About us

Golgotha Ministry adalah pelayanan dari Pdt. Budi Asali,M.Div dibawah naungan GKRI Golgota Surabaya untuk memberitakan Injil ke seluruh dunia dan mengajarkan kebenaran firman Tuhan melalui khotbah-khotbah, pendalaman Alkitab, perkuliahan theologia dalam bentuk tulisan maupun multimedia (DVD video, MP3, dll). Pelayanan kami ini adalah bertujuan agar banyak orang mengenal kebenaran; dan bagi mereka yang belum percaya, menjadi percaya kepada Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadinya, dan bagi mereka yang sudah percaya, dikuatkan dan didewasakan didalam iman kepada Kristus.
Semua yang kami lakukan ini adalah semata-mata untuk kemuliaan nama Tuhan Yesus Kristus.

Kami mengundang dengan hangat setiap orang yang merasa diberkati dan terbeban didalam pelayanan untuk bergabung bersama kami di GKRI Golgota yang beralamat di : Jl. Raya Kalirungkut, Pertokoan Rungkut Megah Raya D-16, Surabaya.

Tuhan Yesus memberkati.

Rabu, 09 September 2015

PRO KONTRA TENTANG PERSEMBAHAN PERSEPULUHAN (10d)

Pemahaman Alkitab

G. K. R. I. ‘GOLGOTA’

(Rungkut Megah Raya, blok D no 16)

Rabu, tgl 9 September 2015, pk 19.00

Pdt. Budi Asali, M. Div.

PRO KONTRA TENTANG

PERSEMBAHAN PERSEPULUHAN (10d)



Mal 3:8-11 - “(8) Bolehkah manusia menipu (merampok) Allah? Namun kamu menipu (merampok) Aku. Tetapi kamu berkata: ‘Dengan cara bagaimanakah kami menipu (merampok) Engkau?’ Mengenai persembahan persepuluhan dan persembahan khusus! (9) Kamu telah kena kutuk, tetapi kamu masih menipu (merampok) Aku, ya kamu seluruh bangsa! (10) Bawalah seluruh persembahan persepuluhan itu ke dalam rumah perbendaharaan, supaya ada persediaan makanan di rumahKu dan ujilah Aku, firman TUHAN semesta alam, apakah Aku tidak membukakan bagimu tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan. (11) Aku akan menghardik bagimu belalang pelahap, supaya jangan dihabisinya hasil tanahmu dan supaya jangan pohon anggur di padang tidak berbuah bagimu, firman TUHAN semesta alam..

Ada beberapa hal yang perlu saya jelaskan dulu tentang text Maleakhi ini:

1.   Kutuk.
Russell Kelly secara bodoh menyerang R. C. Sproul, dengan mengatakan bagaimana mungkin seorang Calvinist, yang percaya predestinasi, bisa percaya bahwa orang yang tak memberi persembahan persepuluhan akan kembali menjadi orang terkutuk.

R. C. Sproul: It also means that ninety-six percent of us are for this reason exposing ourselves to a divine curse upon our lives. [= Itu juga berarti bahwa 96 % dari kita untuk alasan ini membuka diri kita sendiri bagi suatu kutuk ilahi atas hidup kita.] - http://www.ligonier.org/learn/articles/will-man-rob-god/

Catatan: kata-kata ini diucapkan oleh R. C. Sproul berdasarkan suatu penelitian yang ia sendiri ragukan kebenarannya, yang mengatakan bahwa hanya 4 % dari orang Kristen injili di Amerika Serikat yang memberi persembahan persepuluhan.

Russell Kelly: This is goofy theology coming from one who should know better. Sproul, who is supposed to be Calvinist and a Predestinationist teaches that God is responsible for both justification and sanctification. ... How can God allow a CURSED believer into heaven? Was that believer never saved, or did that believer fall from grace contrary to Calvinism? Sproul is inconsistent with the Bible and with his own theological hermeneutic. [= Ini adalah theologia yang tolol / menggelikan dari orang yang seharusnya tahu dengan lebih baik. Sproul, yang dianggap sebagai seorang Calvinist dan seorang yang mempercayai Predestinasi mengajar bahwa Allah bertanggung-jawab baik untuk pembenaran dan pengudusan. ... Bagaimana Allah bisa mengijinkan seorang percaya yang TERKUTUK masuk ke surga? Apakah orang percaya itu tidak pernah diselamatkan, atau apakah orang percaya itu murtad / jatuh dari kasih karunia, bertentangan dengan Calvinisme? Sproul tidak konsisten dengan Alkitab dan dengan hermeneutik theologianya sendiri.] - http://www.tithing-russkelly.com/id172.html

Jawaban saya: Kutuk dalam Mal 3 ini, sama seperti kutuk dalam Ul 28:15-dst, menunjuk pada hukuman / hajaran dari Tuhan karena dosa-dosa seseorang. Dan karena hukumannya berupa pencabutan berkat-berkat Tuhan maka itu disebut sebagai kutuk.
Kutuk ini sama sekali tak diartikan bahwa orang percaya yang sudah dicabut kutuknya oleh Kristus, kembali menjadi terkutuk, kalau / karena ia berdosa / tidak memberi persembahan persepuluhan. Bahwa kita yang adalah orang percaya bisa kembali menjadi terkutuk di hadapan Tuhan, kalau / karena berbuat dosa / tidak memberi persembahan persepuluhan, tentu tidak saya percayai, bukan hanya dalam jaman Perjanjian Baru, tetapi juga dalam jaman Perjanjian Lama.
Kalau ini mau diartikan betul-betul sebagai kutuk, maka itu hanya menimpa orang yang tidak sungguh-sungguh adalah orang percaya.

Ul 28:15-20 - “(15) ‘Tetapi jika engkau tidak mendengarkan suara TUHAN, Allahmu, dan tidak melakukan dengan setia segala perintah dan ketetapanNya, yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, maka segala kutuk ini akan datang kepadamu dan mencapai engkau: (16) Terkutuklah engkau di kota dan terkutuklah engkau di ladang. (17) Terkutuklah bakulmu dan tempat adonanmu. (18) Terkutuklah buah kandunganmu, hasil bumimu, anak lembu sapimu dan kandungan kambing dombamu. (19) Terkutuklah engkau pada waktu masuk dan terkutuklah engkau pada waktu keluar. (20) TUHAN akan mendatangkan kutuk, huru-hara dan penghajaran ke antaramu dalam segala usaha yang kaukerjakan, sampai engkau punah dan binasa dengan segera karena jahat perbuatanmu, sebab engkau telah meninggalkan Aku. .

2.   Point ini lebih cocok untuk orang miskin dari pada untuk orang kaya.
Orang kaya tidak memberi persembahan persepuluhan biasanya karena alasan pelit atau tamak, tetapi orang miskin tidak memberi persembahan persepuluhan, sangat memungkinkan karena alasan kurang iman.
Tetapi justru dalam hal inilah imannya perlu diuji. Tidak sukar untuk memberi persembahan persepuluhan pada waktu kita kelebihan uang, tetapi bagaimana pada waktu kita pas-pasan atau bahkan pada waktu kita kekurangan uang (defisit)?

A. W. Pink: “Now then in the fourth place, God has appointed tithing as a test of our faith, and for the nourishing and developing of our faith - especially of the young Christians. Here is a young man who has just started housekeeping. He professes to trust God with the enormous matter of his eternal future. He professes to have confidently left his immortal interests in the hands of God. Well now, dare he trust God with one-tenth of his income for a year? My friends, tithing develops in young Christians the spirit of trusting the Lord in their temporal affairs.” [= Maka sekarang di tempat keempat, Allah telah menetapkan persembahan persepuluhan sebagai suatu ujian iman kita, dan untuk memelihara / memberi makan dan mengembangkan iman kita - khususnya dari orang-orang Kristen muda. Di sini ada seorang muda yang baru saja memulai berumah-tangga. Ia mengaku mempercayai Allah dengan persoalan yang besar dari masa depan kekalnya. Ia mengaku telah dengan yakin meninggalkan / menyerahkan kepentingan-kepentingan kekalnya dalam tangan Allah. Maka sekarang, beranikah ia mempercayai Allah dengan sepersepuluh dari penghasilannya untuk satu tahun? Sahabatku, persembahan persepuluhan mengembangkan dalam orang-orang Kristen muda roh / kecondongan mempercayai Tuhan dalam urusan-urusan sementara.] - ‘Tithing’, hal 15 (AGES).
Catatan: saya tidak mengerti mengapa ditekankan untuk orang Kristen muda. Bagi saya ini merupakan ujian iman bagi semua orang Kristen, tua ataupun muda.

A. W. Pink: “‘Bring ye all the tithes into the storehouse, that there may be meat in Mine house, and prove Me now herewith, saith the Lord of hosts’ (Malachi 3:10). My friends, that is a startling expression. It is a remarkable expression. God says, ‘Prove Me.’ Those words mean this: Place the Almighty on trial (and it would be sin, it would be positively wicked, for any creature to do so unless he was definitely commanded so to do). ‘Prove Me now herewith’ - with the tithe. In other words, our text tells us to put God to the proof, to test Him out and see what He will do. We are bidden to give Him one-tenth of our income and then to see whether He will let us be the loser or not. ‘Prove Me now herewith.’ I tell you, my friends, my soul is overwhelmed by the amazing condescension of the Most High to place Himself in such a position. God allows Himself to be placed on trial by us, and tithing is a process of proof. Tithing is a means whereby we can demonstrate in the material realm the existence of God and the fact of His governor-ship over all temporal affairs. If you have any shadow of doubt in your mind and heart as to whether or not God exists, or as to whether or not He controls all temporal affairs, you can have that doubt removed by an absolute demonstration of the actuality of God’s existence and of His control over temporal affairs. How? By regularly, faithfully, systematically giving Him one-tenth of your gross income, and then seeing whether He will let you be the loser or not: proving whether He does honor those who honor Him: proving whether He will allow Himself to be any man’s debtor. He says, ‘Prove Me, prove Me, put Me to the test.’ You trembling, fearful saints, never mind if your income is only $1 a day, and you have to scheme and scratch and strain to make both ends meet. Take one-tenth away and devote it to the Lord, and then see if He will remain your debtor. ‘Prove Me now herewith,’ He says. Try Me out and see whether I am worthy of your confidence; put Me to the test and see whether I will disappoint your faith. As we said above, God has appointed tithing as a test of faith, for the development of faith; and if the young Christian would only start by proving God in the material realm, testing Him out in His own appointed way, what a confirmation it would be! How it would enable him to trust God in temporal things - which is one of the hardest things that the average Christian finds to do.” [= ‘Bawalah seluruh persembahan persepuluhan itu ke dalam rumah perbendaharaan, supaya ada persediaan makanan di rumahKu dan ujilah Aku, firman TUHAN semesta alam’ (Mal 3:10). Sahabatku, itu adalah suatu pernyataan yang mengejutkan. Itu adalah suatu pernyataan yang luar biasa. Allah berkata, ‘Ujilah Aku’. Kata-kata itu berarti ini: Tempatkanlah Yang Maha Kuasa pada ujian (dan itu adalah dosa, itu adalah jahat secara positif, bagi makhluk ciptaan manapun untuk melakukan demikian kecuali ia dengan pasti diperintahkan untuk melakukan demikian). ‘Ujilah aku dengan ini’ - dengan persembahan persepuluhan. Dengan kata lain, text kita memberitahu kita untuk membuktikan Allah, untuk menguji Dia dan melihat apa yang akan Ia lakukan. Kita diminta untuk memberi Dia sepersepuluh dari penghasilan kita dan lalu melihat apakah Ia akan membiarkan kita menjadi pecundang atau tidak. ‘Ujilah Aku dengan ini’. Saya memberitahumu sahabatku, jiwaku diliputi / dibanjiri oleh perendahan yang mengherankan dari Yang Maha Tinggi untuk menempatkan diriNya sendiri dalam posisi seperti itu. Allah mengijinkan diriNya sendiri ditempatkan pada ujian oleh kita, dan persembahan persepuluhan adalah suatu proses pembuktian. Pemberian persembahan persepuluhan adalah cara dengan mana kita bisa mendemonstrasikan dalam alam / dunia materi keberadaan dari Allah dan fakta dari pemerintahanNya atas semua urusan sementara. Jika kamu mempunyai keraguan sekecil apapun dalam pikiran dan hatimu berkenaan dengan apakah Allah ada atau tidak, atau berkenaan dengan apakah Ia mengontrol semua urusan-urusan sementara, kamu bisa membuat keraguan itu disingkirkan dengan suatu demonstrasi yang mutlak dari kebenaran tentang keberadaan Allah dan dari kontrolNya atas urusan-urusan sementara. Bagaimana? Dengan secara teratur, secara setia, secara sistimatis, memberi Dia sepersepuluh dari penghasilan kotormu, dan lalu melihat apakah Ia akan membiarkan kamu menjadi pecundang atau tidak: membuktikan apakah Ia memang menghormati mereka yang menghormati Dia: membuktikan apakah Ia akan mengijinkan diriNya sendiri untuk menjadi orang yang berhutang kepada siapapun. Ia berkata, ‘Cobalah Aku, cobalah Aku, ujilah Aku’. Kamu orang-orang kudus yang gemetar dan takut, tak peduli penghasilanmu hanya 1 $ sehari, dan kamu harus merencanakan dan mengumpulkan dengan susah payah dan bersusah payah untuk membuat penghasilan dan pengeluaran sama / setara. Ambillah sepersepuluh darinya dan persembahkanlah kepada Tuhan, dan lalu lihatlah jika Ia akan tinggal sebagai orang yang berhutang kepadamu. ‘Cobalah / Ujilah Aku dengan ini’, Ia berkata. Cobalah Aku dan lihatlah apakah aku layak mendapatkan keyakinanmu; ujilah Aku dan lihatlah apakah Aku akan mengecewakan imanmu. Seperti kami katakan di atas, Allah telah menetapkan persembahan persepuluhan sebagai suatu ujian iman, untuk pengembangan iman; dan jika saja orang Kristen muda mau mulai dengan mencoba / menguji Allah dalam dunia / alam materi, menguji Dia dengan cara yang Ia tetapkan sendiri, alangkah meneguhkannya hal itu! Bagaimana itu akan memampukan dia untuk mempercayai Allah dalam hal-hal sementara - yang merupakan salah satu hal yang tersukar untuk dilakukan orang Kristen rata-rata.] - ‘Thiting’, hal 16-17 (AGES).
Catatan: saya tak setuju dengan yang bagian yang saya beri garis bawah ganda, karena tindakan menguji Tuhan ini hanya berlaku untuk orang percaya, dan tentu tak dimaksudkan supaya seorang atheis bisa menguji Tuhan itu ada atau tidak.
Juga ada perkecualian dalam persoalan ini. Kalau orang memberi persembahan persepuluhan, tetapi tetap hidup jahat, Tuhan tidak memberkatinya, bahkan tetap mengutuknya. Amos 4:1-dst (khususnya ay 4-5).

Amos 4:1-8 - “(1) ‘Dengarlah firman ini, hai lembu-lembu Basan, yang ada di gunung Samaria, yang memeras orang lemah, yang menginjak orang miskin, yang mengatakan kepada tuan-tuanmu: bawalah ke mari, supaya kita minum-minum! (2) Tuhan ALLAH telah bersumpah demi kekudusanNya: sesungguhnya, akan datang masanya bagimu, bahwa kamu diangkat dengan kait dan yang tertinggal di antara kamu dengan kail ikan. (3) Kamu akan keluar melalui belahan tembok, masing-masing lurus ke depan, dan kamu akan diseret ke arah Hermon,’ demikianlah firman TUHAN. (4) ‘Datanglah ke Betel dan lakukanlah perbuatan jahat, ke Gilgal dan perhebatlah perbuatan jahat! Bawalah korban sembelihanmu pada waktu pagi, dan persembahan persepuluhanmu pada hari yang ketiga! (5) Bakarlah korban syukur dari roti yang beragi dan maklumkanlah persembahan-persembahan sukarela; siarkanlah itu! Sebab bukankah yang demikian kamu sukai, hai orang Israel?’ demikianlah firman Tuhan ALLAH. (6) ‘Sekalipun Aku ini telah memberi kepadamu gigi yang tidak disentuh makanan di segala kotamu dan kekurangan roti di segala tempat kediamanmu, namun kamu tidak berbalik kepadaKu,’ demikianlah firman TUHAN. (7) ‘Akupun telah menahan hujan dari padamu, ketika tiga bulan lagi sebelum panen; Aku menurunkan hujan ke atas kota yang satu dan tidak menurunkan hujan ke atas kota yang lain; ladang yang satu kehujanan, dan ladang, yang tidak kena hujan, menjadi kering; (8) penduduk dua tiga kota pergi terhuyung-huyung ke satu kota untuk minum air, tetapi mereka tidak menjadi puas; namun kamu tidak berbalik kepadaKu,’ demikianlah firman TUHAN.”.

Jamieson, Fausset & Brown (tentang Mal 3:8-12): “Prove me now herewith - with this, by doing so. Test me whether I will keep my promise of blessing you, on condition of your doing your part.” [= Cobalah / Ujilah Aku dengan ini - dengan ini, dengan melakukan demikian. Ujilah Aku apakah aku akan menepati janjiKu untuk memberkati kamu, dengan syarat kamu melakukan bagianmu.].

John Courson (tentang Mal 3:10b): Throughout the Word God says, ‘Trust Me.’ But in the area of giving, He says, ‘Prove Me. Bring Me your tithes and offerings and see if I won’t bless you in such a way that you can’t even contain it.’ [= Dalam seluruh Firman, Allah berkata, ‘Percayailah Aku’. Tetapi dalam daerah memberi, Ia berkata, ‘Cobalah / Ujilah Aku. Bawalah kepadaKu persembahan persepuluhanmu dan lihatlah jika Aku tidak akan memberkati engkau dengan cara sedemikian rupa sehingga engkau bahkan tidak bisa menampungnya’.] - ‘John Courson’s Application Commentary’ (Libronix).

Andrew E. Hill (tentang Mal 3:10): “‘Put me to the test!’ The prophetic challenge is not in violation of the prohibition against ‘testing God’ (Deut 6:16). The word for testing in that context (nasah) means to try or prove (or even tempt) from a posture of arrogance and cynical unbelief. The term employed here (bakhan) signifies testing from a posture of honest doubt with the intent to encourage and approve faith in God. The divine invitation to ‘test God’ offers the restoration community an opportunity to ‘prove’ the faithfulness of Yahweh as it relates to his covenant promises with Israel. [= ‘Ujilah Aku!’ Tantangan nubuatan ini bukanlah suatu pelanggaran terhadap larangan ‘mencobai Allah’ (Ul 6:16). Kata untuk ‘menguji’ dalam kontext itu (NASAH) berarti mencoba atau membuktikan / menguji (atau bahkan mencobai) dari suatu postur kesombongan dan ketidak-percayaan yang sinis. Istilah yang digunakan di sini (BAKHAN) berarti menguji dari suatu postur keraguan yang jujur dengan maksud untuk mendorong dan membuktikan iman kepada Allah. Undangan ilahi untuk ‘menguji Allah’ menawarkan masyarakat / komunitas yang dipulihkan itu suatu kesempatan untuk ‘menguji’ kesetiaan Yahweh berkenaan dengan janji-janji perjanjianNya dengan Israel.] - ‘Cornerstone Biblical Commentary’, ‘Minor Prophets’, ‘Hosea - Malachi’ (Libronix).

Elizabeth Achtemeier (tentang Mal 3:7-12): We see such selfish grasping still in existence in the time of Nehemiah (cf. Neh. 13:10–13), but in the light of Judah’s economic circumstances, it is here not too surprising. She has suffered under drought and crop failure and locust plague and blight (cf. Mal. 3:10–11), and when one has little, one is tempted to guard jealously one’s meager stores. ... And the reason for all of that is trust - trust in the God whom we are to know and love with all our heart in the intimate fellowship of every day; trust that we are precious in his sight and that he will not abandon his care of us; trust that his love pours out with it more provision for all our needs than we could ever imagine ... It is to that trust that Malachi here calls his penurious people. ‘Prove me!’ exhorts the Lord of Hosts, ‘Put me to the test’ (v. 10)! Though we are not to test the Lord our God (Deut. 6:16; Matt. 4:7), he here is willing to allow that freedom to his unbelieving people. ‘Respond in love to my love,’ is the exhortation, ‘and see if I do not open the windows of heaven for you and pour down fructifying rain, and rid your crops of devouring locust and protect your vines from blight (vv. 10–11)! See if you do not become a land so delightful in every way that all the nations of the earth will call you blessed’ (v. 12; cf. Isa. 60:3–14; 61:9; 62:1–4, 10–12)! ... But it is not a tit-for-tat arrangement, not a vending machine concept of God, not a bargain by which Judah makes an investment and receives a reward in return. To find in this passage any such legalistic or automatic or materialistic understanding is a complete distortion of the covenant relation with our God. There is a true story of a man in Dade County, Florida, who sued his church for the return of the money which he had contributed to it. ‘I delivered $800 of my savings to the … Church,’ said the man in his court suit, ‘in response to the pastor’s promise that blessings, benefits and rewards would come to the person who did tithe 10 per cent of his wealth. I did not and have not received these benefits.’ That crude bargain is not what is involved here when Judah is admonished to ‘bring the full tithe’ (v. 10). Motivating and accompanying all true gifts to God is the pouring out of our life, our love, our all. [= Kita melihat genggaman egois seperti itu tetap ada dalam jaman Nehemia (bdk. Neh 13:10-13), tetapi dalam terang dari keadaan ekonomi Yehuda, itu tidaklah terlalu mengejutkan. Mereka telah menderita di bawah kekeringan dan kegagalan panen dan wabah belalang dan kutuk (bdk. Mal 3:10-11), dan pada waktu seseorang mempunyai sedikit, ia dicobai untuk menjaga dengan waspada simpanannya yang tipis / sedikit. ... Dan alasan dari semua itu adalah kepercayaan - kepercayaan kepada Allah yang harus kita kenal dan kasihi dengan segenap hati kita dalam persekutuan yang intim setiap hari; kepercayaan bahwa kita berharga dalam pandanganNya dan bahwa Ia tidak akan meninggalkan perhatianNya kepada kita; kepercayaan bahwa kasihNya mencurahkan dengannya pemeliharaan yang lebih untuk semua kebutuhan kita dari pada yang bisa kita bayangkan ... Pada kepercayaan itulah Maleakhi di sini memanggil bangsanya yang pelit / kikir. ‘Ujilah Aku’ desak Tuhan semesta alam, ‘Ujilah Aku’ (ay 10)! Sekalipun kita tidak boleh mencobai Tuhan Allah kita (Ul 6:16; Mat 4:7), Ia di sini mau mengijinkan kebebasan itu bagi umat / bangsaNya yang tidak percaya. ‘Tanggapilah dengan kasih pada kasihKu’, adalah desakannya, ‘dan lihatlah jika Aku tidak membuka jendela-jendela surga bagi kamu dan mencurahkan hujan yang menyebabkan hasil / buah, dan membuang dari panenmu belalang pelahap dan melindungi pohon-pohon anggurmu dari kutuk / penyakit (ay 10-11)! Lihatlah jika kamu tidak menjadi suatu negeri yang begitu menyenangkan dalam setiap hal sehingga semua bangsa di bumi akan menyebut engkau diberkati’ (ay 12; bdk. Yes 60:3-14; 61:9; 62:1-4,10-12)! ... Tetapi ini bukanlah suatu pengaturan balasan, bukan suatu konsep tentang Allah sebagai suatu mesin penjual, bukan suatu tawar-menawar dengan mana Yehuda membuat suatu investasi dan menerima suatu pahala sebagai balasan. Menemukan dalam text ini pengertian legalistik atau otomatis atau materialistik apapun merupakan suatu penyimpangan dari hubungan perjanjian dengan Allah. Ada suatu cerita yang sungguh-sungguh terjadi tentang seseorang di Kabupaten Dade, Florida, yang menuntut gerejanya untuk mengembalikan uang yang telah ia sumbangkan kepadanya. ‘Aku menyerahkan 800 $ dari tabunganku kepada Gereja ...’, kata orang itu dalam gugatan pengadilannya, ‘sebagai tanggapan terhadap janji pendeta bahwa berkat-berkat, keuntungan-keuntungan dan pahala-pahala akan datang kepada orang yang memberikan persembahan persepuluhan 10 % dari kekayaannya. Saya tidak dan belum menerima keuntungan-keuntungan ini’. Tawar-menawar / perdagangan yang kasar / mentah itu bukanlah apa yang terlibat di sini pada waktu Yehuda dinasehati untuk ‘membawa seluruh persembahan persepuluhan’ (ay 10). Memotivasi dan menyertai semua pemberian yang sejati kepada Allah adalah pencurahan dari kehidupan kita, kasih kita, seluruh diri kita.] - ‘Nahum - Malachi Interpretation, A Bible Commentary for Preaching and Teaching’ (Libronix).

Matthew Henry (tentang Mal 3:10-11): When they had but little they should have done the more good with that little, and that would have been the way to make it more; but it is ill with the patient when that which should cure the disease serves only to palliate it, and prevent its being searched into. 4. An earnest exhortation to reform in this matter, with a promise that if they did the judgments they were under should be quickly removed. (1.) Let them take care to do their duty (v. 10): ‘Bring you all the tithes into the storehouse.’ They had brought some; but, like Ananias and Sapphira, had kept back part of the price, pretending they could not spare so much as was required, and necessity has no law; but even necessity must have this law, and it would redress the grievance of their necessity: ‘Bring in the full tithes to the utmost that the law requires, that there may be meat in God’s house for those that serve at the altar, whether there be meat in your houses or no.’ Note, God must be served in the first place, and our quota must be contributed for the support of religion in the place where we live, that God’s name may be sanctified, and his kingdom may come, and his will be done, even before we provide our daily bread; for the interests of our souls ought to be preferred before those of our bodies. (2.) Let them then trust God to provide for them and their comfort ‘Let God be first served, and then prove me herewith, saith the Lord of hosts, whether I will not open the windows of heaven.’ They said, ‘Let God give us our plenty again, as formerly, and try us whether we will not then bring him his tithes and offerings, as we did formerly.’ ‘No,’ says God, ‘do you first bring in all your tithes as they become due, and all the arrears of what is past, and try me, whether I will not then restore you your plenty.’ Note, Those that will deal with God must deal upon trust; and we may all venture to do so, for, though many have been losers for him, never any were losers by him in the end. It is fit that we should venture first, for his reward is with him, but his work is before him; we must first do the work which is our part, and then try him and trust him for the reward. Elijah put the widow of Zarephath into this method when he said (1 Kings 17:13), ‘Make me a little cake first, and then prove me whether there shall not be enough afterwards for thee and thy son.’ That which discourages people from the expenses of charity is the weakness of their faith concerning the gains and advantages of charity; they cannot think that they shall get by it.[= Pada waktu mereka mempunyai hanya sedikit mereka harus melakukan lebih banyak hal baik dengan yang sedikit itu, dan itu adalah jalan untuk membuatnya lebih banyak; tetapi merupakan sesuatu yang buruk dengan si pasien pada waktu hal yang seharusnya menyembuhkan penyakitnya berfungsi hanya untuk menutupinya, dan mencegah penyelidikan terhadapnya. 4. Suatu desakan yang sungguh-sungguh untuk mereformasi dalam persoalan ini, dengan suatu janji bahwa jika mereka melakukannya penghakiman di atas mereka akan dibuang dengan cepat. (1.) Hendaklah mereka berhati-hati untuk melakukan kewajiban mereka (ay 10): ‘Bawalah SELURUH persembahan persepuluhan ke dalam rumah perbendaharaan’. Mereka telah membawa sebagian; tetapi, seperti Ananias dan Safira, telah menahan sebagian dari harga, berpura-pura mereka tidak bisa memberikan sebanyak yang dituntut, dan kebutuhan tidak mempunyai hukum; tetapi bahkan kebutuhan harus mempunyai hukum ini, dan itu akan menyembuhkan kesedihan dari kebutuhan mereka: ‘Bawalah seluruh persembahan persepuluhan sampai batas yang hukum Taurat tuntut, supaya di sana ada makanan dalam rumah Allah bagi mereka yang melayani mezbah, apakah disana ada makanan di rumahmu atau tidak’. Perhatikan, Allah harus dilayani di tempat pertama, dan bagian kita harus dikontribusikan untuk menyokong agama di tempat dimana kita hidup, supaya nama Allah bisa dikuduskan, dan kerajaanNya bisa datang, dan kehendakNya akan terjadi, bahkan sebelum kita menyediakan roti harian kita; karena kepentingan dari jiwa kita harus didahulukan sebelumkepentingan dari tubuh kita. (2.) Maka hendaklah mereka mempercayai Allah untuk menyediakan bagi mereka dan sokongan mereka. ‘Hendaklah Allah dilayani pertama / dahulu, dan lalu ujilah Aku dengan ini, kata Tuhan semesta alam, apakah Aku tidak akan membuka jendela-jendela surga’. Mereka berkata, ‘Hendaklah Allah memberi kita kelimpahan kita lagi, seperti sebelumnya, dan mencoba / menguji kita apakah kita tidak akan membawa kepadaNya persembahan persepuluhan dan persembahanNya, seperti yang kita lakukan sebelumnya’. ‘Tidak’, kata Allah, ‘Kamu pertama-tama membawa seluruh persembahan persepuluhanmu pada saatnya, dan semua hutang dari apa yang sudah lalu, dan ujilah Aku, apakah pada saat itu Aku tidak akan memulihkan kelimpahanmu’. Perhatikan, Mereka yang mau berurusan dengan Allah harus berurusan berdasarkan kepercayaan; dan kita semua bisa mengambil resiko untuk melakukan demikian, karena sekalipun banyak orang menjadi pecundang untuk Dia, tidak pernah ada siapapun adalah pecundang oleh Dia pada akhirnya. Adalah cocok bahwa kita mengambil resiko dahulu, karena pahalaNya ada bersama Dia, tetapi pekerjaanNya ada di depanNya; kita harus pertama-tama melakukan pekerjaan yang merupakan bagian kita, dan lalu menguji Dia dan mempercayai Dia untuk pahalanya. Elia meletakkan janda Sarfat ke dalam metode ini pada waktu ia berkata (1Raja 17:13), ‘Buatlah bagiku sebuah kue kecil dahulu, dan lalu ujilah aku apakah di sana tidak akan ada cukup setelahnya bagimu dan anakmu’. Hal yang mengecilkan hati dari pengeluaran kasih / sedekah adalah kelemahan iman mereka berkenaan dengan keuntungan dan manfaat dari kasih / sedekah; mereka tidak bisa memikirkan bahwa mereka akan mendapatkan olehnya.].
Catatan: orang-orang yang anti persembahan persepuluhan mengatakan bahwa merupakan suatu kekejaman untuk menyuruh orang yang sedang kekurangan untuk tetap memberikan persembahan persepuluhan. Mereka bisa berpikir seperti ini karena mereka hanya menggunakan logika manusia. Mereka lupa, kalau Tuhan tak bisa dinilai dengan logika! Dia ada di atas logika. Mereka juga lupa bahwa orang sering kekurangan karena itu merupakan hukuman Tuhan gara-gara mereka tidak memberi persembahan persepuluhan. Makin mereka tidak mau memberi persembahan persepuluhan, makin mereka kekurangan. Tetapi kalau mereka berani melangkah dengan iman, dan memberikan persembahan persepuluhan dengan kasih, maka Tuhan justru akan memberkati sehingga mereka menjadi cukup!

R. C. Sproul: “A second argument that people give to avoid the tithe is that they ‘cannot afford it.’ What that statement really means is that they cannot pay their tithe and pay all the other expenses they have incurred. Again, in their minds the tithe is the last resort in the budget. Their giving to God is something that is at the bottom of their list of priorities. It’s a weak argument before God to say, ‘Lord, I didn’t tithe because I couldn’t afford it’ - especially when we consider that the poorest among us has a higher standard of living than ninety-nine percent of the people who have ever walked on the face of the earth. ... In the text in Malachi, we find something exceedingly rare coming from the lips of God. Here God challenges His people to put Him to a test:  ‘Put me to the test, says the Lord of hosts, if I will not open the windows of heaven for you and pour down for you a blessing until there is no more need’ (3:10). Have you put God to that test? Have you tried Him to see if He will not open heaven itself and empty His own treasuries upon you? We need to stop robbing Him and thus receive from Him the blessing that He promises.” [= Argumentasi kedua yang orang-orang berikan untuk menghindari persembahan persepuluhan adalah bahwa mereka ‘tidak bisa mengusahakannya’. Apa arti sesungguhnya dari pernyataan itu adalah bahwa mereka tidak bisa memberi persembahan persepuluhan mereka dan membayar semua pengeluaran lain yang telah mereka adakan. Lagi-lagi, dalam pemikiran mereka persembahan persepuluhan adalah hal terakhir dalam perencanaan pengeluaran. Pemberian mereka kepada Allah adalah sesuatu yang ada di dasar dari daftar prioritas mereka. Merupakan suatu argumentasi yang lemah di hadapan Allah untuk mengatakan, ‘Tuhan, aku tidak memberi persembahan persepuluhan karena aku tidak bisa mengusahakannya’ - khususnya pada waktu kita mempertimbangkan bahwa yang paling miskin di antara kita (penduduk Amerika Serikat) mempunyai standard hidup yang lebih tinggi dari pada 99 % dari orang-orang yang pernah berjalan di muka bumi. ... Dalam text Maleakhi, kita mendapati sesuatu yang sangat jarang keluar dari bibir Allah. Di sini Allah menantang bangsa / umatNya untuk menguji Dia: ‘Ujilah Aku, kata Tuhan semesta alam, jika Aku tidak akan membuka jendela-jendela surga dan mencurahkan untukmu suatu berkat sampai di sana tidak ada lagi kebutuhan’ (3:10). Sudahkan kamu menguji Allah? Sudahkah kamu mencoba / menguji Dia untuk melihat jika Ia tidak akan membuka surga sendiri dan mengosongkan perbendaharaanNya bagi kamu? Kita perlu / harus berhenti merampok Dia dan lalu menerima dari Dia berkat yang Ia janjikan.] - http://www.ligonier.org/learn/articles/will-man-rob-god/

Peter C. Craigie (tentang Mal 3:6-12): The consequence of the nation’s robbery was the experience of the divine curse: if they knew not how to give, they would receive less and less. ... In keeping their tithes and offerings to themselves, they acted as if they owned all that they had. Their attitude towards property was not one of stewardship, according to which their possessions were held as a sacred trust from God, but one of ownership. What they had belonged to them; it was up to them to decide whether any portion of it should be given to God. And there is an irony in the situation: they actually had much less than they might have had, in part because their selfish and tight-fisted attitudes towards property had reduced their capacity for growth. ... The person who is stingy with wealth, refusing to give to God or to other persons, betrays a deep-seated lack of belief. Such persons do not really believe that God, if there is a God, has had any hand in making and giving them what they are and what they have. The proud and confident self-made person has at bottom little faith. And having little faith, such a person sees no need to give generously to the temple and to the support of God’s larger work in the world. Small giving and small faith go hand in hand together, and indeed the former may be a symptom of the latter. But the prophet makes something else clear: small giving and small faith lay the foundation for small receiving. Persons who do not give generously are ill-equipped to be the recipients of generosity. The positive point which the prophet makes is a delicate one, prone to misunderstanding. It is that the one who gives generously to God may receive bountifully from God. It cannot be reduced, as sometimes happens, to a formula for success in business: if you give such and such, you can be sure that your profits will rise phenomenally year after year! The principle is rooted more in the health of the relationship a person has with God. It is in the nature of rich relationships that the partners want to give to each other from what they have. But when one partner is stingy, that meanness inevitably affects the quality of the relationship and affects the capacity of the other partner to give. The generous giving to God from a full heart naturally results in the rich blessing of the One with whom we have a relationship. The blessing may be in physical or spiritual form, but is none the less real in either kind. Malachi addressed a community stingy at heart, and its failure to give to God and temple became a blight on the nation’s personality as a whole. But sadly the prophet did not address a rare or unique social situation. The Church, through many generations, has recreated in its life the conditions of Malachi’s time, making his message ever timely. [= Konsekwensi dari perampokan bangsa itu adalah pengalaman tentang kutuk ilahi: jika mereka tidak tahu bagaimana memberi, mereka akan menerima makin lama makin sedikit. ... Dalam menahan persembahan persepuluhan dan persembahan mereka bagi diri mereka sendiri, mereka bertindak seakan-akan mereka memiliki semua yang mereka punyai. Sikap mereka terhadap milik / harta bukanlah sikap dari pengurus, sesuai dengan milik mereka sebagai suatu kepercayaan kudus dari Allah, tetapi sikap dari pemilik. Apa yang mereka punyai adalah milik mereka; adalah hak mereka untuk memutuskan apakah bagian manapun darinya harus diberikan kepada Allah. Dan ada suatu ironi dalam situasi ini: mereka benar-benar mempunyai makin lama makin sedikit dari pada yang bisa mereka miliki, sebagian karena sikap egois dan pelit terhadap milik / harta telah menurunkan kapasitas mereka untuk pertumbuhan. ... Orang yang kikir / pelit dengan kekayaan, menolak untuk memberi kepada Allah atau kepada orang-orang lain, menyingkapkan suatu ketidak-percayaan yang ada di dalam. Orang-orang seperti itu tidak sungguh-sungguh percaya bahwa Allah, jika di sana ada Allah, menolong dan membuat dan memberi mereka apa adanya mereka dan apa yang mereka miliki. Orang yang membuat dirinya sendiri sombong dan yakin pada dasarnya mempunyai iman yang kecil. Dan karena mempunyai iman yang kecil, orang seperti itu tidak melihat suatu kebutuhan untuk memberi dengan murah hati bagi Bait Suci dan bagi sokongan dari pekerjaan Allah yang lebih besar dalam dunia. Pemberian yang kecil dan iman yang kecil berjalan bersama-sama, dan memang yang lebih dulu bisa merupakan suatu gejala dari yang belakangan. Tetapi sang nabi membuat jelas sesuatu yang lain: pemberian yang kecil dan iman yang kecil meletakkan fondasi untuk penerimaan yang kecil. Orang-orang yang tidak memberi dengan murah hati diperlengkapi secara buruk untuk menjadi penerima-penerima dari kemurahan. Hal yang positif yang sang nabi buat adalah sesuatu yang harus ditangani dengan hati-hati, cenderung pada kesalah-mengertian. Itu adalah bahwa orang yang memberi dengan murah hati kepada Allah bisa menerima secara berlimpah-limpah dari Allah. Itu tidak bisa diturunkan, seperti kadang-kadang terjadi, menjadi suatu formula untuk kesuksesan dalam bisnis: jika engkau memberi ini dan itu, kamu bisa yakin bahwa keuntunganmu akan meningkat secara luar biasa tahun demi tahun! Prinsipnya berakar lebih dalam kesehatan dari hubungan yang orang itu miliki dengan Allah. Adalah dalam hakekat / sifat dasar dari hubungan yang kaya sehingga partner-partner ingin saling memberi dari apa yang mereka miliki. Tetapi pada waktu satu partner pelit / kikir, kekikiran itu secara tak terhindarkan mempengaruhi kwalitet dari hubungan itu dan mempengaruhi kapasitas dari partner yang lain untuk memberi. Pemberian yang murah hati kepada Allah dari suatu hati yang penuh secara alamiah menghasilkan berkat yang kaya dari Dia dengan siapa kita mempunyai suatu hubungan. Berkat bisa ada dalam bentuk fisik atau rohani, tetapi bagaimanapun merupakan berkat yang sungguh-sungguh dalam jenis yang manapun. Maleakhi berbicara kepada suatu masyarakat yang pelit hatinya, dan kegagalan mereka untuk memberi kepada Allah dan Bait Suci menjadi suatu kutuk pada kepribadian bangsa itu secara keseluruhan. Tetapi yang menyedihkan, sang nabi tidak berbicara pada suatu keadaan sosial yang jarang atau unik. Gereja, melalui banyak generasi, telah menciptakan kembali dalam kehidupannya keadaan dari jaman Maleakhi, membuat pesan / beritanya selalu cocok.] - ‘THE DAILY STUDY BIBLE SERIES’, ‘TWELVE PROPHETS’, Vol 2 (Libronix)

Andrew E. Hill (tentang Mal 3:6-12): Malachi recognized that the ‘robbery’ of God in the failure to pay the tithe and the tithe-tax was merely a symptom of a more serious cancer. The stinginess of postexilic Judah was rooted in unbelief. Only by returning to a posture of faith and reverence could the people experience the wisdom of the sage: ‘Give freely and become more wealthy; be stingy and lose everything’ (Prov 11:24). Malachi understood that turning to God in spiritual renewal must begin somewhere, and God himself decreed the practical act of obedience to the Mosaic laws regulating the tithe as an important first step in reasserting the community’s fidelity in covenant relationship with Yahweh. [= Maleakhi mengenali bahwa ‘perampokan’ terhadap Allah dalam kegagalan memberi persembahan persepuluhan dan pajak persembahan persepuluhan adalah semata-mata suatu gejala dari suatu kanker yang lebih serius. Kekikiran dari Yehuda setelah pembuangan berakar pada ketidak-percayaan. Hanya dengan kembali pada suatu postur dari iman dan hormat bangsa itu bisa mengalami hikmat dari orang bijaksana: ‘Berilah dengan bebas / murah hati dan menjadi makin kaya; jadilah kikir dan kehilangan segala sesuatu’ (Amsal 11:24). Maleakhi mengerti bahwa kembali kepada Allah dalam pembaharuan rohani harus mulai di suatu tempat, dan Allah sendiri menetapkan tindakan ketaatan yang praktis terhadap hukum Taurat Musa yang mengatur persembahan persepuluhan sebagai suatu langkah pertama yang penting dalam menegaskan kembali kesetiaan masyarakat dalam hubungan perjanjian dengan Yahweh.] - ‘Cornerstone Biblical Commentary’, ‘Minor Prophets’ (Libronix).
Amsal 11:24 - Ada yang menyebar harta, tetapi bertambah kaya, ada yang menghemat secara luar biasa, namun selalu berkekurangan.”.
Catatan: penafsir ini menggunakan Amsal 11:24 dari versi NLT (New Living Translation).

Semua alasan-alasan untuk memberikan persembahan persepuluhan (point a-g) yang telah saya berikan diatas, tetap sama dalam Perjanjian Lama maupun dalam Perjanjian Baru. Dan karena itu, kalau dalam Perjanjian Lama persembahan persepuluhan diharuskan, adalah tak masuk akal kalau dalam Perjanjian Baru persembahan persepuluhan dihapuskan!

Penutup.

Sebagai penutup ada 2 hal yang ingin saya berikan:

1)         Kita harus memilih tindakan ‘yang aman’ dalam keadaan tidak yakin.

a)   Sebagai jemaat biasa.
Kalau saudara masih belum yakin tentang keharusan memberikan persembahan persepuluhan dalam jaman Perjanjian Baru, kalau dalam hati saudara masih ada pro kontra tentang apakah hukum tentang persembahan persepuluhan masih berlaku atau tidak dalam jaman Perjanjian Baru, maka apa yang harus saudara lakukan? Memberi atau tidak memberi persembahan persepuluhan?
Kalau saudara tidak memberi persembahan persepuluhan dan ternyata hukum tentang persembahan persepuluhan masih berlaku, maka saudara berdosa dan merampok Allah. Tetapi sebaliknya, kalau saudara memberi persembahan persepuluhan, dan ternyata hukum tentang persembahan persepuluhan sebetulnya sudah tidak berlaku, maka saudara tidak bersalah apa-apa.
Jadi, mana yang harus dipilih? Jelas bahwa saudara harus memberi persembahan persepuluhan. Itu adalah tindakan ‘yang aman’ dalam keadaan tidak yakin.

b)   Sebagai pendeta / pengajar firman.
Hal yang sama harus dilakukan oleh seorang pengajar firman yang tidak yakin apakah orang Kristen harus memberikan persembahan persepuluhan. Bagaimana ia harus mengajar jemaat tentang hal ini? Boleh saja ia mengatakan kepada jemaat bahwa ia tidak yakin dalam hal itu. Tetapi apakah ia harus menganjurkan mereka untuk memberi persembahan persepuluhan atau tidak?
Kalau ia menganjurkan jemaat memberi padahal sebetulnya hukum tentang persembahan persepuluhan sudah tidak berlaku, maka ia tetap tidak mengajarkan sesuatu yang salah. Tetapi kalau ia mengatakan jemaat tak perlu memberi, padahal hukum tentang persembahan persepuluhan masih berlaku, maka ia mengajar jemaat untuk merampok milik Allah!
Jadi, lagi-lagi menurut saya ia seharusnya menganjurkan jemaat tetap memberi persembahan persepuluhan.

2)         Apakah 10 % dari penghasilan itu terlalu besar untuk diberikan kepada Tuhan?

Barnes’ Notes (tentang Mal 3:10): “He asketh of thee ‘first-fruits and tithes.’ Niggard, what wouldest thou do, if He took nine parts to Himself, and left thee the tenth? What if He said to thee; ‘Man, thou art Mine, Who made thee; Mine is the land which thou tillest; Mine are the seeds, which thou sowest; Mine are the animals, which thou weariest; Mine are the showers, Mine the winds, Mine the sun’s heat; and since Mine are all the elements, whereby thou livest, thou who givest only the labor of thine hands, deservest only the tithes.’ But since Almighty God lovingly feeds us, He gives most ample reward to us who labor little: claiming to Himself the tithes only, He has condoned us all the rest.” [= Ia meminta darimu ‘hasil / buah pertama dan persembahan persepuluhan’. Orang kikir / pelit, apa yang akan kamu lakukan, jika Ia mengambil 9 bagian bagi diriNya sendiri, dan meninggalkan engkau sepersepuluh? Bagaimana seandainya Ia berkata kepadamu: ‘Manusia, engkau adalah milikKu, Yang membuat engkau; PunyaKulah tanah yang kaukerjakan; punyaKulah benihnya, yang kautaburkan; punyaKulah binatang-binatang, yang kau lelahkan; PunyaKulah hujan, punyaKulah angin, punyaKulah panas matahari; dan karena punyaKulah semua elemen-elemen itu, dengan mana engkau hidup, engkau yang hanya memberi jerih payah dari tanganmu, layak mendapat hanya sepersepuluh / persepuluhannya’. Tetapi karena Allah Yang Maha Kuasa dengan penuh kasih memberi makan kita, Ia memberi pahala / upah yang paling cukup kepada kita yang berjerih payah sedikit: menuntut bagi diriNya sendiri hanya sepersepuluh / persepuluhannya, Ia telah menyerahkan / memberikan kepada kita semua sisanya.].

-o0o-

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar