTA’

(Rungkut Megah Raya, blok D no 16)

Rabu, tgl 18 Maret 2015, pk 19.00

Pdt. Budi Asali, M. Div.

PRO KONTRA TENTANG

PERSEMBAHAN PERSEPULUHAN (3)


3)   Hukum tentang persembahan persepuluhan adalah hukum Perjanjian Lama, tidak ada dalam Perjanjian Baru, Perjanjian Baru tidak mengatakan bahwa hukum itu tetap berlaku, dan Perjanjian Baru mengajar untuk memberi dengan sukarela.

Ir. Herlianto: “Bagaimana pengajaran persepuluhan dalam Perjanjian Baru (PB)? Apakah Yesus dan para Rasul mengajarkannya? Kelihatannya tidak, persepuluhan tidak diajarkan oleh Yesus dan para Rasul kecuali disinggung dalam beberapa ayat. Kalau begitu mengapa? Dan apakah persepuluhan masih menjadi bagian ibadah PB?” - http://www.sarapanpagi.org/persepuluhan-vt315.html

Russell Kelly: Tithing is nowhere commanded in the New Covenant (post-Calvary). ... The New Covenant did not include post-Calvary tithing to support a Levitical priesthood which was forbidden from owning property. Tithe-teachers who preach tithing from Deuteronomy, Nehemiah, Malachi, Matthew and Luke ignore proper principles of interpretation, the covenant and the context of those books. Malachi is addressed to Old Covenant Israel and not to the Church (1:1). It is never quoted in the New Covenant (after Calvary) to validate tithing. In fact Malachi specifically reminds its readers of its context of the Law, ‘Remember the law of Moses my servant, which I commanded unto him in Horeb for all Israel, with the statutes and judgments’ (4:4) (also Neh. 10:28-29). [= Memberikan persembahan persepuluhan tidak pernah diperintahkan dimanapun dalam Perjanjian Baru (setelah Kalvari). ... Perjanjian Baru tidak mencakup pemberian persembahan persepuluhan setelah Kalvari untuk menyokong keimaman Lewi yang dilarang untuk mempunyai tanah / properti. Pengajar-pengajar persembahan persepuluhan yang mengkhotbahkan pemberian persembahan persepuluhan dari kitab Ulangan, Nehemia, Maleakhi, Matius dan Lukas mengabaikan prinsip-prinsip yang benar dari penafsiran, perjanjian / covenant dan kontext dari kitab-kitab itu. Maleakhi ditujukan kepada Israel Perjanjian Lama dan bukan kepada Gereja (1:1). Itu tak pernah dikutip dalam Perjanjian Baru (setelah Kalvari) untuk mengesahkan pemberian persembahan persepuluhan. Dalam faktanya Maleakhi secara khusus mengingatkan para pembacanya tentang kontextnya dari hukum Taurat, ‘Ingatlah kepada Taurat yang telah Kuperintahkan kepada Musa, hambaKu, di gunung Horeb untuk disampaikan kepada seluruh Israel, yakni ketetapan-ketetapan dan hukum-hukum.’ (4:4) (juga Neh 10:28-29).] - http://www.tithing-russkelly.com/
Mal 1:1 - “Ucapan ilahi. Firman TUHAN kepada Israel dengan perantaraan Maleakhi.”.
Mal 4:4 - Ingatlah kepada Taurat yang telah Kuperintahkan kepada Musa, hambaKu, di gunung Horeb untuk disampaikan kepada seluruh Israel, yakni ketetapan-ketetapan dan hukum-hukum.”.
Neh 10:28-29 - “(28) Dan orang-orang yang lain, yakni: para imam dan orang-orang Lewi, para penunggu pintu gerbang, para penyanyi, para budak di bait Allah dan segala orang yang memisahkan diri dari penduduk negeri untuk patuh kepada hukum Allah, serta isteri mereka, anak-anak lelaki dan anak-anak perempuan mereka, begitu juga semua orang yang cukup dewasa untuk mengerti, (29) menggabungkan diri dengan saudara-saudara mereka, yakni pemuka-pemuka mereka itu. Mereka bersumpah kutuk untuk hidup menurut hukum Allah yang diberikan dengan perantaraan Musa, hamba Allah itu, dan untuk tetap mengikuti dan melakukan segala perintah TUHAN, yakni Tuhan kami, serta segala peraturan dan ketetapanNya.”.
Catatan: betul-betul tafsiran yang konyol dari seorang Ph. D.!!! Kalau Maleakhi, karena adanya Mal 1:1, dianggap ditujukan hanya kepada Israel, maka cara penafsiran itu harus secara konsisten diberlakukan untuk semua kitab dalam Alkitab. Surat Paulus kepada jemaat di Roma hanya berlaku untuk mereka, dan sebagainya, sehingga akhirnya tidak ada satupun kitab atau ayat yang berlaku untuk kita!!! Dan kata-kata Russell Kelly tentang kontext hukum Taurat dari Mal 4:4 dan Neh 10:28-29 juga merupakan sesuatu yang konyol, karena jaman itu memang Perjanjian Baru belum ada!!

Russell Kelly: There is not a single New Testament Bible text which teaches tithing after the cross! [= Disana tak ada satupun text Perjanjian Baru yang mengajarkan pemberian persembahan persepuluhan setelah salib!] - http://www.tithing-russkelly.com/

Lenski (tentang Luk 11:42): One of the plain facts is that the Gospels mention tithing only three times, in three condemnations of the Pharisees, and all three are scathing in their severity. Three other references are found in Hebrews 7:5–9 and are merely historical. Although all the apostles were originally Jews and reared to tithe, with not one word did any one of them even intimate that in the new covenant the Christians might find tithing a helpful method of making their contributions to the work of the church. This strong negative is re-enforced immensely by the totally different method suggested by Paul when he called on the churches for a great offering, 1 Cor. 16:1, etc.; 2 Cor. 8:4, etc. Exegetically and thus dogmatically and ethically the New Testament is against tithing as being valid in the new covenant. Desire for more money, also for more money in and for the church, should not blind our eyes to the ways that are employed for getting it. [= Salah satu fakta yang jelas adalah bahwa Injil-injil menyebut pemberian persembahan persepuluhan hanya 3 x, dalam 3 pengecaman tentang orang-orang Farisi, dan semuanya menyerang dengan kecaman yang keras. Tiga referensi yang lain ditemukan dalam Ibr 7:5-9 dan semata-mata bersifat sejarah. Sekalipun semua rasul-rasul adalah orang-orang Yahudi dan dibesarkan dalam memberikan persembahan persepuluhan, yang manapun dari mereka tak memberikan satu katapun untuk menunjukkan bahwa dalam Perjanjian Baru orang-orang Kristen bisa menemukan bahwa pemberian persembahan persepuluhan merupakan suatu metode yang menolong untuk membuat kontribusi pada pekerjaan dari gereja. Ketidak-adaan yang kuat ini sangat diperkuat oleh metode yang berbeda secara total yang diusulkan oleh Paulus pada waktu ia meminta gereja-gereja untuk suatu persembahan yang besar, 1Kor 16:1 dst; 2Kor 8:4 dst. Secara exegesis dan karena itu secara dogmatik dan etis Perjanjian Baru menentang pemberian persembahan persepuluhan sebagai sah dalam Perjanjian Baru. Keinginan untuk lebih banyak uang, juga untuk lebih banyak uang di dalam dan untuk gereja, tidak boleh membutakan mata kita pada jalan-jalan yang digunakan untuk mendapatkannya.].

Bible Knowledge Commentary (tentang Mal 3:10-12): One must be careful in applying these promises to believers today. The Mosaic Covenant, with its promises of material blessings to Israel for her obedience, is no longer in force (Eph 2:14-15; Rom 10:4; Heb 8:13). However, the New Testament speaks about generosity and giving. While not requiring a tithe of believers today, the New Testament does speak of God’s blessing on those who give generously to the needs of the church and especially to those who labor in the Word (Acts 4:31-35; 2 Cor 9:6-12; Gal 6:6; Phil 4:14-19). [= Orang harus berhati-hati dalam menerapkan janji-janji ini kepada orang-orang percaya jaman sekarang. Perjanjian Musa, dengan janji-janjinya tentang berkat-berkat materi bagi Israel untuk ketaatan mereka, tidak lagi berlaku (Ef 2:14-15; Ro 10:4; Ibr 8:13). Tetapi, Perjanjian Baru berbicara tentang kemurahan hati dan memberi. Sekalipun tak menuntut persembahan persepuluhan dari orang-orang percaya jaman sekarang, Perjanjian Baru memang berbicara tentang berkat Allah kepada mereka yang memberi dengan murah hati bagi kebutuhan-kebutuhan dari gereja dan khususnya bagi mereka yang berjerih payah dalam Firman (Kis 4:31-35; 2Kor 9:6-12; Gal 6:6; Fil 4:14-19).].
Kis 4:31-35 dan 2Kor 9:6-12 akan saya berikan dan bahas di bawah.
Gal 6:6 - “Dan baiklah dia, yang menerima pengajaran dalam Firman, membagi segala sesuatu yang ada padanya dengan orang yang memberikan pengajaran itu.”.
Fil 4:14-19 - “(14) Namun baik juga perbuatanmu, bahwa kamu telah mengambil bagian dalam kesusahanku. (15) Kamu sendiri tahu juga, hai orang-orang Filipi; pada waktu aku baru mulai mengabarkan Injil, ketika aku berangkat dari Makedonia, tidak ada satu jemaatpun yang mengadakan perhitungan hutang dan piutang dengan aku selain dari pada kamu. (16) Karena di Tesalonikapun kamu telah satu dua kali mengirimkan bantuan kepadaku. (17) Tetapi yang kuutamakan bukanlah pemberian itu, melainkan buahnya, yang makin memperbesar keuntunganmu. (18) Kini aku telah menerima semua yang perlu dari padamu, malahan lebih dari pada itu. Aku berkelimpahan, karena aku telah menerima kirimanmu dari Epafroditus, suatu persembahan yang harum, suatu korban yang disukai dan yang berkenan kepada Allah. (19) Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaanNya dalam Kristus Yesus.”.

William Hendriksen (tentang Mat 23:23): As long as the divinely enacted ceremonial ordinances had not been blotted out (Col. 2:14), that is, as long as Jesus had not as yet died on the cross, the law with respect to tithing was still valid. ... When the question is asked, ‘What principles does the New Testament contain to guide the believer in the financial contributions toward kingdom causes which he should make, and by gratitude feels impelled to make, the answer would be as follows: a. he should give systematically and proportionately, that is, in proportion to his ability (I Cor. 16:2); and b. he should give generously and cheerfully (II Cor. 9:7). [= Selama ketentuan-ketentuan hukum ceremonial yang ditegakkan secara ilahi belum dihapuskan (Kol 2:14), yaitu / artinya, selama Yesus belum mati di salib, hukum Taurat berkenaan dengan pemberian persembahan persepuluhan masih tetap sah. ... Pada waktu ditanyakan, ‘Prinsip-prinsip apa yang ada dalam Perjanjian Baru untuk membimbing orang percaya dalam kontribusi keuangan terhadap perkara-perkara kerajaan yang harus ia buat, dan oleh rasa terima kasih ia rasakan didorong untuk buat, jawabannya adalah sebagai berikut: a. ia harus memberi secara sistimatis / teratur dan secara sesuai, yaitu, sesuai dengan kemampuannya (1Kor 16:2); dan b. ia harus memberi dengan murah hati dan dengan sukacita (2Kor 9:7).].

Arno C. Gaebelein (tentang Mal 3:7-15): It is strange that even those who have a good knowledge of the truth, the dispensations and the heavenly position of a Christian, should fall back upon this verse and claim that it is binding and should be practised among believers. .... well taught believers should never look upon this passage as in any way in force today. True Christian giving, like everything else in the life and service of a true believer, must be done, not by law but through grace, under the direction of the Holy Spirit. Nowhere in the New Testament is there anything said about tithing. A believer must be a cheerful giver, giving as the Lord has prospered him, communicating to others, doing good, remembering the poor, ministering in temporal things to those who minister in spiritual things; but all this giving must be under the direction of the Spirit of God. [= Adalah aneh bahwa bahkan mereka yang mempunyai pengetahuan yang baik tentang kebenaran, dispensasi / jaman dan kedudukan surgawi dari seorang Kristen, mundur pada ayat ini dan mengclaim bahwa ayat itu masih mengikat dan harus dipraktekkan di antara orang-orang percaya. ... orang-orang percaya yang diajar dengan baik tak pernah boleh melihat pada text ini sebagai tetap berlaku dengan cara apapun pada jaman sekarang. Pemberian Kristen yang benar, seperti segala sesuatu yang lain dari kehidupan dan pelayanan dari seorang percaya yang benar, harus dilakukan, bukan oleh hukum Taurat tetapi melalui kasih karunia, di bawah pimpinan / pengarahan dari Roh Kudus. Dimanapun dalam Perjanjian Baru tak ada dikatakan apapun tentang memberikan persembahan persepuluhan. Seorang percaya harus adalah seorang pemberi yang sukacita, memberi sebagaimana Tuhan telah menjadikannya makmur, membagikannya / menyalurkannya kepada orang-orang lain, melakukan yang baik, mengingat orang-orang miskin, melayani dalam hal-hal sementara kepada mereka yang melayani dalam hal-hal rohani; tetapi semua pemberian ini harus ada di bawah pimpinan / pengarahan dari Roh Allah.] - ‘The Annotated Bible’, vol 5 (Libronix).
Catatan: ia mengatakan ‘bukan oleh hukum Taurat’, tetapi lalu menggunakan 2 x kata ‘harus’!!!

Nelson’s Bible Dictionary: In the New Testament the words tithe and tithing appear only eight times (Matt 23:23; Luke 11:42; 18:12; Heb 7:5-6,8-9). All of these passages refer to Old Testament usage and to current Jewish practice. Nowhere does the New Testament expressly command Christians to tithe. However, as believers we are to be generous in sharing our material possessions with the poor and for the support of Christian ministry. Christ Himself is our model in giving. Giving is to be voluntary, willing, cheerful, and given in the light of our accountability to God. Giving should be systematic and by no means limited to a tithe of our incomes. We recognize that all we have is from God. We are called to be faithful stewards of all our possessions (Rom 14:12; 1 Cor 9:3-14; 16:1-3; 2 Cor 8:1-9:15). [= Dalam Perjanjian Baru kata-kata ‘persembahan persepuluhan’ dan ‘memberikan persembahan persepuluhan / sepersepuluh’ muncul hanya delapan kali (Mat 23:23; Luk 11:42; 18:12; Ibr 7:5-6,8-9). Semua text-text ini menunjuk pada penggunaan Perjanjian Lama dan kepada praktek Yahudi pada saat itu. Tak ada dimanapun Perjanjian Baru secara explicit / jelas memerintahkan orang-orang Kristen untuk memberikan persembahan persepuluhan. Tetapi, sebagai orang-orang percaya kita harus murah hati dalam membagikan milik materi kita kepada orang-orang miskin dan untuk mendukung pelayanan Kristen. Kristus sendiri adalah model / teladan kita dalam memberi. Memberi harus tanpa paksaan / tak terpaksa, rela, sukacita, dan diberikan dalam terang dari tanggung jawab kita kepada Allah. Memberi harus bersifat sistimatis dan sama sekali tak dibatasi pada suatu persembahan persepuluhan dari penghasilan kita. Kita mengakui bahwa semua yang kita punyai datang dari Allah. Kita dipanggil untuk menjadi pengurus yang setia dari semua milik kita (Ro 14:12; 1Kor 9:3-14; 16:1-3; 2Kor 8:1-9:15).].
Ro 14:12 - “Demikianlah setiap orang di antara kita akan memberi pertanggungan jawab tentang dirinya sendiri kepada Allah.”.
1Kor 9:3-14 sudah kita baca di depan dan tak usah kita ulang di sini.
1Kor 16:1-3  2Kor 8-9 akan kita baca nanti, sekaligus dengan pembahasannya.

Jawaban / tanggapan saya:

a)   Kata-kata Yesus atau ajaran Yesus berhubungan dengan persembahan persepuluhan.

1.   Luk 18:12 - “aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku.”.
Ini merupakan bagian dari suatu perumpamaan, dimana orang Farisi itu membanggakan hal-hal baik yang ia lakukan dan hal-hal jahat yang tidak ia lakukan.
Luk 18:11-12 - “(11) Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepadaMu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; (12) aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku.”.

2.   Mat 23:23 - “Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan kamu bayar, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu: keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan.”.

Bdk. Luk 11:42 - Tetapi celakalah kamu, hai orang-orang Farisi, sebab kamu membayar persepuluhan dari selasih, inggu dan segala jenis sayuran, tetapi kamu mengabaikan keadilan dan kasih Allah. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan..

a.   ‘Selasih, adas manis, dan jintan’ merupakan tanaman-tanaman kebun yang sangat murah.

Barnes’ Notes (tentang Mat 23:23): “These were all herbs of little value.” [= Ini semua adalah tanaman bumbu yang murah / bernilai rendah.].

Jamieson, Fausset & Brown (tentang Mat 23:23): “Our Lord purposely names the most trifling products of the earth, as examples of what they punctiliously exacted the tenth of.” [= Tuhan kita secara sengaja menyebutkan hasil-hasil bumi yang paling remeh, sebagai contoh-contoh dari apa yang mereka tuntut persembahan persepuluhannya dengan sangat teliti.].

b.   Kata-kata terakhir, yaitu “Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan”, sebetulnya menunjukkan bahwa keduanya harus dilakukan. Juga kalau kita melihat ay 24nya, yang merupakan sambungannya, artinya akan sama saja.

Mat 23:24 - “Hai kamu pemimpin-pemimpin buta, nyamuk kamu tapiskan dari dalam minumanmu, tetapi unta yang di dalamnya kamu telan.”.
Kitab Suci Indonesia: ‘nyamuk’.
KJV/RSV/NIV/NASB/ASV/NKJV: ‘gnat’ [= sejenis lalat].

Memang menapiskan ‘unta’ dari minuman tentu lebih penting, tetapi apakah ‘nyamuk / lalat’ tidak ditapiskan???

Barclay (tentang Mat 23:24): A gnat was an insect and therefore unclean; and so was a camel. In order to avoid the risk of drinking anything unclean, wine was strained through muslin gauze so that any possible impurity might be strained out of it. [= Seekor lalat adalah serangga dan karena itu najis; dan demikian juga dengan seekor unta. Untuk menghindari resiko meminum apapun yang najis, anggur disaring melalui ayakan kain sehingga kenajisan apapun yang memungkinkan bisa disaring darinya.].

Ada yang menganggap bahwa ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi itu salah karena melebih-lebihkan hal-hal yang darinya mereka harus memberikan persembahan persepuluhan.

Ir. Herlianto: Ada beberapa golongan gereja yang mendasarkan Persepuluhan sebagai pungutan wajib yang dibayarkan kepada gereja berdasarkan ayat-ayat ini:” -

Ia lalu mengutip Mat 23:23 dan Luk 11:42.

Ir. Herlianto: “Tinjauan 2 Ayat di atas: Disini Tuhan Yesus tidak menegur orang yang tidak memberikan persepuluhan, melainkan maksud dari Tuhan Yesus adalah menegur kemunafikan orang orang Farisi yang merasa harus membayar persepuluhan, tetapi tidak melakukan keadilan dan belas kasihan.Tuhan Yesus juga tidak mengajarkan persepuluhan sebagai kewajiban. Dalam Matius 23:23 dan Lukas 11:42; kalau Ia menyinggung soal persepuluhan, konteksnya mengenai percakapannya dengan orang Farisi; yang menekankan perbuatan lahir TAURAT (seperti persepuluhan) tanpa motivasi keadilan, tanpa belas kasihan dan tanpa kesetiaan, dan kata-kata itu ditujukan kepada orang Farisi. Perhatikan baik-baik, ‘persepuluhan’ yang disinggung Tuhan Yesus dalam Matius 23:23 dan Lukas 11:42 adalah jenis-jenis persepuluhan yang ‘mboten-mboten’: persepuluhan bumbu-bumbu dapur yaitu ‘persepuluhan selasih, adas manis, jintan, inggu, dll.’ yang merupakan ‘hukum persepuluhan tambah-tambahan’ yang secara agamawi dilaksanakan ketat oleh ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi. Dari ‘sentilan yang lucu’ ini, kita seharusnya jeli membaca ayat tersebut, bahwa Tuhan Yesus justru sedang mengecam praktek ‘persepuluhan’ mereka itu. Bahwa jelas dalam Matius 23:23 dan Lukas 11:42, Tuhan YESUS tidak menyinggung tentang Hukum Persepuluhan yang sesuai dengan Hukum Musa ... Tetapi, Tuhan YESUS sedang menyorot ‘persepuluhan tambah-tambahan’ diluar Taurat ... Tuhan Yesus ketika berbicara kepada para lawanNya (dalam hal ini orang-orang Farisi dan ahli Taurat) sering dengan gaya bahasa satir yang menyindir, bahkan kadang juga dengan gaya bahasa sarkastik. Justru setiap kali Yesus hendak mendobrak atau membongkar sesuatu dalam kemunafikan ibadah mereka, gaya satir hampir selalu ada. Dengan demikian, dapatkah Matius 23:23 dan Lukas 11:42 ‘diplintir’ sebagai legitimasi bagi gereja untuk memungut persepuluhan dalam gereja dan diperlakukan sebagai hukum yang mengikat orang-orang Kristen? Jikalau kedua ayat ini masih diperlakukan sebagai alasan dari para pendeta untuk memberlakukan pungutan persepuluhan dalam gereja, ini adalah bentuk nyata ‘abusement’ ayat-ayat Alkitab. Gereja-gereja dan ‘hamba-hamba Tuhan gadungan’ yang sebenarnya tidak melayani Tuhan melainkan perut mereka sendiri (Roma 16:18), mereka yang melakukan ‘tindak kriminal’ ini secepatnya harus bertobat!.” - hal 7.
Catatan: ini adalah kata-kata kurang ajar, yang main pukul rata terhadap semua hamba Tuhan. Kalau ada satu atau dua, atau bahkan seribu, pendeta yang memang mata duitan, itu tak berarti semua pendeta seperti itu. Main pukul rata seperti itu adalah cara bodoh dan kurang ajar dari hamba Setan yang picik!

Russell Kelly: If pastors literally obeyed Matthew 23:23, they would literally command Christians to tithe from garden herbs as Jesus commanded. [= Jika pendeta-pendeta secara hurufiah mentaati Mat 23:23, mereka secara hurufiah akan memerintahkan orang-orang Kristen untuk memberi persembahan persepuluhan dari tanaman-tanaman kebun seperti yang Yesus perintahkan.] - http://www.tithing-russkelly.com/

Sekalipun kata-kata Russell Kelly ini masuk akal, tetapi:
(1) Ini bertentangan dengan kata-kata Yesus itu sendiri. Mat 23:23b - “Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan.”.
(2) Pada waktu kata-kata itu diterapkan pada Mat 23:24 maka itu akan harus diartikan bahwa adalah salah bagi mereka untuk menyaring nyamuk / lalat dari minuman mereka, dan mereka seharusnya hanya menyaring untanya tetapi menelan nyamuk / lalatnya!

Pulpit Commentary (tentang Luk 11:42): “the present elaboration of the Law and the Pharisee schools had extended the primitive obligation to the smallest garden herbs, such as mint and rue. The Talmud even condescends to discuss whether, in tithing the seeds of these garden herbs, the very stalk too ought not to be tithed! The Master, ever tender and considerate, does not blame this exaggerated scrupulosity, if it were done to satisfy even a warped and distorted conscience;” [= Perluasan sekarang ini dari hukum Taurat dan kelompok orang-orang Farisi telah memperluas kewajiban primitif sampai pada tanaman bumbu yang paling kecil di kebun, seperti selasih dan inggu. Kitab Talmud bahkan turun untuk mendiskusikan apakah, dalam memberikan persembahan persepuluhan dari tanaman-tanaman kebun ini, dari tangkai / batangnya juga harus diberikan persembahan persepuluhan! Sang Guru, selalu lembut dan penuh perhatian, tidak menyalahkan ketelitian yang berlebih-lebihan ini, jika itu dilakukan untuk memuaskan bahkan suatu hati nurani yang bengkok dan dipuntir;].

William Hendriksen (tentang Mat 23:23): Jesus adds: ‘but these you should have kept, without neglecting the others.’ This addition has led to conflicting interpretations. As I see it, two extreme positions should be avoided. On the one hand we should not interpret this to mean that, after all, Jesus is here endorsing the tithing of mint, dill, and cummin. If he were saying this, would he not be defeating his very argument? Besides, the parallelism in verse 24 shows that the Lord is subjecting such overly conscientious tithing to scorn and is comparing it to filtering out a gnat but swallowing a camel! ... What Jesus probably meant was this: ‘These, that is, God’s ordinances with respect to tithing, you should have observed, without neglecting the weightier matters of the law: justice, mercy, and faithfulness.’ [= Yesus menambahkan: ‘tetapi hal-hal ini harus kamu taati, tanpa mengabaikan hal-hal yang lain.’ Penambahan ini telah membimbing pada tafsiran-tafsiran yang bertentangan. Sebagaimana saya melihatnya, 2 posisi extrim harus dihindari. Di satu sisi kita tidak boleh menafsirkan ini sehingga berarti bahwa bagaimanapun juga, Yesus di sini menyokong persembahan persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan. Seandainya Ia mengatakan ini, tidakkah Ia menghancurkan argumentasiNya sendiri? Disamping, paralelisme dalam ay 24 menunjukkan bahwa Tuhan sedang menjadikan persembahan persepuluhan yang terlalu teliti sebagai sasaran celaan dan sedang membandingkannya dengan menyaring seekor lalat tetapi menelan seekor unta! ... Apa yang Yesus maksudkan adalah ini: ‘Hal-hal ini, yaitu peraturan-peraturan Allah berkenaan dengan persembahan persepuluhan, kamu harus taati, tanpa mengabaikan hal-hal yang lebih penting dari hukum Taurat: keadilan, belas kasihan, dan kesetiaan.’].
Catatan: saya tak setuju dengan kata-kata William Hendriksen tentang ay 24, karena ay 24nya, seperti sudah saya bahas di atas, justru membenarkan orang menyaring untanya maupun nyamuk / lalatnya!!

Tetapi ada penafsir-penafsir yang menganggap bahwa mereka memang benar dalam memberikan persembahan persepuluhan dari hal-hal yang kecil / remeh itu.

Adam Clarke (tentang Mat 23:23): “‘These ought ye to have done, and not to leave the other undone.’ Our Lord did not object to their paying tithe even of common pot-herbs - this did not affect the spirit of religion; but while they did this and such like, to the utter neglect of justice, mercy, and faith, they showed that they had no religion, and knew nothing of its nature.” [= ‘Ini harus kamu lakukan, dan tidak membiarkan yang lain tak dilakukan’. Tuhan kita tidak keberatan pada pembayaran persembahan persepuluhan bahkan dari tanaman bumbu yang umum di pot - ini tidak mempengaruhi roh / arti sebenarnya dari agama; tetapi sementara mereka melakukan ini dan hal-hal seperti itu, pada pengabaian total dari keadilan, belas kasihan, dan iman, mereka menunjukkan bahwa mereka tak mempunyai agama, dan tak tahu apa-apa tentang sifat dasar / hakekat dari agama.].

Bible Knowledge Commentary (tentang Mat 23:23): “The fourth woe related to the pharisaic practice of meticulously tithing all their possessions. They went so far as to carry the practice down to the smallest spices from plants: mint, dill, and cummin. While meticulously following the Law in this area (Lev 27:30), they failed to manifest the justice, mercy, and faithfulness demanded by the Law. They were majoring on minors, straining out a gnat, while minoring on majors, swallowing a camel. Being so busy with small details, they never dealt with the important matters. Jesus was not saying tithing was unimportant; He was saying they were completely neglecting the one area at the expense of the other. They should have been doing both.” [= Kata celaka yang keempat berhubungan dengan praktek Farisi tentang persembahan persepuluhan secara teliti dari semua milik mereka. Mereka berjalan begitu jauh sehingga membawa praktek itu turun pada bumbu / rempah-rempah terkecil dari tanaman: selasih, adas manis, dan jintan. Sementara secara teliti mengikuti / mentaati hukum Taurat dalam hal ini (Im 27:30), mereka gagal untuk mewujudkan keadilan, belas kasihan, dan kesetiaan yang dituntut oleh hukum Taurat. Mereka mengutamakan / menekankan hal-hal yang kecil, menapiskan nyamuk / lalat, sementara mereka mengecilkan / meremehkan hal-hal yang besar. Yesus bukan berkata bahwa persembahan persepuluhan tidak penting; Ia berkata bahwa mereka sepenuhnya mengabaikan satu hal sebagai ongkos dari hal yang lain. Mereka seharusnya melakukan keduanya.].

Calvin (tentang Mat 23:23): He therefore acknowledges that whatever God has enjoined ought to be performed, and that no part of it ought to be omitted, but maintains that zeal for the whole Law is no reason why we ought not to insist chiefly on the principal points. Hence he infers that they overturn the natural order who employ themselves in the smallest matters, when they ought rather to have begun with the principal points; for tithes were only a kind of appendage. Christ therefore affirms that he has no intention to lessen the authority even of the smallest commandments, though he recommends and demands due order in keeping the Law. [= Karena itu Ia mengakui bahwa apapun yang Allah telah perintahkan harus dilakukan, dan bahwa tidak ada bagian darinya yang boleh dihapuskan / diabaikan, tetapi mempertahankan bahwa semangat untuk seluruh hukum Taurat bukanlah alasan mengapa kita tidak harus berkeras / menuntut terutama pada hal-hal yang terpenting. Jadi, Ia menunjukkan bahwa mereka membalik urut-urutan yang wajar yang membaktikan diri mereka sendiri dalam hal-hal yang terkecil, pada waktu mereka seharusnya mulai dengan hal-hal yang terpenting; karena persembahan persepuluhan hanyalah sejenis tambahan. Karena itu, Kristus menegaskan bahwa Ia tak mempunyai tujuan untuk mengurangi otoritas bahkan dari perintah-perintah / hukum-hukum yang terkecil, sekalipun Ia menganjurkan dan menuntut urut-urutan yang seharusnya dalam mentaati hukum Taurat.].

A. W. Pink: “Christ Himself has placed His approval and set His imprimatur upon the tithe. ‘Woe unto you, scribes and Pharisees, hypocrites! for ye pay tithe of mint and anise and cummin, and have omitted the weightier matters of the law, judgment, mercy, and faith: these ought ye to have done, and not to leave the other undone’ (Matthew 23:23). In that verse Christ is rebuking the scribes and Pharisees because of their hypocrisy. They had been very strict and punctilious in tithing the herbs, but on the other hand they had neglected the weightier matters such as judgment, or justice, and mercy. But while Christ acknowledged that the observance of justice and mercy is more important than tithing - it is a ‘weightier matter’ - while, He says, these they ought to have done, nevertheless He says, these other ye ought not to have left undone. He does not set aside the tithe. He places justice and mercy as being more weighty, but He places His authority upon the practice of tithing by saying, ‘These ought ye to have done, and not to leave the other undone.’ It is well for us if we by the grace of God have not omitted justice and mercy and faith: it is well if by the grace of God those things have found a place in our midst: but the tithing ought not to have been left undone, and Christ Himself says so.” [= Kristus sendiri telah menempatkan persetujuanNya dan menaruh persetujuanNya pada persembahan persepuluhan. ‘Celakalah kamu, ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, orang-orang munafik! Karena kamu membayar persembahan persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan, dan telah menghapus / mengabaikan persoalan-persoalan yang lebih penting dari hukum Taurat, penghakiman, belas kasihan, dan iman: hal-hal ini harus kamu lakukan, dan jangan membiarkan yang lain tidak dilakukan’ (Mat 23:23). Dalam ayat itu Kristus memarahi ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi karena kemunafikan mereka. Mereka sangat ketat dan teliti dalam memberikan persembahan persepuluhan dari tanaman-tanaman kebun, tetapi di sisi lain mereka telah mengabaikan persoalan-persoalan yang lebih penting seperti penghakiman, atau keadilan, dan belas kasihan. Tetapi sementara Kristus mengakui bahwa mempraktekkan keadilan dan belas kasihan lebih penting dari pada memberikan persembahan persepuluhan - itu adalah suatu ‘persoalan yang lebih penting’ - sementara, Ia berkata, hal-hal ini harus mereka lakukan, tetapi Ia berkata, hal-hal lain ini tak boleh kamu biarkan untuk tidak dilakukan. Ia tidak mengesampingkan persembahan persepuluhan. Ia menempatkan keadilan dan belas kasihan sebagai lebih penting, tetapi Ia menempatkan otoritasNya pada praktek dari persembahan persepuluhan dengan berkata, ‘Hal-hal ini harus engkau lakukan, dan jangan membiarkan yang lain tidak dilakukan’. Adalah baik bagi kita jika kita oleh kasih karunia Allah tidak mengabaikan keadilan dan belas kasihan dan iman: adalah baik jika oleh kasih karunia Allah hal-hal itu telah mendapatkan tempat di tengah-tengah kita: tetapi persembahan persepuluhan tidak boleh dibiarkan tak dilakukan, dan Kristus sendiri mengatakan demikian.] - ‘Tithing’, hal 8 (AGES).

Jadi Ir. Herlianto, yang menganggap orang-orang yang menggunakan ayat-ayat ini sebagai dasar untuk memberi persembahan persepuluhan sebagai hamba-hamba Tuhan gadungan dan melayani perut mereka sendiri dsb, seakan-akan penafsirannya tentang ayat-ayat itu adalah satu-satunya penafsiran yang ada, sebaiknya membaca lebih banyak buku-buku tafsiran, dari pada menjadi seperti katak busuk di bawah tempurung!

3.   Sekarang, bagaimana kalau ajaran Yesus tentang persembahan persepuluhan dari orang Farisi itu dihubungkan dengan Mat 5:20???

Mat 5:20 - “Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.”.

John Benton (tentang Mal 3:8-9): But we should go beyond that. Jesus calls us to be those whose righteousness exceeds that of the scribes and Pharisees, and those fastidious religionists were red-hot tithers! The tenth of everything they could think of, they gave! The tenth might be a good rule of thumb for the Christian, but if we stick to that legalistically in a way we are missing the point. [= Tetapi kita harus pergi / berjalan melampaui itu. Yesus memanggil kita untuk menjadi mereka yang kebenarannya melampaui kebenaran dari ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, dan para ahli agamawi yang cerewet itu adalah pemberi-pemberi persembahan persepuluhan yang bersemangat! Sepersepuluh dari segala sesuatu yang bisa mereka pikirkan, mereka berikan! Sepersepuluh bisa merupakan suatu peraturan yang baik dari prinsip dengan penerapan yang luas bagi orang Kristen, tetapi jika kita melekat / bertahan padanya secara legalistik, agaknya kita salah mengerti.] - ‘Losing Touch With the Living God: The Message of Malachi’, (Libronix).
Catatan:
a.   Memang ada orang-orang yang beranggapan bahwa kalau hukum tentang persembahan persepuluhan tetap diberlakukan, maka itu menjadikan kita seorang yang legalistik. Saya tidak mengerti apa hubungannya hal itu dengan menjadi seorang yang legalistik [= orang yang menekankan ketaatan untuk keselamatan]! Saya sama sekali tidak menghubungkan persembahan persepuluhan dengan keselamatan!!!
b.   Sebetulnya yang dipersoalkan oleh Yesus dalam Mat 5:20 itu adalah ketaatan yang bersifat lahiriah dari ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi. Kita harus lebih dari mereka, dalam arti kita juga harus mentaati, tetapi dengan hati yang mengasihi, bukan hanya secara lahiriah!

b)   Ajaran / kata-kata Yesus di atas (Mat 23:23 / Luk 11:42  Luk 18:12) merupakan ajaran dalam Perjanjian Lama!

Merupakan sesuatu yang benar, bahwa Russell Kelly dan William Hendriksen menekankan bahwa yang dimaksudkan dengan Perjanjian Baru adalah jaman setelah Kalvari / salib!
Memang secara theologis, Perjanjian Baru baru dimulai setelah Yesus mati. Jadi, Yesus sendiri hidup dan melayani dalam jaman Perjanjian Lama, dan karena itu Ia mengikuti / mentaati hukum-hukum Perjanjian Lama seperti sunat, Perjamuan Paskah, perayaan hari-hari raya Yahudi, dan sebagainya. Pada saat Yesus mati, tirai Bait Suci terbelah (secara mujijat).
Mat 27:50-51 - “(50) Yesus berseru pula dengan suara nyaring lalu menyerahkan nyawaNya. (51) Dan lihatlah, tabir Bait Suci terbelah dua dari atas sampai ke bawah dan terjadilah gempa bumi, dan bukit-bukit batu terbelah,”.
Dengan itu Allah menunjukkan bahwa Bait Suci sudah dihapuskan, dan demikian juga dengan imam-imam, orang-orang Lewi, korban-korban, dan semua ‘ceremonial law’ [= hukum-hukum yang berhubungan dengan upacara keagamaan].

Bdk. Ef 2:15 - “sebab dengan matiNya sebagai manusia Ia telah membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya, untuk menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru di dalam diriNya, dan dengan itu mengadakan damai sejahtera,”.

Jadi, kata-kata Yesus berkenaan dengan persembahan persepuluhan seperti dalam Mat 23:23 / Luk 11:42 dan juga Luk 18:12, semuanya masih termasuk Perjanjian Lama. Tetapi apakah karena itu maka ajaran dari ayat-ayat ini tak berlaku lagi dalam jaman Perjanjian Baru? Itu akan kita pelajari dalam point di bawah ini.

c)   Orang-orang yang ‘anti persembahan persepuluhan’ mengatakan bahwa dalam Perjanjian Baru tidak ada ayat yang menyatakan bahwa hukum-hukum Perjanjian Lama tentang persembahan persepuluhan masih berlaku, dan karena itu hukum tentang persembahan persepuluhan sudah tidak berlaku dalam jaman Perjanjian Baru.

Menurut saya ini merupakan sesuatu yang konyol. Bukan orang yang mendukung persembahan persepuluhan yang harus mencari ayat Perjanjian Baru yang menyatakan bahwa persembahan persepuluhan masih berlaku, tetapi orang yang menolak persembahan persepuluhan yang harus mencari ayat Perjanjian Baru untuk menghapuskan persembahan persepuluhan.

Mengapa? Karena secara umum, semua firman berlaku terus / selama-lamanya.

Maz 119:89,152,160 - “(89) Untuk selama-lamanya, ya TUHAN, firmanMu tetap teguh di sorga. ... (152) Sejak dahulu aku tahu dari peringatan-peringatanMu, bahwa Engkau telah menetapkannya untuk selama-lamanya. ... (160) Dasar firmanMu adalah kebenaran dan segala hukum-hukumMu yang adil adalah untuk selama-lamanya.”.

Yes 40:8 - Rumput menjadi kering, bunga menjadi layu, tetapi firman Allah kita tetap untuk selama-lamanya.’.

Perkecualiannya, hanya jika ada ayat lain yang menghapuskannya, apakah secara explicit atau secara implicit.

Contoh:
1.   Penginjilan untuk Israel saja tanpa membawa apa-apa dalam perjalanan (Mat 10:5-6), dihapuskan oleh Luk 22:35-37  Mat 28:19  Luk 24:47  Kis 1:8 dan sebagainya.
2.   Sunat dihapuskan oleh Kis 15:1-dst (Sidang Yerusalem), juga oleh ayat-ayat dalam surat Galatia (Gal 2:3-5  Gal 5:2-3  Gal 5:6  Gal 6:15). Juga sunat digantikan oleh baptisan (Kol 2:11-12).
3.   Bahwa Perjamuan Paskah digantikan dengan Perjamuan Kudus, ditunjukkan secara sangat implicit oleh Yesus, yang setelah melakukan Perjamuan Paskah, lalu menyambungnya dengan Perjamuan Kudus (Mat 26:18-28). Juga setelah itu, tak ada lagi orang Kristen yang merayakan Perjamuan Paskah, dan yang ada hanya Perjamuan Kudus.
4.   Larangan makan dalam Im 11 dihapuskan oleh Kis 10:10-16  1Tim 4:3 dsb.

Gary North:Jesus’ words remind us of the authority of the Mosaic law. We should take seriously the laws of the Mosaic law, for Jesus did. They had a purpose in Moses’ day and Jesus’ day. Some of them have a purpose in our day. The tithe is one of these laws. [= Kata-kata Yesus mengingatkan kita akan otoritas dari hukum Taurat Musa. Kita harus menganggap serius hukum-hukum dari hukum Taurat Musa, karena Yesus melakukan itu. Hukum-hukum itu mempunyai suatu tujuan dalam jaman Musa dan jaman Yesus. Beberapa / sebagian dari hukum-hukum itu mempunyai suatu tujuan dalam jaman kita. Persembahan persepuluhan adalah salah satu dari hukum-hukum ini.] - ‘The Covenantal Tithe’, hal 10 (Libronix).

Catatan: Kata-kata di atas ini diberikan oleh Gary North setelah ia mengutip Mat 5:17-19 - “(17) ‘Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. (18) Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi. (19) Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga.”.

Gary North:In dealing with the laws of the tithe, we must deal with the question of the continuity and discontinuity of biblical law. The tithe laws applied to Mosaic Israel. To what extent did they apply to pre-Mosaic Israel and to the post-Mosaic church? Christians need a Bible-based principle of interpretation in order to interpret correctly the applications of the laws of the Old Covenant in the New Covenant era. ... I have adopted a general principle of judicial interpretation: unless an Old Covenant law is annulled in principle or specifically by the New Testament, it is still in force. I agree with Dr. Greg Bahnsen: ‘The methodological point, then, is that we presume our obligation to obey any Old Testament commandment unless the New Testament indicates otherwise. We must assume continuity with the Old Testament rather than discontinuity.’ With respect to all Old Covenant laws: Innocent until proven guilty.’ An unchallenged Old Covenant law possesses continuing authority in the New Testament era. No additional proof of authority is required by biblical law. Unless its authority has been revoked by the New Testament, a Mosaic law automatically crosses the boundary between the two covenants. The law’s adoption into the New Covenant kingdom of God is automatic. Other schools of Christian biblical interpretation assert a rival judicial hermeneutic: any Old Covenant law not repeated in the New Testament is automatically annulled. This view announces with respect to every Old Covenant law: Guilty until proven innocent.’ An Old Covenant law is automatically turned back at the border of the New Covenant unless it has had its citizenship papers issued by the New Testament. Its annulment is automatic unless it has been explicitly adopted into God’s New Covenant kingdom. In my commentaries on biblical economics, I distinguish temporary Mosaic laws governing the use of the land of Israel from permanent covenantal laws that crossed Israel’s geographical boundaries during the Mosaic era and then passed into the New Covenant. [= Dalam menangani hukum-hukum tentang persembahan persepuluhan, kita harus menangani pertanyaan tentang keberlanjutan atau ketidak-berlanjutan dari hukum Alkitabiah. Hukum persembahan persepuluhan diterapkan kepada Israel pada jaman Musa. Sampai tingkat mana mereka menerapkan pada jaman Israel sebelum Musa dan gereja setelah Musa? Orang-orang Kristen membutuhkan prinsip penafsiran yang berdasarkan Alkitab untuk menafsir secara benar penerapan-penerapan dari hukum-hukum Perjanjian Lama dalam jaman Perjanjian Baru. ... Saya telah mengadopsi / menerima suatu prinsip umum dari penafsiran yang sah: kecuali suatu hukum Perjanjian Lama dibatalkan dalam prinsip atau secara khusus oleh Perjanjian Baru, itu tetap berlaku. Saya setuju dengan Dr. Greg Bahnsen: ‘Maka, hal yang berhubungan dengan metode, adalah bahwa kami menganggap sebagai kewajiban kami untuk mentaati perintah / hukum apapun dalam Perjanjian Lama kecuali Perjanjian Baru menunjukkan yang sebaliknya. Kita harus menerima keberlanjutan Perjanjian Lama dari pada ketidak-berlanjutan’. Berkenaan dengan semua hukum-hukum Perjanjian Lama: Tak bersalah sampai dibuktikan bersalah. Suatu hukum Perjanjian Lama yang tak dibantah / dihentikan mempunyai otoritas yang berlanjut dalam jaman Perjanjian Baru. Tak ada bukti otoritas tambahan yang dituntut oleh hukum Alkitabiah. Kecuali otoritasnya telah dicabut / ditarik kembali oleh Perjanjian Baru, suatu hukum Musa secara otomatis menyeberang perbatasan antara kedua perjanjian. Pengadopsian / penerimaan hukum Taurat ke dalam kerajaan Perjanjian Baru dari Allah adalah otomatis. Kelompok-kelompok / aliran-aliran lain dari penafsiran Alkitab Kristen menegaskan suatu hermeneutik sah tandingan: hukum Perjanjian Lama manapun yang tak diulang dalam Perjanjian Baru, secara otomatis dibatalkan. Pandangan ini mengumumkan / menyatakan berkenaan dengan setiap hukum Perjanjian Lama: Bersalah kecuali dibuktikan tak bersalah. Suatu hukum Perjanjian Lama secara otomatis dikembalikan pada batas dari Perjanjian Baru kecuali hukum itu telah mempunyai surat kewarga-negaraan yang dikeluarkan ooleh Perjanjian Baru. Pembatalannya bersifat otomatis kecuali hukum itu telah diadopsi / diterima secara explicit / jelas ke dalam kerajaan Perjanjian Baru dari Allah. Dalam tafsiran-tafsiran saya tentang pengaturan / arti praktis Alkitabiah, saya membedakan hukum-hukum Musa yang bersifat sementara yang mengarahkan / memerintah penggunaan tanah Israel dari hukum-hukum perjanjian yang bersifat permanen yang menyeberangi batasan-batasan geografis selama jaman Musa dan lalu menyeberang ke dalam Perjanjian Baru.] - ‘The Covenantal Tithe’, hal 10-11 (Libronix).

A. W. Pink: “Only God has the right to say how much of our income shall be set aside and set apart unto Him. And He has so said clearly, repeatedly, in the Old Testament Scriptures, and there is nothing in the New Testament that introduces any change or that sets aside the teaching of the Old Testament on this important subject.” [= Hanya Allah yang mempunyai hak untuk mengatakan berapa banyak dari penghasilan kita akan disisihkan dan dipisahkan bagi Dia. Dan Ia telah mengatakan demikian dengan jelas, dengan berulang-ulang, dalam Kitab Suci Perjanjian Lama, dan disana tak ada apapun dalam Perjanjian Baru yang memperkenalkan / mengajukan perubahan apapun atau yang menyingkirkan ajaran dari Perjanjian Lama tentang pokok penting ini.] - ‘Tithing’, hal 8 (AGES).

R. C. Sproul: The most common is the assertion that the tithe is part of the Old Testament law that has passed away with the coming of the New Testament. This statement is made routinely in spite of the complete lack of New Testament evidence for it. Nowhere in the New Testament does it teach us that the principle of the tithe has been abrogated. The New Testament does teach us, however, that the new covenant is superior to the old covenant. It is a covenant that gives more blessings to us than the old covenant did. It is a covenant that with its manifold blessings imposes greater responsibilities than the Old Testament did. If anything, the structure of the new covenant requires a greater commitment to financial stewardship before God than that which was required in the old covenant. That is to say, the starting point of Christian giving is the tithe. The tithe is not an ideal that only a few people reach but rather should be the base minimum from which we progress.” [= Yang paling umum adalah penegasan bahwa persembahan persepuluhan adalah bagian dari hukum Perjanjian Lama yang telah hilang dengan datangnya Perjanjian Baru. Pernyataan ini dibuat secara rutin sekalipun sama sekali tak ada bukti Perjanjian Baru untuk itu. Tak ada dimanapun dalam Perjanjian Baru diajarkan kepada kita bahwa prinsip dari persembahan persepuluhan telah dihapuskan / dibatalkan. Tetapi Perjanjian Baru memang mengajar kita bahwa Perjanjian Baru lebih superior / tinggi dari Perjanjian Lama. Itu adalah suatu perjanjian yang memberi lebih banyak berkat dari pada yang diberikan oleh Perjanjian Lama. Itu adalah suatu perjanjian yang dengan bermacam-macam berkatnya membebankan tanggung jawab yang lebih besar dari pada yang Perjanjian Lama lakukan. Struktur dari Perjanjian Baru menuntut suatu komitmen yang lebih besar pada kepengurusan keuangan di hadapan Allah dari pada yang dituntut dalam Perjanjian Lama. Artinya, titik awal / permulaan dari pemberian Kristen adalah persembahan persepuluhan. Persembahan persepuluhan bukanlah sesuatu yang ideal yang hanya beberapa orang mencapainya tetapi harus merupakan batas paling bawah dari mana kita maju.] - http://www.ligonier.org/learn/articles/will-man-rob-god/

Gary W. Demarest (tentang Im 27:30-33): “While the New Testament does not specifically reiterate the tradition of tithing, it certainly never suspends it. ... What God gave to Moses and the Hebrew people long ago was meant for us as well. As Paul put it, ‘For whatever things were written before were written for our learning, that we through the patience and comfort of the Scriptures might have hope’ (Rom. 15:4).” [= Sementara Perjanjian Baru tidak secara khusus menyatakan lagi / ulang tradisi tentang memberikan persembahan persepuluhan, Perjanjian Baru pasti tidak pernah menyingkirkannya. ... Apa yang Allah berikan kepada Musa dan orang-orang Ibrani pada jaman dulu dimaksudkan untuk kita juga. Sebagaimana Paulus mengatakannya, ‘Sebab segala sesuatu yang dituliskan sebelumnya / dahulu dituliskan untuk pembelajaran kita, supaya kita melalui kesabaran dan penghiburan dari Kitab Suci bisa mendapatkan / mempunyai pengharapan’ (Ro 15:4).] - ‘Leviticus’ (The Preacher’s Commentary) - Libronix.
Ro 15:4 - “Sebab segala sesuatu yang ditulis dahulu, telah ditulis untuk menjadi pelajaran bagi kita, supaya kita teguh berpegang pada pengharapan oleh ketekunan dan penghiburan dari Kitab Suci.”.

Adam Clarke (tentang Ro 15:4): ‘For whatsoever things were written aforetime.’ This refers not only to the quotation from the 69th Psalm, but to all the Old Testament Scriptures; for it can be to no other Scriptures that the apostle alludes. And, from what he says here of them, we learn that God had not intended them merely for those generations in which they were first delivered, but for the instruction of all the succeeding generations of mankind.[= ‘Sebab segala sesuatu yang ditulis dahulu’. Ini menunjuk bukan hanya pada kutipan dari Maz 69, tetapi pada seluruh Kitab Suci Perjanjian Lama; karena sang rasul tak bisa menunjuk pada Kitab Suci yang lain. Dan, dari apa yang ia katakan di sini tentang mereka, kita belajar bahwa Allah tidak memaksudkan mereka semata-mata bagi generasi-generasi itu dalam mana mereka pertama diberikan, tetapi untuk instruksi dari semua generasi umat manusia setelahnya.].
Catatan: Ro 15:3 merupakan kutipan dari Maz 69:10.

Calvin (tentang Ro 15:4): though he speaks of the Old Testament, the same thing is also true of the writings of the Apostles; for since the Spirit of Christ is everywhere like itself, there is no doubt but that he has adapted his teaching by the Apostles, as formerly by the Prophets, to the edification of his people. Moreover, we find here a most striking condemnation of those fanatics who vaunt that the Old Testament is abolished, and that it belongs not in any degree to Christians; for with what front can they turn away Christians from those things which, as Paul testifies, have been appointed by God for their salvation? [= sekalipun ia berbicara tentang Perjanjian Lama, hal yang sama juga benar tentang tulisan-tulisan dari sang Rasul; karena Roh Kristus dimana-mana adalah seperti diriNya sendiri, disana tak ada keraguan bahwa Ia telah menyesuaikan ajaranNya oleh Rasul-rasul, seperti dulu oleh Nabi-nabi, bagi pendidikan umatNya. Selanjutnya, kita mendapati di sini suatu kecaman yang paling menyolok terhadap orang-orang fanatik itu yang membual bahwa Perjanjian Lama dihapuskan, dan itu tidak cocok dalam tingkat apapun bagi orang-orang Kristen; karena dengan kedok apa mereka bisa memalingkan orang-orang Kristen dari hal-hal itu yang, sebagaimana Paulus saksikan, telah ditetapkan oleh Allah bagi keselamatan mereka?].

d)   Orang yang menolak persembahan persepuluhan dengan alasan bahwa ajaran tentang persembahan persepuluhan itu tidak ada dalam Perjanjian Baru, perlu bertanya tentang hal-hal di bawah ini:

1.   Dengan dasar ayat Perjanjian Baru mana mereka mengadakan acara persembahan sukarela dalam kebaktian untuk gereja?
Perhatikan bahwa ada 2 hal yang saya tekankan. Pertama, persembahan itu dilakukan dalam kebaktian, dan kedua, persembahan itu untuk gereja.

Saya tidak habis mengerti bagaimana penafsir-penafsir yang hebat sekalipun, tetap menggunakan ayat-ayat seperti 1Kor 16:2  2Kor 8:3  2Kor 9:7 dsb sebagai dasar bahwa dalam Perjanjian Baru persembahan persepuluhan sudah tidak berlaku dan digantikan oleh persembahan sukarela yang diajarkan oleh ayat-ayat itu! Perlu diingat bahwa SEMUA ayat-ayat yang mereka pakai sebagai ‘pengganti persembahan persepuluhan’, yaitu 1Kor 16:2  2Kor 8:3  2Kor 9:7, kontextnya adalah pengumpulan persembahan untuk orang miskin, bukan untuk gereja!

1Kor 16:1-3 - “(1) Tentang pengumpulan uang bagi orang-orang kudus, hendaklah kamu berbuat sesuai dengan petunjuk-petunjuk yang kuberikan kepada Jemaat-jemaat di Galatia. (2) Pada hari pertama dari tiap-tiap minggu hendaklah kamu masing-masing - sesuai dengan apa yang kamu peroleh - menyisihkan sesuatu dan menyimpannya di rumah, supaya jangan pengumpulan itu baru diadakan, kalau aku datang. (3) Sesudah aku tiba, aku akan mengutus orang-orang, yang kamu anggap layak, dengan surat ke Yerusalem untuk menyampaikan pemberianmu.”.
Catatan: kata-kata ‘di rumah’ dalam ay 2 itu seharusnya tidak ada!!! Baik dalam KJJV/RSV/NIV/NASB/ASV/NKJV kata itu tidak ada!! Dan dalam bahasa Yunaninya memang juga tidak ada!
Ay 2 (NIV): On the first day of every week, each one of you should set aside a sum of money in keeping with his income, saving it up, so that when I come no collections will have to be made. [= Pada hari pertama dari setiap minggu, hendaklah setiap orang dari kamu menyisihkan sejumlah uang sesuai dengan pendapatannya, menyimpannya, sehingga pada waktu aku datang tak perlu dilakukan pengumpulan (uang).].

2Kor 8:1-24 - “(1) Saudara-saudara, kami hendak memberitahukan kepada kamu tentang kasih karunia yang dianugerahkan kepada jemaat-jemaat di Makedonia. (2) Selagi dicobai dengan berat dalam pelbagai penderitaan, sukacita mereka meluap dan meskipun mereka sangat miskin, namun mereka kaya dalam kemurahan. (3) Aku bersaksi, bahwa mereka telah memberikan menurut kemampuan mereka, bahkan melampaui kemampuan mereka. (4) Dengan kerelaan sendiri mereka meminta dan mendesak kepada kami, supaya mereka juga beroleh kasih karunia untuk mengambil bagian dalam pelayanan kepada orang-orang kudus. (5) Mereka memberikan lebih banyak dari pada yang kami harapkan. Mereka memberikan diri mereka, pertama-tama kepada Allah, kemudian oleh karena kehendak Allah juga kepada kami. (6) Sebab itu kami mendesak kepada Titus, supaya ia mengunjungi kamu dan menyelesaikan pelayanan kasih itu sebagaimana ia telah memulainya. (7) Maka sekarang, sama seperti kamu kaya dalam segala sesuatu, - dalam iman, dalam perkataan, dalam pengetahuan, dalam kesungguhan untuk membantu, dan dalam kasihmu terhadap kami - demikianlah juga hendaknya kamu kaya dalam pelayanan kasih ini. (8) Aku mengatakan hal itu bukan sebagai perintah, melainkan, dengan menunjukkan usaha orang-orang lain untuk membantu, aku mau menguji keikhlasan kasih kamu. (9) Karena kamu telah mengenal kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus, bahwa Ia, yang oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinanNya. (10) Inilah pendapatku tentang hal itu, yang mungkin berfaedah bagimu. Memang sudah sejak tahun yang lalu kamu mulai melaksanakannya dan mengambil keputusan untuk menyelesaikannya juga. (11) Maka sekarang, selesaikan jugalah pelaksanaannya itu! Hendaklah pelaksanaannya sepadan dengan kerelaanmu, dan lakukanlah itu dengan apa yang ada padamu. (12) Sebab jika kamu rela untuk memberi, maka pemberianmu akan diterima, kalau pemberianmu itu berdasarkan apa yang ada padamu, bukan berdasarkan apa yang tidak ada padamu. (13) Sebab kamu dibebani bukanlah supaya orang-orang lain mendapat keringanan, tetapi supaya ada keseimbangan. (14) Maka hendaklah sekarang ini kelebihan kamu mencukupkan kekurangan mereka, agar kelebihan mereka kemudian mencukupkan kekurangan kamu, supaya ada keseimbangan. (15) Seperti ada tertulis: ‘Orang yang mengumpulkan banyak, tidak kelebihan dan orang yang mengumpulkan sedikit, tidak kekurangan.’ (16) Syukur kepada Allah, yang oleh karena kamu mengaruniakan kesungguhan yang demikian juga dalam hati Titus untuk membantu kamu. (17) Memang ia menyambut anjuran kami, tetapi dalam kesungguhannya yang besar itu ia dengan sukarela pergi kepada kamu. (18) Bersama-sama dengan dia kami mengutus saudara kita, yang terpuji di semua jemaat karena pekerjaannya dalam pemberitaan Injil. (19) Dan bukan itu saja! Ia juga telah ditunjuk oleh jemaat-jemaat untuk menemani kami dalam pelayanan kasih ini, yang kami lakukan untuk kemuliaan Tuhan dan sebagai bukti kerelaan kami. (20) Sebab kami hendak menghindarkan hal ini: bahwa ada orang yang dapat mencela kami dalam hal pelayanan kasih yang kami lakukan dan yang hasilnya sebesar ini. (21) Karena kami memikirkan yang baik, bukan hanya di hadapan Tuhan, tetapi juga di hadapan manusia. (22) Bersama-sama dengan mereka kami utus seorang lain lagi, yakni saudara kita, yang telah beberapa kali kami uji dan ternyata selalu berusaha untuk membantu. Dan sekarang ia makin berusaha karena besarnya kepercayaannya kepada kamu. (23) Titus adalah temanku yang bekerja bersama-sama dengan aku untuk kamu; saudara-saudara kami yang lain itu adalah utusan jemaat-jemaat dan suatu kemuliaan bagi Kristus. (24) Karena itu tunjukkanlah kepada mereka di hadapan jemaat-jemaat bukti kasihmu dan bukti kemegahanku atas kamu..

2Kor 9:1-15 - “(1) Tentang pelayanan kepada orang-orang kudus tidak perlu lagi aku menuliskannya kepada kamu. (2) Aku telah tahu kerelaan hatimu tentang mana aku megahkan kamu kepada orang-orang Makedonia. Kataku: ‘Akhaya sudah siap sedia sejak tahun yang lampau.’ Dan kegiatanmu telah menjadi perangsang bagi banyak orang. (3) Aku mengutus saudara-saudara itu, agar kemegahan kami dalam hal ini atas kamu jangan ternyata menjadi sia-sia, tetapi supaya kamu benar-benar siap sedia seperti yang telah kukatakan, (4) supaya, apabila orang-orang Makedonia datang bersama-sama dengan aku, jangan mereka mendapati kamu belum siap sedia, sehingga kami - untuk tidak mengatakan kamu - merasa malu atas keyakinan kami itu. (5) Sebab itu aku merasa perlu mendorong saudara-saudara itu untuk berangkat mendahului aku, supaya mereka lebih dahulu mengurus pemberian yang telah kamu janjikan sebelumnya, agar nanti tersedia sebagai bukti kemurahan hati kamu dan bukan sebagai pemberian yang dipaksakan. (6) Camkanlah ini: Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga. (7) Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita. (8) Dan Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu, supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berkelebihan di dalam pelbagai kebajikan. (9) Seperti ada tertulis: ‘Ia membagi-bagikan, Ia memberikan kepada orang miskin, kebenaranNya tetap untuk selamanya.’ (10) Ia yang menyediakan benih bagi penabur, dan roti untuk dimakan, Ia juga yang akan menyediakan benih bagi kamu dan melipatgandakannya dan menumbuhkan buah-buah kebenaranmu; (11) kamu akan diperkaya dalam segala macam kemurahan hati, yang membangkitkan syukur kepada Allah oleh karena kami. (12) Sebab pelayanan kasih yang berisi pemberian ini bukan hanya mencukupkan keperluan-keperluan orang-orang kudus, tetapi juga melimpahkan ucapan syukur kepada Allah. (13) Dan oleh sebab kamu telah tahan uji dalam pelayanan itu, mereka memuliakan Allah karena ketaatan kamu dalam pengakuan akan Injil Kristus dan karena kemurahan hatimu dalam membagikan segala sesuatu dengan mereka dan dengan semua orang, (14) sedangkan di dalam doa mereka, mereka juga merindukan kamu oleh karena kasih karunia Allah yang melimpah di atas kamu. (15) Syukur kepada Allah karena karuniaNya yang tak terkatakan itu!.

Catatan: gereja-gereja / pendeta-pendeta yang menggunakan / membacakan 2Kor 9:6-7 sebelum acara persembahan dalam kebaktian, sebetulnya juga menggunakan ayat ini secara out of context, karena ayat ini berbicara tentang persembahan untuk orang Kristen miskin!!!

Demikian juga ayat-ayat seperti Kis 2:44-45  Kis 4:32-37 adalah persembahan untuk menolong orang-orang Kristen yang miskin!

Kis 2:44-45 - “(44) Dan semua orang yang telah menjadi percaya tetap bersatu, dan segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama, (45) dan selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing.”.

Kis 4:32-37 - “(32) Adapun kumpulan orang yang telah percaya itu, mereka sehati dan sejiwa, dan tidak seorangpun yang berkata, bahwa sesuatu dari kepunyaannya adalah miliknya sendiri, tetapi segala sesuatu adalah kepunyaan mereka bersama. (33) Dan dengan kuasa yang besar rasul-rasul memberi kesaksian tentang kebangkitan Tuhan Yesus dan mereka semua hidup dalam kasih karunia yang melimpah-limpah. (34) Sebab tidak ada seorangpun yang berkekurangan di antara mereka; karena semua orang yang mempunyai tanah atau rumah, menjual kepunyaannya itu, dan hasil penjualan itu mereka bawa (35) dan mereka letakkan di depan kaki rasul-rasul; lalu dibagi-bagikan kepada setiap orang sesuai dengan keperluannya. (36) Demikian pula dengan Yusuf, yang oleh rasul-rasul disebut Barnabas, artinya anak penghiburan, seorang Lewi dari Siprus. (37) Ia menjual ladang, miliknya, lalu membawa uangnya itu dan meletakkannya di depan kaki rasul-rasul.”.

Jadi, dimana ada ayat yang mendukung persembahan sukarela untuk gereja dalam kebaktian, apalagi untuk menggantikan persembahan persepuluhan??? menurut saya, Jawabnya adalah ‘TIDAK ADA!!!

Kalau orang-orang yang ‘anti persembahan persepuluhan’ mengatakan bahwa dalam Perjanjian Baru tak ada dasar untuk mengharuskan persembahan persepuluhan, maka saya katakan, bahwa praktek untuk menggantikan persembahan persepuluhan dengan persembahan sukarela lebih-lebih tidak mempunyai dasar dalam Perjanjian Baru!!!

Dengan demikian, penghapusan persembahan persepuluhan dan penggantiannya dengan persembahan sukarela dalam kebaktian, merupakan ajaran dan praktek yang konyol dan tidak Alkitabiah!

2.   Dengan dasar ayat Perjanjian Baru mana mereka mengadakan votum dan salam (pada awal kebaktian), dan juga berkat terakhir dalam kebaktian?

3.   Dengan dasar ayat Perjanjian Baru mana mereka mengadakan doa pengakuan dosa, doa syafaat, doa untuk orang-orang yang sakit, dsb, dalam kebaktian?

4.   Dengan dasar ayat Perjanjian Baru mana mereka mengadakan puji-pujian disertai musik (apalagi doa yang diiringi musik!!!) dalam kebaktian?
Catatan: untuk praktek doa yang disertai musik yang sekarang sudah begitu populer, saya sama sekali tak menyetujuinya, dan saya menganggap praktek itu sebagai tidak Alkitabiah!

5.   Dengan dasar ayat Perjanjian Baru mana mereka mengadakan acara pengakuan iman (12 Pengakuan Iman Rasuli, Pengakuan Iman Nicea) dan Doa Bapa Kami dalam kebaktian?

6.   Dengan dasar ayat Perjanjian Baru mana mereka mengadakan acara baptisan dalam kebaktian?

Sepanjang yang saya tahu, untuk semua hal-hal di atas ini tidak ada satu ayatpun dalam Perjanjian Baru yang mendukung pelaksanaannya apalagi mengharuskannya, tetapi boleh dikatakan semua gereja melakukan sebagian atau semua point di atas!
Tetapi anehnya, dalam urusan persembahan persepuluhan, mereka meminta dasar ayat Perjanjian Baru untuk mendukung pelaksanaan persembahan persepuluhan, dan karena tidak ada, maka mereka anggap persembahan persepuluhan sudah tak berlaku!!!! Dimana konsistensinya???
Catatan: saya ingatkan sekali lagi bahwa secara theologis, jaman Perjanjian Baru baru dimulai pada saat Yesus mati, dan tirai Bait Suci sobek.

Sekarang mari kita membaca tulisan Philip Schaff, seorang ahli sejarah, tentang asal usul ibadah / kebaktian Kristen dan elemen-elemennya.

Philip Schaff: § 52. Christian Worship. ... The Jewish Christians, at least in Palestine, conformed as closely as possible to the venerable forms of the cultus of their fathers, which in truth were divinely ordained, and were an expressive type of the Christian worship. ... In the Gentile-Christian congregations founded by Paul, the worship took from the beginning a more independent form. The essential elements of the Old Testament service were transferred, indeed, but divested of their national legal character, and transformed by the spirit of the gospel. ... So early as the close of the apostolic period this more free and spiritual cultus of Christianity had no doubt become well nigh universal; yet many Jewish elements, especially in the Eastern church, remain to this day. [= § 52. Ibadah / kebaktian Kristen. ... Orang-orang Kristen Yahudi, setidaknya di Palestina, menyesuaikan sepersis mungkin pada bentuk-bentuk pemujaan yang patut dimuliakan dari Bapa-bapa mereka, yang sebetulnya ditentukan secara ilahi, dan merupakan suatu model yang bersifat menyatakan dari ibadah / kebaktian Kristen. ... Dalam jemaat-jemaat Kristen non Yahudi yang didirikan oleh Paulus, ibadah / kebaktiannya mengambil dari semula suatu bentuk yang lebih bebas. Memang, elemen-elemen hakiki dari ibadah / kebaktian Perjanjian Lama ditransfer / dipindahkan, tetapi dilepaskan dari karakter sah / hukum nasional mereka, dan diubahkan oleh roh / semangat dari injil. ... Begitu awal pada akhir dari jaman rasul, pemujaan kekristenan yang lebih bebas dan rohani ini tak diragukan telah menjadi hampir bersifat universal; tetapi banyak elemen-elemen Yahudi, khususnya dalam gereja-gereja timur, tetap sampai jaman sekarang.] - ‘History of the Christian Church’, vol I, hal 460-461.

Philip Schaff: § 53. The Several Parts of Worship. The several parts of public worship in the time of the apostles were as follows: 1. The Preaching of the gospel. ... 2. The Reading of portions of the Old Testament, with practical exposition and application; transferred from the Jewish synagogue into the Christian church. To these were added in due time lessons from the New Testament; that is, from the canonical Gospels and the apostolic Epistles, most of which were addressed to whole congregations and originally intended for public use. After the death of the apostles their writings became doubly important to the church, as a substitute for their oral instruction and exhortation, and were much more used in worship than the Old Testament. 3. Prayer, in its various forms of petition, intercession, and thanksgiving. This descended likewise from Judaism, ... At the same time the frequent use of psalms and short forms of devotion, as the Lord’s Prayer, may be inferred with certainty from the Jewish custom, from the Lord’s direction respecting his model prayer, from the strong sense of fellowship among the first Christians, and finally from the liturgical spirit of the ancient church, which could not have so generally prevailed both in the East and the West without some apostolic and post-apostolic precedent. ... 4. The Song, a form of prayer, ... This passed immediately, with the psalms of the Old Testament, those inexhaustible treasures of spiritual experience, edification, and comfort, from the temple and the synagogue into the Christian church. ... But to this precious inheritance from the past, whose full value was now for the first time understood in the light of the New Testament revelation, the church, in the enthusiasm of her first love, added original, specifically Christian psalms, hymns, doxologies, and benedictions, which afforded the richest material for Sacred poetry and music in succeeding centuries; ... 5. Confession Of Faith. ... 6. Finally, the administration of the Sacraments, ... [= § 53. Beberapa bagian dari ibadah / kebaktian. Beberapa bagian dari ibadah / kebaktian umum pada jaman rasul-rasul adalah sebagai berikut: 1. Pemberitaan injil. ... 2. Pembacaan dari bagian-bagian dari Perjanjian Lama, dengan exposisi dan penerapan praktis; dipindahkan / dialihkan dari sinagog Yahudi ke dalam gereja Kristen. Pada hal-hal ini ditambahkan, pada waktunya, pelajaran-pelajaran dari Perjanjian Baru; artinya, dari Injil-injil kanonik dan Surat-surat Rasuli, yang kebanyakan darinya ditujukan kepada seluruh jemaat-jemaat dan mula-mula dimaksudkan untuk penggunaan umum. Setelah kematian dari rasul-rasul, tulisan-tulisan mereka menjadi makin penting bagi gereja, sebagai suatu pengganti bagi instruksi dan nasehat lisan, dan lebih banyak digunakan dalam ibadah / kebaktian dari pada Perjanjian Lama. 3. Doa, dalam bentuknya yang bermacam-macam dari permohonan, syafaat, dan syukur. Ini juga diturunkan dari Yudaisme, ... Pada saat yang sama penggunaan yang sering dari mazmur-mazmur dan bentuk-bentuk doa singkat, seperti Doa Bapa Kami, bisa dibawa masuk dengan kepastian dari tradisi / kebiasaan Yahudi, dari pengarahan Tuhan berkenaan dengan model doaNya, dari perasaan persekutuan yang kuat di antara orang-orang Kristen mula-mula, dan akhirnya dari semangat penggunaan liturgi dari Gereja kuno, yang tidak bisa secara begitu umum telah berlaku baik di Timur dan Barat tanpa suatu teladan (baik melalui kata-kata atau tindakan) dari rasul-rasul dan orang-orang setelah rasul-rasul. ... 4. Nyanyian, suatu bentuk dari doa, ... Ini disahkan / diterima secara langsung / dengan segera, bersama-sama dengan mazmur-mazmur dari Perjanjian Lama, harta yang tak ada habisnya dari pengalaman, pendidikan, dan penghiburan rohani itu, dari Bait Suci dan sinagog ke dalam gereja Kristen. ... Tetapi pada warisan berharga dari masa lampau ini, yang nilai sepenuhnya sekarang untuk pertama kalinya dimengerti dalam terang dari wahyu Perjanjian Baru, gereja, dalam semangat dari kasihnya yang semula / pertama, menambahkan mazmur-mazmur, nyanyi-nyanyian pujian, doxology, dan berkat-berkat Kristen yang orisinil dan khusus, yang memberikan material yang paling kaya untuk puisi dan musik Kudus dalam abad-abad setelahnya; ... 5. Pengakuan Iman. ... 6. Akhirnya, pelaksanaan sakramen, ...] - ‘History of the Christian Church’, vol I, hal 461-465.

Catatan: kutipan di atas saya ambil hanya bagian-bagian yang penting berkenaan dengan topik yang saya bahas, tetapi kalau ada orang-orang yang mau melihat seluruhnya, maka kutipan penuh saya berikan di bawah, tetapi tidak saya terjemahkan.

Philip Schaff: § 52. Christian Worship. Christian worship, or cultus, is the public adoration of God in the name of Christ; the celebration of the communion of believers as a congregation with their heavenly Head, for the glory of the Lord, and for the promotion and enjoyment of spiritual life. While it aims primarily at the devotion and edification of the church itself, it has at the same time a missionary character, and attracts the outside world. This was the case on the Day of Pentecost when Christian worship in its distinctive character first appeared. As our Lord himself in his youth and manhood worshipped in the synagogue and the temple, so did his early disciples as long as they were tolerated. Even Paul preached Christ in the synagogues of Damascus, Cyprus, Antioch in Pisidia, Amphipolis, Beraeea, Athens, Corinth, Ephesus. He ‘reasoned with the Jews every sabbath in the synagogues’ which furnished him a pulpit and an audience. The Jewish Christians, at least in Palestine, conformed as closely as possible to the venerable forms of the cultus of their fathers, which in truth were divinely ordained, and were an expressive type of the Christian worship. So far as we know, they scrupulously observed the Sabbath, the annual Jewish feasts, the hours of daily prayer, and the whole Mosaic ritual, and celebrated, in addition to these, the Christian Sunday, the death and the resurrection of the Lord, and the holy Supper. But this union was gradually weakened by the stubborn opposition of the Jews, and was at last entirely broken by the destruction of the temple, except among the Ebionites and Nazarenes. In the Gentile-Christian congregations founded by Paul, the worship took from the beginning a more independent form. The essential elements of the Old Testament service were transferred, indeed, but divested of their national legal character, and transformed by the spirit of the gospel. Thus the Jewish Sabbath passed into the Christian Sunday; the typical Passover and Pentecost became feasts of the death and resurrection of Christ, and of the outpouring of the Holy Spirit; the bloody sacrifices gave place to the thankful remembrance and appropriation of the one, all-sufficient, and eternal sacrifice of Christ on the cross, and to the personal offering of prayer, intercession, and entire self-consecration to the service of the Redeemer; on the ruins of the temple made without hands arose the never ceasing worship of the omnipresent God in spirit and in truth. So early as the close of the apostolic period this more free and spiritual cultus of Christianity had no doubt become well nigh universal; yet many Jewish elements, especially in the Eastern church, remain to this day. - ‘History of the Christian Church’, vol I, hal 460-461.

Philip Schaff: § 53. The Several Parts of Worship. The several parts of public worship in the time of the apostles were as follows: 1. The Preaching of the gospel. This appears in the first period mostly in the form of a missionary address to the unconverted; that is, a simple, living presentation of the main facts of the life of Jesus, with practical exhortation to repentance and conversion. Christ crucified and risen was the luminous centre, whence a sanctifying light was shed on all the relations of life. Gushing forth from a full heart, this preaching went to the heart; and springing from an inward life, it kindled life - a new, divine life - in the susceptible hearers. It was revival preaching in the purest sense. Of this primitive Christian testimony several examples from Peter and Paul are preserved in the Acts of the Apostles. The Epistles also may be regarded in the wider sense as sermons, addressed, however, to believers, and designed to nourish the Christian life already planted. 2. The Reading of portions of the Old Testament, with practical exposition and application; transferred from the Jewish synagogue into the Christian church. To these were added in due time lessons from the New Testament; that is, from the canonical Gospels and the apostolic Epistles, most of which were addressed to whole congregations and originally intended for public use. After the death of the apostles their writings became doubly important to the church, as a substitute for their oral instruction and exhortation, and were much more used in worship than the Old Testament. 3. Prayer, in its various forms of petition, intercession, and thanksgiving. This descended likewise from Judaism, and in fact belongs essentially even to all heathen religions; but now it began to be offered in childlike confidence to a reconciled Father in the name of Jesus, and for all classes and conditions, even for enemies and persecutors. The first Christians accompanied every important act of their public and private life with this holy rite, and Paul exhorts his readers to ‘pray without ceasing.’ On solemn occasions they joined fasting with prayer, as a help to devotion, though it is nowhere directly enjoined in the New Testament. They prayed freely from the heart, as they were moved by the Spirit, according to special needs and circumstances. We have an example in the fourth chapter of Acts. There is no trace of a uniform and exclusive liturgy; it would be inconsistent with the vitality and liberty of the apostolic churches. At the same time the frequent use of psalms and short forms of devotion, as the Lord’s Prayer, may be inferred with certainty from the Jewish custom, from the Lord’s direction respecting his model prayer, from the strong sense of fellowship among the first Christians, and finally from the liturgical spirit of the ancient church, which could not have so generally prevailed both in the East and the West without some apostolic and post-apostolic precedent. The oldest forms are the eucharistic prayers of the Didache , and the petition for rulers in the first Epistle of Clement, which contrasts most beautifully with the cruel hostility of Nero and Domitian. 4. The Song, a form of prayer, in the festive dress of poetry and the elevated language of inspiration, raising the congregation to the highest pitch of devotion, and giving it a part in the heavenly harmonies of the saints. This passed immediately, with the psalms of the Old Testament, those inexhaustible treasures of spiritual experience, edification, and comfort, from the temple and the synagogue into the Christian church. The Lord himself inaugurated psalmody into the new covenant at the institution of the holy Supper, and Paul expressly enjoined the singing of ‘psalms and hymns and spiritual songs’ (Eph 5:19; Col 3:16), as a means of social edification. But to this precious inheritance from the past, whose full value was now for the first time understood in the light of the New Testament revelation, the church, in the enthusiasm of her first love, added original, specifically Christian psalms, hymns, doxologies, and benedictions, which afforded the richest material for Sacred poetry and music in succeeding centuries; the song of the heavenly hosts, for example, at the birth of the Saviour; the ‘Nunc dimittis’ of Simeon; the ‘Magnificat’ of the Virgin Mary; the ‘Benedictus’ of Zacharias; the thanksgiving of Peter after his miraculous deliverance; the speaking with tongues in the apostolic churches, which, whether song or prayer, was always in the elevated language of enthusiasm; the fragments of hymns scattered through the Epistles; and the lyrical and liturgical passages, the doxologies and antiphonies of the Apocalypse. 5. Confession Of Faith. All the above-mentioned acts of worship are also acts of faith. The first express confession of faith is the testimony of Peter, that Jesus was the Christ, the Son of the living God. The next is the trinitarian baptismal formula. Out of this gradually grew the so-called Apostles’ Creed, which is also trinitarian in structure, but gives the confession of Christ the central and largest place. Though not traceable in its present shape above the fourth century, and found in the second and third in different longer or shorter forms, it is in substance altogether apostolic, and exhibits an incomparable summary of the leading facts in the revelation of the triune God from the creation of the world to the resurrection of the body; and that in a form intelligible to all, and admirably suited for public worship and catechetical use. We shall return to it more fully in the second period. 6. Finally, the administration of the Sacraments, or sacred rites instituted by Christ, by which, under appropriate symbols and visible signs, spiritual gifts and invisible grace are represented, sealed, and applied to the worthy participators. The two sacraments of Baptism and the Lord’s Supper, the antitypes of circumcision and the passover under the Old Testament, were instituted by Christ as efficacious signs, pledges, and means of the grace of the new covenant. They are related to each other as regeneration and sanctification, or as the beginning and the growth of the Christian life. The other religious rites mentioned in the New Testament, as confirmation and ordination, cannot be ranked in dignity with the sacraments, as they are not commanded by Christ. - ‘History of the Christian Church’, vol I, hal 461-465.

Dari kutipan di atas ini terlihat berapa banyak hal-hal yang diambil dari ibadah Yahudi dan dimasukkan dalam ibadah kristen, tanpa dasar ayat Perjanjian Baru! Lalu mengapa untuk persembahan persepuluhan harus menuntut dasar ayat Perjanjian Baru?

e)   Orang-orang yang ‘anti persembahan persepuluhan’ mengatakan bahwa dalam Perjanjian Baru tak ada ajaran tentang persembahan persepuluhan. Siapa bilang tak ada???
1Kor 9:13-14 merupakan ayat-ayat Perjanjian Baru yang mendukung persembahan persepuluhan.
1Kor 9:13-14 - “(13) Tidak tahukah kamu, bahwa mereka yang melayani dalam tempat kudus mendapat penghidupannya dari tempat kudus itu dan bahwa mereka yang melayani mezbah, mendapat bahagian mereka dari mezbah itu? (14) Demikian pula Tuhan telah menetapkan, bahwa mereka yang memberitakan Injil, harus hidup dari pemberitaan Injil itu.”.
Kitab Suci Indonesia: ‘demikian pula’.
KJV/ASV/NKJV: ‘even so’ [= secara sama].
NASB: ‘so also’ [= demikian juga].
RSV/NIV: ‘in the same way’ [= dengan cara yang sama].

Komentar Calvin berkenaan dengan text ini saya berikan di sini, tetapi karena ini sudah saya berikan di depan, maka di sini tak akan saya bacakan.

Calvin (tentang Bil 18:20): “‘The priesthood being changed, the right also is at the same time transferred.’ (Hebrews 7:12.) The Apostle there contends, that whatever the Law had conferred on the Levitical priests now belongs to Christ alone, since their dignity and office received its end in Him. ... If they duly performed their duties, and, giving up all earthly business, devoted themselves altogether to the instruction of the people, and to the execution of all the other offices of good and faithful pastors, unquestionably they ought to be maintained by the public; as Paul correctly infers that a subsistence is now no less due to the ministers of the Gospel than of old to the priests who waited at the altar, (1 Corinthians 9:14;)” [= ‘Keimaman / imamatnya berubah, haknya juga pada saat yang sama dipindahkan.’ (Ibr 7:12). Sang Rasul disana berargumentasi, bahwa apapun yang hukum Taurat telah berikan kepada imam-imam Lewi sekarang menjadi milik dari Kristus saja, karena kewibawaan dan jabatan mereka berakhir di dalam Dia. ... Jika mereka melaksanakan kewajiban-kewajiban mereka dengan benar / dengan seharusnya, dan mereka menyerahkan semua bisnis duniawi, membaktikan diri mereka sendiri seluruhnya untuk pengajaran orang-orang, dan pada pelaksanaan dari semua tugas-tugas lain dari gembala-gembala / pendeta-pendeta yang baik dan setia, pasti mereka harus dipelihara oleh umum; seperti Paulus secara benar berpendapat / menyimpulkan bahwa suatu kebutuhan hidup sekarang juga tidak kurang merupakan hak dari pelayan-pelayan / pendeta-pendeta dari Injil dari pada pada jaman dulu merupakan hak dari imam-imam yang melayani mezbah, (1Kor. 9:14);] - hal 279.
Ibr 7:12 - “Sebab, jikalau imamat berubah, dengan sendirinya akan berubah pula hukum Taurat itu.”.
1Kor 9:13-14 - “(13) Tidak tahukah kamu, bahwa mereka yang melayani dalam tempat kudus mendapat penghidupannya dari tempat kudus itu dan bahwa mereka yang melayani mezbah, mendapat bahagian mereka dari mezbah itu? (14) Demikian pula Tuhan telah menetapkan, bahwa mereka yang memberitakan Injil, harus hidup dari pemberitaan Injil itu.”.

Calvin (tentang 1Kor 9:13): “The sum is this - ‘The Levitical priests were ministers of the Israelitish Church; the Lord appointed them sustenance from their ministry; hence in ministers of the Christian Church the same equity must be observed at the present day. Now the ministers of the Christian Church are those that preach the gospel.’ [= Kesimpulannya adalah ini - ‘Imam-imam Lewi adalah pelayan-pelayan dari Gereja Israel; Tuhan menetapkan pemeliharaan / makanan bagi mereka dari pelayanan mereka; maka dalam pelayan-pelayan dari Gereja Kristen hak yang sama harus dijalankan pada jaman sekarang. Pelayan-pelayan dari Gereja Kristen adalah mereka yang memberitakan injil’.].

Calvin (tentang 1Kor 9:13): “For my part, however, I simply admonish my readers to consider attentively Paul’s words. He argues that pastors, who labor in the preaching of the gospel, ought to be supported, because the Lord in ancient times appointed sustenance for the priests, on the ground of their serving the Church. Hence a distinction must be made between the ancient priesthood and that of the present day. Priests under the law were set apart to preside over the sacrifices, to serve the altar, and to take care of the tabernacle and temple. Those at the present day are set apart to preach the word and to dispense the sacraments. [= Tetapi bagi saya sendiri, saya hanya menasehatkan para pembaca saya untuk mempertimbangkan dengan penuh perhatian kata-kata Paulus. Ia berargumentasi bahwa pendeta-pendeta, yang berjerih payah dalam memberitakan injil, harus disokong, karena Tuhan dalam jaman kuno / dulu menetapkan pemeliharaan / makanan untuk imam-imam, berdasarkan pelayanan mereka terhadap Gereja. Maka suatu pembedaan harus dibuat antara keimaman kuno / dulu dan keimaman jaman sekarang. Imam-imam di bawah hukum Taurat dipisahkan untuk memimpin korban-korban, melayani mezbah, dan memelihara Kemah Suci dan Bait Allah. Mereka pada jaman sekarang dipisahkan untuk memberitakan firman dan untuk menyelenggarakan sakramen-sakramen.].

Sekarang kita akan melihat komentar-komentar dari beberapa penafsir yang lain.

Pulpit Commentary (tentang Ul 12:1-32): IX. Israel’s worship was to be supported by the contributions of the people. (Ver. 19; and see ch. 18:1–8.) Thus were the people at large from the first to be educated ‘in giving to God,’ and in maintaining, at their own cost, the worship and ordinances of God, so as to hand them down intact and untainted to their children and their children’s children. How clearly is this principle reproduced in the New Testament! (see 1 Cor. 9:9–14). Though there is far less detail, yet it is not supposed that less will be done, but rather more; such verses as 2 Cor. 8:7–9, how much they imply and suppose! Surely it would be well if our Churches everywhere recognized the nine principles of Divine worship which we find laid down by Moses. It may fairly be made a question whether even the purest Church is found recognizing them all, and yet, which one of the nine is repealed or even modified under the gospel? Of necessity, forms have changed. But so long as we need the ordinances of Christian worship at all, so long must we assert and maintain all that we find inculcated here:[= IX. Penyembahan / ibadah Israel harus disokong oleh kontribusi / sumbangsih dari bangsa / umat itu. (ay 19; dan lihat 18:1-8). Demikianlah bangsa itu sebagai suatu keseluruhan dari semula dididik ‘dalam memberi kepada Allah’, dan dalam memelihara, atas biaya mereka, penyembahan dan upacara-upacara / peraturan-peraturan yang ditetapkan dari Allah, sehingga menyerahkan / menurunkan mereka secara utuh dan tak terkontaminasi kepada anak-anak mereka dan anak-anak dari anak-anak mereka. Betapa dengan jelas prinsip ini ditiru dalam Perjanjian Baru! (lihat 1Kor 9:9-14). Sekalipun di sana jauh kurang terperinci, tetapi tidak boleh dianggap bahwa lebih sedikit yang harus dilakukan, tetapi sebaliknya lebih banyak; ayat-ayat seperti 2Kor 8:7-9, betapa banyak ayat-ayat itu nyatakan secara implicit dan berikan / anggap! Pasti akan baik seandainya Gereja-gereja kita dimana-mana mengenali / mengakui 9 prinsip tentang penyembahan / ibadah Ilahi yang kita dapati diberikan oleh Musa. Bisa secara adil dipertanyakan apakah bahkan Gereja yang paling murni didapati mengenali / mengakui mereka semua, dan, yang mana dari 9 prinsip itu yang dibatalkan atau bahkan dimodifikasi di bawah injil? Memang bentuk telah berubah. Tetapi selama kita membutuhkan upacara-upacara / peraturan-peraturan penyembahan / ibadah Kristen, maka kita harus menyatakan dan mempertahankan semua yang kita dapati diajarkan di sini:].

Barnes’ Notes (tentang 1Kor 9:13): The argument of the apostle here is this: ‘As the ministers of religion under the Jewish dispensation were entitled to support by the authority and the law of God, that fact settles a general principle which is applicable also to the gospel, that he intends that the ministers of religion should derive their support in their work. If it was reasonable then, it is reasonable now. If God commanded it then, it is to be presumed that he intends to require it now.[= Argumentasi dari sang rasul di sini adalah ini: ‘Karena pelayan-pelayan agama di bawah jaman Yahudi berhak atas sokongan oleh otoritas dan hukum Taurat dari Allah, fakta itu menegakkan suatu prinsip umum yang juga cocok untuk diterapkan pada injil, bahwa Ia memaksudkan bahwa pelayan-pelayan agama harus mendapatkan sokongan mereka dalam pekerjaan mereka. Jika itu merupakan sesuatu yang masuk akal pada saat itu, itu merupakan sesuatu yang masuk akal sekarang. Jika Allah memerintahkannya pada saat itu, harus dianggap bahwa Ia bermaksud untuk menuntutnya / memerintahkannya sekarang.].

Barnes’ Notes (tentang 1Kor 9:14): ‘Even so.’ In the same manner, and for the same reasons.[= ‘Secara sama’. Dengan cara yang sama, dan untuk alasan yang sama.].

Pulpit Commentary (tentang 1Kor 9:4-18): 4. Analogy of the Jewish priesthood. (Ver. 13.) The rule was that they who served at the altar should receive a portion of the sacrifices and other gifts that were constantly brought to the temple. A sufficient support was thus secured; and the Divine sanction implied in that ancient rule applies equally to the case of the Christian ministry.[= 4. Analogi dari keimaman / imamat Yahudi. (ay 13). Peraturannya adalah bahwa mereka yang melayani di mezbah harus menerima suatu bagian dari korban-korban dan persembahan-persembahan yang lain yang secara konstan dibawa ke Bait Suci. Maka suatu sokongan yang cukup dipastikan; dan ketetapan / prinsip Ilahi yang dinyatakan dalam peraturan kuno itu berlaku secara sama terhadap kasus dari pelayanan Kristen.].

A. W. Pink: “The emphatic words there are, ‘Even so’ in the beginning of the fourteenth verse. The word ‘tithe’ is not found in these two verses but it is most clearly implied. In verse 13 the Holy Spirit reminds the New Testament saints that under the Mosaic economy God had made provision for the maintenance of those who ministered in the temple. Now then, He says, in this New Testament dispensation ‘Even so’ (v. 14) - the same means and the same method are to be used in the support and maintaining of the preachers of the Gospel as were used in supporting the temple and its services of old. ‘Even so.’ It was the tithe that supported God’s servants in the Old Testament dispensation: ‘even so’ God has ordained, and appointed that His servants in the New Testament dispensation shall be so provided for.” [= Kata-kata yang ditekankan di sana adalah, ‘Secara sama’ pada awal dari ay 14. Kata ‘persembahan persepuluhan’ tidak ditemukan dalam kedua ayat ini tetapi itu dinyatakan secara implicit dengan sangat jelas. Dalam ay 13 Roh Kudus mengingatkan orang-orang kudus Perjanjian Baru bahwa di bawah pengaturan Musa Allah telah membuat persediaan bagi pemeliharaan dari mereka yang melayani di Bait Suci. Maka sekarang, Ia berkata, dalam jaman Perjanjian Baru ini ‘Secara sama’ (ay 14) - cara / jalan yang sama dan metode yang sama harus digunakan dalam sokongan dan pemeliharaan dari pengkhotbah-pengkhotbah Injil seperti yang digunakan dalam menyokong Bait Suci dan pelayanan-pelayanannya pada jaman kuno. Adalah persembahan persepuluhan yang menyokong pelayan-pelayan Allah dalam jaman Perjanjian Lama: ‘secara sama’ Allah telah menentukan, dan menetapkan, bahwa pelayan-pelayanNya dalam jaman Perjanjian Baru akan dipelihara begitu.] - ‘Tithing’, hal 8-9 (AGES).

Charles Hodge (tentang 1Kor 9:13-14): “‘Those who work in the temple.’ That is, those who perform the sacred services, those who offer sacrifices. ‘Get their food from the temple.’ That is, they derive their support from the temple. ‘Those who serve at the altar share in what is offered on the altar.’ That is, the priests receive a portion of the sacrifices offered on the altar. If this was an institution ordained by God himself, under the old dispensation, it has the sanction of divine authority. The apostle’s concluding and conclusive argument on this subject is contained in the following verse. 14. ‘In the same way, the Lord has commanded that those who preach the gospel should receive their living from the gospel.’ As God had ordained under the Old Testament, so also the Lord (that is, Christ) had ordained under the New. Christ has made the same ordinance respecting the ministers of the Gospel that God made concerning the priests of the law. [= ‘Mereka yang bekerja dalam Bait Suci’. Artinya, mereka yang melaksanakan pelayanan-pelayanan kudus, mereka yang mempersembahkan korban-korban. ‘Mendapatkan makanan mereka dari Bait Suci’. Artinya, mereka mendapatkan sokongan mereka dari Bait Suci. ‘Mereka yang melayani di mezbah mendapat bagian dari apa yang dipersembahkan di mezbah’. Artinya, imam-imam menerima suatu bagian dari korban-korban yang dipersembahkan di mezbah. Jika ini adalah suatu penegakan yang ditentukan oleh Allah sendiri, di bawah jaman Perjanjian Lama, itu mempunyai persetujuan dari otoritas ilahi. Argumentasi yang menutup dan menyimpulkan dari sang rasul tentang pokok ini ada dalam ay 14 yang mengikutinya. ‘Dengan cara yang sama, Tuhan telah memerintahkan bahwa mereka yang memberitakan injil harus menerima penghidupan mereka dari injil’. Sebagaimana Allah telah menentukan di bawah Perjanjian Lama, demikian juga Tuhan (yaitu, Kristus) telah menentukan di bawah Perjanjian Baru. Kristus telah membuat peraturan yang sama berkenaan dengan pelayan-pelayan dari Injil dengan yang Allah buat berkenaan dengan imam-imam dari hukum Taurat.].

Charles Hodge (tentang 1Kor 9:14): “‘The Lord has commanded that those who preach.’ This was a command to ministers themselves not to seek their support from secular occupations, but to ‘receive their living from the gospel,’ just as the priests lived off the temple (Matthew 10:10; Luke 10:7). This is the law of Christ, obligatory on ministers and people; on the latter to give, and on the former to seek a support from the church and not from worldly occupations. The case of Paul shows that there are circumstances under which this command ceases to be binding on preachers. These are exceptions to be justified each on its own merits; but the rule, as a rule, remains in force. [= ‘Tuhan telah memerintahkan bahwa mereka yang memberitakan’. Ini adalah suatu perintah kepada pelayan-pelayan itu sendiri untuk tidak mencari sokongan mereka dari pekerjaan-pekerjaan sekuler, tetapi untuk ‘menerima penghidupan mereka dari injil’, sama seperti imam-imam hidup dari Bait Suci (Mat 10:10; Luk 10:7). Ini adalah hukum Kristus, bersifat mengikat pada pelayan-pelayan / pendeta-pendeta dan umat; pada yang terakhir untuk memberi, dan pada yang terdahulu untuk mencari sokongan dari gereja dan bukan dari pekerjaan-pekerjaan duniawi. Kasus Paulus menunjukkan bahwa ada keadaan-keadaan dalam mana perintah ini berhenti untuk mengikat pengkhotbah-pengkhotbah. Ini adalah perkecualian-perkecualian yang masing-masing dibenarkan karena kelayakannya sendiri; tetapi peraturannya, sebagai suatu peraturan, tetap berlaku.].

John Piper: “If the question is raised whether Jesus, in the New Testament, continued this principle for the sake of his church, one of the strongest arguments that he did is Matthew 23:23 where he says, ‘Woe to you, scribes and Pharisees, hypocrites! For you tithe mint and dill and cumin, and have neglected the weightier provisions of the law: justice and mercy and faithfulness; but these are the things you should have done without neglecting the others.’ So Jesus endorses tithing: don’t neglect it. It is not as essential as justice love and mercy; but it is to be done. Yet one might say that he is only talking to Jews in an essentially Old Testament setting. Maybe so. But there is another pointer that the principle was preserved in the early church. In 1 Corinthians 9:13–14 Paul says, ‘Do you not know that those who perform sacred services (in the temple) eat the food of the temple, and those who attend regularly to the altar (of sacrifice in the temple) have their share with the altar?’. In other words he reminds the church that in the Old Testament economy there was this system in which the Levites who worked in the temple lived off the tithes brought to the temple. Then he says in verse 14: ‘So also the Lord directed those who proclaim the gospel to get their living from the gospel.’ The least Paul is saying is that those who spend their lives in the service of the Word of God should be supported by the rest of the Christians. But since he draws attention to the way it was done in the Old Testament as the model, it seems likely that tithing would have been the early Christian guideline, if not mandate.” [= Jika ditanyakan apakah Yesus, dalam Perjanjian Baru, melanjutkan prinsip ini demi gerejaNya, salah satu argumentasi yang paling kuat bahwa Ia melanjutkannya adalah Mat 23:23 dimana Ia berkata, ‘Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan kamu bayar, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu: keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan.’ Demikianlah Yesus menyokong / mengesahkan pemberian persembahan persepuluhan: jangan mengabaikannya. Itu tidak sepenting seperti keadilan, kasih dan belas kasihan; tetapi itu harus dilakukan. Tetapi orang bisa berkata bahwa Ia hanya sedang berbicara kepada orang-orang Yahudi dalam suatu penetapan / penempatan yang pada dasarnya adalah Perjanjian Lama. Mungkin demikian. Tetapi disana ada suatu petunjuk yang lain bahwa prinsip itu dipelihara / dipertahankan dalam gereja mula-mula. Dalam 1Kor 9:13-14 Paulus berkata, ‘Tidak tahukah kamu, bahwa mereka yang melayani dalam tempat kudus mendapat penghidupannya dari tempat kudus itu dan bahwa mereka yang melayani mezbah, mendapat bahagian mereka dari mezbah itu?’. Dengan kata lain ia mengingatkan gereja bahwa dalam pengaturan Perjanjian Lama di sana ada sistim ini dalam mana orang-orang Lewi yang bekerja di Bait Suci hidup dari persembahan persepuluhan yang dibawa ke Bait Suci. Lalu ia berkata dalam ay 14: ‘Demikian pula Tuhan telah menetapkan, bahwa mereka yang memberitakan Injil, harus hidup dari pemberitaan Injil itu.’ Paling sedikit / setidaknya Paulus sedang mengatakan bahwa mereka yang menghabiskan hidup mereka dalam pelayanan dari Firman Allah harus disokong oleh sisa dari orang-orang Kristen. Tetapi karena ia menarik perhatian pada cara hal itu dilakukan dalam Perjanjian Lama sebagai suatu model, kelihatannya memungkinkan bahwa pemberian persembahan persepuluhan adalah garis pedoman, jika bukan mandat / perintah berotoritas, bagi orang Kristen mula-mula.] - http://www.desiringgod.org/sermons/toward-the-tithe-and-beyond

f)    Sangat memungkinkan bahwa Ibr 7 juga bisa dijadikan dasar ayat Perjanjian Baru yang mendukung tetap berlakunya persembahan persepuluhan. Tetapi itu terlalu panjang untuk dibahas di sini; dan karena itu akan saya bahas secara terpisah.

g)   Sekarang kita membahas kata-kata ini: “Dalam jaman Perjanjian Baru, semua milik kita adalah milik Tuhan, dan seluruhnya harus kita gunakan untuk Tuhan.”.
Dengan kata-kata ini orang-orang yang ‘anti persembahan persepuluhan’ bisa kelihatan lebih saleh dari orang-orang yang ‘pro persembahan persepuluhan’.

Tanggapan saya:

1.   Orang-orang yang pro persembahan persepuluhan juga harus mempunyai pandangan seperti itu. Jadi setelah memberikan persembahan persepuluhan, yang 90 % sisanya bukannya boleh digunakan semau kita sendiri, tetapi tetap sesuai kehendak Tuhan, dan untuk kemuliaan Tuhan (1Kor 10:31).

2.   Apakah persembahan untuk Tuhan melalui gerejaNya diserahkan pada kebijaksanaan kita sendiri?
Kata-kata ‘menggunakan seluruh milik / uang kita untuk Tuhan / kemuliaan Tuhan’ merupakan sesuatu yang abstrak! Mengapa? Karena ada banyak hal yang bisa kita lakukan ‘untuk kemuliaan Tuhan’, seperti:
a.         Membeli makanan sehat yang mahal.
b.         Membeli mobil untuk pergi ke gereja.
c.         Piknik, shopping, dsb untuk refreshing / penyegaran.
d.         Menyekolahkan anak di sekolah yang mahal.
e.   Memberi istri uang belanja yang banyak untuk menghindari terjadinya ketegangan dalam rumah tangga.
f.          Dan sebagainya.

Lalu berapa uang yang betul-betul kita persembahkan kepada Tuhan melalui gerejaNya?? Berapa perbandingan uang yang kita gunakan untuk hal-hal lain itu dan uang yang betul-betul kita persembahkan kepada Tuhan melalui gereja??? Dan apa tolok ukur yang kita gunakan untuk menentukan perbandingan itu? Apakah ini diserahkan pada kebijaksanaan kita sendiri??? Ada yang mengatakan minta pimpinan Roh Kudus. Pimpinan yang bagaimana???

A. W. Pink: There are few subjects on which the Lord’s own people are more astray than on the subject of giving. They profess to take the Bible as their own rule of faith and practice, and yet in the matter of Christian finance, the vast majority have utterly ignored its plain teachings and have tried every substitute the carnal mind could devise; therefore it is no wonder that the majority of Christian enterprises in the world today are handicapped and crippled through the lack of funds. Is our giving to be regulated by sentiment and impulse, or by principle and conscience? That is only another way of asking, Does God leave us to the spirit of gratitude and generosity, or has He definitely specified His own mind and particularized what portion of His gifts to us are due to Him in return? Surely God has not left this important matter without fully making known His will! The Bible is given to be a lamp unto our feet and therefore He cannot have left us in darkness regarding any obligation or privilege in our dealings with Him or His with us.” [= Ada sedikit pokok tentang mana umat Tuhan sendiri lebih menyimpang dari pada tentang pokok pemberian / persembahan. Mereka mengaku menerima Alkitab sebagai kaidah dari iman dan praktek, tetapi dalam persoalan keuangan Kristen, mayoritas yang sangat tinggi telah mengabaikan secara total ajarannya yang jelas, dan telah mencoba setiap pengganti yang bisa ditemukan / dipikirkan oleh pikiran yang bersifat daging; karena itu tak mengherankan bahwa mayoritas dari usaha-usaha Kristen di dunia jaman sekarang mempunyai ketidak-mampuan dan cacat karena kekurangan uang / dana. Apakah pemberian / persembahan kita harus diatur oleh perasaan dan dorongan hati yang tiba-tiba, atau oleh prinsip / hukum dan hati nurani? Itu hanya merupakan suatu cara lain untuk menanyakan, Apakah Allah membiarkan / meninggalkan kita pada roh / kecenderungan dari rasa terima kasih dan kemurahan hati, atau apakah Ia telah secara pasti menyatakan pikiranNya sendiri dan menyatakan berapa bagian dari pemberianNya kepada kita harus dibayarkan kembali kepadaNya? Pasti Allah tidak membiarkan / meninggalkan persoalan penting ini tanpa secara penuh menyatakan kehendakNya! Alkitab diberikan sebagai suatu lampu bagi kaki kita dan karena itu Ia tidak bisa telah membiarkan / meninggalkan kita dalam kegelapan berkenaan dengan kewajiban dan hak dalam urusan kita dengan Dia atau urusanNya dengan kita.] - ‘Tithing’, hal 2 (AGES).
Catatan: yang ia maksudkan dengan ‘usaha-usaha Kristen’ jelas adalah pelayanan-pelayanan Kristen.

Saya kira kata-kata Arthur Pink di atas ini penting, karena dalam hal sepenting itu, yang berhubungan dengan berjalannya gereja, tidak mungkin Tuhan meletakkan hal itu dalam kebijaksanaan orang Kristen sendiri!

John Piper: “One objection to thinking of a tenth of our income as especially belonging to God is that ALL our money belongs to God. Psalm 24:1, ‘The earth is the Lord’s, and all it contains, the world, and those who dwell in it.’ That is absolutely true. ... But God is wise and knows us deeply. He knows that there is something wrong with the husband who answers his wife’s complaint that he doesn’t give her any time by saying, ‘What do you mean, I don’t give you my time? ALL my time is yours. I work all day long for you and the children.’ That has a very hollow ring to it if he doesn’t give her any ‘especially time.’ Giving her some evenings together and some dates does not deny that all his time is for her, it proves it. This is why God declares one day in seven especially God’s. They are all his, and making one special proves it. And this is the way it is with our money and God. Giving God a tenth of our income does not deny that all our money is God’s, it proves that we believe it. Tithing is like a constant offering of the first fruits of the whole thing. The tenth is yours, O, Lord, in a special way, because all of it is yours in an ordinary way.” [= Satu keberatan terhadap pemikiran tentang sepersepuluh dari penghasilan kita sebagai secara khusus merupakan milik Allah adalah bahwa SEMUA uang kita adalah milik Allah. Maz 24:1, ‘Tuhanlah yang empunya bumi serta segala isinya, dan dunia serta yang diam di dalamnya.’. Itu adalah benar secara mutlak. ... Tetapi Allah itu bijaksana dan tahu / mengenal kita secara mendalam. Ia tahu bahwa disana ada sesuatu yang salah dengan seorang suami yang menjawab keluhan istrinya bahwa ia tidak memberinya waktu apapun, dengan berkata, ‘Apa maksudmu aku tak memberimu waktuku? SEMUA waktuku adalah milikmu. Aku bekerja sepanjang hari untukmu dan anak-anak.’. Itu mempunyai nada yang kosong / tidak benar jika ia tidak memberinya ‘waktu yang khusus. Memberinya beberapa malam bersama-sama dan beberapa waktu / kencan tidak menyangkal bahwa semua waktunya adalah untuk dia, itu membuktikannya. Inilah sebabnya Allah menyatakan satu dari tujuh hari secara khusus adalah milik Allah. Semua hari adalah milikNya, dan membuat satu hari sebagai hari yang khusus, membuktikan hal itu. Dan inilah caranya dengan uang kita dan Allah. Memberi Allah sepersepuluh dari penghasilan kita tidak menyangkal bahwa semua uang kita adalah milik Allah, itu membuktikan bahwa kita mempercayainya. Memberi persembahan persepuluhan adalah seperti suatu persembahan tetap / konstan dari buah / hasil pertama dari seluruhnya. Sepersepuluh darinya adalah milikMu, ya Tuhan, dalam suatu cara yang KHUSUS, karena semuanya adalah milikMu dalam suatu cara yang biasa / umum.] - http://www.desiringgod.org/sermons/toward-the-tithe-and-beyond

Menurut saya John Piper memberikan suatu ilustrasi yang sangat bagus. Seorang suami tidak bisa mengatakan ‘semua waktunya adalah milik istrinya’ kalau ia menggunakannya untuk bekerja mencari uang untuk istri dan anak-anaknya sepanjang hari tetapi tidak memberinya waktu tertentu secara khusus.
Karena itu, sekalipun semua hari adalah milik Tuhan secara biasa / umum, kita harus memberi satu hari secara khusus untuk Tuhan.
Dan dalam hal uang, sekalipun semuanya juga adalah milikNya secara umum / biasa, tetapi sepersepuluh dari penghasilan kita, adalah milik Tuhan secara khusus.

Paulus Roi memberikan jawaban yang bagus terhadap hal ini. Ia menjawab dengan bertanya: “Kalau begitu mengapa waktu doa, baca firman Tuhan dsb tidak ditentukan juga, tetapi diserahkan pada kebijaksanaan orang kristen sendiri?”. Saya jawab: “Itu urusan pribadi, tetapi hari kebaktian dan persembahan persepuluhan, itu berurusan dengan gereja!”.

John Benton (tentang Mal 3:8-9): Although the money which remains in your pocket ultimately still belongs to God, it cannot be used for his worship or to further the cause of God and truth in the world. To that extent you are robbing his work of the support which you ought to be giving it. Now in his sovereignty God is no doubt able to make up for what you have not given, but nevertheless you are robbing him of your support for his worship and the work of the gospel. [= Sekalipun uang yang tetap  ada dalam kantongmu pada dasarnya tetap adalah milik Allah, itu tidak bisa digunakan untuk ibadahNya atau untuk memajukan perkara Allah dan kebenaran dalam dunia. Sampai pada tingkat itu kamu sedang merampok pekerjaanNya dari sokongan yang harus kamu berikan. Memang dalam kedaulatanNya Allah tak diragukan bisa mengejar apa yang tidak kamu berikan, tetapi bagaimanapun kamu sedang merampokNya dari sokongan untuk ibadahNya dan pekerjaan injil.] - ‘Losing Touch With the Living God: The Message of Malachi’, (Libronix).



-bersambung-

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar