About us

Golgotha Ministry adalah pelayanan dari Pdt. Budi Asali,M.Div dibawah naungan GKRI Golgota Surabaya untuk memberitakan Injil ke seluruh dunia dan mengajarkan kebenaran firman Tuhan melalui khotbah-khotbah, pendalaman Alkitab, perkuliahan theologia dalam bentuk tulisan maupun multimedia (DVD video, MP3, dll). Pelayanan kami ini adalah bertujuan agar banyak orang mengenal kebenaran; dan bagi mereka yang belum percaya, menjadi percaya kepada Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadinya, dan bagi mereka yang sudah percaya, dikuatkan dan didewasakan didalam iman kepada Kristus.
Semua yang kami lakukan ini adalah semata-mata untuk kemuliaan nama Tuhan Yesus Kristus.

Kami mengundang dengan hangat setiap orang yang merasa diberkati dan terbeban didalam pelayanan untuk bergabung bersama kami di GKRI Golgota yang beralamat di : Jl. Raya Kalirungkut, Pertokoan Rungkut Megah Raya D-16, Surabaya.

Tuhan Yesus memberkati.

Selasa, 29 Mei 2012

MAUT / KEMATIAN (5)



5) Jadi, kalau terjadi kematian, pada ujung yang terakhir, Tuhanlah yang menentukan dan mengatur terjadinya hal itu. Mati hidupnya semua makhluk betul-betul secara mutlak tergantung kepada Tuhan.

a) Kis 17:28 - “Sebab di dalam Dia kita hidup, kita bergerak, kita ada, seperti yang telah juga dikatakan oleh pujangga-pujanggamu: Sebab kita ini dari keturunan Allah juga”.

Calvin (tentang Kis 17:28): we have our being in him, inasmuch as by his Spirit he keepeth us in life, and upholdeth us. For the power of the Spirit is spread abroad throughout all parts of the world, that it may preserve them in their state; that he may minister unto the heaven and earth that force and vigor which we see, and motion to all living creatures. ... God doth, by the wonderful power and inspiration of his Spirit, preserve those things which he hath created of nothing. ... We have not only no life but in God, but not so much as moving; yea, no being, which is inferior to both (= kita mempunyai keberadaan kita di dalam Dia, karena oleh RohNya Ia menjaga kita dalam kehidupan, dan menegakkan / menguatkan kita. Karena kuasa dari Roh tersebar dengan luas di semua bagian dari dunia / alam semesta, supaya itu bisa memelihara mereka dalam keadaan mereka; supaya Ia bisa menyuplai langit dan bumi dengan kekuatan / tenaga dan kegiatan yang kita lihat, dan gerakan kepada semua makhluk hidup. ... Allah, oleh kuasa yang luar biasa dan ilham RohNya, memang menjaga / memelihara hal-hal itu, yang telah Ia ciptakan dari tidak ada. ... Kita bukan hanya tidak mempunyai kehidupan kecuali di dalam Allah, tetapi bahkan pergerakan; ya, tidak mempunyai keberadaan, yang merupakan sesuatu yang lebih rendah dari keduanya).

Lenski: “‘for in him we live and move and are.’ ‘To live’ is more than ‘to move’, which even the inanimate creatures may do; ‘to move’ is more than merely ‘to be, to exist’. Here, then, is an anticlimax. Man should be cognizant of God, for without him he could not live for a moment, could not move hand or foot, could not in any way even exist (= ‘karena di dalam Dia kita hidup, dan kita bergerak, dan kita ada’. ‘Hidup’ adalah lebih dari pada ‘bergerak’, yang bahkan makhluk-makhluk yang tak bernyawa bisa melakukan; ‘bergerak’ adalah lebih dari pada semata-mata ‘ada’. Maka di sini, ada suatu anti klimax. Manusia harus sadar / tahu tentang Allah, karena tanpa Dia ia tidak bisa hidup sesaatpun, tidak bisa menggerakkan tangan atau kaki, tidak bisa dengan cara apapun bahkan untuk tetap ada).
Catatan: di sini orang Arminian ini jadi Reformed!

Matthew Henry: “‘That in him we live, and move, and have our being,’ v. 28. We have a necessary and constant dependence upon his providence, as the streams have upon the spring, and the beams upon the sun. (1.) ‘In him we live;’ that is, the continuance of our lives is owing to him and the constant influence of his providence; he is our life, and the length of our days. It is not only owing to his patience and pity that our forfeited lives are not cut off, but it is owing to his power, and goodness, and fatherly care, that our frail lives are prolonged. There needs not a positive act of his wrath to destroy us; if he suspend the positive acts of his goodness, we die of ourselves. (2.) ‘In him we move;’ it is by the uninterrupted concourse of his providence that our souls move in their outgoings and operations, that our thoughts run to and fro about a thousand subjects, and our affections run out towards their proper objects. It is likewise by him that our souls move our bodies; we cannot stir a hand, or foot, or a tongue, but by him, who, as he is the first cause, so he is the first mover. (3.) ‘In him we have our being;’ not only from him we had it at first, but in him we have it still; to his continued care and goodness we owe it, not only that we have a being and are not sunk into nonentity, but that we have our being, have this being, were and still are of such a noble rank of beings, capable of knowing and enjoying God; and are not thrust into the meanness of brutes, nor the misery of devils [= ‘Sebab di dalam Dia kita hidup, kita bergerak, kita ada’, ay 28. Kita mempunyai suatu ketergantungan yang perlu dan tetap pada ProvidensiaNya; Ia adalah kehidupan kita, seperti sungai mempunyai ketergantungan pada sumber, dan sinar-sinar mempunyai ketergantungan pada matahari. (1.) ‘Dalam Dia kita hidup’; artinya, kelanjutan dari hidup kita berhutang budi kepadaNya dan pengaruh tetap dari ProvidensiaNya; Ia adalah kehidupan kita, dan panjangnya hari-hari kita. Itu bukan hanya berhutang budi kepada kesabaran dan belas kasihanNya sehingga kehidupan kita yang hilang tidak dipotong, tetapi itu merupakan hutang budi pada kuasa, dan kebaikan, dan pemeliharaan kebapaanNya, maka kehidupan kita yang lemah diperpanjang. Tidak dibutuhkan suatu tindakan positif dari murkaNya untuk menghancurkan kita; jika Ia menghentikan tindakan-tindakan positif dari kebaikanNya, kita mati dengan sendirinya. (2.) ‘Dalam Dia kita bergerak’; adalah oleh gerakan terus menerus dari ProvidensiaNya maka jiwa kita bergerak dalam kepergian dan operasi mereka, sehingga pikiran kita pergi ke sana kemari tentang seribu subyek, dan perasaan kita lari keluar kepada obyek-obyek yang benar. Juga olehNya bahwa jiwa kita menggerakkan tubuh kita; kita tidak bisa mengerakkan tangan, kaki atau lidah, kecuali oleh Dia, yang, sebagaimana Ia adalah penyebab pertama, demikian juga Ia adalah penggerak pertama. (3.) ‘Dalam Dia kita mempunyai keberadaan kita’; bukan hanya dari Dia kita mula-mula mempunyainya, tetapi dalam Dia kita tetap mempunyainya; pada pemeliharaan dan kebaikanNya yang terus menerus kita berhutang hal itu, bukan hanya bahwa kita mempunyai suatu keberadaan dan tidak tenggelam dalam ketidak-adaan, tetapi bahwa kita mempunyai keberadaan kita, mempunyai keberadaan ini, dulu adalah dan tetap adalah, suatu rangking keberadaan yang mulia, mampu untuk mengenal dan menikmati Allah; dan tidak didorong / dimasukkan ke dalam keburukan dari binatang-binatang, ataupun kesengsaraan dari setan-setan].

b) Ayub 12:7-25 - “(7) Tetapi bertanyalah kepada binatang, maka engkau akan diberinya pengajaran, kepada burung di udara, maka engkau akan diberinya keterangan. (8) Atau bertuturlah kepada bumi, maka engkau akan diberinya pengajaran, bahkan ikan di laut akan bercerita kepadamu. (9) Siapa di antara semuanya itu yang tidak tahu, bahwa tangan Allah yang melakukan itu; (10) bahwa di dalam tanganNya terletak nyawa segala yang hidup dan nafas setiap manusia? (11) Bukankah telinga menguji kata-kata, seperti langit-langit mencecap makanan? (12) Konon hikmat ada pada orang yang tua, dan pengertian pada orang yang lanjut umurnya. (13) Tetapi pada Allahlah hikmat dan kekuatan, Dialah yang mempunyai pertimbangan dan pengertian. (14) Bila Ia membongkar, tidak ada yang dapat membangun kembali; bila Ia menangkap seseorang, tidak ada yang dapat melepaskannya. (15) Bila Ia membendung air, keringlah semuanya; bila Ia melepaskannya mengalir, maka tanah dilandanya. (16) Pada Dialah kuasa dan kemenangan, Dialah yang menguasai baik orang yang tersesat maupun orang yang menyesatkan. (17) Dia yang menggiring menteri dengan telanjang, dan para hakim dibodohkanNya. (18) Dia membuka belenggu yang dikenakan oleh raja-raja dan mengikat pinggang mereka dengan tali pengikat. (19) Dia yang menggiring dan menggeledah para imam, dan menggulingkan yang kokoh. (20) Dia yang membungkamkan orang-orang yang dipercaya, menjadikan para tua-tua hilang akal. (21) Dia yang mendatangkan penghinaan kepada para pemuka, dan melepaskan ikat pinggang orang kuat. (22) Dia yang menyingkapkan rahasia kegelapan, dan mendatangkan kelam pekat pada terang. (23) Dia yang membuat bangsa-bangsa bertumbuh, lalu membinasakannya, dan memperbanyak bangsa-bangsa, lalu menghalau mereka. (24) Dia menyebabkan para pemimpin dunia kehilangan akal, dan membuat mereka tersesat di padang belantara yang tidak ada jalannya. (25) Mereka meraba-raba dalam kegelapan yang tidak ada terangnya; dan Ia membuat mereka berjalan terhuyung-huyung seperti orang mabuk.’”.
Ayub 12:16 (NIV): To him belong strength and victory; both deceived and deceiver are his (= Pada Dialah kekuatan dan kemenangan; baik penipu dan yang ditipu adalah milikNya).

Matthew Henry (tentang Ayub 12:12-25): This is a noble discourse of Job’s concerning the wisdom, power, and sovereignty of God, in ordering and disposing of all the affairs of the children of men, according to the counsel of his own will, which none dares gainsay or can resist (= Ini merupakan suatu percakapan yang mulia dari Ayub berkenaan dengan hikmat, kuasa dan kedaulatan dari Allah, dalam mengatur dan menentukan semua urusan dari anak-anak manusia, sesuai dengan rencana dari kehendakNya, yang tak seorangpun berani menyangkal atau bisa menolak / menahannya).

c) Ul 32:39 - “Lihatlah sekarang, bahwa Aku, Akulah Dia. Tidak ada Allah kecuali Aku. Akulah yang mematikan dan yang menghidupkan, Aku telah meremukkan, tetapi Akulah yang menyembuhkan, dan seorangpun tidak ada yang dapat melepaskan dari tanganKu”.
Bdk. 1Sam 2:6 - TUHAN mematikan dan menghidupkan, Ia menurunkan ke dalam dunia orang mati dan mengangkat dari sana”.
Bandingkan juga dengan ayat-ayat ini:
1. Kej 38:7,10 - “(7) Tetapi Er, anak sulung Yehuda itu, adalah jahat di mata TUHAN, maka TUHAN membunuh dia. ... (10) Tetapi yang dilakukannya itu adalah jahat di mata TUHAN, maka TUHAN membunuh dia juga.
2. 2Sam 6:7 - “Maka bangkitlah murka TUHAN terhadap Uza, lalu Allah membunuh dia di sana karena keteledorannya itu; ia mati di sana dekat tabut Allah itu”.

d) Maz 90:3 - Engkau mengembalikan manusia kepada debu, dan berkata: ‘Kembalilah, hai anak-anak manusia!’”.

e) Maz 73:18-19 - “(18) Sesungguhnya di tempat-tempat licin Kautaruh mereka, Kaujatuhkan mereka sehingga hancur. (19) Betapa binasa mereka dalam sekejap mata, lenyap, habis oleh karena kedahsyatan!”.

f) Yes 40:6-8 - “(6) Ada suara yang berkata: ‘Berserulah!’ Jawabku: ‘Apakah yang harus kuserukan?’ ‘Seluruh umat manusia adalah seperti rumput dan semua semaraknya seperti bunga di padang. (7) Rumput menjadi kering, bunga menjadi layu, apabila TUHAN menghembusnya dengan nafasNya. Sesungguhnyalah bangsa itu seperti rumput. (8) Rumput menjadi kering, bunga menjadi layu, tetapi firman Allah kita tetap untuk selama-lamanya.’”.

E. J. Young: Men of flesh are weak and mortal; their life is brief and soon comes to an end. In this respect it is like the grass, for under the burning rays of the sun the grass may soon dry up. ... There is a reason for these widely observed facts, namely, that the breath of the Lord blows upon the grass and the flower. ... Isaiah employs a picture of someone blowing upon the grass and flowers with the result that all moisture is taken from them and they become dried up and wither. ... Possibly it is of this wind that the prophet is thinking when he speaks of the breath (RUACH) of the Lord, for the wind is an elemental manifestation of the Lord’s breath. A contemplation of the transitory and temporal character of the grass and flowers leads the prophet to exclaim that what is true of them is also true of the people (= Manusia dari daging adalah lemah dan fana; kehidupan mereka singkat dan segera sampai pada akhirnya. Dalam hal ini itu seperti rumput, karena di bawah sinar matahari yang membakar rumput bisa segera kering. ... Disana ada suatu alasan untuk fakta-fakta yang diperhatikan secara luas, yaitu bahwa nafas Tuhan menghembus pada rumput dan bunga. ... Yesaya menggunakan suatu gambaran dari seseorang yang menghembus / meniup pada rumput dan bunga-bunga dengan akibat bahwa semua embun / air diambil dari mereka dan mereka menjadi kering dan layu. ... Mungkin adalah tentang angin ini sang nabi sedang berpikir pada waktu ia mengatakan tentang nafas (RUAKH) dari Tuhan, karena angin adalah suatu manifestasi dasar dari nafas Tuhan. Suatu perenungan tentang karakter yang fana dan sementara dari rumput dan bunga-bunga membimbing sang nabi untuk berseru bahwa apa yang benar tentang mereka juga adalah benar tentang orang-orang).

Calvin: as soon as the Lord has breathed upon them, all their strength and beauty perish and decay. But it may be thought that he assigns to ‘the Spirit of God’ an office which is greatly at variance with his nature; for it belongs to him ‘to renew by his power the face of the earth.’ (Psalm 104:30.) On the other hand, if the Lord withdraw his Spirit, all is reduced to nothing. Here Isaiah asserts what is exceedingly different, and appears to contradict David. But there is no absurdity in saying that all things are renewed by the power of the Spirit, and again, that what formerly appeared to be something is reduced to nothing; for we are nothing but in God, and, in order that we may begin to be something in him, we must first be convinced, and made thoroughly to know, that we are vanity. Therefore does the Lord breathe upon us, that we may know that of ourselves we are nothing. [= begitu Tuhan menghembuskan nafas kepada mereka, semua kekuatan dan keindahan mereka binasa dan membusuk. Tetapi bisa dipikirkan bahwa ia memberikan kepada ‘Roh Allah’ suatu fungsi yang sangat berbeda dengan sifat dasarNya; karena adalah milikNya ‘untuk memperbaharui oleh kuasaNya permukaan bumi’ (Maz 104:30). Di sisi lain, jika Tuhan menarik RohNya, semua dimusnahkan menjadi nihil. Di sini Yesaya menegaskan apa yang sangat berbeda, dan kelihatannya menentang Daud. Tetapi disana tidak ada yang menggelikan dalam mengatakan bahwa segala sesuatu diperbaharui oleh kuasa Roh, dan lalu, bahwa apa yang tadinya kelihatan sebagai sesuatu, dimusnahkan menjadi nihil; karena kita adalah nihil kecuali di dalam Allah, dan, supaya kita bisa mulai menjadi sesuatu di dalam Dia, kita harus pertama-tama diyakinkan, dan dibuat mengetahui secara sepenuhnya, bahwa kita adalah kesia-siaan. Karena itu Tuhan menghembuskan nafasNya kepada kita, supaya kita tahu bahwa dari diri kita sendiri kita adalah nihil].

h) Maz 104:1-30 - “(1) Pujilah TUHAN, hai jiwaku! TUHAN, Allahku, Engkau sangat besar! Engkau yang berpakaian keagungan dan semarak, (2) yang berselimutkan terang seperti kain, yang membentangkan langit seperti tenda, (3) yang mendirikan kamar-kamar lotengMu di air, yang menjadikan awan-awan sebagai kendaraanMu, yang bergerak di atas sayap angin, (4) yang membuat angin sebagai suruhan-suruhanMu, dan api yang menyala sebagai pelayan-pelayanMu, (5) yang telah mendasarkan bumi di atas tumpuannya, sehingga takkan goyang untuk seterusnya dan selamanya. (6) Dengan samudera raya Engkau telah menyelubunginya; air telah naik melampaui gunung-gunung. (7) Terhadap hardikMu air itu melarikan diri, lari kebingungan terhadap suara gunturMu, (8) naik gunung, turun lembah ke tempat yang Kautetapkan bagi mereka. (9) Batas Kautentukan, takkan mereka lewati, takkan kembali mereka menyelubungi bumi. (10) Engkau yang melepas mata-mata air ke dalam lembah-lembah, mengalir di antara gunung-gunung, (11) memberi minum segala binatang di padang, memuaskan haus keledai-keledai hutan; (12) di dekatnya diam burung-burung di udara, bersiul dari antara daun-daunan. (13) Engkau yang memberi minum gunung-gunung dari kamar-kamar lotengMu, bumi kenyang dari buah pekerjaanMu. (14) Engkau yang menumbuhkan rumput bagi hewan dan tumbuh-tumbuhan untuk diusahakan manusia, yang mengeluarkan makanan dari dalam tanah (15) dan anggur yang menyukakan hati manusia, yang membuat muka berseri karena minyak, dan makanan yang menyegarkan hati manusia. (16) Kenyang pohon-pohon TUHAN, pohon-pohon aras di Libanon yang ditanamNya, (17) di mana burung-burung bersarang, burung ranggung yang rumahnya di pohon-pohon sanobar; (18) gunung-gunung tinggi adalah bagi kambing-kambing hutan, bukit-bukit batu adalah tempat perlindungan bagi pelanduk. (19) Engkau yang telah membuat bulan menjadi penentu waktu, matahari yang tahu akan saat terbenamnya. (20) Apabila Engkau mendatangkan gelap, maka haripun malamlah; ketika itulah bergerak segala binatang hutan. (21) Singa-singa muda mengaum-aum akan mangsa, dan menuntut makanannya dari Allah. (22) Apabila matahari terbit, berkumpullah semuanya dan berbaring di tempat perteduhannya; (23) manusiapun keluarlah ke pekerjaannya, dan ke usahanya sampai petang. (24) Betapa banyak perbuatanMu, ya TUHAN, sekaliannya Kaujadikan dengan kebijaksanaan, bumi penuh dengan ciptaanMu. (25) Lihatlah laut itu, besar dan luas wilayahnya, di situ bergerak, tidak terbilang banyaknya, binatang-binatang yang kecil dan besar. (26) Di situ kapal-kapal berlayar dan Lewiatan yang telah Kaubentuk untuk bermain dengannya. (27) Semuanya menantikan Engkau, supaya diberikan makanan pada waktunya. (28) Apabila Engkau memberikannya, mereka memungutnya; apabila Engkau membuka tanganMu, mereka kenyang oleh kebaikan. (29) Apabila Engkau menyembunyikan wajahMu, mereka terkejut; apabila Engkau mengambil roh mereka, mereka mati binasa dan kembali menjadi debu. (30) Apabila Engkau mengirim rohMu, mereka tercipta, dan Engkau membaharui muka bumi”.

Seluruh Maz 104 ini secara kelewat jelas menunjukkan bahwa segala sesuatu yang terjadi merupakan pekerjaan / pengaturan Tuhan, dan ay 29-nya secara khusus menyebutkan bahwa kematian juga merupakan pekerjaan Tuhan!

Calvin (tentang Maz 104:29): In these words, the Psalmist declares, that we stand or fall according to the will of God. We continue to live, so long as he sustains us by his power; but no sooner does he withdraw his life-giving spirit than we die. Even Plato knew this, who so often teaches that, properly speaking, there is but one God, and that all things subsist, or have their being only in him. Nor do I doubt, that it was the will of God, by means of that heathen writer, to awaken all men to the knowledge, that they derive their life from another source than from themselves (= Dalam kata-kata ini, sang Pemazmur menyatakan, bahwa kita berdiri atau jatuh menurut kehendak Allah. Kita terus hidup, selama Ia menopang kita dengan kuasaNya; tetapi begitu Ia menarik roh pemberi-hidupNya kita mati. Bahkan Plato tahu tentang hal ini, yang begitu sering mengajarkan bahwa, berbicara secara tepat / benar, disana hanya ada satu Allah, dan bahwa segala sesuatu ada / hidup, atau mempunyai keberadaan mereka, hanya dalam Dia. Juga saya tidak meragukan bahwa adalah kehendak Allah, melalui penulis kafir itu, untuk membangunkan semua manusia pada pengetahuan, bahwa mereka mendapatkan kehidupan mereka dari sumber yang lain dari pada dari diri mereka sendiri).

Kesimpulan dari semua ini: semua kematian terjadi karena penentuan dan pekerjaan Allah. Sekalipun datangnya kematian bisa melalui bermacam-macam cara, dan dari sudut pandang manusia seolah-olah datang dari setan, secara kebetulan, karena kejahatan orang lain, bunuh diri, dan sebagainya, tetapi sebetulnya semuanya telah ditentukan oleh Allah, dan lalu diatur olehNya supaya terjadi sesuai dengan kehendak / rencanaNya!

Perhatikan sekali lagi kedua kutipan di bawah ini yang tadi di atas sudah saya kutip.

John Owen (tentang Ibr 9:27): “The death of all is equally determined and certain in God’s constitution. It hath various ways of approach unto all individuals, - hence is it generally looked on as an accident befalling this or that man, - but the law concerning it is general and equal” (= Kematian dari semua secara sama ditentukan dan pasti dalam undang-undang Allah. Kematian mempunyai bermacam-macam jalan / cara pendekatan kepada semua individu, - karena itu hal itu pada umumnya dipandang / dianggap sebagai suatu kecelakaan / kebetulan yang menimpa orang ini atau orang itu, - tetapi hukum berkenaan dengannya adalah umum dan sama).

Matthew Henry (tentang Ayub 14:5): It is certain that God’s providence has the ordering of the period of our lives; our times are in his hand. The powers of nature depend upon him, and act under him. In him we live and move. Diseases are his servants; he kills and makes alive. Nothing comes to pass by chance, no, not the execution done by a bow drawn at a venture. It is therefore certain that God’s prescience has determined it before; for ‘known unto God are all his works.’ Whatever he does he determined, yet with a regard partly to the settled course of nature (the end and the means are determined together) and to the settled rules of moral government, punishing evil and rewarding good in this life. We are no more governed by the Stoic’s blind fate than by the Epicurean’s blind fortune [= Adalah pasti bahwa Providensia Allah mempunyai pengaturan dari masa hidup kita; waktu kita ada dalam tanganNya. Kuasa-kuasa dari alam tergantung kepada Dia, dan bertindak di bawah Dia. Dalam Dia kita hidup dan bergerak (Kis 17:28). Penyakit-penyakit adalah pelayan-pelayanNya; ‘Ia mematikan dan menghidupkan’ (Ul 32:39 1Sam 2:6). Tak ada apapun terjadi secara kebetulan, tidak, bahkan tidak eksekusi yang dilakukan oleh suatu busur yang ditarik secara sembarangan (1Raja 22:34). Karena itu adalah pasti bahwa pra pengetahuan Allah telah menentukannya sebelumnya; karena ‘diketahui oleh Allah semua pekerjaanNya’ (Kis 15:18). Apapun yang Ia lakukan Ia tentukan lebih dulu, tetapi sambil memberi sebagian perhatian pada jalan alam yang ditentukan (tujuan / akhir dan cara / jalannya ditentukan bersama-sama) dan pada peraturan-peraturan yang ditetapkan dari pemerintahan moral, penghukuman kejahatan dan pemberian pahala bagi kebaikan dalam hidup ini. Kita tidak diperintah oleh takdir buta dari golongan Stoa maupun oleh keberuntungan buta dari golongan Epikuros].
Catatan: Kis 15:18 diterjemahkan secara berbeda-beda. Yang digunakan oleh Matthew Henry adalah terjemahan KJV.

V) Kewajiban manusia berkenaan dengan kematian.

1) Jangan takuti / kuatir tentang kematian, baik itu berkenaan dengan kematian saudara sendiri atau kematian dari orang yang saudara cintai.
Kematian memang harus dihindari selama hal itu memungkinkan, tetapi itu harus dilakukan tanpa kekuatiran. Ingat bahwa kekuatiran tak akan menambah sehasta saja pada jalan hidup kita (Mat 6:27)! Jadi, lakukan yang terbaik untuk tetap hidup, seperti menjauhi bahaya, menjaga / meningkatkan kesehatan, mengobati penyakit yang ada, dsb, tetapi lakukan itu tanpa takut ataupun kuatir.

2) Menyiapkan diri menghadapi kematian.

a) Bagi orang-orang yang belum percaya, persiapan yang pertama dan terutama adalah dengan percaya kepada Kristus. Tanpa ini, semua persiapan lain tak ada gunanya sama sekali, karena kalau seseorang mati tanpa Kristus, ia pasti masuk neraka.

b) Bagi orang-orang yang sudah percaya, kita harus mempersiapkan diri dengan melakukan apapun yang terbaik sesuai dengan Firman Tuhan.

1. Jangan utamakan uang / harta, karena itu tak berguna pada waktu kita mati.
Amsal 11:4 - “Pada hari kemurkaan harta tidak berguna, tetapi kebenaran melepaskan orang dari maut”.
Pkh 2:8,11 - “(8) Aku mengumpulkan bagiku juga perak dan emas, harta benda raja-raja dan daerah-daerah. Aku mencari bagiku biduan-biduan dan biduanita-biduanita, dan yang menyenangkan anak-anak manusia, yakni banyak gundik. ... (11) Ketika aku meneliti segala pekerjaan yang telah dilakukan tanganku dan segala usaha yang telah kulakukan untuk itu dengan jerih payah, lihatlah, segala sesuatu adalah kesia-siaan dan usaha menjaring angin; memang tak ada keuntungan di bawah matahari.
Mat 6:19-24 - “(19) ‘Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. (20) Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya. (21) Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada. (22) Mata adalah pelita tubuh. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu; (23) jika matamu jahat, gelaplah seluruh tubuhmu. Jadi jika terang yang ada padamu gelap, betapa gelapnya kegelapan itu. (24) Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.’”.
Luk 12:15-21 - “(15) KataNya lagi kepada mereka: ‘Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu.’ (16) Kemudian Ia mengatakan kepada mereka suatu perumpamaan, kataNya: ‘Ada seorang kaya, tanahnya berlimpah-limpah hasilnya. (17) Ia bertanya dalam hatinya: Apakah yang harus aku perbuat, sebab aku tidak mempunyai tempat di mana aku dapat menyimpan hasil tanahku. (18) Lalu katanya: Inilah yang akan aku perbuat; aku akan merombak lumbung-lumbungku dan aku akan mendirikan yang lebih besar dan aku akan menyimpan di dalamnya segala gandum dan barang-barangku. (19) Sesudah itu aku akan berkata kepada jiwaku: Jiwaku, ada padamu banyak barang, tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya; beristirahatlah, makanlah, minumlah dan bersenang-senanglah! (20) Tetapi firman Allah kepadanya: Hai engkau orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil dari padamu, dan apa yang telah kausediakan, untuk siapakah itu nanti? (21) Demikianlah jadinya dengan orang yang mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri, jikalau ia tidak kaya di hadapan Allah.’”.

What money cannot buy (= Apa yang uang tidak bisa beli).
Money will buy a bed but not sleep; books but not brains; food but not appetite; finery but not beauty; a house but not a home; medicine but not health; luxuries but not culture; amusements but not happiness; religion but not salvation; a passport to everywhere but heaven” (= Uang bisa membeli ranjang tetapi tidak bisa membeli tidur; buku-buku tetapi tidak otak; makanan tetapi tidak nafsu makan; pakaian bagus / perhiasan tetapi tidak kecantikan; rumah tetapi tidak suasana rumah yang menyenangkan; obat tetapi tidak kesehatan; barang-barang lux / kemewahan tetapi tidak kebudayaan; hiburan tetapi tidak kebahagiaan; agama tetapi tidak keselamatan; sebuah paspor kemana saja kecuali ke surga).

Pulpit Commentary (tentang 2Raja 1:1-18): “Men who sacrifice everything for money soon find that they have lost things which money cannot buy” (= Orang-orang yang mengorbankan segala sesuatu untuk uang akan segera mendapati bahwa mereka telah kehilangan hal-hal yang tidak bisa dibeli dengan uang) - hal 9.

George Horace Lorimer: “It’s good to have money and the things that money can buy, but it’s good, too, to check up once in a while and make sure that you haven’t lost the things that money can’t buy” (= Adalah baik untuk mempunyai uang dan hal-hal yang bisa dibeli dengan uang, tetapi juga baik untuk kadang-kadang mengecheck dan memastikan bahwa engkau tidak kehilangan hal-hal yang tidak bisa dibeli dengan uang) - ‘The Encyclopedia of Religious Quotations’, hal 463.

Benjamin Franklin: “Money never made a man happy yet, nor will it. There is nothing in its nature to produce happiness. The more a man has, the more he wants. Instead of its filling a vacuum, it makes one. If it satisfies one want, it doubles and trebles that want another way. That was a true proverb of a wise man, rely upon it: ‘Better is little with the fear of the Lord, than great treasure, and trouble therewith’” (= Uang tidak pernah dan tidak akan membuat orang berbahagia. Dalam uang tidak ada apapun yang menghasilkan kebahagiaan. Makin banyak yang dimiliki seseorang, makin banyak yang ia inginkan. Bukannya mengisi kekosongan tetapi sebaliknya uang membuat suatu kekosongan. Jika uang memuaskan suatu kebutuhan, maka uang lalu melipatgandakan kebutuhan itu dengan cara lain. Ini adalah amsal yang benar dari orang yang bijaksana: ‘Lebih baik sedikit barang dengan disertai takut akan TUHAN dari pada banyak harta dengan disertai kecemasan’) - ‘The Encyclopedia of Religious Quotations’, hal 462-463.
Catatan: bagian terakhir itu dikutip dari Amsal 15:16.

2. Utamakan hal-hal rohani / kekal, seperti:
a. Belajar Firman Tuhan.
b. Berdoa.
c. Menguduskan diri.
d. Melayani sesuai kehendak Tuhan, memberitakan Injil, dan sebagainya.
Juga lakukanlah tugas pelayanan saudara, pemberitaan Injil dsb, tanpa takut kepada orang-orang yang hanya bisa membunuh tubuh, karena nyawa saudara tidaklah terletak di tangan manusia manapun, tetapi di tangan Tuhan (bdk. Mat 10:27-31)!

-AMIN-

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar