About us

Golgotha Ministry adalah pelayanan dari Pdt. Budi Asali,M.Div dibawah naungan GKRI Golgota Surabaya untuk memberitakan Injil ke seluruh dunia dan mengajarkan kebenaran firman Tuhan melalui khotbah-khotbah, pendalaman Alkitab, perkuliahan theologia dalam bentuk tulisan maupun multimedia (DVD video, MP3, dll). Pelayanan kami ini adalah bertujuan agar banyak orang mengenal kebenaran; dan bagi mereka yang belum percaya, menjadi percaya kepada Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadinya, dan bagi mereka yang sudah percaya, dikuatkan dan didewasakan didalam iman kepada Kristus.
Semua yang kami lakukan ini adalah semata-mata untuk kemuliaan nama Tuhan Yesus Kristus.

Kami mengundang dengan hangat setiap orang yang merasa diberkati dan terbeban didalam pelayanan untuk bergabung bersama kami di GKRI Golgota yang beralamat di : Jl. Raya Kalirungkut, Pertokoan Rungkut Megah Raya D-16, Surabaya.

Tuhan Yesus memberkati.

Selasa, 29 Mei 2012

MAUT / KEMATIAN (2)



8) Tuhan mengeraskan orang-orang yang memang Ia tetapkan harus mati.
Yang seperti ini ada beberapa contoh:

a) 1Sam 2:22-25 - “(22) Eli telah sangat tua. Apabila didengarnya segala sesuatu yang dilakukan anak-anaknya terhadap semua orang Israel dan bahwa mereka itu tidur dengan perempuan-perempuan yang melayani di depan pintu Kemah Pertemuan, (23) berkatalah ia kepada mereka: ‘Mengapa kamu melakukan hal-hal yang begitu, sehingga kudengar dari segenap bangsa ini tentang perbuatan-perbuatanmu yang jahat itu? (24) Janganlah begitu, anak-anakku. Bukan kabar baik yang kudengar itu bahwa kamu menyebabkan umat TUHAN melakukan pelanggaran. (25) Jika seseorang berdosa terhadap seorang yang lain, maka Allah yang akan mengadili; tetapi jika seseorang berdosa terhadap TUHAN, siapakah yang menjadi perantara baginya?’ Tetapi tidaklah didengarkan mereka perkataan ayahnya itu, sebab TUHAN hendak mematikan mereka.

Kalau dilihat dari terjemahan kita, maupun terjemahan-terjemahan dari semua Kitab Suci bahasa Inggris, maka ‘kehendak Tuhan untuk membunuh mereka’ merupakan penyebab sehingga mereka dikeraskan oleh Tuhan dan tidak mau mendengarkan nasehat ayah mereka. Tetapi ada penafsir-penafsir yang mengubah kata ‘sebab’ menjadi ‘karena itu’. Jadi kalimat terakhir dari ay 25 itu menjadi Tetapi tidaklah didengarkan mereka perkataan ayahnya itu, karena itu TUHAN hendak mematikan mereka. Dengan demikian, maka ‘tidak mendengarnya mereka terhadap nasehat ayah mereka’ merupakan penyebab dari kehendak Tuhan untuk membunuh mereka. Saya memberi 4 contoh penafsir yang menafsirkan seperti itu.

Jamieson, Fausset & Brown: “‘They hearkened not unto the voice of their father, because (it should be ‘therefore’) the Lord would slay them.’ It was not God’s pre-ordination, but their own willful and impenitent disobedience, which was the cause of their destruction [= ‘Mereka tidak mendengarkan suara dari ayah mereka, karena (itu seharusnya ‘karena itu’) Tuhan akan membunuh mereka’. Bukan penentuan lebih dulu dari Allah, tetapi ketidak-taatan yang sengaja dan tidak mau bertobat dari mereka sendiri, yang merupakan penyebab dari kehancuran mereka].

Word Biblical Commentary (tentang 1Sam 2:25): his sons did not listen to him. Their disobedience facilitated Yahweh’s plans to kill them (vv 22–25). ... Their failure to listen to their father or obey him functions much like the hardening of Pharaoh’s heart: it justifies Yahweh’s death threat against them. Since they would not hear, he took pleasure in killing them [= anak-anaknya tidak mendengarkannya. Ketidak-taatan mereka memudahkan rencana Yahweh untuk membunuh mereka (ay 22-25). ... Kegagalan mereka untuk mendengarkan ayah mereka atau mentaatinya berfungsi seperti pengerasan hati Firaun: itu membenarkan ancaman kematian dari Yahweh terhadap mereka. Karena mereka tidak mau mendengar, Ia berkenan membunuh mereka].

The Bible Exposition Commentary: Old Testament: Hophni and Phinehas had no respect for the Lord or for the office of their father the high priest, so all God could do was judge them and replace them with faithful servants (= Hofni dan Pinehas tidak mempunyai rasa hormat untuk Tuhan ataupun untuk jabatan dari ayah mereka sang imam besar, sehingga semua yang Allah bisa lakukan adalah menghakimi mereka dan menggantikan mereka dengan pelayan-pelayan yang setia).

Adam Clarke (tentang 2Sam 2:25): “‘Because the Lord would slay them.’ The particle ‎kiy, which we translate ‘because,’ and thus make their continuance in sin the effect of God’s determination to destroy them, should be translated ‘therefore,’ as it means in many parts of the sacred writings. See Noldius’ Particles, where the very text in question is introduced: Sed non auscultarunt, etc.; IDEO voluit Jehova eos interficere; ‘But they would not hearken, etc.; THEREFORE God purposed to destroy them.’ It was their not hearkening that induced the Lord to will their destruction” (= ‘Karena Tuhan hendak membunuh mereka’. Partikel KIY, yang kita terjemahkan ‘karena’, dan dengan demikian membuat ‘terusnya mereka dalam dosa’ sebagai hasil / akibat dari ‘penentuan Allah untuk membunuh mereka’, harus diterjemahkan ‘karena itu’, sebagaimana itu merupakan artinya dalam banyak bagian dari tulisan-tulisan kudus. lihat Noldius’ Particles, dimana text yang dipersoalkan ini dinyatakan: Sed non auscultarunt, etc.; IDEO voluit Jehova eos interficere; ‘Tetapi mereka tidak mau mendengarkan, dst.; Karena itu Allah bermaksud / memutuskan untuk menghancurkan mereka’. Adalah ketidak-mauan mereka mendengarkan yang menyebabkan Tuhan untuk menghendaki kehancuran mereka).

Ada beberapa hal yang perlu saya jelaskan tentang kata-kata Clarke ini:

1. Saya tak bisa menemukan dalam kamus Ibrani bahwa kata Ibrani KI bisa diterjemahkan ‘karena itu’.

2. Adalah aneh kalau Clarke mengatakan bahwa dalam tulisan-tulisan kudus ada banyak penterjemahan seperti itu, tetapi ia tidak memberikan satu contohpun.

3. Saya mencarinya sendiri dengan menggunakan ‘Young’s Analytical Concordance to the Bible’. Buku konkordansi ini menunjukkan bahwa dalam KJV kata ‘therefore’ yang berasal dari kata Ibrani KI, hanya satu, yaitu dalam Kej 29:32.
Kej 29:32 - “Lea mengandung, lalu melahirkan seorang anak laki-laki, dan menamainya Ruben, sebab katanya: ‘Sesungguhnya TUHAN telah memperhatikan kesengsaraanku; sekarang tentulah aku akan dicintai oleh suamiku.’”.
KJV: And Leah conceived, and bare a son, and she called his name Reuben: for she said, Surely the LORD hath looked upon my affliction; now therefore my husband will love me. (= Dan Lea mengandung, dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia memanggil / menyebut namanya Ruben: karena ia berkata, Pastilah TUHAN telah melihat penderitaanku; karena itu sekarang suamiku akan mencintai aku).
NKJV: “So Leah conceived and bore a son, and she called his name Reuben; for she said, ‘The LORD has surely looked on my affliction. Now therefore, my husband will love me.”.
Catatan: dalam ayat ini ada 2 x kata Ibrani KI, yang pertama diterjemahkan ‘surely’ (= pastilah), dan yang kedua diterjemahkan ‘therefore’ (= karena itu).
Tetapi saya berpendapat terjemahan KJV/NKJV ini menjadikan kalimatnya aneh, dan RSV/NIV/NASB semua menterjemahkan yang pertama ‘because’ (= sebab) dan yang kedua ‘surely’ (= pastilah). ASV menterjemahkan yang pertama ‘because’ (= sebab) dan yang kedua ‘for’ (= karena).

RSV: “And Leah conceived and bore a son, and she called his name Reuben; for she said, ‘Because the LORD has looked upon my affliction; surely now my husband will love me.’” (= Dan Lea mengandung, dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia memanggil / menyebut namanya Ruben; karena ia berkata, ‘Sebab TUHAN telah melihat penderitaanku; karena itu sekarang suamiku akan mencintai aku’.).
NIV: “Leah became pregnant and gave birth to a son. She named him Reuben, for she said, ‘It is because the LORD has seen my misery. Surely my husband will love me now.’” (= Lea menjadi mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki. Ia menamainya Ruben: karena ia berkata, Adalah karena / sebab TUHAN telah melihat penderitaanku. Pastilah suamiku akan mencintai aku sekarang).
NASB: “Leah conceived and bore a son and named him Reuben, for she said, ‘Because the LORD has seen my affliction; surely now my husband will love me.’” (= Lea mengandung, dan melahirkan seorang anak laki-laki dan menamainya Ruben, karena ia berkata, Sebab / karena TUHAN telah melihat penderitaanku; pastilah sekarang suamiku akan mencintai aku).
ASV: “And Leah conceived, and bare a son, and she called his name Reuben. For she said, Because Jehovah hath looked upon my affliction. For now my husband will love me” (= Dan Lea mengandung, dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia memanggil / menyebut namanya Ruben. Karena ia berkata, Sebab / karena TUHAN telah melihat penderitaanku. Karena sekarang suamiku akan mencintai aku).

Jadi kesimpulannya, sebetulnya tidak ada satu kasuspun dalam Alkitab dimana kata Ibrani KI harus diterjemahkan ‘therefore’ (= karena itu)! Dan setahu saya memang tidak ada Kitab Suci bahasa Inggris manapun yang menterjemahkan 1Sam 2:25b seperti terjemahan Clarke itu.

KJV: ‘Notwithstanding they hearkened not unto the voice of their father, because the LORD would slay them’ (= Sekalipun demikian mereka tidak mendengarkan suara ayah mereka, karena TUHAN mau membunuh mereka).
RSV: ‘But they would not listen to the voice of their father; for it was the will of the LORD to slay them’ (= Tetapi mereka tidak mau mendengarkan suara ayah mereka; karena merupakan kehendak TUHAN untuk membunuh mereka).
NIV: ‘His sons, however, did not listen to their father’s rebuke, for it was the LORD's will to put them to death’ (= Tetapi anak-anaknya tidak mendengar teguran ayah mereka, karena merupakan kehendak TUHAN untuk membunuh mereka).
NASB: ‘But they would not listen to the voice of their father, for the LORD desired to put them to death’ (= Tetapi mereka tidak mau mendengarkan suara ayah mereka, karena TUHAN berkeinginan untuk membunuh mereka).
ASV: ‘Notwithstanding, they hearkened not unto the voice of their father, because Jehovah was minded to slay them’ (= Sekalipun demikian, mereka tidak mendengarkan suara ayah mereka, karena Yehovah telah menentukan untuk membunuh mereka).
NKJV: ‘Nevertheless they did not heed the voice of their father, because the LORD desired to kill them’ (= Namun mereka tidak memperhatikan suara ayah mereka, karena TUHAN menginginkan untuk membunuh mereka).

Dalam Bible Works 8 ada 32 versi bahasa Inggris dan 30 diantaranya menterjemahkan dengan menggunakan kata ‘because’ atau ‘for’ atau ‘since’, yang semuanya berarti ‘karena’ / ‘sebab’. Lalu yang dua lagi adalah yang di bawah ini.
a. YLT: ‘and they hearken not to the voice of their father, though Jehovah hath delighted to put them to death’ (= dan mereka tidak mendengarkan suara ayah mereka, sekalipun Yehovah senang untuk membunuh mereka).
Terjemahan ini rasanya tidak masuk akal, karena kalimatnya jadi sangat aneh; tetapi ini beda dengan terjemahan Clarke.
b. GWN: ‘But they wouldn’t listen to their father’s warning-the LORD wanted to kill them’ (= Tetapi mereka tidak mau mendengar pada peringatan ayah mereka-TUHAN mau / ingin membunuh mereka).
Terjemahan ini membuang kata KI itu dan menggantikan dengan -. Ini juga aneh; tetapi ini juga beda dengan terjemahan Clarke.

Mari kita bandingkan dengan kata-kata dalam buku tafsiran Keil & Delitzsch yang memang ahli dalam bahasa Ibrani, dan juga dengan tafsiran dari para penafsir yang lain.

Keil & Delitzsch: But Eli’s sons did not listen to this admonition, which was designed to reform daring sinners with mild words and representation; ‘for,’ adds the historian, ‘Jehovah was resolved to slay them.’ The father’s reproof made no impression upon them, because they were already given up to the judgment of hardening (= Tetapi anak-anak Eli tidak mendengarkan pada nasehat ini, yang dirancang untuk mereformasi orang-orang berdosa yang berani dengan kata-kata dan gambaran yang ringan; ‘karena’, sang sejarawan menambahkan, ‘Yehovah memutuskan untuk membunuh mereka’. Teguran sang ayah tidak membuat pengaruh pada mereka, karena mereka telah diserahkan pada penghukuman dari pengerasan).
Jadi jelas bahwa penafsir ini menterjemahkan kata KI sebagai ‘for’ (= karena), sama seperti semua terjemahan Kitab Suci bahasa Inggris yang lain.

Barnes’ Notes: “‘Because the LORD would slay them.’ ... It may be explained by saying that in the case of Hophni and Phinehas God’s will to kill them was founded upon His foreknowledge of their impenitence; while from another point of view, in which God’s will is the fixed point, that impenitence may be viewed in its relation to that fixed point, and so dependent upon it, and a necessary step to it (= ‘Karena TUHAN mau membunuh mereka’. ... Itu bisa dijelaskan dengan mengatakan bahwa dalam kasus Hofni dan Pinehas kehendak Allah untuk membunuh mereka didasarkan pada pra-pengetahuanNya tentang tidak mau bertobatnya mereka; sementara dari sudut pandang yang lain, dalam mana kehendak Allah adalah titik yang tertentu / pasti, suatu ketidak-mauan bertobat bisa dipandang dalam hubungannya dengan titik yang tertentu / pasti itu, dan begitu tergantung padanya, dan merupakan suatu langkah yang perlu kepadanya).
Catatan: yang saya beri garis bawah tunggal adalah pandangan Arminian, dan yang saya beri garis bawah ganda adalah pandangan Reformed / Calvinist.

Matthew Henry (tentang 2Sam 2:25b): They ‘hearkened not to their father,’ though he was also a judge. They had no regard either to his authority or to his affection, which was to them an evident token of perdition; it was ‘because the Lord would slay them.’ They had long hardened their hearts, and now God, in a way of righteous judgment, hardened their hearts, and seared their consciences, and withheld from them the grace they had resisted and forfeited. Note, Those that are deaf to the reproofs of wisdom are manifestly marked for ruin. The Lord has ‘determined to destroy them,’ 2 Chron 25:16. See Prov 29:1 (= Mereka ‘tidak mendengarkan ayah mereka’, sekalipun ia juga adalah seorang hakim. Mereka tidak mempunyai hormat pada otoritasnya ataupun pada kasihnya, yang bagi mereka merupakan ‘suatu tanda yang jelas dari kebinasaan’; itu adalah ‘karena Tuhan hendak membunuh mereka’. Mereka telah lama mengeraskan hati mereka, dan sekarang Allah, dengan suatu cara penghakiman yang benar, mengeraskan hati mereka, dan menghanguskan hati nurani mereka, dan menahan dari mereka kasih karunia yang telah mereka tolak dan hilang dari mereka. Perhatikan, Mereka yang tuli terhadap hikmat secara nyata / jelas ditandai untuk kehancuran. Tuhan telah ‘menentukan untuk menghancurkan mereka’, 2Taw 25:16. Lihat Amsal 29:1).
Amsal 29:1 - “Siapa bersitegang leher, walaupun telah mendapat teguran, akan sekonyong-konyong diremukkan tanpa dapat dipulihkan lagi”.
2Taw 25:16 akan kita lihat di bawah.

Saya secara mutlak memilih terjemahan-terjemahan / penafsiran-penafsiran ini. Jadi, memang Tuhan sudah mempunyai kehendak untuk membunuh Hofni dan Pinehas, dan karena itu, Ia mengeraskan hati mereka, sehingga mereka tidak mau mendengarkan nasehat ayah mereka.
Bandingkan ini dengan kata-kata Pdt. Stephen Tong: “Alkitab tidak pernah mencatat si anu mati di dalam kehendak Allah. Lagi pula, mana mungkin Allah menghendaki seorang mati?”.
Dengan kata-kata ‘mana mungkin Allah menghendaki seorang mati?’, saya kira Pdt. Stephen Tong melupakan ayat-ayat ini:
Yes 55:8-9 - “(8) Sebab rancanganKu bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalanKu, demikianlah firman TUHAN. (9) Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalanKu dari jalanmu dan rancanganKu dari rancanganmu”.
Ro 11:33-34 - “(33) O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusanNya dan sungguh tak terselami jalan-jalanNya! (34) Sebab, siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan? Atau siapakah yang pernah menjadi penasihatNya?”.

b) Ul 2:24,30 - “(24) Bersiaplah kamu, berangkatlah dan seberangilah sungai Arnon. Ketahuilah, Aku menyerahkan Sihon, raja Hesybon, orang Amori itu, beserta negerinya ke dalam tanganmu; mulailah menduduki negerinya dan seranglah Sihon. … (30) Tetapi Sihon, raja Hesybon, tidak mau memberi kita berjalan melalui daerahnya, sebab TUHAN, Allahmu, membuat dia keras kepala dan tegar hati, dengan maksud menyerahkan dia ke dalam tanganmu, seperti yang terjadi sekarang ini.

Calvin (tentang Ul 2:24): Scripture, as we see, has not placed God in a watch-tower, from which He may behold at a distance what things are about to be; but teaches that He is the director (moderatorem) of all things; and that He subjects to His will, not only the events of things, but the designs and affections of men also. ... why did God harden the heart of Sihon? that ‘He might deliver him into the hand’ of His people to be slain; because He willed that he should perish, and had destined his land for the Israelites (= Kitab Suci, seperti yang kita lihat, tidak menempatkan Allah di sebuah menara penjaga, dari mana Ia bisa melihat dari jarak jauh hal-hal apa yang akan terjadi; tetapi mengajar bahwa Ia adalah pengarah dari segala sesuatu; dan bahwa Ia menundukkan pada kehendakNya, bukan hanya peristiwa-peristiwa, tetapi juga rancangan dan perasaan-perasaan manusia. ... mengapa Allah mengeraskan hati Sihon? supaya ‘Ia bisa menyerahkannya ke dalam tangan’ dari umatNya untuk dibunuh; karena Ia menghendaki bahwa ia harus mati, dan telah menentukan tanah / negaranya bagi orang-orang Israel).

Adam Clarke menghubungkan pengerasan Allah terhadap Sihon dengan pengerasan Allah terhadap Firaun (Kel 4:21), dan ia menganggap, bahwa semua ini hanya merupakan sesuatu yang diijinkan oleh Allah!
Kel 4:21 - “Firman TUHAN kepada Musa: ‘Pada waktu engkau hendak kembali ini ke Mesir, ingatlah, supaya segala mujizat yang telah Kuserahkan ke dalam tanganmu, kauperbuat di depan Firaun. Tetapi Aku akan mengeraskan hatinya, sehingga ia tidak membiarkan bangsa itu pergi.

Adam Clarke (tentang Kel 4:21): “All those who have read the Scriptures with care and attention, know well that God is frequently represented in them as doing what he only permits to be done. So because a man has grieved his Spirit and resisted his grace he withdraws that Spirit and grace from him, and thus he becomes bold and presumptuous in sin. Pharaoh made his own heart stubborn against God, Ex 9:34; and God gave him up to judicial blindness, so that he rushed on stubbornly to his own destruction. From the whole of Pharaoh’s conduct we learn that he was bold, haughty, and cruel; and God chose to permit these dispositions to have their full sway in his heart without check or restraint from divine influence” (= Semua mereka yang telah membaca Kitab Suci dengan teliti dan perhatian, tahu dengan baik bahwa Allah sering digambarkan dalam Kitab Suci sebagai melakukan apa yang Ia hanya ijinkan untuk dilakukan. Jadi karena seseorang telah mendukakan RohNya dan menolak kasih karuniaNya, Ia menarik Roh dan kasih karunia itu dari dia, dan dengan demikian ia menjadi berani dan sombong / kurang ajar dalam dosa. Firaun membuat hatinya sendiri tegar terhadap Allah, Kel 9:34; dan Allah menyerahkannya pada kebutaan yang bersifat penghakiman, sehingga ia lari dengan keras kepala pada kehancurannya sendiri. Dari seluruh tingkah laku Firaun kita belajar bahwa ia adalah berani, sombong, dan kejam; dan Allah memilih untuk membiarkan kecenderungan-kecenderungan ini untuk mendapatkan pengaruh yang penuh dalam hatinya tanpa pencegahan atau pengekangan dari pengaruh ilahi).

Ada beberapa hal yang bisa diberikan sebagai jawaban terhadap kata-kata Clarke ini:
1. Ayatnya tidak menggunakan kata ‘ijin’ atau ‘mengijinkan’, tetapi ‘membuat keras’, ‘mengeraskan’ dan sebagainya.
2. Kalau itu dianggap hanya sebagai sekedar / semata-mata ijin, maka itu menyebabkan rencana Allah tergantung kepada manusia.
3. Dalam kasus Firaun, perlu diketahui bahwa dari dua hal ini, yaitu ‘Tuhan mengeraskan hati Firaun’, dan ‘Firaun mengeraskan hatinya sendiri’, yang muncul pertama adalah ‘Tuhan mengeraskan hati Firaun’, yaitu dalam Kel 4:21. Lalu terjadi lagi dalam Kel 7:3. Kel 5 hanya menunjukkan penolakan Firaun, tetapi tidak ada kata-kata ‘Firaun mengeraskan hatinya’. Ini baru muncul dalam Kel 7:13-14,22 Kel 8:15. Lalu dalam Kel 9:12 dikatakan lagi ‘Tuhan mengeraskan hati Firaun’, dan Kel 9:34-35 dikatakan lagi bahwa ‘Firaun mengeraskan hati’. Kel 10:20,27 Kel 11:10 muncul lagi ‘Tuhan mengeraskan hati Firaun’.
Juga setelah Firaun membiarkan bangsa Israel pergi, lalu dikatakan lebih dulu bahwa ‘Tuhan mengeraskan hatinya’ (Kel 14:4,8), dan ini yang menyebabkan Firaun mengejar bangsa Israel. Di sini tak dikatakan ‘Firaun mengeraskan hatinya’. Hanya diceritakan kalau ia mengejar bangsa Israel.
Jadi adalah mustahil untuk menafsirkan bahwa karena Firaun mengeraskan hatinya, maka Tuhan membiarkan / mengijinkan ia keras hati. Sebetulnya semua orang yang tidak percaya keras hatinya, dan baru bisa bertobat kalau Tuhan melunakkan hatinya.
Yeh 11:19 - “Aku akan memberikan mereka hati yang lain dan roh yang baru di dalam batin mereka; juga Aku akan menjauhkan dari tubuh mereka hati yang keras dan memberikan mereka hati yang taat”.
Yeh 36:26 - “Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu dan Aku akan menjauhkan dari tubuhmu hati yang keras dan Kuberikan kepadamu hati yang taat”.
Dalam kasus-kasus dimana Allah memang menghendaki seseorang binasa, maka Ia tidak melunakkan hati orang itu (ini sama dengan mengeraskan hati orang itu), sehingga orang itu tetap jahat, atau bahkan bertambah jahat, dan lalu Tuhan membinasakan mereka.
4. Apa bedanya Firaun dengan Paulus? Keduanya sama-sama jahat, kejam dan sebagainya. Mengapa Paulus bertobat dan Firaun tidak? Karena Firaun tegar dan Paulus tidak? Kalau begitu Paulus selamat dan Firaun tidak, karena Paulus lebih baik dari pada Firaun. Ini jelas kesimpulan yang sesat, tetapi inilah yang didapatkan kalau kita tidak meletakkan pertobatan mereka sepenuhnya dalam tangan / kehendak Allah!

c) Yos 11:19-20 - “(19) Tidak ada satu kotapun yang mengadakan ikatan persahabatan dengan orang Israel, selain dari pada orang Hewi yang diam di Gibeon itu, semuanya telah direbut mereka dengan berperang. (20) Karena TUHAN yang menyebabkan hati orang-orang itu menjadi keras, sehingga mereka berperang melawan orang Israel, supaya mereka ditumpas, dan jangan dikasihani, tetapi dipunahkan, seperti yang diperintahkan TUHAN kepada Musa”.

d) 2Taw 25:16 - “Waktu nabi sedang berbicara, berkatalah Amazia kepadanya: Apakah kami telah mengangkat engkau menjadi penasihat raja? Diamlah! Apakah engkau mau dibunuh?’ Lalu diamlah nabi itu setelah berkata: ‘Sekarang aku tahu, bahwa Allah telah menentukan akan membinasakan engkau, karena engkau telah berbuat hal ini, dan tidak mendengarkan nasihatku!’”.
Bdk. 2Taw 25:20 - “Tetapi Amazia tidak mau mendengarkan; sebab hal itu telah ditetapkan Allah yang hendak menyerahkan mereka ke dalam tangan Yoas, karena mereka telah mencari allah orang Edom”.
Penolakan Amazia terhadap nasehat nabi membuat nabi itu yakin / tahu bahwa Allah telah menentukan supaya Amazia tidak mendengarkan nasehatnya, karena Allah hendak menyerahkannya ke tangan Yoas. Jelas bahwa penolakan Amazia terhadap nasehat nabi, yang jelas merupakan suatu dosa, termasuk dalam pelaksanaan Rencana Allah.

9) Kel 9:12-16 - “(12) Tetapi TUHAN mengeraskan hati Firaun, sehingga ia tidak mendengarkan mereka - seperti yang telah difirmankan TUHAN kepada Musa. (13) Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: ‘Bangunlah pagi-pagi dan berdirilah menantikan Firaun dan katakan kepadanya: Beginilah firman TUHAN, Allah orang Ibrani: Biarkanlah umatKu pergi, supaya mereka beribadah kepadaKu. (14) Sebab sekali ini Aku akan melepaskan segala tulahKu terhadap engkau sendiri, terhadap pegawai-pegawaimu dan terhadap rakyatmu, dengan maksud supaya engkau mengetahui, bahwa tidak ada yang seperti Aku di seluruh bumi. (15) Bukankah sudah lama Aku dapat mengacungkan tanganKu untuk membunuh engkau dan rakyatmu dengan penyakit sampar, sehingga engkau terhapus dari atas bumi; (16) akan tetapi inilah sebabnya Aku membiarkan engkau hidup, yakni supaya memperlihatkan kepadamu kekuatanKu, dan supaya namaKu dimasyhurkan di seluruh bumi.

Ay 15 terjemahan KJV salah.
KJV: ‘For now I will stretch out my hand, that I may smite thee and thy people with pestilence; and thou shalt be cut off from the earth’ (= Karena sekarang Aku akan mengulurkan tanganKu, supaya Aku bisa memukul engkau dan rakyatmu dengan wabah / penyakit sampar; dan engkau akan dihapuskan dari bumi).
RSV: ‘For by now I could have put forth my hand and struck you and your people with pestilence, and you would have been cut off from the earth;’ (= Karena Aku bisa telah mengulurkan tanganKu dan memukul engkau dan rakyatmu dengan wabah / penyakit sampar; dan engkau akan sudah dihapuskan dari bumi). NIV/NASB RSV.

Kel 9:15-16 ini secara sangat jelas menunjukkan bahwa orang itu hidup atau mati semuanya tergantung Tuhan! Tuhan bisa saja telah membunuh mereka dari dulu. Kalau Ia menahan diri dari hal itu, itu disebabkan Ia mempunyai rencana tertentu.

Matthew Henry: Note, God sometimes raises up very bad men to honour and power, spares them long, and suffers them to grow insufferably insolent, that he may be so much the more glorified in their destruction at last. See how the neighbouring nations, at that time, improved the ruin of Pharaoh to the glory of God. Jethro said upon it, ‘Now know I that the Lord is greater than all gods,’ ch. 18:11 (= Perhatikan, Allah kadang-kadang membangkitkan / menaikkan orang-orang yang sangat jahat pada kehormatan dan kuasa, menyimpan mereka untuk waktu yang lama, dan membiarkan mereka untuk bertumbuh menjadi kurang ajar secara tak tertahankan, supaya pada akhirnya Ia bisa begitu jauh lebih dipermuliakan dalam kehancuran mereka. Lihat bagaimana bangsa-bangsa tetangga, pada saat itu, menjadi lebih baik dalam memuliakan Allah karena kehancuran Firaun. Yitro berkata tentangnya, ‘Sekarang aku tahu bahwa Tuhan itu lebih besar dari semua allah-allah / dewa-dewa’, pasal 18:11).
Kel 18:8-12 - “(8) Sesudah itu Musa menceritakan kepada mertuanya segala yang dilakukan TUHAN kepada Firaun dan kepada orang Mesir karena Israel dan segala kesusahan yang mereka alami di jalan dan bagaimana TUHAN menyelamatkan mereka. (9) Bersukacitalah Yitro tentang segala kebaikan, yang dilakukan TUHAN kepada orang Israel, bahwa Ia telah menyelamatkan mereka dari tangan orang Mesir. (10) Lalu kata Yitro: ‘Terpujilah TUHAN, yang telah menyelamatkan kamu dari tangan orang Mesir dan dari tangan Firaun. (11) Sekarang aku tahu, bahwa TUHAN lebih besar dari segala allah; sebab Ia telah menyelamatkan bangsa ini dari tangan orang Mesir, karena memang orang-orang ini telah bertindak angkuh terhadap mereka.’ (12) Dan Yitro, mertua Musa, mempersembahkan korban bakaran dan beberapa korban sembelihan bagi Allah; lalu Harun dan semua tua-tua Israel datang untuk makan bersama-sama dengan mertua Musa di hadapan Allah”.

10) Dan 5:23 - “Tuanku meninggikan diri terhadap Yang Berkuasa di sorga: perkakas dari BaitNya dibawa orang kepada tuanku, lalu tuanku serta para pembesar tuanku, para isteri dan para gundik tuanku telah minum anggur dari perkakas itu; tuanku telah memuji-muji dewa-dewa dari perak dan emas, dari tembaga, besi, kayu dan batu, yang tidak dapat melihat atau mendengar atau mengetahui, dan tidak tuanku muliakan Allah, yang menggenggam nafas tuanku dan menentukan segala jalan tuanku.

Matthew Henry: not only from his hand our breath was at first, but ‘in his hand our breath is’ still; it is he that ‘holds our souls in life,’ and, if he ‘take away our breath, we die.’ Our times being ‘in his hand,’ so is our breath, by which our times are measured. ‘In him we live, and move, and have our being;’ we live by him, live upon him, and cannot live without him. ‘The way of man is not in himself,’ not at his own command, at his own disposal, ‘but his are all our ways;’ for our hearts are in his hand, and so are the hearts of all men, even of kings, who seem to act most as free-agents (= bukan hanya dari tanganNya nafas kita mula-mula, tetapi nafas kita tetap ada dalam tanganNya; adalah Dia yang memegang jiwa kita dalam kehidupan, dan jika Ia mengambil nafas kita, kita mati. Waktu kita ada dalam tanganNya, demikian juga nafas kita, dengan mana waktu kita diukur. ‘Dalam Dia kita hidup, kita bergerak, kita ada’; kita hidup oleh Dia, hidup dalam Dia, dan tidak bisa hidup tanpa Dia. ‘Jalan manusia bukan dalam dirinya sendiri’, bukan ada dalam kuasanya sendiri, ada dalam kontrol kita, ‘tetapi semua jalan kita adalah milikNya’; karena hati kita ada dalam tanganNya, dan demikian juga hati semua manusia, bahkan hati dari raja-raja, yang kelihatannya bertindak sebagai agen-agen yang paling bebas).
Kis 17:28 - “Sebab di dalam Dia kita hidup, kita bergerak, kita ada, seperti yang telah juga dikatakan oleh pujangga-pujanggamu: Sebab kita ini dari keturunan Allah juga”.
Yer 10:23 - “Aku tahu, ya TUHAN, bahwa manusia tidak berkuasa untuk menentukan jalannya, dan orang yang berjalan tidak berkuasa untuk menetapkan langkahnya”.

Barnes’ Notes: that great Being who keeps you in existence, and who has power to take away your life at any moment. What is here said of Belshazzar is true of all men - high and low, rich and poor, bond and free, princes and people. It is a deeply affecting consideration, that the breath, on which our life depends, and which is itself so frail a thing, is in the ‘hand’ of a Being who is invisible to us, over whom we can have no control; who can arrest it when he pleases; who has given us no intimation when he will do it, and who often does it so suddenly as to defy all previous calculation and hope. Nothing is more absolute than the power which God holds over the breath of men, yet there is nothing which is less recognized than that power, and nothing which men are less disposed to acknowledge than their dependence on him for it (= Allah yang besar itu yang menjaga kamu untuk tetap ada, dan yang mempunyai kuasa untuk mengambil nyawamu pada setiap saat. Apa yang dikatakan di sini tentang Belsyazar adalah benar tentang semua manusia - tinggi dan rendah, kaya dan miskin, budak atau merdeka, pangeran-pangeran dan rakyat. Merupakan suatu pertimbangan yang mempengaruhi secara mendalam, bahwa nafas, pada mana hidup / nyawa kita tergantung, dan yang merupakan sesuatu yang begitu lemah, ada dalam tangan dari Allah yang tak terlihat oleh kita, atas siapa kita tidak bisa mempunyai kontrol; yang bisa menahan / menghentikannya pada saat yang Ia senangi; yang tidak memberi kita isyarat kapan Ia akan melakukannya, dan yang seringkali melakukannya dengan begitu mendadak sehingga menentang semua perhitungan dan pengharapan sebelumnya. Tak ada apapun yang lebih mutlak dari pada kuasa yang Allah pegang atas nafas manusia, tetapi tidak ada apapun yang lebih kurang dikenali / disadari dari pada kuasa itu, dan tidak ada apapun yang manusia kurang mau untuk mengakui dari pada ketergantungan mereka kepadaNya untuk itu).

11) Maz 139:16 - “mataMu melihat selagi aku bakal anak, dan dalam kitabMu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk, sebelum ada satupun dari padanya”.
KJV: ‘my members’ (= anggota-anggotaku).
RSV/NASB/ASV/NKJV: ‘the days’ (= hari-hariku).
NIV: ‘All the days’ (= Semua hari-hariku).

Barnes’ Notes: “‘All my members were written.’ The words ‘my members’ are not in the original. The Hebrew is, as in the margin, ‘all of them.’ The reference may be, not to the members of his body, but to his ‘days’ ... and then the sense would be, all my ‘days,’ or all the periods of my life, were delineated in thy book. That is, When my substance - my form - was not yet developed, when yet an embryo, and when nothing could be determined from that by the eye of man as to what I was to be, all the future was known to God, and was written down - just what should be my form and vigor; how long I should live; what I should be; what would be the events of my life (= ‘Semua anggota-anggotaku telah ditulis’. Kata-kata ‘anggota-anggota’ tidak ada dalam bahasa aslinya. Bahasa Ibraninya adalah seperti pada catatan tepi, ‘semua mereka’. Hubungannya mungkin bukan pada anggota-anggota tubuhnya, tetapi pada ‘hari-hari’nya ... dan lalu artinya akan menjadi, semua ‘hari-hari’ku, atau semua periode dari hidupku, digambarkan / dituliskan dalam kitabMu. Artinya, Pada waktu zatku - bentukku - belum berkembang, pada waktu masih suatu embrio, dan pada waktu tidak ada apapun bisa ditentukan dari itu oleh mata manusia berkenaan dengan aku akan jadi apa, seluruh masa depan diketahui oleh Allah, dan dituliskan - bagaimana bentukku dan kekuatanku; berapa lama aku harus hidup; aku akan jadi apa; bagaimana peristiwa-peristiwa dari hidupku).

Word Biblical Commentary: Yahweh has foreknowledge of all the psalmist’s days, the period of his life (cf. Gen 25:7). ... Here divine foreknowledge of length of life is evidently in view (cf. Exod 32:32–33; Job 14:5; Ps 69:29 [28] [Gunkel, 588; Weiser, 806]) [= Yahweh mempunyai pra pengetahuan tentang semua hari dari sang pemazmur, masa / priode dari hidupnya (bdk. Kej 25:7). ... Di sini pra pengetahuan ilahi tentang panjangnya kehidupan tampak dengan jelas {bdk. Kel 32:32-33; Ayub 14:5; Maz 69:29 (28) (Gunkel, 588; Weiser, 806)}] - Libronix.

James Montgomery Boice (tentang Maz 139:16): From that very first moment, God knew him and had ordained what his life was to be (= Dari saat paling awal itu, Allah mengenalnya dan telah menentukan hidupnya harus menjadi apa) - Libronix.




-bersambung-

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar