About us

Golgotha Ministry adalah pelayanan dari Pdt. Budi Asali,M.Div dibawah naungan GKRI Golgota Surabaya untuk memberitakan Injil ke seluruh dunia dan mengajarkan kebenaran firman Tuhan melalui khotbah-khotbah, pendalaman Alkitab, perkuliahan theologia dalam bentuk tulisan maupun multimedia (DVD video, MP3, dll). Pelayanan kami ini adalah bertujuan agar banyak orang mengenal kebenaran; dan bagi mereka yang belum percaya, menjadi percaya kepada Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadinya, dan bagi mereka yang sudah percaya, dikuatkan dan didewasakan didalam iman kepada Kristus.
Semua yang kami lakukan ini adalah semata-mata untuk kemuliaan nama Tuhan Yesus Kristus.

Kami mengundang dengan hangat setiap orang yang merasa diberkati dan terbeban didalam pelayanan untuk bergabung bersama kami di GKRI Golgota yang beralamat di : Jl. Raya Kalirungkut, Pertokoan Rungkut Megah Raya D-16, Surabaya.

Tuhan Yesus memberkati.

Minggu, 26 Agustus 2012

TANGGAPAN PDT.BUDI ASALI TERHADAP TULISAN LIAUW "MENGENAI APAKAH SESEORANG YG SUDAH DISELAMATKAN DAPAT MENINGGALKAN IMAN DAN TERHILANG"


Mengenai Apakah Seseorang Yg Sudah Diselamatkan
Dapat Meninggalkan Iman dan Terhilang

Ini adalah sebuah topik yang diperdebatkan dengan sengit dalam kalangan orang Kristen. Maka tidak mengherankan bahwa masing-masing pandangan memiliki pendukung setia, dan diskusi biasanya berlangsung dengan semangat dan berapi-api. Namun demikian, kita harus selalu mengingat bahwa yang kita cari adalah kebenaran, bukan sekedar suatu cara untuk mempertahankan pendapat atau doktrin kita.

Tanggapan Budi Asali:
Setuju, Liauw, kebenaran yang harus dicari dan dipertahankan, dan kita tidak boleh mati-matian mempertahankan pandangan kita, kalau bisa dibuktikan berdasarkan Alkitab, yang ditafsirkan secara benar, bahwa pandangan kita salah. Tetapi sampai sekarang saya sudah membahas banyak tulisan anda, dan saya tak melihat sedikitpun argumentasi anda yang bisa menghancurkan argumentasi saya.

Seharusnya kita sebagai orang percaya selalu menjadi hamba kebenaran, sebagaimana Paulus katakan: “Karena kami tidak dapat berbuat apa-apa melawan kebenaran; yang dapat kami perbuat ialah untuk kebenaran” (2 Kor. 13:8). Jika anda hanya mencari cara untuk membenarkan apa yang anda selama ini percayai, atau apa yang diajarkan pada anda, maka mata anda tidak akan pernah terbuka. Saya sendiri pernah diajar dan pernah percaya bahwa “sekali diselamatkan, kamu tidak bisa meninggalkan iman.” Saya berusaha untuk mempertahankan ajaran ini mati-matian, sampai akhirnya saya tidak dapat lagi menutup mata pada banyaknya bukti Alkitab bahwa hal tersebut tidak benar. Nah, berikut ini adalah rangkuman dari penyelidikan saya mengenai topik ini, dari Alkitab.

Tanggapan Budi Asali:
Sekali lagi, saya setuju, Liauw, dengan kata-kata anda di bagian atas. Apalagi itu adalah ayat Alkitab, maka tentu saja pasti benar.
Tetapi kata-kata anda ‘Jika anda hanya mencari cara untuk membenarkan apa yang anda selama ini percayai, atau apa yang diajarkan pada anda, maka mata anda tidak akan pernah terbuka.’, bagi saya cocok untuk anda sendiri!
Kesaksian anda bisa saja palsu / dusta, mengingat anda berdusta banyak sekali. Atau, bisa juga anda mengira anda bertobat dari ajaran yang salah, padahal anda justru sedang tersesat, karena meninggalkan ajaran yang benar, dan lalu memeluk yang salah. Itu sering terjadi karena seseorang mempercayai ajaran yang benar tanpa mengerti argumentasi-argumentasi yang mendukungnya, sehingga pada waktu diserang oleh orang yang mempunyai ajaran yang salah / sesat, ia kalah, dan akhirnya menerima ajaran salah / sesat itu. Ini terjadi pada diri C. T. Russel, pendiri Saksi Yehuwa, yang dulunya percaya neraka dan bahkan banyak memperingatkan orang-orang tentang neraka tetapi setelah perdebatan dengan seseorang (kalau tak salah orang Advent) yang tidak percaya neraka, ia justru diyakinkan bahwa neraka itu tidak ada.
Melihat tulisan-tulisan anda, saya tidak yakin sedikitpun bahwa anda dahulu mempercaya keselamatan tidak bisa hilang dan mengerti argumentasi-argumentasinya.

Pertama-tama, marilah kita memperhatikan beberapa hal mendasar mengenai keselamatan. Saya akan paparkan ini dalam bentuk poin-poin, dan setiap poin akan membangun di atas poin sebelumnya, sehingga kebenaran tentang hal ini dipaparkan bukan saja secara Alkitabiah, tetapi juga sistematis.

1. Keselamatan adalah karena Kasih Karunia Allah, dan didapatkan melalui Iman

Tanggapan Budi Asali:
Saya setuju mutlak point ini, asal penjabarannya benar. Sering orang punya slogan-slogan pendek yang benar, tetapi pada waktu dijabarkan, ternyata artinya berbeda dengan slogannya.

Pertama-tama, saya berasumsi bahwa anda bukanlah seorang Hiper-Kalvinis. Seorang Hiper-Kalvinis meyakini bahwa manusia sama sekali tidak memiliki tanggung jawab dalam hal keselamatannya. Hiper- Kalvinis (walaupun banyak yang mengajarkan Hiper-Kalvinisme, jarang ada yang mau mengaku sebagai Hiper-Kalvinis) percaya bahwa Allah menyelamatkan manusia dengan cara memaksa kehendak manusia tersebut (manusia tidak punya kehendak bebas), dengan Irresistible Grace (Kasih Karunia yang tak dapat ditolak). Jadi, pada intinya, menurut mereka sebagian manusia dibuat menjadi percaya oleh Allah karena mereka orang pilihan, sedangkan yang lainnya tidak dapat percaya karena mereka non-pilihan.

Tanggapan Budi Asali:
Hmmm, anda mengatakan ada banyak Hyper-Calvinist????? Coba berikan satu nama saja!!!! Karena menurut saya, tak ada orang yang betul-betul Hyper-Calvinist! Hyper-Calvinist cuma ada dalam teori. Kalau seseorang adalah Hyper-Calvinist secara sungguh-sungguh, maka ia tidak bisa hidup. Ia tak perlu makan, dan kalau sakit tak perlu ke dokter atau minum obat, dan kalau setir mobil boleh saja dengan mata dipejamkan, karena sehat atau sakit, lapar atau kenyang, hidup atau mati ditentukan Tuhan, dan Karena itu ia tak perlu berbuat apa-apa. Dengan demikian, ia tidak mungkin hidup!
Ayo, saya tantang anda untuk sebutkan satu saja nama dari orang yang Hyper-Calvinist, dan berikan kutipan tulisannya yang secara jelas menunjukkan bahwa ia adalah Hyper-Calvinist, dalam arti ia menganggap bahwa manusia sama sekali tidak punya tanggung jawab!
Menurut saya, anda lagi-lagi asal bicara di sini, karena saya yakin tak ada Hyper-Calvinist bisa hidup. Ayo sebutkan satu nama saja, Liauw! Kalau tidak bisa menyebutkan, anda adalah pendusta!

Puji syukur pada Tuhan, mayoritas pembaca Alkitab yang masih waras, dapat melihat bahwa Allah menuntut tanggung jawab manusia untuk bertobat dan percaya pada Yesus Kristus sebagai syarat mendapatkan keselamatan yang telah Kristus sediakan karena kasih karuniaNya. Oleh sebab itulah, Efesus 2:8-9 menyatakan dua hal sebagai komponen kunci dalam keselamatan, yaitu kasih karunia dan iman. Kasih karunia adalah komponen dari pihak Allah, dan iman adalah komponen dari manusia. Agar seseorang diselamatkan, Allah harus memberikan kasih karuniaNya (yang sudah Ia lakukan), dan orang tersebut harus percaya atau dengan kata lain beriman. Ingat bahwa iman bukanlah “membantu Allah” dalam proses keselamatan, tetapi adalah menerima kasih karunia Allah.

Tanggapan Budi Asali:
Saya setuju manusia punya tanggung jawab untuk percaya, dan saya juga setuju Allah harus memberikan kasih karuniaNya, tanpa mana tak ada orang yang bisa percaya. Tetapi kata-kata yang anda letakkan dalam tanda kurung, yaitu ‘yang sudah Ia lakukan’ menimbulkan tanda tanya. Sudah Ia lakukan terhadap siapa?? Terhadap semua orang tanpa kecuali? Saya tahu ini pandangan Arminian! Pandangan Calvinist, Allah hanya memberi kasih karunia yang menyelamatkan itu kepada orang-orang pilihan saja.

2. Iman adalah syarat keselamatan, bukan perbuatan
Kepala penjara Filipi bertanya, “apakah yang harus aku perbuat, supaya aku selamat?” Paulus menjawab, “Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus.” Ini tidak berarti bahwa kita diselamatkan karena perbuatan atau pekerjaan. Seseorang harus percaya (beriman) untuk mendapatkan keselamatan. Keselamatan (termasuk di dalamnya pendamaian dari dosa, pembenaran, kelahiran kembali, dan seluruh paket keselamatan) disediakan untuk semua umat manusia oleh Kristus (1 Yohanes 2:2), tetapi hanya diterapkan kepada mereka yang percaya (Yoh. 3:16).

Tanggapan Budi Asali:
Saya setuju bagian atas kata-kata anda yang saya beri warna biru. Tetapi yang warna hitam, tidak.
Kelahiran baru, dalam pandangan Arminianisme, sangat berbeda dengan dalam pandangan Calvinisme. Bagi kalian, itu dicampur-adukkan / disamakan dengan iman. Bagi kami, kelahiran baru harus terjadi lebih dulu dari iman. Tanpa kelahiran baru, orang itu mati secara rohani (Yoh 10:10  Ef 2:1), dan dalam keadaan mati rohani tidak mungkin ia akan bisa mengerti, menghargai, apalagi menanggapi dengan positif hal-hal yang dari Roh.
1Kor 2:14 - “Tetapi manusia duniawi tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah, karena hal itu baginya adalah suatu kebodohan; dan ia tidak dapat memahaminya, sebab hal itu hanya dapat dinilai secara rohani”.

Keselamatan disediakan untuk semua umat manusia oleh Kristus? Saya juga tidak setuju! Tetapi ini akan saya bahas belakangan saja pada waktu membahas ajaran anda yang menyerang ‘Limited Atonement’ (= Penebusan Terbatas). 1Yoh 2:2, memang seolah-olah menunjukkan bahwa penebusan dilakukan oleh Yesus untuk semua orang, tetapi kalau diselidiki betul-betul, artinya tidak demikian. Inipun saya tunda penjelasannya sampai pada pembahasan tentang ‘Limited Atonement’ (= Penebusan Terbatas).

Jadi, mengatakan bahwa “engkau harus percaya (beriman) untuk dapat diselamatkan,” bukanlah Keselamatan-karena-usaha. Hal ini jelas terlihat dari Roma 4:2-9. Karena iman Abraham, Allah memperhitungkannya sebagai orang benar, dan iman ini tidak sama dengan “perbuatan.” Harus diperjelas di sini, bahwa iman adalah syarat keselamatan bukan dasar keselamatan. Iman tidak membuat kita layak masuk surga, tetapi adalah syarat yang Allah sendiri tentukan untuk mendapatkan keselamatan yang berdasar pada kasih karuniaNya dan pekerjaan Yesus Kristus yang telah selesai di kayu salib.

Tanggapan Budi Asali:
Saya setuju kata-kata ini.


3. Karena Iman adalah Syarat untuk mendapatkan Keselamatan, maka Iman juga adalah Syarat untuk Tetap dalam Keselamatan
Pertanyaannya berpusat di poin ini. Alkitab cukup jelas, bahwa ada syarat untuk mendapatkan keselamatan – iman! Nah, kalau begitu, adakah syarat untuk tetap di dalam keselamatan ini? Jika kita menyelidiki Alkitab, maka jawabannya jelas: ada, yaitu – iman!
Beberapa ayat Firman Tuhan yang mengajarkan hal ini dengan sangat jelas:
• “Oleh Injil itu kamu diselamatkan, asal kamu teguh berpegang padanya, seperti yang telah kuberitakan kepadamu kecuali kalau kamu telah sia-sia saja menjadi percaya.” (1 Kor. 15:2)
• “tetapi Kristus setia sebagai Anak yang mengepalai rumah-Nya; dan rumah-Nya ialah kita, jika kita sampai kepada akhirnya teguh berpegang pada kepercayaan dan pengharapan yang kita megahkan.” (Ibrani 3:6)
• “Karena kita telah beroleh bagian di dalam Kristus, asal saja kita teguh berpegang sampai kepada akhirnya pada keyakinan iman kita yang semula.” (Ibrani 3:14)
• “Tetapi orang-Ku yang benar akan hidup oleh iman, dan apabila ia mengundurkan diri, maka Aku tidak berkenan kepadanya.” (Ibrani 10:38)
• “sekarang diperdamaikan-Nya, di dalam tubuh jasmani Kristus oleh kematian-Nya, untuk menempatkan kamu kudus dan tak bercela dan tak bercacat di hadapan-Nya. Sebab itu kamu harus bertekun dalam iman, tetap teguh dan tidak bergoncang, dan jangan mau digeser dari pengharapan Injil, yang telah kamu dengar dan yang telah dikabarkan di seluruh alam di bawah langit, dan yang aku ini, Paulus, telah menjadi pelayannya.” (Kol. 1:22-23)

Tanggapan Budi Asali:
Saya setuju, Liauw! Anda heran? Kalau ya, anda tak mengerti ajaran Calvinisme! Sekali lagi saya tekankan, saya setuju bahwa iman adalah syarat keselamatan, dan bahwa iman juga adalah syarat untuk tetap ada di dalam keselamatan atau untuk tetap selamat.
Tetapi ada kepercayaan tambahan. Sekalipun syarat untuk selamat adalah iman, tetapi manusia tidak bisa beriman, kecuali Allah menganugerahkan iman itu kepada dia.
Fil 1:29 - “Sebab kepada kamu dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk menderita untuk Dia”.
Yoh 6:44,65 - “(44) Tidak ada seorangpun yang dapat datang kepadaKu, jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa yang mengutus Aku, dan ia akan Kubangkitkan pada akhir zaman. ... (65) Lalu Ia berkata: ‘Sebab itu telah Kukatakan kepadamu: Tidak ada seorangpun dapat datang kepadaKu, kalau Bapa tidak mengaruniakannya kepadanya.’”.
1Kor 12:3 - “Karena itu aku mau meyakinkan kamu, bahwa tidak ada seorangpun yang berkata-kata oleh Roh Allah, dapat berkata: ‘Terkutuklah Yesus!’ dan tidak ada seorangpun, yang dapat mengaku: ‘Yesus adalah Tuhan’, selain oleh Roh Kudus”.

Alkitab sangat jelas dalam hal ini. Mana kata-kata yang tidak anda mengerti dari ayat-ayat di atas ini? Iman adalah anugerah Allah, dan tanpa Allah menganugerahi iman kepada seseorang, ia tidak mungkin / tidak bisa percaya!

Sedikit tambahan lagi, sekalipun Allah menganugerahi iman, tetapi yang beriman tetap adalah orangnya. Allah tidak beriman untuk dia!

Sungguh mengherankan bagi saya bahwa ada orang-orang yang berani berkata bahwa tidak ada syarat untuk mendapatkan janji-janji keselamatan Allah dan berkat-berkat dalam keselamatan!

Tanggapan Budi Asali:
Orang-orang siapa, Liauw? Lagi-lagi, anda asal bicara atau bisa menyebutkan orangnya, dan kutipan kata-katanya yang menyebabkan anda menuduhnya untuk mengatakan demikian.

Alkitab sangat jelas. Kata “jika” dan “asal” tidak terlalu sulit dimengerti. Toh mereka hanya terdiri dari empat huruf, dan kata-kata itu mengindikasinya adanya suatu syarat!! 1 Korintus 15:2 berkata, “Oleh Injil itu kamu diselamatkan, asal kamu teguh berpegang padanya, seperti yang telah kuberitakan kepadamu kecuali kalau kamu telah sia-sia saja menjadi percaya.” Bagian mana dari ayat ini yang sulit untuk dimengerti?
Paulus mengajarkan bahwa orang Kristen harus tetap percaya pada Injil yang telah ia beritakan, agar keselamatan yang telah mereka terima tetap diterapkan pada mereka. Jika mereka tidak percaya lagi, maka kepercayaan mereka yang pertama akan sia-sia. Pengajaran ini sedemikian jelas, sehingga orang yang hendak menolaknya harus melakukan akrobatik penafsiran sedemikian rupa untuk memutarbalikkan artinya.

Tanggapan Budi Asali:
Saya setuju bahwa orang harus tetap percaya untuk bisa selamat. Yang saya tidak setuju adalah kata-kata anda yang saya beri wanra biru. Anda mengatakan ‘Jika mereka tidak percaya lagi, maka kepercayaan mereka yang pertama akan sia-sia.’. Ini menunjukkan bahwa anda percaya bahwa orang yang tadinya beriman dengan sungguh-sungguh, bisa hilang imannya! Ini yang saya tidak percaya. Saya percaya Allah yang menganugerahkan iman, dan Ia tidak akan mengambilnya kembali. Jadi, sekali seseorang bisa sungguh-sungguh percaya, ia akan percaya terus. Kalau ia ‘kehilangan iman’ maka tadinya ia tidak sungguh-sungguh percaya (1Yoh 2:18-19  Yoh 8:31).

Alkitab mengajarkan hal ini dengan begitu jelas, saya sering rindu semua doktrin diajarkan sejelas ini dalam Alkitab. Jadi, iman bukan hanya syarat untuk mendapatkan keselamatan, tetapi juga adalah syarat untuk tetap dalam keselamatan, dan menerima fase akhir dari keselamatan kita: kemuliaan di Surga bersama Kristus!

Tanggapan Budi Asali:
Kerinduan anda hanya mimpi, Liauw. Alkitab itu banyak mengandung kesukaran.
2Pet 3:15-16 - “(15) Anggaplah kesabaran Tuhan kita sebagai kesempatan bagimu untuk beroleh selamat, seperti juga Paulus, saudara kita yang kekasih, telah menulis kepadamu menurut hikmat yang dikaruniakan kepadanya. (16) Hal itu dibuatnya dalam semua suratnya, apabila ia berbicara tentang perkara-perkara ini. Dalam surat-suratnya itu ada hal-hal yang sukar difahami, sehingga orang-orang yang tidak memahaminya dan yang tidak teguh imannya, memutarbalikkannya menjadi kebinasaan mereka sendiri, sama seperti yang juga mereka buat dengan tulisan-tulisan yang lain”.

Nah, orang-orang yang percaya “sekali selamat tetap selamat” (SSTS, tanpa peduli orang itu beriman atau tidak), mereka akan mengatakan bahwa apa yang percaya adalah “keselamatan karena usaha manusia.”

Tanggapan Budi Asali:
Nah, sekarang kelihatan kebodohan anda, atau fitnah anda! Saya tak tahu anda mengatakan kata-kata di atas ini karena anda tidak mengerti ajaran Calvinisme atau karena anda memfitnahnya, seperti yang sudah sangat sering anda lakukan!
Kami Calvinist, memang percaya SSTS, tetapi tanpa embel-embel ‘tanpa peduli orang itu beriman atau tidak’. Anda menuduh demikian, mana buktinya? Berikan satu saja seorang Calvinist yang percaya seperti itu, dan berikan kutipan kata-katanya! Saya tantang anda, Liauw! Kalau tak bisa berikan, maka sekali lagi, anda berdusta dan memfitnah!

Kata-kata anda pada bagian akhir saya tidak mengerti. Saya kira ada kesalahan di sana. Buat kalimat yang baik, Liauw! Apa artinya kata-kata ‘mereka akan mengatakan bahwa apa yang percaya adalah “keselamatan karena usaha manusia.”’????

Tetapi hal ini tidak benar. Syarat keselamatan adalah iman, bukan usaha!! Dan Alkitab membedakan antara keduanya. Ada orang yang mengajarkan bahwa kalau anda jatuh dalam dosa, maka keselamatanmu hilang.
Pengajaran ini juga bertentangan dengan Alkitab! Satu-satunya cara kehilangan keselamatan adalah dengan meninggalkan iman yang telah menyelamatkanmu!

Tanggapan Budi Asali:
Saya setuju, bahwa syarat keselamatan adalah iman, bukan usaha / perbuatan baik. Saya setuju Alkitab membedakan, bahkan mengkontraskan, kedua hal itu.
Tetapi anda menentang pandangan yang mengatakan bahwa orang yang berbuat dosa kehilangan keselamatan, dan pada saat yang sama anda mengatakan bahwa orang hanya kehilangan keselamatan kalau ia meninggalkan iman. Apakah meninggalkan iman bukan dosa, Liauw? Jelas itu dosa, bukan? Saya percaya bahwa yang disebut sebagai ‘dosa sengaja’ dalam Ibr 10:26 adalah dosa meninggalkan Kristus, dan menyangkalNya secara terus menerus. Ini tindakan meninggalkan iman, dan disebut dengan istilah ‘dosa’! Kalau dengan meninggalkan iman bisa kehilangan keselamatan, maka seharusnya anda juga percaya bahwa dengan berbuat dosa manusia bisa kehilangan keselamatan. Memang bukan melakukan seadanya dosa manusia kehilangan keselamatan; tak ada Arminian manapun yang segila itu. Tetapi biasanya mereka percaya bahwa seseorang yang sudah selamat bisa berbuat dosa, dan makin lama makin hebat, sampai akhirnya tidak lagi percaya kepada Kristus.

Semua dosamu telah diperdamaikan oleh Yesus! Jadi, tidak ada dosa yang dapat membuat kita terhilang lagi.

Tanggapan Budi Asali:
Lagi-lagi, Liauw, kata-katamu salah! Meninggalkan iman jelas adalah dosa, dan itu bisa menghancurkan keselamatan seseorang, tetapi anda mengatakan ‘tidak ada dosa yang dapat membuat kita terhilang lagi’!

Tetapi, Allah menuntut iman agar pendamaian ini diterapkan pada setiap individu. Iman adalah syaratnya. Jika kita melangkah keluar dari iman, maka hak kepada hidup yang kekal dibatalkan, sebagaimana diajarkan dengan jelas dari perikop berikut:

Tanggapan Budi Asali:
Hmmm, Liauw, orang yang percaya mendapat hidup kekal, bukan? Kalau bisa keselamatan atau hidup itu bisa hilang, bukankah itu bukan hidup kekal, tetapi hidup bersyarat? Tetapi Alkitab mengatakan bahwa orang percaya mendapatkan hidup kekal (Yoh 3:16), bukan hidup bersyarat!

• “Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan. Sesungguhnya, aku, Paulus, berkata kepadamu: jikalau kamu menyunatkan dirimu, Kristus sama sekali tidak akan berguna bagimu.
Sekali lagi aku katakan kepada setiap orang yang menyunatkan dirinya, bahwa ia wajib melakukan seluruh hukum Taurat. Kamu lepas dari Kristus, jikalau kamu mengharapkan kebenaran oleh hukum Taurat; kamu hidup di luar kasih karunia. Sebab oleh Roh, dan karena iman, kita menantikan kebenaran yang kita harapkan.” (Gal. 5:1-5)

Tanggapan Budi Asali:
Ini merupakan ancaman Paulus kepada orang-orang Galatia, dan ia mengancam, justru supaya mereka tidak meninggalkan iman! Kalau ternyata memang ada orang-orang yang ‘meninggalkan iman’, maka itu harus diartikan sesuai dengan 1Yoh 2:19, dan diartikan bahwa orang itu tidak pernah sungguh-sungguh beriman.
1Yoh 2:18-19 - “(18) Anak-anakku, waktu ini adalah waktu yang terakhir, dan seperti yang telah kamu dengar, seorang antikristus akan datang, sekarang telah bangkit banyak antikristus. Itulah tandanya, bahwa waktu ini benar-benar adalah waktu yang terakhir. (19) Memang mereka berasal dari antara kita, tetapi mereka tidak sungguh-sungguh termasuk pada kita; sebab jika mereka sungguh-sungguh termasuk pada kita, niscaya mereka tetap bersama-sama dengan kita. Tetapi hal itu terjadi, supaya menjadi nyata, bahwa tidak semua mereka sungguh-sungguh termasuk pada kita”.
Coba katakan, Liauw, apanya dari ayat ini yang tidak anda mengerti? Orang yang ‘murtad’, atau ‘meninggalkan iman’ sebetulnya tidak pernah menjadi orang kristen yang sejati!

Masih kurang? Saya beri beberapa ayat lagi.

Mat 24:24 - “Sebab Mesias-mesias palsu dan nabi-nabi palsu akan muncul dan mereka akan mengadakan tanda-tanda yang dahsyat dan mujizat-mujizat, sehingga sekiranya mungkin, mereka menyesatkan orang-orang pilihan juga”.
Ayat ini jelas menunjukkan bahwa orang-orang pilihan tidak mungkin bisa disesatkan. Kalau begitu, bagaimana mungkin mereka bisa meninggalkan iman? Bukankah itu berarti mereka disesatkan? Kalau anda mengatakan, mereka mau sesat sendiri, maka saya tanya: apa alasannya seseorang mau sesat sendiri? Ia pasti disesatkan oleh setan yang menggunakan nabi palsu dan sebagainya. Tetapi tak peduli apapun yang terjadi ayat ini menjamin bahwa orang-orang pilihan tidak mungkin disesatkan.

Yoh 8:31 - “Maka kataNya kepada orang-orang Yahudi yang percaya kepadaNya: ‘Jikalau kamu tetap dalam firmanKu, kamu benar-benar adalah muridKu”.
Apanya yang kurang jelas, Liauw? Kalau ia tetap dalam firman, ia benar-benar murid. Kalau ia meninggalkan iman, ia tidak tetap dalam firman, maka ia bukan benar-benar murid!

Satu ayat lagi dari Perjanjian Lama, Liauw!
Yer 32:40 - “Aku akan mengikat perjanjian kekal dengan mereka, bahwa Aku tidak akan membelakangi mereka, melainkan akan berbuat baik kepada mereka; Aku akan menaruh takut kepadaKu ke dalam hati mereka, supaya mereka jangan menjauh dari padaKu”.
Bagaimana anda menafsirkan ayat / janji Tuhan ini, Liauw???

• “Tetapi orang-Ku yang benar akan hidup oleh iman, dan apabila ia mengundurkan diri, maka Aku tidak berkenan kepadanya.” (Ibrani 10:38)

Tanggapan Budi Asali:
Alangkah baiknya, Liauw, kalau anda mengutip Ibr 10:38 ini tanpa memotong ay 39nya!
Ibr 10:38-39 - “(38) Tetapi orangKu yang benar akan hidup oleh iman, dan apabila ia mengundurkan diri, maka Aku tidak berkenan kepadanya.’ (39) Tetapi kita bukanlah orang-orang yang mengundurkan diri dan binasa, tetapi orang-orang yang percaya dan yang beroleh hidup”.
Jelas bahwa ay 38b itu ancaman, tetapi dalam faktanya tidak terjadi (ay 39)!

• “Sebab mereka yang pernah diterangi hatinya, yang pernah mengecap karunia sorgawi, dan yang pernah mendapat bagian dalam Roh Kudus, dan yang mengecap firman yang baik dari Allah dan karunia-karunia dunia yang akan datang, namun yang murtad lagi, tidak mungkin dibaharui sekali lagi sedemikian, hingga mereka bertobat, sebab mereka menyalibkan lagi Anak Allah bagi diri mereka dan menghina-Nya di muka umum.” (Ibrani 6:4-6)

Tanggapan Budi Asali:
Hmmm, saya mau tanya, Liauw. Kalau seseorang meninggalkan iman, anda katakan ia kehilangan keselamatan. Bagaimana kalau setelah itu ia kembali lagi kepada imannya? Ia selamat lagi, bukan? Setahu saya Arminianisme mengajar demikian. Tetapi ayat di atas ini mengatakan ‘tidak mungkin dibaharui sekali lagi sedemikian’!
Ayat ini tidak berbicara tentang orang-orang kristen yang sejati. Semua ayat tentang orang kristen yang murtad harus ditafsirkan dengan memperhatikan 1Yoh 2:18-19 tadi, yang jelas menunjukkan bahwa yang murtad hanyalah orang yang tadinya tidak sungguh-sungguh Kristen!
Anda mungkin mengatakan, penggambaran tentang orang ini dalam Ibr 6:4-6 itu sepertinya menunjukkan orang itu Kristen sejati. Saya jawab, memang gandum mirip dengan lalang, bukan? Tak heran kalau penggambarannya mirip? Saya bisa menjelaskan kata-kata yang digunakan untuk menggambarkan orang itu. Mari kita perhatikan potong per potong:

Ibr 6:4-6 - “(4) Sebab mereka yang pernah diterangi hatinya, yang pernah mengecap karunia sorgawi, dan yang pernah mendapat bagian dalam Roh Kudus, (5) dan yang mengecap firman yang baik dari Allah dan karunia-karunia dunia yang akan datang, (6) namun yang murtad lagi, tidak mungkin dibaharui sekali lagi sedemikian, hingga mereka bertobat, sebab mereka menyalibkan lagi Anak Allah bagi diri mereka dan menghinaNya di muka umum”.

Kalau tadi (Ibr 5:11-6:3) penulis surat Ibrani sudah menyatakan kelambanan mereka dalam hal mendengar Firman Tuhan dan betapa kurangnya kemajuan mereka, maka sekarang ia memberikan suatu peringatan akan bahayanya jika mereka terus ada dalam keadaan seperti itu. Ia lalu menceritakan suatu kasus, dimana orang yang setelah mengaku percaya, akhirnya murtad.

John Owen: “The Apostle had told them to whom he is writing that they were slow as to making progress in knowledge and in a suitable practice; he now lets them know the danger that there was in continuing in that slothful condition. That they might be acquainted with their danger, and stirred up to avoid it, he gives them an account of those who, after a profession of the gospel, beginning with a non-proficiency in it, do end in apostasy from it” (= Sang Rasul telah memberitahu mereka, kepada siapa ia sedang menulis, bahwa mereka lamban berkenaan dengan membuat kemajuan dalam pengetahuan dan dalam praktek yang bersesuaian; sekarang ia memberitahu mereka bahaya yang ada kalau terus ada dalam kondisi lamban tersebut. Supaya mereka bisa memahami bahaya mereka, dan digerakkan untuk menghindarinya, ia memberi mereka cerita tentang mereka yang, setelah mengakui Injil, dimulai dengan ketidak-ahlian di dalamnya, berakhir dengan kemurtadan darinya) - ‘Hebrews, abridged’, hal 96.

Ada 5 hal yang merupakan penggambaran dari orang-orang itu:

1)         ‘diterangi hatinya’.
Ada yang mengartikan ini sebagai baptisan, karena dalam terjemahan Syria, ini diterjemahkan ‘dibaptis’. Ini jelas salah; dan tentang bagaimana mungkin terjemahan Syria bisa menterjemahkan seperti itu, dan penjelasan tentang kesalahan terjemahan ini diberikan oleh John Owen di bawah ini, tetapi saya anggap tidak terlalu penting untuk dibahas.

John Owen: “The first thing in the description is, that they were a[pax fwtisqe>ntev, ‘once enlightened;’ saith the Syriac translation, as we observed, ‘once baptized.’ It is very certain that, early in the church, baptism was called fwtismo>v, ‘illumination;’ and fwti>zein, ‘to enlighten,’ was used for ‘to baptize.’ And the set times wherein they solemnly administered that ordinance were called hJme>rai tw~n fwtw~n, ‘the days of light.’ Hereunto the Syriac interpreter seems to have had respect. And the word a[pax, ‘once,’ may give countenance hereunto. Baptism was once only to be celebrated, according to the constant faith of the churches in all ages. And they called baptism ‘illumination,’ because it being one ordinance of the initiation of persons into a participation of all the mysteries of the church, they were thereby translated out of the kingdom of darkness into that of grace and light. And it seems to give further countenance hereunto, in that baptism really was the beginning and foundation of a participation of all the other spiritual privileges that are mentioned afterwards. For it was usual in those times, that upon the baptizing of persons, the Holy Ghost came upon them, and endowed them with extraordinary gifts, peculiar to the days of the gospel, as we have showed in our consideration of the order between ‘baptism’ and ‘imposition of hands.’ And this opinion hath so much of probability in it, having nothing therewithal unsuited to the analogy of faith or design of the place, that I should embrace it, if the word itself, as here used, did not require another interpretation. For it was a good while after the writing of this epistle, and all other parts of the New Testament, at least an age or two, if not more, before this word was used mystically to express baptism. In the whole Scripture it hath another sense, denoting an inward operation of the Spirit, and not the outward administration of an ordinance. And it is too much boldness, to take a word in a peculiar sense in one single place, diverse from its proper signification and constant use, if there be no circumstances in the text forcing us thereunto, as here are not. And for the word a[pax, ‘once,’ it is not to be restrained unto this particular, but refers equally unto all the instances that follow, signifying no more but that those mentioned were really and truly partakers of them” (= ) - ‘Hebrews’, vol 5, hal 73-74.

John Owen: “Wherefore, to be ‘enlightened’ in this place is to be instructed in the doctrine of the gospel, so as to have a spiritual apprehension thereof” (= Karena itu, ‘diterangi’ di tempat ini adalah diajar dalam doktrin / ajaran dari Injil, sehingga mempunyai pengertian / kepandaian tentangnya) - ‘Hebrews’, vol 5, hal 74.
Catatan: dalam 2 kutipan dari Owen di bawah (yang saya letakkan dalam kotak), Owen menunjukkan alasan yang sangat kuat mengapa ia mengambil pandangan seperti ini atau menafsir seperti ini.

John Owen: Fwti>zomai, is ‘to give light or knowledge by teaching;’ - the same with hr,wOh, which, therefore, is so translated ofttimes by the Greeks; as by Aquila, Exodus 4:12; Psalm 119:33; Proverbs 4:4; Isaiah 27:11, as Drusius observes. And it is so by the LXX., Judges 13:8; 2 Kings 12:2, 17:27. Our apostle useth it for ‘to make manifest;’ that is, ‘bring to light,’ 1 Corinthians 4:5, 2 Timothy 1:10. And the meaning of it, John 1:9, where we render it ‘lighteth,’ is to teach. And fwtismo>v is ‘knowledge upon instruction:’ 2 Corinthians 4:4, Eijv to< mh< aujga>sai aujtoi~v toou, - ‘That the light of the gospel should not shine into them;’ that is, the knowledge of it. So verse 6, Prosewv, - ‘The light of the knowledge.’” (= ) - ‘Hebrews’, vol 5, hal 74.

John Owen: “Of the object, or the things known and apprehended. For ‘life and immortality are brought to light by the gospel,’ 2 Timothy 1:10. Hence it is called ‘light;’ ‘the inheritance of the saints in light.’ And the state which men are thereby brought into is so called in opposition to the darkness that is in the world without it, 1 Peter 2:9. The world without the gospel is the kingdom of Satan: JO ko>smov o[lov ejn tw~| ponhrw~| kei~tai, 1 John 5:19. The whole of the world, and all that belongs unto it, in distinction and opposition unto the new creation, is under the power of the wicked one, the prince of the power of darkness, and so is full of darkness. It is to>pov aujcmhro>v, 2 Peter 1:19; - ‘a dark place,’ wherein ignorance, folly, error, and superstition do dwell and reign. By the power and efficacy of this darkness are men kept at a distance from God, and know not whither they go. This is called ‘walking in darkness,’ 1 John 1:6; whereunto ‘walking in the light,’ that is, the knowledge of God in Christ by the gospel, is opposed, verse 7. On this account is our instruction in the knowledge of the gospel called ‘illumination,’ because itself is light” (= ) - ‘Hebrews’, vol 5, hal 74.

John Owen mengatakan bahwa mereka diterangi oleh ajaran injil dan pekerjaan Roh Kudus. Ini merupakan pekerjaan umum dari Roh Kudus.
Ini tidak harus menunjukkan bahwa orangnya sudah selamat, karena kata ini bisa digunakan terhadap seseorang yang bukan kristen sejati, misalnya dalam Yoh 1:9.
Yoh 1:9 - “Terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang, sedang datang ke dalam dunia”.
Catatan: kata Yunani yang diterjemahkan ‘diterangi’ dalam Ibr 6:4 adalah PHOTISTHENTAS (fwtisqentaj), sedangkan kata Yunani yang diterjemahkan ‘menerangi’ dalam Yoh 1:9 adalah PHOTIZEI (fwtizei), yang jelas berasal dari kata dasar yang sama.

John Owen: “This is the first property whereby the persons intended are described; they are such as were ‘illuminated’ by the instruction they had received in the doctrine of the gospel, and the impression made thereby on their minds by the Holy Ghost; for this is a common work of his, and is here so reckoned. And the apostle would have us know that, - Obs. 1. It is a great mercy, a great privilege, to be enlightened with the doctrine of the gospel, by the effectual working of the Holy Ghost. But, - Obs. 2. It is such a privilege as may be lost, and end in the aggravation of the sin, and condemnation of those who were made partakers of it. And, - Obs. 3. Where there is a total neglect of the due improvement of this privilege and mercy, the condition of such persons is hazardous, as inclining towards apostasy” (= Ini adalah milik yang pertama dengan mana orang-orang yang dimaksudkan digambarkan; mereka adalah sedemikian rupa sebagai telah ‘diterangi’ oleh instruksi / ajaran yang telah mereka terima dalam doktrin dari Injil, dan dengan demikian kesan / pengaruh telah dibuat pada pikiran mereka oleh Roh Kudus; karena ini adalah pekerjaanNya yang umum, dan di sini begitu diperhitungkan. Dan sang rasul ingin kita tahu bahwa, - Pengamatan 1. Merupakan suatu belas kasihan yang besar, hak yang besar, untuk diterangi dengan doktrin dari Injil, oleh pekerjaan yang efektif dari Roh Kudus. Tetapi, - Pengamatan 2. Itu adalah suatu hak yang bisa hilang, dan berakhir dalam bertembahnya dosa, dan penghukuman dari mereka yang telah dibuat menjadi pengambil bagian darinya. Dan, - Pengamatan 3. Dimana ada suatu pengabaian total tentang kemajuan yang seharusnya dari hak dan belas kasihan ini, kondisi dari orang-orang seperti itu adalah berbahaya, karena condong pada kemurtadan) - ‘The Works of John Owen’, vol 5, hal 75.

Untuk lebih memperjelas tentang kasus dimana seseorang mendapatkan pencerahan dan pengetahuan, tetapi ia sendiri tetap terhilang, John Owen memberikan penjelasan tentang 3 macam pengetahuan:

a)   Pengetahuan tentang hal-hal rohani yang semata-mata bersifat alamiah (natural) - Owen, ‘Hebrews’, vol 5, hal 75.
Ini didapatkan oleh orangnya sekedar dengan belajar, tanpa pertolongan khusus apapun dari Roh Kudus. Orang yang dengan rajin dan tekun mempelajari Alkitab, sama seperti mereka mempelajari ilmu pengetahuan yang lain, bisa mendapatkan pengetahuan jenis ini, tetapi mereka sama sekali asing terhadap semua karunia rohani.

Pertanyaan: apakah pandangan Owen ini tidak bertentangan dengan 1Kor 2:14?
1Kor 2:14 - “Tetapi manusia duniawi tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah, karena hal itu baginya adalah suatu kebodohan; dan ia tidak dapat memahaminya, sebab hal itu hanya dapat dinilai secara rohani”.

Jawab: tidak bertentangan. Mengapa? Karena yang dikatakan sebagai ‘ia tidak dapat memahaminya’ dalam 1Kor 2:14 ini bukanlah tidak bisa mengertinya secara intelektual. Tentu kita bisa mengajarkan Injil kepada orang kafir, dan ia bisa mengertinya semata-mata secara intelektual. Adalah mustahil bahwa kalau kita hanya mengajar bahwa Allah telah menjadi manusia dalam diri Yesus Kristus, lalu mati disalib untuk dosa-dosa kita, sehingga sekarang orang yang percaya akan diselamatkan, dan orang kafir itu sama sekali tidak bisa mengertinya secara intelektual. Jadi, yang dimaksudkan oleh ayat ini dengan kata-kata ‘ia tidak dapat memahaminya’ adalah bahwa ia tidak bisa mengerti / melihat keunggulan atau keindahan dari Injil itu. Sebaliknya, ia bahkan menganggapnya sebagai ‘suatu kebodohan’.
Bdk. 1Kor 1:18,22-23 - “(18) Sebab pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Allah. ... (22) Orang-orang Yahudi menghendaki tanda dan orang-orang Yunani mencari hikmat, (23) tetapi kami memberitakan Kristus yang disalibkan: untuk orang-orang Yahudi suatu batu sandungan dan untuk orang-orang bukan Yahudi suatu kebodohan”.
Bahwa seseorang bisa menilai Injil sebagai ‘suatu kebodohan’, mensyaratkan bahwa ia mengerti (secara intelektual) tentang Injil itu. Kalau secara intelektual ia tidak mengertinya sama sekali, ia tidak bisa memberikan penilaian apapun.

b)   Pengetahuan yang didapatkan seseorang dengan belajar Firman Tuhan dengan pencerahan dari Roh Kudus.
Owen mengatakan bahwa berbeda dengan orang yang hanya belajar Firman Tuhan secara alamiah (point a di atas), yang hanya akan menganggap Injil sebagai kebodohan, maka orang yang di sini akan mendapatkan kepuasan tertentu dari pengertian tentang Injil.
John Owen: “this spiritual illumination gives the mind some satisfaction, with delight and joy, in the things that are known. By that beam whereby it shines into darkness, although it be not fully comprehended, yet it represents the way of the gospel as a way of righteousness, 2 Peter 2:21, which reflects peculiar regard of it on the mind” (= pencerahan rohani ini memberi pikiran suatu kepuasan, dengan kesenangan dan sukacita, dalam hal-hal yang diketahui. Oleh sinar itu dengan mana itu bersinar ke dalam kegelapan, sekalipun itu tidak sepenuhnya dimengerti, tetapi itu menggambarkan / menunjukkan Injil sebagai suatu jalan kebenaran, 2Pet 2:21) - ‘Hebrews’, vol 5, hal 76.
2Pet 2:21 - “Karena itu bagi mereka adalah lebih baik, jika mereka tidak pernah mengenal Jalan Kebenaran dari pada mengenalnya, tetapi kemudian berbalik dari perintah kudus yang disampaikan kepada mereka”.

Saya juga berpendapat bahwa ayat-ayat di bawah ini berkenaan dengan orang yang mendapat pengertian dengan pencerahan Roh Kudus seperti yang dibicarakan Owen di sini.
·         Mat 13:20-21 - “(20) Benih yang ditaburkan di tanah yang berbatu-batu ialah orang yang mendengar firman itu dan segera menerimanya dengan gembira. (21) Tetapi ia tidak berakar dan tahan sebentar saja. Apabila datang penindasan atau penganiayaan karena firman itu, orang itupun segera murtad”.
·         Mat 19:16-22 - “(16) Ada seorang datang kepada Yesus, dan berkata: ‘Guru, perbuatan baik apakah yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?’ (17) Jawab Yesus: ‘Apakah sebabnya engkau bertanya kepadaKu tentang apa yang baik? Hanya Satu yang baik. Tetapi jikalau engkau ingin masuk ke dalam hidup, turutilah segala perintah Allah.’ (18) Kata orang itu kepadaNya: ‘Perintah yang mana?’ Kata Yesus: ‘Jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta, (19) hormatilah ayahmu dan ibumu dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.’ (20) Kata orang muda itu kepadaNya: ‘Semuanya itu telah kuturuti, apa lagi yang masih kurang?’ (21) Kata Yesus kepadanya: ‘Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.’ (22) Ketika orang muda itu mendengar perkataan itu, pergilah ia dengan sedih, sebab banyak hartanya”.
·         Mark 6:20 - “sebab Herodes segan akan Yohanes karena ia tahu, bahwa Yohanes adalah orang yang benar dan suci, jadi ia melindunginya. Tetapi apabila ia mendengarkan Yohanes, hatinya selalu terombang-ambing, namun ia merasa senang juga mendengarkan dia”.
·         Kis 24:24-25 - “(24) Dan setelah beberapa hari datanglah Feliks bersama-sama dengan isterinya Drusila, seorang Yahudi; ia menyuruh memanggil Paulus, lalu mendengar dari padanya tentang kepercayaan kepada Yesus Kristus. (25) Tetapi ketika Paulus berbicara tentang kebenaran, penguasaan diri dan penghakiman yang akan datang, Feliks menjadi takut dan berkata: ‘Cukuplah dahulu dan pergilah sekarang; apabila ada kesempatan baik, aku akan menyuruh memanggil engkau.’”.

c)   Pengetahuan yang menyelamatkan dan menguduskan. Ini jelas juga didapatkan dari pencerahan Roh Kudus, tetapi dalam hal ini Ia menambahkan kasih karunia sehingga orang itu diselamatkan.
John Owen: “There is a saving, sanctifying light and knowledge, which this spiritual illumination riseth not up unto; for though it transiently affects the mind with some glances of the beauty, glory, and excellency of spiritual things, yet it doth not give that direct, steady, intuitive insight into them which is obtained by grace. See 2 Corinthians 3:18, 4:4,6. Neither doth it renew, change, or transform the soul into a conformity unto the things known, by planting of them in the will and affections, as a gracious saving light doth, 2 Corinthians 3:18; Romans 6:17, 12:2” [= Di sana ada suatu terang dan pengetahuan yang menyelamatkan dan menguduskan, yang tidak dicapai oleh pencerahan rohani ini (pengetahuan karena pencerahan Roh Kudus pada point b di atas); karena sekalipun itu secara sementara mempengaruhi pikiran dengan beberapa pandangan sekilas dari keindahan, kemuliaan dan keunggulan dari hal-hal rohani, tetapi itu tidak memberikan pengetahuan / pengertian yang langsung, menetap / kokoh / mantap, intuitif ke dalam hal-hal rohani itu, yang didapatkan oleh kasih karunia. Lihat 2Kor 3:18; 4:4,6. Juga itu tidak memperbaharui, mengubah, atau membentuk jiwa ke dalam suatu penyesuaian dengan hal-hal yang diketahui, dengan menanamkan mereka dalam kehendak dan perasaan, seperti yang dilakukan oleh terang yang menyelamatkan, 2Kor 3:18; Ro 6:17; 12:2] - ‘Hebrews’, vol 5, hal 76.
Catatan:
1.   Kata ‘intuition’ berarti ‘the immediate knowing or learning of something without the conscious use of reasoning; instantaneous apprehension’ (= pengenalan atau pengetahuan langsung tentang sesuatu tanpa penggunaan sadar dari pemikiran / pertimbangan; pengertian yang segera / seketika itu juga) - Webster’s New World Dictionary.
2.         Saya tak memberikan ayat-ayat referensinya karena tak terlalu penting.

Dari perbandingan point b dan point c di atas, harus disimpulkan bahwa adalah mungkin bagi seseorang untuk bisa belajar Firman Tuhan, dan mendapatkan pengertian karena pencerahan Roh Kudus, tetapi tetap tidak diselamatkan!

Bdk. 2Pet 1:19 - “Dengan demikian kami makin diteguhkan oleh firman yang telah disampaikan oleh para nabi. Alangkah baiknya kalau kamu memperhatikannya sama seperti memperhatikan pelita yang bercahaya di tempat yang gelap sampai fajar menyingsing dan bintang timur terbit bersinar di dalam hatimu”.

Ayat ini jelas menunjukkan bahwa sekalipun firman / Injil menyinari seseorang, tetapi ia harus memperhatikannya, untuk bisa mendapatkan manfaat darinya.

Calvin (tentang 2Pet 1:19): “This is a remarkable passage: we learn from it how God guides us. The Papists have ever and anon in their mouth, that the Church cannot err. Though the word is neglected, they yet imagine that it is guided by the Spirit. But Peter, on the contrary, intimates that all are immersed in darkness who do not attend to the light of the word. Therefore, except thou art resolved wilfully to cast thyself into a labyrinth, especially beware of departing even in the least thing from the rule and direction of the word” [= Ini merupakan suatu text yang luar biasa: kita belajar darinya bagaimana Allah membimbing kita. Para pengikut Paus (orang Katolik) selalu dan segera mengatakan bahwa Gereja (Katolik) tidak bisa salah. Sekalipun firman diabaikan, tetapi mereka mengkhayalkan bahwa Gereja itu dipimpin oleh Roh. Tetapi sebaliknya, Petrus menyatakan bahwa semua yang tidak memperhatikan / mengikuti terang dari firman tenggelam dalam kegelapan. Karena itu, kecuali engkau memutuskan dengan sengaja untuk melemparkan dirimu sendiri ke dalam suatu struktur yang membingungkan, hati-hatilah secara khusus untuk tidak menyimpang bahkan dalam hal yang terkecil dari peraturan dan pengarahan dari firman].

2)         ‘mengecap karunia sorgawi’.

a)   Owen menganggap bahwa ‘karunia surgawi’ ini menunjuk kepada Roh Kudus.
Kis 2:38 - “Jawab Petrus kepada mereka: ‘Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus”.
Catatan: kata-kata ‘karunia Roh Kudus’ bukan berarti ‘karunia dari Roh Kudus’, tetapi ‘karunia berupa Roh Kudus’.

Bagaimana mungkin kata-kata ‘karunia surgawi’ bisa menunjuk kepada Roh Kudus? Perhatikan jawaban Owen di bawah ini.

John Owen: “And he is said to be ejpoura>niov, ‘heavenly,’ or from heaven. ... The promise of him was, that he should be sent ‘from heaven,’ or ‘from above;’ ... He, therefore, is this hJ dwrea< hJ ejpoura>niov, the ‘heavenly gift’ here intended, though not absolutely, but with respect to an especial work. ... That which riseth up against this interpretation is, that the Holy Ghost is expressly mentioned in the next clause, ‘And were made partakers of the Holy Ghost.’ It is not therefore probable that he should be here also intended. ... The Holy Ghost is here mentioned as the great gift of the gospel times, as coming down from heaven, not absolutely, not as unto his person, but with respect unto an especial work, namely, the change of the whole state of religious worship in the church of God; whereas we shall see in the next words he is spoken of only with respect unto external, actual operations. But he was the great, the promised heavenly gift, to be bestowed under the new testament, by whom God would institute and ordain a new way, and new rites of worship, upon the revelation of himself and will in Christ. ... The Spirit of God, therefore, as bestowed for the introduction of the new gospel-state, in truth and worship, is ‘the heavenly gift’ here intended” (= Dan Ia dikatakan sebagai EPOURANIOS, ‘surgawi’, atau ‘dari surga’. ... JanjiNya adalah bahwa Ia dikirim ‘dari surga’, atau ‘dari atas’; ... Karena itu, Ia adalah HE DOREA HE EPOURANIOS ini, ‘karunia surgawi’ yang dimaksudkan di sini, sekalipun bukan secara mutlak, tetapi berkenaan dengan suatu pekerjaan khusus. ... Apa yang muncul terhadap / menentang penafsiran ini adalah, bahwa Roh Kudus disebutkan secara explicit dalam anak kalimat berikutnya, ‘Dan dibuat menjadi pengambil bagian dari Roh Kudus’. Karena itu tidaklah mungkin bahwa di sini Ia juga yang dimaksudkan. ... Roh Kudus disebutkan di sini sebagai karunia yang besar dari jaman injil, sebagai turun dari surga, bukan secara mutlak, bukan berkenaan dengan diri / pribadiNya, tetapi berkenaan dengan suatu pekerjaan khusus, yaitu perubahan dari seluruh keadaan dari penyembahan / ibadah agamawi dalam gereja Allah; sedangkan kita akan melihat dalam kata-kata berikutnya Ia dibicarakan hanya berkenaan dengan operasi luar / lahiriah yang sungguh-sungguh. Tetapi Ia adalah karunia surgawi yang dijanjikan dan besar, untuk diberikan di bawah perjanjian baru, dengan mana Allah akan mengadakan dan menentukan suatu cara yang baru, dan upacara-upacara baru dari penyembahan / ibadah, pada penyataan / wahyu dari diriNya sendiri dan kehendak dalam Kristus. ... Karena itu, Roh Allah sebagai yang diberikan untuk perkenalan / pendahuluan dari keadaan injil yang baru, dalam kebenaran dan penyembahan / ibadah, adalah ‘karunia surgawi’ yang dimaksudkan di sini) - ‘Hebrews’, vol 5, hal 77,78,79.
Catatan: kata ‘surgawi’ diterjemahkan dari kata Yunani EPOURANIOU yang ada dalam kasus genitive (Owen menuliskan kasus nominative-nya yaitu EPOURANIOS), sehingga memang bisa diterjemahkan ‘of heaven / from heaven’.
Kis 1:8 - “Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksiKu di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.’”.
Yoh 16:7 - “Namun benar yang Kukatakan ini kepadamu: Adalah lebih berguna bagi kamu, jika Aku pergi. Sebab jikalau Aku tidak pergi, Penghibur itu tidak akan datang kepadamu, tetapi jikalau Aku pergi, Aku akan mengutus Dia kepadamu”.
Kis 2:1-4 - “(1) Ketika tiba hari Pentakosta, semua orang percaya berkumpul di satu tempat. (2) Tiba-tiba turunlah dari langit suatu bunyi seperti tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah, di mana mereka duduk; (3) dan tampaklah kepada mereka lidah-lidah seperti nyala api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing. (4) Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya”.
Kis 2:33 - “Dan sesudah Ia ditinggikan oleh tangan kanan Allah dan menerima Roh Kudus yang dijanjikan itu, maka dicurahkanNya apa yang kamu lihat dan dengar di sini”.

b)   Kata ‘mengecap’ (Inggris: ‘taste’).
Beberapa penafsir mengatakan  bahwa kata ‘taste’ (= mengecap), tidak bisa diartikan ‘mencicipi sedikit’, tetapi berarti ‘makan’ dan di sini artinya adalah ‘mengetahui / mengenal, mengetahui dari pengalaman / mengalami, ikut ambil bagian, memiliki, merasakan, menikmati’.
Memang ada ayat-ayat yang menunjukkan bahwa ‘mengecap’ betul-betul berarti ‘memakan’ seperti dalam 2Sam 3:35 dan 1Sam 14:29.
1Sam 14:29 - “Lalu kata Yonatan: ‘Ayahku mencelakakan negeri; coba lihat, bagaimana terangnya mataku, setelah aku merasai sedikit dari madu ini”.
KJV/RSV/NIV/NASB: ‘tasted’ (= mengecap).
2Sam 3:35 - “Seluruh rakyat datang menawarkan kepada Daud untuk makan roti selagi hari siang, tetapi Daud bersumpah, katanya: ‘Kiranya Allah menghukum aku, bahkan lebih lagi dari pada itu, jika sebelum matahari terbenam aku mengecap roti atau apapun.’”.

Tetapi Owen menjawab bahwa dalam Kitab Suci kata ‘taste’ (= mengecap) bisa mencicipi sedikit dan lalu memutuskan untuk memakan atau menolaknya, seperti dalam kasus dari Yesus yang mencicipi anggur bercampur empedu / mur, dan lalu menolak untuk meminumnya (Mat 27:34).
Mat 27:34 - “Lalu mereka memberi Dia minum anggur bercampur empedu. Setelah Ia mengecapnya, Ia tidak mau meminumnya”.

Owen menganggap ini sebagai kiasan. Kita mengecap sesuatu, dan lalu kita bisa menerimanya atau menolaknya.

John Owen: “We may inquire what it is to ‘taste’ of this heavenly gift. The expression of tasting is metaphorical, and signifies no more but to make a trial or experiment; for so we do by tasting, naturally and properly, of that which is tendered unto us to eat. We taste such things by the sense given us naturally to discern our food; and then either receive or refuse them, as we find occasion. It doth not, therefore, include eating, much less digestion and turning into nourishment of what is so tasted; for its nature being only thereby discerned, it may be refused, yea, though we like its relish and savor, upon some other consideration. Some have observed, that to taste is as much as to eat; as 2Samuel 2:35, ‘I will not taste bread, or ought else.’ But the meaning is, ‘I will not so much as taste it;’ whence it was impossible he should eat it. And when Jonathan says he only tasted a little of the honey, 1Samuel 14:29, it was an excuse and extenuation of what he had done. But it is unquestionably used for some kind of experience of the nature of things: Proverbs 31:18, ‘She tasteth that her merchandise is good;’ or hath experience of it, from its increase. Psalm 34:8, ‘O taste and see that the LORD is good:’ which Peter respects, 1Peter 2:3, ‘If so be that ye have tasted that the Lord is gracious,’ or found it so by experience. It is therefore properly to make an experiment or trial of any thing, whether it be received or refused; and is sometimes opposed to eating and digestion, as Matthew 27:34. That, therefore, which is ascribed unto these persons, is, that they had an experience of the power of the Holy Ghost, that gift of God, in the dispensation of the gospel, the revelation of the truth, and institution of the spiritual worship of it; of this state, and of the excellency of it, they had made some trial, and had some experience; - a privilege which all men were not made partakers of. And by this taste they were convinced that it was far more excellent than what they had been before accustomed unto; although now they had a mind to leave the finest wheat for their old acorns. Wherefore, although tasting contains a diminution in it, if compared with that spiritual eating and drinking, with that digestion of gospel truths, turning them into nourishment, which are in true believers; yet, absolutely considered, it denotes that apprehension and experience of the excellency of the gospel as administered by the Spirit, which is a great privilege and spiritual advantage, the contempt whereof will prove an unspeakable aggravation of the sin, and the remediless ruin of apostates. The meaning, then, of this character given concerning these apostates is, that they had some experience of the power and efficacy of the Holy Spirit from heaven, in gospel administrations and worship. For what some say of faith, it hath here no place; and what others affirm of Christ, and his being the gift of God, comes in the issue unto what we have proposed” (= ) - ‘Hebrews’, vol 5, hal 79-80.
Catatan: Owen memberikan penjelasan tentang kata ‘mengecap’ itu dengan sangat terperinci dan panjang dan karena itu saya hanya memberikan ringkasan dan hal-hal terpentingnya saja.

Owen menyimpulkan bahwa orang-orang ini mencicipi dan mengalami, dalam tingkat tertentu, pemberian surgawi ini, tetapi tidak pernah betul-betul menerimanya dalam hidupnya.

3)         ‘mendapat bagian dalam Roh Kudus’.
Owen mengatakan bahwa Roh Kudus hadir dengan banyak orang berkenaan dengan pekerjaanNya yang berkuasa, tetapi Ia tidak tinggal dalam diri orang itu.

John Owen: “the Holy Ghost is present with many as unto powerful operations, with whom He is not present as to gracious inhabitation; many are made partakers of Him in spiritual gifts, who are never made partakers of Him in His saving grace” (= Roh Kudus hadir dengan banyak orang berkenaan dengan pekerjaan-pekerjaan yang berkuasa, dengan siapa Ia tidak hadir dalam arti ‘tinggal secara murah hati’; banyak orang ambil bagian dalam Roh Kudus dalam pemberian-pemberian rohani, yang tidak pernah ambil bagian dari Dia dalam kasih karunia yang menyelamatkan) - ‘Hebrews, abridged’, hal 97.

John Owen: “to partake of him is to have a share, part, or portion, in what he distributes by way of spiritual gifts; ... So Peter told Simon the magician, that he had no part in spiritual gifts, he was not partaker of the Holy Ghost, Acts 8:21. Wherefore to be ‘partaker of the Holy Ghost,’ is to have a share in and benefit of his spiritual operations. ... It is one thing for a man to have a share in and benefit by the gifts of the church, another to be personally himself endowed with them” (= mengambil bagian dari Dia artinya mendapatkan bagian dalam apa yang Ia distribusikan melalui karunia-karunia rohani; ... Demikianlah Petrus memberitahu Simon tukang sihir bahwa ia tidak mendapat bagian dalam karunia-karunia rohani, ia bukanlah pengambil bagian dari Roh Kudus, Kis 8:21. Karena itu menjadi ‘pengambil bagian dari Roh Kudus’ berarti mendapat suatu bagian dalam, dan manfaat dari, operasi-operasi rohaniNya. ... Bahwa seseorang ‘mendapatkan suatu bagian dalam, dan manfaat oleh, karunia-karunia dari gereja’, merupakan sesuatu yang sangat berbeda dengan ‘dirinya sendiri diberi secara pribadi dengan hal-hal itu’) - ‘Hebrews’, vol 5, hal 80-81.

Bdk. Kis 8:17-23 - “(17) Kemudian keduanya menumpangkan tangan di atas mereka, lalu mereka menerima Roh Kudus. (18) Ketika Simon melihat, bahwa pemberian Roh Kudus terjadi oleh karena rasul-rasul itu menumpangkan tangannya, ia menawarkan uang kepada mereka, (19) serta berkata: ‘Berikanlah juga kepadaku kuasa itu, supaya jika aku menumpangkan tanganku di atas seseorang, ia boleh menerima Roh Kudus.’ (20) Tetapi Petrus berkata kepadanya: ‘Binasalah kiranya uangmu itu bersama dengan engkau, karena engkau menyangka, bahwa engkau dapat membeli karunia Allah dengan uang. (21) Tidak ada bagian atau hakmu dalam perkara ini, sebab hatimu tidak lurus di hadapan Allah. (22) Jadi bertobatlah dari kejahatanmu ini dan berdoalah kepada Tuhan, supaya Ia mengampuni niat hatimu ini; (23) sebab kulihat, bahwa hatimu telah seperti empedu yang pahit dan terjerat dalam kejahatan.’”.

Catatan: bahwa ‘Roh Kudus’ diartikan menunjuk bukan kepada diri / pribadi Roh Kudus tetapi pada karunia-karunia dari Roh Kudus, juga terjadi dalam Ibr 2:4.
Ibr 2:4 - “Allah meneguhkan kesaksian mereka oleh tanda-tanda dan mujizat-mujizat dan oleh berbagai-bagai penyataan kekuasaan dan karena Roh Kudus, yang dibagi-bagikanNya menurut kehendakNya”.
KJV/RSV/NIV/NASB: ‘gifts of the Holy Ghost / Spirit’ (= karunia-karunia dari Roh Kudus).
Catatan: dalam bahasa Yunaninya kata ‘gifts’ (= karunia-karunia) itu tidak ada.

Barnes’ Notes (tentang Ibr 2:4): The various influences of the Holy Spirit enabling them to speak different languages, and to perform works beyond the power of man; see notes on 1 Cor 12:4-11 (= Pengaruh-pengaruh yang bermacam-macam dari Roh Kudus yang memampukan mereka untuk berbicara dalam bahasa-bahasa yang berbeda, dan untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan yang ada di luar kemampuan manusia; lihat catatan tentang 1Kor 12:4-11).

4)         ‘mengecap firman yang baik dari Allah’.

a)   Kata-kata ‘firman yang baik dari Allah’ artinya adalah ‘janji-janji dari injil’.
Owen mengatakan bahwa dalam Yudaisme / Perjanjian Lama mereka juga mengecap Firman Allah (Ro 3:2), tetapi ia menambahkan bahwa yang dimaksudkan di sini adalah Firman Tuhan dalam arti ‘Injil’.

John Owen: “it is the word of God as preached in the dispensation of the gospel that is eminently thus called, and concerning which such excellent things are spoken, Rom. 1:16; Acts 20:32; James 1:21” (= adalah firman Allah seperti yang diberitakan dalam jaman Injil yang secara nyata disebut demikian, dan tentang mana hal-hal yang sangat bagus seperti itu diucapkan, Ro 1:16; Kis 20:32; Yak 1:21) - ‘Hebrews’, vol 5, hal 82.

b)   ‘Mengecap’.
Sama seperti dalam point no 2) di atas, penulis surat Ibrani menggunakan kata ‘mengecap’ atau ‘mencicipi’.

John Owen: “Hereof they are said to ‘taste,’ as they were before of the heavenly gift. The apostle as it were studiously keeps himself to this expression, on purpose to manifest that he intendeth not those who by faith do really receive, feed, and live on Jesus Christ, as tendered in the word of the gospel, John 6:35, 49-51, 54-56. It is as if he had said, ‘I speak not of those who have received and digested the spiritual food of their souls, and turned it into spiritual nourishment; but of such as have so far tasted of it, as that they ought to have desired it as ‘sincere milk, to have grown thereby.’’ But they had received such an experiment of its divine truth and power, as that it had various effects upon them” (= Tentang ini mereka dikatakan ‘mengecap / mencicipi’ seperti mereka sebelumnya tentang karunia surgawi. Seakan-akan sang rasul dengan sangat berhati-hati menjaga dirinya sendiri pada ungkapan ini, dengan tujuan untuk menyatakan bahwa ia bukan memaksudkan mereka yang dengan iman betul-betul menerima, memakan, dan hidup dengan Yesus Kristus, sebagaimana ditawarkan dalam firman dari injil, Yoh 6:35,49-51,54-56. Seakan-akan ia berkata, “Aku berbicara bukan tentang mereka yang telah menerima dan mencerna makanan rohani dari jiwa-jiwa mereka, dan mengubahnya menjadi nutrisi rohani; tetapi tentang orang-orang sejauh yang telah mencicipinya, pada saat mereka seharusnya menginginkannya sebagai ‘susu yang murni, supaya bertumbuh olehnya’”. Tetapi mereka telah menerima itu sebagai suatu percobaan tentang kebenaran dan kuasa ilahinya, karena itu mempunyai bermacam-macam hasil / akibat pada diri mereka) - ‘Hebrews’, vol 5, hal 82.
Bdk. 1Pet 2:2 - “Dan jadilah sama seperti bayi yang baru lahir, yang selalu ingin akan air susu yang murni dan yang rohani, supaya olehnya kamu bertumbuh dan beroleh keselamatan”.

Owen mengatakan bahwa ada hal-hal yang baik dalam Firman Tuhan, sehingga ada orang-orang yang tertarik dan dipengaruhi pikirannya, tetapi yang tidak pernah sampai pada ketaatan yang sungguh-sungguh terhadap Firman Tuhan itu.

John Owen: “Observe, there is a goodness and excellency in the word of God, able to attract and affect the minds of men, who yet never arrive at sincere obedience unto it” (= Perhatikan bahwa ada kebaikan dalam Firman Allah, yang bisa menarik dan mempengaruhi pikiran manusia, yang tidak pernah sampai pada ketaatan yang sungguh-sungguh kepadanya) - ‘Hebrews’, vol 5, hal 82.

Kata ‘mengecap’ (atau ‘mencicipi’) ini kontras dengan kata-kata ‘makan’ dan ‘minum’ yang digunakan oleh Yesus dalam Yoh 6:50-58 - “(50) Inilah roti yang turun dari sorga: Barangsiapa makan dari padanya, ia tidak akan mati. (51) Akulah roti hidup yang telah turun dari sorga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Kuberikan itu ialah dagingKu, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia.’ (52) Orang-orang Yahudi bertengkar antara sesama mereka dan berkata: ‘Bagaimana Ia ini dapat memberikan dagingNya kepada kita untuk dimakan.’ (53) Maka kata Yesus kepada mereka: ‘Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darahNya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu. (54) Barangsiapa makan dagingKu dan minum darahKu, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman. (55) Sebab dagingKu adalah benar-benar makanan dan darahKu adalah benar-benar minuman. (56) Barangsiapa makan dagingKu dan minum darahKu, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia. (57) Sama seperti Bapa yang hidup mengutus Aku dan Aku hidup oleh Bapa, demikian juga barangsiapa yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku. (58) Inilah roti yang telah turun dari sorga, bukan roti seperti yang dimakan nenek moyangmu dan mereka telah mati. Barangsiapa makan roti ini, ia akan hidup selama-lamanya.’”.

Beberapa contoh dimana orang non kristen senang mendengar Firman Tuhan, tetapi tidak betul-betul menerimanya / mentaatinya, adalah:
1.   Orang-orang yang termasuk dalam golongan tanah berbatu.
Mat 13:20-21 - “(20) Benih yang ditaburkan di tanah yang berbatu-batu ialah orang yang mendengar firman itu dan segera menerimanya dengan gembira. (21) Tetapi ia tidak berakar dan tahan sebentar saja. Apabila datang penindasan atau penganiayaan karena firman itu, orang itupun segera murtad”.
2.   Herodes yang senang mendengar ajaran Yohanes Pembaptis (Mark 6:20b).
Mark 6:20 - “sebab Herodes segan akan Yohanes karena ia tahu, bahwa Yohanes adalah orang yang benar dan suci, jadi ia melindunginya. Tetapi apabila ia mendengarkan Yohanes, hatinya selalu terombang-ambing, namun ia merasa senang juga mendengarkan dia”.
3.   Orang-orang Yahudi yang mendengar Yohanes Pembaptis (Yoh 5:35).
Yoh 5:35 - “Ia (Yohanes Pembaptis) adalah pelita yang menyala dan yang bercahaya dan kamu hanya mau menikmati seketika saja cahayanya itu”.

5)         ‘karunia-karunia dunia yang akan datang’.
KJV: the powers of the world to come’ (= kuasa-kuasa dunia yang akan datang).
NIV: the powers of the coming age (= kuasa-kuasa dari jaman yang mendatang).
TB2-LAI: ‘kuasa-kuasa dunia yang akan datang’.
Tetapi dalam penafsirannya, kelihatannya Owen justru sesuai dengan terjemahan dari Kitab Suci Indonesia.

John Owen: “the mighty, great, miraculous operations and works of the Holy Ghost” (= operasi-operasi dan pekerjaan-pekerjaan yang hebat, besar, bersifat mujijat dari Roh Kudus) - ‘Hebrews’, vol 5, hal 83.

John Owen: “by ‘the world to come,’ our apostle in this epistle intends the days of the Messiah, that being the usual name of it in the church at that time, as the new world which God had promised to create” (= dengan ‘dunia yang akan datang’, rasul kita dalam surat ini memaksudkan hari-hari / jaman dari Mesias, karena itu merupakan sebutan yang umum darinya dalam gereja pada saat itu, seperti dunia / alam semesta yang baru yang Allah telah janjikan untuk ciptakan) - ‘Hebrews’, vol 5, hal 83.

John Owen: “Wherefore these ‘powers of the world to come,’ were the gifts whereby those signs, wonders, and mighty works, were then wrought by the Holy Ghost, according as it was foretold by the prophets that they should be so” (= Karena itu / maka ‘kuasa-kuasa dari dunia yang akan datang’ ini, adalah karunia-karunia dengan mana tanda-tanda, mujijat-mujijat, dan pekerjaan-pekerjaan hebat itu, yang pada saat itu dilakukan oleh Roh Kudus, sesuai dengan yang diramalkan oleh nabi-nabi bahwa harus terjadi seperti itu) - ‘Hebrews’, vol 5, hal 83.

Kata ‘mengecap’ dalam point no 4) di atas oleh Owen juga diberlakukan untuk point ke 5) ini, dan dari kalimat dalam ay 5 terlihat dengan jelas bahwa itu memang benar. Perhatikan kalimat dari ay 5 sekali lagi.
Ay 5: “dan yang mengecap (Yunani: GEUSAMENOUS) firman yang baik dari Allah dan (Yunani: TE) karunia-karunia dunia yang akan datang”.
Jelas bahwa kata ‘mengecap’ itu berlaku baik untuk ‘firman yang baik dari Allah’ maupun untuk ‘karunia-karunia dunia yang akan datang’.

John Owen: “These the persons spoken of are supposed to have ‘tasted;’ for the particle te refers to geusame>nouv foregoing. Either they had been wrought in and by themselves, or by others in their sight, whereby they had an experience of the glorious and powerful working of the Holy Ghost in the confirmation of the gospel” [= Orang-orang yang dibicarakan ini dianggap telah ‘mengecap’; karena partikel TE (dan) menunjuk pada GEUSAMENOUS (mengecap) yang mendahuluinya. Atau hal-hal itu telah dilakukan dalam dan oleh diri mereka sendiri, atau oleh orang-orang lain dalam pandangan mereka, dengan mana mereka mempunyai suatu pengalaman tentang pekerjaan yang mulia dan berkuasa dari Roh Kudus dalam peneguhan dari injil] - ‘Hebrews’, vol 5, hal 83.

Sekarang mari kita memperhatikan seluruh kontext, untuk melihat tentang siapa penulis surat Ibrani berbicara, dalam Ibr 6:4-6 ini.

Ibr 5:11-6:10 - “(5:11) Tentang hal itu banyak yang harus kami katakan, tetapi yang sukar untuk dijelaskan, karena kamu telah lamban dalam hal mendengarkan. (5:12) Sebab sekalipun kamu, ditinjau dari sudut waktu, sudah seharusnya menjadi pengajar, kamu masih perlu lagi diajarkan asas-asas pokok dari penyataan Allah, dan kamu masih memerlukan susu, bukan makanan keras. (5:13) Sebab barangsiapa masih memerlukan susu ia tidak memahami ajaran tentang kebenaran, sebab ia adalah anak kecil. (5:14) Tetapi makanan keras adalah untuk orang-orang dewasa, yang karena mempunyai pancaindera yang terlatih untuk membedakan yang baik dari pada yang jahat. (6:1) Sebab itu marilah kita tinggalkan asas-asas pertama dari ajaran tentang Kristus dan beralih kepada perkembangannya yang penuh. Janganlah kita meletakkan lagi dasar pertobatan dari perbuatan-perbuatan yang sia-sia, dan dasar kepercayaan kepada Allah, (6:2) yaitu ajaran tentang pelbagai pembaptisan, penumpangan tangan, kebangkitan orang-orang mati dan hukuman kekal. (6:3) Dan itulah yang akan kita perbuat, jika Allah mengizinkannya. (6:4) Sebab mereka yang pernah diterangi hatinya, yang pernah mengecap karunia sorgawi, dan yang pernah mendapat bagian dalam Roh Kudus, (6:5) dan yang mengecap firman yang baik dari Allah dan karunia-karunia dunia yang akan datang, (6:6) namun yang murtad lagi, tidak mungkin dibaharui sekali lagi sedemikian, hingga mereka bertobat, sebab mereka menyalibkan lagi Anak Allah bagi diri mereka dan menghinaNya di muka umum. (6:7) Sebab tanah yang menghisap air hujan yang sering turun ke atasnya, dan yang menghasilkan tumbuh-tumbuhan yang berguna bagi mereka yang mengerjakannya, menerima berkat dari Allah; (6:8) tetapi jikalau tanah itu menghasilkan semak duri dan rumput duri, tidaklah ia berguna dan sudah dekat pada kutuk, yang berakhir dengan pembakaran. (6:9) Tetapi, hai saudara-saudaraku yang kekasih, sekalipun kami berkata demikian tentang kamu, kami yakin, bahwa kamu memiliki sesuatu yang lebih baik, yang mengandung keselamatan. (6:10) Sebab Allah bukan tidak adil, sehingga Ia lupa akan pekerjaanmu dan kasihmu yang kamu tunjukkan terhadap namaNya oleh pelayanan kamu kepada orang-orang kudus, yang masih kamu lakukan sampai sekarang.

Dalam Ibr 5:11-6:3 penulis surat Ibrani menggunakan kata ‘kamu’ atau ‘kita’. Kedua kata ini tak terlalu saya bedakan, karena ‘kita’ mencakup ‘kamu’ + Penulis surat Ibrani itu sendiri. Dan dalam Ibr 6:7-10, ia kembali menggunakan kata ‘kamu’, dan itu jelas menunjuk kepada ‘saudara-saudaraku yang kekasih’ pada awal Ibr 6:9!
TETAPI, dalam Ibr 6:4-6, penulis ini menggunakan kata ganti orang yang sama sekali berbeda, yaitu ‘mereka’! Jelas bahwa ia sedang membicarakan orang-orang yang berbeda dengan orang-orang percaya yang dalam sepanjang text ini ia sebut sebagai ‘kamu’! Kata ‘mereka’ ini bukan menunjuk kepada orang-orang percaya, Liauw! Ini menunjuk kepada orang-orang kristen KTP!

• “yang telah menyimpang dari kebenaran dengan mengajarkan bahwa kebangkitan kita telah berlangsung dan dengan demikian merusak iman sebagian orang.” (2 Tim. 2:18)

Tanggapan Budi Asali:

Dalam mengutip 2Tim 2:18, jangan berhenti di situ, tetapi lanjutkan dengan 2Tim 2:19nya!
2Tim 2:18-19 - “(18) yang telah menyimpang dari kebenaran dengan mengajarkan bahwa kebangkitan kita telah berlangsung dan dengan demikian merusak iman sebagian orang. (19) Tetapi dasar yang diletakkan Allah itu teguh dan meterainya ialah: ‘Tuhan mengenal siapa kepunyaanNya’ dan ‘Setiap orang yang menyebut nama Tuhan hendaklah meninggalkan kejahatan.’”.
Kata ‘tetapi’ pada awal ay 19nya jelas menunjukkan suatu kontras. Jadi, kalau ay 18nya bicara tentang orang-orang kristen KTP, maka ay 19nya bicara tentang orang-orang kristen yang sejati!

Calvin (tentang 2Tim 2:19): “‘Nevertheless the foundation of God standeth firm.’ We know too well, by experience, how much scandal is produced by the apostasy of those who at one time professed the same faith with ourselves. This is especially the case with those who were extensively known, and who had a more brilliant reputation than others; for, if any of the common people apostatize, we are not so deeply affected by it. But they who in the ordinary opinion of men held a distinguished rank, having been formerly regarded as pillars, cannot fall in this manner, without involving others in the same ruin with themselves; at least, if their faith has no other support. This is the subject which Paul has now in hand; for he declares that there is no reason why believers should lose heart, although they see those persons fall, whom they were wont to reckon the strongest. He makes use of this consolation, that the levity or treachery of men cannot hinder God from preserving his Church to the last. And first he reminds us of the election of God, which he metaphorically calls ‘a foundation,’ expressing by this word the firm and enduring constancy of it. Yet all this tends to prove the certainty of our salvation, if we are of the elect of God. As if he had said, ‘The elect do not depend on changing events, but rest on a solid and immovable foundation; because their salvation is in the hand of God.’ For as ‘every plant which the heavenly Father hath not planted must be rooted up,’ (Matthew 15:13,) so a root, which has been fixed by his hand, is not liable to be injured by any winds or storms. First of all, therefore, let us hold this principle, that, amidst so great weakness of our flesh, the elect are nevertheless beyond the reach of danger, because they do not stand by their own strength, but are founded on God. And if foundations laid by the hand of men have so much firmness, how much more solid will be that which has been laid by God himself? I am aware that some refer this to doctrine, ‘Let no man judge of the truth of it from the unsteadfastness of men;’ but it may easily be inferred from the context, that Paul speaks of the Church of God, or of the elect (= ).
Catatan: Calvin, sama dengan penafsir-penafsir kuno yang lain, percaya bahwa penulis surat Ibrani adalah Paulus; menurut saya ini salah.


• “Sebab jika mereka, oleh pengenalan mereka akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus, telah melepaskan diri dari kecemaran-kecemaran dunia, tetapi terlibat lagi di dalamnya, maka akhirnya keadaan mereka lebih buruk dari pada yang semula. Karena itu bagi mereka adalah lebih baik, jika mereka tidak pernah mengenal Jalan Kebenaran dari pada mengenalnya, tetapi kemudian berbalik dari perintah kudus yang disampaikan kepada mereka. Bagi mereka cocok apa yang dikatakan peribahasa yang benar ini: "Anjing kembali lagi ke muntahnya, dan babi yang mandi kembali lagi ke kubangannya.” (2 Petrus 2:20-22)

Tanggapan Budi Asali:

Tentang 2Pet 2:20-22 ini, saya sama sekali tidak mengerti bagaimana anda bisa mengutip text ini, karena jelas sekali dari awal dari 2Pet 2, seluruh kontext menunjuk kepada nabi-nabi palsu! Juga dalam ay 22 mereka disebut ‘babi’ dan ‘anjing’, dan semua ini tidak memungkinkan untuk menafsirkan bahwa mereka adalah orang-orang kristen yang sejati yang kehilangan keselamatannya, tetapi menunjuk kepada orang-orang kristen KTP yang tidak pernah diselamatkan!

Jadi, penyelidikan yang jujur dan terbuka atas Firman Tuhan, menempatkan iman sebagai syarat mendapatkan dan terus di dalam keselamatan, dan hal ini membuka kemungkinan bagi mereka yang sudah selamat (sudah memiliki iman) untuk meninggalkan iman (dan terhilang).

Tanggapan Budi Asali:
‘Penyelidikan’, Liauw??? Anda tak menyelidiki, tetapi hanya mencomot seadanya ayat yang seolah-olah mendukung pandangan anda, tanpa mempedulikan kontextnya, membandingkan dengan ayat-ayat lain, dan sebagainya. Tidak heran anda sampai pada kesimpulan yang salah, tetapi mengira itu sebagai kesimpulan yang Alkitabiah!

Kalau anda memang melakukan penyelidikan berkanaan dengan apakah orang kristen yang sejati bisa kehilangan iman, maka setidaknya anda harus mempertimbangkan text ini, yaitu Yeh 34.

Yeh 34:1-16 - “(1) Lalu datanglah firman TUHAN kepadaku: (2) ‘Hai anak manusia, bernubuatlah melawan gembala-gembala Israel, bernubuatlah dan katakanlah kepada mereka, kepada gembala-gembala itu: Beginilah firman Tuhan ALLAH: Celakalah gembala-gembala Israel, yang menggembalakan dirinya sendiri! Bukankah domba-domba yang seharusnya digembalakan oleh gembala-gembala itu? (3) Kamu menikmati susunya, dari bulunya kamu buat pakaian, yang gemuk kamu sembelih, tetapi domba-domba itu sendiri tidak kamu gembalakan. (4) Yang lemah tidak kamu kuatkan, yang sakit tidak kamu obati, yang luka tidak kamu balut, yang tersesat tidak kamu bawa pulang, yang hilang tidak kamu cari, melainkan kamu injak-injak mereka dengan kekerasan dan kekejaman. (5) Dengan demikian mereka berserak, oleh karena gembala tidak ada, dan mereka menjadi makanan bagi segala binatang di hutan. Domba-dombaKu berserak (6) dan tersesat di semua gunung dan di semua bukit yang tinggi; ya, di seluruh tanah itu domba-dombaKu berserak, tanpa seorangpun yang memperhatikan atau yang mencarinya. (7) Oleh sebab itu, hai gembala-gembala, dengarlah firman TUHAN: (8) Demi Aku yang hidup, demikianlah firman Tuhan ALLAH, sesungguhnya oleh karena domba-dombaKu menjadi mangsa dan menjadi makanan bagi segala binatang di hutan, lantaran yang menggembalakannya tidak ada, oleh sebab gembala-gembalaKu tidak memperhatikan domba-dombaKu, melainkan mereka itu menggembalakan dirinya sendiri, tetapi domba-dombaKu tidak digembalakannya - (9) oleh karena itu, hai gembala-gembala, dengarlah firman TUHAN: (10) Beginilah firman Tuhan ALLAH: Aku sendiri akan menjadi lawan gembala-gembala itu dan Aku akan menuntut kembali domba-dombaKu dari mereka dan akan memberhentikan mereka menggembalakan domba-dombaKu. Gembala-gembala itu tidak akan terus lagi menggembalakan dirinya sendiri; Aku akan melepaskan domba-dombaKu dari mulut mereka, sehingga tidak terus lagi menjadi makanannya. (11) Sebab beginilah firman Tuhan ALLAH: Dengan sesungguhnya Aku sendiri akan memperhatikan domba-dombaKu dan akan mencarinya. (12) Seperti seorang gembala mencari dombanya pada waktu domba itu tercerai dari kawanan dombanya, begitulah Aku akan mencari domba-dombaKu dan Aku akan menyelamatkan mereka dari segala tempat, ke mana mereka diserahkan pada hari berkabut dan hari kegelapan. (13) Aku akan membawa mereka keluar dari tengah bangsa-bangsa dan mengumpulkan mereka dari negeri-negeri dan membawa mereka ke tanahnya; Aku akan menggembalakan mereka di atas gunung-gunung Israel, di alur-alur sungainya dan di semua tempat kediaman orang di tanah itu. (14) Di padang rumput yang baik akan Kugembalakan mereka dan di atas gunung-gunung Israel yang tinggi di situlah tempat penggembalaannya; di sana di tempat penggembalaan yang baik mereka akan berbaring dan rumput yang subur menjadi makanannya di atas gunung-gunung Israel. (15) Aku sendiri akan menggembalakan domba-dombaKu dan Aku akan membiarkan mereka berbaring, demikianlah firman Tuhan ALLAH. (16) Yang hilang akan Kucari, yang tersesat akan Kubawa pulang, yang luka akan Kubalut, yang sakit akan Kukuatkan, serta yang gemuk dan yang kuat akan Kulindungi; Aku akan menggembalakan mereka sebagaimana seharusnya”.

Jelas bahwa dalam text di atas ini Allah mengkontraskan diriNya sendiri dengan gembala-gembala yang brengsek. Para gembala yang brengsek itu, salah satu cirinya adalah ‘tidak mencari domba-domba yang terhilang / tersesat’ (ay 4-6), sedangkan Allah sebagai Gembala yang baik justru sebaliknya, yaitu mencari domba-domba yang hilang / tersesat, menyelamatkan mereka dari segala tempat dan membawa mereka pulang (ay 11-12,16)!

Kalau, seperti ajaran anda, bahwa orang kristen yang sejati bisa kehilangan iman, dan berarti kehilangan keselamatan, maka bagaimana anda menafsirkan kata-kata yang saya beri garis bawah ganda dalam Yeh 34:1-16 itu? Jelas dikatakan Allah akan mencari domba-domba yang hilang / tersesat, dan menyelamatkan mereka dari segala tempat, dan membawa mereka pulang!

Saya akan menambahkan pandangan Dabney yang mengatakan bahwa kalau semua janji Tuhan dalam Injil diberi persyaratan ‘asal orang percaya itu tidak mundur / murtad’, maka janji itu menjadi tidak ada harganya.

Robert Louis Dabney:
“I am well aware that the force of these and all similar passages has been met, by asserting that in all gospel promises there is a condition implied, viz: That they shall be fulfilled, provided the believer does not backslide, on his part, from his gospel privileges. But is this all which these seemingly precious words mean? Then they mean nothing. To him who knows his own heart, what is that promise of security worth, which offers him no certainty to secure him against his own weakness? ‘All his sufficiency is of God.’ See also Rom. 7:21. If his enjoyment of the promised grace is suspended upon his own perseverance in cleaving to it, then his apostasy is not a thing possible, or probable, but certain. There is no hope in the gospel (= Saya sadar bahwa kekuatan dari text-text ini dan text-text yang serupa telah dijawab dengan menegaskan bahwa dalam semua janji-janji Injil secara implicit ada suatu syarat, yaitu: bahwa janji-janji itu akan digenapi, asal orang percaya itu tidak mundur, dari hak-hak injil. Tetapi apakah ini arti dari semua kata-kata yang berharga itu? Maka janji-janji itu tidak berharga apa-apa. Bagi dia yang mengenal hatinya sendiri, apa nilai dari janji keamanan itu, yang tidak menawarkan kepadanya kepastian untuk mengamankan dia terhadap kelemahannya sendiri? ‘Semua kecukupannya adalah dari Allah’. Lihat juga Ro 7:21. Jika kemungkinan menikmati kasih karunia yang dijanjikan itu tergantung pada ketekunannya dalam berpegang kepadanya, maka kemurtadannya bukan hanya mungkin terjadi, tetapi pasti terjadi. Maka tidak ada pengharapan dalam injil) - ‘Lectures in Systematic Theology’, hal 693-694.
Catatan: Kutipan ayat dari 2Kor 3:5b versi KJV.
Ro 7:21 - “Demikianlah aku dapati hukum ini: jika aku menghendaki berbuat apa yang baik, yang jahat itu ada padaku”.

Dabney lalu menambahkan: “And when such a condition is thrust into such a promise as that of Jno. 10:27: ‘None shall pluck them out of My hand,’ provided they do not choose to let themselves be plucked away; are we to suppose that Christ did not know that common Bible truth, that the only way any spiritual danger can assail any soul successfully, is by persuasion: that unless the adversary can get the consent of the believer’s free will, he cannot harm him? ... Surely Jesus knew this; and if this supposed condition is to be understood, then this precious promise would be but a worthless and pompous truism. ‘Your soul shall never be destroyed, unless in a given way,’ and that way, the only and the common way, in which souls are ever destroyed. ‘You shall never fall, as long as you stand up.’” (= Dan pada saat persyaratan seperti itu dimasukkan ke dalam suatu janji seperti Yoh 10:27: ‘seorangpun tidak akan merebut mereka dari tanganKu’, asalkan mereka tidak memilih untuk membiarkan diri mereka direbut; apakah kita menganggap bahwa Kristus tidak tahu akan kebenaran umum dari Alkitab, bahwa satu-satunya jalan melalui mana bahaya rohani bisa menyerang jiwa dengan sukses, adalah melalui bujukan: bahwa kecuali sang musuh / setan bisa mendapatkan persetujuan dari kehendak bebas orang percaya, ia tidak bisa menyakiti / merugikannya? ... Jelas Yesus mengetahui hal ini; dan jika syarat ini ada dalam janji itu, maka janji yang berharga itu menjadi tak berharga dan hanya merupakan suatu kebenaran yang dibesar-besarkan. ‘Jiwamu tidak akan pernah dihancurkan, kecuali dengan cara tertentu’, dan cara itu adalah satu-satunya cara dan merupakan cara yang umum, melalui mana jiwa-jiwa dihancurkan. ‘Engkau tidak akan pernah jatuh, selama engkau berdiri’) - ‘Lectures in Systematic Theology’, hal 694.
Catatan: ayat yang dimaksud sebetulnya bukan Yoh 10:27 tetapi Yoh 10:28.

Mungkin kata-kata Dabney ini agak mbulet dan sukar dimengerti oleh orang kristen yang tidak terbiasa dengan bahasa theologia. Karena itu saya mencoba untuk menjelaskannya dengan kata-kata saya sendiri di bawah ini.
Kejatuhan manusia selalu terjadi karena adanya bujukan setan yang lalu dituruti oleh manusia. Jadi ini merupakan jalan yang umum untuk jatuh. Yesus sendiri pasti mengetahui hal ini. Dan karena itu Ia tidak mungkin memberikan janji sebagai berikut: ‘seorangpun tidak akan merebut mereka dari tanganKu, asalkan mereka tidak menyerah pada bujukan setan. Mengapa? Karena perkecualian yang Ia berikan justru merupakan jalan yang umum bagi manusia untuk jatuh. Dengan memberikan perkecualian seperti ini, maka janji itu menjadi tidak ada harganya.
Illustrasi:
·        ada seseorang yang berlatih angkat besi dengan maksud mengikuti suatu kejuaraan angkat besi. Lalu ada seorang pelatih angkat besi yang melatihnya, dan memberinya jaminan sebagai berikut: ‘Saya menjamin engkau pasti menang, asalkan waktu mengangkat barbel, engkau bertekun sehingga barbel itu naik ke atas’. Bukankah ini suatu lelucon? Semua lifter gagal dalam kejuaraan angkat besi, karena mereka tidak berhasil mengangkat barbelnya. Dengan demikian jaminan yang ia berikan merupakan jaminan yang kosong.
·        ada seorang pelatih sirkus yang melatih orang untuk berjalan di atas tali. Dan ia memberikan jaminan kepada orang yang ia latih dengan kata-kata sebagai berikut: ‘Saya menjamin engkau pasti bisa sampai ke seberang, asal engkau tidak kehilangan keseimbanganmu’. Semua orang tahu bahwa seorang yang berjalan di atas tali akan gagal sampai ke seberang kalau ia kehilangan keseimbangannya. Itu jalan yang umum yang menyebabkan seseorang tidak sampai ke seberang. Kalau pelatih itu memberikan jaminan, dengan hal itu sebagai perkecualian, maka jaminan yang ia berikan menjadi tidak ada harganya!
Demikian juga adanya perkecualian / persyaratan yang diberikan oleh orang Arminian terhadap janji-janji dari Injil, menyebabkan janji-janji Injil itu kosong dan tak berguna.

Dabney menambahkan lagi: “the promise in Jer. 32:40, ... most expressly engages God to preserve believers from this very thing - their own backsliding. Not only does He engage that He will not depart from them, but ‘He will put His fear in their heart, so that they shall not depart from Him.’” (= janji dalam Yer 32:40, ... dengan cara yang paling jelas mengikat Allah dengan janji untuk menjaga orang-orang percaya justru dari hal yang satu ini - kemunduran mereka sendiri. Ia bukan hanya berjanji bahwa Ia tidak akan meninggalkan mereka, tetapi ‘Ia akan menaruh rasa takutNya dalam hati mereka, sehingga mereka tidak akan meninggalkan Dia’) - ‘Lectures in Systematic Theology’, hal 694.
Yer 32:40 - “Aku akan mengikat perjanjian kekal dengan mereka, bahwa Aku tidak akan membelakangi mereka, melainkan akan berbuat baik kepada mereka; Aku akan menaruh takut kepadaKu ke dalam hati mereka, supaya mereka jangan menjauh dari padaKu”.

Inilah ajaran Reformed! Allah bukan hanya berjanji untuk menyelamatkan, tetapi juga berjanji akan menolong mereka sedemikian rupa sehingga mereka tidak akan murtad!


Pendukung SSTS suka menunjuk pada ayat-ayat yang mengandung janji-janji yang indah dari Allah, dan mengatakan bahwa pada ayat-ayat ini tidak tercantum adanya syarat. Sebenarnya, harus dimengerti bahwa Alkitab itu adalah satu kitab. Allah tidak perlu mengulangi hal yang sama dalam setiap ayat. Jika sudah jelas tercantum dalam ayat-ayat yang kita bahas di atas, bahwa tinggal dalam iman (tetap percaya Yesus) adalah syarat untuk keselamatan, maka Allah tidak perlu mengulangi syarat ini setiap kali Ia memberikan sebuah janji. Sekali syarat itu sudah dinyatakan dengan jelas di minimal satu perikop (dan dalam Alkitab terdapat banyak), maka syarat itu tentunya berlaku pada semua perikop dalam Alkitab.

Tanggapan Budi Asali:
Ayat-ayat anda di atas sudah saya gugurkan semua, jadi mau dibandingkan dengan ayat yang mana?
Saya tetap mempercayai bahwa iman adalah syarat keselamatan, dan iman adalah syarat untuk tetap selamat. Tetapi saya juga mempercayai bahwa Allah akan menjaga iman dari semua orang kristen yang sejati.
Fil 1:6 - “Akan hal ini aku yakin sepenuhnya, yaitu Ia, yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus”.
1Kor 1:8-9 - “(8) Ia juga akan meneguhkan kamu sampai kepada kesudahannya, sehingga kamu tak bercacat pada hari Tuhan kita Yesus Kristus. (9) Allah, yang memanggil kamu kepada persekutuan dengan AnakNya Yesus Kristus, Tuhan kita, adalah setia”.
Yudas 24-25 - “(24) Bagi Dia, yang berkuasa menjaga supaya jangan kamu tersandung dan yang membawa kamu dengan tak bernoda dan penuh kegembiraan di hadapan kemuliaanNya, (25) Allah yang esa, Juruselamat kita oleh Yesus Kristus, Tuhan kita, bagi Dia adalah kemuliaan, kebesaran, kekuatan dan kuasa sebelum segala abad dan sekarang dan sampai selama-lamanya. Amin”.

4. Semua Berkat yang Terkait dengan Keselamatan Adalah Milik Saya Karena Saya Ada Dalam Kristus Banyak pendukung “sekali selamat tetap selamat” (SSTS), menggunakan argumen-argumen yang bersifat emosional, yang sesungguhnya tidak lulus jika dicermati secara Alkitabiah. Mereka menggunakan argumen seperti: “Agar saya dapat kehilangan keselamatan saya, saya harus merebut jiwa saya sendiri dari tangan Allah, membongkar meterai Roh Kudus, menyangkal bahwa saya anak Allah, membatalkan kewargaan saya di surga, dan lain-lain.” Argumen seperti ini menunjukkan salah pengertian yang mendalam tentang gambaran yang sebenarnya di mata Allah.

Tanggapan Budi Asali:
Yang saya beri warna biru itu argumentasi dari siapa, Liauw??? Adalah tidak masuk akal ada Calvinist manapun yang berargumentasi seperti itu, karena Calvinist yang sejati tidak percaya bahwa orang kristen yang sejati bisa kehilangan keselamatannya!


Alkitab mengatakan bahwa semua berkat yang kita miliki, kita miliki dalam Kristus! “Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam sorga” (Ef. 1:3). Bacalah Efesus 1:1-14, dan penekanan perikop itu adalah tentang apa yang kita miliki “dalam Kristus,” termasuk semua berkat, pemilihan kita, status kita sebagai anak, penebusan, pengampunan dosa, dan meterai Roh Kudus. Kita memiliki semua ini bukan karena kehebatan kita sendiri ataupun karena kita layak, tetapi karena kita berhubungan dengan Kristus. Dengan kata lain, ketika Allah Bapa melihat kita, Ia melihat kita sebagai anak-anakNya, bukan karena sesuatu dalam diri kita sendiri, tetapi karena kita terhubung dengan Kristus.

Tanggapan Budi Asali:
Omong kosong. Kalau mau menguraikan suatu ayat atau text, tuliskan ayat / textnya, Liauw, supaya orang bisa mengerti anda ngawur atau tidak.

Ef 1:3-14 - “(3) Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam sorga. (4) Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya. (5) Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anakNya, sesuai dengan kerelaan kehendakNya, (6) supaya terpujilah kasih karuniaNya yang mulia, yang dikaruniakanNya kepada kita di dalam Dia, yang dikasihiNya. (7) Sebab di dalam Dia dan oleh darahNya kita beroleh penebusan, yaitu pengampunan dosa, menurut kekayaan kasih karuniaNya, (8) yang dilimpahkanNya kepada kita dalam segala hikmat dan pengertian. (9) Sebab Ia telah menyatakan rahasia kehendakNya kepada kita, sesuai dengan rencana kerelaanNya, yaitu rencana kerelaan yang dari semula telah ditetapkanNya di dalam Kristus (10) sebagai persiapan kegenapan waktu untuk mempersatukan di dalam Kristus sebagai Kepala segala sesuatu, baik yang di sorga maupun yang di bumi. (11) Aku katakan ‘di dalam Kristus’, karena di dalam Dialah kami mendapat bagian yang dijanjikan - kami yang dari semula ditentukan untuk menerima bagian itu sesuai dengan maksud Allah, yang di dalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendakNya - (12) supaya kami, yang sebelumnya telah menaruh harapan pada Kristus, boleh menjadi puji-pujian bagi kemuliaanNya. (13) Di dalam Dia kamu juga - karena kamu telah mendengar firman kebenaran, yaitu Injil keselamatanmu - di dalam Dia kamu juga, ketika kamu percaya, dimeteraikan dengan Roh Kudus, yang dijanjikanNya itu. (14) Dan Roh Kudus itu adalah jaminan bagian kita sampai kita memperoleh seluruhnya, yaitu penebusan yang menjadikan kita milik Allah, untuk memuji kemuliaanNya”.

Coba perhatikan tulisan anda yang saya beri warna biru. Untuk jelasnya, tulisan anda di atas yang saya beri warna biru itu saya kutip lagi.
Anda mengatakan ‘penekanan perikop itu adalah tentang apa yang kita miliki “dalam Kristus,” termasuk semua berkat, pemilihan kita, status kita sebagai anak, penebusan, pengampunan dosa, dan meterai Roh Kudus. Kita memiliki semua ini bukan karena kehebatan kita sendiri ataupun karena kita layak, tetapi karena kita berhubungan dengan Kristus’.
Kalau ‘berkat’, ‘status sebagai anak’, ‘penebusan’, ‘pengampunan dosa’, dan ‘meterai Roh Kudus’, saya setuju. Tetapi ‘pemilihan kita’, itu dinyatakan secara explicit dalam Ef 1:4,5,11 sebagai terjadi ‘sebelum dunia dijadikan’ dan ‘dari semula’. Jadi, Liauw, mana yang terjadi lebih dulu: ‘pemilihan kita’ atau ‘kita beriman’???? Jelas pemilihan terjadi lebih dulu, bukan? Lalu bagaimana mungkin berimannya kita itu yang menyebabkan pemilihan?
Bdk. Kis 13:48 - “Mendengar itu bergembiralah semua orang yang tidak mengenal Allah dan mereka memuliakan firman Tuhan; dan semua orang yang ditentukan Allah untuk hidup yang kekal, menjadi percaya”.
Lagi-lagi dalam ayat ini, karena mereka sudah ditentukan Allah untuk hidup yang kekal, maka mereka menjadi percaya! Pemilihan yang menyebabkan kita bisa beriman, jangan dibalik! Anda meletakkan kereta di depan kudanya, Liauw!

Baca Galatia 3:29 “Dan jikalau kamu adalah milik Kristus, maka kamu juga adalah keturunan Abraham dan berhak menerima janji Allah.” Perhatikan kata “jika”!! Jika kamu milik Kristus, kamu memiliki semua janji Allah. Jadi, barangsiapa tidak ada di dalam Kristus, maka ia tidak memiilki janji-janji itu. Pertanyaannya ialah, bagaimanakah kita bisa berada dalam Kristus atau terhubung dengan Kristus? Jawabannya adalah dengan iman!!

Tanggapan Budi Asali:
Setuju, Liauw. Janji apa? Janji hidup kekal, pengampunan dosa, pengangkatan sebagai anak, semua OK! Tetapi tidak mungkin ‘pemilihan’. Ini bukan janji! Ini sudah dilakukan sebelum dunia dijadikan (Ef 1:4)! Jadi, mana mungkin ini diberikan pada waktu kita beriman?

Kristus disebut Adam kedua. Kita terhubung dengan Adam pertama melalui proses kelahiran, dan kita akan mati karena hubungan kita kepada Adam pertama itu. Kita dapat terhubung pada Adam Kedua, bukan melalui kelahiran, tetapi melalui iman (kelahiran kembali). Jadi, kondisi berada dalam Kristus, itu bergantung pada iman kita padaNya. Jika kita tidak memiliki iman, kita tidak ada dalam Kristus. Mereka yang beriman adalah mereka yang ada dalam Kristus. Efesus 3:17 sangat jelas, “sehingga oleh imanmu Kristus diam di dalam hatimu dan kamu berakar serta berdasar di dalam kasih.” Alkitab penuh dengan referensi bahwa kita berada dalam Kristus, atau terhubung dengan Kristus, melalui iman.

Tanggapan Budi Asali:
Setuju semua, kecuali satu hal, yaitu anda menyamakan kelahiran kembali dengan iman. Bagi saya / Calvinist, kelahiran baru harus mendahului iman. Mengapa? Karena kita semua mati dalam dosa (Yoh 10:10  Ef 2:1), dan karena mati maka kita tidak mungkin bisa mengerti ataupun menganggapi berita injil (1Kor 2:14). Kita harus dilahir-barukan, baru kita bisa mengerti, menghargai Injil (Kis 16:14). Itupun iman masih harus dianugerahkan oleh Allah (Fil 1:29).

Jadi, sungguh adalah kesalahpahaman jika ada yang berkata, “kamu tidak dapat terhilang lagi, karena kamu adalah anak Allah, kamu memiliki kewargaan surga, dll.” Argumen seperti ini seolah-olah menyatakan bahwa semua berkat tersebut adalah sesuatu yang melekat pada diri saya karena diri saya sendiri.

Tanggapan Budi Asali:
‘Karena diri saya sendiri’???? Dari mana kesimpulan itu, Liauw? Justru ajaran Calvinisme mengatakan bahwa orang percaya tidak mungkin kehilangan keselamatannya, bukan karena ia yang setia, tetapi karena Allah memegang dia, dan karena Allah itu setia! Tak ada pengharapan dalam hal ini yang diletakkan dalam diri sendiri.

Justru ajaran Arminian / anda yang mengatakan bahwa supaya kita tetap selamat, kita harus tetap percaya. Memang saya juga percaya ini, tetapi kan saya menambahkan bahwa kita bisa tetap percaya karena ada pekerjaan Tuhan dalam diri kita. Anda tidak pernah menambahkan itu. Jadi anda menganggap bahwa kita bisa tetap percaya karena kesetiaan kita sendiri! Ini yang bersandar kepada diri sendiri, Liauw!

Tetapi Alkitab berkata bahwa di luar Kristus, kita bukanlah apa-apa dan tidak dapat melakukan apa-apa (Yoh. 15:4-5). Jadi, jauh lebih Alkitabiah untuk melihat semua berkat tersebut bukan melekat pada diri orang itu, tetapi berkat-berkat tersebut datang karena ia ada “dalam Kristus.” Jadi, jika seseorang lepas dari Kristus (karena tidak beriman) maka hubungannya dengan Kristus akan hilang, dan demikian juga semua berkat keselamatan.

Tanggapan Budi Asali:
Orang percaya / orang kristen yang sejati tidak bisa kehilangan imannya, Liauw! Kalau ‘imannya hilang’, dari tadi ia tidak sungguh-sungguh percaya!

Seseorang yang adalah warga surga, ia warga surga karena ia ada dalam Kristus. Jika ia lepas dari Kristus, ia bukan warga surga lagi. Seseorang yang dimeteraikan Roh Kudus, ia dimeteraikan karena ia percaya (beriman), dan ada dalam Kristus. Jika ia lepas dari Kristus, maka meterai tersebut dicabut dari dirinya. Dapatkah seorang yang sudah percaya lepas dari Kristus? Jawabannya, menurut Alkitab adalah YA yang lantang, lihat Galatia 5:1-6 (sudah dikutip di atas), dan juga Yohanes 15:4-9: “Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku. Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.

Tanggapan Budi Asali:
Gal 5:1-6 - “(1) Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan. (2) Sesungguhnya, aku, Paulus, berkata kepadamu: jikalau kamu menyunatkan dirimu, Kristus sama sekali tidak akan berguna bagimu. (3) Sekali lagi aku katakan kepada setiap orang yang menyunatkan dirinya, bahwa ia wajib melakukan seluruh hukum Taurat. (4) Kamu lepas dari Kristus, jikalau kamu mengharapkan kebenaran oleh hukum Taurat; kamu hidup di luar kasih karunia. (5) Sebab oleh Roh, dan karena iman, kita menantikan kebenaran yang kita harapkan. (6) Sebab bagi orang-orang yang ada di dalam Kristus Yesus hal bersunat atau tidak bersunat tidak mempunyai sesuatu arti, hanya iman yang bekerja oleh kasih”.
Perhatikan kata ‘jikalau’ itu, Liauw! Ini suatu pengandaian, sama sekali bukan ‘bukan YA yang lantang’!

Demikian juga dengan Yoh 15:4-9 sama saja.

Mari kita sekarang bicara tentang Roh Kudus sebagai ‘meterai’.
2Kor 1:21-22 - “(21) Sebab Dia yang telah meneguhkan kami bersama-sama dengan kamu di dalam Kristus, adalah Allah yang telah mengurapi, (22) memeteraikan tanda milikNya atas kita dan yang memberikan Roh Kudus di dalam hati kita sebagai jaminan dari semua yang telah disediakan untuk kita.
Saya kutipkan khotbah saya sendiri tentang text ini:

2)         Pemeteraian.
Perhatikan kata-kata ‘memeteraikan tanda milikNya atas kita’ dalam 2Kor 1:22 di atas.
Ef 1:13 - “Di dalam Dia kamu juga - karena kamu telah mendengar firman kebenaran, yaitu Injil keselamatanmu - di dalam Dia kamu juga, ketika kamu percaya, dimeteraikan dengan Roh Kudus, yang dijanjikanNya itu.

Charles Hodge: “A seal is used, 1. To indicate proprietorship. 2. To authenticate or prove to be genuine. 3. To preserve safe or inviolate. The Holy Spirit, which in one view is an unction, in another view is a seal. He marks those in whom he dwells as belonging to God. They bear the seal of God upon them. ... He also bears witness in the hearts of believers that they are the children of God. He authenticates them to themselves and others as genuine believers. And he effectually secures them from apostasy and perdition. ... This last idea is amplified in the next clause; and hath given the earnest of the Spirit in our hearts” (= Suatu meterai digunakan, 1. Untuk menunjukkan kepemilikan. 2. Mengesahkan atau membuktikan keaslian. 3. Menjaga supaya aman atau tidak dilanggar / tidak hancur. Roh Kudus, yang dari satu sisi adalah suatu pengurapan, dari sisi yang lain adalah suatu meterai. Ia menandai mereka, dalam siapa Ia tinggal, sebagai milik Allah. Mereka mempunyai meterai Allah pada diri mereka. ... Ia juga bersaksi dalam hati orang-orang percaya bahwa mereka adalah anak-anak Allah. Ia mengesahkan mereka terhadap diri mereka sendiri dan orang-orang lain sebagai orang-orang percaya yang sejati. Dan Ia secara effektif mengamankan mereka dari kemurtadan dan kebinasaan / kehancuran / penghukuman. ... Gagasan terakhir ini diperkuat dalam anak kalimat selanjutnya; ‘dan yang memberikan Roh Kudus di dalam hati kita sebagai jaminan’) - hal 400-401.

3)         Pemberian Roh Kudus sebagai jaminan
Perhatikan kata-kata ‘yang memberikan Roh Kudus di dalam hati kita sebagai jaminan dari semua yang telah disediakan untuk kita’ (2Kor 1:22).
Ada 2 bagian lain dalam Kitab Suci yang menunjukkan bahwa Roh Kudus diberikan kepada orang percaya sebagai jaminan.
·        2Kor 5:5 - “Tetapi Allahlah yang justru mempersiapkan kita untuk hal itu dan yang mengaruniakan Roh, kepada kita sebagai jaminan segala sesuatu yang telah disediakan bagi kita”.
·        Ef 1:14 - “Dan Roh Kudus itu adalah jaminan bagian kita sampai kita memperoleh seluruhnya, yaitu penebusan yang menjadikan kita milik Allah, untuk memuji kemuliaanNya”.

Charles Hodge: “The Holy Spirit is itself the earnest, i. e. at once the foretaste and pledge of redemption. The word ARRABON, pledge, is a Hebrew word, ... It is properly that part of the purchase money paid in advance, as a security for the remainder. ... So certain, therefore, as the Spirit dwells in us, so certain is our final salvation” (= Roh Kudus  itu sendiri adalah jaminan, yaitu sekaligus suatu icip-icip dan jaminan penebusan. Kata ARRABON, jaminan, adalah suatu kata Ibrani, ... Itu sebetulnya merupakan bagian dari uang pembayaran yang dibayarkan lebih dulu, sebagai suatu jaminan untuk pembayaran sisanya. ... Karena itu, sepasti Roh itu tinggal di dalam kita, begitulah pastinya keselamatan akhir kita) - hal 401.

Baik no 2 maupun no 3 menunjukkan bahwa orang percaya itu aman dalam Kristus. Tetapi seakan-akan ini belum cukup, ayat di atas masih berbicara tentang ‘peneguhan dalam Kristus’ (2Kor 1:21 - Dia yang telah meneguhkan kami bersama-sama dengan kamu di dalam Kristus’).

Charles Hodge: “As by the pronouns ‘we’ and ‘us’, in what precedes, the apostle had meant himself and Silas and Timothy, here where he has reference to all believers he unites them with himself, ‘us with you’. The constancy in faith which God gave was not a gift peculiar to teachers, but common to all true Christians” (= Kalau dengan kata ganti orang ‘kami’, dalam bagian yang sebelumnya, sang rasul memaksudkan dirinya sendiri dan Silas dan Timotius, maka di sini dimana ia memaksudkan semua orang percaya, ia mempersatukan mereka dengan dirinya sendiri, ‘kami bersama-sama dengan kamu’. Ketetapan dalam iman yang Allah berikan bukanlah suatu karunia yang khusus bagi para guru / pengajar, tetapi umum bagi semua orang Kristen yang sungguh-sungguh) - hal 399-400.

Charles Hodge: “There is but one thing stated in these verses, and that is that God establishes or renders his people firm and secure in their union with Christ, and in their participation of the benefits of redemption. How he does this, and the evidence that he does it, is expressed or presented by saying he hath anointed, sealed, and given us the earnest of the Spirit” (= Hanya ada satu hal yang dinyatakan dalam ayat-ayat ini, dan itu adalah bahwa Allah meneguhkan atau membuat umatNya teguh dan aman dalam persatuan mereka dengan Kristus, dan dalam partisipasi mereka terhadap keuntungan penebusan. Bagaimana Ia melakukan hal ini, dan bukti bahwa Ia melakukan hal ini, dinyatakan atau disajikan dengan mengatakan bahwa Ia telah mengurapi, memeteraikan, dan memberikan kita jaminan Roh) - hal 401.

Barangsiapa tidak tinggal di dalam Aku, ia dibuang ke luar seperti ranting dan menjadi kering, kemudian dikumpulkan orang dan dicampakkan ke dalam api lalu dibakar. Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya. Dalam hal inilah Bapa-Ku dipermuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-murid-Ku." "Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu; tinggallah di dalam kasih-Ku itu.”

Pertama-tama, perhatikan perintah untuk tinggal di dalam. Yesus mengatakan semua ini kepada orang yang sudah percaya. Mereka sudah “ada dalam Kristus,” barulah bisa ada perintah untuk “tinggal di dalam.” Jika orang percaya tidak mungkin tidak “tinggal,” maka tidak akan ada perintah untuk “tinggal.” Adanya suatu perintah, tentunya berarti bahwa ada kemungkinan untuk tidak melakukan perintah itu. Jika seorang tidak tinggal dalam Kristus (yaitu terus percaya padaNya), maka ia diperhadapkan pada penghakiman yang digambarkan dengan kata-kata “dicampakkan ke dalam api lalu dibakar.” Ini adalah acuan pada hukuman kekal. Keith Piper mencoba untuk mengelak dengan berkata bahwa yang dikumpulkan untuk dibakar adalah perbuatan orang tersebut, bukan orangnya sendiri. Jadi, menurut Piper, yang terbakar adalah “perbuatannya,” bukan orangnya. Pemikiran seperti ini salah dalam minimal tiga hal. Pertama, konteks perikop ini bukan berbicara mengenai perbuatan seseorang, perikop ini berbicara mengenai ranting, yang diidentifikasi dalam perikop sebagai orang yang percaya pada Kristus. Jadi, bukan perbuatan yang disorot di sini, tetapi orangnya.

Kedua, ranting tersebut dikatakan “dibuang keluar seperti ranting dan menjadi kering.” Jelas, yang dibuang adalah ranting, dan bukan buah (perbuatan). Ranting menjadi kering karena tidak lagi ada dalam pokok yang benar, yaitu Kristus. Ketiga, jika apa yang dikatakan Piper benar, bahwa orang yang bersangkutan masih masuk surga maka lucu sekali akan ada orang yang “di luar Kristus,” tetapi masuk surga. Ide seperti itu sama sekali tidak ada dalam Alkitab.

Tanggapan Budi Asali:
Saya tak peduli siapa Piper itu, dan kalau ia memang berpandangan seperti itu, saya juga tak setuju dengan pandangannya. Memang yang dipersoalkan bukan perbuatannya tetapi orangnya.
Yoh 15:1-8 - “(1) ‘Akulah pokok anggur yang benar dan Bapa-Kulah pengusahanya. (2) Setiap ranting padaKu yang tidak berbuah, dipotongNya dan setiap ranting yang berbuah, dibersihkanNya, supaya ia lebih banyak berbuah. (3) Kamu memang sudah bersih karena firman yang telah Kukatakan kepadamu. (4) Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku. (5) Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa. (6) Barangsiapa tidak tinggal di dalam Aku, ia dibuang ke luar seperti ranting dan menjadi kering, kemudian dikumpulkan orang dan dicampakkan ke dalam api lalu dibakar. (7) Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firmanKu tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya. (8) Dalam hal inilah BapaKu dipermuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-muridKu.’”.

Yoh 15 ini merupakan suatu alegori, dan ranting yang berbuah jelas menunjuk pada orang kristen yang sejati, tetapi ranting yang tidak berbuah menunjuk kepada orang kristen KTP. Ranting yang tidak berbuah bisa tidak tetap melekat pada pokok anggur, karena ia dipotong oleh pengusaha kebun anggur itu (yaitu ‘Bapa’ - ay 1-2a). Ini sama saja dengan Mat 15:13 - “Jawab Yesus: ‘Setiap tanaman yang tidak ditanam oleh Bapa-Ku yang di sorga akan dicabut dengan akar-akarnya”.
Tetapi ranting yang berbuah tidak akan dipotongnya tetapi hanya dibersihkannya supaya lebih banyak berbuah (ay 2b).

Sekarang saya akan membahas kata-kata anda yang saya beri warna biru. Untuk jelasnya saya kutip ulang di sini.
Adanya suatu perintah, tentunya berarti bahwa ada kemungkinan untuk tidak melakukan perintah itu. Jika seorang tidak tinggal dalam Kristus (yaitu terus percaya padaNya), maka ia diperhadapkan pada penghakiman yang digambarkan dengan kata-kata “dicampakkan ke dalam api lalu dibakar.” Ini adalah acuan pada hukuman kekal’.
Siapa bilang bahwa adanya suatu perintah tentu memungkinkan untuk tidak melakukan perintah itu? Perintah di sini hanya menekankan tanggung jawab, supaya orang Kristen tidak hidup seenaknya sendiri, tetapi tidak berarti bahwa orang Kristen itu bisa melepaskan dirinya dari Kristus. Memang, kalau ditinjau secara teoretis, anda mungkin benar. Orang itu secara teoretis bisa melepaskan diri dari Kristus. Tetapi secara praktis, dia tidak bisa melepaskan diri dari Kristus. Mengapa? Karena Allah menjaga dia.

Contoh: Tuhan memerintahkan orang Kristen untuk menguduskan hidupnya, bukan? Sekarang, bisakah seorang Kristen sejati tidak mentaati perintah itu, dan sama sekali tidak menguduskan dirinya? Menurut saya, tidak mungkin, Liauw, karena adanya Roh Kudus dalam dirinya menyebabkan pasti akan munculnya buah Roh dalam diri orang itu, dan sedikit atau banyak, pasti muncul pengudusan dalam hidupnya!

Saya beri contoh lain:
Kis 27:22-34 - “(22) Tetapi sekarang, juga dalam kesukaran ini, aku menasihatkan kamu, supaya kamu tetap bertabah hati, sebab tidak seorangpun di antara kamu yang akan binasa, kecuali kapal ini. (23) Karena tadi malam seorang malaikat dari Allah, yaitu dari Allah yang aku sembah sebagai milikNya, berdiri di sisiku, (24) dan ia berkata: Jangan takut, Paulus! Engkau harus menghadap Kaisar; dan sesungguhnya oleh karunia Allah, maka semua orang yang ada bersama-sama dengan engkau di kapal ini akan selamat karena engkau. (25) Sebab itu tabahkanlah hatimu, saudara-saudara! Karena aku percaya kepada Allah, bahwa semuanya pasti terjadi sama seperti yang dinyatakan kepadaku. (26) Namun kita harus mendamparkan kapal ini di salah satu pulau.’ (27) Malam yang keempat belas sudah tiba dan kami masih tetap terombang-ambing di laut Adria. Tetapi kira-kira tengah malam anak-anak kapal merasa, bahwa mereka telah dekat daratan. (28) Lalu mereka mengulurkan batu duga, dan ternyata air di situ dua puluh depa dalamnya. Setelah maju sedikit mereka menduga lagi dan ternyata lima belas depa. (29) Dan karena takut, bahwa kami akan terkandas di salah satu batu karang, mereka membuang empat sauh di buritan, dan kami sangat berharap mudah-mudahan hari lekas siang. (30) Akan tetapi anak-anak kapal berusaha untuk melarikan diri dari kapal. Mereka menurunkan sekoci, dan berbuat seolah-olah mereka hendak melabuhkan beberapa sauh di haluan. (31) Karena itu Paulus berkata kepada perwira dan prajurit-prajuritnya: ‘Jika mereka tidak tinggal di kapal, kamu tidak mungkin selamat.’ (32) Lalu prajurit-prajurit itu memotong tali sekoci dan membiarkannya hanyut. (33) Ketika hari menjelang siang, Paulus mengajak semua orang untuk makan, katanya: ‘Sudah empat belas hari lamanya kamu menanti-nanti saja, menahan lapar dan tidak makan apa-apa. (34) Karena itu aku menasihati kamu, supaya kamu makan dahulu. Hal itu perlu untuk keselamatanmu. Tidak seorangpun di antara kamu akan kehilangan sehelaipun dari rambut kepalanya.’”.

Jadi, cerita Kitab Suci ini menunjukkan bahwa Allah mengirim malaikat yang memberikan Firman Tuhan yang menja­min keselamatan (jasmani) semua mereka, kecuali kapalnya (ay 23-24). Dan Paulus percaya penuh akan Firman Tuhan yang telah ia terima itu (ay 22,25,34b), tetapi itu tidak menyebabkan Paulus hanya berdi­am diri, beriman, berdoa saja! Sekalipun ada Firman Tuhan yang menjamin keselamatan mereka, tetapi Paulus tetap memberikan nasehat supaya Firman Tuhan / janji Tuhan itu terjadi.
1.   Ay 26: Paulus menasehati mereka untuk mendamparkan kapal di salah 1 pulau. Perhatikan kata ‘namun’ dan ‘harus’ (ay 26).
2.   Ay 31: Paulus menasehati perwira dan prajurit untuk tidak membi­arkan anak-anak kapal melarikan diri. Perhatikan kata-kata ‘Jika ..., kamu tidak mungkin selamat’ (ay 31).
3.   Ay 33-34: Paulus menasehati mereka untuk makan. Perhatikan bahwa sekalipun ia yakin akan keselamatan mereka (ay 34b), ia tetap berkata ‘ini perlu untuk keselamatanmu’ (ay 34a).

Jadi, sekalipun ada janji Tuhan dan kita percaya janji itu, itu tidak berarti bahwa kita tidak perlu berusaha supaya janji itu tergenapi!
Contoh:
a.   Janji bahwa Allah akan mencukupi hidup kita (Mat 6:25-34) tidak berarti bahwa kita tidak perlu bekerja untuk mencari nafkah (bdk. 2Tes 3:10b) ataupun mengatur pengeluaran kita dengan bijaksana.
b.   Janji bahwa orang kristen tidak akan kehilangan keselamatannya (Yoh 10:27-29  Ro 5:9-10  1Kor 1:8-9  2Kor 1:21-22  Fil 1:6  1Yoh 2:18-19), tidak berarti bahwa kita tidak perlu berusaha untuk setia, untuk memelihara keselamatan dan menjauhi hal-hal yang membinasakan (bdk. Wah 2:10b  Mat 24:13).

Jadi, Liauw, Alkitab memang memberikan jaminan keselamatan (tidak bisa hilang), tetapi Alkitab yang sama juga memberikan perintah / larangan sebagai tanggung jawab manusia, supaya tidak hidup seenaknya sendiri.

Sekarang kembali pada kata-kata anda, ‘kalau ada perintah, tentu ada kemungkinan untuk tidak melakukan perintah itu’. Saya ingin terapkan dalam kasus dalam Kis 27 ini. Misalnya Paulus melarang untuk membiarkan orang-orang lari dengan sekoci, dengan ancaman bahwa kalau itu dibiarkan, mereka tidak mungkin selamat. Saya tanya, Liauw, bisakah orang-orang tidak menuruti larangan Paulus itu. Menurut saya, secara teoretis bisa, tetapi secara praktis tidak bisa. Kalau anda katakan bisa, itu berarti janji Tuhan melalui malaikat itu bisa salah! Juga pada waktu Paulus menyuruh mereka makan, karena itu perlu untuk keselamatan mereka. Bisakah mereka tak mentaati sehingga mereka mati? Kalau bisa, lagi-lagi itu berarti bahwa janji Tuhan bisa salah!

Mengertikah anda, Liauw? Memang pada umumnya, adanya perintah memungkinkan kita tidak mentaatinya. Tetapi pada saat perintah itu hanya merupakan tanggung jawab yang Tuhan berikan kepada orang-orang yang dijamin keselamatannya, itu tidak mungkin tidak ditaati! Mengapa? Karena Dia sendiri akan bekerja di dalam diri orang itu sehingga orang itu akan taat!
Misalnya Wah 2:10b - “Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan”.
Bisakah orang kristen yang sejati tidak mentaati perintah ini? Tidak mungkin, Liauw, karena kalau bisa, jaminan keselamatan dari Allah gagal!

5. Janji-janji dalam Alkitab selalu bersyarat pada Iman
Masih berhubungan dengan argumen di poin sebelumnya, ingat bahwa semua yang kita miliki, kita miliki dalam Kristus. Kita berada dalam Kristus karena kita percaya padaNya (beriman padaNya). Jadi, semua janji dalam Alkitab sebenarnya bersyarat pada percaya! Nah, percaya macam apa yang dimaksud?
Mayoritas janji-janji Allah yang tercatat dalam Alkitab, menggunakan kata kerja present tense ketika mengacu pada “percaya” yang mendatangkan hidup kekal. Beberapa contoh cukup:
• “supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal.” (Yoh. 3:15)
• “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” (Yoh. 3:16)
• “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa mendengar perkataan-Ku dan percaya kepada Dia yang mengutus Aku, ia mempunyai hidup yang kekal dan tidak turut dihukum, sebab ia sudah pindah dari dalam maut ke dalam hidup.” (Yoh. 5:24)
• “Kata Yesus kepada mereka: "Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi.” (John 6:35)
• “Sebab inilah kehendak Bapa-Ku, yaitu supaya setiap orang, yang melihat Anak dan yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal, dan supaya Aku membangkitkannya pada akhir zaman.” (Yoh. 6:40)
• “Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku, dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorangpun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku.” (Yoh. 10:27-28)
Semua kata kerja yang dicetak tebal di atas adalah dalam bentuk present tense. Sebagaimana diketahui oleh semua murid Yunani, present tense berarti aksi yang terus menerus. Jadi, keselamatan itu bersyarat, bukan pada iman yang hanya sekali waktu, tetapi iman yang terus menerus pada Yesus.

Tanggapan Budi Asali:
Tak masalah dengan ini, Liauw.

6. Manusia Tidak Kehilangan Kehendak Bebas Ketika Ia Percaya
Doktrin SSTS pada dasarnya menghilangkan kehendak bebas dari manusia ketika ia menjadi percaya. Ironisnya, kehendak bebas ini hanya dihilangkan dalam hal keselamatan. Pendukung SSTS akan mengakui bahwa ada kehendak bebas dalam semua aspek kehidupan lainnya (seorang Kristen dapat mundur imannya, dapat melakukan hal-hal yang menyedihkan hati Tuhan), tetapi sama sekali tidak punya kehendak bebas dalam hal menolak iman yang pernah ia terima.

Tanggapan Budi Asali:
Kami Calvinist tak pernah mengajar demikian. Kami yakin, bahwa orang percaya akan terus percaya. Memang Tuhan / Roh Kudus yang bekerja dalam dirinya sehingga ia terus percaya, tetapi bagaimanapun yang terus percaya adalah ia sendiri. Ia tetap melakukan itu dengan kemauannya! Ia tidak dipaksa. Jadi, apanya yang tidak punya kebebasan lagi? Nonsense!
Bahkan dalam hal mundur imannya, berdosa sehingga menyedihkan hati Tuhan, ia melakukan semua itu karena memang ada penetapan dan pengaturan dari Tuhan. Tetapi ia tetap melakukannya dengan kehendaknya sendiri, dan tidak dipaksa. Jadi, tak ada perbedaan antara tetap percaya dan melakukan dosa dsb, semua sesuai ketetapan Tuhan, tetapi juga dilakukan oleh orangnya sendiri. Tak ada pemaksaan.

Pendukung SSTS mencoba untuk memaksakan bahwa orang yang percaya itu permanen percaya, dengan mengutip ayat-ayat seperti Yoh. 5:24,
“Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa mendengar perkataan-Ku dan percaya kepada Dia yang mengutus Aku, ia mempunyai hidup yang kekal dan tidak turut dihukum, sebab ia sudah pindah dari dalam maut ke dalam hidup.”
Nah, kata mereka, ayat ini memproklamirkan bahwa orang percaya “tidak turut dihukum.” Tetapi mereka lupa bahwa ayat ini memberikan janji tersebut kepada orang percaya. Sebagai perbandingan, mari kita lihat Yohanes 3:36: “Barangsiapa percaya kepada Anak, ia beroleh hidup yang kekal, tetapi barangsiapa tidak taat kepada Anak, ia tidak akan melihat hidup, melainkan murka Allah tetap ada di atasnya.”
Kalau kita bandingkan:
Yohanes 5:24                                     Yohanes 3:36
barangsiapa....percaya                  barangsiapa....tidak taat [tidak percaya]
tidak                                                      tidak
turut dihukum                                   akan melihat hidup

Picirilli menyatakan: Secara grammatis, jika [pernyataan] yang pertama berarti bahwa keadaan orang percaya tidak dapat berubah, maka [pernyataan] kedua juga berarti bahwa keadaan orang yang tidak percaya juga tidak dapat diubah.
Sebenarnya, kedua perikop ini tidak sedang berbicara tentang itu [apakah keadaannya dapat diubah] ... Setiap janji tersebut berlaku dengan kuasa yang sama pada mereka yang terus menetap pada keadaan yang digambarkan [percaya atau tidak percaya].

Tanggapan Budi Asali:
Dari pada menyoroti kata-kata ‘tidak turut dihukum’, saya lebih baik menyoroti kata-kata ‘hidup yang kekal’, baik dalam Yoh 5:24 maupun dalam Yoh 3:36. Seperti sudah saya katakan di atas, kalau orang kristen yang sejati bisa meninggalkan iman dan binasa / kehilangan hidup kekal itu, maka sebutannya salah. Mestinya bukan disebut ‘hidup yang kekal’ tetapi ‘hidup bersyarat’, syaratnya adalah ‘tidak meninggalkan iman / Kristus’!
Hidup bersyarat sebetulnya merupakan hidup yang dimiliki oleh Adam sebelum ia berbuat dosa. Ia tetap hidup, selama tidak berbuat dosa. Tetapi begitu ia berbuat dosa, ia mati. Tetapi keadaan orang percaya saat ini lebih tinggi / lebih baik dari keadaan Adam sebelum jatuh ke dalam dosa!
Bdk. Ro 5:15-17 - “(15) Tetapi karunia Allah tidaklah sama dengan pelanggaran Adam. Sebab, jika karena pelanggaran satu orang semua orang telah jatuh di dalam kuasa maut, jauh lebih besar lagi kasih karunia Allah dan karuniaNya, yang dilimpahkanNya atas semua orang karena satu orang, yaitu Yesus Kristus. (16) Dan kasih karunia tidak berimbangan dengan dosa satu orang. Sebab penghakiman atas satu pelanggaran itu telah mengakibatkan penghukuman, tetapi penganugerahan karunia atas banyak pelanggaran itu mengakibatkan pembenaran. (17) Sebab, jika oleh dosa satu orang, maut telah berkuasa oleh satu orang itu, maka lebih benar lagi mereka, yang telah menerima kelimpahan kasih karunia dan anugerah kebenaran, akan hidup dan berkuasa oleh karena satu orang itu, yaitu Yesus Kristus”.

Bahwa Tuhan menggunakan istilah ‘hidup yang kekal’, jelas menunjukkan bahwa ia akan menolong semua orang percaya / orang kristen yang sejati sehingga tidak satupun dari mereka yang akan meninggalkan iman / Kristus!
Bdk. Yoh 17:11-12 - “(11) Dan Aku tidak ada lagi di dalam dunia, tetapi mereka masih ada di dalam dunia, dan Aku datang kepadaMu. Ya Bapa yang kudus, peliharalah mereka dalam namaMu, yaitu namaMu yang telah Engkau berikan kepadaKu, supaya mereka menjadi satu sama seperti Kita. (12) Selama Aku bersama mereka, Aku memelihara mereka dalam namaMu, yaitu namaMu yang telah Engkau berikan kepadaKu; Aku telah menjaga mereka dan tidak ada seorangpun dari mereka yang binasa selain dari pada dia yang telah ditentukan untuk binasa, supaya genaplah yang tertulis dalam Kitab Suci”.

Yang saya beri garis bawah ganda bukan menunjukkan bahwa dari orang-orang yang Bapa berikan kepada Anak ada yang binasa (perkecualian). Yang binasa ini tidak termasuk dalam kelompok orang-orang yang oleh Bapa diberikan kepada Anak.

Hal yang sama dapat dikatakan tentang semua janji bahwa orang percaya “tidak akan binasa.” Saya kutip lagi satu pemikiran:
“Tidak ada yang berani mengatakan, bahwa karena orang yang tidak percaya dinyatakan tidak akan melihat hidup, maka ia secara permanen terikat tanpa pengharapan pada kondisi itu. Sebenarnya, adalah benar bahwa sebagai seorang yang tidak percaya, ia tidak akan melihat hidup, tetapi jika ia kemudian menjadi percaya, maka ia akan melihat hidup. Nah, kalau kata-kata “tidak akan melihat hidup” yang diterapkan pada orang yang tidak percaya, ternyata tidak dilanggar jika orang tidak percaya tadi menjadi percaya dan akhirnya melihat hidup, maka mana kontradiksinya jika seorang percaya dikatakan “tidak akan binasa,” tetapi jika ia menjadi tidak percaya, maka ia binasa? Faktanya, sebagai seorang percaya, selama ia tetap percaya, ia tidak akan binasa.”

Tanggapan Budi Asali:
Betul-betul suatu argumentasi yang absurd / menggelikan. Tidak ada analogi antara orang percaya dan orang yang tidak percaya dalam persoalan ini. Tidak ada ayat yang mengatakan bahwa sekali seseorang tidak percaya / menolak Kristus maka ia akan mendapatkan kebinasaan kekal. Ia hanya binasa kekal kalau ia menolak Kristus terus menerus sampai mati. Karena itu Injil ditawarkan kepada orang-orang yang tidak / belum percaya! Tetapi sangat berbeda dengan orang percaya. Pada saat ia percaya ia menerima hidup yang kekal!

Faktanya sebagai orang percaya ia akan terus percaya!

Pada akhirnya:
• Jika seseorang dapat menerima atau menolak Kristus sebelum ia diselamatkan, mengapa, kapan, dan bagaimanakah ia kehilangan kehendak bebas itu? Jawaban Alkitabiah adalah bahwa ia tidak kehilangan kehendak bebas itu dan masih dapat meninggalkan iman.

Tanggapan Budi Asali:
Pada saat ia belum percayapun, ia tidak bisa beriman dengan kemauan dan kekuatannya sendiri! Yoh 6:44,65 dan 1Kor 12:3 sudah saya berikan di atas, dan tidak saya ulangi.
Saya ingin menambahkan Fil 2:12-13 - “(12) Hai saudara-saudaraku yang kekasih, kamu senantiasa taat; karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar, bukan saja seperti waktu aku masih hadir, tetapi terlebih pula sekarang waktu aku tidak hadir, (13) karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaanNya”.
Yang saya beri garis bawah ganda terjemahannya kurang jelas. Perhatikan terjemahan-terjemahan Kitab Suci bahasa Inggris di bawah ini:
KJV: “For it is God which worketh in you both to will and to do of his good pleasure” (= Karena Allahlah yang bekerja dalam kamu baik untuk menghendaki maupun untuk melakukan kehendakNya yang baik).
RSV: “for God is at work in you, both to will and to work for his good pleasure” (= karena Allah bekerja dalam kamu, baik untuk menghendaki maupun untuk mengerjakan untuk kehendakNya yang baik).
NASB: “for it is God who is at work in you, both to will and to work for His good pleasure” (= karena Allahlah yang bekerja dalam ka-mu, baik untuk menghendaki maupun untuk mengerjakan untuk kehendakNya yang baik).
NIV: “for it is God who works in you to will and to act according to his good purpose” (= karena Allahlah yang bekerja dalam kamu untuk menghendaki dan untuk berbuat menurut rencanaNya yang baik).
Ini menunjukkan bahwa baik keinginan maupun kemampuan untuk melakukan apa yang baik itu datang dari Tuhan.
W. G. T. Shedd: “It is true that the ‘cannot’ is a ‘will not,’ but it is equally true that the ‘will not’ is a ‘cannot.’ The sinful will is literally unable to incline to good, apart from grace” (= Adalah benar bahwa ‘tidak bisa’ berarti ‘tidak mau’, tetapi secara sama adalah benar bahwa ‘tidak mau’ berarti ‘tidak bisa’. Kehendak yang berdosa secara hurufiah tidak bisa condong pada yang baik, terpisah dari kasih karunia) - ‘Shedd’s Dogmatic Theology’, vol II, hal 229.

Jadi pertanyaan anda ‘kapan dan bagaimana ia kehilangan kehendak bebas itu?’, saya jawab: ‘Dia tidak pernah kehilangan apa yang ia tak pernah punya’.
Catatan: ‘kehendak bebas’ di sini, dalam arti yang diberikan oleh Arminianisme, bukan dalam arti yang diberikan oleh Calvinisme!

Adalah tidak Alkitabiah untuk mengatakan bahwa manusia mempunyai kehendak bebas dan karena itu bisa meninggalkan iman, sementara Alkitab sendiri memberikan begitu banyak ayat yang menunjukkan bahwa orang percaya yang sungguh-sungguh tidak mungkin bisa meninggalkan Kristus / iman. Di atas sudah saya berikan Yoh 17:11-12, Yoh 10:27-29 dan banyak lagi, dan tidak usah saya ulang di sini.

• Jika keselamatan itu bersyarat pada awalnya (seseorang harus percaya Kristus), sejak kapan, mengapa, dan bagaimanakah sifat keselamatan itu tiba-tiba berubah menjadi tidak bersyarat kemudian? Jawaban Alkitabiah sekali lagi adalah bahwa keselamatan masih bersyarat pada iman.

Tanggapan Budi Asali:
Hmmm, akhirnya anda berkata secara explicit bahwa keselamatan itu bersyarat (bukan pada saat mendapatkannya, tetapi setelah mendapatkannya). Dengan kata lain, pada saat seseorang percaya, ia mendapatkan hidup bersyarat. Saya tanya: mana ayatnya, Liauw? Semua ayat mengatakan orang percaya mendapat hidup yang kekal, bukan hidup bersyarat!

Saya percaya bahwa untuk tetap selamat seseorang harus tetap percaya, tetapi tetap percayanya ia bukan tergantung dirinya sendiri, tetapi tergantung kepada Allah yang setia! Sama juga dengan pada waktu ia mau percaya, itu juga bukan tergantung dia sendiri, tetapi tergantung Tuhan!

7. Ada begitu banyak Firman Tuhan yang mendukung Kemungkinan Meninggalkan Iman
Perikop-perikop ini terbagi menjadi beberapa kategori:
A. Perikop yang dengan jelas mengacu pada kejadian meninggalkan iman

• 1 Tim. 4:1

Tanggapan Budi Asali:
Enak sekali, ya, jadi orang malas yang menuliskan ayatnya saja malas. Saya yakin orang-orang yang membaca tulisan anda tak ada 1 % yang membaca ayatnya.
Saya akan tuliskan ayat-ayatnya satu per satu.
1Tim 4:1 - “Tetapi Roh dengan tegas mengatakan bahwa di waktu-waktu kemudian, ada orang yang akan murtad lalu mengikuti roh-roh penyesat dan ajaran setan-setan”.
Saya tanya: siapa yang mengatakan bahwa ini ayat ini bicara tentang orang kristen yang sejati?

• 1 Tim. 1:18-20

1Tim 1:18-20 - “(18) Tugas ini kuberikan kepadamu, Timotius anakku, sesuai dengan apa yang telah dinubuatkan tentang dirimu, supaya dikuatkan oleh nubuat itu engkau memperjuangkan perjuangan yang baik dengan iman dan hati nurani yang murni. (19) Beberapa orang telah menolak hati nuraninya yang murni itu, dan karena itu kandaslah iman mereka, (20) di antaranya Himeneus dan Aleksander, yang telah kuserahkan kepada Iblis, supaya jera mereka menghujat”.

Secara sama saya tanya: siapa yang mengatakan bahwa text ini bicara tentang orang kristen yang sejati?

• 2 Tim. 2:16-18

2Tim 2:16-18 - “(16) Tetapi hindarilah omongan yang kosong dan yang tak suci yang hanya menambah kefasikan. (17) Perkataan mereka menjalar seperti penyakit kanker. Di antara mereka termasuk Himeneus dan Filetus, (18) yang telah menyimpang dari kebenaran dengan mengajarkan bahwa kebangkitan kita telah berlangsung dan dengan demikian merusak iman sebagian orang”.

Secara sama saya tanya lagi: siapa yang mengatakan bahwa text ini bicara tentang orang kristen yang sejati?

B. Perikop yang memperingatkan bahaya murtad atau meninggalkan iman (yang berarti ada kemungkinannya)

• Ibr. 6:4-6

Ibr 6:4-6 - “(4) Sebab mereka yang pernah diterangi hatinya, yang pernah mengecap karunia sorgawi, dan yang pernah mendapat bagian dalam Roh Kudus, (5) dan yang mengecap firman yang baik dari Allah dan karunia-karunia dunia yang akan datang, (6) namun yang murtad lagi, tidak mungkin dibaharui sekali lagi sedemikian, hingga mereka bertobat, sebab mereka menyalibkan lagi Anak Allah bagi diri mereka dan menghinaNya di muka umum”.

Ini sudah saya jelaskan di depan.


• Ibr. 10:19-39

Ibr 10:19-39 - “(19) Jadi, saudara-saudara, oleh darah Yesus kita sekarang penuh keberanian dapat masuk ke dalam tempat kudus, (20) karena Ia telah membuka jalan yang baru dan yang hidup bagi kita melalui tabir, yaitu diriNya sendiri, (21) dan kita mempunyai seorang Imam Besar sebagai kepala Rumah Allah. (22) Karena itu marilah kita menghadap Allah dengan hati yang tulus ikhlas dan keyakinan iman yang teguh, oleh karena hati kita telah dibersihkan dari hati nurani yang jahat dan tubuh kita telah dibasuh dengan air yang murni. (23) Marilah kita teguh berpegang pada pengakuan tentang pengharapan kita, sebab Ia, yang menjanjikannya, setia. (24) Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik. (25) Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat. (26) Sebab jika kita sengaja berbuat dosa, sesudah memperoleh pengetahuan tentang kebenaran, maka tidak ada lagi korban untuk menghapus dosa itu. (27) Tetapi yang ada ialah kematian yang mengerikan akan penghakiman dan api yang dahsyat yang akan menghanguskan semua orang durhaka. (28) Jika ada orang yang menolak hukum Musa, ia dihukum mati tanpa belas kasihan atas keterangan dua atau tiga orang saksi. (29) Betapa lebih beratnya hukuman yang harus dijatuhkan atas dia, yang menginjak-injak Anak Allah, yang menganggap najis darah perjanjian yang menguduskannya, dan yang menghina Roh kasih karunia? (30) Sebab kita mengenal Dia yang berkata: ‘Pembalasan adalah hakKu. Akulah yang akan menuntut pembalasan.’ Dan lagi: ‘Tuhan akan menghakimi umatNya.’ (31) Ngeri benar, kalau jatuh ke dalam tangan Allah yang hidup. (32) Ingatlah akan masa yang lalu. Sesudah kamu menerima terang, kamu banyak menderita oleh karena kamu bertahan dalam perjuangan yang berat, (33) baik waktu kamu dijadikan tontonan oleh cercaan dan penderitaan, maupun waktu kamu mengambil bagian dalam penderitaan mereka yang diperlakukan sedemikian. (34) Memang kamu telah turut mengambil bagian dalam penderitaan orang-orang hukuman dan ketika harta kamu dirampas, kamu menerima hal itu dengan sukacita, sebab kamu tahu, bahwa kamu memiliki harta yang lebih baik dan yang lebih menetap sifatnya. (35) Sebab itu janganlah kamu melepaskan kepercayaanmu, karena besar upah yang menantinya. (36) Sebab kamu memerlukan ketekunan, supaya sesudah kamu melakukan kehendak Allah, kamu memperoleh apa yang dijanjikan itu. (37) ‘Sebab sedikit, bahkan sangat sedikit waktu lagi, dan Ia yang akan datang, sudah akan ada, tanpa menangguhkan kedatanganNya. (38) Tetapi orangKu yang benar akan hidup oleh iman, dan apabila ia mengundurkan diri, maka Aku tidak berkenan kepadanya.’ (39) Tetapi kita bukanlah orang-orang yang mengundurkan diri dan binasa, tetapi orang-orang yang percaya dan yang beroleh hidup”.

Yang ay 26-29 saya yakin itu juga menunjuk kepada orang kristen KTP, tetapi ay 38 harus dibaca dengan ay 39, dan justru menakankan bahwa orang kristen yang sejati tidak akan mengundurkan diri dan binasa.

• 2 Pet. 2:20-22

2Pet 2:20-22 - “(20) Sebab jika mereka, oleh pengenalan mereka akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus, telah melepaskan diri dari kecemaran-kecemaran dunia, tetapi terlibat lagi di dalamnya, maka akhirnya keadaan mereka lebih buruk dari pada yang semula. (21) Karena itu bagi mereka adalah lebih baik, jika mereka tidak pernah mengenal Jalan Kebenaran dari pada mengenalnya, tetapi kemudian berbalik dari perintah kudus yang disampaikan kepada mereka. (22) Bagi mereka cocok apa yang dikatakan peribahasa yang benar ini: ‘Anjing kembali lagi ke muntahnya, dan babi yang mandi kembali lagi ke kubangannya.’”.

Ini juga sudah saya jelaskan. Seluruh kontext, mulai dari 2Pet 2:1 bicara tentang nabi-nabi palsu, bagaimana mungkin anda terapkan pada orang kristen yang sejati yang murtad? Apalagi mereka disebut ‘babi’ dan ‘anjing’, mungkinkah itu orang kristen yang sejati?

• Yoh. 15:1-9

Yoh 15:1-8 - “(1) ‘Akulah pokok anggur yang benar dan Bapa-Kulah pengusahanya. (2) Setiap ranting pada-Ku yang tidak berbuah, dipotong-Nya dan setiap ranting yang berbuah, dibersihkan-Nya, supaya ia lebih banyak berbuah. (3) Kamu memang sudah bersih karena firman yang telah Kukatakan kepadamu. (4) Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku. (5) Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa. (6) Barangsiapa tidak tinggal di dalam Aku, ia dibuang ke luar seperti ranting dan menjadi kering, kemudian dikumpulkan orang dan dicampakkan ke dalam api lalu dibakar. (7) Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya. (8) Dalam hal inilah Bapa-Ku dipermuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-murid-Ku.’”.

Ini juga sudah saya bahas di atas.

• Ibr. 12:25

Ibr 12:25 - “Jagalah supaya kamu jangan menolak Dia, yang berfirman. Sebab jikalau mereka, yang menolak Dia yang menyampaikan firman Allah di bumi, tidak luput, apa lagi kita, jika kita berpaling dari Dia yang berbicara dari sorga?”.

Ini sama sekali tidak bicara tentang orang yang murtad. Ini menekankan supaya orang, pada waktu mendengar Firman Tuhan / Injil, tidak menolaknya, tetapi menerimanya. Bahkan Adam Clarke yang adalah seorang Arminian, menafsirkannya demikian.

Adam Clarke: “[See] ‎Blepete. Take heed, that ye refuse not him-the Lord Jesus, the mediator of the new covenant, who now speaketh from heaven, by his Gospel, to the Jews and to the Gentiles, having in his incarnation come down from God. [Him that spake on earth] Moses, who spoke on the part of God to the Hebrews, every transgression of whose word received a just recompense of reward, none being permitted to escape punishment; consequently, if ye turn away from Christ, who speaks to you from heaven, you may expect a much sorer punishment, the offence against God being so much the more heinous, as the privileges slighted are more important and glorious”.


• 2 Tim. 2:11-13

2Tim 2:11-13 - “(11) Benarlah perkataan ini: ‘Jika kita mati dengan Dia, kitapun akan hidup dengan Dia; (12) jika kita bertekun, kitapun akan ikut memerintah dengan Dia; jika kita menyangkal Dia, Diapun akan menyangkal kita; (13) jika kita tidak setia, Dia tetap setia, karena Dia tidak dapat menyangkal diriNya.’”.

Ini ayat yang menekankan tanggung jawab kita sebagai orang-orang percaya, dan kata ‘menyangkal’ harus diartikan sebagai penyangkalan yang terus menerus, karena kalau tidak, Petrus akan terkena oleh ayat ini. Ini menekankan tanggung jawab kita, dan tak berarti bahwa orang kristen yang sejati bisa terus menerus menyangkal Tuhan.

Ayat 13nya justru menunjukkan jaminan Tuhan, karena kalaupun kita tidak setia, Dia tetap setia!


• 2 Yoh 1:9

2Yoh 9 - “Setiap orang yang tidak tinggal di dalam ajaran Kristus, tetapi yang melangkah keluar dari situ, tidak memiliki Allah. Barangsiapa tinggal di dalam ajaran itu, ia memiliki Bapa maupun Anak”.

Justru ayat ini sejalan dengan 1Yoh 2:18-19 dan menunjukkan bahwa kalau seseorang ‘murtad’ ia tidak pernah sungguh-sungguh selamat, ia tidak pernah memilki Allah.

C. Perikop tentang keselamatan yang diperoleh atas syarat iman yang terus menerus

• Kolose 1:21-23

Kol 1:21-23 - “(21) Juga kamu yang dahulu hidup jauh dari Allah dan yang memusuhi-Nya dalam hati dan pikiran seperti yang nyata dari perbuatanmu yang jahat, (22) sekarang diperdamaikan-Nya, di dalam tubuh jasmani Kristus oleh kematian-Nya, untuk menempatkan kamu kudus dan tak bercela dan tak bercacat di hadapan-Nya. (23) Sebab itu kamu harus bertekun dalam iman, tetap teguh dan tidak bergoncang, dan jangan mau digeser dari pengharapan Injil, yang telah kamu dengar dan yang telah dikabarkan di seluruh alam di bawah langit, dan yang aku ini, Paulus, telah menjadi pelayannya”.

Mudah sekali, ini lagi-lagi ayat yang menekankan tanggung jawab kita.

• 1 Kor. 15:1-4

1Kor 15:1-4 - “(1) Dan sekarang, saudara-saudara, aku mau mengingatkan kamu kepada Injil yang aku beritakan kepadamu dan yang kamu terima, dan yang di dalamnya kamu teguh berdiri. (2) Oleh Injil itu kamu diselamatkan, asal kamu teguh berpegang padanya, seperti yang telah kuberitakan kepadamu--kecuali kalau kamu telah sia-sia saja menjadi percaya. (3) Sebab yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu, yaitu apa yang telah kuterima sendiri, ialah bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci, (4) bahwa Ia telah dikuburkan, dan bahwa Ia telah dibangkitkan, pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci”.

Sama dengan yang di atas, ini hanya menunjukkan tanggung jawab. Kata-kata ‘kecuali kalau kamu telah sia-sia saja menjadi percaya’ tidak berbeda dengan yang ada dalam Gal 3:4 - “Sia-siakah semua yang telah kamu alami sebanyak itu? Masakan sia-sia!”.

Ini justru menjamin itu tidak mungkin terjadi, dan iman mereka tidak mungkin sia-sia.


• Ibr. 3:6, 14

Ibr 3:6,14 - “(6) tetapi Kristus setia sebagai Anak yang mengepalai rumahNya; dan rumahNya ialah kita, jika kita sampai kepada akhirnya teguh berpegang pada kepercayaan dan pengharapan yang kita megahkan. ... (14) Karena kita telah beroleh bagian di dalam Kristus, asal saja kita teguh berpegang sampai kepada akhirnya pada keyakinan iman kita yang semula”.

Lagi-lagi ayat yang menekankan tanggung jawab kita.

• Ibr. 10:38

Anda pikun, Liauw? Ayat ini sudah ada di atas, termasuk dalam Ibr 10:19-39, dan sudah saya jawab di atas.

• Gal. 5:1-6

Gal 5:1-6 - “(1) Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan. (2) Sesungguhnya, aku, Paulus, berkata kepadamu: jikalau kamu menyunatkan dirimu, Kristus sama sekali tidak akan berguna bagimu. (3) Sekali lagi aku katakan kepada setiap orang yang menyunatkan dirinya, bahwa ia wajib melakukan seluruh hukum Taurat. (4) Kamu lepas dari Kristus, jikalau kamu mengharapkan kebenaran oleh hukum Taurat; kamu hidup di luar kasih karunia. (5) Sebab oleh Roh, dan karena iman, kita menantikan kebenaran yang kita harapkan. (6) Sebab bagi orang-orang yang ada di dalam Kristus Yesus hal bersunat atau tidak bersunat tidak mempunyai sesuatu arti, hanya iman yang bekerja oleh kasih”.

Gereja Galatia, yang sudah diajar Injil yang benar oleh Paulus kemasukan ajaran sesat yang mengajarkan keselamatan karena iman + perbuatan baik. Surat Galatia ditulis oleh Paulus justru supaya tak ada orang Kristen yang murtad, dan seandainya ada, ia harus dianggap sebagai orang yang tidak pernah menjadi Kristen secara sungguh-sungguh (1Yoh 2:19).

Ijinkan saya untuk memotong sebentar di sini untuk menunjukkan suatu poin kebenaran yang sangat penting.
Dalam sebuah dokumen, katakanlah sebuah kontrak, atau surat persetujuan antara dua pihak, maka jika suatu syarat dinyatakan dengan jelas di salah satu bagian kontrak atau persetujuan tadi, syarat itu berlaku dan mengikat, walaupun hanya satu kali dinyatakan!!
Di bawah ini saya berikan suatu contoh fiktif, yaitu sebuah surat imajiner dari seorang raja kepada rakyatnya:
Rakyatku yang ku kasihi, saya menulis untuk memberitahukan kalian suatu kabar baik. Untuk memperingati ulang tahunku yang kelima puluh, yang akan jatuh satu bulan dari sekarang, saya telah memutuskan untuk membagikan banyak hadiah dan berkat. Hadiah dan berkat ini adalah bagi semua yang turut memperingati ulang tahunku. Anda harus memakai pita yang akan saya bagikan dalam satu bulan ini.
Barangsiapa yang memakai pita, maka ia berhak atas semua hadiah dalam pesta ulang tahun saya. Apa saja hadiah yang saya sediakan? Bagi semua kalian yang berhutang uang pada negara, maka saya telah mempersiapkan uang pribadi saya untuk melunasi hutangmu. Ketahuilah bahwa dana saya tidak terbatas, dan saya dapat membayar hutang semua orang. Selain itu, orang yang ikut merayakan ulang tahun saya juga akan saya pekerjakan di pabrik saya. Saya ingin tegaskan, bahwa saya akan memberi gaji yang sangat bagus untuk pekerja pabrik saya. Lowongan pekerjaan tidak akan habis. Ingat, jangan takut akan semua hutangmu, karena saya akan bayarkan itu semua. Hadiah saya juga termasuk hak untuk menikmati taman saya yang indah setiap hari. Kalian juga boleh memanggil saya dengan panggilan khusus, yaitu Tuan yang Baik. Sungguh, kalian mendapatkan hadiah yang sedemikian hebat. Ingat, bahwa kalian harus memakai pitaku hingga akhirnya, jika tidak sia-sia saja kalian mendapat pita. Tetapi saya menulis kepada semua pemakai pitaku, bahwa kalian dapat tahu dengan pasti, bahwa hutang kalian semua telah dibayarkan untuk selama-lamanya.
Nah, ini hanyalah suatu surat imajiner yang pendek. Saya bukan ingin mengatakan bahwa surat ini persis sama menggambarkan keselamatan yang kita terima dari Allah, tetapi surat fiktif ini membuat sebuah poin. Walaupun janji sang Raja banyak sekali, dan sangat indah dalam dokumen ini, juga ada syarat (memakai dan terus memakai pita) yang dinyatakan dengan jelas. Jadi, tidak peduli ada berapa janji yang diberikan dan diulangi lagi setelah ini, syarat itu berlaku, walaupun syarat mungkin tidak disebut ulang bersama tiap janji.
Hal yang sama terjadi dalam Alkitab. Alkitab adalah satu dokumen. Jika Allah dengan tegas menyatakan syarat keselamatan dalam minimal satu bagian Alkitab, maka syarat tersebut berlaku pada semua janji Alkitab mengenai keselamatan. Nyatanya, dalam Alkitab lebih indah lagi: Allah menyatakan syarat yang Ia tuntut untuk mendapatkan keselamatan yang Ia sediakan, bukan sekali, bukan dua kali, tetapi berulang-ulang kali. Syarat yang dimaksud adalah iman, dan bukan iman yang hanya bertahan satu detik, satu hari, satu tahun, tetapi iman yang terus sampai akhirnya. Juga, sama sekali tidak masuk akal untuk berkata, “ya, sekali saya beriman, saya tidak bisa kehilangan iman itu.” Kalau demikian, mengapa Allah berulang kali memperingatkan orang percaya!! tentang tanggung jawab mereka untuk tetap tinggal dalam iman? Jika seorang percaya tidak dapat meninggalkan iman, maka sama sekali tidak perlu untuk memperingatkan dia tentang hal itu. Mengapa perlu memperingatkan seorang anak untuk tidak melompat terlalu tinggi hingga sampai ke bulan? Wah, itu hal yang konyol, anda berkata, mungkin bahkan dalam kategori membohongi anak kecil. Ya, memang benar demikian. Karena tidak mungkin ia melompat sampai ke bulan. Allah juga tidak menipu orang percaya dengan cara memperingatkan kita tentang hal yang tidak mungkin terjadi. Allah tidak memberikan peringatan palsu.

Tanggapan Budi Asali:
Perhatikan yang saya beri warna biru, Liauw. Anda mula-mula mengatakan tidak persis sama, lalu di bawahnya anda mengatakan sama. Yang benar yang mana? Yang benar adalah bahwa ilustrasi anda beda total dengan yang ada dalam Alkitab. Mengapa? Karena dalam Alkitab ada jaminan keselamatan, sedangkan dalam ilustrasi anda tidak.

Dalam Alkitab ada sederetan ayat yang menjamin keselamatan, dan sederetan ayat yang menunjukkan tanggung jawab kita, dengan ancaman keselamatan itu bisa hilang. Calvinisme menekankan bagian pertama, dan menjelaskan bagian kedua sehingga harmonis dengan bagian pertama. Arminianisme menekankan bagian kedua, tetapi tidak bisa menafsirkan bagian pertama sehingga harmonis dengan bagian kedua, dan karena itu mereka pura-pura tidak melihat ayat-ayat itu!

Mau melihat deretan ayat dari Calvinisme? Saya berikan di bawah ini:

1Sam 12:22 - “Sebab TUHAN tidak akan membuang umatNya, sebab namaNya yang besar. Bukankah TUHAN telah berkenan untuk membuat kamu menjadi umatNya?”.

2Sam 7:12-16 - “(12) Apabila umurmu sudah genap dan engkau telah mendapat perhentian bersama-sama dengan nenek moyangmu, maka Aku akan membangkitkan keturunanmu yang kemudian, anak kandungmu, dan Aku akan mengokohkan kerajaannya. (13) Dialah yang akan mendirikan rumah bagi namaKu dan Aku akan mengokohkan takhta kerajaannya untuk selama-lamanya. (14) Aku akan menjadi Bapanya, dan ia akan menjadi anakKu. Apabila ia melakukan kesalahan, maka Aku akan menghukum dia dengan rotan yang dipakai orang dan dengan pukulan yang diberikan anak-anak manusia. (15) Tetapi kasih setiaKu tidak akan hilang dari padanya, seperti yang Kuhilangkan dari pada Saul, yang telah Kujauhkan dari hadapanmu. (16) Keluarga dan kerajaanmu akan kokoh untuk selama-lamanya di hadapanKu, takhtamu akan kokoh untuk selama-lamanya.’”. Bandingkan dengan Maz 89:31-36 di bawah.

2Sam 23:5 - “Bukankah seperti itu keluargaku di hadapan Allah? Sebab Ia menegakkan bagiku suatu perjanjian kekal, teratur dalam segala-galanya dan terjamin. Sebab segala keselamatanku dan segala kesukaanku bukankah Dia yang menumbuhkannya?”.

Maz 23:6 - “Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku; dan aku akan diam dalam rumah TUHAN sepanjang masa”.

Maz 89:31-36 - “Jika anak-anaknya meninggalkan TauratKu dan mereka tidak hidup menurut hukumKu, jika ketetapanKu mereka langgar dan tidak berpegang pada perintah-perintahKu, maka Aku akan membalas pelanggaran mereka dengan gada, dan kesalahan mereka dengan pukulan-pukulan. Tetapi kasih setiaKu tidak akan Kujauhkan dari padanya dan Aku tidak akan berlaku curang dalam hal kesetiaanKu. Aku tidak akan melanggar perjanjianKu, dan apa yang keluar dari bibirKu tidak akan Kuubah. Sekali Aku bersumpah demi kekudusanKu, tentulah Aku tidak akan berbohong kepada Daud: Anak cucunya akan ada untuk selama-lamanya, dan takhtanya seperti matahari di depan mataKu, seperti bulan yang ada selama-lamanya, suatu saksi yang setia di awan-awan.’ Sela”.

Yes 43:1-5 - “Tetapi sekarang, beginilah firman TUHAN yang menciptakan engkau, hai Yakub, yang membentuk engkau, hai Israel: ‘Janganlah takut, sebab Aku telah menebus engkau, Aku telah memanggil engkau dengan namamu, engkau ini kepunyaanKu. Apabila engkau menyeberang melalui air, Aku akan menyertai engkau, atau melalui sungai-sungai, engkau tidak akan dihanyutkan; apabila engkau berjalan melalui api, engkau tidak akan dihanguskan, dan nyala api tidak akan membakar engkau. Sebab Akulah TUHAN, Allahmu, Yang Mahakudus, Allah Israel, Juruselamatmu. Aku menebus engkau dengan Mesir, dan memberikan Etiopia dan Syeba sebagai gantimu. Oleh karena engkau berharga di mataKu dan mulia, dan Aku ini mengasihi engkau, maka Aku memberikan manusia sebagai gantimu, dan bangsa-bangsa sebagai ganti nyawamu. Janganlah takut, sebab Aku ini menyertai engkau, Aku akan mendatangkan anak cucumu dari timur, dan Aku akan menghimpun engkau dari barat”.

Yes 54:7-10 - Hanya sesaat lamanya Aku meninggalkan engkau, tetapi karena kasih sayang yang besar Aku mengambil engkau kembali. Dalam murka yang meluap Aku telah menyembunyikan wajahKu terhadap engkau sesaat lamanya, tetapi dalam kasih setia abadi Aku telah mengasihani engkau, firman TUHAN, Penebusmu. Keadaan ini bagiKu seperti pada zaman Nuh: seperti Aku telah bersumpah kepadanya bahwa air bah tidak akan meliputi bumi lagi, demikianlah Aku telah bersumpah bahwa Aku tidak akan murka terhadap engkau dan tidak akan menghardik engkau lagi. Sebab biarpun gunung-gunung beranjak dan bukit-bukit bergoyang, tetapi kasih setiaKu tidak akan beranjak dari padamu dan perjanjian damaiKu tidak akan bergoyang, firman TUHAN, yang mengasihani engkau”.

Yes 57:16-19 - Sebab bukan untuk selama-lamanya Aku hendak berbantah, dan bukan untuk seterusnya Aku hendak murka, supaya semangat mereka jangan lemah lesu di hadapan-Ku, padahal Akulah yang membuat nafas kehidupan. Aku murka karena kesalahan kelobaannya, Aku menghajar dia, menyembunyikan wajahKu dan murka, tetapi dengan murtad ia menempuh jalan yang dipilih hatinya. Aku telah melihat segala jalannya itu, tetapi Aku akan menyembuhkan dan akan menuntun dia dan akan memulihkan dia dengan penghiburan; juga pada bibir orang-orangnya yang berkabung Aku akan menciptakan puji-pujian. Damai, damai sejahtera bagi mereka yang jauh dan bagi mereka yang dekat - firman TUHAN - Aku akan menyembuhkan dia!”.

Yes 59:21 - “Adapun Aku, inilah perjanjianKu dengan mereka, firman TUHAN: RohKu yang menghinggapi engkau dan firmanKu yang Kutaruh dalam mulutmu tidak akan meninggalkan mulutmu dan mulut keturunanmu dan mulut keturunan mereka, dari sekarang sampai selama-lamanya, firman TUHAN”.

Yer 32:38-40 - “Maka mereka akan menjadi umatKu dan Aku akan menjadi Allah mereka. Aku akan memberi mereka satu hati dan satu tingkah langkah, sehingga mereka takut kepadaKu sepanjang masa untuk kebaikan mereka dan anak-anak mereka yang datang kemudian. Aku akan mengikat perjanjian kekal dengan mereka, bahwa Aku tidak akan membelakangi mereka, melainkan akan berbuat baik kepada mereka; Aku akan menaruh takut kepadaKu ke dalam hati mereka, supaya mereka jangan menjauh dari padaKu.

Yeh 36:25-27 - “Aku akan mencurahkan kepadamu air jernih, yang akan mentahirkan kamu; dari segala kenajisanmu dan dari semua berhala-berhalamu Aku akan mentahirkan kamu. Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu dan Aku akan menjauhkan dari tubuhmu hati yang keras dan Kuberikan kepadamu hati yang taat. RohKu akan Kuberikan diam di dalam batinmu dan Aku akan membuat kamu hidup menurut segala ketetapanKu dan tetap berpegang pada peraturan-peraturanKu dan melakukannya.

Dan 11:32 - “Dan orang-orang yang berlaku fasik terhadap Perjanjian akan dibujuknya sampai murtad dengan kata-kata licin; tetapi umat yang mengenal Allahnya akan tetap kuat dan akan bertindak

Hos 2:18-19 - “Aku akan menjadikan engkau isteriKu untuk selama-lamanya dan Aku akan menjadikan engkau isteriKu dalam keadilan dan kebenaran, dalam kasih setia dan kasih sayang. Aku akan menjadikan engkau isteriKu dalam kesetiaan, sehingga engkau akan mengenal TUHAN”.

Mat 12:20 - “Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskanNya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkanNya, sampai Ia menjadikan hukum itu menang”.
Bdk. Yes 42:3 - “Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskannya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkannya, tetapi dengan setia ia akan menyatakan hukum”.

Mat 16:18 - “Dan Akupun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaatKu dan alam maut tidak akan menguasainya

Mat 24:22-24 - “Dan sekiranya waktunya tidak dipersingkat, maka dari segala yang hidup tidak akan ada yang selamat; akan tetapi oleh karena orang-orang pilihan waktu itu akan dipersingkat. Pada waktu itu jika orang berkata kepada kamu: Lihat, Mesias ada di sini, atau Mesias ada di sana, jangan kamu percaya. Sebab Mesias-mesias palsu dan nabi-nabi palsu akan muncul dan mereka akan mengadakan tanda-tanda yang dahsyat dan mujizat-mujizat, sehingga sekiranya mungkin, mereka menyesatkan orang-orang pilihan juga”.
 
Luk 22:31-32 - “Simon, Simon, lihat, Iblis telah menuntut untuk menampi kamu seperti gandum, tetapi Aku telah berdoa untuk engkau, supaya imanmu jangan gugur. Dan engkau, jikalau engkau sudah insaf, kuatkanlah saudara-saudaramu.’”.

Yoh 4:13-14 - “Jawab Yesus kepadanya: ‘Barangsiapa minum air ini, ia akan haus lagi, tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal.’”.

Yoh 6:54 - “Barangsiapa makan dagingKu dan minum darahKu, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman”.

Yoh 6:39-40 - “Dan Inilah kehendak Dia yang telah mengutus Aku, yaitu supaya dari semua yang telah diberikanNya kepadaKu jangan ada yang hilang, tetapi supaya Kubangkitkan pada akhir zaman. Sebab inilah kehendak BapaKu, yaitu supaya setiap orang, yang melihat Anak dan yang percaya kepadaNya beroleh hidup yang kekal, dan supaya Aku membangkitkannya pada akhir zaman.’”.

Yoh 10:27-29 - “(27) Domba-dombaKu mendengarkan suaraKu dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku, (28) dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorangpun tidak akan merebut mereka dari tanganKu. (29) BapaKu, yang memberikan mereka kepadaKu, lebih besar dari pada siapapun, dan seorangpun tidak dapat merebut mereka dari tangan Bapa”.

Yoh 11:25-26 - “(25) Jawab Yesus: ‘Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepadaKu, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, (26) dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepadaKu, tidak akan mati selama-lamanya. Percayakah engkau akan hal ini?’”.
 
Yoh 14:16 - “Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya.

Yoh 13:1 - “Sementara itu sebelum hari raya Paskah mulai, Yesus telah tahu, bahwa saatNya sudah tiba untuk beralih dari dunia ini kepada Bapa. Sama seperti Ia senantiasa mengasihi murid-muridNya demikianlah sekarang Ia mengasihi mereka sampai kepada kesudahannya.
 
Ro 5:8-10 - “(8) Akan tetapi Allah menunjukkan kasihNya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa. (9) Lebih-lebih, karena kita sekarang telah dibenarkan oleh darahNya, kita pasti akan diselamatkan dari murka Allah. (10) Sebab jikalau kita, ketika masih seteru, diperdamaikan dengan Allah oleh kematian AnakNya, lebih-lebih kita, yang sekarang telah diperdamaikan, pasti akan diselamatkan oleh hidupNya!”.

Ro 8:28 - “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah”.
Ro 8:28 ini jelas bertentangan dengan doktrin Arminian yang menyatakan orang kristen bisa kehilangan keselamatannya, dan sebaliknya mendukung doktrin Reformed yang menyatakan bahwa orang kristen yang sejati tidak mungkin kehilangan keselamatannya. Mengapa? Karena ayat ini merupakan janji untuk orang kristen, bahwa Allah pasti bekerja untuk kebaikannya. Kalau ia sudah selamat, dan lalu ia mundur / berbuat dosa terus menerus, dan akhirnya kehilangan keselamatannya, itu sama sekali tidak menunjukkan bahwa Allah bekerja untuk kebaikannya. Mungkin orang Arminian akan menjawab: ‘Pada waktu ia mundur, ia kehilangan kasihnya kepada Tuhan sehingga janji ini tidak lagi berlaku untuk dia’. Saya jawab dengan pertanyaan: “Kalau Allah memang bekerja untuk kebaikannya, bagaimana mungkin / membiarkan ia mundur dari ‘mengasihi Tuhan’ menjadi ‘tidak mengasihi Tuhan’?”.

Roma 8:29-30 - “(29) Sebab semua orang yang dipilihNya dari semula, mereka juga ditentukanNya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran AnakNya, supaya Ia, AnakNya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara. (30) Dan mereka yang ditentukanNya dari semula, mereka itu juga dipanggilNya. Dan mereka yang dipanggilNya, mereka itu juga dibenarkanNya. Dan mereka yang dibenarkanNya, mereka itu juga dimuliakanNya”.
 
Roma 8:35-39 - “(35) Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang? (36) Seperti ada tertulis: ‘Oleh karena Engkau kami ada dalam bahaya maut sepanjang hari, kami telah dianggap sebagai domba-domba sembelihan.’ (37) Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita. (38) Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, (39) atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita”.
 
Roma 11:29 - “Sebab Allah tidak menyesali kasih karunia dan panggilanNya”.

Roma 14:4 - “Siapakah kamu, sehingga kamu menghakimi hamba orang lain? Entahkah ia berdiri, entahkah ia jatuh, itu adalah urusan tuannya sendiri. Tetapi ia akan tetap berdiri, karena Tuhan berkuasa menjaga dia terus berdiri”.
 
1Kor 1:8-9 - “(8) Ia juga akan meneguhkan kamu sampai kepada kesudahannya, sehingga kamu tak bercacat pada hari Tuhan kita Yesus Kristus. (9) Allah, yang memanggil kamu kepada persekutuan dengan AnakNya Yesus Kristus, Tuhan kita, adalah setia”.
 
1Kor 10:13 - “Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya”.
 
2Kor 1:21-22 - “(21) Sebab Dia yang telah meneguhkan kami bersama-sama dengan kamu di dalam Kristus, adalah Allah yang telah mengurapi, (22) memeteraikan tanda milik-Nya atas kita dan yang memberikan Roh Kudus di dalam hati kita sebagai jaminan dari semua yang telah disediakan untuk kita”.
 
2Kor 2:14a - “Tetapi syukur bagi Allah, yang dalam Kristus selalu membawa kami di jalan kemenanganNya”.

2Kor 4:8-9,14 - “(8) Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa; (9) kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian, kami dihempaskan, namun tidak binasa. ... (14) Karena kami tahu, bahwa Ia, yang telah membangkitkan Tuhan Yesus, akan membangkitkan kami juga bersama-sama dengan Yesus. Dan Ia akan menghadapkan kami bersama-sama dengan kamu kepada diriNya”.

Ef 1:13-14 - “(13) Di dalam Dia kamu juga - karena kamu telah mendengar firman kebenaran, yaitu Injil keselamatanmu - di dalam Dia kamu juga, ketika kamu percaya, dimeteraikan dengan Roh Kudus, yang dijanjikanNya itu. (14) Dan Roh Kudus itu adalah jaminan bagian kita sampai kita memperoleh seluruhnya, yaitu penebusan yang menjadikan kita milik Allah, untuk memuji kemuliaanNya”.

Fil 1:6 - “Akan hal ini aku yakin sepenuhnya, yaitu Ia, yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus”.

1Tes 5:24 - “Ia yang memanggil kamu adalah setia, Ia juga akan menggenapinya”.

2Tes 3:3 - “Tetapi Tuhan adalah setia. Ia akan menguatkan hatimu dan memelihara kamu terhadap yang jahat”.

2Tim 1:12 - “Itulah sebabnya aku menderita semuanya ini, tetapi aku tidak malu; karena aku tahu kepada siapa aku percaya dan aku yakin bahwa Dia berkuasa memeliharakan apa yang telah dipercayakanNya kepadaku hingga pada hari Tuhan”.

2Tim 4:18 - “Dan Tuhan akan melepaskan aku dari setiap usaha yang jahat. Dia akan menyelamatkan aku, sehingga aku masuk ke dalam KerajaanNya di sorga. BagiNyalah kemuliaan selama-lamanya! Amin”.

Ibr 6:19-20 - “(19) Pengharapan itu adalah sauh yang kuat dan aman bagi jiwa kita, yang telah dilabuhkan sampai ke belakang tabir, (20) di mana Yesus telah masuk sebagai Perintis bagi kita, ketika Ia, menurut peraturan Melkisedek, menjadi Imam Besar sampai selama-lamanya”.

Ibr 10:38-39 - “(38) Tetapi orangKu yang benar akan hidup oleh iman, dan apabila ia mengundurkan diri, maka Aku tidak berkenan kepadanya.’ (39) Tetapi kita bukanlah orang-orang yang mengundurkan diri dan binasa, tetapi orang-orang yang percaya dan yang beroleh hidup.

Ibr 12:2 - “Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah”.
KJV: ‘Looking unto Jesus the author and finisher of our faith; who for the joy that was set before him endured the cross, despising the shame, and is set down at the right hand of the throne of God’ (= ).

Ibr 12:9-10 - “Selanjutnya: dari ayah kita yang sebenarnya kita beroleh ganjaran, dan mereka kita hormati; kalau demikian bukankah kita harus lebih taat kepada Bapa segala roh, supaya kita boleh hidup? Sebab mereka mendidik kita dalam waktu yang pendek sesuai dengan apa yang mereka anggap baik, tetapi Dia menghajar kita untuk kebaikan kita, supaya kita beroleh bagian dalam kekudusanNya”.

Ibr 13:5b - “Karena Allah telah berfirman: ‘Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.’”.
 
1Pet 1:5 - “Yaitu kamu, yang dipelihara dalam kekuatan Allah karena imanmu sementara kamu menantikan keselamatan yang telah tersedia untuk dinyatakan pada zaman akhir”.

1Pet 5:10 - “Dan Allah, sumber segala kasih karunia, yang telah memanggil kamu dalam Kristus kepada kemuliaanNya yang kekal, akan melengkapi, meneguhkan, menguatkan dan mengokohkan kamu, sesudah kamu menderita seketika lamanya”.
 
1Yoh 2:18-19 - “(18) Anak-anakku, waktu ini adalah waktu yang terakhir, dan seperti yang telah kamu dengar, seorang antikristus akan datang, sekarang telah bangkit banyak antikristus. Itulah tandanya, bahwa waktu ini benar-benar adalah waktu yang terakhir. (19) Memang mereka berasal dari antara kita, tetapi mereka tidak sungguh-sungguh termasuk pada kita; sebab jika mereka sungguh-sungguh termasuk pada kita, niscaya mereka tetap bersama-sama dengan kita. Tetapi hal itu terjadi, supaya menjadi nyata, bahwa tidak semua mereka sungguh-sungguh termasuk pada kita”.
 
1Yoh 3:9 - “Setiap orang yang lahir dari Allah, tidak berbuat dosa lagi; sebab benih ilahi tetap ada di dalam dia dan ia tidak dapat berbuat dosa, karena ia lahir dari Allah”.

1Yoh 4:13 - “Demikianlah kita ketahui, bahwa kita tetap berada di dalam Allah dan Dia di dalam kita: Ia telah mengaruniakan kita mendapat bagian dalam RohNya.

1Yoh 5:18 - “Kita tahu, bahwa setiap orang yang lahir dari Allah, tidak berbuat dosa; tetapi Dia yang lahir dari Allah melindunginya, dan si jahat tidak dapat menjamahnya”.

2Yoh 9 - “Setiap orang yang tidak tinggal di dalam ajaran Kristus, tetapi yang melangkah keluar dari situ, tidak memiliki Allah. Barangsiapa tinggal di dalam ajaran itu, ia memiliki Bapa maupun Anak”.
 
Yudas 24 - “Bagi Dia, yang berkuasa menjaga supaya jangan kamu tersandung dan yang membawa kamu dengan tak bernoda dan penuh kegembiraan di hadapan kemuliaanNya”.

Saya bisa menafsirkan ayat-ayat anda sehingga harmonis dengan ajaran Calvinisme, coba anda menafsirkan semua ayat-ayat saya sehingga harmonis dengan ajaran anda!

Anda mengatakan Allah tidak memberikan peringatan yang palsu; apakah anda berani mengatakan bahwa Allah memberikan jaminan keselamatan yang palsu dalam sederetan ayat-ayat yang saya sebutkan di atas?

D. Perikop yang memerintahkan kita untuk tinggal dalam Kristus atau memegang teguh iman kita (yang berarti ada kemungkinan tidak mentaati perintah ini)
• Yohanes 15:4-6
• Yudas 1:21
• Wahyu 2:10
• Matius. 10:22
• Ibrani 10:35

Tanggapan Budi Asali:
Ini sudah saya jawab di atas, tak perlu saya ulang.

E. Perikop yang menyatakan kekhawatiran Paulus bahwa jerih payahnya akan sia-sia (karena bahaya bahwa mereka yang telah ia menangkan bagi Kristus meninggalkan iman)
• Filipi 2:15-16

Fil 2:14-16 - “(14) Lakukanlah segala sesuatu dengan tidak bersungut-sungut dan berbantah-bantahan, (15) supaya kamu tiada beraib dan tiada bernoda, sebagai anak-anak Allah yang tidak bercela di tengah-tengah angkatan yang bengkok hatinya dan yang sesat ini, sehingga kamu bercahaya di antara mereka seperti bintang-bintang di dunia, (16) sambil berpegang pada firman kehidupan, agar aku dapat bermegah pada hari Kristus, bahwa aku tidak percuma berlomba dan tidak percuma bersusah-susah.
Saya beranggapan tak ada kekuatiran di sini. Ia menyuruh mereka taat dsb sebagai tanggung jawab mereka, dan supaya mereka lebih terdorong untuk mentaati perintahnya, ia menghubungkan itu dengan jerih payahnya. Asumsi Paulus adalah: mereka tak ingin jerih payah Paulus jadi sia-sia, karena itu ia hubungkan dengan jerih payahnya.


• 1 Tesalonika 3:5

1Tes 3:5 - “Itulah sebabnya, maka aku, karena tidak dapat tahan lagi, telah mengirim dia, supaya aku tahu tentang imanmu, karena aku kuatir kalau-kalau kamu telah dicobai oleh si penggoda dan kalau-kalau usaha kami menjadi sia-sia”.
Arti sebetulnya dari kata Yunaninya bukanlah ‘kuatir’; kata Yunani yang dipakai adalah MEPOS atau ME POS, yang artinya ‘lest’ (= supaya jangan) - Bible Works 7. Silahkan cek sendiri.
Dan ayat-ayat ini seperti ini tak berhubungan dengan keselamatan yang bisa hilang. Yang dikuatirkan oleh Paulus bukannya bahwa mereka sudah sungguh-sungguh Kristen lalu terhilang. Tetapi ia menguatirkan bahwa mereka tidak pernah menjadi Kristen yang sejati. Kalau memang begitu maka seluruh jerih payahnya dalam memberitakan Injil, tak berbuah. Itu yang dia kuatirkan. Ayat-ayat tentang Galatia di bawah ini juga bisa ditafsirkan secara sama.

• Galatia 1:6; 4:9-11

Gal 1:6 - “Aku heran, bahwa kamu begitu lekas berbalik dari pada Dia, yang oleh kasih karunia Kristus telah memanggil kamu, dan mengikuti suatu injil lain”.
Calvin (tentang Gal 1:6): “By using the present tense, (‘ye are removed,’) he appears to say that they were only in the act of falling. As if he had said, ‘I do not yet say that ye have been removed; for then it would be more difficult to return to the right path. But now, at the critical moment, do not advance a single step, but instantly retreat.’” - hal 29.

Gal 4:9-11 - “(9) Tetapi sekarang sesudah kamu mengenal Allah, atau lebih baik, sesudah kamu dikenal Allah, bagaimanakah kamu berbalik lagi kepada roh-roh dunia yang lemah dan miskin dan mau mulai memperhambakan diri lagi kepadanya? (10) Kamu dengan teliti memelihara hari-hari tertentu, bulan-bulan, masa-masa yang tetap dan tahun-tahun. (11) Aku kuatir kalau-kalau susah payahku untuk kamu telah sia-sia”.
Barnes’ Notes (tentang Gal 4:11): “‘I am afraid of you ...’ I have fears respecting you. His fears were that they had no genuine Christian principle. They had been so easily perverted and turned back to the servitude of ceremonies and rites, that he was apprehensive that there could be no real Christian principle in the case. What pastor has not often had such fears of his people, when he sees them turn to the weak and beggarly elements of the world, or when, after having ‘run well,’ he sees them become the slaves of fashion, or of some habit inconsistent with the simplicity of the gospel?.

Pada waktu peringatan seperti ini diberikan kepada suatu gereja, yang tentu saja terdiri dari banyak orang, dan banyak orang itu pasti ada yang orang kristen yang sejati dan ada yang orang kristen KTP, maka peringatan itu bisa dimaksudkan secara berbeda untuk kelompok yang berbeda. Bagi orang kristen yang sejati itu hanya merupakan tanggung jawab; jadi sekalipun keselamatan mereka dijamin tidak bisa hilang, tetapi mereka tetap punya tanggung jawab untuk hidup sebaik mungkin. Bagi orang kristen KTP, maka mereka memang bisa terhilang (bukan kehilangan keselamatan, karena mereka tak pernah selamat), dan itu menyebabkan jerih payah Paulus untuk mereka menjadi sia-sia.

Ada begitu banyak ayat yang jelas mengajarkan kemungkinan murtad, atau meninggalkan iman, atau menolak Kristus setelah pernah menerima Dia. Lalu mengapakah banyak orang menentang doktrin ini? Ya, sebenarnya karena mereka sudah diajarkan doktrin yang bertentangan. Mereka telah diajarkan berbagai ayat yang seolah-olah mendukung SSTS, dan SSTS sudah mendarah daging dalam diri mereka, sehingga mereka menolak untuk melihat bukti yang begitu banyak menentang SSTS.

Tanggapan Budi Asali:
Ya, karena memang ada sangat banyak ayat, yang sudah saya sebutkan di atas, bukan yang ‘seolah-olah’ menjamin keselamatan, tetapi ‘betul-betul’ menjamin keselamatan orang kristen yang sejati. Saya bisa menjelaskan ayat-ayat anda sehingga harmonis dengan pandangan saya, bisakah anda menjelaskan ayat-ayat saya sehingga harmonis dengan ‘kemungkinan murtad’ ini?
Secara sama saya bisa mengatakan bahwa orang Arminian sudah dicekoki dengan ayat-ayat yang seolah-olah menunjukkan bahwa orang kristen yang sejati bisa murtad, sehingga mereka lalu menutup mata terhadap janji-janji yang indah dari Tuhan bahwa keselamatan mereka terjamin!

Sama seperti seorang Kalvinis yang telah dicekoki dengan doktrin Limited Atonement (bahwa Yesus mati bukan untuk semua manusia). Ketika kita menunjukkan pada mereka ayat-ayat yang mengajarkan bahwa “Yesus mati untuk semua manusia,” apa respons mereka biasanya? Mereka akan berkata, “Semua tidak berarti semua.”

Tanggapan Budi Asali:
Jangan terlalu pendek dalam menjelaskan, Liauw! Penjelasan singkat seperti itu menyebabkan orang berpikir seakan-akan kami Calvinist adalah orang-orang tolol! Bahwa kalau Alkitab mengatakan A artinya tidak harus A bisa dibuktikan. Misalnya Kej 1:14-16 - “(14) Berfirmanlah Allah: ‘Jadilah benda-benda penerang pada cakrawala untuk memisahkan siang dari malam. Biarlah benda-benda penerang itu menjadi tanda yang menunjukkan masa-masa yang tetap dan hari-hari dan tahun-tahun, (15) dan sebagai penerang pada cakrawala biarlah benda-benda itu menerangi bumi.’ Dan jadilah demikian. (16) Maka Allah menjadikan kedua benda penerang yang besar itu, yakni yang lebih besar untuk menguasai siang dan yang lebih kecil untuk menguasai malam, dan menjadikan juga bintang-bintang”.

Kalau text ini mau diartikan apa adanya maka Alkitab jadi salah, Pertama, bulan itu bukan benda terang, ia hanya memantulkan sinar dari matahari. Kedua, bulan dan matahari dikatakan besar, secara implicit bintang-bintang disebut kecil. Padahal bintang-bintang banyak yang jauh lebih besar dari matahari. Apakah ini salah? Tidak, karena Alkitab sering menggambarkan menurut pengetahuan saat itu, atau menurut kelihatannya dari sudut pandang orang.

Dalam Yoh 6:66 banyak murid yang meninggalkan Yesus. Apakah mereka betul-betul murid? Berdasarkan Yoh 8:31 mereka pasti bukan sungguh-sungguh murid. Lalu mengapa disebut murid? Karena kelihatannya seperti itu, atau karena mereka mengaku sebagai murid / orang Kristen.

Sekarang kembali pada topik pembicaraan, pada waktu Alkitab berkata ‘semua’ memang tidak harus berarti ‘semua’. Ini bukan hanya dalam Alkitab, tetapi bahkan dalam bahasa sehari-hari juga begitu. Kalau saya sebagai guru mengajar di kelas, dan saya berkata ‘semua harap diam’, apakah saya memaksudkan semua manusia di muka bumi? Tentu tidak, tetapi hanya ‘semua’ yang ada di kelas. Jadi, jelas bahwa kontext selalu harus menentukan ‘semua’ itu dalam arti yang bagaimana.

Sebagai contoh:
Tit 2:11 - “Karena kasih karunia Allah yang menyelamatkan semua manusia sudah nyata”.
Saya tanya: ‘semua manusia’ ini betul-betul berarti setiap individu yang pernah hidup dalam dunia? Kalau ya, anda harus memeluk Universalisme, yang mempercayai bahwa pada akhirnya semua manusia akan masuk surga! Ini jelas ajaran sesat. Kalau tidak, maka anda harus mengakui bahwa ‘semua’ tak selalu harus berarti ‘semua’! Mau pilih yang mana, Liauw???

Contoh lain:
Kis 2:17 - “Akan terjadi pada hari-hari terakhir--demikianlah firman Allah--bahwa Aku akan mencurahkan Roh-Ku ke atas semua manusia; maka anak-anakmu laki-laki dan perempuan akan bernubuat, dan teruna-terunamu akan mendapat penglihatan-penglihatan, dan orang-orangmu yang tua akan mendapat mimpi”.
Saya tanya, Liauw, apakah kata-kata ‘semua manusia’ harus diartikan betul-betul sebagai semua manusia di dunia tanpa kecuali? Kalau anda berkata ‘ya’, berarti anda percaya bahwa Allah memberikan Roh Kudusnya kepada orang Kristen maupun orang kafir! Ini jelas tak cocok dengan pandangan dari ayat-ayat lain dalam Alkitab, yang mengatakan bahwa hanya orang percaya saja yang diberi Roh Kudus (Kis 2:38  Ef 1:13  Yoh 7:38-39). Kalau anda berkata ‘tidak’, berarti anda harus setuju dengan saya bahwa arti dari suatu kata tidak harus selalu sama, tetapi harus diartikan sesuai dengan kontext, dan sesuai dengan seluruh Alkitab.

Pendukung SSTS mempertunjukkan pola yang sama. Ketika kita menunjukkan kepada mereka ayat yang berkata, “murtad,” mereka berkata, “ya, murtad tidak berarti murtad....tapi mereka belum pernah percaya.” “Lepas dari Kristus” itu bukan artinya mereka belum pernah percaya Kristus. Jadi, mereka mendefinisikan ulang kata “murtad,” dan pengertian “lepas dari Kristus,” bertentangan dengan aturan bahasa yang berlaku. Cara menafsir seperti ini tidak jujur terhadap fakta Alkitab, dan datang dari pikiran yang mati-matian membela kepercayaan yang sudah dipegang. Apakah yang akan anda pertahankan? Saya lebih suka mempertahankan kebenaran, walaupun itu berarti mengubah kepercayaan saya.

Tanggapan Budi Asali:
Semua kata harus diartikan sesuai dengan kontext, dan juga sesuai dengan seluruh ayat-ayat lain dalam Alkitab, yang topiknya berhubungan dengannya! Setuju hal ini, Liauw!

Kalau tidak, saya beri contoh.
Gal 1:23 - “Mereka hanya mendengar, bahwa ia yang dahulu menganiaya mereka, sekarang memberitakan iman, yang pernah hendak dibinasakannya”.
‘Iman’ biasanya artinya kepercayaan. Tetapi dalam ayat ini, tidak mungkin diartikan kepercayaan, karena bagaimana ia memberitakan suatu kepercayaan? Ia memberitakan ‘ajaran’nya! Kalau anda berkeras bahwa ‘iman’ di sini tetap harus diartikan kepercayaan, saya tanya: bagaimana mungkin ayat ini, pada bagian akhirnya, mengatakan ‘yang pernah hendak dibinasakannya’? Bagaimana mungkin Paulus (atau Saulus) bisa berusaha membinasakan kepercayaan?

Contoh lain:
1Yoh 4:1-3 - “(1) Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah percaya akan setiap roh, tetapi ujilah roh-roh itu, apakah mereka berasal dari Allah; sebab banyak nabi-nabi palsu yang telah muncul dan pergi ke seluruh dunia. (2) Demikianlah kita mengenal Roh Allah: setiap roh yang mengaku, bahwa Yesus Kristus telah datang sebagai manusia, berasal dari Allah, (3) dan setiap roh, yang tidak mengaku Yesus, tidak berasal dari Allah. Roh itu adalah roh antikristus dan tentang dia telah kamu dengar, bahwa ia akan datang dan sekarang ini ia sudah ada di dalam dunia”.
Biasanya apa ari dari kata ‘roh’, Liauw? Saya tanya, dalam text di atas ini bisakah anda mengartikan seperti arti pada umumnya? Jelas bahwa kata ‘roh’ di sini menunjuk kepada pengajar sesat atau ‘nabi palsu’!

Contoh lain lagi:
Yak 2:21 - “Bukankah Abraham, bapa kita, dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya, ketika ia mempersembahkan Ishak, anaknya, di atas mezbah?”.
Ro 4:1-3 - “(1) Jadi apakah akan kita katakan tentang Abraham, bapa leluhur jasmani kita? (2) Sebab jikalau Abraham dibenarkan karena perbuatannya, maka ia beroleh dasar untuk bermegah, tetapi tidak di hadapan Allah. (3) Sebab apakah dikatakan nas Kitab Suci? ‘Lalu percayalah Abraham kepada Tuhan, dan Tuhan memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.’”.
Saya tanya, Liauw, apakah anda menafsirkan kata ‘perbuatan’ secara sama dalam Yak 2:21 dan dalam Ro 4:2? Jawab ini, Liauw! Anda tak percaya keselamatan karena perbuatan baik, bukan? Itu ajaran sesat, bukan? Jadi, kata ‘perbuatan’ dalam Yak 2:21 harus diartikan secara berbeda bukan? Kalau anda tak setuju, anda membenturkan Yakobus dengan Paulus, dan anda menganut ajaran sesat keselamatan karena perbuatan baik! Kalau anda setuju, maka anda harus setuju juga bahwa suatu kata bisa ditafsirkan berbeda-beda, sesuai dengan kontextnya!
Lalu, mengapa ini tak berlaku untuk kata ‘murtad’, ‘lepas dari Kristus’ dsb????

Anda mengatakan ‘Saya lebih suka mempertahankan kebenaran, walaupun itu berarti mengubah kepercayaan saya’. Bagus. Sekarang saya sudah hancurkan argumentasi-argumentasi anda di atas. Mau mengubah kepercayaan dan mempertahankan kebenaran?

8. Perikop-Perikop Lain Dijelaskan
Jadi, bagaimana dengan semua ayat-ayat yang katanya mengajarkan bahwa seseorang yang telah diselamatkan tidak dapat meninggalkan iman? Rupanya, setelah penyelidikan yang mendalam, saya dapatkan bahwa tidak ada ayat yang menyatakan bahwa seorang yang sudah selamat tidak dapat meninggalkan imannya. Ayat-ayat yang biasanya dipakai untuk mengajarkan hal ini hanya dapat dipakai demikian jika dibaca dengan asumsi dan pemikiran theologis tertentu. Nah, berikut ini beberapa ayat yang disalahgunakan:
• “Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku, dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorangpun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku. Bapa-Ku, yang memberikan mereka kepada-Ku, lebih besar dari pada siapapun, dan seorangpun tidak dapat merebut mereka dari tangan Bapa.” Yohanes 10:27-29.
Ayat ini sama sekali tidak menyulitkan posisi saya, bahkan adalah perikop yang begitu menguatkan saya. Karena ayat seperti inilah saya dapat memiliki kepastian keselamatan. Saya ada dalam tangan Yesus, dan juga dalam tangan Bapa, dan tidak ada seorangpun, atau suatu kuasapun yang dapat merebut saya keluar.
Amin!!

Namun, perhatikan, bahwa ayat ini sama sekali tidak berkata bahwa kalau saya sendiri mau keluar, maka saya tidak bisa. Argumen yang sering diajukan adalah seperti ini: “Akankah Allah membiarkan seorang yang telah diselamatkan untuk keluar? Jika anda memiliki seorang anak yang anda kasihi, akankah anda melepaskan dia dari genggaman tangan anda?” Argumen seperti ini kedengarannya indah dan menggugah perasaan, tetapi sama sekali tidak memiliki dasar Alkitab.
Tanggapan singkat: Lucu sekali. Dasarnya ya Yoh 10:27-29 itu!

Firman Tuhan di bagian lain membuat sangat jelas bahwa saya dapat meninggalkan iman jika saya memilih untuk melakukannya, seperti dalam 1 Timotius 4:1.
Tanggapan singkat: Ini sudah saya bahas dan hancurkan di atas, jangan dipakai lagi di sini!
Allah tidak pernah memaksa seseorangpun untuk menerima Dia, dan Allah juga tidak memaksa seseorangpun untuk tetap beriman.

Tanggapan Budi Asali:
Di atas anda sudah memberikan banyak ayat yang menurut anda menunjukkan bahwa ada ancaman murtad, dan ada orang-orang yang murtad, sehingga anda yakin bahwa orang kristen yang sejati bisa murtad / meninggalkan iman / meninggalkan Kristus, sehingga akhirnya binasa / masuk neraka!

Lalu bagaimana mungkin berdasarkan Yoh 10:27-29 anda bisa mempunyai keyakinan keselamatan? Kalau orang kristen yang sejati bisa murtad / meninggalkan iman, dan anda adalah orang kristen yang sejati, maka harus diartikan bahwa anda juga bisa meninggalkan iman / Kristus, sehingga akhirnya binasa dan masuk neraka! Bukankah begitu, Liauw??? Lalu keyakinan keselamatan itu dari mana? Bukankah bertentangan dengan kepercayan di atas bahwa orang kristen yang sejati bisa murtad dsb????
Dimana logika yang anda bangga-banggakan itu, Liauw???
‘Yakin selamat’, tetapi ‘ada kemungkinan murtad dan binasa’ adalah 2 hal yang bertentangan dan tidak bisa ada dalam diri satu orang pada saat yang sama!

Jadi, kalau logika anda mau dipegang, tak ada orang Arminian bisa yakin akan keselamatannya! Ia bisa yakin bahwa sekarang ia selamat, tetapi ia tidak bisa yakin bahwa besok atau 1 tahun lagi atau 10 tahun lagi, ia tetap selamat! Karena baginya selalu ada kemungkinan untuk melangkah keluar, meninggalkan iman, dan akhirnya binasa / masuk neraka!!!

Hadapilah, Liauw, ini konsekwensi yang tak terhindarkan dari ajaran anda! Jadi, kata-kata anda di depan, yang berbunyi ‘Ayat ini sama sekali tidak menyulitkan posisi saya, bahkan adalah perikop yang begitu menguatkan saya. Karena ayat seperti inilah saya dapat memiliki kepastian keselamatan. Saya ada dalam tangan Yesus, dan juga dalam tangan Bapa, dan tidak ada seorangpun, atau suatu kuasapun yang dapat merebut saya keluar. Amin!!’, hanyalah kata-kata emosional yang tanpa dipikir! Dengan teologia seperti itu, adalah nonsense bahwa anda bisa bersukacita karena ayat itu!
Hanya orang dengan teologia Calvinist yang bisa / boleh bersukacita karena ayat itu!

Lalu anda berkata berdasarkan Yoh 10:27-29 itu bahwa ‘Saya ada dalam tangan Yesus, dan juga dalam tangan Bapa, dan tidak ada seorangpun, atau suatu kuasapun yang dapat merebut saya keluar’. Tetapi di bawah anda berkata bahwa ‘ayat ini sama sekali tidak berkata bahwa kalau saya sendiri mau keluar, maka saya tidak bisa’.
Tak ada apapun atau siapapun bisa merebut anda dari tangan Bapa dan Yesus, tetapi anda bisa melangkah keluar atas kemauan sendiri. Sekarang saya tanya: kira-kira apa alasannya bagi anda untuk melangkah keluar atas kemauan sendiri? Bukankah godaan / pencobaan setan? Kalau tak ada godaan / pencobaan, hanya orang Kristen yang gila yang melangkah keluar tanpa alasan! Kalau kita bisa melangkah keluar karena godaan / pencobaan setan, maka itu berarti bahwa setan bisa merebut kita dari tangan Bapa / Yesus! Juga itu berarti bahwa janji Tuhan dalam 1Kor 10:13, yang berlaku untuk semua orang kristen yang sejati, tidak ditepati.
1Kor 10:13 - “Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya”.
Kalau kita bisa dicobai sehingga kita meninggalkan iman, maka jelas bahwa itu adalah pencobaan yang lebih besar dari kekuatan kita, dan itu membuktikan bahwa janji ini tidak ditepati oleh Allah.

Bdk. Mat 24:21-22 - “(21) Sebab pada masa itu akan terjadi siksaan yang dahsyat seperti yang belum pernah terjadi sejak awal dunia sampai sekarang dan yang tidak akan terjadi lagi. (22) Dan sekiranya waktunya tidak dipersingkat, maka dari segala yang hidup tidak akan ada yang selamat; akan tetapi oleh karena orang-orang pilihan waktu itu akan dipersingkat”.

Allah tahu orang kristen yang sejati itu lemah, dan kalau pencobaan / penganiayaan itu dibiarkan terlalu lama, tak ada yang akan bertahan, dan semua orang kristen yang sejati akan melangkah keluar! Ia tak mau itu terjadi, dan karena itu Ia mempersingkat masa penganiayaan itu, sehingga tidak ada yang melangkah keluar dan semua akan selamat.
Sekarang saya tanya: bagaimana mungkin orang kristen yang sejati bisa melangkah keluar / meninggalkan iman??? Dimana penjagaan Tuhan? Dimana peranan Yesus sebagai Gembala YANG BAIK (Yoh 10)? Dimana peranan Roh Kudus sebagai JAMINAN (Ef 1:14  2Kor 1:22) dan penolong / PARAKLETOS yang menyertai kita selama-lamanya (Yoh 14:16, 25-26)???

Sekarang kita kembali pada Yoh 10:27-29 yang sedang kita persoalkan. Anda hanya membahas bagian akhirnya yang menunjukkan bahwa kita ada dalam tangan Bapa dan tangan Yesus, sehingga tak ada yang dapat merebut kita. Mengapa bagian awalnya tidak dibahas, Liauw??
Bagian awalnya berbunyi ‘Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya’.
Hidup yang kekal berarti tak ada batasnya. Kalau bisa hilang, itu bukan hidup yang kekal! Itu hidup bersyarat. Ini sudah saya bahas di depan! Lalu seakan-akan kurang kuat, ayat itu menambahkan lagi dengan kata-kata ‘mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya’. Kalau bisa melangkah keluar / meninggalkan iman dan binasa, maka penafsiran anda bertentangan frontal dengan bagian ini!

Lalu pada bagian terakhir anda berkata ‘Argumen yang sering diajukan adalah seperti ini: “Akankah Allah membiarkan seorang yang telah diselamatkan untuk keluar? Jika anda memiliki seorang anak yang anda kasihi, akankah anda melepaskan dia dari genggaman tangan anda?” Argumen seperti ini kedengarannya indah dan menggugah perasaan, tetapi sama sekali tidak memiliki dasar Alkitab’.
Tak ada dasar Alkitab? Dasarnya adalah: Alkitab sendiri menyebut orang percaya dengan sebutan anak Allah (Yoh 1:12 dsb). Apakah tanpa alasan hubungan kita yang percaya dengan Allah disebut dengan hubungan sebagai anak dengan bapa? Kalau memang tanpa alasan, mengapa tak disebut ‘tetangga’ saja? Bahwa Alkitab menyebutkan hubungan Allah dengan orang percaya sebagai bapa dengan anak, jelas menunjukkan bahwa ada persamaan antara hubungan bapa dengan anak, dan hubungan Allah dengan orang percaya! Jadi, argumentasi yang anda serang, itu sama sekali bukannya tidak masuk akal, atau tidak Alkitabiah, sebaliknya sangat Alkitabiah. Hanya bapa yang gila yang memberikan ‘kebebasan’ kepada anaknya untuk masuk neraka!
Bapa duniawi kita memang tidak maha kuasa, sehingga memang tak bisa mencegah masuknya anaknya ke neraka, tetapi Bapa surgawi kita maha kuasa, dan Ia berjanji dalam Yoh 10:27-29 itu untuk mencegah siapapun merebut kita!

Juga Alkitab menyatakan Yesus sebagai gembala yang baik. Akankah gembala yang baik memberikan kebebasan kepada domba-dombanya? Kalau ya, semua dombanya pasti akan hilang!

Louis Berkhof: “The idea is that, after man is brought to a state of grace by the operation of the Holy Spirit alone, or by the joint operation of the Holy Spirit and the will of man, it rests solely with man to continue in faith or to forsake the faith, just as he sees fit. This renders the cause of man very precarious and makes it impossible for him to attain to the blessed assurance of faith. Consequently, it is of the utmost importance to maintain the doctrine of perseverance. In the words of Hovey, ‘It may be a source of great comfort and power, - an incentive to gratitude, a motive to self-sacrifice, and a pillar of fire in the hour of danger.’” [= Gagasannya (dari orang Arminian) adalah, setelah seorang manusia dibawa ke suatu keadaan kasih karunia oleh pekerjaan Roh Kudus saja, atau oleh kerja sama dari Roh Kudus dan kehendak manusia, sekarang semata-mata terserah kepada orang itu untuk terus dalam iman atau untuk meninggalkan iman, seperti yang ia anggap baik. Ini membuat perkara manusia ini sangat genting / berbahaya, dan membuat mustahil baginya untuk mencapai keyakinan iman / keselamatan. Karena itu, mempertahankan doktrin ketekunan merupakan sesuatu yang terpenting. Dalam kata-kata dari Hovey: ‘Doktrin itu bisa menjadi sumber dari penghiburan dan kuasa, - suatu dorongan kepada rasa syukur, suatu motivasi kepada pengorbanan diri sendiri, dan suatu tiang api pada saat bahaya’.] - ‘Systematic Theology’, hal 549.

Loraine Boettner mengutip kata-kata Luther: “we ourselves are so feeble, that if the matter were left in our hands, very few, or rather none, would be saved; but Satan would overcome us all” (= kita sendiri adalah begitu lemah, sehingga seandainya persoalannya diletakkan dalam tangan kita, sangat sedikit, atau sama sekali tidak ada, yang akan diselamatkan; tetapi Setan akan mengalahkan kita semua) - ‘The Reformed Doctrine of Predestination’, hal 187.

Sekarang kembali pada keyakinan keselamatan anda, Liauw! Kalau anda tetap yakin selamat, sekarang maupun di masa yang akan datang, maka:
1.   Itu menentang kata-kata anda bahwa orang kristen yang sejati bisa meninggalkan iman, dan lalu binasa.
2.   Saya tanya: apakah hanya anda yang berhak yakin seperti ini, atau orang Kristen lain juga?
a.   Kalau orang Kristen lain juga, bukankah itu menjadi pandangan umum / universal, bahwa orang Kristen tak bisa kehilangan keselamatan?
b.   Kalau hanya anda, apa kelebihan anda dari orang Kristen lain sehingga anda boleh yakin dan mereka tidak boleh? Berarti anda harus menganggap diri sebagai lebih baik dari orang Kristen yang lain. Juga berarti bahwa perbuatan baik, menentukan keselamatan anda.
3.   Dan kalau anda yakin selamat, berarti anda yakin tak akan meninggalkan iman, keyakinan itu anda dasarkan kepada siapa? Anda sendiri, atau Allah?
a.   Kalau pada Allah, anda jadi Reformed / Calvinist!
b.   Kalau pada diri sendiri, hehehe, tahukah anda bagaimana pandangan Alkitab tentang manusia, bahkan yang percaya?
Yes 64:6a - “Demikianlah kami sekalian seperti seorang najis dan segala kesalehan kami seperti kain kotor”.
Maz 103:14 - “Sebab Dia sendiri tahu apa kita, Dia ingat, bahwa kita ini debu”.
Yes 41:14 - “Janganlah takut, hai si cacing Yakub, hai si ulat Israel! Akulah yang menolong engkau, demikianlah firman TUHAN, dan yang menebus engkau ialah Yang Mahakudus, Allah Israel”.
Ro 7:18a - “Sebab aku tahu, bahwa di dalam aku, yaitu di dalam aku sebagai manusia, tidak ada sesuatu yang baik”.
Loraine Boettner: “If Arminianism were true, Christians would still be in very dangerous positions, with their eternal destiny suspended upon the probability that their weak, creaturely wills would continue to choose right. ... His assurance is based largely on self-confidence. Others have failed, but he is confident that he will not fail. But what a delusion is this when apllied to the spiritual realm! What a pity that any one who is at all acquainted with his own tendency to sin should base his assurance of salvation upon such grounds! His system places the cause of his perseverance, not in the hands of an all-powerful, never-changing God, but in the hands of weak sinful man” (= Seandainya Arminianisme benar, orang-orang Kristen tetap ada dalam posisi yang sangat berbahaya, dengan nasib / tujuan kekal digantungkan pada kemungkinan dimana kehendak mereka yang lemah dan bersifat makhluk ciptaan, akan terus memilih yang benar. ... Keyakinanannya secara umum didasarkan pada keyakinan terhadap diri sendiri. Orang-orang lain telah gagal, tetapi ia yakin bahwa ia tidak akan gagal. Tetapi kalau ini diterapkan terhadap dunia rohani, itu betul-betul merupakan khayalan / tipuan. Betul-betul menyedihkan bahwa ada orang yang mengenal kecenderungannya sendiri ke dalam dosa, mendasarkan keyakinan keselamatannya pada dasar seperti itu! Sistimnya meletakkan  persoalan ketekunannya, bukan dalam tangan Allah yang maha kuasa dan tak pernah berubah, tetapi dalam tangan orang berdosa yang lemah) - ‘The Reformed Doctrine of Predestination’, hal 193-194.

Allah menciptakan manusia dengan kehendak bebas, yang berarti manusia dapat benar-benar memilih Allah atau memilih untuk tidak taat. Karena Allah jugalah yang menciptakan manusia dengan kehendak bebas itu, Ia akan konsisten pada rencanaNya untuk membiarkan manusia membuat keputusan. Tentunya ada begitu banyak faktor yang mempengaruhi keputusan seseorang, tetapi pada akhirnya, keputusan yang ia ambil adalah keputusan atas kehendak bebasnya. Demikian juga dalam hal keselamatan. Allah tidak melanggar kehendak bebas yang Ia berikan pada manusia, dan tidak memaksa siapapun untuk diselamatkan.
Kalau demikian, Allah juga tidak akan menghilangkan kehendak bebas manusia setelah dia diselamatkan, dan memaksa dia untuk tetap percaya pada Kristus.
Lalu bagaimana dengan kasih Kristus? Bagaimana mungkin Allah, yang mengasihi orang percaya, membiarkan mereka meninggalkan iman? Sekali lagi, ini argumen yang emosional, dan bukan Alkitabiah.

Tanggapan Budi Asali:
O ya? Saya buktikan bahwa ini argumentasi yang Alkitabiah.
Ro 8:38-39 - “(38) Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, (39) atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita”.
Saya akan berikan exposisi dari buku saya sendiri tentang text ini di bawah ini.

Ini adalah hal-hal lain yang juga tidak bisa memisahkan / menceraikan kita dari Allah (Catatan: kata ‘memisahkan’ dalam ay 39 menggunakan kata Yunani yang sama dengan dalam ay 35):
1.   ‘Maut’.
Ini menunjukkan bahwa kematian tidak bisa memisahkan kita dari Allah!
2.   ‘Hidup’.
Kalau ajaran Arminian benar, bahwa orang bisa murtad sehingga kehilangan keselamatannya, maka itu berarti bahwa ‘hidup’ bisa memisahkan kita dari Allah! Tetapi di sini Paulus mengatakan bahwa bukan hanya ‘maut’, tetapi juga ‘hidup’, tidak bisa memisahkan kita dari Allah.
3.   ‘Malaikat-malaikat’.
Ada yang menganggap bahwa ini menunjuk kepada malaikat yang baik, tetapi ada yang berpendapat bahwa ini menunjuk kepada malaikat yang jahat / setan. Kalau menunjuk pada malaikat yang baik, maka ini merupakan suatu hyperbole (= gaya bahasa yang melebih-lebihkan), sama seperti dalam Gal 1:8, karena malaikat yang baik tidak mungkin berusaha memisahkan kita dari Allah.
4.   ‘Pemerintah-pemerintah’.
Ada yang menafsirkan bahwa ini menunjuk kepada setan, mungkin karena dalam Ef 6:12 kata itu menunjuk kepada setan. Tetapi bisa juga ini menunjuk kepada pemerintah manusia. Pemerintah bisa berubah sikap dari pro kristen / netral menjadi anti kristen (seperti dalam Kel 1:8-dst). Tetapi inipun tidak bisa memisahkan kita dari Allah.
Perlu diingat bahwa Ro 13:1b berkata: “tidak ada pemerintah, yang tidak berasal dari Allah; dan pemerintah-pemerintah yang ada, ditetapkan oleh Allah”.
Mengingat bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi kita (Ro 8:28), maka Ia pasti tidak akan memberikan pemerintah yang akan membuat kita terpisah dari Dia. Ia mungkin memberikan pemerintah yang anti kristen, tetapi Ia pasti memberi kekuatan bagi kita.
5.   ‘Baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang’.
Bagian ini salah terjemahan, dan kesalahan penterjemahan ini menyebabkan bagian ini seolah-olah merupakan keterangan dari ‘pemerintah-pemerintah’, padahal sebetulnya bukan.
NASB: ‘nor things present, nor things to come’ (= tidak hal-hal sekarang, tidak hal-hal yang akan datang).
Jadi, bagian ini sebetulnya berdiri sendiri (terpisah dari ‘pemerintah-pemerintah’), dan menunjukkan bahwa ‘waktu’ tidak bisa memisahkan kita dari Allah. Dengan berlalunya waktu, maka godaan memang berubah, tetapi semua ini tetap tidak bisa memisahkan kita dari Allah. Ini jelas menunjukkan bahwa Kitab Suci mengajarkan adanya jaminan keselamatan (sekali selamat pasti tetap selamat). Lagi-lagi terlihat, bahwa seandainya ajaran Arminian benar, bahwa orang kristen bisa murtad dan kehilangan keselamatannya, maka itu berarti bahwa ‘hal-hal yang akan datang’ ini harus dibuang dari ay 38-39.
Calvin: “The meaning then is, - that we ought not to fear, lest the continuance of evils, however long, should obliterate the faith of adoption. This declaration is clearly against the schoolmen, who idly talk and say, that no one is certain of final perseverance, except through the gift of special revelation, which they make to be very rare. By such a dogma the whole faith is destroyed, which is certainly nothing, except it extends to death and beyond death. But we, on the contrary, ought to feel confident, that he who has begun in us a good work, will carry it on until the day of the Lord Jesus” (= Jadi artinya adalah, bahwa kita tidak boleh takut, bahwa dengan berlanjutnya kejahatan, betapapun lamanya, akan bisa menghapuskan iman adopsi. Pernyataan ini jelas menentang para ahli theologia, yang berbicara dan mengatakan tanpa dasar, bahwa tidak seorangpun yang pasti akan ketekunan akhir, kecuali melalui karunia wahyu khusus, yang mereka katakan sebagai jarang terjadi. Dengan dogma seperti itu seluruh iman dihancurkan, dan memang iman itu kosong kecuali iman itu diperluas sampai kematian bahkan melampaui kematian. Tetapi sebaliknya kita harus merasa yakin bahwa Ia yang memulai pekerjaan yang baik di dalam kita, akan meneruskannya sampai hari Tuhan Yesus).
Bdk. Fil 1:6 - “Akan hal ini aku yakin sepenuhnya, yaitu Ia, yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus”.
6.   ‘Kuasa-kuasa’.
Sama seperti ‘pemerintah-pemerintah’, kata ini bisa menunjuk pada kuasa setan ataupun manusia.
7.   ‘Baik yang ada di atas, maupun yang ada di bawah’.
Bagian ini juga salah terjemahan, dan menyebabkan bagian ini seolah-olah menerangkan ‘kuasa-kuasa’, padahal seharusnya tidak.
NASB: ‘nor height, nor depth’ (= tidak ketinggian, tidak kedalaman).
Macam-macam penafsiran:
a.   ‘height’ / ‘ketinggian’ menunjuk pada keadaan yang enak / mulia; sedangkan ‘depth’ / ‘kedalaman’ menunjuk pada keadaan hina / tidak enak.
b.   Surga maupun neraka. Kalau diartikan seperti ini, mungkin ini merupakan hyperbole (= gaya bahasa yang melebih-lebihkan), karena orang beriman kepada Kristus tidak mungkin masuk neraka. Jadi artinya adalah: seandainya orang beriman bisa masuk neraka, itu tetap tidak akan memisahkan dia dari kasih Allah dalam Kristus Yesus Tuhan kita!
c.   Apapun yang ada di surga maupun di bumi.
8.         ‘Makhluk lain’.
NASB: ‘nor any other created thing’ (= tidak benda ciptaan lain yang manapun juga).
NIV: ‘nor anything else in all creation’ (= tidak suatu benda apapun dalam seluruh ciptaan).
Lit: ‘nor any other creature’ (= tidak makhluk ciptaan lain yang manapun juga).
Ini memberikan ketidak-mungkinan yang mutlak bagi seorang kristen untuk terpisah dari Allah / kasih Allah dalam Kristus Yesus!

Loraine Boettner: “The assurance that Christians can never be separated from the love of God is one of the greatest comforts of the Christian life. To deny this doctrine is to destroy the grounds for any rejoicing among the saints on earth; for what kind of rejoicing can those have who believe that they may at any time be deceived and led astray? ... It is not until we duly appreciate this wonderful truth, that our salvation is not suspended on our weak and wavering love to God, but rather upon His eternal and unchangeable love to us, that we can have peace and certainty in the Christian life” (= Kepastian / jaminan bahwa orang-orang kristen tidak pernah bisa dipisahkan dari kasih Allah adalah salah satu dari penghiburan terbesar dalam kehidupan kristen. Menyangkal doktrin ini sama dengan menghancurkan dasar untuk sukacita apapun di antara orang-orang kudus di bumi; karena sukacita apa yang bisa dimiliki oleh mereka yang percaya bahwa setiap saat mereka bisa ditipu dan disesatkan? ... Hanya kalau kita menghargai kebenaran luar biasa ini dengan seharusnya, bahwa keselamatan kita bukannya tergantung pada kasih yang lemah dan terombang-ambing dari kita kepada Allah, tetapi tergantung pada kasih yang kekal dan tidak bisa berubah dari Allah kepada kita, barulah kita bisa mempunyai damai dan kepastian dalam hidup kristen ini) - ‘The Reformed Doctrine of Predestination’, hal 194-195.

Loraine Boettner: “The saints in heaven are happier but no more secure than are true believers here in this world” (= Orang-orang kudus di surga lebih berbahagia tetapi tidak lebih aman / terjamin dari pada orang-orang percaya yang sejati di sini di dunia ini) - ‘The Reformed Doctrine of Predestination’, hal 183.

Mau ayat lain, Liauw?
Yes 31:3 - “Dari jauh TUHAN menampakkan diri kepadanya: Aku mengasihi engkau dengan kasih yang kekal, sebab itu Aku melanjutkan kasih setiaKu kepadamu”.
Bagaimana ayat ini bisa benar dalam kasus orang kristen yang sejati yang dibiarkan meninggalkan iman dan binasa? Apakah sekalipun ia binasa, Allah tetap mengasihi Dia?

Dalam Alkitab, kasih Allah adalah kasih yang tidak memaksa siapapun. Kasih tidak dapat dipaksakan. Yohanes 3:16, misalnya, mendeklarasikan bahwa Allah mengasihi seluruh dunia, sedemikan kasihNya, sehingga Ia mengirim Kristus untuk mati bagi dunia. Namun, faktanya adalah sebagian besar dunia, yang toh dikasihi Allah itu, akan binasa selama-lamanya, karena mereka menolak kasih Allah itu dan tidak mau percaya. Kalau demikian adanya, mengapa sulit bagi kita untuk melihat bahwa walaupun Allah mengasihi kita sedemikian rupa sebagai orang percaya, tetapi jika kita tidak beriman lagi pada AnakNya, maka kita akan binasa?

Tanggapan Budi Asali:
Tidak memaksa, Liauw? Kasih pasti memaksa! Kalau anak anda tak mau sekolah, apakah kasih anda kepadanya tidak menyebabkan anda memaksanya untuk sekolah? Oh, argumentasi ini bukan Alkitab! Mau yang dari Alkitab?
Wahtu Yunus tak mau pergi ke Niniwe, apakah Allah membiarkan dia, atau memaksa dia untuk pergi? Siapa yang menumbulkan badai, ikan dsb??
Yunus 1:4,17 - “(4) Tetapi TUHAN menurunkan angin ribut ke laut, lalu terjadilah badai besar, sehingga kapal itu hampir-hampir terpukul hancur. ... (17) Maka atas penentuan TUHAN datanglah seekor ikan besar yang menelan Yunus; dan Yunus tinggal di dalam perut ikan itu tiga hari tiga malam lamanya”.
Jawab, Liauw, Allah memaksa atau tidak?

Bdk. Ibr 12:5-11 - “(5) Dan sudah lupakah kamu akan nasihat yang berbicara kepada kamu seperti kepada anak-anak: ‘Hai anakku, janganlah anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkanNya; (6) karena Tuhan menghajar orang yang dikasihiNya, dan Ia menyesah orang yang diakuiNya sebagai anak.’ (7) Jika kamu harus menanggung ganjaran; Allah memperlakukan kamu seperti anak. Di manakah terdapat anak yang tidak dihajar oleh ayahnya? (8) Tetapi, jikalau kamu bebas dari ganjaran, yang harus diderita setiap orang, maka kamu bukanlah anak, tetapi anak-anak gampang. (9) Selanjutnya: dari ayah kita yang sebenarnya kita beroleh ganjaran, dan mereka kita hormati; kalau demikian bukankah kita harus lebih taat kepada Bapa segala roh, supaya kita boleh hidup? (10) Sebab mereka mendidik kita dalam waktu yang pendek sesuai dengan apa yang mereka anggap baik, tetapi Dia menghajar kita untuk kebaikan kita, supaya kita beroleh bagian dalam kekudusanNya. (11) Memang tiap-tiap ganjaran pada waktu ia diberikan tidak mendatangkan sukacita, tetapi dukacita. Tetapi kemudian ia menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya”.

Perhatikan bagian yang saya beri garis bawah tunggal, Liauw! Kalau anda menyimpang, dan tidak diajar, anda bukan anak! Kalau anak, dan anda menyimpang, Ia pasti menghajar! Apakah ini bukan ‘memaksa’, Liauw? Yunus dihajar, sehingga akhirnya dengan terpaksa ia mau pergi ke Niniwe!
Sekarang perhatikan bagian yang saya beri garis bawah ganda. Tujuan Allah menghajar adalah supaya kita beroleh bagian dalam kekudusanNya. Jadi, mungkinkah Allah membiarkan orang kristen yang sejati meninggalkan iman sehingga akhirnya binasa? Kalau ya, bagaimana bisa cocok dengan ayat ini???

Mau ayat lain lagi, Liauw?
1Kor 11:32 - “Tetapi kalau kita menerima hukuman dari Tuhan, kita dididik, supaya kita tidak akan dihukum bersama-sama dengan dunia”.
Bagian yang saya garis-bawahi terjemahannya salah.
KJV: ‘we are chastened’ (= kita dihajar).
Jadi jelas bahwa Tuhan memang ‘memaksa’, Liauw! Kalau ada anakNya yang meninggalkan iman, Ia akan kejar dan hajar anak itu sampai bertobat, dan tujuannya adalah supaya anak itu tidak dihukum bersama dengan dunia!
Apakah ini tindakan dari bapa yang kejam atau dari bapa yang kasih, Liauw?

Kalau anda punya anak yang mau pakai narkoba, atau bahkan bunuh diri, apakah anda biarkan dia bertindak seperti itu dengan ‘kehendak bebas’nya?

Perhatikan juga, dalam perikop ini, siapakah yang aman di tangan Yesus? Adalah domba-dombaNya. Siapa yang tidak dapat direbut? Domba-domba. Kepada siapakah Yesus sedang berikan hidup yang kekal? Domba-domba. Siapa domba? Apa kriteria domba? Menurut Yoh. 10:26, domba adalah mereka yang percaya! Jadi, yang aman dalam tangan Yesus, adalah yang merupakan domba, yaitu mereka yang percaya! Mereka yang tidak percaya, bukan domba, dan janji keamanan ini tentu bukan untuk mereka.

Tanggapan Budi Asali:
O ya, saya setuju sepenuhnya. Domba, orang percaya, aman dalam tangan Yesus! Anda jadi Reformed /  Calvinist, Liauw!
Saya tak habis pikir, kalau anda anggap orang kristen yang sejati aman dalam tangan Yesus, lalu bagaimana anda beranggapan mereka bisa murtad / meninggalkan iman?

Mungkin argumen lain yang terkadang muncul adalah: mengapakah ada orang yang sudah sungguh selamat mau meninggalkan iman lagi? Sejujurnya, saya juga tidak tahu dan tidak mengerti mengapa ada orang yang sudah selamat ada yang mau meninggalkan iman.
Tanggapan Budi Asali:
Eh, ternyata anda berusaha menjawab pertanyaan saya di atas, tetapi bagaimanapun anda berusaha anda takkan bisa! Mengapa? Karena itu mustahil, Liauw! Mustahil, ‘tanpa ada hujan atau angin’ orang kristen yang sejati meninggalkan imkan.

Namun, saya tidak boleh membiarkan perasaan saya untuk mendikte doktrin saya, karena Alkitab dengan jelas mengajarkan bahwa kemurtadan akan terjadi, dan orang akan meninggalkan iman. Dalam hal ini saya juga teringat, bahwa Adam dan Hawa, saat di taman Eden, waktu itu belum memiliki sifat dosa, tetapi toh dapat juga memilih perkataan Iblis daripada perkataan Tuhan.

Tanggapan Budi Asali:
Hehehe, ini jelas berbeda. Adam dan Hawa berbuat dosa, bukan meninggalkan iman. Itu dua hal yang sangat berbeda. Saya percaya Allah bisa membiarkan saya berbuat dosa (itu tidak menghancurkan keselamatan saya), tetapi saya tidak percaya Allah membiarkan saya meninggalkan iman (karena itu menghancurkan keselamatan saya).
Juga Adam dan Hawa jelas jatuh karena godaan setan. Kalau kita yang percaya bisa meninggalkan iman karena godaan setan, maka setan berhasil / bisa merebut kita dari tangan Bapa dan Yesus, dan jelas tak ada keamanan dalam tangan Bapa / Yesus. Juga itu pencobaan yang lebih besar dari kekuatan kita dan karena itu, itu bertentangan dengan 1Kor 10:13.

• “Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang? Seperti ada tertulis: "Oleh karena Engkau kami ada dalam bahaya maut sepanjang hari, kami telah dianggap sebagai domba-domba sembelihan." Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita. Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang” Roma 8:35-39
Ayat ini juga merupakan ayat yang sangat menghibur saya. Tidak ada sesuatu apapun yang dapat memisahkan saya dari kasih Kristus, dan saya katakan Amin!! Tetapi, kita tidak dapat membangun doktrin hanya berdasarkan sebagian ayat-ayat Alkitab, kita harus melihat keseluruhan kesaksian Firman Tuhan.

Tanggapan Budi Asali:
Anda selalu katakan ‘Amin’, lalu menambahkan ‘Tetapi’! Itu bukan ‘amin’ Liauw!
Ro 8:38-39 sudah saya bahas di atas. Tidak sadarkah anda bahwa dengan demikian anda sebetulnya sedang berusaha membengkokkan ayat yang sedang anda persoalkan?

Sekarang Ro 8:35 akan saya bahas.
Ay 35: “Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang?”.
1.         ‘penindasan’. Ini salah terjemahan.
NASB: ‘tribulation’ (= kesengsaraan).
Ini menunjukkan semua problem / penderitaan dari luar.
2.         ‘kesesakan’.
Ini menunjuk pada problem di dalam diri kita, seperti kesedihan, keputus-asaan, depresi, dan sebagainya
3.         ‘penganiayaan’.
Ini menunjuk pada penyiksaan yang dilakukan oleh orang non kristen kepada kita karena iman, pelayanan dan ketaatan kita kepada Tuhan.
4.         ‘kelaparan’ dan ‘ketelanjangan’.
Ini menunjuk pada kemiskinan. Karena itu jangan heran kalau dalam situasi ekonomi ini ada banyak orang kristen yang menjadi miskin.
5.         ‘bahaya’ atau ‘pedang’.
Ini menunjuk pada hal-hal yang membahayakan jiwa kita.

Semua ini tak bisa memisahkan kita dari kasih Allah dalam Kristus Yesus Tuhan kita (Ro 8:38-39).

Saya setuju bahwa kita harus selalu menafsirkan ayat dengan melihat semua ayat dalam Alkitab, yang memang berhubungan dengan ayat yang mau kita tafsirkan. Tetapi yang anda lakukan adalah hanya menyoroti ayat-ayat yang mendukung pandangan anda, sedangkan untuk ayat-ayat yang mendukung pandangan Calvinisme dan menentang pandangan anda, anda selalu mengatakan ‘Amin. Tetapi’. Itu sama saja pura-pura menerima dan percaya pada ayat-ayat itu, tetapi sebetulnya anda sedang membuang / mengabaikan ayat-ayat itu!

Ayat-ayat lain dengan jelas menunjukkan bahwa keselamatan kita miliki dengan syarat iman/percaya, dan juga mengajarkan kemungkinan kita meninggalkan iman itu. Dan sambil saya mempelajari ayat ini, saya dapatkan bahwa yang disebut hanyalah kekuatan di luar diri saya sendiri, dan tidak ada dari mereka yang dapat menghalangi saya dari kasih Kristus. Tidak ada satu bagian pun dari ayat ini yang mengatakan bahwa saya tidak dapat menolak kasih itu. Kasih yang tidak dapat ditolak itu seperti konsep kacau tentang Kasih Karunia yang Tak Dapat diTolak (Irresistible Grace) milik Kalvinis.

Tanggapan Budi Asali:
Ayat ini’ itu ayat yang mana, Liauw?

Mau tahu salah satu dasar dari Irresistible Grace (= Kasih karunia yang tidak bisa ditolak)? Saya akan kutipkan dari tulisan saya sendiri.

6)         Doktrin ini timbul dari ayat-ayat Kitab Suci seperti Yoh 6:44  Yoh 12:32.
Sekarang mari kita soroti Yoh 6:44.
Yoh 6:44 - “Tidak ada seorangpun yang dapat datang kepadaKu, jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa yang mengutus Aku, dan ia akan Kubangkitkan pada akhir zaman”.
Perhatikan kata-kata ‘jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa’.

Ada beberapa penafsiran yang salah tentang bagian ini:
a)   ‘ditarik’ diartikan ‘dipikat’.
      Jadi, Bapa hanya ‘memikat’ orang itu, tetapi orang itu datang  kepada Yesus dengan kemauan dan kekuatannya sendiri.
b)   Bapa hanya menarik orang yang mau ditarik.
c)   Orang yang ditarik bisa menolak tarikan Bapa itu.
William Barclay: “The interesting thing about the word is that it almost always implies some kind of resistance ... God can draw men, but men’s resistance can defeat God’s pull” (= hal yang menarik ten­tang kata ini adalah bahwa kata ini hampir selalu menunjukkan secara tak langsung akan adanya tahanan / penolakan ... Allah bisa menarik manusia, tetapi tahanan / penolakan manusia bisa mengalahkan tarikan Allah) - hal 220.
John Owen: “‘All unregenerate men,’ saith Arminius, ‘have by virtue of their free-will, a power of resisting the Holy Spirit, of rejecting the offered grace of God, of contemning the counsel of God concerning themselves, of refusing the gospel of grace, of not opening the heart to him that knocketh’” (= ‘Semua orang yang belum dilahirbarukan’, kata Arminius, ‘berdasarkan kehendak bebas mereka, mempunyai kuasa untuk menahan / menolak Roh Kudus, untuk menolak kasih karunia Allah yang ditawarkan, untuk meremehkan / menghina rencana Allah tentang diri mereka sendiri, untuk menolak Injil kasih karunia, untuk tidak membuka hati bagi Dia yang mengetuk) - ‘The Works of John Owen’, vol 10, hal 117.
Catatan: Dalam kutipan ini John Owen hanya mengutip kata-kata Arminius, tetapi ia sendiri tentu saja tidak mempercayai kata-kata itu.

Kesalahan dari pandangan-pandangan di atas terlihat dari penggu­naan kata ‘ditarik’ (Yunani: HELKO / HELKUO) itu dalam Kitab Suci. Kata Yunani HELKO / HELKUO ini hanya digunakan 8 x dalam Kitab Suci / Perjanjian Baru, yaitu dalam:
·        Yoh 6:44 - “Tidak ada seorangpun yang dapat datang kepadaKu, jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa yang mengutus Aku, dan ia akan Kubangkitkan pada akhir zaman”.
·        Yoh 12:32 - “dan Aku, apabila Aku ditinggikan dari bumi, Aku akan menarik semua orang datang kepadaKu.’”.
·        Yoh 18:10 - “Lalu Simon Petrus, yang membawa pedang, menghunus pedang itu, menetakkannya kepada hamba Imam Besar dan memutuskan telinga kanannya. Nama hamba itu Malkhus”.
·        Yoh 21:6 - “Maka kata Yesus kepada mereka: ‘Tebarkanlah jalamu di sebelah kanan perahu, maka akan kamu peroleh.’ Lalu mereka menebarkannya dan mereka tidak dapat menariknya lagi karena banyaknya ikan”.
·        Yoh 21:11 - “Simon Petrus naik ke perahu lalu menghela jala itu ke darat, penuh ikan-ikan besar: seratus lima puluh tiga ekor banyaknya, dan sungguhpun sebanyak itu, jala itu tidak koyak”.
·        Kis 16:19 - “Ketika tuan-tuan perempuan itu melihat, bahwa harapan mereka akan mendapat penghasilan lenyap, mereka menangkap Paulus dan Silas, lalu menyeret mereka ke pasar untuk menghadap penguasa”.
·        Kis 21:30 - “Maka gemparlah seluruh kota, dan rakyat datang berkerumun, lalu menangkap Paulus dan menyeretnya keluar dari Bait Allah dan seketika itu juga semua pintu gerbang Bait Allah itu ditutup”.
·        Yak 2:6 - “Tetapi kamu telah menghinakan orang-orang miskin. Bukankah justru orang-orang kaya yang menindas kamu dan yang menyeret kamu ke pengadilan?”.

Yoh 6:44 dan Yoh 12:32 menunjukkan bahwa ‘menarik’ itu adalah aktivitas Bapa dan Yesus. Sedangkan dari ke 6 ayat yang lain bisa ditarik kesimpulan bahwa:

a)   Ini bukan sekedar ‘memikat’ tetapi betul-betul ‘menarik’.
Pada waktu Petrus menghunus / menarik pedangnya (Yoh 18:10), atau pada waktu murid-murid menarik jala yang penuh ikan (Yoh 21:6), atau pada waktu orang banyak menyeret Paulus (Kis 16:19  Kis 21:30), atau pada waktu orang kaya menyeret orang miskin ke pengadilan (Yak 2:6), maka itu tentu sama sekali bukan dengan cara ‘memikat’, tetapi betul-betul ‘menarik’.

b)   Ini bukan menarik orang yang mau ditarik.
Waktu Paulus ditarik / diseret, atau waktu ikan dalam jala ditarik, atau waktu orang miskin diseret oleh orang kaya ke pengadilan, mereka tentunya tidak mau ditarik!
Memang ini tidak berarti bahwa Allah menggunakan kekuatan luar untuk menarik / memaksa orang yang terus menerus tak mau ditarik.
Calvin: “True, indeed, as to the kind of drawing, it is not violent, so as to compel men by external force; but still it is a powerful impulse of the Holy Spirit, which makes men willing who formerly were unwilling and reluctant” (= Memang, tentang jenis tarikan, itu bukan sesuatu tarikan yang keras / kasar, seakan-akan memaksa manusia dengan kekuatan luar; tetapi itu tetap merupakan dorongan yang kuat dari Roh Kudus, yang membuat manusia yang tadinya tidak mau dan segan menjadi mau) - hal 257.

c)   Orang yang ditarik tidak bisa menolak tarikan itu.
Dalam ke 6 ayat tersebut di atas, tidak pernah ada perlawanan yang bisa mengalahkan tarikan, dan tarikannya selalu berhasil!
Dengan demikian bisa dikatakan bahwa ay 44 ini mendukung doktrin Reformed tentang Irresistible Grace (= kasih karunia yang tak bisa ditolak / ditahan), yang merupakan point ke 4 dari 5 points Calvinisme.

Berbicara tentang ayat-ayat yang menggunakan kata HELKO / HELKUO di atas, Hendriksen berkata:
“The drawing of which these passages speak indicates a very powerful - we may even say, an irresistible - activity. To be sure, man resists, but his resistance is ineffective. It is in that sense that we speak of God’s grace as being irresistible” (= Tarikan tentang mana text-text itu berbicara menunjukkan suatu aktivitas yang sangat kuat, dan bahkan bisa dikatakan tak bisa ditahan / ditolak. Memang manusia menahan / menolak, tetapi tahanan / penolakannya tidak efektif. Dalam arti seperti itulah kami berbicara tentang kasih karunia Allah yang tidak bisa dito­lak) - hal 238.

Dan menanggapi komentar William Barclay di atas, yang mengatakan bahwa manusia bisa mengalahkan tarikan Allah, Leon Morris (NICNT) mengatakan:
“Barclay gives a number of examples of the use of the verb HELKUO in the New Testament to show that ‘Always there is this idea of resistance.’ This is surely true, and indicates that God brings men to Himself although by nature they prefer sin. But curiously Barclay adds, ‘God can and does draw men, but men’s resistance can defeat the pull of God.’ Not one of his examples of the verb shows the resistance as successful. Indeed we can go further. There is not one example in the New Testament of the use of this verb where the resistance is successful” (=  Barclay memberi sejumlah contoh penggunaan kata kerja HELKUO dalam Perjanjian Baru untuk menunjukkan bahwa ‘di sana selalu ada gagasan tentang penolakan’. Ini memang benar, dan menunjukkan bahwa Allah membawa manusia kepada diriNya sendiri sekalipun pada dasarnya / secara alamiah mereka lebih memilih dosa. Tetapi secara aneh / mengherankan Barclay menambahkan, ‘Allah bisa dan Allah memang menarik manusia, tetapi penolakan manusia bisa mengalahkan tarikan dari Allah’. Tidak ada satu con­tohpun dari Perjanjian Baru tentang penggunaan kata kerja ini dimana tahanan / penolakan itu berhasil) - hal 371, footnote.

Sekarang perhatikan ayat selanjutnya dari Yoh 6:44, yaitu Yoh 6:45 - “Ada tertulis dalam kitab nabi-nabi: Dan mereka semua akan diajar oleh Allah. Dan setiap orang, yang telah mendengar dan menerima pengajaran dari Bapa, datang kepadaKu”.
¨       Ini adalah kutipan dari Yes 54:13 - “Semua anakmu akan menjadi murid TUHAN, dan besarlah kesejahteraan mereka”.
¨       Kata ‘semua’ menunjuk kepada elects (= orang-orang pilihan).
¨       Ini menjelaskan bahwa Allah ‘menarik’ dengan ‘mengajar’.
Tetapi jelas bahwa ‘mengajar’ ini bukanlah satu-satunya hal yang Allah lakukan untuk menarik seseorang. Ia juga melahirbarukan, memberikan terang sehingga orang itu mengerti ajaran yang Ia berikan, dan bahkan Ia juga memberikan iman.
¨       Orang yang telah mendengar dan menerima ajaran dari Bapa akan datang kepada Yesus.
Calvin: “He gives to them not only the choice of believing, but faith itself” (= Ia memberi kepada mereka bukan hanya pemilihan untuk percaya tetapi iman itu sendiri) - hal 259.
Kata-kata Calvin ini penting untuk diingat karena adanya ajaran Arminian yang mengatakan bahwa Allah hanya memberi kasih karunia untuk mengangkat seseorang sampai pada tingkat dimana ia bisa memilih sendiri, apakah mau percaya kepada Kristus atau tidak. Reformed / Calvinisme mengajarkan bahwa Allah bukan hanya mengangkat seseorang sampai pada tingkat dimana ia bisa memilih sendiri, tetapi Allah bahkan memberikan iman, sehingga orang itu betul-betul percaya kepada Yesus. Bdk. Fil 1:29 yang menunjukkan bahwa iman adalah karunia.
Fil 1:29 - “Sebab kepada kamu dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk menderita untuk Dia”.

7)   Kalau kasih karunia Allah itu bisa ditolak, tak ada gunanya kita berdoa kepada Allah supaya Ia mempertobatkan orang-orang yang belum percaya.

Loraine Boettner: “If God does not effectually call, we may imagine Him saying, ‘I will that all men should be saved; nevertheless, it must finally be, not as I will but as they will.’ He is then put into the same extremity with Darius who would gladly have saved Daniel, but could not (Dan. 6:14). ... Furthermore, if God actually stood powerless before the majesty of man’s lordly will, there would be but little use to pray for Him to convert any one. It would then be more reasonable for us to direct our petitions to the man himself” [= Jika Allah memanggil secara tidak efektif, kita bisa membayangkan Dia berkata: ‘Aku mau supaya semua manusia diselamatkan; tetapi, akhirnya adalah bukan seperti yang Kukehendaki, tetapi seperti yang mereka kehendaki’. Maka Ia dimasukkan ke dalam keadaan kebutuhan yang sangat yang sama seperti Darius, yang dengan senang hati ingin menyelamatkan Daniel tetapi tidak bisa (Dan 6:14). ... Lebih jauh lagi, jika Allah sungguh-sungguh berdiri tanpa daya di depan keagungan dari kehendak manusia yang mulia, di sana tidak ada gunanya untuk berdoa supaya Ia mempertobatkan siapapun. Akan lebih masuk akal bagi kita untuk mengarahkan permohonan kita kepada manusia itu sendiri] - ‘The Reformed Doctrine of Predestination’, hal 171.

Jadi, tidak ada apapun, tidak orang, tidak benda, tidak kuasa manapun, yang dapat memisahkan saya dari kasih Kristus, tetapi saya harus tetap menerima kasih itu melalui iman. Hal ini sesuai dengan pengajaran Yudas 1:21: “Peliharalah dirimu demikian dalam kasih Allah sambil menantikan rahmat Tuhan kita, Yesus Kristus, untuk hidup yang kekal.” tidak ada yang dapat memisahkan kita dari kasih Kristus, tetapi kita harus tinggal dalam kasih itu, melalui iman kepadaNya.

Tanggapan Budi Asali:
Bukankah anda sendiri katakan harus lihat ayat-ayat Alkitab yang lain. Anda soroti Yudas 21, tanpa menyoroti Yudas 24 - “Bagi Dia, yang berkuasa menjaga supaya jangan kamu tersandung dan yang membawa kamu dengan tak bernoda dan penuh kegembiraan di hadapan kemuliaanNya”.
Kalau saya, saya menyoroti kedua-duanya. Yudas 24 memberikan kita jaminan keselamatan, tetapi Yudas 21 memberikan kita tanggung jawab untuk tetap melakukan yang terbaik. Kalau tak ada jaminan, kita akan melakukan tanggung jawab kita dengan takut-takut dan dengan gemetar, karena kalau gagal, kita masuk neraka! Kalau tak ada Yudas 21, kita akan terjamin, dan menjadi orang ceroboh dan kurang ajar, yang berbuat dosa seenaknya. Calvinisme memperhatikan keduanya, dan dengan demikian ada keseimbangan!


• “Yaitu kamu, yang dipelihara dalam kekuatan Allah karena imanmu sementara kamu menantikan keselamatan yang telah tersedia untuk dinyatakan pada zaman akhir.” 1 Petrus 1:5
Sungguh mengejutkan bahwa ada orang yang berani memakai ayat ini untuk mendukung posisi “sekali selamat tetap selamat” (SSTS). Kita dipelihara dalam kekuatan Allah! Amin! Saya tidak akan komplain apa-apa tentang ayat ini. Jika saya harus memelihara diri saya sendiri, saya tidak akan selamat bahkan untuk satu detik. Tetapi, itu tidak berarti saya tidak punya tanggung jawab. Tanggung jawab saya adalah untuk percaya pada Kristus, atau dengan kata lain, beriman. Ayat ini toh mengajarkan hal itu juga, “dipelihara...karena imanmu.” Jadi, iman adalah syarat yang Allah berikan. Yang memelihara tetap Allah, dengan memakai kekuatanNya. Tidak bisa itu dilakukan dengan kekuatan Allah. Tetapi, Allah mengatakan bahwa saya harus percaya, barulah Ia mau memelihara saya.

Tanggapan Budi Asali:
Hmmmmm, ‘Amin ... Tetapi’ nya muncul lagi, bukan????
Penjelasan anda menghindari arah / tujuan ayat ini. Tujuan ayat ini untuk menunjukkan keselamatan tidak bisa hilang, tetapi anda mengarahkan pembahasan anda pada bagaimana orang mendapatkan keselamatan. Memang, kalau untuk mendapatkan keselamatan kami juga percaya bahwa kita harus beriman. Tetapi sekarang yang dipersoalkan adalah apakah keselamatan yang sudah diperoleh melalui iman kepada Kristus itu, bisa hilang atau tidak. Ayat ini mengatakan kita ‘dipelihara dalam kekuatan Allah’. Lalu, bisakah keselamatan kita terhilang. Ini tidak anda bahas, Liauw, tetapi anda hindari!
Anda terkejut, Liauw? Saya juga terkejut, melihat bagaimana kepura-puraan anda, seakan-akan mau membahas ayat itu tetapi sebetulnya menghindarinya! Jangan harap bisa berdebat dengan saya dengan cara seperti itu!
Tetapi yang paling mengejutkan saya adalah kata-kata anda yang saya beri warna hijau! Anda berkata: ‘Jika saya harus memelihara diri saya sendiri, saya tidak akan selamat bahkan untuk satu detik.’. Jadi, anda percaya bahwa kita orang percaya bisa bertahan karena kekuatan Allah memelihara kita, bukan? Bukan karena kita sendiri, dengan kekuatan kita, berusaha untuk setia, tidak meninggalkan iman dsb, bukan? Bukankah ini bertentangan dengan penjelasan-penjelasan anda di depan? Kalau yang di sini ini yang merupakan kepercayaan anda, saya ucapkan selamat, Liauw! Anda sudah jadi Reformed / Calvinist, tanpa anda sadari, karena memang itulah kepercayan Calvinisme!

Cobalah bandingkan ajaran anda satu dengan yang lain, Liauw! Jangan mengajar secara bertentangan! Sekarang saya mau tegaskan, yang benar yang mana? Yang di atas, bahwa kita sendiri harus berusaha supaya tidak meninggalkan iman, atau yang di sini, bahwa kita dipelihara oleh kekuatan Allah???? Jawab ini, Liauw!

• “Dan janganlah kamu mendukakan Roh Kudus Allah, yang telah memeteraikan kamu menjelang hari penyelamatan.” Efesus 4:30.
Ayat ini sama sekali tidak mendukung doktrin “berbuat apapun tidak akan terhilang” jika kita sudah memiliki konsep yang Alkitabiah tentang keselamatan yang bersyarat pada iman. Yang diajarkan oleh ayat ini adalah bahwa Roh Kudus adalah jaminan kita, bahwa sebagai orang percaya kita akan diselamatkan. Roh Kudus adalah “uang muka,” boleh dibilang, dari kemuliaan yang menanti kita. Roh Kudus adalah juga bukti dari iman kita (Ef. 1:13), dan kita menerima Roh Kudus saat kita percaya.
Ayat ini sama sekali tidak mengatakan bahwa seorang percaya tidak dapat meninggalkan iman. Tidak ada juga di ayat ini dikatakan bahwa Allah sendiri tidak dapat mencabut meterai itu, misalnya karena orang yang bersangkutan tidak memiliki iman, karena toh iman adalah syarat awal agar seseorang dimeteraikan.
Kita harus berhati-hati untuk tidak menyalahgunakan analogi dalam Alkitab. Ayat ini mengajarkan bahwa kita dimeteraikan. Di tempat lain, Ia mengajarkan bahwa kita harus tetap memegang iman, kalau tidak kepercayaan awal kita menjadi sia-sia (1 Kor. 15:2). Jadi, kita tidak boleh membuat kesimpulan yang manusiawi dan salah bahwa: “sekali dimeteraikan, tetap dimeteraikan.” Hal itu tidak ada dalam Alkitab, tetapi diasumsikan begitu saja. Sebuah meterai efektif untuk melawan otoritas dari luar yang berusaha masuk. Tidak boleh ada orang yang tidak berotoritas membuka meterai itu. Tetapi, dia yang pada awalnya menaruh meterai itu, maka secara alami ia memiliki hak untuk membuka meterai itu jika memang ada alasan untuk melakukannya.

Tanggapan Budi Asali:
Kata-kata anda dalam bagian ini betul-betul kacau balau! Anda sudah mengantuk pada waktu menulis bagian ini, Liauw? Ayat itu bicara soal Roh Kudus sebagai ‘meterai’, tetapi tidak bicara soal Roh Kudus sebagai ‘jaminan’. Yang bicara soal Roh Kudus sebagai ‘jaminan’ adalah Ef 1:14  2Kor 1:22 dan 2Kor 5:5. Bagaimana bisa anda campur-adukkan, Liauw?
Tetapi anda sama dengan saya dalam hal, pemeteraian dengan Roh Kudus itu anda anggap sebagai pemberian Roh Kudus, atau dari sudut orang percaya, sebagai penerimaan Roh Kudus, pada saat orang itu percaya Yesus. 
Tetapi kalau itu memang penerimaan Roh Kudus, bagaimana mungkin Allah bisa mencabut kembali Roh KudusNya? Kita membicarakan jaman Perjanjian Baru, Liauw! Kalau jaman Perjanjian Lama memang bisa, karena fungsi pemberian Roh Kudus berbeda. Tetapi jaman Perjanjian Baru, ada ayat yang menjamin bahwa itu tidak mungkin terjadi.
Yoh 14:16 - “Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya”.

Lalu kata-kata anda yang saya beri warna hijau betul-betul menggelikan, Liauw!
Anda berkata ‘Tidak ada juga di ayat ini dikatakan bahwa Allah sendiri tidak dapat mencabut meterai itu, misalnya karena orang yang bersangkutan tidak memiliki iman, karena toh iman adalah syarat awal agar seseorang dimeteraikan’.
Anda sendiri mengatakan bahwa kita dimeteraikan / diberi Roh Kudus pada saat kita percaya. Ini benar, dan sesuai dengan Ef 1:13.
Tetapi anda mengatakan bahwa Allah bisa mencabut meterai itu, misalnya kalau orang itu tidak memiliki iman! Liauw, ini kata-kata tolol luar biasa! Mengapa? Kalau ia tidak memiliki iman, ia belum dimeteraikan / diberi Roh Kudus. Lalu apanya yang Allah cabut? Allah sendiri tidak bisa mencabut apa yang belum ada dalam diri seseorang!

Anda tak setuju dengan kata-kata ‘sekali dimeteraikan, tetap dimeteraikan’. Dan anda katakan itu tidak ada dalam Alkitab. Lucu sekali. Kalau dimeteraikan sama dengan diberi Roh Kudus, maka Yoh 14:16 itu merupakan jaminan bahwa ‘sekali dimeteraikan, tetap dimeteraikan’, karena Yoh 14:16 itu mengatakan bahwa Roh Kudus diberikan ‘untuk selama-lamanya’!

Anda mengatakan bahwa karena Allah yang memberi meterai maka ia berhak untuk membuka / membuang meterai itu??? Omong kosong. Ia tidak bisa dan tidak berhak, karena Ia berjanji Roh Kudus itu diberikan untuk selama-lamanya (Yoh 14:16). Kalau Ia membuka / membuang meterai itu, Ia melanggar janjinya dalam Yoh 14:16 itu!

Sekarang karena anda toh sudah menyinggung tentang Roh Kudus sebagai jaminan / uang muka, saya akan bicara tentang hal itu. Itu sudah saya bahas di depan. Jadi di sini saya hanya akan menakankan sedikit saja.
Pertama-tama saya beri 3 ayat yang menunjukkan Roh Kudus sebagai jaminan:
Ef 1:14 - “Dan Roh Kudus itu adalah jaminan bagian kita sampai kita memperoleh seluruhnya, yaitu penebusan yang menjadikan kita milik Allah, untuk memuji kemuliaanNya”.
2Kor 1:22 - “memeteraikan tanda milikNya atas kita dan yang memberikan Roh Kudus di dalam hati kita sebagai jaminan dari semua yang telah disediakan untuk kita”.
2Kor 5:5 - “Tetapi Allahlah yang justru mempersiapkan kita untuk hal itu dan yang mengaruniakan Roh, kepada kita sebagai jaminan segala sesuatu yang telah disediakan bagi kita”.
Ketiga ayat ini menunjukkan Roh Kudus sebagai jaminan (memang bisa diartikan sebagai ‘uang muka’). Jaminan untuk apa? Ketiga ayat ini mengatakan jaminan dari segala sesuatu yang akan diberikan kepada kita. Ini pasti menunjuk pada surga dan segala sesuatu yang akan kita dapatkan di sana.
Sekarang pikirkan dua hal:
1.   Kalau Allah memberikan Roh Kudus sebagai jaminan tentang surga, bagaimana mungkin Ia bisa mencabut kembali jaminan itu? Jaminan macam apa, yang bisa dicabut seenaknya? Bukankah itu sama saja dengan tidak diberi jaminan?
2.   Jaminan itu bisa diartikan ‘uang muka’. Kalau anda beli barang dan anda beri uang muka, lalu anda batal membeli, bagaimana nasib uang mukanya? Hilang bukan? Kalau Roh Kudus diberikan sebagai uang muka, dan Allah batal menyelamatkan kita, Roh KudusNya akan hilang. Mungkinkah itu terjadi???
Jangan berkhayal, Liauw!


Mempelajari Galatia pasal 3 sungguh adalah pengalaman yang membukakan mata rohani saya. Galatia adalah surat yang spesial berhubungan dengan topik yang sedang kita bahas ini. Orang-orang Galatia sedang dalam bahaya meninggalkan iman mereka yang mula-mula, dan mengikuti suatu Injil palsu (menambahkan sunat). Paulus menyadari bahayanya kesesatan seperti itu, dan dengan cepat menulis surat ini untuk memperingatkan mereka. Dalam Galatia pasal 5, ia memperingatkan mereka, bahwa jika mereka percaya pada sunat, maka Kristus sama sekali tidak berguna bagi mereka. Untuk memperkuat peringatan ini, ia katakan bahwa mereka akan lepas dari Kristus. Bagi pikiran yang belum terpengaruh oleh doktrin manapun, surat Galatia ini jelas mengajarkan bahwa seseorang yang sedang berada dalam Kristus, dan sedang menerima berkat penebusan Kristus melalui iman, dapat lepas dari Kristus, dan kehilangan segala berkat dalam Kristus, jika ia meninggalkan iman sejatinya yang semula.

Tanggapan Budi Asali:
Anda sendiri secara benar mengatakan ‘sedang dalam bahaya meninggalkan iman’. Berarti belum terjadi bukan? Dan supaya tidak terjadi, Paulus menuliskan surat Galatia untuk memperingatkan mereka. Dalam Calvinisme ini bukan hal yang aneh, karena kami percaya bahwa sekalipun  keselamatan terjamin, tetapi tanggung jawab tetap ada. Baik dari pihak Paulus, tanggung jawab untuk berusaha supaya orang Galatia tidak kehilangan keselamatan, maupun dari pihak jemaat Galatia, tanggung jawab untuk memperhatikan ancaman Paulus dan tetap memegang Injil yang benar. Jadi, dalam kasus ini tidak terjadi kemurtadan. Hampir murtad, berarti belum / tidak murtad!

Tetapi, perhatikan apa yang diajarkan Galatia pasal 3 tentang Roh Kudus. Perhatikan penekanan pada kata “iman.” Dalam 6 pasal kitab Galatia, kata “iman” atau “beriman” muncul 23 kali. Dalam Galatia 3:14, ”oleh iman kita menerima Roh yang telah dijanjikan itu.” Dalam Galatia 3:11, “orang yang benar akan hidup oleh iman.” Jelas sekali, bahwa Roh Kudus diberikan kepada kita, oleh kasih karunia Allah, hanya jika kita memiliki iman. Lebih mengena lagi adalah pertanyaan ini oleh Paulus: “Hanya ini yang hendak kuketahui dari pada kamu: Adakah kamu telah menerima Roh karena melakukan hukum Taurat atau karena percaya kepada pemberitaan Injil? Adakah kamu sebodoh itu? Kamu telah mulai dengan Roh, maukah kamu sekarang mengakhirinya di dalam daging? Sia-siakah semua yang telah kamu alami sebanyak itu? Masakan sia-sia!” (Gal. 3:2-4) Jadi, orang yang mulai dengan Roh, waktu mereka beriman dan percaya pada Injil yang benar. Kini, ada bahaya mereka percaya Injil yang palsu, dan jika demikian mereka akan mengakhirinya dalam daging. Jadi, apa kesimpulan pengajaran Alkitab tentang Roh Kudus? Bahwa Roh Kudus adalah meterai bagi kita dengan syarat iman. Hal ini konsisten dengan semua aspek pengajaran tentang keselamatan lainnya.

Tanggapan Budi Asali:
Anda tak punya kekuatan dalam argumentasi anda. Kata-kata ‘masakan sia-sia’ dalam Gal 3:4 itu justru menunjukkan bahwa mereka tidak mungkin betul-betul murtad!
Anda mengatakan ‘ada bahaya’, tetapi itu tak berarti bahwa mereka betul-betul meningalkan iman, bukan?
Jadi, menurut saya, tak ada masalah dengan gereja Galatia!

• “Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah.” Ibrani 12:2.

Pendukung Jaminan Kekal Tak Bersyarat menunjuk pada ayat ini dan berkata, “Yesuslah yang membawa iman kita pada kesempurnaan.” Jadi, menurut mereka, iman kita tidak tergantung pada diri kita sendiri, dan karenanya kita tidak bisa meninggalkan iman.

Tanggapan Budi Asali:
Ayat ini dalam Kitab Suci Indonesia, khususnya yang saya beri warna biru, kurang tepat terjemahannya.
KJV: Looking unto Jesus the author and finisher of our faith; who for the joy that was set before him endured the cross, despising the shame, and is set down at the right hand of the throne of God.
RSV: looking to Jesus the pioneer and perfecter of our faith, who for the joy that was set before him endured the cross, despising the shame, and is seated at the right hand of the throne of God.
NIV: Let us fix our eyes on Jesus, the author and perfecter of our faith, who for the joy set before him endured the cross, scorning its shame, and sat down at the right hand of the throne of God.
NASB: fixing our eyes on Jesus, the author and perfecter of faith, who for the joy set before Him endured the cross, despising the shame, and has sat down at the right hand of the throne of God.

Saya percaya kata ‘author’ di sini harus diartikan ‘pemulai’ (Webster). Jadi, Yesus yang memulai iman kita. Dan Ia juga adalah ‘perfecter / finisher’ (= penyempurna / penyelesai) dari iman kita! Sekarang saya tanya: bisakah Yesus gagal menyempurnakan / menyelesaikan iman kita?

Anda mengatakan ‘menurut mereka, iman kita tidak tergantung pada diri kita sendiri, dan karenanya kita tidak bisa meninggalkan iman’. Ya, itu pandangan Calvinist, bahkan pandangan Calvin sendiri, dan juga pandangan saya. Dan lebih-lebih lagi, itulah pandangan dari Ibr 12:2 ini!!! Yang memulai iman kita adalah Yesus, yang menyempurnakan iman kita juga adalah Ia!

Pemikiran seperti ini sungguh salah. Jika kita menerapkan logika ini, maka sungguh berbahaya. Jika iman kita sungguh adalah urusan Yesus saja, dan tidak ada tanggung jawab kita, untuk apa dalam Alkitab ada begitu banyak ayat yang menyuruh kita untuk beriman? Ada begitu banyak ayat yang menyuruh kita tetap pada iman. Bukankah Yesus yang beriman untuk kita? Nah, disinilah terlihat kebodohan dari pemikiran seperti ini. Tidak ada orang lain yang dapat beriman untuk orang lain. Ayat ini mengajarkan doktrin bahwa Yesuslah yang memungkinkan adanya iman. Tanpa Yesus, manusia bahkan tidak dapat memilih antara percaya Yesus atau tidak. Tanpa Yesus, tidak ada objek yang dapat kita imani. Yesus pulalah yang memberikan kita kekuatan untuk terus beriman, dan memungkinkan iman kita bertumbuh. Jika kita memegang teguh iman kita, itu adalah karena Yesus! Tetapi tidak berarti kita tidak punya tanggung jawab untuk tinggal dalam iman. Juga tidak berarti kita tidak dapat memilih untuk keluar dari iman.

Tanggapan Budi Asali:
Eh, jangan diplesetkan, Liauw. Kata-kata ‘dan tidak ada tanggung jawab kita’ saya tidak terima. Lagi-lagi adalah fitnah kalau mengatakan bahwa Calvinist percaya kita tidak punya tanggung jawab. Kami percaya Allah menentukan segala sesuatu, tetapi manusia tetap punya tanggung jawab. Kurang seringkah saya tekankan hal itu?

Hmmm, perhatikan kata ‘kebodohan’ yang anda pakai. Ini bukan makian yang kasar, Liauw? Anda boleh memaki, kasar dsb, dan saya anda kecam karena mengatakan ‘tolol’ dsb? Berkacalah, Liauw, anda melakukan apa yang sama dengan yang saya lakukan. Bedanya, kalau saya katakan ‘tolol’ itu betul-betul tolol; tetapi kalau anda katakan ‘bodoh’, yang bodoh adalah anda sehingga menganggap kebenaran sebagai kebodohan!
Mat 7:1-5 - “(1) ‘Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi. (2) Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu. (3) Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui? (4) Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Biarlah aku mengeluarkan selumbar itu dari matamu, padahal ada balok di dalam matamu. (5) Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu.’”.
Ro 2:1-3 - “(1) Karena itu, hai manusia, siapapun juga engkau, yang menghakimi orang lain, engkau sendiri tidak bebas dari salah. Sebab, dalam menghakimi orang lain, engkau menghakimi dirimu sendiri, karena engkau yang menghakimi orang lain, melakukan hal-hal yang sama. (2) Tetapi kita tahu, bahwa hukuman Allah berlangsung secara jujur atas mereka yang berbuat demikian. (3) Dan engkau, hai manusia, engkau yang menghakimi mereka yang berbuat demikian, sedangkan engkau sendiri melakukannya juga, adakah engkau sangka, bahwa engkau akan luput dari hukuman Allah?”.

Sekarang saya bahas kata-kata anda yang saya beri warna ungu.
Anda berkata ‘Ayat ini mengajarkan doktrin bahwa Yesuslah yang memungkinkan adanya iman. Tanpa Yesus, manusia bahkan tidak dapat memilih antara percaya Yesus atau tidak. ... Yesus pulalah yang memberikan kita kekuatan untuk terus beriman, dan memungkinkan iman kita bertumbuh. Jika kita memegang teguh iman kita, itu adalah karena Yesus!’.
Saya setuju mutlak, Liauw. Sekali lagi, saya beri selamat, karena anda sudah jadi Reformed / Calvinist! Apa yang anda katakan betul-betul adalah pandangan Calvinist!

Saya pikir-pikir, mengapa gerangan anda terombang ambing antara pandangan Arminian dan Calvinist? Saya kira karena memang ada ayat-ayat yang tidak bisa tidak harus ditafsirkan sesuai dengan pandangan Calvinisme! Anda tak bisa mengindarinya!

• “Akan hal ini aku yakin sepenuhnya, yaitu Ia, yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus.” Filipi 1:6.
Ini adalah argumen favorit lainnya dari pendukung Jaminan Kekal Tak Bersyarat yang sebenarnya gagal untuk berurusan dengan inti permasalahan. Keyakinan Paulus adalah bahwa Yesus akan menyelesaikan apa yang Ia mulai, dalam hal keselamatan. Tuhan Yesus telah memulai pekerjaan yang baik di antara orang Korintus. Tetapi apakah pekerjaan baik yang Yesus mulai itu dimulai dengan syarat tertentu? Ya, kesaksian Alkitab jelas, dan Filipi 1:5 juga membuatnya jelas, bahwa persekutuan orang Filipi dalam berita Injil adalah syarat pekerjaan baik yang telah mulai.
Nah, jika awal dari pekerjaan yang baik itu bersyarat (yaitu bahwa seseorang harus percaya untuk diselamatkan), maka tidak ada alasan untuk menolak bahwa penerusan keselamatan itu hingga pada hari Kristus Yesus juga bersyarat. Yang jelas, ayat ini tidak sedang berbicara masalah persyaratan. Ayat ini mengajarkan aspek bahwa Allah akan melakukan bagianNya. Janji Allah adalah: jika kamu percaya Kristus, kamu akan diselamatkan. Allah akan menepati janjiNya itu. Itulah yang diajarkan ayat ini, dan yang merupakan keyakinan Paulus. Allah tidak akan tiba-tiba berubah pikiran. Ia akan menyelamatkan mereka yang beriman. Ia akan meneruskan pekerjaan baik itu. Tetapi, tentunya, jika orang itu tidak beriman lagi, maka Allah sama sekali tidak terikat untuk menyelamatkan dia.
Yang penting untuk diingat adalah, bahwa ayat seperti ini dan yang lainnya, tidak menghilangkan ayat-ayat lain yang mengajarkan bahwa kita harus tinggal dalam iman untuk diselamatkan. Kita harus membangun doktrin kita atas semua ayat, bukan hanya sebagian ayat Alkitab.

Tanggapan Budi Asali:
Fil 1:6 secara sah dan mutlak mendukung doktrin SSTS!
Fil 1:5-6 - “(5) Aku mengucap syukur kepada Allahku karena persekutuanmu dalam Berita Injil mulai dari hari pertama sampai sekarang ini. (6) Akan hal ini aku yakin sepenuhnya, yaitu Ia, yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus”.
Baik ay 5 maupun  ay 6 tidak memberikan persyaratan (tidak tertulis apa-apa tentang syarat). Jadi ‘syarat’ itu hanya khayalan anda.
Ay 5 hanya menunjukkan bahwa mereka sedang percaya Injil, dan itu bisa terjadi karena Allah memulai pekerjaan baik di antara mereka (ay 6a), dan Allah yang memulai itu, akan meneruskannya sampai akhir (ay 6b). Jadi, ini tak terlalu berbeda dengan Ibr 12:2 di atas, dimana Yesus disebut sebagai ‘author and perfecter of our faith’.


9. Keyakinan akan Keselamatan
Pendukung SSTS secara rutin menuduh apa yang saya percayai (Jaminan Kekal Bersyarat) sebagai posisi yang tidak menawarkan keamanan (jaminan) dan tidak ada keyakinan akan selamat. Hal ini tidak benar. Tentunya, jaminan dan keyakinan saya berbeda dengan yang dimiliki SSTS. SSTS mendapatkan jaminan dan keyakinan dari doktrin mereka, yang telah kita lihat adalah tidak Alkitabiah. Jadi, mereka mendapatkan jaminan dari doktrin buatan manusia. Saya sudah sering mendengar mereka berkata, “Saya tahu saya pasti ke Surga, karena saya sudah diselamatkan umur sekian (10 tahun misalnya) dan sekali selamat, tetap selamat.”
Tetapi, ini adalah jaminan yang palsu. Dalam skenario terburuk, bisa saja orang itu suatu hari menyangkal Kristus dan menolakNya, sambil berpikir, “toh saya masih diselamatkan.”
Jaminan yang Alkitabiah adalah seperti yang ada dalam 1 Yohanes 5:13. Bagaimanakah seseorang dapat tahu bahwa ia memiliki hidup yang kekal? Apakah karena “sekali selamat tetap selamat”? Tidak!!
Jaminan yang Alkitabiah berkata, “kamu yang percaya [sedang percaya, present tense] kepada nama Anak Allah, tahu, bahwa kamu memiliki hidup yang kekal.” Jadi, rahasia jaminan Alkitabiah adalah percaya (saat ini, present tense). Jika saya menguji diri sendiri, dan saya sekarang adalah seorang yang beriman (bukan bahwa dulu saya pernah beriman), maka saya memiliki hidup yang kekal. Pendukung SSTS mungkin tidak suka jaminan yang seperti ini, tetapi inilah jaminan dan keyakinan yang kita dapatkan dalam Alkitab.
Untuk membandingkan: SSTS memiliki jaminan yang didasarkan pada doktrin mereka “sekali selamat tetap selamat.” Saya, di lain sisi, memiliki jaminan karena posisi saya yang saat ini percaya dalam Kristus.

Tanggapan Budi Asali:
Perhatikan kata-kata anda yang saya beri wana hijau, Liauw.
Ini kata anda ‘Tetapi, ini adalah jaminan yang palsu. Dalam skenario terburuk, bisa saja orang itu suatu hari menyangkal Kristus dan menolakNya, sambil berpikir, “toh saya masih diselamatkan.”’.
Anda mencampur-adukkan kepercayaan anda sendiri bahwa orang kristen yang sejati bisa murtad, dan memasukkan hal itu ke dalam pemikiran orang Reformed / Calvinist! Ingat Reformed / Calvinist tidak percaya bahwa orang kristen yang sejati bisa murtad, lalu bagaimana bisa berpikir seperti itu dalam keadaan murtad????

Sekarang perhatikan kata-kata yang saya beri warna biru. Semua menunjukkan bahwa orang Arminian hanya percaya keselamatannya pada saat ini, pada saat ia percaya. Tetapi untuk masa depan, tidak ada yang yakin keselamatannya. Bagaimana hal seperti ini anda sebut sebagai ‘jaminan’ dan ‘keyakinan’? Anda menuduh kami memberikan arti yang berbeda tentang kata ‘kebebasan’ atau ‘bebas’, tetapi sekarang anda sendiri boleh memberikan definisi yang begitu aneh tentang kata-kata ‘jaminan’ dan ‘keyakinan’. Seharusnya diubah menjadi ‘jaminan sementara / saat ini’ dan ‘keyakinan sementara / saat ini’.

Dan saya tanya: apa gunanya jaminan / keyakinan model seperti itu? Kalau tadi anda bersukacita karena Yoh 10:27-29 menjamin keselamatan anda, itu juga dalam arti seperti ini? You are pathetic, Liauw! (Kamu itu menyedihkan, Liauw!).

Saya lagi-lagi beri kutipan dari buku saya sendiri.

Ajaran Arminian ini menghancurkan damai, sukacita dan kepastian dari kehidupan kristen.

A. H. Strong mengutip kata-kata Adolph Saphir sebagai berikut:
“My objection to the Arminianism or semi-Arminianism is not that they make the entrance very wide; but that they do not give you anything definite, safe and real, when you have entered. ... Do not believe the devil’s gospel, which is a chance of salvation: chance of salvation is chance of damnation (= Keberatan saya terhadap Arminianisme atau semi-Arminianisme bukan bahwa mereka membuat jalan masuk sangat lebar; tetapi bahwa mereka tidak memberikan kepadamu apapun yang pasti, aman, dan nyata, pada saat kamu masuk. ... Jangan percaya kepada injil setan, yang merupakan suatu kemungkinan untuk selamat: kemungkinan untuk mendapat keselamatan adalah kemungkinan untuk mendapat penghukuman) - A. H. Strong, ‘Systematic Theology’, hal 605.
Catatan: kata-kata Strong ini bukan main kerasnya. Ia menyebut ajaran Arminian sebagai ‘injil setan’!

Loraine Boettner:
“A consistent Arminian, with his doctrine of free will and of falling from grace, can never in this life be certain of his eternal salvation. He may, indeed, have the assurance of his present salvation, but he can have only a hope of his final salvation. He may regard his final salvation as highly probable, but he cannot know it as a certainty. He has seen many of his fellow Christians backslide and perish after making a good start. Why may not he do the same thing?” (= Seorang Arminian yang konsisten, dengan doktrinnya tentang kehendak bebas dan kemurtadan, tidak akan pernah dalam hidup ini mempunyai keyakinan akan keselamatan yang kekal. Ia memang bisa mempunyai keyakinan untuk keselamatannya saat ini, tetapi ia hanya bisa mempunyai pengharapan tentang keselamatan akhirnya. Ia bisa menganggap keselamatan akhirnya sebagai sangat memungkinkan, tetapi ia tidak bisa mengetahuinya sebagai suatu kepastian. Ia telah melihat banyak sesama Kristennya mundur dan binasa setelah melakukan permulaan yang baik. Mengapa ia tidak bisa melakukan hal yang sama?) - ‘The Reformed Doctrine of Predestination’, hal 193.

Loraine Boettner:
“The assurance that Christians can never be separated from the love of God is one of the greatest comforts of the Christian life. To deny this doctrine is to destroy the grounds for any rejoicing among the saints on earth; for what kind of rejoicing can those have who believe that they may at any time be deceived and led astray? ... It is not until we duly appreciate this wonderful truth, that our salvation is not suspended on our weak and wavering love to God, but rather upon His eternal and unchangeable love to us, that we can have peace and certainty in the Christian life” (= Kepastian bahwa orang-orang Kristen tidak pernah bisa dipisahkan dari kasih Allah adalah salah satu penghiburan terbesar dari kehidupan Kristen. Menyangkal doktrin ini sama dengan menghancurkan dasar untuk sukacita apapun di antara orang-orang kudus di bumi; karena jenis sukacita apa yang bisa mereka miliki jika mereka percaya bahwa pada setiap saat mereka bisa ditipu dan disesatkan? ... Hanya kalau kita menghargai dengan seharusnya kebenaran yang hebat ini, bahwa keselamatan tidak tergantung pada kasih kita yang lemah dan berubah-ubah kepada Allah, tetapi pada kasihNya yang kekal dan tak berubah kepada kita, maka kita bisa mendapatkan damai dan kepastian dalam kehidupan Kristen) - Loraine Boettner, ‘The Reformed Doctrine of Predestination’, hal 194-195.

Alan P. F. Sell mengutip kata-kata Thomas Watson (1620-1686) sebagai berikut:
“How despairing is the Arminian doctrine of falling from grace! To-day a saint, to-morrow a reprobate; to-day a Peter, to-morrow a Judas. This must needs cut the sinews of a Christian endeavour, and be like boring a hole in a vessel: to make all the wine of joy run out ... What comfort were it to have one’s name written in the book of life, if it might be blotted out again? But be assured, for your comfort, grace, if true, though never so weak, shall persevere” (= Alangkah tidak ada harapannya doktrin Arminian tentang kemurtadan! Hari ini seorang kudus, besok seorang yang ditetapkan binasa; hari ini seorang Petrus, besok seorang Yudas. Ini pasti memotong otot dari usaha Kristen, dan seperti melubangi bejana: untuk membuat semua anggur sukacita keluar ... Penghiburan apa untuk mendapati nama seseorang tertulis dalam kitab kehidupan, jika itu bisa  dihapus lagi? Tetapi yakinlah, untuk penghiburanmu, kasih karunia, jika itu benar / sejati, tetapi tidak pernah begitu lemah, akan bertekun) - ‘The Great Debate, Calvinism, Arminianism and Salvation’, hal 30.

10. Argumen-Argumen Lain Melawan Jaminan Kekal Tak Bersyarat
A. Orang Kristen mula-mula, sebelum Agustinus yang sangat Kalvinistik, tidak percaya doktrin “jaminan kekal tak bersyarat.” Berikut ini ada beberapa kutipan dari Irenaeus, Cyprian, dan Tertullian:
Irenaeus (120-205 AD), Adv. Haer. 4,27,2 ,"Christ will not die again on behalf of those who now commit sin because death shall no more have dominion over Him.... Therefore we should not be puffed up.... But we should beware lest somehow, after [we have come to] the knowledge of Christ, if we do things displeasing to God, we obtain no further forgiveness of sins but rather be shut out from His kingdom" (Heb. 6:4-6).
“Kristus tidak akan mati lagi bagi merea yang sekarang melakukan dosa karena maut tidak akan lagi berkuasa atas Dia....oleh karena itu kita jangan sombong.....tetapi kita harus berjaga-jaga, agar jangan, setelah [kita memiliki] pengenalan akan Kristus, jika kita melakukan hal-hal yang mendukakan Allah, kita tidak mendapatkan pengampunan dosa, tetapi tertutup dari kerajaanNya.” (Ibrani 6:4-6)

Tanggapan Budi Asali:
Mengutipnya kurang panjang. Tidak terlihat dalam kontext pembicaraan bagaimana ia mengatakan kata-kata itu.

Cyprian (200-258 AD), Unity of the Church, sec. 21 , "It is written, 'He who endures to the end, the same shall be saved' [Matt. 10:22]. So whatever precedes the end is only a step by which we ascend to the summit of salvation. It is not the final point wherein we have already gained the full result of the ascent."
“Ada tertulis, ‘Ia yang bertahan sampai akhirnya, ia akan diselamatkan’ [Mat. 10:22]. Jadi, apapun yang terjadi sebelum akhirnya hanyalah satu jenjang yang kita naiki untuk mencapai puncak keselamatan. Itu bukanlah titik akhir di mana kita telah mendapatkan hasil penuh dari pendakian.”

Tanggapan Budi Asali:
Saya tak bermasalah dengan kata-kata ini. Saya percaya, dan pada saat yang sama, saya juga percaya bahwa orang kristen yang sejati akan bertahan sampai akhir.

Tertullian (140-230 AD), On Repentance ch. 6 , "Some people act as though God were under an obligation to bestow even on the unworthy His intended gift. They turn His liberality into slavery.... For do not many afterwards fall out of grace? Is not this gift taken away from many?"
“Ada orang yang bertindak seolah Allah wajib untuk memberikan KaruniaNya bahkan pada mereka yang tidak layak. Mereka mengubah kemurahanNya menjadi perbudakan...Karena bukankah banyak yang akhirnya jatuh dari kasih karunia? Bukankah anugerah ini diambil dari banyak orang?”
Hal ini mendukung teori bahwa doktrin SSTS berasal dari pengaruh Kalvinis.

Tanggapan Budi Asali:
Siapa / apa yang anda jadikan otoritas / tolok ukur untuk menentukan benar atau salah? Bapa-bapa gereja? Anda pernah mempelajari ajaran bapa-bapa gereja, apalagi yang ada pada abad-abad 1-3 M.???? Penuh dengan kesesatan, dan baru mulai bagus memang pada jaman Agustinus, Athanasius, yaitu pada abad ke 4!
Jadi, saya tak peduli bapa gereja yang mana bilang apa, bahkan saya tak peduli Agustinus dan Calvin bilang apa, kalau kata-kata mereka tak sesuai dengan Firman Tuhan, saya tolak. Dan dari Firman Tuhan saya yakin bahwa dalam hal TULIP, Agustinus dan Calvin mengajar sesuai dengan Firman Tuhan. Karena itu saya mempercayai mereka.

Saya ingin menambahkan kata-kata John Owen dalam tafsirannya tentang Ibr 6:4-6. Kata-kata ini sangat penting karena membahas penafsiran tentang text ini dalam sejarah, dengan memperhatikan latar belakang dari jaman itu, dan sebagainya.

John Owen: “That this passage in our apostle’s discourse hath been looked upon as accompanied with great difficulties is known to all; and many have the differences been about its interpretation. For, both doctrinally and practically, sundry have here stumbled and miscarried. It is almost generally agreed upon, that from these words, and the colorable but indeed perverse interpretation and application made of them by some in the primitive times, occasioned by the then present circumstances of things, to be mentioned afterwards, the Latin church was so backward in receiving the epistle itself, that it had not absolutely prevailed therein in the days of Jerome, as we have elsewhere declared. Wherefore it is necessary that we should a little inquire into the occasion of the great contests which have been in the church, almost in all ages, about the sense of this place. It is known that the primitive church, according to its duty, was carefully watchful about the holiness and upright walking of all that were admitted into the society and fellowship of it. Hence, upon every known and visible failing, they required an open repentance from the offenders before they would admit them unto a participation of the sacred mysteries. But upon flagitious and scandalous crimes, such as murder, adultery, or idolatry, in many churches they would never admit those who had been guilty of them into their communion any more. Their greatest and most signal trial was with respect unto them who, through fear of death, complied with the Gentiles in their idolatrous worship in the time of persecution. For they had fixed no certain general rules whereby they should unanimously proceed, but every church exercised severity or lenity, according as they saw cause, upon the circumstances of particular instances. Hence Cyprian, in his banishment, would not positively determine concerning those of the church in Carthage who had so sinned and fallen, but deferred his thoughts until his return; when he resolved to advise with the whole church, and settle all things according to the counsel that should be agreed on amongst them. Yea, many of his epistles are on this subject peculiarly; and in them all, if compared together, it is evident that there was no rule agreed upon herein; nor was he himself resolved in his own mind, though strictly on all occasions opposing Novatianus; wherein it had been well if his arguments had answered his zeal. Before this, the church of Rome was esteemed in particular more remiss in their discipline, and more free than other churches in their re-admission unto communion of notorious offenders. Hence Tertullian, in his book de Poenitentia, reflects on Zephyrinus, the bishop of Rome, that he had admitted adulterers unto repentance, and thereby unto the communion of the church. But that church proceeding in her lenity, and every day enlarging her charity, Novatus and Novatianus taking offense thereat, advanced an opinion on the contrary extreme. For they denied all hope of church pardon, or of a return unto ecclesiastical communion, unto them who had fallen into open sin after baptism; and, in especial, peremptorily excluded all persons whatsoever who had outwardly complied with idolatrous worship in time of persecution, without respect unto any distinguishing circumstances. Yea, they seem to have excluded them from all expectation of forgiveness from God himself. But their followers, terrified with the uncharitableness and horror of this persuasion, tempered it so far as that, leaving all persons absolutely to the mercy of God upon their repentance, they only denied such as we mentioned before a re-admission into church communion, as Acesius speaks expressly in Socrates, lib. 1. cap. 7. Now this opinion they endeavored to confirm, as from the nature and use of baptism, which was not to be reiterated, whereon they judged that no pardon was to be granted unto them who fell into those sins which they lived in before, and were cleansed from at their baptism; so principally from this place of our apostle, wherein they thought their whole opinion was taught and confirmed. And so usually doth it fall out, very unhappily, with men who think they see some peculiar opinion or persuasion in some singular text of Scripture, and will not bring their interpretations of it unto the analogy of faith, whereby they might see how contrary it is to the whole design and current of the word in other places. But the church of Rome, on the other side, though judging rightly, from other directions given in the Scripture, that the Novatians transgressed the rule of charity and gospel discipline in their severities, yet, as it should seem, and is very probable, knew not how to answer the objection from this place of our apostle: therefore did they rather choose for a season to suspend their assent unto the authority of the whole epistle, than to prejudice the church by its admission. And well was it that some learned men afterward, by their sober interpretations of the words, plainly evinced that no countenance was given in them unto the errors of the Novatians; for without this it is much to be feared that some would have preferred their interest in their present controversy before the authority of it: which would, in the issue, have proved ruinous to the truth itself; for the epistle, being designed of God unto the common edification of the church, would at length have prevailed, whatever sense men, through their prejudices and ignorance, should put upon any passages of it. But this controversy is long since buried; the generality of the churches in the world being sufficiently remote from that which was truly the mistake of the Novatians, yea, the most of them do bear peaceably in their communion, without the least exercise of gospel discipline towards them, such persons as concerning whom the dispute was of old whether they should ever in this world be admitted into the communion of the church, although upon their open and professed repentance. We shall not, therefore, at present need to labor in this controversy” (= ) - ‘Hebrews’, vol 5, hal 68-70.

Saya tidak menterjemahkan kata John Owen karena kata-katanya begitu panjang. Saya hanya memberikan arti ringkasnya di sini.
Ia mengatakan bahwa pada abad-abad awal, gereja mula-mula sangat keras dalam pandangan mereka tentang orang-orang Kristen yang jatuh ke dalam dosa, dengan tujuan untuk menjaga kekudusan dari hidup orang-orang Kristen pada saat itu. Orang-orang Kristen yang berbuat dosa diharuskan mengaku dosa di depan umum sebelum mereka bisa diterima kembali ke dalam persekutuan Kristen. Tetapi orang-orang Kristen yang melakukan dosa-dosa yang sangat besar dan memalukan, seperti pembunuhan, perzinahan, dan penyembahan berhala, tidak diterima kembali oleh banyak gereja ke dalam persekutuan Kristen sampai selama-lamanya. Pengadilan yang paling menyolok adalah berkenaan dengan orang-orang Kristen yang, karena takut dibunuh olah orang-orang kafir pada masa penganiayaan, lalu menuruti / tunduk pada kemauan orang-orang kafir itu dan lalu menyembah berhala. Mereka tidak mempunyai peraturan-peraturan yang pasti berkenaan dengan orang-orang seperti itu, sehingga ada yang bersikap keras dan ada yang lunak, sesuai dengan penyebab dari kasus itu. Karena itu, Cyprian, yang sedang ada dalam pembuangan, tidak mau memberikan keputusan yang positif tentang orang-orang seperti itu, dan menyuruh menunggu sampai ia kembali dari pembuangan. Owen menambahkan bahwa dari tulisan-tulisan Cyprian terlihat bahwa dia sendiri tidak mempunyai peraturan yang pasti, dan kelihatannya, bahkan ia sendiri tidak mempunyai keputusan yang pasti dalam pikirannya berkenaan dengan hal itu.
Karena itu tidak terlalu mengherankan kalau Steven Liauw bisa mendapatkan kutipan dari Cyprian, yang ia anggap mendukung dia berkenaan dengan Ibr 6:4-6. Tetapi kalau Owen benar, pasti ada tulisan-tulisan lain dari Cyprian yang menunjukkan kebalikannya.
Sedangkan pada saat itu Gereja Roma bersikap sangat lunak terhadap orang-orang Kristen yang jatuh ke dalam dosa. Uskup Roma menerima pelanggar-pelanggar yang sangat buruk dan pezinah-pezinah yang bertobat ke dalam persekutuan gereja / Kristen. Tertullian tidak setuju dengan ini, dan ia menulis menentang gereja Roma pada saat itu. Tetapi gereja Roma bahkan bersikap makin lunak terhadap orang-orang Kristen yang berdosa. Lalu muncul dua orang yang bernama Novatus dan Novatianus, yang menentang sikap lunak gereja Roma itu dengan cara yang extrim, dimana mereka mengatakan bahwa orang Kristen yang melakukan dosa apapun setelah baptisan, tidak bisa diampuni, lebih-lebih orang-orang Kristen yang menyembah berhala tak peduli apapun alasannya. Ada kata-kata Owen berkenaan dengan cara penafsiran dari orang-orang seperti Novatus dan Novatianus, yang saya ulang dan beri terjemahannya di sini.

Owen: “And so usually doth it fall out, very unhappily, with men who think they see some peculiar opinion or persuasion in some singular text of Scripture, and will not bring their interpretations of it unto the analogy of faith, whereby they might see how contrary it is to the whole design and current of the word in other places” (= Dan begitulah biasanya terjadi, sangat menyedihkan, dengan orang-orang yang berpikir / mengira bahwa mereka melihat pandangan atau kepercayaan khas tertentu dalam beberapa aneh dari Kitab Suci, dan tidak mau membawa penafsiran-penafsiran mereka tentangnya pada analogi / persamaan dari iman, dengan mana mereka bisa melihat betapa bertentangannya itu dengan seluruh rancangan dan aliran / arus dari firman di tempat-tempat lain) - ‘The Works of John Owen’, vol 5, hal 69.
Catatan: saya kira ini sikap dari Liauw juga!

Sikap extrim dari Novatus dan Novatianus ini ditentang oleh Cyprian, Acesius, dan bahkan juga oleh pengikut-pengikut dari Novatus dan Novatianus sendiri.
Sementara itu, gereja Roma, sekalipun sebetulnya dalam hal ini lebih benar, tidak bisa menjawab argumentasi yang diberikan berdasarkan Ibr 6:4-6, dan karena itu mereka lalu memilih untuk menunda persetujuan mereka terhadap otoritas dari surat Ibrani dari pada merugikan gereja mereka dengan menerima surat Ibrani ini.
Belakangan baru muncul orang-orang yang menafsirkan Ibr 6:4-6 ini dengan cara yang benar, sambil memperhatikan seluruh Alkitab.
Pertengkaran tentang persoalan ini sudah lama dikubur, dan secara umum gereja-gereja menerima kembali orang-orang Kristen yang menyembah berhala karena alasan seperti itu, asalkan ada pertobatan dari orang-orang itu.

B. Ada begitu banyak ayat yang mengajarkan bahwa orang percaya harus memiliki iman hingga pada akhirnya. Mereka yang bertahan hingga akhir akan diselamatkan.
“Dan kamu akan dibenci semua orang oleh karena nama-Ku; tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat.” Mat. 10:22, lihat juga Mar. 13:13.
“Tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat.” Mat. 24:13
“...Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan.”
Wah. 2:10

Tanggapan Budi Asali:
Ini sudah saya bahas, anda hanya bertele-tele saja. Ayat-ayat ini menekankan tanggung jawab. Sekalipun Alkitab menjamin keselamatan, tetapi tidak membuang keselamatan. Sama seperti Tuhan menjamin kecukupan hidup kita (Mat 6:25-34), tetapi ia mengharuskan orang Kristen bekerja (2Tes 3:10). 

C. Kemungkinan bahwa nama seseorang dapat dihapuskan dari buku kehidupan berarti orang itu dapat meninggalkan iman.
“Dan jikalau seorang mengurangkan sesuatu dari perkataan-perkataan dari kitab nubuat ini, maka Allah akan mengambil bagiannya dari pohon kehidupan [dalam bahasa aslinya “buku kehidupan] dan dari kota kudus, seperti yang tertulis di dalam kitab ini.” (Wah. 22:19)
“Barangsiapa menang, ia akan dikenakan pakaian putih yang demikian; Aku tidak akan menghapus namanya dari kitab kehidupan, melainkan Aku akan mengaku namanya di hadapan Bapa-Ku dan di hadapan para malaikat-Nya.” (Wah. 3:5).
“Tetapi sekarang, kiranya Engkau mengampuni dosa mereka itu dan jika tidak, hapuskanlah kiranya namaku dari dalam kitab yang telah Kautulis." Tetapi TUHAN berfirman kepada Musa: "Siapa yang berdosa kepada-Ku, nama orang itulah yang akan Kuhapuskan dari dalam kitab-Ku.” (Kel. 32:32-33)

Tanggapan Budi Asali:
Saya beri kutipan saja dari khotbah saya tentang kitab kehidupan.

Kitab kehidupan

Luk 10:20 - “Namun demikian janganlah bersukacita karena roh-roh itu takluk kepadamu, tetapi bersukacitalah karena namamu ada terdaftar di sorga.’”.
Fil 4:3 - “Bahkan, kuminta kepadamu juga, Sunsugos, temanku yang setia: tolonglah mereka. Karena mereka telah berjuang dengan aku dalam pekabaran Injil, bersama-sama dengan Klemens dan kawan-kawanku sekerja yang lain, yang nama-namanya tercantum dalam kitab kehidupan”.
Wah 20:12,15 - “Dan aku melihat orang-orang mati, besar dan kecil, berdiri di depan takhta itu. Lalu dibuka semua kitab. Dan dibuka juga sebuah kitab lain, yaitu kitab kehidupan. Dan orang-orang mati dihakimi menurut perbuatan mereka, berdasarkan apa yang ada tertulis di dalam kitab-kitab itu. ... Dan setiap orang yang tidak ditemukan namanya tertulis di dalam kitab kehidupan itu, ia dilemparkan ke dalam lautan api itu”.
Wah 21:27 - “Tetapi tidak akan masuk ke dalamnya sesuatu yang najis, atau orang yang melakukan kekejian atau dusta, tetapi hanya mereka yang namanya tertulis di dalam kitab kehidupan Anak Domba itu”.

Wah 3:5 - “Barangsiapa menang, ia akan dikenakan pakaian putih yang demikian; Aku tidak akan menghapus namanya dari kitab kehidupan, melainkan Aku akan mengaku namanya di hadapan BapaKu dan di hadapan para malaikatNya”.
Kel 32:31-33 - “Lalu kembalilah Musa menghadap TUHAN dan berkata: ‘Ah, bangsa ini telah berbuat dosa besar, sebab mereka telah membuat allah emas bagi mereka. (32) Tetapi sekarang, kiranya Engkau mengampuni dosa mereka itu - dan jika tidak, hapuskanlah kiranya namaku dari dalam kitab yang telah Kautulis.’ (33) Tetapi TUHAN berfirman kepada Musa: ‘Siapa yang berdosa kepadaKu, nama orang itulah yang akan Kuhapuskan dari dalam kitabKu”.
Maz 69:29 - “Biarlah mereka dihapuskan dari kitab kehidupan, janganlah mereka tercatat bersama-sama dengan orang-orang yang benar!”.

I) Pandangan Arminian (Pdt. Jusuf B. S.) tentang Kitab Kehidupan.


Pdt. Jusuf B. S.: “Buku kehidupan adalah catatan dari orang-orang percaya yang masuk Surga, termasuk segala pahalanya, yang ditulis Allah. Buku ini tidak berbentuk seperti buku catatan kita, juga bukan seperti disket-disket komputer, tetapi jauh lebih canggih yaitu suatu catatan dengan cara Illahi yang sempurna, tidak bisa salah / hilang dan betul-betul tercatat dengan rapi, teliti, langkah (?) dan betul” - “Keselamatan tidak bisa hilang?’, hal 55.
Pdt. Jusuf B. S.: “Di mana terdapat buku ini? Terletak di hadapan hadirat Tuhan, itu berarti ada di dalam Surga” - “Keselamatan tidak bisa hilang?’, hal 56.

Kelihatannya dia percaya bahwa betul-betul ada catatan seperti itu, sekalipun bentuknya tidak ia ketahui. Pertanyaannya: apakah Allah yang maha tahu itu membutuhkan catatan dalam bentuk apapun?

Pdt. Jusuf B. S.: “Buku Kehidupan bukanlah catatan dari nama-nama orang yang pernah lahir dan hidup di dunia. Tetapi setiap orang yang percaya, yang mengakui nama Yesus, ia selamat dan menjadi putra Allah, baru namanya ditulis di dalam buku hayat - “Keselamatan tidak bisa hilang?’, hal 60.
Jadi ia percaya bahwa penulisan nama dalam kitab kehidupan itu baru dilakukan pada saat orangnya percaya kepada Yesus.

Pdt. Jusuf B. S.: “Nama di dalam Buku Kehidupan masih dapat dihapus! Selama kita hidup di dunia ini, masih dapat terjadi perubahan. Bukan satu kali selamat tetap selamat. Sebab itu Tuhan menyuruh kita memelihara keselamatan itu dengan hati-hati” - “Keselamatan tidak bisa hilang?’, hal  63.
Pdt. Jusuf B. S.: “Dalam Kel 32:33 nama-nama orang Israel akan dihapus dari dalam Buku Kehidupan oleh sebab dosa-dosanya. Tuhan tidak akan mengancam atau menindak dengan sesuatu dusta atau omong kosong. Sebab itu penghapusan nama dari Buku Kehidupan itu ada, bisa terjadi! Musa memintakan ampun sehingga hal itu ditunda” - “Keselamatan tidak bisa hilang?’, hal  64.
Ia percaya bahwa nama seseorang bisa dihapuskan dari kitab kehidupan. Dengan kata lain orang itu kehilangan keselamatannya.

II) Pandangan Reformed tentang kitab kehidupan.


1)   Memang benar bahwa kitab kehidupan mencatat nama-nama orang yang percaya kepada Yesus dan diselamatkan.
Luk 10:20 - “Namun demikian janganlah bersukacita karena roh-roh itu takluk kepadamu, tetapi bersukacitalah karena namamu ada terdaftar di sorga.’”.
Fil 4:3 - “Bahkan, kuminta kepadamu juga, Sunsugos, temanku yang setia: tolonglah mereka. Karena mereka telah berjuang dengan aku dalam pekabaran Injil, bersama-sama dengan Klemens dan kawan-kawanku sekerja yang lain, yang nama-namanya tercantum dalam kitab kehidupan”.
Wah 20:12,15 - “Dan aku melihat orang-orang mati, besar dan kecil, berdiri di depan takhta itu. Lalu dibuka semua kitab. Dan dibuka juga sebuah kitab lain, yaitu kitab kehidupan. Dan orang-orang mati dihakimi menurut perbuatan mereka, berdasarkan apa yang ada tertulis di dalam kitab-kitab itu. ... Dan setiap orang yang tidak ditemukan namanya tertulis di dalam kitab kehidupan itu, ia dilemparkan ke dalam lautan api itu”.
Wah 21:27 - “Tetapi tidak akan masuk ke dalamnya sesuatu yang najis, atau orang yang melakukan kekejian atau dusta, tetapi hanya mereka yang namanya tertulis di dalam kitab kehidupan Anak Domba itu”.
Jadi jelas bahwa kitab kehidupan mencatat nama dari orang-orang yang selamat, atau dengan kata lain, orang yang namanya tercatat dalam Kitab Kehidupan itulah yang akan masuk surga (Wah 21:27). Sebaliknya, orang yang namanya tidak tercatat dalam kitab kehidupan itu akan masuk ke neraka (Wah 20:15). Karena itu Tuhan Yesus berkata: bersukacitalah karena namamu tercatat dalam kitab kehidupan (Luk 10:20).

John Stott: “One day the books will be opened, and the dead will be judged by what is written in the books, and everyone whose name is not found written in the Book of Life will be ‘thrown into the lake of fire’ (Rev. 20:11-15). Is your name written in the Lamb’s book of life? You can have a name among men for being alive (like the Church of Sardis) and still have no entry in God’s book of the living. ... Jesus told His disciples to rejoice that their names were ‘written in heaven’ (Lk. 10:20; cf. Heb. 12:23). Can you rejoice like that today?” [= Suatu hari kitab-kitab ini akan dibuka, dan orang mati akan dihakimi berdasarkan apa yang tertulis dalam kitab-kitab ini, dan setiap orang yang namanya tidak ditemukan tertulis dalam Kitab Kehidupan akan ‘dilemparkan ke dalam lautan api’ (Wah 20:11-15). Apakah namamu tertulis dalam kitab kehidupan Anak Domba? Di antara manusia kamu bisa terkenal sebagai orang yang hidup (spt Gereja Sardis) tetapi tetap tidak masuk dalam kitab orang hidup dari Allah. ... Yesus menyuruh murid-muridNya untuk bersukacita bahwa nama mereka ‘tertulis di surga’ (Luk 10:20; bdk. Ibr 12:23). Bisakah engkau bersukacita seperti itu hari ini?] - hal 97.

Karena itu jangan puas / bersukacita kalau nama saudara sekedar tercatat di gereja, bahkan tercatat sebagai orang yang menduduki jabatan tertentu dalam gereja / donatur gereja. Ini tidak menjamin keselamatan saudara! Tetapi kalau saudara percaya kepada Yesus dengan sungguh-sungguh, maka nama saudara tercatat dalam kitab kehidupan, dan itu yang menjamin keselamatan saudara!

2)   Penulisan nama dalam kitab kehidupan sudah dilakukan sejak dunia belum dijadikan!
Kalau tadi kita sudah mendengar bahwa kitab kehidupan itu mencatat nama-nama orang-orang yang percaya kepada Yesus, maka logikanya kita juga harus beranggapan bahwa penulisan nama terjadi pada saat seseorang percaya kepada Yesus (seperti yang diajarkan oleh Pdt. Jusuf B. S. di atas).
Tetapi ternyata tidak demikian! Kitab Suci mengajar bahwa Tuhan bukannya baru menuliskan nama seseorang di dalam kitab itu pada waktu orang itu bertobat / percaya kepada Yesus! Nama seseorang sudah tertulis atau tidak tertulis dalam kitab kehidupan sejak dunia belum dijadikan.
Ini bisa terlihat dalam 2 ayat Kitab Suci yaitu Wah 13:8 dan Wah 17:8.

a)   Wah 17:8 - “Dan mereka yang diam di bumi, yaitu mereka yang tidak tertulis di dalam kitab kehidupan sejak dunia dijadikan, akan heran, apabila ....”.

b)   Wah 13:8 - “Dan semua orang yang diam di atas bumi akan menyembahnya, yaitu setiap orang yang namanya tidak tertulis sejak dunia dijadikan di dalam kitab kehidupan dari Anak Domba, yang telah disembelih”.
Hal yang perlu kita ketahui tentang Wah 13:8 ini adalah bahwa dalam bahasa Yunaninya, kata-kata ‘sejak dunia dijadikan’ mempunyai 2 kemungkinan:
1.   Dihubungkan dengan ‘penulisan dalam kitab kehidupan’.
Ini sesuai dengan terjemahan Kitab Suci Indonesia, dan juga RSV, NASB, dan ASV. Kalau dipilih arti ini, maka Wah 13:8 ini menjadi seperti Wah 17:8.
2.   Dihubungkan dengan ‘penyembelihan Anak Domba’.
Ini sesuai dengan KJV yang menterjemahkan: “... whose names are not written in the book of life of the Lamb slain from the foundation of the world” (= ... yang namanya tidak tertulis dalam kitab kehidupan dari Anak Domba yang disembelih sejak dunia dijadikan).
NIV dan NKJV menterjemahkan seperti KJV.

William Barclay (lebih-lebih orang-orang Reformed) memilih pandangan yang pertama, dengan berkata:
“We have in these two translations two equally precious truths. But, if we must choose, we must choose the first, because there is no doubt that is the way in which John uses the phrase when he repeats it in Revelation 17:8” (= Dalam kedua terjemahan ini kita mempunyai dua kebenaran yang sama berharga. Tetapi, jika kita harus memilih, kita harus memilih yang pertama, karena tidak ada keraguan bahwa demikianlah Yohanes menggunakan ungkapan itu ketika ia mengulanginya dalam Wahyu 17:8) - hal 96.

Catatan: perlu diingat bahwa andaikatapun yang benar dari dua kemungkinan ini adalah yang kemungkinan yang kedua, tetap ada Wah 17:8 yang jelas-jelas berbicara bahwa tertulisnya / tidak tertulisnya nama dalam kitab kehidupan itu sudah dilakukan sejak dunia dijadikan!

Memang kalau kita melihat Wah 13:8 dan Wah 17:8 di atas, kita melihat bahwa kedua ayat itu berbicara tentang orang yang namanya tidak tertulis dalam kitab kehidupan sejak dunia dijadikan. Tetapi bahwa orang-orang tertentu namanya tidak tertulis dalam kitab kehidupan sejak dunia belum dijadikan, secara implicit / tidak langsung menunjukkan sebaliknya, yaitu bahwa orang yang namanya ada dalam kitab kehidupan, juga sudah tercatat sejak dunia belum dijadikan.

Bahwa nama seseorang sudah tertulis atau tidak tertulis dalam kitab kehidupan sebelum dunia dijadikan, jelas menunjukkan bahwa selamat atau tidaknya seseorang sudah ditentukan sejak dunia belum dijadikan. Inilah Predestinasi!

Calvin (tentang Maz 69:29): “the book of life being nothing else than the eternal purpose of God, by which he has predestinated his own people to salvation” (= kitab kehidupan bukan lain dari pada rencana kekal Allah, dengan mana Ia telah mempredestinasikan umatNya kepada keselamatan) - hal 73.
Calvin (tentang Kel 32:32): “By ‘the book,’ in which God is said to have written His elect, must be understood, metaphorically, His decree” (= Dengan kata ‘kitab’, dalam mana dikatakan Allah telah menuliskan orang-orang pilihanNya, harus dimengerti, secara simbolis, ketetapanNya) - hal 361-362.
Calvin (tentang Luk 10:20): “As it was the design of Christ to withdraw his disciples from a transitory joy, that they might glory in eternal life, he leads them to its origin and source, which is, that they were chosen by God and adopted as his children. ... The metaphorical expression, ‘your names are written in heaven,’ means, that they were acknowledged by God as His children and heirs, as if they had been inscribed in a register” (= Karena tujuan Kristus adalah untuk menarik murid-muridNya dari sukacita yang fana / tidak kekal, supaya mereka bisa bermegah dalam kehidupan yang kekal, Ia memimpin mereka kepada asal usul dan sumber dari keselamatan itu, yaitu bahwa mereka telah dipilih oleh Allah dan diadopsi menjadi anak-anakNya. ... Ungkapan yang bersifat simbolis ‘namamu tertulis di surga’ berarti bahwa mereka diakui oleh Allah sebagai anak-anak dan pewaris-pewarisNya, seakan-akan mereka telah dituliskan dalam sebuah daftar / catatan) - hal 34-35.
B. B. Warfield: “Book of life ..., which is certainly a symbol of Divine appointment to eternal life revealed in and realized through Christ” (= Kitab kehidupan ..., yang merupakan simbol dari penetapan pada kehidupan kekal yang dinyatakan dalam Kristus dan diwujudkan melalui Kristus) - ‘Biblical and Theological Studies’, hal 306.
John Owen: “This book of life is no other but the roll of God’s elect, immutable designation of them unto grace and glory” (= Kitab Kehidupan ini bukan lain dari daftar nama orang-orang pilihan Allah, penandaan yang kekal terhadap mereka kepada kasih karunia dan kemuliaan) - ‘Hebrews’, vol 7, hal 341.

Dengan mengatakan bahwa kitab kehidupan ini adalah suatu simbol, kelihatannya baik Calvin maupun Warfield tidak mempercayai bahwa kitab seperti itu betul-betul ada. Ini cuma suatu simbol yang menunjukkan bahwa orang-orang pilihan itu sudah tertentu dan mereka pasti akan selamat. Tidak mungkin terjadi kesalahan dalam hal ini, karena Allah itu maha tahu dan tidak mungkin salah.

Illustrasi: Seorang wanita setengah baya terkena serangan jantung dan dibawa ke rumah sakit. pada saat di meja operasi dan dekat dengan kematian, ia melihat Allah. Ia bertanya: ‘Tuhan apakah ini memang sudah saatnya bagiku untuk mati?’. Tuhan menjawab: ‘Tidak, engkau masih punya waktu sekitar 30-40 tahun lagi untuk hidup’. Setelah sembuh, dengan pemikiran bahwa ia masih punya waktu beberapa puluh tahun untuk hidup, wanita itu melakukan operasi wajah, sedot lemak dan sebagainya. Ia lalu juga pergi ke seorang penata rambut, dan mengubah potongan rambut maupun warna rambutnya. Tetapi beberapa hari setelah itu, ia mengalami kecelakaan dan mati. Pada saat bertemu dengan Allah, ia lalu bertanya: ‘Aku kira Engkau mengatakan bahwa aku masih punya waktu 30-40 tahun lagi untuk hidup. Mengapa aku mati sekarang?’. ‘Oh’, jawab Allah, ‘Aku tidak mengenalimu’.

Kalau Allah memang seperti itu, maka Ia pasti betul-betul membutuhkan suatu kitab supaya jangan sampai salah. Tetapi karena Allah itu maha tahu, jelas bahwa Ia tidak membutuhkan semua itu. Jadi kitab kehidupan hanya merupakan simbol, yaitu simbol dari predestinasi.

Dalam persoalan ini mungkin muncul suatu pertanyaan: bagaimana kita bisa diharuskan percaya kepada Yesus kalau hal itu sudah ditetapkan oleh Tuhan? Kalau kita ditentukan sebagai orang reprobate (= orang yang ditentukan untuk binasa), bukankah kita tidak bisa percaya?
Jawab:
·         Rencana kekal Allah merupakan sesuatu yang tidak kita ketahui. Kita tidak tahu siapa yang ditentukan binasa, dan hal ini bukan merupakan pedoman hidup kita. Pedoman hidup kita adalah kehendak Allah yang dinyatakan, yaitu Firman Tuhan (Ul 29:29), dan Firman Tuhan menyuruh kita percaya.
·         Teologia Reformed memang menekankan kedaulatan Allah / penentuan Allah maupun tanggung jawab manusia. Sekalipun kedua hal itu rasanya tidak cocok, tetapi keduanya diajarkan oleh Kitab Suci, dan karena itu keduanya harus diterima. Jadi, sekalipun ada penentuan Allah, tetapi manusia tetap mempunyai tanggung jawab untuk percaya kepada Yesus.

3)   Penghapusan nama dari kitab kehidupan.
Maz 69:29 - “Biarlah mereka dihapuskan dari kitab kehidupan, janganlah mereka tercatat bersama-sama dengan orang-orang yang benar!”.
Kel 32:31-33 - “Lalu kembalilah Musa menghadap TUHAN dan berkata: ‘Ah, bangsa ini telah berbuat dosa besar, sebab mereka telah membuat allah emas bagi mereka. (32) Tetapi sekarang, kiranya Engkau mengampuni dosa mereka itu - dan jika tidak, hapuskanlah kiranya namaku dari dalam kitab yang telah Kautulis.’ (33) Tetapi TUHAN berfirman kepada Musa: ‘Siapa yang berdosa kepadaKu, nama orang itulah yang akan Kuhapuskan dari dalam kitabKu”.
Ayat-ayat di atas ini tidak boleh diartikan bahwa nama memang bisa dihapus dari kitab kehidupan. Alasannya:

a)   Predestinasi / rencana Allah tidak mungkin gagal (Ayub 42:2  Yes 14:24,26-27).

b)   Kita tidak boleh menafsirkan Maz 69:29 dan Kel 32:32-33 itu sehingga bertentangan dengan Wah 3:5 - “Barangsiapa menang, ia akan dikenakan pakaian putih yang demikian; Aku tidak akan menghapus namanya dari kitab kehidupan, melainkan Aku akan mengaku namanya di hadapan BapaKu dan di hadapan para malaikatNya”.

John Stott (hal 97,98) mengatakan bahwa kata-kata ‘tidak akan menghapus’ dalam bahasa Yunaninya menggunakan ‘double negatives’ (2 x kata ‘tidak’), dan ini menunjukkan suatu penekanan bahwa Kristus tidak akan menghapus nama mereka dari kitab kehidupan.

Tetapi orang Arminian akan berkata: ‘Itu janji bagi orang kristen yang menang. Tetapi orang kristen yang kalah, namanya akan dihapuskan dari kitab kehidupan’.
Pdt. Jusuf B. S.: “Juga di sini (dalam Wah 3:5) Tuhan menjanjikan pada orang yang menang bahwa namanya akan jadi permanen di dalam Buku Kehidupan, sebab mereka menang. Tetapi orang-orang yang selalu jatuh bangun dalam dosa itu dalam bahaya. Kalau mereka terus menuruti daging dan hidup dalam dosa sampai mati, maka namanya yang sudah tertulis di dalam Buku Kehidupan akan terhapus dari dalamnya dan itu berarti tidak masuk dalam Kerajaan Surga” - “Keselamatan tidak bisa hilang?’, hal 65.

Saya menjawab argumentasi ini dengan 2 pertanyaan:
1.   Orang kristen mana yang tidak jatuh bangun dalam dosa? Jatuh bangun dalam dosa itu pasti terjadi pada diri orang kristen manapun, termasuk Paulus (Ro 7:15-19 bdk. 1Yoh 1:10). Ini berbeda dengan ‘terus menuruti daging dan hidup dalam dosa sampai mati’ yang jelas menunjukkan bahwa orangnya adalah orang kristen KTP.
2.   Apakah orang kristen yang sejati bisa kalah? Jelas tidak mungkin. Bandingkan dengan:
·         Ro 8:35-37 - “Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang? Seperti ada tertulis: ‘Oleh karena Engkau kami ada dalam bahaya maut sepanjang hari, kami telah dianggap sebagai domba-domba sembelihan.’ Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita.
Ini masih ditambahi lagi dengan Ro 8:38-39 yang menjamin bahwa tidak ada apapun yang bisa memisahkan kita (orang kristen) dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.
·         Wah 17:14 - “Mereka akan berperang melawan Anak Domba. Tetapi Anak Domba akan mengalahkan mereka, karena Ia adalah Tuan di atas segala tuan dan Raja di atas segala raja. Mereka bersama-sama dengan Dia juga akan menang, yaitu mereka yang terpanggil, yang telah dipilih dan yang setia.’”.
Catatan: kata-kata ‘juga akan menang’ (yang saya cetak miring) sebetulnya tidak ada, tetapi secara implicit itu ada.
·         1Kor 15:57 - “Tetapi syukur kepada Allah, yang telah memberikan kepada kita kemenangan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita”.
·         2Kor 2:14a - “Tetapi syukur bagi Allah, yang dalam Kristus selalu membawa kami di jalan kemenanganNya.
Kalau orang kristen sejati tidak mungkin kalah, maka jelas bahwa Wah 3:5 itu berlaku untuk setiap orang kristen dan dengan demikian penghapusan nama dari kitab kehidupan itu tidak mungkin terjadi.

Sekarang mari kita membahas lebih teliti kedua text tersebut di atas.

a)   Maz 69:29 - “Biarlah mereka dihapuskan dari kitab kehidupan, janganlah mereka tercatat bersama-sama dengan orang-orang yang benar!”.

Beberapa penafsir seperti Adam Clarke, Albert Barnes, dan Keil & Delitzsch, menafsirkan bahwa ayat ini artinya adalah bahwa Daud berdoa supaya mereka dibunuh, dan tidak mendapat kehidupan yang panjang yang dijanjikan Allah kepada pengikut-pengikutNya.
Barnes’ Notes: “‘Let them be blotted out of the book of the living.’ That is, Let them cease to live; let them not be numbered among the living men; let them be cut off. ... The language has no reference to the future world; it is not a prayer that they should not be saved. ‘And not be written with the righteous.’ Let them not be registered or numbered with the righteous. ... The language is evidently derived from the idea so common in the Old Testament that length of days would be the reward of a righteous life ..., and that the wicked would be cut off in the midst of their days” (= ) - hal 230.
Keil & Delitzsch: “Let them be blotted out of ... that is to say, struck out of the list of the living, and that of the living in this present world; for it is only in the New Testament that we meet with the Book of Life as a list of the names of the heirs of the zwh aviwnioV (= ) - hal 285.
Catatan: tetapi dalam tafsirannya tentang Kel 32:32-33 Keil & Delitzsch memberikan kata-kata yang agak membingungkan artinya (lihat dalam bagian tentang Kel 32:32-33).

Calvin mengatakan bahwa kata-kata ini disesuaikan dengan kapasitas pengertian manusia.
Calvin: “he denounces against them eternal destruction, which is the obvious meaning of the prayer, that they might be blotted out of the book of the living; for all those must inevitably perish who are not found written or enrolled in the book of life. This is indeed an improper manner of speaking; but it is one well adapted to our limited capacity, the book of life being nothing else than the eternal purpose of God, by which he has predestinated his own people to salvation. God, it is certain, is absolutely immutable; and, farther, we know that those who are adopted to the hope of salvation were written before the foundation of the world, (Eph. 1:4;) but as God’s eternal purpose of election is incomprehensible, it is said, in accommodation to the imperfection of the human understanding, that those whom God openly, and by manifest signs, enrols among his people, ‘are written.’ On the other hand, those whom God openly rejects and casts out of his Church are, for the same reason, said ‘to be blotted out.’” (= ) - hal 73-74.
Calvin: “Yet I do not deny that the Spirit sometimes accommodates the utterance to the measure of our understanding - for instance, when he says: ‘They shall not be in the secret of my people, or be enrolled in the register of my servants’ (Ezek. 13:9). It is as if God were beginning to write in the book of life those whom he reckons among the number of His people, although we know, as Christ bears witness (Luke 10:20), that the names of the children of God have been written in the book of life from the beginning (Phil. 4:3). But these words simply express the casting away of those who seemed the chief among the elect, as the psalm had it: ‘Let them be blotted out of the book of life; let them not be enrolled among the righteous’ (Ps. 69:28; cf. Rev. 3:5)” (= ) - ‘Institutes of the Christian Religion’, Book III, Chapter 24, no 9.
Catatan:
·         Luk 10:20 secara hurufiah seharusnya adalah ‘your names have been written in heaven’ (= namamu telah tertulis di surga).
·         sebetulnya kalau mau menunjukkan bahwa nama sudah tertulis dalam kitab kehidupan sejak semula, lebih baik menggunakan Wah 13:8 dan Wah 17:8.

Spurgeon menafsirkan bahwa penghapusan nama dari kitab kehidupan menunjukkan bahwa nama itu tidak pernah dituliskan dalam kitab kehidupan itu.
C. H. Spurgeon: “the inner meaning of being blotted out from the book of life is to have it made evident that the name was never written there at all. Man in his imperfect copy of God’s book of life will have to make many emendations, both of insertion and erasure; but, as before the Lord, the record is for ever fixed and unalterable” (= ) - ‘The Treasury of David’, vol 2, hal 184.

Matthew Poole mengatakan bahwa nama seseorang dikatakan ditulis dalam kitab kehidupan, atau dihapuskan dari kitab kehidupan, sesuai dengan kelihatannya dari jalan kehidupan mereka. Tetapi bahwa penghapusan nama tidak bisa diartikan secara hurufiah, terlihat dengan jelas dari bagian akhir dari Maz 69:29 itu.
Matthew Poole: “In this book men may be said to be written, either, 1. In reality, by God’s election and predestination. Or, 2. In appearance, when a man is called by God to the profession and practice of the true religion, and into covenant with himself, and professeth to comply with it; ... And when a man renounceth this profession and religion, he may be said to be ‘blotted out of’ that ‘book’, because his apostacy makes it evident that he was not written in it, as he seemed to be. ... men may be said to be ‘written in’ or ‘blotted out of this book’, when they seem to be so by the course of their lives and actions. But that this ‘blotting out’ is not meant properly and positively, is clear from the last branch of this verse; which, after the manner of these books, expounds the former, wherein this doubtful phrase is explained by one which is evident and unquestionable, even by his not being ‘written’ in it; for it is impossible that a man’s name should be properly blotted out of that book in which it was never written” (= ) - hal 110.

Psalm 69:28 (KJV): ‘Let them be blotted out of the book of the living, and not be written with the righteous’ (= Biarlah mereka dihapuskan dari kitab kehidupan, dan tidak ditulis dengan orang benar).
Kata Ibraninya bisa diartikan ‘menulis’ atau ‘mencatat’.
Kata-kata Poole ini, khususnya yang bagian akhir, perlu diperhatikan. Memang Maz 69:29 itu mengidentikkan ‘penghapusan nama’ dan ‘tidak dituliskannya nama’.

W. S. Plumer: “To ‘be blotted out of this book’ is the same thing as not to ‘be written with the righteous’. The clauses are parallel” (= Dihapuskan dari kitab ini adalah sama dengan tidak ditulis dengan orang benar. Kedua kalimat itu paralel) - ‘The Psalms’, hal 684.

Pulpit Commentary memberikan penafsiran yang berbeda / bertentangan. Ia berkata: “‘And not be written with the righteous;’ i.e. not remain written in the book side by side with the names of the righteous” (= ‘Dan tidak ditulis dengan orang benar’; artinya tidak tetap tertulis dalam kitab itu bersama-sama dengan nama-nama orang benar) - hal  55.
Tetapi kata ‘remain’ (= tetap) ini sebetulnya tidak ada dalam ayat itu, dan karena itu penafsiran ini tidak bisa diterima!

b)   Kel 32:31-33 - “Lalu kembalilah Musa menghadap TUHAN dan berkata: ‘Ah, bangsa ini telah berbuat dosa besar, sebab mereka telah membuat allah emas bagi mereka. (32) Tetapi sekarang, kiranya Engkau mengampuni dosa mereka itu - dan jika tidak, hapuskanlah kiranya namaku dari dalam kitab yang telah Kautulis.’ (33) Tetapi TUHAN berfirman kepada Musa: ‘Siapa yang berdosa kepadaKu, nama orang itulah yang akan Kuhapuskan dari dalam kitabKu”.

Adam Clarke mengatakan bahwa kitab itu merupakan catatan dari orang-orang Israel. Yang namanya dihapus adalah orang-orang yang tidak diperkenankan untuk masuk ke Kanaan.

Keil & Delitzsch: “To blot out of Jehovah’s book, therefore, is to cut off from fellowship with the living God, or from the kingdom of those who live before God, and to deliver over to death” (= ) - hal  231.

Pulpit Commentary mengatakan (hal 343) bahwa ada yang mengartikan bahwa kata-kata Musa dalam Kel 32:32 ini hanya sekedar berarti ‘Bunuhlah aku’. Jadi, kitab itu hanya diartikan sebagai kitab yang mencatat nama-nama orang-orang yang masih hidup, dan tak berhubungan dengan keselamatan. Tetapi Pulpit Commentary sendiri lebih setuju bahwa itu juga berhubungan dengan keselamatan.

Sama seperti dalam tafsirannya tentang Maz 69:29 di atas Calvin menganggap bahwa istilah ‘penghapusan nama’ dipakai untuk menyesuaikan dengan pengertian manusia (semacam bahasa antropomorphis). Tentu kita tidak bisa mengartikan bahwa bisa terjadi perubahan dalam rencana kekal Allah. Istilah ‘penghapusan nama’ itu hanya untuk menunjukkan bahwa Tuhan akhirnya menyatakan bahwa orang-orang reprobate, yang untuk sementara kelihatannya terhitung bersama-sama dengan orang-orang pilihan, sebetulnya sama sekali tidak termasuk di dalamnya.
Dalam tafsirannya tentang Kel 32:32, Calvin berkata: “By ‘the book,’ in which God is said to have written His elect, must be understood, metaphorically, His decree. But the expression which Moses uses, asking to be blotted out of the number of the pious, is an incorrect one, since it cannot be that one who has been once elected should be ever reprobated; and those lunatics who, on this ground, overturn, as far as they can, that prime article of our faith concerning God’s eternal predestination, thereby demonstrate their malice no less than their ignorance. David uses two expressions in the same sense, ‘blotted out,’ and ‘not written:’ ‘Let them be blotted out of the book of the living, and not be written with the righteous.’ (Ps. 69:28.) We cannot hence infer any change in the counsel of God; but this phrase is merely equivalent to saying, that God will at length make it manifest that the reprobate, who for a season are counted amongst the number of the elect, in no respect belong to the body of the Church. Thus the secret catalogue, in which the elect are written, is contrasted by Ezekiel (13:9) with that external profession, which is often deceitful. Justly, therefore, does Christ bid His disciples rejoice, ‘because their names are written in heaven,’ (Luke 10:20;) for, albeit the counsel of God, whereby we are predestinated to salvation, is incomprehensible to us, ‘nevertheless (as Paul testifies) this seal standeth sure, The Lord knoweth them that are his.’ (2Tim. 2:19)” (= ) - hal 361-362.
Yeh 13:9 - “Aku akan mengacungkan tanganKu melawan nabi-nabi yang melihat perkara-perkara yang menipu dan yang mengucapkan tenungan-tenungan bohong; mereka tidak termasuk perkumpulan umatKu dan tidak akan tercatat dalam daftar kaum Israel, dan tidak akan masuk lagi di tanah Israel; dan kamu akan mengetahui bahwa Akulah Tuhan ALLAH”.
Dan tentang Kel 32:33, Calvin berkata: “In these words God adapt Himself to the comprehension of the human mind, when He says, ‘Him will I blot out;’ for hypocrites make such false profession of His name, that they are not accounted aliens, until God openly renounces them: and hence their manifest rejection is called erasure” (= Dalam kata-kata ini Allah menyesuaikan diriNya sendiri dengan pengertian pikiran manusia, pada saat Ia berkata ‘Aku tidak akan menghapuskannya’; karena orang-orang munafik membuat pengakuan palsu tentang namaNya supaya mereka tidak dianggap sebagai orang asing / non kristen, sampai Allah secara terbuka menyangkal mereka sebagai anak: dan karena itu penolakan yang nyata ini disebut penghapusan) - hal 362.
Juga dalam Kel 32:33 itu, mungkin sekali Tuhan menggunakan kata-kata itu untuk menyesuaikan dengan kata-kata Musa dalam Kel 32:32.

Kesimpulan / penutup.


Kitab kehidupan hanya merupakan simbol dari predestinasi. Penghapusan nama dari kitab kehidupan tidak benar-benar ada. Istilah itu digunakan hanya karena Allah menyesuaikan diri dengan pengertian manusia yang terbatas, sehingga Ia menggambarkan tindakanNya seperti tindakan manusia yang mencatat, menghapus dan sebagainya. Orang yang ‘dihapus namanya’ adalah orang kristen KTP, yang sebetulnya tidak pernah tercatat di dalam kitab kehidupan itu. Bagi orang percaya / pilihan, namanya sudah ada dalam kitab kehidupan sejak dunia belum dijadikan dan tidak mungkin akan dihapuskan. Puji Tuhan.


-AMIN-



D. Yang mana yang lebih baik: Mengajarkan orang Kristen bahwa mereka harus memegang iman mereka dengan teguh (pengajaran yang Alkitabiah), atau mengajarkan orang Kristen bahwa tidak peduli apapun juga yang mereka lakukan, mereka akan masuk surga? Dalam hal ini, saya memperhatikan suatu dampak yang sudah dapat diperkirakan: gereja-gereja yang mengajarkan SSTS tidak menekankan pada anggota mereka untuk tetap beriman. Hal ini wajar, karena tidak ada motivasi bagi mereka untuk melakukan hal itu, karena mentalitasnya adalah “toh mereka tidak mungkin meninggalkan iman.” Tetapi, para Penulis Alkitab memiliki pandangan yang berbeda. Banyak sekali ayat yang menghimbau kita untuk bertahan dalam iman, untuk bertahan hingga akhirnya, memegang teguh iman, dsb. Paulus beberapa kali khawatir, bahwa jika orang-orang yang dia menangkan meninggalkan iman, maka segala jerih payahnya menjadi sia-sia. Mentalitas para Penulis Alkitab berbeda jauh dari pada pengajar SSTS.

Tanggapan Budi Asali:
Yang warna biru adalah fitnah, Liauw! Saya mengajarkan SSTS, tetapi saya tetap menekankan kepada jemaat bahwa mereka harus tetap memelihara dan meningkatkan iman, dan setahu saya semua Calvinist yang waras, pasti mengajar seperti saya.
Anda tanya, yang mana yang lebih baik? Saya jawab: yang mengajar SSTS! Mengapa? Ada beberapa alasan:
1.   Ini memberikan rasa sukacita, damai, dan ketenangan. Orang-orang tetap diajar untuk memelihara iman, dan mereka melakukannya dengan sukacita, dan tenang, bukan dengan takut-takut dan gemetar!
2.   Ini menyebabkan orang yang diajar itu akan merasakan cinta Tuhan yang begitu besar sehingga menjamin keselamatan mereka. Dan itu akan menyebabkan mereka sendiri membalas mencintai Tuhan, dan ini akan menyebabkan mereka taat kepada Tuhan. Dan taat ini mereka lakukan dengan motivasi yang benar, bukan karena takut tetapi karena cinta (Yoh 14:15).
3.   Orang yang diajar KBH (Keselamatan Bisa Hilang), kalau mereka punya otak yang tidak bebal, maka mau tidak mau mereka akan takut. Karena setiap saat mereka bisa meninggalkan iman dan binasa, dan masuk neraka selama-lamanya. Anda tidak ngeri memikirkan hal ini, Liauw? Kalau ya, saya heran anda bisa tidur. Kalau tidak, anda bebal!
4.   Orang yang diajar KBH memang akan berjuang mentaati dan berjuang untuk tidak meninggalkan iman. Tetapi mereka melakukan semua itu dengan takut-takut dan gemetar, karena bisa saja mereka tak berhasil, dan akhirnya binasa, dan masuk neraka!
5.   Orang yang diajar KBH pasti akan berjuang untuk taat. Tetapi motivasi ketaatan mereka adalah takut, bukan kasih. Dan ini bukan ketaatan yang Tuhan kehendaki. Ia mau kita taat karena kasih (Yoh 14:15).
6.   Yang terburuk dari pengajaran KBH adalah bahwa orang-orang yang mendengar akan salah menangkap maksud pengajarnya dan akhirnya mereka percaya pada ajaran sesat tentang keselamatan karena iman + perbuatan baik! Orang-orang seperti ini saya jamin banyak ada dalam gereja yang yang mengajarkan KBH!

E. Kita tidak percaya Irresistible Grace (Kasih Karunia yang Tidak Dapat Ditolak). Istilah Kasih Karunia berkontradiksi dengan istilah “tidak dapat ditolak.” Namun demikian, para pendukung SSTS, pada hakekatnya berkata, “Setelah seseorang diselamatkan, maka kasih karunia baginya menjadi tidak dapat ditolak.” Ini adalah suatu ketidak-konsistenan!

Tanggapan Budi Asali:
Anda terbalik, Liauw. Apa arti ‘kasih karunia’? Itu adalah sesuatu dalam diri Allah yang menyebabkan Ia memberi yang baik kepada orang-orang yang tidak layak mendapatkannya. Bukankah begitu, Liauw?
Kalau kasih karunia itu ternyata hanya diberikan kepada orang-orang yang mau menerima (mereka pasti harus dianggap lebih baik dari pada yang tidak mau menerima, bukan?), maka itu berarti kasih karunia itu dalam faktanya diberikan kepada orang-orang yang lebih baik. Justru dalam kasus seperti itu kasih karunia itu bukan lagi kasih karunia!
Ro 11:6 - “Tetapi jika hal itu terjadi karena kasih karunia, maka bukan lagi karena perbuatan, sebab jika tidak demikian, maka kasih karunia itu bukan lagi kasih karunia”.

Juga, bagaimana anda menafsirkan ayat ini?
Yes 65:1 - “Aku telah berkenan memberi petunjuk kepada orang yang tidak menanyakan Aku; Aku telah berkenan ditemukan oleh orang yang tidak mencari Aku. Aku telah berkata: ‘Ini Aku, ini Aku!’ kepada bangsa yang tidak memanggil namaKu”.
Ro 10:20 - “Dan dengan berani Yesaya mengatakan: ‘Aku telah berkenan ditemukan mereka yang tidak mencari Aku, Aku telah menampakkan diri kepada mereka yang tidak menanyakan Aku.’”.
Ro 9:30-31 - “(30) Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Ini: bahwa bangsa-bangsa lain yang tidak mengejar kebenaran, telah beroleh kebenaran, yaitu kebenaran karena iman. (31) Tetapi: bahwa Israel, sungguhpun mengejar hukum yang akan mendatangkan kebenaran, tidaklah sampai kepada hukum itu”.

Saya akan bahas kata-kata anda yang saya beri warna biru. Anda berkata ‘Namun demikian, para pendukung SSTS, pada hakekatnya berkata, “Setelah seseorang diselamatkan, maka kasih karunia baginya menjadi tidak dapat ditolak.”’.
Lagi-lagi fitnah. Calvinist mana yang mengajar demikian? Kami mengajar bahwa kasih karunia itu tidak bisa ditolak, pada waktu Allah mau / akan mempertobatkan dia. Dia tidak bisa menolak, karena ia sudah dilahirbarukan, dan iman juga diberikan kepadanya. Jadi, sama sekali bukan seperti yang anda katakan, dimana tidak bisa ditolaknya kasih karunia terjadi setelah orangnya diselamatkan! Anda tak mengerti ajaran Calvinisme tetapi ngawur saja kalau bicara!

Pada awal tulisan ini anda bilang tulisan akan sistimatis. Saya sendiri tak melihat ini sebagai tulisan yang sistimatis, tetapi loncat sana, loncat sini, bertele-tele dan sebagainya. Tadi sudah bicara tentang Irresistible Grace (= Kasih karunia yang tidak bisa ditolak), ,lalu kembali ke SSTS, lalu ke Irresistible Grace (= Kasih karunia yang tidak bisa ditolak) lagi. Apanya yang sistimatis?






Tidak ada komentar:

Poskan Komentar