About us

Golgotha Ministry adalah pelayanan dari Pdt. Budi Asali,M.Div dibawah naungan GKRI Golgota Surabaya untuk memberitakan Injil ke seluruh dunia dan mengajarkan kebenaran firman Tuhan melalui khotbah-khotbah, pendalaman Alkitab, perkuliahan theologia dalam bentuk tulisan maupun multimedia (DVD video, MP3, dll). Pelayanan kami ini adalah bertujuan agar banyak orang mengenal kebenaran; dan bagi mereka yang belum percaya, menjadi percaya kepada Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadinya, dan bagi mereka yang sudah percaya, dikuatkan dan didewasakan didalam iman kepada Kristus.
Semua yang kami lakukan ini adalah semata-mata untuk kemuliaan nama Tuhan Yesus Kristus.

Kami mengundang dengan hangat setiap orang yang merasa diberkati dan terbeban didalam pelayanan untuk bergabung bersama kami di GKRI Golgota yang beralamat di : Jl. Raya Kalirungkut, Pertokoan Rungkut Megah Raya D-16, Surabaya.

Tuhan Yesus memberkati.

Rabu, 09 September 2015

PRO KONTRA TENTANG PERSEMBAHAN PERSEPULUHAN (5a)

Pemahaman Alkitab

G. K. R. I. ‘GOLGOTA’

(Rungkut Megah Raya, blok D no 16)

Rabu, tgl 22 April 2015, pk 19.00

Pdt. Budi Asali, M. Div.

PRO KONTRA TENTANG

PERSEMBAHAN PERSEPULUHAN (5a)


5)   Hukum moral dari hukum Tauratpun sudah dihapuskan pada jaman Perjanjian Baru.
Pada pelajaran yang lalu kita sudah membahas bahwa karena hukum tentang persembahan persepuluhan termasuk dalam hukum moral maka hukum itu terus berlaku. Tetapi ada orang-orang yang menganggap bahwa bukan hanya Ceremonial Law, tetapi bahkan juga Moral Law, telah dihapuskan, pada jaman Perjanjian Baru. Maka dalam pelajaran ini kita akan membahas tentang apakah Moral Law dihapuskan atau berlaku terus.

a)   Pembahasan ayat-ayat yang menunjukkan bahwa hukum Taurat (Moral Law) tetap berlaku pada jaman Perjanjian Baru.

1.   Mat 5:17-20 - “(17) ‘Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. (18) Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi. (19) Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga. (20) Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.”.

Sebetulnya text ini digunakan oleh kedua pihak untuk mendukung pandangannya masing-masing. Karena adanya kata-kata ‘melainkan untuk menggenapinya’ (ay 17 akhir), dan ‘sebelum semuanya terjadi’ (ay 18 akhir), maka banyak orang justru menggunakan text ini untuk mengatakan bahwa hukum Taurat sudah tak berlaku dalam jaman Perjanjian Baru. Mari kita mempelajari text ini untuk melihat apakah memang text ini bisa diartikan seperti itu.

a.   Mat 5:17-18 - “(17) ‘Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. (18) Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi.”.

(1) Arti dari kata ‘meniadakan’ (ay 17a, ay 17b).
Kata Yunani yang digunakan adalah KATALUSAI, yang berasal dari kata dasar KATALUO, dan artinya adalah ‘menghancurkan’, ‘menghapuskan’.

(2) Arti dari kata ‘menggenapi’ (ay 17).
Kata Yunani yang digunakan adalah PLEROSAI, yang berasal dari kata dasar PLEROO, dan arti sebenarnya adalah ‘mengisi sampai penuh’, atau ‘melengkapi / menyempurnakan’.

Apa artinya Yesus ‘menggenapi’ hukum Taurat?

(a)       Mentaatinya dengan sempurna.
Mat 3:15 - “Lalu Yesus menjawab, kataNya kepadanya: ‘Biarlah hal itu terjadi, karena demikianlah sepatutnya kita menggenapkan seluruh kehendak Allah.’ Dan Yohanespun menurutiNya.”.
Jelas bahwa di sini kata ‘menggenapkan’ berarti ‘mentaati’. Arti ini bisa diambil untuk Mat 5:17b ini. Jadi Tuhan Yesus menggenapi Perjanjian Lama dengan mentaatinya.
Gal 4:4 - “Tetapi setelah genap waktunya, maka Allah mengutus AnakNya, yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat.”.
KJV: ‘made under the law’ [= dibuat di bawah hukum Taurat].
Terjemahan hurufiahnya adalah ‘becoming under law’ [= menjadi di bawah hukum Taurat].

Matthew Henry: No, he came to fulfil them. That is, (1.) To obey the commands of the law, for he was ‘made under the law,’ Gal 4:4. He in all respects yielded obedience to the law, honoured his parents, sanctified the sabbath, prayed, gave alms, and did that which never any one else did, obeyed perfectly, and never broke the law in any thing.[= Tidak, Ia datang untuk menggenapi mereka. Artinya, (1.) Mentaati perintah-perintah dari hukum Taurat, karena Ia ‘dibuat menjadi di bawah hukum Taurat’, Gal 4:4. Ia dalam semua hal mentaati hukum Taurat, menghormati orang tuaNya, menguduskan Sabat, berdoa, memberi sedekah, dan melakukan apa yang tak pernah dilakukan orang lain manapun, mentaati dengan sempurna, dan tidak pernah melanggar hukum Taurat dalam hal apapun.].

(b) Menggenapi janji-janji dan nubuat-nubuat Perjanjian Lama (bdk. Mat 1:22  Mat 2:15  Mat 4:14), dan menggenapi bagian-bagian Perjanjian Lama yang merupakan type / bayangan Tuhan Yesus seperti: imam, korban penghapus dosa dan sebagainya.

Matthew Henry: (2.) To make good the promises of the law, and the predictions of the prophets, which did all bear witness to him. ... (3.) To answer the types of the law; thus (as bishop Tillotson expresses it), he did not make void, but make good, the ceremonial law, and manifested himself to be the Substance of all those shadows.[= (2.) Menepati / menggenapi janji-janji dari hukum Taurat, dan ramalan-ramalan dari nabi-nabi, yang semuanya memberi kesaksian tentang Dia. ... (3.)  memenuhi TYPE-TYPE dari hukum Taurat; dan dengan demikian (seperti uskup Tillotson menyatakannya), Ia tidak membatalkan, tetapi menggenapi, hukum ceremonial, dan menyatakan diriNya sendiri sebagai zat / realita dari semua bayangan-bayangan itu.].

KematianNya di kayu salib untuk memikul hukuman dosa-dosa manusia termasuk dalam point ini.
D. Martyn Lloyd-Jones: “One of the ways in which the law has to be fulfilled is that its punishment of sin must be carried out. This punishment is death, and that was why He died.” [= Salah satu cara dalam mana hukum Taurat harus digenapi adalah bahwa hukuman dari dosa harus dilaksanakan. Hukuman ini adalah kematian, dan itulah sebabnya mengapa Ia mati.] - ‘Studies in the Sermon on the Mount’, hal 192.

(c)  Ada yang mengatakan bahwa dalam kata ‘menggenapi’ ini tercakup juga arti ‘to fill up’ [= memenuhi / mengisi sampai penuh], atau ‘to complete’ [= melengkapi].

Matthew Henry: (4.) To fill up the defects of it, and so to complete and perfect it. Thus the word ‎plerosai ‎properly signifies. If we consider the law as a vessel that had some water in it before, he did not come to pour out the water, but to fill the vessel up to the brim; ...; so Christ made an improvement of the law and the prophets by his additions and explications.[= (4.) Memenuhi kekurangan-kekurangannya, dan dengan demikian melengkapi dan menyempurnakannya. Demikianlah arti kata PLEROSAI secara tepat. Jika kita menganggap hukum Taurat sebagai suatu bejana yang sebelumnya mempunyai air di dalamnya, Ia tidak datang untuk mencurahkan air itu keluar, tetapi untuk mengisi bejana itu sampai penuh; ... ; demikianlah Kristus membuat suatu kemajuan / perbaikan terhadap hukum Taurat dan kitab nabi-nabi oleh tambahan-tambahan dan penjelasan-penjelasanNya.].

(d) Ada juga orang yang mengatakan bahwa kata ‘menggenapi’ itu bisa diartikan ‘mengajar’.

Adam Clarke (tentang Mat 5:17): It is worthy of observation, that the word ‎gaamar, among the rabbis, signifies not only to fulfil, but also to teach; and, consequently, we may infer that our Lord intimated, that the law and the prophets were still to be taught or inculcated by him and his disciples; and this he and they have done in the most pointed manner.[= Patut diperhatikan bahwa kata GAMAR, di antara rabi-rabi, berarti bukan hanya menggenapi, tetapi juga mengajar; dan karena itu kita bisa menyimpulkan bahwa Tuhan kita mengisyaratkan, bahwa hukum Taurat dan kitab nabi-nabi tetap harus diajarkan atau ditanamkan olehNya dan murid-muridNya; dan ini telah Ia dan mereka lakukan dengan cara yang paling tajam / menyolok.].

Adam Clarke lalu mendukung kata-katanya dengan menggunakan Kol 1:25.
Kol 1:25 - “Aku telah menjadi pelayan jemaat itu sesuai dengan tugas yang dipercayakan Allah kepadaku untuk meneruskan firmanNya dengan sepenuhnya kepada kamu,”.
Kata Yunani yang diterjemahkan ‘meneruskan’ adalah PLEROSAI, berasal dari kata dasar PLEROO, kata Yunani yang sama seperti yang diterjemahkan ‘menggenapi’ dalam Mat 5:17 ini.
Bagian yang saya garis-bawahi itu, diterjemahkan secara berbeda-beda oleh Alkitab bahasa Inggris.
KJV: to fulfil the word of God [= menggenapi firman Allah].
RSV: to make the word of God fully known [= membuat firman Allah diketahui / dikenal sepenuhnya].
NIV: to present to you the word of God in its fullness - [= memberikan / memperkenalkan / menyajikan kepada kamu firman Allah dalam kepenuhannya -].
NASB: might fully carry out the preaching of the word of God, [= bisa dengan sepenuhnya melaksanakan pemberitaan firman Allah,].

(3) Bisakah Mat 5:17 diartikan, karena Yesus sudah menggenapi Perjanjian Lama, maka Perjanjian Lama dihapuskan?

Mat 5:17 - “‘Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.”.

Itu mustahil, karena:

(a) Itu tak cocok dengan arti kata ‘menggenapi’ pada point (c) dan (d) di atas.

(b) Kata ‘melainkan’ (ay 17), berasal dari kata Yunani ALLA, artinya ‘tetapi’.
KJV/RSV/NIV/NASB/ASV/NKJV: ‘but’ [= tetapi].
Kata ini jelas mengkontraskan ‘tindakan meniadakan’ dengan ‘tindakan menggenapi’! Jadi, tidak mungkin diartikan bahwa karena Yesus sudah menggenapi hukum Taurat / Perjanjian Lama, maka sekarang hukum Taurat / Perjanjian Lama ditiadakan.

(c)  Mat 5:18: “Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi.”.

·         Kata ‘ditiadakan’ dalam ay 18 ini menggunakan kata Yunani yang berbeda dengan kata ‘meniadakan’ dalam ay 17a dan ay 17b. Dalam ay 18 kata ‘ditiadakan’ ini berasal dari kata Yunani PARELTHE, yang berasal dari kata Yunani PARELKHOMAI, dan artinya adalah ‘go / pass by’ [= lewat], ‘pass away’ [= mati], ‘come to an end’ [= berakhir], ‘disappear’ [= hilang], ‘neglect’ [= mengabaikan].
Kata-kata ‘satu iota atau satu titikpun’ menunjukkan bagian yang paling kecil dari hukum Taurat.

·         Kata-kata ‘lenyap langit dan bumi ini’ jelas menunjuk pada akhir jaman!
Bdk. Luk 16:17 - “Lebih mudah langit dan bumi lenyap dari pada satu titik dari hukum Taurat batal.”.

Dalam komentarnya tentang Mat 5:18, setelah ia mengutip Luk 16:17 ini, Calvin berkata sebagai berikut:
Calvin (tentang Mat 5:18): “The design of Christ, in both passages, was to teach, that the truth of the law and of every part of it, is secure, and that nothing so durable is to be found in the whole frame of the world.” [= Rancangan Kristus, dalam kedua text, adalah untuk mengajar, bahwa kebenaran dari hukum Taurat dan setiap bagiannya, adalah terjamin / kokoh, dan bahwa tidak ada apapun yang begitu tahan lama yang bisa ditemukan dalam seluruh kerangka dunia / alam semesta.].

·         Tetapi bagaimana dengan kata-kata ‘sebelum semuanya terjadi’ pada akhir Mat 5:18? Apa artinya?
KJV: till all be fulfilled. [= sampai semua digenapi.].
RSV/NASB: until all is accomplished. [= sampai semua diselesaikan / terjadi.].
NIV: until everything is accomplished. [= sampai segala sesuatu diselesaikan / terjadi.].

Kata ‘terjadi’ berasal dari kata Yunani GENETAI, yang berasal dari kata dasar GINOMAI, dan artinya adalah ‘menjadi’, ‘menjadi ada’, ‘mulai ada’, ‘terjadi’.

Adam Clarke (tentang Mat 5:18): ‘Till all be fulfilled.’ Or, ‘accomplished.’ Though all earth and hell should join together to hinder the accomplishment of the great designs of the Most High, yet it shall all be in vain - even the sense of a single letter shall not be lost. The words of God, which point out his designs, are as unchangeable as his nature itself. Every sinner, who perseveres in his iniquity, shall surely be punished with separation from God and the glory of his power; and every soul that turns to God, through Christ, shall as surely be saved, as that Jesus himself hath died.[= ‘Sampai semua digenapi’. Atau, ‘terjadi / diselesaikan’. Sekalipun seluruh bumi dan neraka bergabung bersama-sama untuk menghalangi penyelesaian / penggenapan dari rancangan-rancangan agung dari Yang Maha Tinggi, tetapi itu semua akan sia-sia - bahkan arti dari satu hurufpun tak akan hilang. Firman Allah, yang menjelaskan rancangan-rancanganNya, tidak bisa berubah seperti sifat dasarNya sendiri. Setiap orang berdosa, yang bertekun dalam kejahatannya, pasti akan dihukum dengan keterpisahan dari Allah dan kemuliaan dari kekuatanNya (2Tes 1:9); dan setiap jiwa yang berbalik kepada Allah, melalui Kristus, dengan sama pastinya akan diselamatkan, seperti Yesus sendiri telah mati.].
Catatan: bagian akhir itu merupakan contoh bahwa semua hukum Taurat akan terjadi. Dengan contoh seperti itu terlihat dengan jelas bahwa Adam Clarke memaksudkan akhir jaman.

Pulpit Commentary (tentang Mat 5:18): “‘Till all be fulfilled;’ Revised Version, ‘be accomplished’ (γένηται). The clause is probably epexegetical of ‘till heaven and earth pass away.’ Nothing in the Law shall pass away till heaven and earth pass away, when, with a new heaven and earth, all the contents of the Law will be completely realized (cf. Nösgen) so that even then nothing in the Law shall pass away (vide infra).[= ‘Sampai semua digenapi’; Revised Version, ‘terjadi / diselesaikan’ (γένηται / GENETAI). Anak kalimat itu mungkin merupakan penjelasan tambahan dari ‘sampai langit dan bumi lenyap’. Tak ada apapun dalam hukum Taurat akan lenyap sampai langit dan bumi lenyap, pada waktu, dengan langit dan bumi yang baru, seluruh isi dari hukum Taurat akan sepenuhnya dicapai / diwujudkan (bdk. Nösgen) sehingga bahkan pada saat itu tak ada apapun dalam hukum Taurat akan lenyap (vide infra).].
Penafsir ini bahkan beranggapan bahwa pada saat langit dan bumi lenyap, digantikan dengan langit dan bumi yang baru, tetap tak ada apapun dalam hukum Taurat yang akan lenyap!

UBS NT Handbook Series (tentang Mat 5:18): Much controversy surrounds the interpretation of the clause ‘until all is accomplished.’ TEV translates this clause as ‘not until the end of all things,’ with an alternative rendering in the margin (‘until all its teaching come true’). The Greek expression is literally ‘until all things happen,’ which basically offers two possibilities of interpretation: (1) ‘All things’ may be interpreted as a reference to events which must happen before the end of time; this seems to be the approach taken by most translations: ‘until all that must happen has happened’ (NEB), ‘until history comes to an end’ (Brc), ‘not before the end of this world’ (GeCL 1st edition). The TOB footnote qualifies this as a ‘difficult expression’ but prefers the meaning ‘until the end of the world.’ (2) ‘All things’ may also be interpreted as a reference to the demands of the Law: ‘until all its teachings come true’ (TEV alternative rendering), ‘before all that it stands for is achieved’ (NEB alternative rendering), ‘until its purpose is complete’ (Phps), ‘until all its purpose is achieved’ (NJB). Mft (‘until it is all in force’), and AT (‘until it is all observed’) seem also to accept this exegesis. It is difficult to believe that the first of these possibilities is what is meant, for this would simply be repeating what is said at the first of the verse. Moreover, the contextual demands are met much better by the second of these alternative possibilities. Taking this second interpretation, translators can have ‘until everything in the Law is fulfilled,’ ‘until everything the Law speaks of comes true,’ ‘until the whole purpose of the Law is achieved,’ or ‘until everything happens as the Law says it will.’ [= Banyak pertentangan melingkupi penafsiran dari anak kalimat, ‘sampai semuanya terjadi’. TEV menterjemahkan anak kalimat ini sebagai ‘tidak sampai akhir dari segala sesuatu’, dengan suatu terjemahan alternatif di catatan tepi (‘sampai semua pengajarannya terjadi’). Ungkapan Yunaninya secara hurufiah adalah ‘sampai segala sesuatu terjadi’, yang pada dasarnya menawarkan dua kemungkinan penafsiran: (1) ‘Segala sesuatu’ bisa ditafsirkan sebagai suatu referensi pada peristiwa-peristiwa yang harus terjadi sebelum akhir jaman; ini kelihatannya merupakan pendekatan yang diambil oleh kebanyakan terjemahan: ‘sampai semua yang harus terjadi telah terjadi’ (NEB), ‘sampai sejarah berakhir’ (Brc), ‘tidak sebelum akhir dunia ini’ (GeCL edisi pertama). Catatan kaki dari TOB menggambarkan ini sebagai suatu ‘ungkapan yang sukar’ tetapi lebih memilih arti ‘sampai akhir dunia ini’. (2) ‘Segala sesuatu’ juga bisa ditafsirkan sebagai suatu referensi pada tuntutan-tuntutan dari hukum Taurat: ‘sampai semua ajarannya terjadi’ (terjemahan alternatif dari TEV), ‘sebelum semua artinya tercapai’ (terjemahan alternatif dari NEB), ‘sampai tujuannya lengkap / sempurna’ (Phps), ‘sampai semua tujuannya dicapai’ (NJB). Mft (‘sampai semuanya berlaku’, dan AT (‘sampai itu semua ditaati’) kelihatannya juga menerima exegesis ini. Adalah sukar untuk percaya bahwa yang pertama dari kemungkinan-kemungkinan ini merupakan apa yang dimaksudkan, karena ini hanya mengulangi apa yang dikatakan pada awal dari ayat ini. Lebih lagi, tuntutan kontext dipenuhi dengan jauh lebih baik oleh yang kedua dari kemungkinan-kemungkinan alternatif ini. Mengambil penafsiran kedua ini, para penterjemah bisa mendapatkan ‘sampai segala sesuatu dalam hukum Taurat digenapi’, ‘sampai segala sesuatu yang dikatakan hukum Taurat terjadi’, ‘sampai seluruh tujuan dari hukum Taurat tercapai’, atau ‘sampai segala sesuatu terjadi sebagaimana hukum Taurat mengatakan akan terjadi’.].
Arti yang manapun yang mau kita terima dari dua kemungkinan yang diberikan oleh penafsir ini, tetap saja menunjuk pada akhir jaman.

D. Martyn Lloyd-Jones (tentang Mat 5:17-18): “Our Lord Jesus Christ in these two verses confirms the whole of the Old Testament. He puts His seal of authority, His imprimatur, upon the whole of the Old Testament canon, the whole of the law and the prophets. ... To the Lord Jesus Christ the Old Testament was the Word of God; it was Scripture; it was something absolutely unique and apart; it had authority which nothing else has ever possessed nor can possess.” [= Tuhan kita Yesus Kristus dalam kedua ayat ini meneguhkan seluruh Perjanjian Lama. Ia memberikan meterai otoritasNya, persetujuanNya, pada seluruh kanon Perjanjian Lama, seluruh kitab / hukum Taurat dan nabi-nabi. ... Bagi Tuhan Yesus Kristus, Perjanjian Lama adalah Firman Allah; itu adalah Kitab Suci; itu merupakan sesuatu yang secara mutlak unik dan terpisah; itu mempunyai otoritas yang tidak pernah dipunyai dan tidak akan dipunyai oleh apapun yang lain.] - ‘Studies in the Sermon on the Mount’, hal 187.

C. H. Spurgeon (tentang Mat 5:18): “Very great mistakes have been made about the law. Not long ago there were those about us who affirmed that the law is utterly abrogated and abolished, and they openly taught that believers were not bound to make the moral law the rule of their lives. What would have been sin in other men they counted to be no sin in themselves. From such Antinomianism as that may God deliver us. We are not under the law as the method of salvation, but we delight to see the law in the hand of Christ, and desire to obey the Lord in all things.” [= Kesalahan-kesalahan yang sangat besar telah dibuat tentang hukum Taurat. Tak lama berselang disana ada mereka di sekitar kita yang menegaskan bahwa hukum Taurat dibatalkan dan dihapuskan sama sekali, dan mereka secara terbuka mengajar bahwa orang-orang percaya tidak terikat untuk membuat hukum moral sebagai peraturan dari kehidupan mereka. Apa yang adalah dosa dalam orang-orang lain mereka perhitungkan sebagai bukan dosa dalam diri mereka sendiri. Dari Antinomian (orang-orang yang anti hukum) seperti itu kiranya Allah membebaskan kita. Kita tidak ada di bawah hukum Taurat sebagai metode keselamatan, tetapi kita senang melihat hukum Taurat dalam tangan Kristus, dan menginginkan untuk mentaati Tuhan dalam segala sesuatu.] - ‘Spurgeon’s Expository Encyclopedia’, vol 10, hal 177.

Calvin (tentang Mat 5:17): if a new kind of doctrine had been introduced, which would destroy the authority of the Law and the Prophets, religion would have sustained a dreadful injury. [= seandainya suatu jenis yang baru dari doktrin / ajaran telah diperkenalkan, yang akan menghancurkan otoritas dari hukum Taurat dan kitab nabi-nabi, agama akan sudah menopang / menyokong suatu luka / kerugian yang menakutkan.].

Calvin (tentang Mat 5:17): the context makes this abundantly clear: for he immediately adds, by way of confirmation, that it is impossible for even one point of the Law to fail, - and pronounces a curse on those teachers who do not faithfully labor to maintain its authority. [= kontextnya membuat ini sangat jelas: karena Ia segera menambahkan, sebagai peneguhan, bahwa adalah mustahil bahkan untuk satu titik dari hukum Taurat untuk gagal / kehilangan kekuatan, - dan mengumumkan suatu kutuk pada pengajar-pengajar itu yang tidak dengan setia berjerih payah untuk mempertahankan otoritasnya.].

Calvin (tentang Mat 5:17): We must keep in mind the object which Christ had in view. While he invites and exhorts the Jews to receive the Gospel, he still retains them in obedience to the Law; and, on the other hand, he boldly refutes the base reproaches and slanders, by which his enemies labored to make his preaching infamous or suspected. [= Kita harus ingat tujuan yang Kristus punyai. Sementara Ia mengundang dan mendesak orang-orang Yahudi untuk menerima Injil, Ia tetap menahan mereka dalam ketaatan pada hukum Taurat; dan di sisi lain, Ia dengan berani membantah celaan-celaan dan fitnahan-fitnahan hina, dengan mana musuh-musuhNya berjerih payah untuk membuat pemberitaanNya mempunyai reputasi buruk atau dicurigai.].

Calvin (tentang Mat 5:17): God had, indeed, promised a new covenant at the coming of Christ; but had, at the same time, showed, that it would not be different from the first, but that, on the contrary, its design was, to give a perpetual sanction to the covenant, which he had made from the beginning, with his own people. [= Allah memang menjanjikan suatu perjanjian yang baru pada kedatangan dari Kristus; tetapi pada saat yang sama telah menunjukkan bahwa itu tidak akan berbeda dengan yang pertama, tetapi bahwa sebaliknya, rancanganNya adalah, untuk memberikan suatu persetujuan / dukungan pada perjanjian, yang telah Ia buat dari semula, dengan umat / bangsaNya sendiri.].

Calvin (tentang Mat 5:17): “By these words he is so far from departing from the former covenant, that, on the contrary, he declares, that it will be confirmed and ratified, when it shall be succeeded by the new. This is also the meaning of Christ’s words, when he says, that ‘he came to fulfill the law:’ for he actually fulfilled it, by quickening, with his Spirit, the dead letter, and then exhibiting, in reality, what had hitherto appeared only in figures.[= Oleh / dengan kata-kata ini Ia begitu jauh dari meninggalkan perjanjian yang terdahulu, bahwa, sebaliknya, Ia menyatakan, bahwa itu akan ditegaskan / diperkuat dan diteguhkan / disahkan, pada waktu itu akan disusul / diikuti oleh yang baru. Ini juga adalah arti dari kata-kata Kristus, pada waktu Ia berkata, bahwa ‘Ia datang untuk mengenapi hukum Taurat’: karena Ia dengan sungguh-sungguh menggenapinya, dengan menghidupkan, dengan RohNya, huruf yang mati, dan lalu menunjukkan, dalam realita, apa yang sampai saat itu telah muncul hanya dalam simbol-simbol.].

Calvin (tentang Mat 5:17): With respect to doctrine, we must not imagine that the coming of Christ has freed us from the authority of the law: for it is the eternal rule of a devout and holy life, ... With respect to ceremonies, there is some appearance of a change having taken place; but it was only the use of them that was abolished, for their meaning was more fully confirmed. ... Let us therefore learn to maintain inviolable this sacred tie between the law and the Gospel, which many improperly attempt to break.” [= Berkenaan dengan doktrin, kita tidak boleh membayangkan bahwa kedatangan Kristus telah membebaskan kita dari otoritas hukum Taurat: karena itu merupakan peraturan kekal dari kehidupan yang saleh / taat dan kudus, ... Berkenaan dengan upacara-upacara, kelihatannya telah terjadi perubahan; tetapi hanya penggunaan mereka yang dihapuskan, karena arti mereka bahkan makin diteguhkan. ... Karena itu hendaklah kita belajar untuk menjaga supaya hubungan yang kudus antara hukum Taurat dan Injil tidak diganggu gugat, yang merupakan sesuatu yang diusahakan untuk dihancurkan oleh banyak orang.].

John Stott (tentang Mat 5:17-18): 1. Christ and the law (17, 18). He begins by telling them not for one moment to imagine that he had come to abolish the law and the prophets, i.e. the whole Old Testament or any part of it. ...  People are still asking today, though in different ways, about the relation between Jesus and Moses, the New Testament and the Old. Since Jesus grasped the nettle and declared himself plainly on the issue, we should not be shy of following suit. He had come ... neither to abolish the law and the prophets, setting them aside or abrogating them, nor even just to endorse them in a dead and literalistic way, but to fulfil them.” [= 1. Kristus dan hukum Taurat (ay 17,18). Ia mulai dengan memberitahu mereka untuk tidak sesaatpun membayangkan bahwa Ia telah datang untuk menghapuskan hukum Taurat dan kitab para nabi, yaitu seluruh Perjanjian Lama atau sebagian darinya. ... Orang-orang masih bertanya saat ini, sekalipun dalam cara yang berbeda, tentang hubungan antara Yesus dan Musa, Perjanjian Baru dan Perjanjian Lama. Karena Yesus mengerti gangguan / problemnya dan menyatakan sendiri secara jelas tentang hal ini, kita tidak boleh malu untuk mengikuti contoh ini. Ia telah datang ... bukan untuk menghapuskan hukum Taurat dan kitab para nabi, mengesampingkan mereka atau membatalkan mereka, atau bahkan bukan hanya untuk mengakui mereka dalam suatu cara yang mati dan hurufiah, tetapi untuk menggenapi mereka.] - ‘The Message of The Sermon on the Mount’, hal 70-71.

John Stott (tentang Mat 5:17-18): “Their counterparts today seem to be those who have embraced the so-called ‘new morality’, for they declare that the very category of law is abolished for the Christian (though Christ said he had not come to abolish it), that no law any longer binds Christian people except the law of love, and in fact that the command to love is the only absolute there is. I shall have more to say about them later. For the moment it is enough to emphasize that according to this verse (17) the attitude of Jesus to the Old Testament was not one of destruction and of discontinuity, but rather of a constructive, organic continuity. He summed up his position in a single word, not ‘abolition’ but ‘fulfilment’.” [= Rekan mereka pada jaman ini kelihatannya adalah mereka yang telah mempercayai apa yang disebut ‘moralitas baru’, karena mereka menyatakan bahwa justru kategori hukum Taurat ini dihapuskan bagi orang Kristen (sekalipun Kristus berkata bahwa Ia tidak datang untuk menghapuskannya), bahwa tak ada hukum yang tetap mengikat orang-orang Kristen kecuali hukum kasih, dan dalam faktanya perintah untuk mengasihi adalah satu-satunya hal mutlak yang ada. Saya akan berbicara tentang mereka lebih banyak belakangan. Untuk saat ini adalah cukup untuk menekankan bahwa menurut ayat ini (ay 17) sikap Yesus terhadap Perjanjian Lama bukanlah sikap penghancuran dan ketidak-berlanjutan, tetapi sebaliknya sikap keberlanjutan yang membangun / berguna dan organik. Ia menyimpulkan posisiNya dalam satu kata, bukan ‘penghapusan’ tetapi ‘penggenapan’.] - ‘The Message of The Sermon on the Mount’, hal 72-73.

b.   Mat 5:19 - “Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga.”.

Matthew Henry (tentang Mat 5:19): It is a dangerous thing, in doctrine or practice, to disannul the least of God’s commands; to break them, that is, to go about either to contract the extent, or weaken the obligation of them; whoever does so, will find it is at his peril. Thus to vacate any of the ten commandments, is too bold a stroke for the jealous God to pass by. It is something more than transgressing the law, it is making void the law, Ps 119:126.[= Merupakan suatu hal yang berbahaya, dalam doktrin / ajaran atau praktek, untuk membatalkan yang terkecil dari perintah-perintah / hukum-hukum Allah; untuk membatalkan mereka, yaitu, berjalan dengan mengkerutkan / membatasi luasnya, atau melemahkan kewajiban-kewajiban terhadap mereka; siapapun yang melakukan demikian, kita mendapatinya atas resikonya. Maka membatalkan yang manapun dari 10 hukum Tuhan, merupakan suatu tindakan yang terlalu berani bagi Allah yang cemburu untuk mengabaikan. Itu merupakan sesuatu yang lebih dari melanggar hukum, itu membatalkan hukum Taurat, Maz 119:126.].
Maz 119:126 - “Waktu untuk bertindak telah tiba bagi TUHAN; mereka telah merombak TauratMu.”.

Adam Clarke (tentang Mat 5:19): Whosoever shall break. What an awful consideration is this! He who, by his mode of acting, speaking, or explaining the words of God, sets the holy precept aside, or explains away its force and meaning, shall be called least - shall have no place in the kingdom of Christ here, nor in the kingdom of glory above. That this is the meaning of these words is evident enough from the following verse.[= ‘Siapapun membatalkan’. Alangkah menakutkannya pemikiran tentang hal ini! Ia yang, oleh caranya bertindak, berbicara, atau menjelaskan firman Allah, menyingkirkan perintah-perintah kudus, atau dengan memberikan alasan menghilangkan kekuatan dan artinya, akan disebut yang terkecil - akan tidak mendapat tempat dalam kerajaan Kristus di sini, ataupun dalam kerajaan kemuliaan di atas. Bahwa ini adalah arti dari kata-kata ini adalah cukup jelas dari ayat berikutnya.].

Calvin (tentang Mat 5:19): He therefore declares, that they are false and deceitful teachers, who do not restrain their disciples within obedience to the law, and that they are unworthy to occupy a place in the Church, who weaken, in the slightest degree, the authority of the law; and, on the other hand, that they are honest and faithful ministers of God, who recommend, both by word and by example, the keeping of the law. [= Karena itu Ia menyatakan, bahwa mereka adalah guru-guru / pengajar-pengajar palsu dan menipu, yang tidak menahan murid-murid mereka di dalam ketaatan pada hukum Taurat, dan bahwa mereka tidak layak menempati suatu tempat dalam Gereja, yang melemahkan, dalam tingkat yang terendah, otoritas dari hukum Taurat; dan, di sisi lain, bahwa mereka adalah pelayan-pelayan / pendeta-pendeta yang jujur dan setia dari Allah, yang menganjurkan, baik dengan kata-kata dan dengan teladan, pemeliharaan / ketaatan terhadap hukum Taurat.].

c.   Mat 5:20 - “Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.”.

Matthew Henry (tentang Mat 5:20): We must do more than they, and better than they, or we shall come short of heaven. They were partial in the law, and laid most stress upon the ritual part of it; but we must be universal, and not think it enough to give the priest his tithe, but must give God our hearts. They minded only the outside, but we must make conscience of inside godliness. They aimed at the praise and applause of men, but we must aim at acceptance with God: they were proud of what they did in religion, and trusted to it as a righteousness; but we, when we have done all, must deny ourselves, and say, We are unprofitable servants, and trust only to the righteousness of Christ; and thus we may go beyond the scribes and Pharisees.[= Kita harus melakukan lebih banyak dari mereka, dan dengan lebih baik dari mereka, atau kita akan gagal mencapai surga. Mereka berhubungan hanya dengan sebagian dari hukum Taurat, dan memberi tekanan paling besar pada bagian yang bersifat upacara darinya; tetapi kita harus mencakup seluruhnya, dan tidak berpikir sebagai cukup untuk memberi imam persembahan persepuluhannya, tetapi harus memberikan kepada Allah hati kita. Mereka memperhatikan hanya bagian luar / lahiriahnya, tetapi kita harus membuat hati nurani dari kesalehan di dalam / batin. Mereka mengarah pada pujian dan tepuk tangan dari manusia, tetapi kita harus mengarah pada penerimaan Allah: mereka bangga tentang apa yang mereka lakukan dalam agama, dan mempercayainya sebagai suatu kebenaran; tetapi kita, pada waktu kita telah melakukan semua, harus menyangkal diri kita sendiri, dan berkata, ‘Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna,’ (Luk 17:10) dan percaya hanya pada kebenaran dari Kristus; dan demikianlah kita bisa berjalan melampaui ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi.].

Dari ayat ini jelas terlihat bahwa hukum Taurat tidak dibatalkan, karena Yesus berkata orang Kristen harus mentaati hukum Taurat itu lebih dari ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi!

d.   Setelah Mat 5:20, Yesus memberikan penjelasan tentang hukum Taurat, dan meluruskan penafsiran dari ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi tentang hukum Taurat (Mat 5:21-48).

John Stott (tentang Mat 5:17-48): “What is to be a Christian’s attitude to the moral law of God? Is the very category of law abolished in the Christian life, as the advocates of the ‘new morality’ and of the ‘not under law’ school strangely assert? No. Jesus had not come to abolish the law and the prophets, he said, but to fulfil them. He went on to state both that greatness in God’s kingdom was determined by conformity to their moral teaching, and even that entry into the kingdom was impossible without a righteousness greater than that of the scribes and Pharisees (5:17–20). Of this greater Christian righteousness he then gave six illustrations (5:21–48), relating to murder, adultery, divorce, swearing, revenge and love. In each antithesis (‘You have heard that it was said … but I say to you …’) he rejected the easy-going tradition of the scribes, reaffirmed the authority of Old Testament Scripture and drew out the full and exacting implications of God’s moral law.” [= Apa yang harus menjadi sikap Kristen terhadap hukum moral dari Allah? Apakah kategori dari hukum Taurat ini dihapuskan dalam kehidupan Kristen, seperti pendukung-pendukung dari kelompok ‘moralitas baru’ dan ‘tidak dibawah hukum Taurat’ tegaskan secara aneh? Tidak. Yesus tidak datang untuk menghapuskan hukum Taurat dan kitab nabi-nabi, Ia berkata, tetapi untuk menggenapinya. Ia melanjutkan dengan menyatakan bahwa kebesaran dalam kerajaan Allah ditentukan oleh kesesuaian dengan ajaran moral mereka, dan bahkan masuk ke dalam kerajaan adalah mustahil tanpa suatu kebenaran yang lebih besar dari pada kebenaran dari ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi (5:17-20). Tentang kebenaran Kristen yang lebih besar ini Ia lalu memberikan 6 ilustrasi (5:21-48), berkenaan dengan pembunuhan, perzinahan, perceraian, sumpah, pembalasan dendam dan kasih. Dalam setiap pertentangan (‘Kamu telah mendengar bahwa telah dikatakan ... tetapi Aku berkata kepadamu ...’) Ia menolak tradisi gampangan dari ahli-ahli Taurat, menegaskan ulang otoritas dari Kitab Suci Perjanjian Lama dan menarik maksud / pengertian yang penuh dan keras dari hukum moral Allah.] - ‘The Message of The Sermon on the Mount’, hal 24-25.

John Stott (tentang Mat 5:19-20): “The rest of Matthew 5 contains examples of this greater, or rather deeper, righteousness. It consists of six parallel paragraphs which illustrate the principle Jesus has just propounded in verses 17 to 20 of the perpetuity of the moral law, of his coming to fulfil it and of his disciples’ responsibility to obey it more completely than the scribes and Pharisees were doing. Each paragraph contains a contrast or ‘antithesis’ introduced by the same formula (with minor variations): ‘You have heard that it was said to the men of old … But I say to you …’ (21, 22). What is this antithesis? It is clear who the authoritative egō is. But with whom is Jesus contrasting himself? ... Many commentators have maintained that in these paragraphs Jesus is setting himself against Moses; that he is here deliberately inaugurating a new morality, and is contradicting and repudiating the old; and that his introductory formula could be paraphrased ‘you know what the Old Testament taught … But I teach something quite different.’ Popular as this interpretation is, I do not hesitate to say that it is mistaken. It is more than mistaken; it is untenable. What Jesus is contradicting is not the law itself, but certain perversions of the law of which the scribes and Pharisees were guilty. Far from contradicting the law, Jesus endorses it, insists on its authority and supplies its true interpretation.” [= Sisa dari Mat 5 mengandung / berisikan contoh-contoh dari kebenaran yang lebih besar ini, atau lebih tepat, kebenaran yang lebih dalam ini. Itu terdiri dari 2 paragraf paralel yang mengilustrasikan prinsip yang baru Yesus kemukakan dalam ayat-ayat 17-20 tentang kekekalan hukum moral, tentang kedatanganNya untuk menggenapinya dan tentang tanggung jawab murid-murid untuk mentaatinya secara lebih lengkap / sempurna dari yang ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi sedang lakukan. Setiap paragraf mengandung suatu kontras atau ‘gagasan yang berlawanan’ yang diperkenalkan oleh formula yang sama (dengan variasi yang kecil / sedikit): ‘Kamu telah mendengar bahwa dikatakan kepada orang-orang pada jaman kuno ... Tetapi Aku berkata kepadamu ...’ (ay 21,22). Apa gagasan yang berlawanan ini? Adalah jelas siapa EGO yang berotoritas ini. Tetapi dengan siapa Yesus mengkontraskan diriNya sendiri? ... Banyak penafsir telah mempertahankan / menegaskan bahwa dalam paragraf-paragraf ini Yesus mengadu diriNya sendiri dengan Musa; bahwa Ia di sini secara sengaja sedang melantik suatu moralitas yang baru, dan sedang menentang dan menolak yang lama; dan bahwa formula pendahuluanNya bisa diparafrasekan ‘kamu tahu apa yang Perjanjian Lama ajarkan ... Tetapi Aku mengajar sesuatu yang cukup berbeda’. Bagaimanapun populernya penafsiran ini, saya tidak ragu-ragu untuk mengatakan bahwa itu salah. Itu lebih dari salah; itu tidak bisa dipertahankan. Apa yang Yesus tentang bukanlah hukum Taurat sendiri, tetapi penyimpangan-penyimpangan tertentu dari hukum Taurat tentang mana ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi bersalah. Jauh dari menentang hukum Taurat, Yesus mengesahkan / menyokongnya, berkeras tentang otoritasnya dan menyuplai penafsirannya yang benar.] - ‘The Message of The Sermon on the Mount’, hal 76.

Mat 5:21-22 - “(21) Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum. (22) Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala.”.

Adanya kata ‘difirmankan’ ini seolah-olah menunjukkan bahwa Yesus menentang Perjanjian Lama, tetapi sebetulnya tidak demikian, karena kata ‘difirmankan’ ini (ay 21) seharusnya adalah ‘dikatakan’, dan ini bukan menunjuk pada Perjanjian Lama, tetapi menunjuk pada penafsiran / ajaran ahli-ahli Taurat / orang-orang Farisi tentang Perjanjian Lama.

Ay 21 (KJV): ‘Ye have heard that it was said by them of old time’ [= Kamu telah mendengar bahwa dikatakan oleh mereka pada jaman dulu].

Kesalahan penterjemahan yang kurang lebih sama terjadi dalam Mat 5:27,31,33,38,43.

Mat 5:27 - Kamu telah mendengar firman: Jangan berzinah.”.
KJV: Ye have heard that it was said by them of old time, [= Kamu telah mendengar bahwa dikatakan oleh mereka dari jaman kuno,].

Mat 5:31 - Telah difirmankan juga: Siapa yang menceraikan isterinya harus memberi surat cerai kepadanya.”.
KJV: It hath been said, [= Telah dikatakan,].

Mat 5:33 - Kamu telah mendengar pula yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan bersumpah palsu, melainkan peganglah sumpahmu di depan Tuhan.”.
KJV: Again, ye have heard that it hath been said by them of old time, [= Lagi, kamu telah mendengar bahwa telah dikatakan oleh mereka dari jaman kuno,].

Mat 5:38 - Kamu telah mendengar firman: Mata ganti mata dan gigi ganti gigi.”.
KJV: Ye have heard that it hath been said, [= Kamu telah mendengar bahwa telah dikatakan,].

Mat 5:43 - Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu.”.
KJV: Ye have heard that it hath been said, [= Kamu telah mendengar bahwa telah dikatakan,].

John Stott (tentang Mat 5:19-20): “At first sight in each instance what Jesus quotes appears to come from the Mosaic law. All six examples either consist of or include some echo of it, e.g., ‘You shall not kill’ (21), ‘You shall not commit adultery’ (27), ‘Whoever divorces his wife, let him give her a certificate of divorce’ (31). Not until we come to the sixth and last antithesis do we see clearly that something is amiss. For this reads: ‘You shall love your neighbour and hate your enemy’ (43). Now the first half of this sentence is a clear command of the law (Lv. 19:18), although even this is a truncated commandment, omitting the vital words which set the standard of our neighbour-love, namely ‘as yourself’. The second half of the sentence, however, is not in the law at all. It comes neither in Leviticus 19:18, nor anywhere else. So here was a contemporary addition to the law, which was intended to interpret it, but in fact distorted it.” [= Pada pandangan pertama dalam setiap contoh apa yang Yesus kutip kelihatannya datang dari hukum Taurat Musa. Semua enam contoh atau terdiri dari atau mencakup suatu gema / pengulangan darinya, misalnya, ‘Jangan membunuh’ (ay 21), ‘Jangan berzinah’ (ay 27), ‘Siapa menceraikan istrinya, hendaklah ia memberinya surat cerai’ (ay 31). Tidak sampai kita datang pada gagasan berlawanan yang keenam maka kita melihat dengan jelas bahwa ada sesuatu yang salah. Karena ini berbunyi, ‘Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu’ (ay 43). Setengah bagian pertama dari kalimat ini merupakan suatu perintah yang jelas dari hukum Taurat (Im 19:18), sekalipun bahkan ini merupakan suatu perintah yang dipotong / dipendekkan, dengan menghilangkan kata yang penting yang memberikan standard tentang kasih kita kepada sesama, yaitu ‘seperti dirimu sendiri’. Tetapi setengah bagian yang kedua dari kalimat itu tidak ada dalam hukum Taurat sama sekali. Itu tidak ada dalam Im 19:18, atau di tempat lain manapun. Jadi di sini ada suatu penambahan kontemporer pada hukum Taurat, yang dimaksudkan untuk menafsirkannya, tetapi sebenarnya / dalam faktanya menyimpangkannya / memuntirnya.] - ‘The Message of The Sermon on the Mount’, hal 76.

John Stott (tentang Mat 5:19-20): “Secondly, there is the introductory formula, beginning ‘you have heard that it was said to the men of old’ (21, 33), or ‘you have heard that it was said’ (27, 38, 43), or more briefly still, ‘it was also said’ (31). The words common to these formulae are ‘it was said’, which represent the single Greek verb errethē. Now this was not the word which Jesus used when quoting Scripture. When he introduced a biblical quotation, both verb and tense were different, namely gegraptai (perfect, ‘it stands written’), not errethē (aorist, ‘it was said’). So in the six antitheses what Jesus was contradicting was not Scripture but tradition, not God’s word which they had ‘read’ but the oral instruction which was given ‘to the men of old’ and which they too had ‘heard’ since the scribes continued to give it in the synagogues.” [= Kedua, disana ada formula pendahuluan, mula-mula ‘kamu telah mendengar bahwa dikatakan kepada orang-orang dari jaman kuno’ (ay 21,33), atau ‘kamu telah mendengar bahwa dikatakan’ (ay 27,38,43), atau tetap lebih singkat lagi, ‘juga dikatakan’ (ay 31). Kata-kata yang umum bagi formula-formula ini adalah ‘dikatakan’, yang mewakili satu kata kerja Yunani errethē. Ini bukanlah kata yang Yesus gunakan pada waktu mengutip Kitab Suci. Pada waktu Ia menyatakan suatu kutipan Alkitab, baik kata kerja dan tensanya berbeda, yaitu gegraptai (perfect, ‘ada tertulis’), bukan errethē (aorist, ‘dikatakan’). Jadi dalam enam gagasan berlawanan ini apa yang Yesus sedang tentang bukanlah Kitab Suci tetapi tradisi, bukan firman Allah yang telah mereka ‘baca’ tetapi pengajaran lisan yang diberikan ‘kepada orang-orang jaman kuno’ dan yang juga telah mereka ‘dengar’ karena ahli-ahli Taurat terus memberikannya dalam sinagog-sinagog.] - ‘The Message of The Sermon on the Mount’, hal 77.

Jadi, Mat 5:21-48 ini bukan membicarakan firman Tuhan dalam Perjanjian Lama, tetapi membicarakan ajaran / penafsiran dari ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi tentang Perjanjian Lama!
Yesus bukan menentang Perjanjian Lama, tetapi menentang ajaran / penafsiran ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi tentang Perjanjian Lama!

2.   Ada ayat Perjanjian Lama yang menunjukkan bahwa hukum Taurat / Perjanjian Lama tidak dihapuskan dalam jaman Perjanjian Baru.

Yer 31:31-34 - “(31) Sesungguhnya, akan datang waktunya, demikianlah firman TUHAN, Aku akan mengadakan perjanjian baru dengan kaum Israel dan kaum Yehuda, (32) bukan seperti perjanjian yang telah Kuadakan dengan nenek moyang mereka pada waktu Aku memegang tangan mereka untuk membawa mereka keluar dari tanah Mesir; perjanjianKu itu telah mereka ingkari, meskipun Aku menjadi tuan yang berkuasa atas mereka, demikianlah firman TUHAN. (33) Tetapi beginilah perjanjian yang Kuadakan dengan kaum Israel sesudah waktu itu, demikianlah firman TUHAN: Aku akan menaruh TauratKu dalam batin mereka dan menuliskannya dalam hati mereka; maka Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umatKu. (34) Dan tidak usah lagi orang mengajar sesamanya atau mengajar saudaranya dengan mengatakan: Kenallah TUHAN! Sebab mereka semua, besar kecil, akan mengenal Aku, demikianlah firman TUHAN, sebab Aku akan mengampuni kesalahan mereka dan tidak lagi mengingat dosa mereka.’”.

Text ini jelas membicarakan / menubuatkan tentang jaman Perjanjian Baru, dan dalam text ini dikatakan bahwa Tuhan akan menaruh TauratNya dalam batin kita! Untuk apa Ia menaruh TauratNya dalam hati kita, kalau hukum Taurat sudah tak berlaku?

Calvin (tentang Yer 31:31-32): “We hence see that this passage necessarily refers to the kingdom of Christ,” [= Jadi kita melihat bahwa text ini harus / pasti menunjuk pada kerajaan Kristus,].

Calvin (tentang Yer 31:33): “God does not say here, ‘I will give you another Law,’ but ‘I will write my Law,’ that is, the same Law, which had formerly been delivered to the Fathers.” [= Allah tak mengatakan di sini, ‘Aku akan memberimu hukum yang lain’, tetapi ‘Aku akan menuliskan Hukum TauratKu’, yaitu, hukum Taurat yang sama, yang sebelumnya telah diberikan kepada nenek moyang.].

Barnes’ Notes (tentang Yer 33:33): The old law could be broken (Jeremiah 31:32); to remedy this God gives, not a new law, but a new power to the old law. It used to be a mere code of morals, external to man, and obeyed as a duty. In Christianity, it becomes an inner force, shaping man’s character from within.[= Hukum Taurat yang lama bisa dilanggar (Yer 31:32); untuk mengobati ini Allah memberi, bukan suatu hukum yang baru, tetapi suatu kuasa yang baru pada hukum Taurat yang lama. Itu dulu hanya merupakan suatu peraturan-peraturan moral, lahiriah bagi manusia, dan ditaati sebagai suatu kewajiban. Dalam kekristenan, itu menjadi kekuatan di dalam / batin, yang membentuk karakter manusia dari dalam.].

3.   Dalam Perjanjian Baru, hukum Taurat tetap berlaku untuk semua orang (Yahudi maupun non Yahudi) yang telah mendengarnya, di dalam maupun di luar Israel. Kalau tidak, mengapa rasul-rasul dan penulis-penulis Perjanjian Baru, bahkan Yesus sendiri, mengutip ayat-ayat Perjanjian Lama / hukum Taurat, menjelaskan ayat-ayat Perjanjian Lama / hukum Taurat, dan mengajar berdasarkan ayat-ayat Perjanjian Lama / hukum Taurat?

a.   Luk 24:27,45 - “(27) Lalu Ia menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang Dia dalam seluruh Kitab Suci, mulai dari kitab-kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi. ... (45) Lalu Ia membuka pikiran mereka, sehingga mereka mengerti Kitab Suci.”.
Yang dimaksud dengan ‘Kitab Suci’ ini pasti adalah Perjanjian Lama, karena Perjanjian Baru belum ada pada saat itu.

Ingat bahwa text ini terjadi pada  jaman Perjanjian Baru, karena pada saat Yesus mengucapkan itu, Ia sudah bangkit dari antara orang mati. Lalu untuk apa Ia menjelaskan seluruh Perjanjian Lama kalau itu sudah tidak berlaku?

b.   Kis 22:12 - “Di situ ada seorang bernama Ananias, seorang saleh yang menurut hukum Taurat dan terkenal baik di antara semua orang Yahudi yang ada di situ.”.
KJV: ‘a devout man according to the law’ [= seorang yang saleh / taat menurut / sesuai dengan hukum Taurat].

Kalau hukum Taurat sudah dihapuskan mengapa orang ini disebut saleh menurut / sesuai dengan hukum Taurat?

c.   Kis 24:14 - “Tetapi aku mengakui kepadamu, bahwa aku berbakti kepada Allah nenek moyang kami dengan menganut Jalan Tuhan, yaitu Jalan yang mereka sebut sekte. Aku percaya kepada segala sesuatu yang ada tertulis dalam hukum Taurat dan dalam kitab nabi-nabi.”.

d.   Ro 2:12-15 - “(12) Sebab semua orang yang berdosa tanpa hukum Taurat akan binasa tanpa hukum Taurat; dan semua orang yang berdosa di bawah hukum Taurat akan dihakimi oleh hukum Taurat. (13) Karena bukanlah orang yang mendengar hukum Taurat yang benar di hadapan Allah, tetapi orang yang melakukan hukum Tauratlah yang akan dibenarkan. (14) Apabila bangsa-bangsa lain yang tidak memiliki hukum Taurat oleh dorongan diri sendiri melakukan apa yang dituntut hukum Taurat, maka, walaupun mereka tidak memiliki hukum Taurat, mereka menjadi hukum Taurat bagi diri mereka sendiri. (15) Sebab dengan itu mereka menunjukkan, bahwa isi hukum Taurat ada tertulis di dalam hati mereka dan suara hati mereka turut bersaksi dan pikiran mereka saling menuduh atau saling membela.”.
Catatan: awas, text ini tidak mengajarkan keselamatan karena ketaatan pada hukum Taurat, karena orang dibenarkan hanya kalau bisa mentaati hukum Taurat secara sempurna, dan jelas tak ada orang yang bisa melakukan hal itu.

e.   Ro 2:17-20 - “(17) Tetapi, jika kamu menyebut dirimu orang Yahudi dan bersandar kepada hukum Taurat, bermegah dalam Allah, (18) dan tahu akan kehendakNya, dan oleh karena diajar dalam hukum Taurat, dapat tahu mana yang baik dan mana yang tidak, (19) dan yakin, bahwa engkau adalah penuntun orang buta dan terang bagi mereka yang di dalam kegelapan, (20) pendidik orang bodoh, dan pengajar orang yang belum dewasa, karena dalam hukum Taurat engkau memiliki kegenapan segala kepandaian dan kebenaran. (21) Jadi, bagaimanakah engkau yang mengajar orang lain, tidakkah engkau mengajar dirimu sendiri? Engkau yang mengajar: ‘Jangan mencuri,’ mengapa engkau sendiri mencuri? (22) Engkau yang berkata: ‘Jangan berzinah,’ mengapa engkau sendiri berzinah? Engkau yang jijik akan segala berhala, mengapa engkau sendiri merampok rumah berhala? (23) Engkau bermegah atas hukum Taurat, mengapa engkau sendiri menghina Allah dengan melanggar hukum Taurat itu? (24) Seperti ada tertulis: ‘Sebab oleh karena kamulah nama Allah dihujat di antara bangsa-bangsa lain.’”.

f.    Ro 3:20 - “Sebab tidak seorangpun yang dapat dibenarkan di hadapan Allah oleh karena melakukan hukum Taurat, karena justru oleh hukum Taurat orang mengenal dosa.”.

g.   Ro 15:4 - “Sebab segala sesuatu yang ditulis dahulu, telah ditulis untuk menjadi pelajaran bagi kita, supaya kita teguh berpegang pada pengharapan oleh ketekunan dan penghiburan dari Kitab Suci.”.

h.   1Kor 6:9-11 - “(9) Atau tidak tahukah kamu, bahwa orang-orang yang tidak adil tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah? Janganlah sesat! Orang cabul, penyembah berhala, orang berzinah, banci, orang pemburit, (10) pencuri, orang kikir, pemabuk, pemfitnah dan penipu tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah. (11) Dan beberapa orang di antara kamu demikianlah dahulu. Tetapi kamu telah memberi dirimu disucikan, kamu telah dikuduskan, kamu telah dibenarkan dalam nama Tuhan Yesus Kristus dan dalam Roh Allah kita.”.
Bagian yang saya garis-bawahi itu jelas adalah hukum-hukum dalam 10 hukum Tuhan, yaitu hukum ke 2,7,8,9.

i.    1Kor 7:19 - “Sebab bersunat atau tidak bersunat tidak penting. Yang penting ialah mentaati hukum-hukum Allah.”.

j.    1Kor 9:9-10 - “(9) Sebab dalam hukum Musa ada tertulis: ‘Janganlah engkau memberangus mulut lembu yang sedang mengirik!’ Lembukah yang Allah perhatikan? (10) Atau kitakah yang Ia maksudkan? YA, UNTUK KITALAH HAL INI DITULIS, YAITU PEMBAJAK HARUS MEMBAJAK DALAM PENGHARAPAN DAN PENGIRIK HARUS MENGIRIK DALAM PENGHARAPAN UNTUK MEMPEROLEH BAGIANNYA.”.

Dalam text ini Paulus bukan hanya mengutip Perjanjian Lama tetapi menggunakannya sebagai dasar ajaran! Itu mustahil kalau seluruh Perjanjian Lama / Moral Law sudah dihapuskan!

k.   1Kor 14:34 - “Sama seperti dalam semua Jemaat orang-orang kudus, perempuan-perempuan harus berdiam diri dalam pertemuan-pertemuan Jemaat. Sebab mereka tidak diperbolehkan untuk berbicara. Mereka harus menundukkan diri, seperti yang dikatakan juga oleh hukum Taurat.”.

l.    2Tim 3:16 - Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.”.
Ini salah terjemahan.
NASB: All Scripture is inspired by God and profitable for teaching, for reproof, for correction, for training in righteousness;’ [= Seluruh Kitab Suci diilhamkan oleh Allah dan bermanfaat untuk pengajaran, untuk teguran / celaan, untuk perbaikan, untuk mendidik / melatih dalam kebenaran;].
TB2-LAI: Seluruh Kitab Suci diilhamkan Allah dan bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.”.
Pada saat Paulus menuliskan ayat ini yang ia maksud dengan ‘Kitab Suci’ jelas adalah Perjanjian Lama.

m.  Yak 2:10-11 - “(10) Sebab barangsiapa menuruti seluruh hukum itu, tetapi mengabaikan satu bagian dari padanya, ia bersalah terhadap seluruhnya. (11) Sebab Ia yang mengatakan: ‘Jangan berzinah,’ Ia mengatakan juga: ‘Jangan membunuh’. Jadi jika kamu tidak berzinah tetapi membunuh, maka kamu menjadi pelanggar hukum juga.”.

Untuk apa Yakobus mengutip hukum Taurat / hukum-hukum dari 10 hukum Tuhan kalau itu sudah tak berlaku pada jaman Perjanjian Baru?

n.   1Yoh 3:4 - “Setiap orang yang berbuat dosa, melanggar juga hukum Allah, sebab dosa ialah pelanggaran hukum Allah.”.
Istilah ‘hukum Allah’ ini pasti = ‘hukum Taurat’.
Juga, sebetulnya kata ‘Allah’ itu tidak ada dalam bahasa Yunaninya.
KJV: Whosoever committeth sin transgresseth also the law: for sin is the transgression of the law. [= Siapapun yang berbuat dosa melanggar juga hukum (Taurat): karena dosa adalah pelanggaran hukum (Taurat).].

4.   Kalau seluruh Hukum Taurat sudah tidak berlaku dalam jaman Perjanjian Baru (setelah Yesus mati), maka antara saat kematian Yesus dan saat Perjanjian Baru ditulis dan disebarkan (ini berlangsung berpuluh-puluh tahun), manusia tidak punya Kitab Suci / Alkitab apapun! Tetapi ternyata dalam sepanjang Perjanjian Baru, istilah ‘Kitab Suci’ (yang menunjuk pada Perjanjian Lama) muncul berulang-ulang dan jelas-jelas berguna / digunakan!

a.   Yoh 2:22 - “Kemudian, sesudah Ia bangkit dari antara orang mati, barulah teringat oleh murid-muridNya bahwa hal itu telah dikatakanNya, dan merekapun percayalah akan Kitab Suci dan akan perkataan yang telah diucapkan Yesus.”.

b.   Kis 17:2,11 - “(2) Seperti biasa Paulus masuk ke rumah ibadat itu. Tiga hari Sabat berturut-turut ia membicarakan dengan mereka bagian-bagian dari Kitab Suci. ... (11) Orang-orang Yahudi di kota itu lebih baik hatinya dari pada orang-orang Yahudi di Tesalonika, karena mereka menerima firman itu dengan segala kerelaan hati dan setiap hari mereka menyelidiki Kitab Suci untuk mengetahui, apakah semuanya itu benar demikian.”.

c.   Kis 18:24,28 - “(24) Sementara itu datanglah ke Efesus seorang Yahudi bernama Apolos, yang berasal dari Aleksandria. Ia seorang yang fasih berbicara dan sangat mahir dalam soal-soal Kitab Suci. ...  (28) Sebab dengan tak jemu-jemunya ia membantah orang-orang Yahudi di muka umum dan membuktikan dari Kitab Suci bahwa Yesus adalah Mesias.”.

d.   Ro 4:3 - “Sebab apakah dikatakan nas Kitab Suci? ‘Lalu percayalah Abraham kepada Tuhan, dan Tuhan memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.’”.

e.   Ro 9:17 - “Sebab Kitab Suci berkata kepada Firaun: ‘Itulah sebabnya Aku membangkitkan engkau, yaitu supaya Aku memperlihatkan kuasaKu di dalam engkau, dan supaya namaKu dimasyhurkan di seluruh bumi.’”.

f.    Ro 10:11 - “Karena Kitab Suci berkata: ‘Barangsiapa yang percaya kepada Dia, tidak akan dipermalukan.’”.

g.   Ro 11:2 - “Allah tidak menolak umatNya yang dipilihNya. Ataukah kamu tidak tahu, apa yang dikatakan Kitab Suci tentang Elia, waktu ia mengadukan Israel kepada Allah:”.

h.   Gal 3:8,22 - “(8) Dan Kitab Suci, yang sebelumnya mengetahui, bahwa Allah membenarkan orang-orang bukan Yahudi oleh karena iman, telah terlebih dahulu memberitakan Injil kepada Abraham: ‘Olehmu segala bangsa akan diberkati.’ ... (22) Tetapi Kitab Suci telah mengurung segala sesuatu di bawah kekuasaan dosa, supaya oleh karena iman dalam Yesus Kristus janji itu diberikan kepada mereka yang percaya.”.

i.    Gal 4:30 - “Tetapi apa kata nas Kitab Suci? ‘Usirlah hamba perempuan itu beserta anaknya, sebab anak hamba perempuan itu tidak akan menjadi ahli waris bersama-sama dengan anak perempuan merdeka itu.’”.

j.    1Tim 4:13 - “Sementara itu, sampai aku datang bertekunlah dalam membaca Kitab-kitab Suci, dalam membangun dan dalam mengajar.”.

k.   1Tim 5:18 - “Bukankah Kitab Suci berkata: ‘Janganlah engkau memberangus mulut lembu yang sedang mengirik,’ dan lagi ‘seorang pekerja patut mendapat upahnya.’”.

l.    Yak 2:8 - “Akan tetapi, jikalau kamu menjalankan hukum utama yang tertulis dalam Kitab Suci: ‘Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri,’ kamu berbuat baik.”.

m.  Yak 4:5 - “Janganlah kamu menyangka, bahwa Kitab Suci tanpa alasan berkata: ‘Roh yang ditempatkan Allah di dalam diri kita, diinginiNya dengan cemburu!’”.

n.   1Pet 2:6 - “Sebab ada tertulis dalam Kitab Suci: ‘Sesungguhnya, Aku meletakkan di Sion sebuah batu yang terpilih, sebuah batu penjuru yang mahal, dan siapa yang percaya kepadaNya, tidak akan dipermalukan.’”.

o.   2Pet 1:20 - “Yang terutama harus kamu ketahui, ialah bahwa nubuat-nubuat dalam Kitab Suci tidak boleh ditafsirkan menurut kehendak sendiri,”.



-bersambung-

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar