About us

Golgotha Ministry adalah pelayanan dari Pdt. Budi Asali,M.Div dibawah naungan GKRI Golgota Surabaya untuk memberitakan Injil ke seluruh dunia dan mengajarkan kebenaran firman Tuhan melalui khotbah-khotbah, pendalaman Alkitab, perkuliahan theologia dalam bentuk tulisan maupun multimedia (DVD video, MP3, dll). Pelayanan kami ini adalah bertujuan agar banyak orang mengenal kebenaran; dan bagi mereka yang belum percaya, menjadi percaya kepada Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadinya, dan bagi mereka yang sudah percaya, dikuatkan dan didewasakan didalam iman kepada Kristus.
Semua yang kami lakukan ini adalah semata-mata untuk kemuliaan nama Tuhan Yesus Kristus.

Kami mengundang dengan hangat setiap orang yang merasa diberkati dan terbeban didalam pelayanan untuk bergabung bersama kami di GKRI Golgota yang beralamat di : Jl. Raya Kalirungkut, Pertokoan Rungkut Megah Raya D-16, Surabaya.

Tuhan Yesus memberkati.

Rabu, 04 Februari 2015

PEMAHAMAN ALKITAB TENTANG PERSEMBAHAN PERSEPULUHAN

Karena banyaknya tulisan-tulisan dan pro kontra tentang masih berlaku atau sudah dihapusnya persembahan persepuluhan, maka GKRI Golgota akan mengadakan Pemahaman Alkitab tentang hal itu.
Hari/tanggal : Rabu, 04 & 11 Maret 2015
Pukul : 19.00 WIB (tepat).
Tempat : GKRI Golgota, Pertokoan Rungkut Megah Raya D No 16, 
Jl. Raya Kalirungkut - Surabaya.
Pembicara : Pdt. Budi Asali, M.Div
Kalau tidak bisa selesai bahannya, akan dilanjutkan pada tgl 18 Maret 2015.

Acara ini akan diawali terlebih dahulu dengan pembahasan tentang pandangan bahwa persembahan persepuluhan sudah tidak berlaku di zaman Perjanjian Baru oleh : Ev. Paulus Roi, pada hari Rabu, 25 Februari 2015, Pk. 19.00 WIB (tepat), di GKRI Golgota.

Ada acara tanya jawab di akhir acara.
JANGAN SAMPAI TERLEWATKAN!

Minggu, 14 Desember 2014

THE GREATEST GIFT

Yoh 3:16 - “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.”.
KJV: “For God so loved the world, that he gave his only begotten Son, that whosoever believeth in him should not perish, but have everlasting life.” [= Karena Allah begitu mengasihi dunia ini, sehingga Ia memberikan AnakNya yang Tunggal, supaya siapapun yang percaya kepadaNya tidak binasa, tetapi mempunyai hidup yang kekal.].
Ada orang yang menambahinya dengan kata-kata tertentu sehingga menjadi seperti ini:
“For God so loved the world, that he gave his only begotten Son, as a Christmas gift to every one, that whosoever believeth in him should not perish, but have everlasting life.” [= Karena Allah begitu mengasihi dunia ini, sehingga Ia memberikan AnakNya yang Tunggal, sebagai hadiah Natal bagi setiap orang, supaya siapapun yang percaya kepadaNya tidak binasa, tetapi mempunyai hidup yang kekal.].
Streams in the Desert, vol 2, January 15:
“God (the greatest lover) so loved (the greatest degree) the world (the greatest number) that He gave (the greatest act) His only begotten Son (the greatest gift) that whosoever (the greatest invitation) believeth (the greatest simplicity) in Him (the greatest person) should not perish (the greatest deliverance), but (the greatest difference) have (the greatest certainty) everlasting life (the greatest possession).” [= Allah (pecinta terbesar) begitu mengasihi (tingkat terbesar) dunia (jumlah terbesar) sehingga Ia memberikan (tindakan terbesar) AnakNya yang tunggal (pemberian / hadiah terbesar) supaya barangsiapa (undangan terbesar) percaya (kesederhanaan terbesar) kepada Dia (pribadi terbesar) tidak binasa (pembebasan terbesar), tetapi (perbedaan terbesar) mempunyai (kepastian terbesar) hidup yang kekal (milik yang terbesar).] - John 3:16.
I) Allah memberikan AnakNya yang Tunggal.
1) Allah (pecinta terbesar / pribadi dengan cinta yang terbesar).
Semua kita tentu lebih senang dicintai dari pada dicuekin apalagi dibenci. Tetapi siapa orang yang mencintai itu jelas juga penting. Kalau kita dicintai oleh walikota, kita pasti akan bangga sekali. Apalagi kalau yang mencintai itu gubernur atau presiden. Tetapi ayat ini tidak mengatakan bahwa walikota / gubernur / presiden mencintai kita. Ayat ini mengatakan bahwa Allah mencintai kita! Walikota / gubernur / presiden itu orang besar, tetapi semua mereka tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Allah, yang adalah Pencipta / pemilik seluruh alam semesta dengan segala isinya!
2) Bukti bahwa Allah adalah pecinta terbesar adalah bahwa Ia memberikan AnakNya yang Tunggal.
a) Anak Allah.
Jangan berpikir mula-mula ada Allah, lalu suatu waktu Dia beranak, dan muncul Anak Allah. Kalau diartikan demikian, Anak Allah itu tidak kekal, dan Dia bukan Allah.
Kita harus menafsirkan istilah ‘Anak Allah’ itu sesuai dengan pengertian orang-orang di sana pada jaman itu, dan itu bisa terlihat dari ayat-ayat di bawah ini:
Yoh 5:18 - “Sebab itu orang-orang Yahudi lebih berusaha lagi untuk membunuhNya, bukan saja karena Ia meniadakan hari Sabat, tetapi juga karena Ia mengatakan bahwa Allah adalah BapaNya sendiri dan dengan demikian menyamakan diriNya (seharusnya ‘menyetarakan diriNya’) dengan Allah.”.
Karena itu, tidak salah menyebut Yesus sebagai ‘the greatest person’ [= pribadi yang terbesar].
b) Tunggal.
Ini ditambahkan untuk membedakan istilah ‘Anak Allah’ yang digunakan terhadap Yesus, dan istilah ‘anak Allah’ pada waktu itu diterapkan kepada kita. Kalau kita percaya kepada Yesus, kita juga disebut ‘anak Allah’ (Yoh 1:12), tetapi itu tidak berarti bahwa kita setara dengan Allah! Mengapa? Karena Yesus adalah Anak Allah yang sesungguhnya / kekal, sedangkan kita menjadi anak Allah karena diadopsi (Gal 4:5 versi KJV/RSV/NASB). Yang seperti Yesus itu hanya satu, dan karena itu lalu ditambahkan kata ‘Tunggal’ / ‘satu-satunya’.
c) Allah memberikan / mengaruniakan AnakNya yang Tunggal.
Ini dilakukan dengan mengutus AnakNya datang ke dalam dunia, menjadi manusia sama seperti kita (kecuali dalam hal dosa), menderita dan mati disalib untuk memikul hukuman dosa kita. Jadi, ada hubungan yang sangat erat / tak bisa dipisahkan antara Natal dan Jum’at Agung. Natal harus ada supaya Jum’at Agung bisa ada! Yesus dilahirkan pada Natal, supaya bisa menderita dan mati pada Jum’at Agung. Menderita dan mati dengan cara bagaimana? Dengan cara yang paling mengerikan, menyakitkan, hina, dan terkutuk. Penyaliban, yang didahului dengan pencambukan!
Bagi saudara yang mempunyai banyak anak, saya tanya: bolehkah saya minta anak saudara untuk disembelih lalu disate? Sekalipun saudara mempunyai banyak anak, saudara tidak akan ijinkan anak saudara disembelih lalu disate, apalagi kalau punya anak tunggal!
Sebetulnya jangankan anak, tetapi bahkan kalau saudara punya banyak anjing, saya minta satu saja untuk dibuat RW, saudara pasti akan menolak! Tetapi Allah, yang hanya mempunyai satu Anak, rela memberikanNya untuk kita.
Ini membuat Dia memang layak disebut sebagai ‘the greatest lover’ [= pecinta yang terbesar]! KasihNya layak dianggap kasih yang mempunyai ‘the greatest degree’ [= tingkat terbesar], dan tindakanNya dalam memberikan AnakNya itu disebut sebagai ‘the greatest act’ [= tindakan terbesar]. Dan ini juga menyebabkan hadiahNya itu layak disebut sebagai ‘the greatest gift’ [= hadiah terbesar]!
II) Allah memberikanNya kepada ‘dunia’.
1) Siapa yang disebut dengan istilah ‘dunia’ di sini?
Tentu bukan dunia dalam arti alam semesta atau bumi ini, tetapi manusianya. Tetapi manusia yang mana? Yahudi saja? Terus terang, dulu orang-orang Yahudi mempunyai pandangan bahwa yang bisa selamat itu hanya orang-orang Yahudi saja, dan Allah menciptakan orang-orang non Yahudi hanya untuk menjadi bahan bakar di neraka. Karena itu, ada yang mengatakan bahwa kata ‘dunia’ ini digunakan dalam Yoh 3:16 ini untuk menentang pandangan Yahudi bahwa hanya orang-orang Yahudi saja yang bisa selamat. Jadi, kata ‘dunia’ ini diartikan sebagai ‘Yahudi + non Yahudi’! Dengan kata lain, ‘segala bangsa’!

Mari kita bandingkan dengan ayat-ayat Kitab Suci yang lain:
a) Mat 28:19 - “Karena itu pergilah, jadikanlah SEMUA BANGSA muridKu dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus,”.
b) Luk 24:47 - “dan lagi: dalam namaNya berita tentang pertobatan dan pengampunan dosa harus disampaikan kepada segala bangsa, mulai dari Yerusalem.”.
c) Kis 1:8 - “Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksiKu di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.’”.
d) Dalam Injil Lukas yang datang kepada Yesus pada Natal adalah para gembala (Luk 2:8-20). Ini adalah orang-orang Yahudi. Tetapi dalam Injil Matius yang datang kepada Yesus dalam Natal adalah orang-orang Majus (Mat 2:1-12), yang adalah orang-orang non Yahudi! Apakah yang terakhir ini ditolak? Tidak mungkin ditolak, karena Allah sendiri yang memimpin mereka dengan menggunakan petunjuk bintang!
Catatan: Awas, ini bukan dasar untuk menyetujui / mempercayai horoscope! Bintang dalam Mat 2 itu bersifat mujijat!
Dari semua ini jelas bahwa Yesus adalah hadiah Natal dari Allah kepada segala bangsa, termasuk saudara dan saya, tidak peduli dari bangsa atau suku bangsa apapun kita berasal! Ini cocok disebut sebagai ‘the greatest number’ [= jumlah terbesar].
Dan kebalikannya juga berlaku, yaitu: segala bangsa / suku bangsa hanya mempunyai satu Juruselamat / Penebus, yaitu Yesus Kristus!
2) Dunia ini adalah dunia yang berdosa.
Sekarang bagaimana keadaan manusia-manusia di dunia ini kok Allah tahu-tahu mau memberikan AnakNya yang Tunggal kepada dunia? Apakah dunia ini begitu baik, suci, mengasihi Allah, selalu menyenangkan dan memuliakan Dia, sehingga Dia lalu mau memberikan AnakNya yang Tunggal kepada dunia?
Ro 3:10-18 - “(10) seperti ada tertulis: ‘Tidak ada yang benar, seorangpun tidak. (11) Tidak ada seorangpun yang berakal budi, tidak ada seorangpun yang mencari Allah. (12) Semua orang telah menyeleweng, mereka semua tidak berguna, tidak ada yang berbuat baik, seorangpun tidak. (13) Kerongkongan mereka seperti kubur yang ternganga, lidah mereka merayu-rayu, bibir mereka mengandung bisa. (14) Mulut mereka penuh dengan sumpah serapah, (15) kaki mereka cepat untuk menumpahkan darah. (16) Keruntuhan dan kebinasaan mereka tinggalkan di jalan mereka, (17) dan jalan damai tidak mereka kenal; (18) rasa takut kepada Allah tidak ada pada orang itu.’”.
Melihat dunia yang seperti ini, lalu Allah itu masih mau memberikan AnakNya yang Tunggal kepada dunia, itu betul-betul luar biasa! Tak terbayangkan! Itu sebabnya Ia memang layak disebut sebagai ‘The greatest lover’ [= Pecinta terbesar]! Bandingkan dengan ayat-ayat ini:
• Ro 8:32 - “Ia, yang tidak menyayangkan AnakNya sendiri, tetapi yang menyerahkanNya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia?”.
• 1Yoh 4:10 - “Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus AnakNya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita.”.
• Ro 5:6-8 - “(6) Karena waktu kita masih lemah, Kristus telah mati untuk kita orang-orang durhaka pada waktu yang ditentukan oleh Allah. (7) Sebab tidak mudah seorang mau mati untuk orang yang benar - tetapi mungkin untuk orang yang baik ada orang yang berani mati -. (8) Akan tetapi Allah menunjukkan kasihNya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.”.
Kata-kata ‘tidak mudah’ oleh KJV diterjemahkan ‘scarcely’, oleh NIV diterjemahkan ‘rarely’, dan oleh RSV/NASB diterjemahkan ‘hardly’. Semua artinya kurang lebih sama, yaitu ‘jarang’ atau ‘sangat jarang’.
III) Mengapa Allah memberikan hadiah itu kepada kita?
Dengan kata lain, mengapa Allah mengutus Yesus datang ke dalam dunia pada Natal, lalu menderita dan mati pada Jum’at Agung? Jawabannya: Yoh 3:16b - “... supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.”.
Jadi, Ia memberikan AnakNya yang Tunggal itu supaya kita tidak binasa, atau, untuk menyelamatkan / memberikan hidup kekal kepada kita!
Mungkin ada orang yang bertanya: Tidak bisakah Allah menggunakan cara lain untuk menyelamatkan manusia? Jawabannya: tidak ada! Kalau memang ada, Dia akan pakai cara itu, bukan dengan memberikan AnakNya yang Tunggal!
Mengapa tidak bisa? Karena Allah itu adil. Ini menyebabkan Ia HARUS menghukum setiap orang atas setiap dosa yang diperbuatnya. Kalau Allah tak menghukum apakah Ia baik?
Untuk menjawab ini, mari kita pikirkan suatu analogi: kalau saudara ditangkap polisi karena melanggar peraturan lalu lintas, lalu saudara merayu-rayu polisi itu, dan akhirnya polisi itu membebaskan saudara, apakah polisi itu baik? Bagaimana kalau ada pencopet tertangkap, lalu merayu polisi itu dan lalu dibebaskan? Apakah polisi itu baik? Bagaimana kalau penjual narkoba, perampok, pembunuh, pemerkosa, dsb?
Sekarang kita terapkan kepada Tuhan / Allah sendiri. Kalau Ia tidak menghukum manusia berdosa, Ia bukan Allah yang suci, benar ataupun adil! Kalau ada satu dosa saja, bagaimanapun kecilnya, tidak dihukum selama-lamanya oleh Allah, maka Allah kehilangan keadilanNya! Yang bisa Ia lakukan, adalah menyediakan seorang pengganti untuk memikul hukuman dosa itu. Karena itu, Ia mengutus Yesus menjadi manusia pada Natal pertama, lalu mengorbankanNya pada Jum’at Agung, untuk memikul hukuman dosa umat manusia. Dengan demikian Yesus menjadi pengganti bagi kita.
Yes 53:4-6 - “(4) Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah. (5) Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh. (6) Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri, tetapi TUHAN telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian.”.
2Kor 5:15 - “Dan Kristus telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia, yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka.”.
Setelah Yesus menderita dan mati untuk menggantikan kita, maka tersedia jalan keselamatan bagi kita. Ingat: seandainya Yesus tidak lahir, menderita dan mati bagi kita, maka tidak ada jalan keselamatan bagi manusia, dan semua manusia mulai Adam dan Hawa sampai kiamat, termasuk saudara dan saya, akan masuk ke neraka selama-lamanya!
Tetapi faktanya adalah Yesus sudah lahir pada Natal yang pertama, lalu menderita dan mati untuk menebus dosa kita pada hari Jumat Agung, sehingga sekarang telah tersedia jalan untuk selamat bagi kita.
Ingat hal ini sekali lagi: Ia adalah hadiah untuk seluruh dunia / segala bangsa, dan bagi seluruh dunia / segala bangsa hanya ada satu hadiah ini. Tidak ada banyak hadiah, tidak ada banyak Penebus / Juruselamat, hanya satu, yaitu Yesus Kristus!
Kis 4:12 - “Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan.’”.
1Yoh 5:11-12 - “(11) Dan inilah kesaksian itu: Allah telah mengaruniakan hidup yang kekal kepada kita dan hidup itu ada di dalam AnakNya. (12) Barangsiapa memiliki Anak, ia memiliki hidup; barangsiapa tidak memiliki Anak, ia tidak memiliki hidup.”.
Yoh 14:6 - “Kata Yesus kepadanya: ‘Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.”.
Calvin: “our salvation must not be sought any where else than in Christ” [= keselamatan kita tidak boleh dicari di tempat lain manapun juga selain dalam Kristus].
Calvin juga mengatakan kebalikannya: “not the least drop of salvation can be found out of Christ” [= tidak satu tetes terkecilpun dari keselamatan bisa ditemukan di luar Kristus].
IV) Apa yang harus kita lakukan?
Terimalah hadiah itu, dengan menerima / percaya kepada Kristus. Maka saudara tidak akan binasa, tetapi memiliki hidup kekal.
“God (the greatest lover) so loved (the greatest degree) the world (the greatest number) that He gave (the greatest act) His only begotten Son (the greatest gift) that whosoever (the greatest invitation) believeth (the greatest simplicity) in Him (the greatest person) should not perish (the greatest deliverance), but (the greatest difference) have (the greatest certainty) everlasting life (the greatest possession)” [= Allah (pecinta terbesar) begitu mengasihi (tingkat terbesar) dunia (jumlah terbesar) sehingga Ia memberikan (tindakan terbesar) AnakNya yang tunggal (pemberian / hadiah terbesar) supaya barangsiapa (undangan terbesar) percaya (kesederhanaan terbesar) kepada Dia (pribadi terbesar) tidak binasa (pembebasan terbesar), tetapi (perbedaan terbesar) mempunyai (kepastian terbesar) hidup yang kekal (milik yang terbesar)] - John 3:16.
1) Tidak binasa.
Kata ‘binasa’ bukan hanya menunjuk pada kematian, tetapi pada perpisahan kekal dengan Allah dan pada hukuman kekal di neraka.
2Tes 1:9 - “Mereka ini akan menjalani hukuman KEBINASAAN selama-lamanya, dijauhkan dari hadirat Tuhan dan dari kemuliaan kekuatanNya,”.
Wah 21:8 - “Tetapi orang-orang penakut, orang-orang yang tidak percaya, orang-orang keji, orang-orang pembunuh, orang-orang sundal, tukang-tukang sihir, penyembah-penyembah berhala dan semua pendusta, mereka akan mendapat bagian mereka di dalam lautan yang menyala-nyala oleh api dan belerang; inilah KEMATIAN yang kedua.’”.
‘Tidak binasa’ disebut sebagai ‘the greatest deliverance’ [= pembebasan terbesar]! Memang kalau kita dibebaskan dari problem, penyakit dsb, kita senang juga. Tetapi apa gunanya kaya, sehat, hidup tanpa problem di dunia ini, kalau nanti harus masuk neraka selama-lamanya? Kalau harus memilih, enak jadi Lazarus atau orang kayanya? Jadi, ‘tidak binasa’ ini yang terpenting; ini adalah ‘the greatest deliverance’ [= pembebasan terbesar]!
2) Hidup yang kekal.
a) Kata ‘hidup’ kontras dengan ‘binasa’, dan kontras itu juga ditunjukkan oleh kata ‘tetapi’.
Dan kata ‘tetapi’ ini mengkontraskan sedemikian rupa sehingga disebut sebagai ‘the greatest difference’ [= perbedaan terbesar].
Pada saat mereka masih hidup di dunia, maka ada kontras yang besar antara Lazarus dan orang kaya. Tetapi setelah mereka mati, keadaan terbalik, dan kontrasnya jauh lebih besar lagi. Memang antara surga dan neraka ada perbedaan yang layak disebut sebagai ‘the greatest difference’ [= perbedaan terbesar].
b) Kata ‘kekal’ berarti selama-lamanya. Kalau bisa berhenti / hilang itu namanya tidak kekal.
Bdk. Yoh 10:28-29 - “(28) dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorangpun tidak akan merebut mereka dari tanganKu. (29) BapaKu, yang memberikan mereka kepadaKu, lebih besar dari pada siapapun, dan seorangpun tidak dapat merebut mereka dari tangan Bapa.”.
Ini jelas menunjukkan bahwa keselamatan tidak bisa hilang!
c) Ini disebut sebagai ‘the greatest possession’ [= milik yang terbesar].
Lenski: “Not to perish is to have; not to have is to perish” [= Tidak binasa artinya mempunyai (hidup kekal); tidak mempunyai (hidup kekal) artinya binasa] - hal 265.
Apapun yang saudara punyai, itu tidak ada artinya sama sekali kalau saudara tidak mempunyai hidup yang kekal ini!
Mat 16:26 - “Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?”.
d) Siapapun yang percaya kepada Yesus dikatakan ‘mempunyai’ hidup yang kekal.
Ini disebut ‘the greatest certainty’ [= kepastian terbesar]. Jadi, keselamatan / hidup kekal itu bukan hanya mungkin / kemungkinan besar diterima, tetapi pasti diterima!
3) Percaya kepada Dia (Yesus Kristus).
Cara / jalan supaya tidak binasa tetapi beroleh hidup kekal adalah dengan percaya kepada Yesus Kristus. 
Karena sudah adanya korban Yesus Kristus, maka jalan untuk selamat itu menjadi begitu sederhana dan mudah, yaitu hanya dengan percaya kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Cara / jalan ini disebut sebagai ‘the greatest simplicity’ [= kesederhanaan terbesar].
Kita tidak mempercayai keselamatan karena perbuatan baik ataupun karena iman + perbuatan baik! Ini merupakan cara / jalan yang ruwet dan mustahil! Semboyan Reformasi adalah SOLA FIDE [= hanya iman].
Ef 2:8-9 - “(8) Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, (9) itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.”.
Tetapi karena begitu sederhana, banyak orang lalu meremehkan cara / jalan ini. Tetapi kalau saudara tidak mau jalan yang sederhana ini, tidak ada jalan untuk selamat!
Dan satu hal lagi: ini ditawarkan kepada ‘whosoever’ [= siapapun]. Dan ini disebut sebagai ‘the greatest invitation’ [= tawaran / undangan yang terbesar]. Jangan sia-siakan undangan ini! Mari kita percaya dan menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat kita, dan bahkan dengan membagikannya / menceritakannya kepada orang-orang lain. Maukah saudara? Tuhan memberkati saudara semua.
-AMIN

Selasa, 21 Januari 2014

PENGHAKIMAN AKHIR ZAMAN (2)

Kelanjutan dari : http://golgothaministrysby.blogspot.com/2014/01/penghakiman-akhir-zaman-1.html

2.   Kitab Suci / Alkitab juga termasuk dalam ‘semua kitab’ itu.
Wiersbe: “What books are involved in this final judgment? The Bible will be there, according to John 12:48. The very Word that sinners hear and reject today will judge them on the last day” (= Kitab-kitab apa yang terlibat dalam penghakiman akhir ini? Alkitab akan ada di sana, menurut Yoh 12:48. Firman itu sendiri, yang didengar dan ditolak oleh orang-orang berdosa pada saat ini, akan menghakimi mereka pada hari terakhir).
Yoh 12:48 - “Barangsiapa menolak Aku, dan tidak menerima perkataanKu, ia sudah ada hakimnya, yaitu firman yang telah Kukatakan, itulah yang akan menjadi hakimnya pada akhir zaman”.
Jadi, kalau Alkitab kita termasuk dalam ‘semua kitab’ itu sangat masuk akal dan Alkitabiah, karena ada dasar Kitab Sucinya, yaitu Yoh 12:48.

Tetapi ada yang menafsirkan secara sangat gila bahwa kata-kata ‘semua kitab’ dalam Wah 20:12 itu menunjuk pada seadanya Kitab Suci dari semua agama. Orang-orang Liberal senang dengan tafsiran gila yang sama sekali tidak berdasar ini. Tetapi kebenarannya adalah: Tuhan hanya mempunyai satu Kitab Suci, yaitu Alkitab, yang betul-betul merupakan FirmanNya, dan ini saja yang akan Dia jadikan dasar penghakiman, bukan semua Kitab Suci lain, yang bukan merupakan FirmanNya!
Juga dari terjemahan KJV yang saya berikan di atas (juga Kitab Suci bahasa Inggris yang lain) terlihat dengan lebih jelas bahwa ay 12b menunjukkan bahwa kitab-kitab itu berisi perbuatan-perbuatan dari orang-orang yang akan dihakimi tersebut.
Kalau Alkitab dianggap termasuk, ini masih masuk akal, karena bisa saja Alkitab yang adalah Firman Tuhan itu, dijadikan standar untuk menilai perbuatan-perbuatan itu benar atau salah (bdk. Yoh 12:48). Tetapi kalau Kitab Suci - Kitab Suci agama lain, itu bukan Firman Tuhan, dan sangat tidak masuk akal dan tidak Alkitabiah bahwa Tuhan menjadikan Kitab Suci - Kitab Suci agama lain itu sebagai standard, karena kalau demikian, standardnya akan berbeda-beda dan bahkan saling bertentangan. Tidak ada pengadilan manapun yang pakai standard ganda, selalu standard tunggal. Dan di sini juga, standard pasti hanya Alkitab, tidak mungkin Kitab Suci - Kitab Suci agama-agama lain.

Matthew Henry: “‘The books were opened.’ What books? The books of God’s omniscience, who is greater than our consciences, and knows all things (there is a book of remembrance with him both for good and bad); and the book of the sinner’s conscience, which, though formerly secret, will now be opened. And another book shall be opened - the book of the scriptures, the statute-book of heaven, the rule of life. This book is opened as containing the law, the touchstone by which the hearts and lives of men are to be tried. This book determines matter of right; the other books give evidence of matters of fact” [= ‘Kitab-kitab dibuka’. Kitab-kitab apa? Kitab kemaha-tahuan Allah, yang lebih besar dari hati nurani kita, dan mengetahui segala sesuatu (ada suatu kitab ingatan dengan Dia untuk yang baik dan yang jahat); dankitab dari hati nurani orang berdosa, yang sekalipun dulunya tersembunyi, sekarang akan dibuka. Dan kitab lain yang akan dibuka adalah Kitab Suci, kitab undang-undang surga, peraturan / standard dari kehidupan. Kitab ini dibuka karena berisikan hukum, batu penguji dengan mana hati dan kehidupan manusia diuji. Kitab ini menentukan hal yang benar; kitab-kitab yang lain memberikan bukti tentang faktanya].

The Bible Exposition Commentary (NT): “Jesus Christ will judge these unsaved people on the basis of what is written ‘in the books.’ What books? For one thing, God’s Word will be there. The Word that I have spoken, the same shall judge him in the last day’ (John 12:48). Every sinner will be held accountable for the truth he or she has heard in this life. There will also be a book containing the works of the sinners being judged, though this does not suggest that a person can do good works sufficient to enter heaven (Eph 2:8-9; Titus 3:5). Why, then, will Jesus Christ consider the works, good and bad, of the people before the White Throne? To determine the degree of punishment they will endure in hell. All of these people will be cast into hell. Their personal rejection of Jesus Christ has already determined their destiny. But Jesus Christ is a righteous Judge, and He will assign each sinner the place that he deserves” [= Yesus Kristus akan menghakimi orang-orang yang tidak selamat berdasarkan apa yang tertulis ‘dalam kitab-kitab itu’. Kitab-kitab apa? Yang pertama, Firman Allah akan ada di sana. Firman yang telah Aku katakan, Firman yang sama akan menghakimi dia pada hari terakhir (Yoh 12:48). Setiap orang berdosa akan dianggap bertanggung jawab untuk kebenaran yang telah ia dengar dalam kehidupan ini. Di sana juga akan ada kitab berisikan perbuatan-perbuatan dari orang-orang berdosa yang dihakimi, sekalipun ini tidak berarti bahwa seseorang bisa berbuat baik secara cukup untuk masuk surga (Ef 2:8-9; Titus 3:5). Lalu, mengapa Yesus Kristus akan mempertimbangkan perbuatan, baik dan jahat, dari orang-orang di depan Takhta Putih? Untuk menentukan tingkat hukuman yang akan mereka tanggung di neraka. Semua orang-orang ini akan dilemparkan ke neraka. Penolakan pribadi mereka terhadap Yesus Kristus telah menentukan nasib mereka. Tetapi Yesus Kristus adalah seorang Hakim yang benar / adil, dan Ia akan memberikan setiap orang berdosa tempat yang layak ia dapatkan].
Ef 2:8-9 - “(8) Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, (9) itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri”.
Tit 3:5 - “pada waktu itu Dia telah menyelamatkan kita, bukan karena perbuatan baik yang telah kita lakukan, tetapi karena rahmatNya oleh permandian kelahiran kembali dan oleh pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh Kudus”.

c)         Kitab kehidupan juga dibuka pada saat itu.

1.   Kalau kitab kehidupan baru dibuka pada saat itu, bagaimana Yesaya Pariadji bisa berkata bahwa ia melihat namanya dan istrinya dalam satu halaman di dalam kitab kehidupan itu?
Pdt. Drs. Yesaya Pariadji: “tangan Tuhan Yesus menunjuk suatu buku yang sangat besar, ... saya mendengar kalimat, suaraNya: Pariadji, lihat ... namamu tercacat di Sorga sebagai warga Kerajaan Sorga ... Satu halaman dengan istrimu, Etty Darniaty ... Mengapa nama saya dan nama istri saya tercatat sebagai warga Kerajaan Sorga? Kalimat yang kedua, Tuhan Yesus berkata kepada saya: Karena kamu bisa menjadi seorang imam yang kudus di dalam rumah tanggamu” - ‘Majalah Tiberias’, Edisi II / Tahun I, hal 8.
Pdt. Drs. Yesaya Pariadji: “Saya dan istri memang tercatat sebagai warga Kerajaan Sorga. Kami memperoleh janji yang sangat indah, kami dijanjikan akan diundang ke Sorga, karena kami berjanji hidup yang suci di dalam rumah tangga kami” - ‘Majalah Tiberias’, Edisi IV / Tahun II, hal 6.
Kesalahan / kesesatannya bukan hanya karena ia mengatakan telah melihat namanya dan nama istrinya dalam satu halaman, tetapi juga karena hal itu ia dasarkan pada perbuatan baiknya, bukan pada imannya kepada Kristus.

2.   Hanya orang yang namanya tertulis dalam kitab kehidupan itu yang masuk surga.
Luk 10:20 - “Namun demikian janganlah bersukacita karena roh-roh itu takluk kepadamu, tetapi bersukacitalah karena namamu ada terdaftar di sorga.’”.
Fil 4:3 - “Bahkan, kuminta kepadamu juga, Sunsugos, temanku yang setia: tolonglah mereka. Karena mereka telah berjuang dengan aku dalam pekabaran Injil, bersama-sama dengan Klemens dan kawan-kawanku sekerja yang lain, yang nama-namanya tercantum dalam kitab kehidupan”.
Catatan: Paulus tahu bahwa nama-nama mereka tercantum dalam kitab kehidupan bukan karena ia melihat kitab kehidupan itu, tetapi karena orang-orang yang ia sebutkan adalah orang-orang percaya, dan karena itu pasti nama mereka tercantum dalam kitab kehidupan. Jadi, ini sangat berbeda dengan Yesaya Pariadji, yang mengaku melihat sendiri namanya dan nama istrinya ada dalam satu halaman dalam kitab kehidupan.

Wah 21:27 - “Tetapi tidak akan masuk ke dalamnya sesuatu yang najis, atau orang yang melakukan kekejian atau dusta, tetapi hanya mereka yang namanya tertulis di dalam kitab kehidupan Anak Domba itu”.

John Stott: “One day the books will be opened, and the dead will be judged by what is written in the books, and everyone whose name is not found written in the Book of Life will be ‘thrown into the lake of fire’ (Rev. 20:11-15). Is your name written in the Lamb’s book of life? You can have a name among men for being alive (like the Church of Sardis) and still have no entry in God’s book of the living. ... Jesus told His disciples to rejoice that their names were ‘written in heaven’ (Lk. 10:20; cf. Heb. 12:23). Can you rejoice like that today?” [= Suatu hari kitab-kitab ini akan dibuka, dan orang mati akan dihakimi berdasarkan apa yang tertulis dalam kitab-kitab ini, dan setiap orang yang namanya tidak ditemukan tertulis dalam Kitab Kehidupan akan ‘dilemparkan ke dalam lautan api’ (Wah 20:11-15). Apakah namamu tertulis dalam kitab kehidupan Anak Domba? Di antara manusia kamu bisa terkenal sebagai orang yang hidup (seperti Gereja Sardis) tetapi tetap tidak masuk dalam kitab orang hidup dari Allah. ... Yesus menyuruh murid-muridNya untuk bersukacita bahwa nama mereka ‘tertulis di surga’ (Luk 10:20; bdk. Ibr 12:23). Bisakah engkau bersukacita seperti itu hari ini?] - hal 97.
Ibr 12:23 - “dan kepada jemaat anak-anak sulung, yang namanya terdaftar di sorga, dan kepada Allah, yang menghakimi semua orang, dan kepada roh-roh orang-orang benar yang telah menjadi sempurna”.
Wah 3:1 - “‘Dan tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Sardis: Inilah firman Dia, yang memiliki ketujuh Roh Allah dan ketujuh bintang itu: Aku tahu segala pekerjaanmu:engkau dikatakan hidup, padahal engkau mati!”.

Jamieson, Fausset & Brown: “‘Book of life.’ ... Besides the general book of all, there is a special book for believers, in which their names are written, not for their works, but for Christ’s work for, and in, them: ‘the Lamb’s book of life.’ Electing grace has singled them out from the mass” (= ‘Kitab kehidupan’ ... Disamping kitab yang umum tentang semua, di sana ada kitab yang khusus untuk orang-orang percaya, dalam mana nama-nama mereka dituliskan, bukan karena perbuatan mereka, tetapi karena pekerjaan Kristus bagi, dan di dalam, mereka: ‘kitab kehidupan Anak Domba’. Kasih karunia yang memilih telah memilih mereka dari orang banyak).

Barnes’ Notes: “‘And another book was opened, which is the book of life.’ The book containing the record of the names of all who shall enter into life, or into heaven. ... The meaning here is, that John saw not only the general books opened containing the records of the deeds of people, but that he had a distinct view of the list or roll of those who were the followers of the Lamb. It would seem that in regard to the multitudes of the impenitent and the wicked, the judgment will proceed ‘on their deeds’ in general; in regard to the righteous, it will turn on the fact that their names had been enrolled in the book of life. That will be sufficient to determine the nature of the sentence that is to be passed on them. He will be safe whose name is found in the book of life; no one will be safe who is to have his eternal destiny determined by his own deeds” (= ‘Dan dibuka juga sebuah kitab lain, yaitu kitab kehidupan’. Kitab ini berisikan catatan dari nama-nama dari semua orang yang akan masuk ke dalam hidup, atau ke dalam surga. ... Artinya di sini adalah, bahwa Yohanes tidak hanya melihat kitab-kitab umum berisikan catatan dari perbuatan-perbuatan orang-orang dibuka, tetapi bahwa ia mempunyai pandangan yang berbeda / nyata tentang suatu daftar dari mereka yang adalah pengikut-pengikut dari Anak Domba itu.Kelihatannya berkenaan dengan orang banyak yang tidak bertobat dan orang-orang jahat, penghakiman akan dilakukan berdasarkan perbuatan mereka secara umum; tetapi berkenaan dengan orang-orang benar, itu akan bergantung pada fakta bahwa nama-nama mereka telah terdaftar dalam kitab kehidupan. Itu akan cukup untuk menentukan sifat dari hukuman / vonis yang akan diberikan kepada mereka. Ia yang namanya ditemukan dalam kitab kehidupan akan selamat; tak seorangpun yang nasib kekalnya ditentukan oleh perbuatan-perbuatannya sendiri akan selamat).

Barnes’ Notes: “‘According to their works.’ ... The fact that the name of anyone was found in the book of life would seem, as above remarked, to determine the ‘certainty’ of salvation; but the amount of reward would be in proportion to the service rendered to the Redeemer, and the attainments made in piety” (= ‘Menurut perbuatan mereka’. ... Fakta bahwa nama dari siapapun ditemukan dalam kitab kehidupan kelihatannya, seperti dikatakan di atas, menentukan kepastian keselamatan; tetapi jumlah pahala akan sebanding dengan pelayanan yang diberikan kepada sang Penebus, dan pencapaian yang dibuat dalam kesalehan).

Kesimpulan dari bagian ini: Orang-orang percaya namanya tercantum dalam kitab kehidupan. Hanya mereka yang akan masuk surga. Orang-orang yang tidak percaya akan dihakimi berdasarkan perbuatan mereka, dan mereka tidak mungkin bisa selamat. Tidak ada dosa dari orang-orang percaya yang akan dinyatakan pada hari pengakiman itu, karena semuanya telah dihapuskan oleh darah Kristus. Yang ada hanya perbuatan-perbuatan baik dari orang-orang percaya, dan itu dijadikan dasar untuk menentukan pahala orang-orang percaya itu di surga.

IV) Keadaan akhir.

Ay 14-15: “(14) Lalu maut dan kerajaan maut itu dilemparkanlah ke dalam lautan api. Itulah kematian yang kedua: lautan api. (15) Dan setiap orang yang tidak ditemukan namanya tertulis di dalam kitab kehidupan itu, ia dilemparkan ke dalam lautan api itu”.

1)   Maut dan kerajaan maut (Hades) dilemparkan ke neraka.

Ay 14: “Lalu maut dan kerajaan maut itu dilemparkanlah ke dalam lautan api. Itulah kematian yang kedua: lautan api.

Barnes’ Notes: “‘And death and hell were cast into the lake of fire.’ ... The idea is, that death, considered as the separation of soul and body, with all the attendant woes, will exist no more. The righteous will live forever, and the wicked will linger on in a state never to be terminated by death. The reign of Death and Hades, as such, would come to an end, and a new order of things would commence where this would be unknown. ... There would be ‘death’ still, but a ‘second death differs from the first, in the fact that it is not a separation of the soul and body, but a state of continual agony like what the first death inflicts - like that in intensity, but not in kind’ (Prof. Stuart)” [= ‘Lalu maut dan kerajaan maut itu dilemparkanlah ke dalam lautan api’. ...Gagasannya adalah, bahwa maut, dianggap sebagai perpisahan jiwa dan tubuh, dengan semua kesengsaraan yang melayaninya, tidak akan ada lagi. Orang benar akan hidup selama-lamanya, dan orang jahat akan tetap hidup dalam suatu keadaan yang tidak akan pernah diakhiri oleh kematian. Pemerintahan dari Maut dan Hades yang seperti itu akan berakhir, dan suatu susunan baru dari hal-hal akan mulai dimana ini tidak akan dikenal. ... Memang tetap akan ada ‘maut / kematian’, tetapi itu adalah ‘kematian kedua yang berbeda dengan kematian pertama, dalam fakta bahwa itu bukanlah perpisahan dari jiwa dan tubuh, tetapi suatu keadaan dari kesengsaraan yang terus menerus, seperti yang diberikan oleh kematian pertama - seperti itu dalam intensitas, tetapi bukan dalam jenisnya’ (Prof. Stuart)].

2)   Orang-orang yang tidak percaya juga dilemparkan ke neraka.
Ay 15: “Dan setiap orang yang tidak ditemukan namanya tertulis di dalam kitab kehidupan itu, ia dilemparkan ke dalam lautan api itu”.
Bdk. Wah 21:8 - “Tetapi orang-orang penakut, orang-orang yang tidak percaya, orang-orang keji, orang-orang pembunuh, orang-orang sundal, tukang-tukang sihir, penyembah-penyembah berhala dan semua pendusta, mereka akan mendapat bagian mereka di dalam lautan yang menyala-nyala oleh api dan belerang; inilah kematian yang kedua.’”.

a)         Hubungan kematian pertama dan kematian kedua.
Barnes’ Notes: “when it is said that ‘death and hell were cast into the lake of fire,’ it cannot be meant that all punishment will cease forever, and that all will be saved, for the writer goes on to describe what he calls ‘the second death’ as still existing. ... John describes this as the second death, not because it in all respects resembles the first death, but because it has so many points of resemblance that it may be properly called ‘death.’ Death, in any form, is the penalty of law; it is attended with pain; it cuts off from hope, from friends, from enjoyment; it subjects him who dies to a much-dreaded condition, and in all these respects it was proper to call the final condition of the wicked ‘death’ - though it would still be true that the soul would live. There is no evidence that John meant to affirm that the second death would imply an extinction of ‘existence.’ Death never does that; the word does not naturally and properly convey that idea” (= pada waktu dikatakan bahwa ‘maut dan kerajaan maut itu dilemparkanlah ke dalam lautan api’, itu tidak bisa diartikan bahwa semua hukuman akan berakhir selama-lamanya, dan bahwa semua akan diselamatkan, karena sang penulis melanjutkan dengan menggambarkan apa yang ia sebut ‘kematian yang kedua’ sebagai tetap ada. ... Yohanes menggambarkan ini sebagai kematian kedua, bukan karena itu dalam segala hal menyerupai kematian pertama, tetapi karena itu mempunyai begitu banyak point kemiripan sehingga itu bisa secara benar disebut ‘kematian’. Kematian, dalam bentuk apapun, merupakan hukuman dari hukum; itu disertai dengan rasa sakit; itu memotong kita dari pengharapan, dari teman-teman, dari penikmatan; itu membuat orang yang mati sebagai sasaran dari kondisi yang sangat ditakuti, dan dalam semua hal-hal ini adalah benar untuk menyebut kondisi akhir dari orang-orang jahat sebagai ‘kematian’ - sekalipun adalah tetap benar bahwa jiwa akan hidup. Tidak ada bukti bahwa Yohanes bermaksud untuk menegaskan bahwa kematian kedua ini secara implicit menunjuk pada pemusnahan keberadaan. Kematian tidak pernah melakukan hal itu; secara wajar dan benar kata itu tidak menyampaikan gagasan / pengertian itu).

Barnes’ Notes: “the wicked will be destroyed, in what may be properly called the ‘second’ death. ... It does not mean that they will be ‘annihilated,’ for ‘death’ never implies that. The meaning is, that this will be a cutting off from what is properly called ‘life,’ from hope, from happiness, and from peace, and a subjection to pain and agony, which it will be proper to call ‘death’ - death in the most fearful form; death that will continue for ever. No statements in the Bible are more clear than those which are made on this point; no affirmation of the eternal punishment of the wicked could be more explicit than those which occur in the sacred Scriptures” (= orang-orang jahat akan dihancurkan, dalam apa yang secara benar disebut ‘kematian yang kedua’. ... Itu tak berarti bahwa mereka akan dimusnahkan, karena ‘kematian’ tidak pernah mempunyai arti seperti itu. Artinya adalah, bahwa ini merupakan suatu pemotongan dari apa yang secara benar disebut ‘hidup’, dari pengharapan, dari kebahagiaan, dan dari damai, dan suatu ketundukan pada rasa sakit dan penderitaan, yang menyebabkan benar untuk menyebutnya ‘kematian’ - kematian dalam bentuknya yang paling menakutkan; kematian yang akan berlangsung selama-lamanya. Tidak ada pernyataan dalam Alkitab yang lebih jelas dari hal-hal yang dibuat tentang hal ini; tidak ada penegasan tentang hukuman kekal dari orang-orang jahat yang bisa lebih explicit dari itu yang ada dalam Kitab Suci yang kudus).

Adam Clarke: “‘This is the second death.’ The first death consisted in the separation of the soul from the body for a season; the second death in the separation of body and soul from God forever. The first death is that from which there may be a resurrection; the second death is that from which there can be no recovery. By the first the body is destroyed during time; by the second, body and soul are destroyed through eternity”(= ‘Inilah kematian yang kedua’. Kematian yang pertama terdiri dari pemisahan dari jiwa dari tubuh untuk sementara; kematian kedua terdiri dari pemisahan dari tubuh dan jiwa dari Allah untuk selama-lamanya. Kematian pertama adalah itu dari mana bisa ada suatu kebangkitan; kematian kedua adalah itu dari mana tidak bisa ada pemulihan. Oleh kematian yang pertama tubuh dihancurkan dalam waktu; oleh kematian yang kedua tubuh dan jiwa dihancurkan dalam sepanjang kekekalan).

b)   Jelas bahwa neraka / lautan api itu merupakan suatu tempat, dan itu adalah tempat penyiksaan.

Seiss’ Apocalypse: “What that ‘lake of fire’ is I cannot tell, I do not know, and I pray God that I may never find out. That it is a place, everything said about it proves. People in corporeal life, as these condemned ones are, must needs have locality. That it is a place of woe, pain, and dreadful torment, is specifically stated, and is the chief idea in every image of the description” (= Apa ‘lautan api’ itu saya tidak bisa memberi tahu, saya tidak tahu, dan saya berdoa kepada Allah supaya saya tidak pernah bisa tahu. Bahwa itu adalah suatu tempat, segala sesuatu yang mengatakan tentangnya membuktikannya. Orang-orang dalam hidup badaniah, seperti orang-orang yang dihukum ini, pasti membutuhkan tempat. Bahwa itu adalah suatu tempat kesengsaraan, rasa sakit, dan siksaan yang mengerikan, dinyatakan secara khusus, dan merupakan gagasan utama dalam setiap bayangan penggambaran).

Newell: “The very brevity of this verse is one of the elements of its awfulness. ... It is not love, or faithfulness, to avoid them because they are such terrible facts” [= Singkatnya ayat ini (Wah 20:15), adalah salah satu elemen dari sifat mengerikannya. ... Bukanlah kasih, atau kesetiaan, untuk menghindari mereka karena mereka adalah fakta-fakta yang begitu mengerikan] - hal 334.

Seiss’ Apocalypse: “But judgment is given as the works have been. There is just gradation in the sorrows of the lost, as well as in the rewards of the righteous. ... Though all the finally condemned go into one place, they do not all alike feel the same pains, or sink to the same depths in those dreadful flames. But the mildest hell is nevertheless HELL, and quite too intolerable for any sane being to be content to make experiment of it” (= Tetapi penghakiman diberikan sesuai dengan perbuatan-perbuatannya. Ada tingkatan-tingkatan yang adil dalam kesedihan / penderitaan dari orang-orang yang terhilang, maupun dalam pahala dari orang-orang benar. ... Sekalipun semua pada akhirnya dihukum dengan pergi ke satu tempat, tetapi mereka semua tidak merasakan rasa sakit yang sama, atau tenggelam pada kedalaman yang sama dalam nyala api yang mengerikan itu. Tetapi neraka yang paling ringan / sejuk tetap adalah neraka, dan terlalu tidak tertahankan untuk setiap orang waras yang mau mencobanya).

c)   ‘Orang-orang kristen’ yang keberatan dengan doktrin hukuman kekal di neraka.

The Bible Exposition Commentary (NT): “When the judgment is finished, all of the lost will be cast into hell, the lake of fire, the second death. Many people reject the biblical doctrine of hell as being ‘unchristian,’ and yet Jesus clearly taught its reality (Matt 18:8; 23:15,33; 25:46; Mark 9:46). A sentimental kind of humanistic religion will not face the reality of judgment but teaches a God who loves everyone into heaven and sends no one to hell” [= Pada waktu penghakiman selesai, semua orang-orang yang terhilang akan dilemparkan ke neraka, lautan api, kematian yang kedua. Banyak orang menolak doktrin Alkitabiah tentang neraka sebagai ‘tidak kristen’, tetapi Yesus dengan jelas mengajar kenyataan tentang hal ini (Mat 18:8; 23:15,33; 25:46; Mark 9:46). Suatu jenis agama yang sentimentil yang bersifat humanisme tidak akan menghadapi kenyataan dari penghakiman tetapi mengajarkan seorang Allah yang mengasihi setiap orang ke dalam surga dan tidak mengirimkan siapapun ke neraka].
Catatan: humanisme adalah ajaran yang menekankan kepentingan manusia.

Bible Knowledge Commentary: “The lake of fire is the second death, the final destination of the wicked. The doctrine of eternal punishment has always been a problem to Christians who enjoy the grace of God and salvation in Christ. The Bible is clear, however, that the punishment of the wicked is eternal. ... Though many have attempted to find some scriptural way to avoid the doctrine of eternal punishment, as far as biblical revelation is concerned there are only two destinies for human souls; one is to be with the Lord and the other is to be forever separated from God in the lake of fire. This solemn fact is motivation for carrying the gospel to the ends of the earth whatever the cost, and doing everything possible to inform and challenge people to receive Christ before it is too late” (= Lautan api adalah kematian yang kedua, tujuan akhir dari orang-orang jahat. Doktrin dari hukuman kekal selalu menjadi problem bagi orang-orang kristen yang menikmati kasih karunia Allah dan keselamatan dalam Kristus. Tetapi Alkitab adalah jelas, bahwa hukuman dari orang jahat itu kekal. ... Sekalipun banyak orang telah mencoba untuk menemukan beberapa jalan yang Alkitabiah untuk menghindari doktrin hukuman kekal, sejauh menyangkut wahyu yang Alkitabiah, hanya ada 2 tujuan / nasib bagi jiwa-jiwa manusia; yang satu adalah bersama dengan Tuhan, dan yang lain adalah terpisah dari Allah untuk selama-lamanya dalam lautan api. Fakta yang khidmat ini merupakan motivasi / pendorong untuk membawa Injil ke ujung-ujung bumi tak peduli berapapun ongkosnya, dan melakukan apapun yang mungkin untuk memberi tahu dan menantang orang-orang untuk menerima Kristus sebelum terlambat).

d)   Orang-orang Kristen yang mempunyai pandangan yang ‘bijaksana’ dan juga orang Kristen yang mempercayai adanya ‘second chance’ (= kesempatan yang kedua).

Pulpit Commentary: “MEN WILL BE JUDGED ACCORDING TO THE LIGHT THEY HAD; i.e. according to the use they made of the light God had granted them (Rom 2:11-15; Matt 10:15; 11:21-24; Luke 11:31,32; 12:47,48; Acts 10:34,35). The principles here laid down are those of most manifest equity, and we are quite sure that there will be nothing contrary thereto in the sentence of God. The late Dr. Lawson, of Selkirk, was once asked by a flippant young man how he could think that any, such as Plato and Socrates, would be lost because they had not heard of Jesus Christ. He replied, ‘If it please God in his mercy, and through faith in his Son, to take you and me to heaven, and that we shall find there Socrates and Plato, I am sure we shall be glad indeed to meet them; but if we shall not find them in heaven, I am also sure that the Judge of all the earth will be able to assign a good reason for their absence, and that none in heaven will be either able or willing to dispute either the justice or the wisdom of his sovereign arrangements.’ We may also add that Scripture not obscurely intimates that every soul will, before the dread day comes, be brought into contact with the Lord Jesus for acceptance or rejection; and those who followed conscientiously the dimmer light will surely accept joyfully the clearer. Certainly the Judge of all the earth will do right” [= Orang-orang akan dihakimi menurut terang yang mereka miliki; yaitu menurut bagaimana mereka menggunakan terang yang Allah telah berikan kepada mereka (Ro 2:11-15; Mat 10:15; 11:21-24; Luk 11:31,32; 12:47,48; Kis 10:34,35). Prinsip-prinsip yang diletakkan di sini adalah prinsip-prinsip yang paling menyatakan keadilan, dan kami cukup yakin bahwa di sana tidak akan ada apapun yang bertentangan dengannya dalam hukuman / vonis dari Allah. Almarhum Dr. Lawson, dari Selkirk, pernah ditanya oleh seorang muda yang bermulut usil, bagaimana ia bisa berpikir bahwa siapapun, seperti Plato dan Socrates, akan terhilang karena mereka tidak pernah mendengar tentang Yesus Kristus. Ia menjawab: ‘Jika itu menyenangkan Allah dalam belas kasihanNya, dan melalui iman kepada AnakNya, untuk membawa engkau dan aku ke surga, dan bahwa kita bertemu dengan mereka di surga, aku yakin bahwa kita akan gembira bertemu dengan mereka; tetapi jika kita tidak bertemu dengan mereka di surga, aku juga yakin bahwa Hakim dari seluruh bumi akan bisa memberikan alasan yang baik untuk absennya mereka, dan bahwa tidak ada orang di surga akan bisa atau mau mempertengkarkan keadilan atau hikmat dari pengaturanNya yang berdaulat’. Kami juga bisa menambahkan bahwa Kitab Suci tidak secara samar-samar menunjukkan bahwa setiap jiwa akan, sebelum hari yang menakutkan itu tiba, dipertemukan dengan Tuhan Yesus untuk penerimaan atau penolakan; dan mereka yang dengan sungguh-sungguh telah mengikuti terang yang lebih suram, pasti akan menerima dengan sukacita terang yang lebih besar. Pasti Hakim dari seluruh bumi akan melakukan hal yang benar] - hal 489-490.

Ada 2 hal yang perlu dibahas tentang kutipan dari Pulpit Commentary di atas ini:

1.   Saya berpendapat, kata-kata dari Dr. Lawson itu, yang mungkin oleh banyak orang akan dianggap sebagai kata-kata yang ‘bijaksana’, sudah berbau ketidak-yakinan bahwa Yesus adalah satu-satunya jalan. Mungkin sekali orang-orang seperti  Dr. Lawson itu berkata seperti itu, karena rasa hormat dan kekaguman yang luar biasa terhadap orang-orang seperti Plato dan Socrates, yang memang merupakan ahli-ahli filsafat yang luar biasa. Tetapi kekaguman kepada siapapun (misalnya Lady Di, Mother Theresa, dsb) tetap mengharuskan kita untuk bersikap obyektif dan hanya berdasarkan pada Firman Tuhan tentang keselamatan orang tersebut. Saya juga mendengar bahwa Stephen Tong percaya Kong Hu Cu bisa selamat, dan itu berarti ia sama saja dengan Dr. Lawson itu.
Catatan: Encyclopedia Britannica 2007 mengatakan bahwa Plato adalah ahli filsafat Yunani yang dilahirkan tahun 428 / 427 SM, dan mati pada tahun 348 / 347 SM. Sedangkan Socrates juga adalah ahli filsafat Yunani, yang lahir pada tahun 470 SM, dan mati pada tahun 399 SM. Jadi, keduanya hidup pada jaman sebelum Kristus, dan untuk mereka yang hidup sebelum Kristus, yang bisa diselamatkan hanyalah dari kalangan bangsa Israel / Yahudi, atau orang non Israel yang masuk agama Yahudi / diyahudikan.
Bdk. Ro 2:12 - “Sebab semua orang yang berdosa tanpa hukum Taurat akan binasa tanpa hukum Taurat; dan semua orang yang berdosa di bawah hukum Taurat akan dihakimi oleh hukum Taurat”.

2.   Dan tambahan bagian terakhir yang diberikan oleh penafsir dari Pulpit Commentary itu (bagian yang saya garis-bawahi), jelas-jelas juga merupakan ajaran sesat, yang menunjukkan bahwa setelah kematianpun seseorang bisa bertobat / percaya kepada Kristus dan diselamatkan!
Bandingkan kata-kata itu dengan komentar di bawah ini.

Pulpit Commentary: “That the final state of every soul will depend on its attitude to the Lord Jesus Christ. ... That for those who reject Jesus Christ in this life there will be no such thing as making up lost time, and that they will never attain to the blessedness they would have reached if they had received Christ in this, the accepted time. Their time once lost is lost forever, and the corresponding loss of blessedness will never be retrieved” (= Bahwa keadaan akhir dari setiap jiwa / orang akan tergantung pada sikapnya terhadap Tuhan Yesus Kristus. ... Bahwa untuk mereka yang menolak Yesus Kristus dalam hidup ini di sana tidak akan ada apa yang disebut mengejar / menebus waktu yang hilang, dan bahwa mereka tidak akan pernah mencapai keadaan diberkati yang akan sudah mereka capai, seandainya mereka telah menerima Kristus dalam waktu ini, waktu yang diterima ini. Waktu mereka yang sekali hilang, hilang selama-lamanya, dan kehilangan berkat yang sesuai tidak akan pernah didapatkan kembali) - hal 494.

Catatan: jangan heran kalau Pulpit Commentary di sini memberikan kata-kata yang bertentangan dengan kata-kata dari Pulpit Commentary di atas. Buku tafsiran ini berisikan komentar-komentar dan khotbah-khotbah dari banyak orang, sehingga bisa saja terjadi pertentangan di antara mereka.

e)   Siapapun orang yang namanya tak tertulis dalam kitab kehidupan itu, akan dilemparkan ke dalam lautan api / neraka.

Seiss’ Apocalypse: “Ho, ye unbelieving people - ye dishonest people - ye profane people - ye lewd men and women - ye slaves of lust and appetite - ye scoffers at the truth of God - ‘How can ye escape the damnation of hell?’ (Matt 23:33). Ye people of business - ye whose souls are absorbed with the pursuit of gain - ye people of wealth without riches toward God - ye passengers on the voyage of life, without prayer, without Church relations, without concern for your immortal good, your God, or the eternity before you hear: ‘Hell hath enlarged herself, and opened her mouth without measure, and your glory, and your multitude, and your pomp, and your rejoicing, shall descend into it!’ (Isa 5:14). Ye almost Christians, lingering these many years on the margin of the Kingdom, looking in through the gates, but never quite ready to enter them, intending but never performing, often wishing but still postponing, hoping but without right to hope - the appeal is to you: ‘How shall ye escape if ye neglect so great salvation?’ (Heb 2:2-4). And ye who call yourselves Christians but have forgotten your covenant promises - ye Terahs and Lot’s wives, who have started out of the place of sin and death but hesitate halfway, and stay to look back - ye baptized Elymases, and Judases, and Balaams, who, through covetousness and feigned words make merchandise of the grace of God - see ye not that ‘your judgment now of a long time lingereth not, and your damnation slumbereth not!’ (2 Peter 2:3). And if there be anyone oblivious or indifferent toward these great matters - asleep amidst the dashing waves of coming retribution - the message is to you: ‘What meanest thou, O sleeper? Arise, call upon thy God, if so be that God shall think upon thee, that thou perish not!’ (Jonah 1:6). For if anyone be not found written in the Book of Life, he must be swallowed up by the Lake of Fire” [= Hai kamu orang-orang yang tidak percaya - kamu orang-orang yang tidak jujur - kamu orang-orang yang duniawi - kamu laki-laki dan perempuan yang cabul - kamu hamba-hamba dari nafsu dan nafsu makan - kamu pengejek-pengejek kebenaran Allah - ‘Bagaimanakah mungkin kamu dapat meluputkan diri dari hukuman neraka?’ (Mat 23:33). Kamu orang-orang bisnis - kamu yang jiwanya telah diasyikkan dengan pengejaran keuntungan - kamu orang-orang kaya tanpa kekayaan terhadap Allah - kamu penumpang-penumpang pada perjalanan kehidupan, tanpa doa, tanpa hubungan Gereja, tanpa kepedulian untuk kebaikan kekalmu, Allahmu, atau kekekalan di depanmu mendengar: ‘neraka telah memperbesar / memperluas dirinya sendiri, dan membuka mulutnya tanpa ukuran, dan kemuliaanmu, dan barang-barangmu yang banyak, dan kemegahanmu, dan kesukacitaanmu, akan turun ke dalamnya!’ (Yes 5:14). Kamu orang-orang yang hampir Kristen, berlambat-lambat selama banyak tahun pada tepi dari Kerajaan, melihat ke dalam melalui pintu-pintu gerbang, tetapi tidak pernah cukup siap untuk memasukinya, bermaksud tetapi tidak pernah melaksanakan, sering menginginkan tetapi tetap menunda, berharap tetapi tanpa hak untuk berharap - seruan ini adalah untukmu: ‘Bagaimanakah kamu akan luput jikalau kamu menyia-nyiakan keselamatan yang sebesar itu?’ (Ibr 2:2-4). Dan kamu yang menyebut dirimu sendiri orang-orang Kristen tetapi telah melupakan janji-janji perjanjianmu - kamu Terah-Terah dan istri-istri Lot, yang telah mulai / berangkat dari tempat dosa dan kematian tetapi ragu-ragu di tengah jalan, dan tinggal diam untuk menoleh ke belakang - kamu Elymas-Elymas yang telah dibaptis, dan Yudas-Yudas, dan Bileam-Bileam, yang melalui ketamakan dan kata-kata yang pura-pura membuat kasih karunia Allah sebagai barang dagangan - tidakkah kamu lihat bahwa ‘penghakimanmu / hukumanmu telah lama tersedia dan kebinasaanmu tidak akan tertunda!’ (2Pet 2:3). Dan jika di sana ada siapapun terlupa atau acuh tak acuh terhadap hal-hal besar ini - tidur di tengah-tengah gelombang pembalasan yang mendekat - pesan ini adalah untukmu: ‘Apa maksudmu, hai tukang tidur? Bangunlah, berserulah kepada Allahmu, barangkali Allah itu akan mengindahkanmu, sehingga kamu tidak binasa!’ (Yunus 1:6). Karena jika siapapun tidak ditemukan tertulis dalam kitab kehidupan, ia harus ditelan oleh Lautan Api].

Newell: “Let us mark certain facts here: 1. It is not the absence of good works in the book that doom a person. It is the absence of his name. Only names, not works, are in that book! 2. It is not the fact of evil works. Many of earth’s greatest sinners have their names in the Book of Life. 3. All whose names do not appear in the Book, are cast into the lake of fire. 4. All names there found in that day, will have been written before that day. There is no record of anyone’s name being written into the Book of Life upon that day, but rather the opposite: ‘If any was not found written.’ How overwhelmingly solemn is this!” (= Marilah kita memperhatikan beberapa fakta di sini: 1. Bukanlah absennya perbuatan baik dalam kitab, yang menghukum seseorang, tetapi absennya namanya. Hanya nama-nama, bukan perbuatan-perbuatan baik, ada dalam kitab itu! 2. Itu bukan fakta dari perbuatan-perbuatan jahat. Banyak orang-orang yang paling berdosa di bumi yang mempunyai nama mereka dalam kitab kehidupan itu. 3. Semua orang yang namanya tidak muncul dalam Kitab itu, dilemparkan ke dalam lautan api. 4. Semua nama yang ditemukan di sana pada hari itu, telah dituliskan sebelum hari itu. Tak ada catatan tentang nama siapapun yang dituliskan ke dalam kitab kehidupan pada hari itu, tetapi sebaliknya: ‘Dan setiap orang yang tidak ditemukan namanya tertulis’. Betapa sangat khidmatnya hal ini!) - hal 334.

f)    Hanya orang yang percaya kepada Yesus yang namanya tertulis dalam kitab kehidupan itu.

The Bible Exposition Commentary (NT): “In light of Calvary, no lost sinner can condemn God for casting him into hell. God has provided a way of escape, patiently waiting for sinners to repent. He will not lower His standards or alter His requirements. He has ordained that faith in His Son is the only way of salvation” (= Dalam terang dari Kalvari, tidak ada orang berdosa yang terhilang bisa mengecam / menyalahkan Allah karena melemparkannya ke dalam neraka. Allah telah menyediakan suatu jalan untuk lolos, dengan sabar menunggu orang-orang berdosa untuk bertobat. Ia tidak akan menurunkan standardNya atau mengubah tuntutanNya. Ia telah menentukan bahwa iman kepada AnakNya adalah satu-satunya jalan keselamatan).
Bdk. Ro 3:25a - “Kristus Yesus telah ditentukan Allah menjadi jalan pendamaian karena iman, dalam darahNya”.

Penutup.

Saudara tak perlu menjadi orang yang sangat jahat untuk bisa masuk neraka. Asal saudara adalah orang yang tidak sungguh-sungguh percaya kepada Kristus, tak peduli saudara adalah orang yang hampir percaya, atau hampir menjadi Kristen, maka saudara akan masuk ke neraka selama-lamanya. Karena itu, percayalah sekarang juga kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat saudara, dan saudara tak perlu takut pada penghakiman akhir jaman, neraka dan sebagainya!


-AMIN-

PENGHAKIMAN AKHIR ZAMAN (1)

Penghakiman akhir jaman
Wahyu 20:11-15

Wah 20:11-15 - “(11) Lalu aku melihat suatu takhta putih yang besar dan Dia, yang duduk di atasnya. Dari hadapanNya lenyaplah bumi dan langit dan tidak ditemukan lagi tempatnya. (12) Dan aku melihat orang-orang mati, besar dan kecil, berdiri di depan takhta itu. Lalu dibuka semua kitab. Dan dibuka juga sebuah kitab lain, yaitu kitab kehidupan. Dan orang-orang mati dihakimi menurut perbuatan mereka, berdasarkan apa yang ada tertulis di dalam kitab-kitab itu. (13) Maka laut menyerahkan orang-orang mati yang ada di dalamnya, dan maut dan kerajaan maut menyerahkan orang-orang mati yang ada di dalamnya, dan mereka dihakimi masing-masing menurut perbuatannya. (14) Lalu maut dan kerajaan maut itu dilemparkanlah ke dalam lautan api. Itulah kematian yang kedua: lautan api. (15) Dan setiap orang yang tidak ditemukan namanya tertulis di dalam kitab kehidupan itu, ia dilemparkan ke dalam lautan api itu”.

I) Yang menghakimi.

Ay 11-12: “(11) Lalu aku melihat suatu takhta putih yang besar dan Dia, yang duduk di atasnya. Dari hadapanNya lenyaplah bumi dan langit dan tidak ditemukan lagi tempatnya. (12) Dan aku melihat orang-orang mati, besar dan kecil, berdiri di depan takhta itu. Lalu dibuka semua kitab. Dan dibuka juga sebuah kitab lain, yaitu kitab kehidupan. Dan orang-orang mati dihakimi menurut perbuatan mereka, berdasarkan apa yang ada tertulis di dalam kitab-kitab itu.

1)   Ada suatu takhta putih besar.

a)         Takhta.

The Bible Illustrator (NT): “‘I saw a throne.’ There is a throne now, but men do not see it. There is a real government now, but it will be a visible one then. You know the sceptic has doubts, because he cannot see. He says, ‘Where is God, and whom is the throne? I have never seen it.’ Did you ever see the throne of England? I never did - but you know there is one; you know there is a government. I never saw the Queen, and I dare say many of you have not seen her, but you know there is a Queen. I never saw the great King, but He is here. He reigns; and by and by His throne will become visible, and faith and doubt will be lost in sight, and the believer will say, ‘It is He’; and the infidel will say, ‘It is He’; and there will be no more doubting and no more believing - it will be sight” (= ‘Aku melihat suatu takhta’. Di sana ada sebuah takhta sekarang, tetapi manusia tidak melihatnya. Di sana ada suatu pemerintahan yang nyata sekarang, tetapi itu akan merupakan suatu pemerintahan yang kelihatan pada saat itu. Engkau tahu orang-orang yang skeptik / suka ragu-ragu mempunyai keraguan, karena ia tidak bisa melihat. Ia berkata: ‘Dimanakah Allah, dan siapakah takhta itu? Aku tak pernah melihatnya’. Apakah engkau pernah melihat takhta Inggris? Aku tidak pernah melihatnya - tetapi engkau tahu takhta itu ada; engkau tahu di sana ada suatu pemerintahan. Aku tak pernah melihat sang Ratu, dan aku berani mengatakan banyak dari kalian yang tidak pernah melihatnya, tetapi engkau tahu di sana ada seorang Ratu. Aku tidak pernah melihat sang Raja yang besar / agung, tetapi Ia ada di sini. Ia bertakhta; dan segera takhtaNya akan menjadi kelihatan, dan iman dan keraguan akan hilang dalam penglihatan, dan orang percaya akan berkata: ‘Itu adalah Dia’; dan orang kafir akan berkata: ‘Itu adalah Dia’; dan di sana tidak akan ada lagi keraguan dan kepercayaan / iman - yang ada adalah penglihatan).

Tetapi kalau saudara baru ‘percaya’ pada saat itu, karena saudara sudah melihat, itu bukan iman, dan itu tidak akan menyelamatkan saudara! Jadi, percayalah sekarang, dan jangan menunda!

b)         Takhta itu besar dan berwarna putih.

Jamieson, Fausset & Brown: “‘Great.’ - in contrast to the ‘thrones’ (Rev. 20:4). ‘White’ - emblem of purity and justice” [= ‘Besar’ - dikontraskan dengan ‘takhta-takhta’ (Wah 20:4). ‘Putih’ - simbol dari kemurnian dan keadilan].

Wiersbe: “It is white because it represents the unchanging holiness of God; He is not a respecter of persons” (= Takhta itu putih karena itu mewakili kekudusan yang tidak berubah dari Allah; Ia bukanlah seorang yang suka pilih kasih).

2)   Siapa yang duduk di atas takhta itu?
Ada yang menganggap bahwa yang menghakimi ini adalah Allah (Bapa).
Ay 12: Dan aku melihat orang-orang mati, besar dan kecil, berdiri di depan takhta itu. Lalu dibuka semua kitab. Dan dibuka juga sebuah kitab lain, yaitu kitab kehidupan. Dan orang-orang mati dihakimi menurut perbuatan mereka, berdasarkan apa yang ada tertulis di dalam kitab-kitab itu.
KJV: ‘stand before God’ (= berdiri di depan Allah).
RSV/NIV/NASB: ‘standing before the throne’ (= berdiri di depan takhta itu).

Tentang apakah yang duduk itu Allah (Bapa) atau Kristus, tidak menjadi masalah.
Barclay: “the unity of the Father and the Son is such that there is no difficulty in ascribing the action of the one to the other” (= kesatuan Bapa dan Anak adalah sedemikian rupa sehingga tidak ada kesukaran untuk menganggap tindakan dari yang satu sebagai tindakan dari yang lain) - hal 195.
Homer Hailey: “The idea that God judges, and yet Christ judges, should present no problem; for Jesus taught that He and the Father are one - one in Godhood, purpose, and work (John 10:30; 14:10). Later Paul taught that God’s judgment would be carried out through Jesus Christ (Acts 17:31; Rom. 2:16)” [= Gagasan bahwa Allah menghakimi, tetapi Kristus menghakimi, tidak perlu memberikan problem; karena Yesus mengajar bahwa Ia dan Bapa adalah satu - satu dalam keAllahan, tujuan / rencana, dan pekerjaan (Yoh 10:30; 14:10). Belakangan Paulus mengajarkan bahwa penghakiman Allah akan dilaksanakan melalui Yesus Kristus (Kis 17:31; Ro 2:16)] -‘Revelation’, hal 400.
Kis 17:31 - “Karena Ia telah menetapkan suatu hari, pada waktu mana Ia dengan adil akan menghakimi dunia oleh seorang yang telah ditentukanNya, sesudah Ia memberikan kepada semua orang suatu bukti tentang hal itu dengan membangkitkan Dia dari antara orang mati.’”.
Ro 2:16 - “Hal itu akan nampak pada hari, bilamana Allah, sesuai dengan Injil yang kuberitakan, akan menghakimi segala sesuatu yang tersembunyi dalam hati manusia, oleh Kristus Yesus”.

Tetapi tetap, secara strict / ketat, saya berpendapat bahwa yang duduk untuk menghakimi di sini harus adalah Kristus.

Jamieson, Fausset & Brown: “‘Him that sat on it.’ - the Son, to whom ‘the Father hath committed all judgment.’ God in Christ, i. e., the Father represented by the Son, before whose judgment-seat we must all stand” (= ‘Dia, yang duduk di atasnya’. - sang Anak, kepada siapa ‘Bapa telah menyerahkan penghakiman itu seluruhnya’. Allah dalam Kristus, yaitu sang Bapa diwakili oleh sang Anak, di depan takhta penghakiman siapa kita semua harus berdiri).

Bdk. Yoh 5:22-23,27 - “(22) Bapa tidak menghakimi siapapun, melainkan telah menyerahkan penghakiman itu seluruhnya kepada Anak, (23) supaya semua orang menghormati Anak sama seperti mereka menghormati Bapa. Barangsiapa tidak menghormati Anak, ia juga tidak menghormati Bapa, yang mengutus Dia. ... (27) Dan Ia telah memberikan kuasa kepadaNya untuk menghakimi, karena Ia adalah Anak Manusia”.
2Tim 4:1 - “Di hadapan Allah dan Kristus Yesus yang akan menghakimi orang yang hidup dan yang mati, aku berpesan dengan sungguh-sungguh kepadamu demi penyataanNya dan demi KerajaanNya”.
Bdk. Mat 25:31-46.

Barnes’ Notes: “‘Stand before God.’ That is, they appear thus to be judged. The word ‘God’ here must naturally refer to the final Judge on the throne, and there can be no doubt (see Matt. 25:31) that this is the Lord Jesus. Compare 2 Cor. 5:10. None can judge the secrets of the heart; none can pronounce on the moral character of all mankind, of all countries and ages, and determine their everlasting allotment, but he who is divine” [= ‘Berdiri di depan Allah’. Artinya, mereka hadir / muncul seperti itu untuk dihakimi. Kata ‘Allah’ di sini tentu saja harus menunjuk kepada Hakim terakhir pada takhta, dan tidak ada keraguan (lihat Mat 25:31) bahwa ini adalah Tuhan Yesus. Bdk. 2Kor 5:10. Tidak ada yang bisa menghakimi rahasia-rahasia dari hati; tidak ada yang bisa menyatakan karakter moral dari umat manusia, dari semua negara dan jaman, dan menentukan bagian kekal mereka, kecuali Ia yang adalah Ilahi / Allah].
2Kor 5:10 - “Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Kristus, supaya setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya ini, baik ataupun jahat”.

Charles Hodge: “As Christ is to be the judge, as all men are to appear before him, as the secrets of the hearts are to be the grounds of judgment, it is obvious that the sacred writers believed Christ to be a divine person, for nothing less than omniscience could qualify any one for the office here ascribed to our Lord” (= Karena Kristus akan menjadi Hakim, karena semua orang akan menghadap di hadapanNya, karena rahasia dari hati adalah dasar penghakiman, jelaslah bahwa penulis-penulis sakral / kudus percaya bahwa Kristus adalah Pribadi ilahi, karena hanya kemahatahuan yang bisa memenuhi syarat bagi siapapun untuk jabatan / tugas yang di sini dianggap sebagai milik Tuhan kita) - ‘I & II Corinthians’, hal 501.

II) Yang dihakimi.

1)   Semua orang akan dihakimi.
Ay 13: “Maka laut menyerahkan orang-orang mati yang ada di dalamnya, dan maut dan kerajaan maut menyerahkan orang-orang mati yang ada di dalamnya, dan mereka dihakimi masing-masing menurut perbuatannya”.

a)   Tidak ada tempat untuk bersembunyi dan lolos dari penghakiman ini karena langit dan bumi akan lenyap.

1.   Lenyapnya langit dan bumi.
Ay 11b: “Dari hadapanNya lenyaplah bumi dan langit dan tidak ditemukan lagi tempatnya”.
Ay 11b ini sesuai dengan 2Pet 3:10,12b - “(10) Tetapi hari Tuhan akan tiba seperti pencuri. Pada hari itu langit akan lenyap dengan gemuruh yang dahsyat dan unsur-unsur dunia akan hangus dalam nyala api, dan bumi dan segala yang ada di atasnya akan hilang lenyap. ... (12b) Pada hari itu langit akan binasa dalam api dan unsur-unsur dunia akan hancur karena nyalanya”.

Hilang-lenyapnya langit dan bumi juga dinyatakan dalam banyak ayat lain seperti Maz 102:26-28  Yes 51:6  Mat 24:35 / Mark 13:31 / Luk 21:33  Luk 16:17  Wah 21:1. Karena itu saya menganggap aneh bahwa ternyata ada banyak penafsir yang mengatakan bahwa langit dan bumi itu bukannya dimusnahkan tetapi diperbaharui.

Istilah ‘langit dan bumi yang baru’ dalam Wah 21:1 tidak berarti bahwa langit dan bumi yang lama diperbaharui. Yang lama dihancurkan, dan Allah menciptakan yang baru.

Bible Knowledge Commentary: “The new heaven and new earth described in chapter 21 has no similarity to the present earth and heaven” (= Langit dan bumi yang baru yang digambarkan dalam pasal 21 tidak mempunyai kemiripan dengan langit dan bumi yang sekarang ini).

2.   Lenyapnya langit dan bumi yang sekarang ini menyebabkan tidak mungkin ada siapapun yang bisa bersembunyi dan lolos dari penghakiman ini.

Wiersbe: “Heaven and earth flee away; there is no place for the lost sinner to hide! The Judge on the throne is Jesus Christ (John 5:22-23). Today He is the Savior of the world; on that day, He will be the righteous Judge” [= Langit dan bumi akan hilang; di sana tidak ada tempat bagi orang berdosa yang terhilang untuk bersembunyi! Sang Hakim pada takhta adalah Yesus Kristus (Yoh 5:22-23). Sekarang Ia adalah Juruselamat dunia; pada hari itu, Ia akan menjadi Hakim yang benar / adil].

Bdk. Wah 6:12-17 - “(12) Maka aku melihat, ketika Anak Domba itu membuka meterai yang keenam, sesungguhnya terjadilah gempa bumi yang dahsyat dan matahari menjadi hitam bagaikan karung rambut dan bulan menjadi merah seluruhnya bagaikan darah. (13) Dan bintang-bintang di langit berjatuhan ke atas bumi bagaikan pohon ara menggugurkan buah-buahnya yang mentah, apabila ia digoncang angin yang kencang. (14) Maka menyusutlah langit bagaikan gulungan kitab yang digulung dan tergeserlah gunung-gunung dan pulau-pulau dari tempatnya. (15) Dan raja-raja di bumi dan pembesar-pembesar serta perwira-perwira, dan orang-orang kaya serta orang-orang berkuasa, dan semua budak serta orang merdeka bersembunyi ke dalam gua-gua dan celah-celah batu karang di gunung. (16) Dan mereka berkata kepada gunung-gunung dan kepada batu-batu karang itu: ‘Runtuhlah menimpa kami dan sembunyikanlah kami terhadap Dia, yang duduk di atas takhta dan terhadap murka Anak Domba itu.’ (17) Sebab sudah tiba hari besar murka mereka dan siapakah yang dapat bertahan?”.

Perhatikan khususnya Wah 6:16 itu, yang menunjukkan bahwa mereka kelihatannya ingin menyembunyikan diri terhadap murka Anak Domba (Yesus) itu, tetapi ini semua tidak mungkin terjadi. Bukan hanya gunung-gunung atau batu-batu karang yang mereka harapkan bisa menyembunyikan diri mereka, tetapi bahkan dunia inipun akan musnah. Karena itu, tidak bisa ada yang bersembunyi, semua harus menghadap takhta penghakiman Kristus!

b)         Orang-orang besar atau kecil akan dihakimi.
Ay 12: Dan aku melihat orang-orang mati, besar dan kecil, berdiri di depan takhta itu. Lalu dibuka semua kitab. Dan dibuka juga sebuah kitab lain, yaitu kitab kehidupan. Dan orang-orang mati dihakimi menurut perbuatan mereka, berdasarkan apa yang ada tertulis di dalam kitab-kitab itu.

Kata-kata ‘besar dan kecil’ mewakili semua orang, tanpa kecuali. Kalau di dunia, apalagi di Indonesia, maka orang kecil saja yang pasti diadili, sedangkan orang besar bisa lolos. Tetapi dalam penghakiman akhir jaman, tak ada yang lolos. Kaya atau miskin, tua atau muda, laki-laki atau perempuan, berkedudukan tinggi atau rendah, dari bangsa atau suku bangsa apapun, semua akan dihakimi!

Wycliffe Bible Commentary: “From the judgment for crime exercised by the State, thousands escape every year; in fact, many crimes are not even known to those in authority. But no one will be able to escape this judgment” (= Dari penghakiman untuk kejahatan yang dilakukan oleh Negara, ribuan orang lolos setiap tahun, dalam faktanya, banyak kejahatan bahkan tidak diketahui oleh mereka yang mempunyai otoritas. Tetapi tidak seorangpun akan bisa lolos dari penghakiman ini).

The Bible Illustrator (NT): “We often marvel at the contrast exhibited in the present life, between the circumstances or conditions in which mankind are placed. From the extreme of affluence to the extreme of destitution there are endless varieties of condition, yet, in certain respects, all are equal; the noble and the mean; the richest and the poorest. Surely it ought to make the wealthy set loose to their riches, and the poor think lightly of their poverty, when it is remembered how soon the small and the great will stand alike before God, to be judged according, not to their respective conditions on earth, but each according to his works” (= Kita sering heran melihat kontras yang ditunjukkan dalam kehidupan sekarang ini, antara keadaan-keadaan atau kondisi-kondisi dalam mana umat manusia ditempatkan. Dari kekayaan / kemakmuran yang extrim sampai kemiskinan yang extrim ada variasi kondisi yang tak ada akhirnya, tetapi dalam hal tertentu semua sama; orang-orang yang mulia dan yang hina; orang-orang yang terkaya dan yang termiskin. Ini seharusnya membuat orang kaya melepaskan kekayaan mereka, dan orang miskin meremehkan kemiskinan mereka, pada waktu diingat betapa segera orang kecil dan orang besar akan berdiri secara sama di depan Allah, untuk dihakimi bukan menurut kondisi mereka masing-masing di bumi, tetapi masing-masing menurut perbuatannya).

c)         Orang-orang yang sudah mati maupun yang masih hidup akan dihakimi.
Matthew Henry: “not only those that are found alive at the coming of Christ, but all who have died before” (= bukan hanya mereka yang ditemukan hidup pada kedatangan Kristus, tetapi semua yang telah mati sebelumnya).
Bahwa yang akan dihakimi nanti bukan orang mati saja, tetapi juga orang yang masih hidup, terlihat dari ayat-ayat ini:
2Tim 4:1 - “Di hadapan Allah dan Kristus Yesus yang akan menghakimi orang yang hidup dan yang mati, aku berpesan dengan sungguh-sungguh kepadamu demi penyataanNya dan demi KerajaanNya”.
1Pet 4:5 - “Tetapi mereka harus memberi pertanggungan jawab kepada Dia, yang telah siap sedia menghakimi orang yang hidup dan yang mati”.

d)   Semua orang mati dibangkitkan, tak peduli dimanapun dan bagaimana keadaan mayat mereka, dan lalu dihakimi.
Ay 12-13: “(12) Dan aku melihat orang-orang mati, besar dan kecil, berdiri di depan takhta itu. Lalu dibuka semua kitab. Dan dibuka juga sebuah kitab lain, yaitu kitab kehidupan. Dan orang-orang mati dihakimi menurut perbuatan mereka, berdasarkan apa yang ada tertulis di dalam kitab-kitab itu. (13) Maka laut menyerahkan orang-orang mati yang ada di dalamnya, dan maut dan kerajaan maut menyerahkan orang-orang mati yang ada di dalamnya, dan mereka dihakimi masing-masing menurut perbuatannya.

Mayat-mayat dari orang-orang mati ini ada di tempat-tempat yang beraneka ragam, tetapi semua akan dibangkitkan.

1.   Kuburan akan menyerahkan orang-orang yang ada di dalamnya.
Yoh 5:28-29 - “(28) Janganlah kamu heran akan hal itu, sebab saatnya akan tiba, bahwa semua orang yang di dalam kuburan akan mendengar suaraNya, (29) dan mereka yang telah berbuat baik akan keluar dan bangkit untuk hidup yang kekal, tetapi mereka yang telah berbuat jahat akan bangkit untuk dihukum”.
Bdk. Kis 24:15 - “Aku menaruh pengharapan kepada Allah, sama seperti mereka juga, bahwa akan ada kebangkitan semua orang mati, baik orang-orang yang benar maupun orang-orang yang tidak benar”.

2.   Laut akan menyerahkan orang-orang yang ada di dalamnya (ay 13a).
Barnes’ Notes: “‘And the sea gave up the dead which were in it.’ All that had been buried in the depths of ocean. This number in the aggregate will be great. If we include all who were swept off by the flood, and all who have perished by shipwreck, and all who have been killed in naval battles and buried in the sea, and all who have been swept away by inundations of the ocean, and all who have peacefully died at sea, as sailors, or in the pursuits of commerce or benevolence, the number in the aggregate will be immense - a number so vast that it was proper to notice them particularly in the account of the general resurrection and the last judgment” (= ‘Dan laut menyerahkan orang mati yang ada di dalamnya’. Semua yang telah dikubur dalam kedalaman lautan. Jumlah orang-orang ini secara keseluruhannya akan besar. Jika kita mencakup semua yang disapu oleh air bah, dan semua yang binasa karena kecelakaan kapal / kapal tenggelam, dan semua yang telah dibunuh dalam perang di laut dan dikubur di laut, dan semua yang telah disapu oleh banjir lautan / meluapnya lautan, dan semua yang mati dengan damai di laut, seperti pelaut-pelaut, atau dalam pengejaran perdagangan atau perbuatan baik, jumlah keseluruhannya akan sangat besar - suatu jumlah yang begitu banyak sehingga adalah benar untuk memperhatikan mereka secara khusus dalam cerita tentang kebangkitan umum dan penghakiman terakhir).

3.   Maut akan menyerahkan orang-orang yang ada di dalamnya (ay 13b).
Adam Clarke: “‘And death.’ All who died by any kind of disease. Death is here personified, and represented as a keeper of defunct human beings; probably no more than earth or the grave is meant, as properly belonging to the empire of death” (= ‘Dan kematian / maut’. Semua yang mati oleh jenis penyakit apapun. Kematian di sini dipersonifikasikan, dan digambarkan sebagai seorang penjaga dari orang mati; mungkin yang dimaksudkan tidak lebih dari bumi atau kubur, karena secara benar merupakan milik dari kekaisaran kematian).
Saya berpendapat bahwa yang dimaksudkan bukan hanya orang yang mati karena penyakit apapun, tetapi juga orang yang mati karena sebab lain apapun, seperti dibunuh, bunuh diri, kecelakaan, serangan teroris, dan sebagainya.

4.   HADES (kerajaan maut) akan menyerahkan orang-orang yang di dalamnya.
Ay 13b: dan maut dan kerajaan maut (Yunani: HADES) menyerahkan orang-orang mati yang ada di dalamnya.
KJV: ‘and death and hell delivered up the dead which were in them’ (= dan maut dan nerakamenyerahkan orang mati yang ada di dalamnya).
Kata Yunani yang dipakai adalah HADES, dan sekalipun kadang-kadang bisa diterjemahkan sebagai ‘neraka’, seperti dalam Luk 16:23, tetapi saya berpendapat bahwa di sini tidak mungkin diterjemahkan seperti itu.

a.         Ada yang menganggap bahwa Hades adalah tempat dari roh-roh orang mati.
Adam Clarke: “‘And hell.’ Hadees, Hades, the place of separate spirits. The sea and death have the bodies of all human beings; hades has their spirits. That they may be judged, and punished or rewarded according to their works, their bodies and souls must be reunited; hades, therefore, gives up the spirits; and the sea and the earth give up the bodies” (= ‘Dan neraka’. HADES, Hades, tempat dari roh-roh yang terpisah. Laut dan maut / kematian mempunyai tubuh-tubuh dari semua manusia; Hades mempunyai roh-roh mereka. Supaya mereka bisa dihakimi, dan dihukum atau diberi pahala sesuai dengan perbuatan mereka, tubuh-tubuh dan jiwa-jiwa mereka harus dipersatukan kembali; karena itu, Hades menyerahkan roh-roh; dan laut dan bumi menyerahkan tubuh-tubuh).
Catatan: perhatikan bahwa ay 13b TIDAK mengatakan bahwa Hades menyerahkan ‘roh-roh’, tetapi menyerahkan ‘orang-orang mati’! Disamping itu, dalam sepanjang Kitab Suci, kata Hades / Sheol tidak pernah menunjuk pada tempat roh-roh orang mati. Karena itu, saya tidak setuju dengan penafsiran Adam Clarke ini.

b.         Hades dianggap sebagai ‘keadaan kematian’.
William Hendriksen: “It is evident that the term ‘Hades’ as used here cannot mean hell or grave. It signifies the state of disembodied existence. It refers to the state of death which results when life ceases and when body and soul separate. Thus Hades always follows death (Rev. 6:8)” [= Adalah jelas bahwa istilah ‘Hades’ seperti yang digunakan di sini tidak bisa berarti ‘neraka’ atau ‘kuburan’. Itu menunjuk pada keadaan keberadaan tanpa tubuh. Itu menunjuk pada keadaan kematian yang terjadi pada waktu kehidupan berhenti dan pada waktu tubuh dan jiwa terpisah. Karena itu, Hades selalu mengikuti maut / kematian (Wah 6:8)] - ‘More Than Conquerors’, hal 57.
Wah 6:8 - “Dan aku melihat: sesungguhnya, ada seekor kuda hijau kuning dan orang yang menungganginya bernama Maut dan kerajaan maut mengikutinya. Dan kepada mereka diberikan kuasa atas seperempat dari bumi untuk membunuh dengan pedang, dan dengan kelaparan dan sampar, dan dengan binatang-binatang buas yang di bumi”.

e)         Orang-orang percaya maupun tidak percaya akan dihakimi.
Pkh 3:17 - “Berkatalah aku dalam hati: ‘Allah akan mengadili baik orang yang benar maupun yang tidak adil, karena untuk segala hal dan segala pekerjaan ada waktunya.’”.
2Kor 5:10 - “Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Kristus, supaya setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya ini, baik ataupun jahat”.
Bdk. Mat 25:31-46.

Jadi, ini merupakan suatu penghakiman yang dilakukan, baik terhadap orang percaya maupun orang yang tidak percaya. Ini bertentangan dengan ajaran Premillenialisme, yang mengatakan bahwa orang-orang benar akan bangkit dulu, dihakimi, dan setelah 1000 tahun baru ada kebangkitan dari orang-orang jahat, dan penghakiman atas diri mereka.

Tetapi kalau orang-orang percaya juga dihakimi, maka muncul suatu problem, karena kelihatannya ini bertentangan dengan Yoh 5:24.
Yoh 5:24 - “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa mendengar perkataanKu dan percaya kepada Dia yang mengutus Aku, ia mempunyai hidup yang kekal dan tidak turut dihukum, sebab ia sudah pindah dari dalam maut ke dalam hidup”.
KJV: ‘shall not come into condemnation’ (= tidak akan dihukum).
RSV/NASB: ‘does not come into judgment’ (= tidak akan dihakimi).
NIV: ‘will not be condemned’ (= tidak akan dihukum).
Sebetulnya, yang hurufiah adalah terjemahan dari RSV/NASB, karena kata Yunani yang digunakan di sini berasal dari kata dasar yang sama dengan kata ‘dihakimi’ yang digunakan dalam Wah 20:12,13.
Jadi, bagaimana pengharmonisan dari 2 bagian yang kelihatannya kontradiksi ini?

Pulpit Commentary: “We read in John 5:24 that he that believeth shall not come into judgment; and yet we read elsewhere, ‘We must all stand before the judgment seat of Christ:’ how is this? Reply: Believers, with others, will be made manifest before the judgment seat of Christ; but their manifestation will be that of pardoned and of sanctified men, whose guilt is cancelled and whose sin is removed. Surely, when this is taken into account, the difficulty ceases. There will be no such judgment as involves condemnation” [= Kita membaca dalam Yoh 5:24 bahwa ia yang percaya tidak akan dihakimi; tetapi kita membaca di tempat lain, ‘kita semua harus menghadap takhta pengadilan Kristus’ (2Kor 5:10); bagaimana ini? Jawab: Orang-orang percaya, bersama dengan orang-orang lain, akan dihadirkan di depan takhta pengadilan Kristus; tetapi mereka dihadirkan sebagai orang-orang yang diampuni dan dikuduskan, yang kesalahannya sudah dihapuskan dan yang dosanya dibersihkan. Pasti, pada waktu hal ini diperhatikan, kesukarannya berhenti / hilang. Di sana tidak akan ada penghakiman yang melibatkan penghukuman] - hal 491.

III) Dasar penghakiman.

1)   Pembukaan semua kitab, dan juga kitab kehidupan.
Ay 12: Dan aku melihat orang-orang mati, besar dan kecil, berdiri di depan takhta itu. Lalu dibuka semua kitab. Dan dibuka juga sebuah kitab lain, yaitu kitab kehidupan. Dan orang-orang mati dihakimi menurut perbuatan mereka, berdasarkan apa yang ada tertulis di dalam kitab-kitab itu..
Untuk bagian yang saya beri garis bawah tunggal, bandingkan dengan terjemahan KJV.
KJV: and the dead were judged out of those things which were written in the books, according to their works. (= dan orang-orang mati dihakimi dari hal-hal yang tertulis dalam kitab-kitab itu, menurut / sesuai dengan perbuatan-perbuatan mereka.).

Bdk. Dan 7:10 - “suatu sungai api timbul dan mengalir dari hadapanNya; seribu kali beribu-ribu melayani Dia, dan selaksa kali berlaksa-laksa berdiri di hadapanNya. Lalu duduklah Majelis Pengadilan dan dibukalah Kitab-kitab”.

a)   Jelas bahwa ‘semua kitab’ maupun ‘kitab kehidupan’ bukan merupakan istilah yang bersifat hurufiah, tetapi simbolis. Alasannya: Allah itu maha tahu dan tidak pikun, sehingga jelas Ia tidak membutuhkan catatan dalam kitab apapun untuk mengingat apapun.

Homer Hailey: “These are not literal books ... The books sybolizes the divine record of the lives and deeds of all who have lived. Pieters has well expressed it: ‘The books evidently stand for the omniscience of God the Judge, to whom nothing is unknown, and by whom nothing is forgotten’ (p 313), except what He wills to forget (Heb. 8:12)”[= Ini bukan betul-betul kitab-kitab secara hurufiah ... Kitab-kitab ini menyimbolkan catatan ilahi tentang kehidupan-kehidupan dan tindakan-tindakan dari semua orang yang pernah hidup. Pieters telah menyatakan dengan baik hal ini: ‘Kitab-kitab itu dengan jelas mewakili kemahatahuan Allah sang Hakim, bagi siapa tidak ada yang tak diketahui, dan oleh siapa tak ada yang dilupakan’ (hal 313), kecuali apa yang Ia kehendaki untuk dilupakan (Ibr 8:12)] - ‘Revelation’, hal 401.
Ibr 8:12 - “Sebab Aku akan menaruh belas kasihan terhadap kesalahan mereka dan tidak lagi mengingat dosa-dosa mereka.’”.

b)         Kitab apa saja yang dimaksud dengan ‘semua kitab’?

1.   Yang jelas ay 12b mengatakan bahwa kitab-kitab itu mencatat perbuatan manusia, yang akan dijadikan dasar penghakiman.
Kitab yang mencatat dosa-dosa kita selama ini tetap ditutup, dan baru dibuka pada akhir jaman itu. Tidak heran jaman sekarang belum ada keadilan yang sempurna!

a.   Semua perbuatan, kata-kata, pikiran / hal-hal yang tersembunyi, tercatat dari hari ke hari.
The Bible Illustrator (NT): “Nothing escapes its watchful eye. Every sin is duly marked, every corrupt imagination, every wrong principle, indulged in or professed. Every idle word, every unhallowed thought, goes to swell the score. Even if our sins were as frequent as our breathing, the account goes on day after day; pages are filled till the last awful hour has come, when the sinner beholds the magnitude of his transgressions” (= Tidak ada yang lolos dari mata yang mengawasi. Setiap dosa diperhatikan / ditandai dengan seharusnya, setiap khayalan yang jahat, setiap prinsip yang salah, yang dituruti sesuka hatinya atau yang diakui. Setiap kata yang sia-sia / tak berarti, setiap pikiran yang tidak kudus, membuat angka membengkak. Bahkan jika dosa-dosa kita sama seringnya dengan nafas kita, penghitungan berjalan terus dari hari ke hari; halaman-halaman dipenuhi sampai saat terakhir yang mengerikan telah tiba, pada saat orang berdosa melihat besarnya pelanggaran-pelanggarannya).

b.   Semua yang tercatat itu akan dihakimi.
Pulpit Commentary: “WE ARE ALSO TOLD WHAT WILL BE JUDGED. 1. Deeds (2 Cor 5:10). 2. Words (Matt 12:36,37). 3. Thoughts (1 Cor 4:3-5). 4. Secret things (Rom 2:16). 5. ‘Every secret thing’ (Eccl 12:14). ‘There is nothing covered, that shall not be revealed; and hid, that shall not be known.’” [= Kita juga diberitahu apa yang akan dihakimi. 1. Tindakan-tindakan (2Kor 5:10). 2. Kata-kata (Mat 12:36,37). 3. Pikiran-pikiran (1Kor 4:3-5). 4. Hal-hal yang rahasia / tersembunyi (Ro 2:16). 5. ‘Setiap hal yang rahasia / tersembunyi’ (Pkh 12:14). ‘Karena tidak ada sesuatupun yang tertutup yang tidak akan dibuka dan tidak ada sesuatupun yang tersembunyi yang tidak akan diketahui’] - hal 489.
2Kor 5:10 - “Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Kristus, supaya setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya ini, baik ataupun jahat”.
Mat 12:36-37 - “(36) Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap kata sia-sia yang diucapkan orang harus dipertanggungjawabkannya pada hari penghakiman. (37) Karena menurut ucapanmu engkau akan dibenarkan, dan menurut ucapanmu pula engkau akan dihukum.’”.
1Kor 4:5 - “Karena itu, janganlah menghakimi sebelum waktunya, yaitu sebelum Tuhan datang. Ia akan menerangi, juga apa yang tersembunyi dalam kegelapan, dan Ia akan memperlihatkan apa yang direncanakan di dalam hati. Maka tiap-tiap orang akan menerima pujian dari Allah”.
Ro 2:16 - “Hal itu akan nampak pada hari, bilamana Allah, sesuai dengan Injil yang kuberitakan, akan menghakimi segala sesuatu yang tersembunyi dalam hati manusia, oleh Kristus Yesus”.
Pkh 12:14 - “Karena Allah akan membawa setiap perbuatan ke pengadilan yang berlaku atas segala sesuatu yang tersembunyi, entah itu baik, entah itu jahat”.
Bagian akhir dari kutipan di atas mengutip Mat 10:26 - “Jadi janganlah kamu takut terhadap mereka, karena tidak ada sesuatupun yang tertutup yang tidak akan dibuka dan tidak ada sesuatupun yang tersembunyi yang tidak akan diketahui”.
Bdk. Ibr 4:13 - “Dan tidak ada suatu makhlukpun yang tersembunyi di hadapanNya, sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia, yang kepadaNya kita harus memberikan pertanggungan jawab”.

c.   Ini seharusnya menyebabkan kita mengekang diri terhadap dosa, dan didorong pada ketataan.
The Bible Illustrator (NT): “when we hear of the books to be opened at the judgment, and of men being judged out of those things which are written in the books, we are, in effect, reminded that the actions which we day by day commit, the very words we speak and the thoughts we indulge, contribute the materials for a final reckoning, upon the issue of which will be suspended eternal joy or eternal shame. This regard to the inevitable connection between conduct in this life and our portion in eternity, would serve alike to restrain from iniquity and impel to obedience” (= pada waktu kita mendengar tentang kitab-kitab yang akan dibuka pada penghakiman, dan tentang orang-orang yang dihakimi dengan hal-hal yang tertulis dalam kitab-kitab itu, sebenarnya kita diingatkan bahwa tindakan-tindakan yang kita lakukan hari demi hari, kata-kata yang kita katakan dan pikiran-pikiran yang turuti sesuka hati kita, menyumbangkan bahan-bahan untuk suatu perhitungan akhir, pada hasil mana tergantung sukacita yang kekal atau rasa malu yang kekal. Hubungan yang tak terhindarkan antara tingkah laku dalam kehidupan ini dan bagian kita dalam kekekalan, akan berfungsi secara sama untuk mengekang dari kejahatan dan mendorong pada ketaatan).

d.         Banyak kitab-kitab versus satu kitab kehidupan.
The Bible Illustrator (NT): “It must not be overlooked, however, that while mention is made of books of several volumes of account - out of which the dead will be judged, ALLUSION IS MADE TO BUT ONE BOOK OF LIFE, containing the names of those who would be saved. Possibly an intimation is hereby conveyed as to the comparative fewness of the saved. Yet another interpretation of the difference is, that, whereas there are many different methods by which men may go to perdition, there is but one way of life. It is not alone the heathen, who never heard of a Redeemer; nor the infidel, who professed to disbelieve the existence of God or a revelation; nor the heretic, who corrupted the truth and turned the grace of God into lasciviousness; not alone the scoffer, the profligate, the profane, who will be excluded from heaven; but the impenitent, the unbelieving, the unconverted, the ungodly - all who have refused to lay hold of the salvation which is offered in the gospel” (= Tetapi tidak boleh diabaikan, bahwa sekalipun disebutkan beberapa kitab laporan / catatan - dengan mana orang-orang mati akan dihakimi, hanya dibuat kiasan tentang satu kitab kehidupan, yang berisikan nama-nama dari mereka yang akan diselamatkan. Mungkin di sini ada suatu petunjuk / isyarat yang diberikan berkenaan dengan relatif sedikitnya orang yang selamat. Tetapi penafsiran yang lain tentang perbedaan ini adalah bahwa sekalipun ada banyak metode yang berbeda-beda dengan mana orang-orang bisa pergi ke neraka / penghukuman, tetapi hanya ada satu jalan kehidupan. Bukan hanya orang-orang kafir, yang tidak pernah mendengar tentang seorang Penebus; ataupun orang yang tidak beragama, yang mengaku tidak percaya terhadap keberadaan Allah atau suatu wahyu; atau orang sesat, yang merusak kebenaran dan membalikkan kasih karunia Allah menjadi nafsu; bukan hanya pengejek-pengejek, orang yang jahat / boros, orang yang duniawi / najis, yang akan tidak masuk surga; tetapi juga orang-orang yang tidak menyesal, orang-orang yang tidak percaya, orang yang tidak bertobat, orang yang jahat / tidak religius - semua yang telah menolak untuk memperoleh keselamatan yang ditawarkan dalam Injil).

e.         Penghakiman juga memperhitungkan iman kita.
Adam Clarke: “‘According to their works.’ And according to their faith also, for their works would be the proof whether their faith were true or false; but faith exclusively could be no rule in such a procedure” (= ‘Menurut perbuatan mereka’. Dan menurut iman mereka juga, karena perbuatan mereka akan menjadi bukti apakah iman mereka benar atau salah; tetapi iman secara exklusif tidak bisa menjadi standard dalam prosedur seperti itu).
Saya berpendapat bahwa bagian terakhir (yang saya garis-bawahi) itu salah. Iman menjadi standard yang exklusif untuk menentukan apakah seseorang masuk surga atau neraka. Bahwa hal ini memang benar, terbukti dengan dibukanya kitab kehidupan. Orang yang namanya tercantum di sana adalah orang yang sungguh-sungguh beriman, dan hanya mereka yang akan masuk surga. Jadi, jelas bahwa iman memang dijadikan standard untuk menentukan apakah seseorang masuk surga atau tidak. Sedangkan perbuatan, atau diperhitungkan sebagai bukti iman, atau sebagai standard untuk menentukan tingkat pahala di surga maupun tingkat hukuman di neraka.

f.          Bagaimana dengan dosa-dosa dari orang-orang percaya?
Semua dosa dari orang-orang percaya sudah dihapuskan oleh darah Kristus, dan tidak akan diingat-ingat lagi oleh Allah sampai selama-lamanya.
Bandingkan dengan ayat-ayat di bawah ini:
·         Yes 43:25 - “Aku, Akulah Dia yang menghapus dosa pemberontakanmu oleh karena Aku sendiri, dan Aku tidak mengingat-ingat dosamu”.
·         Yer 31:34 - “Dan tidak usah lagi orang mengajar sesamanya atau mengajar saudaranya dengan mengatakan: Kenallah TUHAN! Sebab mereka semua, besar kecil, akan mengenal Aku, demikianlah firman TUHAN, sebab Aku akan mengampuni kesalahan mereka dan tidak lagi mengingat dosa mereka.’”.
·         Yeh 18:21-22 - “(21) Tetapi jikalau orang fasik bertobat dari segala dosa yang dilakukannya dan berpegang pada segala ketetapanKu serta melakukan keadilan dan kebenaran, ia pasti hidup, ia tidak akan mati. (22) Segala durhaka yang dibuatnya tidak akan diingat-ingat lagi terhadap dia; ia akan hidup karena kebenaran yang dilakukannya”.
·         Mikha 7:19 - “Biarlah Ia kembali menyayangi kita, menghapuskan kesalahan-kesalahan kita dan melemparkan segala dosa kita ke dalam tubir-tubir laut”.
·         Ibr 8:12 - “Sebab Aku akan menaruh belas kasihan terhadap kesalahan mereka dan tidak lagi mengingat dosa-dosa mereka.’”.

Seiss’ Apocalypse: “There is not an ill thought, a mean act, a scene of wrong in all your history, a dirty transaction, a filthiness of speech, or a base feeling that ever found entertainment in your heart, but is there described in bold hand, by its true name, and set down to your account, to be then brought forth for final settlement, if not clean blotted out through faith in Christ’s blood before this present life of yours is ended” (= Tidak ada suatu pikiran buruk, suatu tindakan jahat, suatu adegan yang salah dalam seluruh sejarahmu, suatu transaksi yang kotor, suatu ucapan yang kotor, atau suatu perasaan yang jelek / hina yang menyenangkan yang pernah ditemukan dalam hatimu, yang tidak digambarkan di sana dengan tangan yang berani, dengan sebutan yang sebenarnya, dan dimasukkan dalam tanggunganmu, untuk nanti diajukan untuk penyelesaian akhir, jika tidak dihapuskan melalui iman pada darah Kristus sebelum hidupmu yang sekarang ini berakhir).

The Bible Illustrator (NT): “I remark that there will be a book of unforgiven sins. The iniquities of the righteous will all have been pardoned, and so will not be mentioned. But the sins of the unpardoned will on that day be announced” (= Saya menyatakan bahwa di sana akan ada suatu kitab tentang dosa-dosa yang tidak diampuni. Kejahatan-kejahatan dari orang-orang benar semuanya akan diampuni, dan dengan demikian tidak akan disebutkan. Tetapi dosa-dosa dari  orang yang tidak diampuni akan diumumkan pada hari itu).

IVP Bible Background Commentary: New Testament: “All would be judged according to their works (Ps 62:12; Prov 24:12; Jer 17:10; 32:19; Ezek 18:30), but former sinful works canceled by true repentance would not count against the righteous (Ezek 18:21-22)” [= Semua orang akan dihakimi menurut perbuatan mereka (Maz 62:13; Amsal 24:12; Yer 17:10; 32:19; Yeh 19:30), tetapi perbuatan-perbuatan berdosa yang lalu yang dibatalkan oleh pertobatan yang sejati tidak akan diperhitungkan terhadap orang-orang benar (Yeh 18:21-22)].

Maz 62:13 - “dan dari padaMu juga kasih setia, ya Tuhan; sebab Engkau membalas setiap orang menurut perbuatannya”.
Amsal 24:12 - “Kalau engkau berkata: ‘Sungguh, kami tidak tahu hal itu!’ Apakah Dia yang menguji hati tidak tahu yang sebenarnya? Apakah Dia yang menjaga jiwamu tidak mengetahuinya, dan membalas manusia menurut perbuatannya?”.
Yer 17:10 - “Aku, TUHAN, yang menyelidiki hati, yang menguji batin, untuk memberi balasan kepada setiap orang setimpal dengan tingkah langkahnya, setimpal dengan hasil perbuatannya.’”.
Yer 32:19 - “besar dalam rancanganMu dan agung dalam perbuatanMu; mataMu terbuka terhadap segala tingkah langkah anak-anak manusia dengan mengganjar setiap orang sesuai dengan tingkah langkahnya dan sesuai dengan buah perbuatannya”.
Yeh 18:30 - “Oleh karena itu Aku akan menghukum kamu masing-masing menurut tindakannya, hai kaum Israel, demikianlah firman Tuhan ALLAH. Bertobatlah dan berpalinglah dari segala durhakamu, supaya itu jangan bagimu menjadi batu sandungan, yang menjatuhkan kamu ke dalam kesalahan”.

Lenski (hal 606) juga mengatakan bahwa dalam kitab itu hanya tercatat dosa-dosa dari orang-orang yang tidak percaya, sedangkan untuk orang-orang percaya, yang tercatat hanya perbuatan baiknya saja, bahkan yang sudah disempurnakan oleh kebenaran Kristus. Mengapa? Karena dosa mereka sudah dihapuskan oleh darah Kristus (1Yoh 1:7).
1Yoh 1:7 - “Tetapi jika kita hidup di dalam terang sama seperti Dia ada di dalam terang, maka kita beroleh persekutuan seorang dengan yang lain, dan darah Yesus, AnakNya itu, menyucikan kita dari pada segala dosa”.

Jadi, biarpun orang-orang percaya juga dihakimi perbuatannya (2Kor 5:10), tetapi tidak ada perbuatannya yang jahat / dosa yang dihakimi, karena semua sudah dihapuskan, dan tidak lagi diingat-ingat oleh Allah. Yang dihakimi dalam diri mereka hanyalah perbuatan baiknya saja, untuk menentukan pahala mereka.
2Kor 5:10 - “Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Kristus, supaya setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya ini, baik ataupun jahat”. Bdk. Mat 25:31-46.
Pkh 12:14 - “Karena Allah akan membawa setiap perbuatan ke pengadilan yang berlaku atas segala sesuatu yang tersembunyi, entah itu baik, entah itu jahat”.