About us

Golgotha Ministry adalah pelayanan dari Pdt. Budi Asali,M.Div dibawah naungan GKRI Golgota Surabaya untuk memberitakan Injil ke seluruh dunia dan mengajarkan kebenaran firman Tuhan melalui khotbah-khotbah, pendalaman Alkitab, perkuliahan theologia dalam bentuk tulisan maupun multimedia (DVD video, MP3, dll). Pelayanan kami ini adalah bertujuan agar banyak orang mengenal kebenaran; dan bagi mereka yang belum percaya, menjadi percaya kepada Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadinya, dan bagi mereka yang sudah percaya, dikuatkan dan didewasakan didalam iman kepada Kristus.
Semua yang kami lakukan ini adalah semata-mata untuk kemuliaan nama Tuhan Yesus Kristus.

Kami mengundang dengan hangat setiap orang yang merasa diberkati dan terbeban didalam pelayanan untuk bergabung bersama kami di GKRI Golgota yang beralamat di : Jl. Raya Kalirungkut, Pertokoan Rungkut Megah Raya D-16, Surabaya.

Tuhan Yesus memberkati.

Selasa, 29 Mei 2012

MAUT / KEMATIAN (1)



Khotbah / pelajaran ini disusun untuk membahas, menanggapi dan membantah khotbah Paskah 2012 dari Pdt. Stephen Tong, yang mengatakan bahwa hanya kematian Kristus yang ditetapkan oleh Allah, sedangkan kematian orang-orang lain tidak. Ia menambahkan bahwa Alkitab tidak pernah mengatakan bahwa Allah menentukan kematian seseorang.

Untuk lebih jelasnya saya memberikan kutipan dari makalah khotbah Paskah itu, yang dikeluarkan oleh GRII. Suatu cuplikannya berbunyi sebagai berikut:

Sekarang kita akan membahas topik utama: apa bedanya kematian Kristus dengan kematian semua orang? 1. Semua orang bukan mati di dalam kehendak Allah, hanya Yesus Kristus seorang, yang mati di dalam kehendakNya. Alkitab tidak pernah mencatat si anu mati di dalam kehendak Allah. Lagi pula, mana mungkin Allah menghendaki seorang mati? Lalu, mengapa kita mati? Kita berdosa dan upah dosa adalah maut. Hanya Yesus Kristus, yang mati menurut kehendak Allah (Gal 1:4). Sementara kita, bukan mati karena rencana Allah, tapi karena kita menentang Allah; melanggar Taurat, maka dosa dan maut jadi raja di hati kita, menawan kita (Ro 6:23). 2. semua orang berbuat dosa, karenanya mereka harus mati. Hanya Yesus Kristus; sang kudus, Dia tak berdosa, Dia mengalahkan semua pencobaan, Dia tak seharusnya mati. Lalu mengapa Dia mati? Karena Allah mengutus Dua untuk menggantikan kita” (hal 2-3).

Catatan:
Gal 1:4 - “yang telah menyerahkan diriNya karena dosa-dosa kita, untuk melepaskan kita dari dunia jahat yang sekarang ini, menurut kehendak Allah dan Bapa kita”.
Ro 6:23 - “Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita”.
Saya berpendapat ayat terakhir ini sangat tak cocok!

Yang ingin saya persoalkan dan bahas, bukanlah ajaran Pdt. Stephen Tong tentang kematian Kristus. Saya setuju bahwa kematian Kristus ditentukan oleh Allah. Tetapi bahwa kematian orang-orang lain tidak ditentukan oleh Allah, dan bahwa Alkitab tak pernah mencatat si anu mati di dalam kehendak Allah, itulah yang saya persoalkan. Marilah kita melihat apakah ajaran Pdt. Stephen Tong sesuai dengan ajaran Alkitab.

I) Secara theologis adalah mustahil untuk mengatakan bahwa kematian Kristus saja yang ditentukan sedangkan kematian semua manusia tidak ditentukan.

Mengapa saya katakan demikian? Karena mengapa Kristus harus mati? Karena manusia berdosa, dan upah dosa itu maut, dan Kristus mau menggantikan kita memikul maut / kematian itu. Jadi, kalau kematian Kristus ditentukan, adalah mustahil bahwa dosa dan kematian manusia tidak ditentukan! Dan perlu diingat bahwa Allah tidak membuat rencananya setahap demi setahap, tetapi langsung seluruhnya dari kekekalan (minus tak terhingga). Jadi, jelas bahwa seluruh rentetan ini, yaitu:
1) Jatuhnya manusia ke dalam dosa,
2) Pemberian hukuman mati kepada manusia karena dosanya,
3) Kematian Kristus untuk menebus dosa kita dan mengalahkan kematian yang merupakan upah dosa,
semuanya sudah ditentukan secara sekaligus dalam rencana Allah yang dibuat dalam kekekalan / minus tak terhingga.

Bahwa kematian Kristus direncanakan / dimaksudkan untuk menggantikan kematian kita, jelas ditunjukkan oleh banyak ayat di bawah ini.

Yoh 11:49-52 - “(49) Tetapi seorang di antara mereka, yaitu Kayafas, Imam Besar pada tahun itu, berkata kepada mereka: ‘Kamu tidak tahu apa-apa, (50) dan kamu tidak insaf, bahwa lebih berguna bagimu, jika satu orang mati untuk bangsa kita dari pada seluruh bangsa kita ini binasa.’ (51) Hal itu dikatakannya bukan dari dirinya sendiri, tetapi sebagai Imam Besar pada tahun itu ia bernubuat, bahwa Yesus akan mati untuk bangsa itu, (52) dan bukan untuk bangsa itu saja, tetapi juga untuk mengumpulkan dan mempersatukan anak-anak Allah yang tercerai-berai.

Yoh 12:24 - “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah.

Yoh 12:32-33 - “(32) dan Aku, apabila Aku ditinggikan dari bumi, Aku akan menarik semua orang datang kepadaKu.’ (33) Ini dikatakanNya untuk menyatakan bagaimana caranya Ia akan mati.

2Tim 1:9-10 - “(9) Dialah yang menyelamatkan kita dan memanggil kita dengan panggilan kudus, bukan berdasarkan perbuatan kita, melainkan berdasarkan maksud dan kasih karuniaNya sendiri, yang telah dikaruniakan kepada kita dalam Kristus Yesus sebelum permulaan zaman (10) dan yang sekarang dinyatakan oleh kedatangan Juruselamat kita Yesus Kristus, yang oleh Injil telah mematahkan kuasa maut dan mendatangkan hidup yang tidak dapat binasa.

Ibr 2:9,14-15 - “(9) Tetapi Dia, yang untuk waktu yang singkat dibuat sedikit lebih rendah dari pada malaikat-malaikat, yaitu Yesus, kita lihat, yang oleh karena penderitaan maut, dimahkotai dengan kemuliaan dan hormat, supaya oleh kasih karunia Allah Ia mengalami maut bagi semua manusia. ... (14) Karena anak-anak itu adalah anak-anak dari darah dan daging, maka Ia juga menjadi sama dengan mereka dan mendapat bagian dalam keadaan mereka, supaya oleh kematianNya Ia memusnahkan dia, yaitu Iblis, yang berkuasa atas maut; (15) dan supaya dengan jalan demikian Ia membebaskan mereka yang seumur hidupnya berada dalam perhambaan oleh karena takutnya kepada maut.

Sekarang, kalau kematian Kristus memang dirancang untuk menebus dosa kita dan untuk menghancurkan kematian kita, maka tidak mungkin Allah merencanakan kematian Kristus tanpa merencanakan kematian kita dan juga dosa-dosa kita!

Kalau di atas saya membahasnya secara theologis, maka sekarang saya akan membahasnya dengan menunjukkan ayat-ayat Alkitabnya.

II) Alkitab menunjukkan bahwa kematian manusia sudah ditentukan waktunya oleh Allah, dan ini tidak bisa diubah, diundur atau dimajukan.

Dasar Alkitab:

1) Maz 90:10 - Masa hidup kami tujuh puluh tahun dan jika kami kuat, delapan puluh tahun, dan kebanggaannya adalah kesukaran dan penderitaan; sebab berlalunya buru-buru, dan kami melayang lenyap.

Barnes’ Notes (tentang Maz 90:10): All animals, as the horse, the mule, the elephant, the eagle, the raven, the bee, the butterfly, have each a fixed limit of life, wisely adapted undoubtedly to the design for which they were made, and to the highest happiness of the whole. So of man. There can be no doubt that there are good reasons - some of which could be easily suggested - why his term of life is no longer. But, at any rate, it is no longer; and in that brief period he must accomplish all that he is to do in reference to this world, and all that is to be done to prepare him for the world to come. It is obvious to remark that man has enough to do to fill up the time of his life; that life to man is too precious to be wasted (= Semua binatang, seperti kuda, bagal, gajah, burung elang / rajawali, burung gagak, lebah, kupu-kupu, masing-masing mempunyai suatu batas hidup yang tertentu, secara bijaksana disesuaikan dengan rancangan untuk mana mereka dibuat, dan bagi kebahagiaan tertinggi dari seluruhnya. Demikian juga dengan manusia. Tidak bisa ada keraguan di sana bahwa ada alasan-alasan yang baik - beberapa / sebagian darinya bisa dengan mudah dipikirkan - mengapa hidupnya tidak lebih panjang. Tetapi bagaimanapun, itu tidak lebih panjang; dan dalam periode yang pendek itu ia harus mencapai semua yang harus ia lakukan berkenaan dengan dunia ini, dan semua itu harus dilakukan untuk mempersiapkan dia untuk dunia yang akan datang. Adalah jelas untuk mengatakan bahwa manusia mempunyai cukup untuk dilakukan untuk mengisi waktu dari hidupnya; bahwa hidup bagi manusia adalah terlalu berharga untuk diboroskan / dihamburkan / disia-siakan).

2) 2Sam 7:12 - “Apabila umurmu sudah genap dan engkau telah mendapat perhentian bersama-sama dengan nenek moyangmu, maka Aku akan membangkitkan keturunanmu yang kemudian, anak kandungmu, dan Aku akan mengokohkan kerajaannya”.

Saya berpendapat bahwa kata-kata ‘umurmu sudah genap’ menunjukkan bahwa umur Daud (dan semua orang lain) dibatasi oleh Allah, dan kalau batasan itu sudah sampai, maka dikatakan ‘sudah genap’, dan orang itu harus mati.
Bandingkan dengan:
a) 1Taw 17:11 - “Apabila umurmu sudah genap untuk pergi mengikuti nenek moyangmu, maka Aku akan membangkitkan keturunanmu yang kemudian, salah seorang anakmu sendiri, dan Aku akan mengokohkan kerajaannya”.
b) Rat 4:18 - “Mereka mengintai langkah-langkah kami, sehingga kami tak dapat berjalan di lapangan-lapangan kami; akhir hidup kami mendekat, hari-hari kami sudah genap, ya, akhir hidup kami sudah tiba.

3) Mat 6:27 - “Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?”.
KJV: ‘can add one cubit unto his stature?’ (= dapat menambahkan sehasta pada tinggi badannya?).
RSV: ‘can add one cubit to his span of life?’ (= bisa menambahkan satu hasta pada masa / jangka hidupnya?).
NIV/NASB: ‘can add a single hour to his life?’ (= dapat menambahkan satu jam pada hidupnya?).
Kata Yunani yang dipakai bisa diterjemahkan seperti KJV ataupun seperti RSV/NIV/NASB, tetapi menurut saya adalah jelas bahwa terjemahan KJV sama sekali tidak sesuai dengan kontext dari ayat ini.

Matthew Henry menganggap bahwa terjemahan KJV lebih cocok, karena menurut dia ukuran ‘hasta’ lebih cocok untuk menunjuk pada tinggi badan, dan usia yang paling lama hanyalah ‘satu telempap’ (Maz 39:6).
Matthew Henry: the age at longest is but a span, Ps 39:5 (= usia / umur paling panjang adalah satu jengkal, Maz 39:6).
Catatan: saya tak mengerti mengapa Matthew Henry menggunakan kata ‘span’, karena ‘span’ (= jengkal) berbeda dengan ‘handbreadth’ (= telempap).
Maz 39:6 - “Sungguh, hanya beberapa telempap saja Kautentukan umurku; bagiMu hidupku seperti sesuatu yang hampa. Ya, setiap manusia hanyalah kesia-siaan! Sela”.
Kata ‘telempap’ dalam bahasa Inggris diterjemahkan ‘handbreadth’ (= lebar tangan).

Tetapi Adam Clarke memilih terjemahan dari RSV/NIV/NASB, dan dalam Yoh 9:21 kata Yunani yang sama diterjemahkan ‘age’ oleh KJV/RSV/NIV/NASB.
Yoh 9:21b (KJV): he is of age; ask him: he shall speak for himself (= ia sudah cukup umur; tanyakan kepadanya: ia akan berbicara untuk dirinya sendiri).
Ukuran ‘hasta’, sekalipun sebenarnya merupakan ukuran panjang, tetapi bisa digunakan untuk panjangnya umur, sebagaimana ukuran ‘telempap’, yang juga merupakan ukuran panjang, digunakan untuk panjangnya umur dalam Maz 39:6.
Saya juga berpendapat Matthew Henry sangat salah dalam penafsiran, pada waktu ia menghubungkan Mat 6:27 dengan Maz 39:6, karena 2 alasan:
a) Dua ayat bisa mengumpamakan usia manusia dengan ukuran yang berbeda, tetapi maksudnya sama. Baik ‘hasta’ dalam Mat 6:27, maupun ‘telempap’ dalam Maz 39:6, sama-sama menunjuk pada ‘sedikit’.
b) Kata ‘telempap’ dalam Maz 39:6 dalam bahasa Ibraninya ada dalam bentuk jamak. Kitab Suci Indonesia tepat dalam menterjemahkan beberapa telempap’.

Matthew Henry (tentang Mat 6:27): “‘Which of you,’ the wisest, the strongest of you, ‘by taking thought, can add one cubit to his stature?’ (v. 27) to ‘his age,’ so some; but the measure of a cubit denotes it to be meant of the stature, and the age at longest is but a span, Ps 39:5 (= ).
Adam Clarke (tentang Mat 6:27): “‘Cubit unto his stature?’ I think ‎heelikian ‎should be rendered ‘age’ here, and so our translators have rendered the word in John 9:21, ‎autos ‎‎heelikian ‎‎echei‎, he is of age. A very learned writer observes, that no difficulty can arise from applying ‎peechun‎, a cubit, a measure of extension, to time, and the age of man: as place and time are both quantities, and capable of increase and diminution: and, as no fixed material standard can be employed in the mensuration of the fleeting particles of time, it was natural and necessary, in the construction of language, to apply parallel terms to the discrimination of time and place. Accordingly, we find the same words indifferently used to denote time and place in every known tongue. Lord, let me know the ‘MEASURE’ of my days! Thou hast made my days ‘HAND-BREADTHS,’ Ps 39:5. Many examples might be adduced from the Greek and Roman writers. Besides, it is evident that the phrase of ‘adding one cubit’ is proverbial, denoting something minute; and is therefore applicable to the smallest possible portion of time; but, in a literal acceptation, the addition of a cubit to the stature, would be a great and extraordinary accession of height” (= ).
Catatan: kedua kutipan ini tidak saya terjemahkan karena intinya sudah saya berikan di atas.

Barnes’ Notes (tentang Mat 6:27): ‘Stature.’ This word means ‘height.’ The original word, however, means oftener ‘age,’ John 9:21: ‘He is of age;’ so also John 9:23. If this be its meaning here, as is probable (compare Robinson, Lexicon), it denotes that a man cannot increase the length of his life at all. The utmost anxiety will not prolong it one hour beyond the time appointed for death [= ‘Stature’ / ‘tinggi badan’. Kata ini berarti ‘ketinggian’. Tetapi kata bahasa aslinya lebih sering berarti ‘usia / umur’, Yoh 9:21: ‘Ia sudah cukup umur’; lihat juga Yoh 9:23. Jika ini adalah artinya di sini, dan itu memungkinkan (bandingkan Robinson, Lexicon), ini menunjukkan bahwa seorang manusia tidak bisa menambah panjang hidupnya sama sekali. Kekuatiran yang terbesar tidak akan memperpanjangnya satu jampun melebihi waktu yang ditetapkan untuk kematian].

4) Ibr 9:27 - “Dan sama seperti manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja, dan sesudah itu dihakimi”.
Baik Calvin maupun John Owen mengatakan bahwa memang ada orang-orang yang mati 2 x seperti Lazarus (dan juga orang-orang yang pernah mati lalu dibangkitkan; mereka pasti akan mati lagi). Juga ada orang-orang yang tidak pernah mati (Henokh dan Elia), maupun orang-orang yang masih hidup pada saat Yesus datang kembali, karena mereka ini akan langsung diubahkan menjadi tubuh kebangkitan (1Kor 15:51).
Semua ini tidak berarti bahwa Ibr 9:27 ini salah, karena ayat ini hanya bicara tentang nasib manusia secara umum.

Calvin (tentang Ibr 9:27): Were any one to object and say, that some had died twice, such as Lazarus, and not once; the answer would be this, - that the Apostle speaks here of the ordinary lot of men; but they are to be excepted from this condition, who shall by an instantaneous change put corruption, (1 Corinthians 15:51;) for he includes none but those who wait for a long time in the dust for the redemption of their bodies (= ).
John Owen: “the death of all the individuals of mankind by the decretory sentence of God. ... The instances of those who died not after the manner of other men, as Enoch and Elijah, or those who, having died once, were raised from the dead and died again, as Lazarus, give no difficulty herein. They are instances of exemption from the common rule by mere acts of divine sovereignty; but the apostle argues from the general rule and constitution, and thereon alone the force of his comparisons doth depend, and they are not weakened by such exemptions” (= ).
Catatan: kedua kutipan ini tidak saya terjemahkan karena intinya sudah saya berikan di atas.

John Owen: “It is appointed, decreed, determined of God, that men, sinful men, shall once die, and after that come to judgment for their sins” (= Merupakan sesuatu yang ditetapkan, didekritkan, ditentukan oleh Allah, bahwa manusia, manusia berdosa, akan mati satu kali, dan setelah itu datang pada penghakiman untuk dosa-dosa mereka).

John Owen: “‘It is ‘appointed,’ ‘determined,’ ‘enacted,’ ‘statutum est.’ It is so by him who hath a sovereign power and authority in and over these things; and hath the force of an unalterable law, which none can transgress. God himself hath thus appointed it; none else can determine and dispose of these things” (= Itu ‘ditetapkan’, ‘ditentukan’, ‘dijadikan undang-undang’, ‘statutum est’. Itu adalah demikian oleh Dia yang mempunyai kuasa dan otoritas yang berdaulat dalam dan atas hal-hal ini; dan mempunyai kekuatan dari suatu hukum yang tidak bisa diubah, yang tak seorangpun bisa melanggarnya. Allah sendiri telah menetapkannya demikian; tak ada orang lain bisa menentukan dan mengatur hal-hal ini).
Bdk. Kis 17:31 - “Karena Ia telah menetapkan suatu hari, pada waktu mana Ia dengan adil akan menghakimi dunia oleh seorang yang telah ditentukanNya, sesudah Ia memberikan kepada semua orang suatu bukti tentang hal itu dengan membangkitkan Dia dari antara orang mati.’”.

John Owen: “The death of all is equally determined and certain in God’s constitution. It hath various ways of approach unto all individuals, - hence is it generally looked on as an accident befalling this or that man, - but the law concerning it is general and equal” (= Kematian dari semua secara sama ditentukan dan pasti dalam undang-undang Allah. Kematian mempunyai bermacam-macam jalan / cara pendekatan kepada semua individu, - karena itu hal itu pada umumnya dipandang / dianggap sebagai suatu kecelakaan / kebetulan yang menimpa orang ini atau orang itu, - tetapi hukum berkenaan dengannya adalah umum dan sama).

John Owen: “It is appointed unto them ‘to die;’ - that is, penally for sin, as death was threatened in that penal statute mentioned in the curse of the law; and death under that consideration alone is taken away by the death of Christ. The sentence of dying naturally is continued towards all; but the moral nature of dying, with the consequents of it, is removed from some by Christ. The law is not absolutely reversed; but what was formally penal in it is taken away” (= Ditetapkan bagi mereka ‘untuk mati’; - yaitu secara hukum untuk dosa, karena kematian diancamkan dalam undang-undang yang bersifat hukum disebutkan dalam kutuk dari hukum; dan hanya di bawah pertimbangan itu saja kematian diambil / disingkirkan oleh kematian Kristus. Pernyataan tentang kematian itu secara alamiah diteruskan kepada semua orang, tetapi sifat moral dari kematian, dengan konsekwensi-konsekwensinya, disingkirkan dari sebagian orang oleh Kristus. Hukum itu tidak secara mutlak dibalikkan; tetapi apa adalah yang hukum secara formal di dalamnya diambil / disingkirkan).

Jadi, sekalipun kematian mula-mula datang sebagai hukuman, dan bagi orang Kristen hukuman sudah dipikul oleh Kristus, tetapi orang Kristen tetap mengalami kematian. Tetapi kematian itu berubah status, bukan lagi sebagai hukuman dosa, karena hukuman ini sudah ditanggung oleh Kristus.

5) Maz 39:5-6 - “(5) ‘Ya TUHAN, beritahukanlah kepadaku ajalku, dan apa batas umurku, supaya aku mengetahui betapa fananya aku! (6) Sungguh, hanya beberapa telempap saja Kautentukan umurku; bagiMu hidupku seperti sesuatu yang hampa. Ya, setiap manusia hanyalah kesia-siaan! Sela”.
KJV: ‘an handbreadth’ (= suatu lebar tangan).
NIV: a mere handbreadth’ (= semata-mata suatu lebar tangan).
RSV: ‘a few handbreaths’ (= beberapa lebar tangan).
NASB: ‘handbreaths’ (= lebar tangan).
Catatan: dalam bahasa Ibrani kata ini ada dalam bentuk jamak, jadi RSV/NASB yang paling tepat dalam terjemahannya.

Calvin (tentang Maz 39:6): A hand-breadth is the measure of four fingers, and is here taken for a very small measure; as if it had been said, the life of man flies swiftly away, and the end of it, as it were, touches the beginning (= Suatu telempap adalah ukuran dari empat jari, dan di sini diartikan untuk suatu ukuran yang sangat kecil; seakan-akan telah dikatakan, hidup manusia terbang dengan cepat, dan akhir darinya, seakan-akan menyentuh awalnya).

Spurgeon (tentang Maz 39:6): “A handbreadth is one of the shortest natural measures, being the breadth of four fingers; such is the brevity of life, by divine appointment; God hath made it so, fixing the period in wisdom” (= Suatu lebar tangan adalah salah satu ukuran alamiah yang terpendek, yang adalah lebar dari empat jari; demikianlah singkatnya hidup, oleh penetapan ilahi; Allah telah membuatnya demikian, menetapkan masa / periode itu dalam hikmat).

6) Ayub 14:5 - Jikalau hari-harinya sudah pasti, dan jumlah bulannya sudah tentu padaMu, dan batas-batasnya sudah Kautetapkan, sehingga tidak dapat dilangkahinya,.
KJV: ‘Seeing his days are determined, the number of his months are with thee, thou hast appointed his bounds that he cannot pass’ (= Melihat hari-harinya ditentukan, jumlah dari bulan-bulannya ada bersama Engkau, Engkau telah menetapkan batasan-batasannya yang tidak bisa ia lampaui).
RSV: ‘Since his days are determined, and the number of his months is with thee, and thou hast appointed his bounds that he cannot pass’ (= Karena hari-harinya ditentukan, dan jumlah bulan-bulannya ada bersama Engkau, dan Engkau sudah menentukan batasan-batasannya yang tidak bisa ia lampaui).
NIV: ‘Man’s days are determined; you have decreed the number of his months and have set limits he cannot exceed’ (= Hari-hari manusia ditentukan; Engkau telah mendekritkan jumlah bulan-bulannya dan telah menetapkan batasan-batasan yang tidak bisa ia lampaui / lebihi).

Bible Knowledge Commentary (tentang Ayub 14:5): Not only is man’s life short; his days and months are determined by God, with time limits beyond which he cannot go (= Bukan hanya hidup manusia itu pendek; hari-harinya dan bulan-bulannya ditentukan oleh Allah, dengan batasan waktu yang tidak bisa dilampauinya).

Matthew Henry (tentang Ayub 14:5): Of the settled period of human life, v. 5. ... Three things we are here assured of: - (1.) That our life will come to an end; our days upon earth are not numberless, are not endless, no, they are numbered, and will soon be finished, Dan 5:26. (2.) That it is determined, in the counsel and decree of God, how long we shall live and when we shall die. The number of our months is with God, at the disposal of his power, which cannot be controlled, and under the view of his omniscience, which cannot be deceived. It is certain that God’s providence has the ordering of the period of our lives; our times are in his hand. The powers of nature depend upon him, and act under him. In him we live and move. Diseases are his servants; he kills and makes alive. Nothing comes to pass by chance, no, not the execution done by a bow drawn at a venture. It is therefore certain that God’s prescience has determined it before; for ‘known unto God are all his works.’ Whatever he does he determined, yet with a regard partly to the settled course of nature (the end and the means are determined together) and to the settled rules of moral government, punishing evil and rewarding good in this life. We are no more governed by the Stoic’s blind fate than by the Epicurean’s blind fortune. (3.) That the bounds God has fixed we cannot pass; for his counsels are unalterable, his foresight being infallible [= Tentang periode / masa yang tetap dari hidup manusia, ay 5. ... Di sini kita bisa pasti tentang tiga hal: - (1.) Bahwa hidup kita akan berakhir; hari-hari kita di bumi bukanlah tak terhitung, bukanlah tanpa akhir, tidak, hari-hari itu dihitung, dan akan segera habis, Dan 5:26. (2.) Bahwa itu ditentukan, dalam rencana dan dekrit dari Allah, berapa lama kita akan hidup dan kapan kita akan mati. Jumlah dari bulan-bulan kita ada bersama Allah, diatur oleh kuasaNya, yang tidak bisa dikontrol, dan ada di bawah pandangan dari kemahatahuanNya, yang tidak bisa ditipu. Adalah pasti bahwa Providensia Allah mempunyai pengaturan dari masa hidup kita; waktu kita ada dalam tanganNya. Kuasa-kuasa dari alam tergantung kepada Dia, dan bertindak di bawah Dia. Dalam Dia kita hidup dan bergerak (Kis 17:28). Penyakit-penyakit adalah pelayan-pelayanNya; ‘Ia mematikan dan menghidupkan’ (Ul 32:39 1Sam 2:6). Tak ada apapun terjadi secara kebetulan, tidak, bahkan tidak eksekusi yang dilakukan oleh suatu busur yang ditarik secara sembarangan (1Raja 22:34). Karena itu adalah pasti bahwa pra pengetahuan Allah telah menentukannya sebelumnya; karena ‘diketahui oleh Allah semua pekerjaanNya’ (Kis 15:18). Apapun yang Ia lakukan Ia tentukan lebih dulu, tetapi sambil memberi sebagian perhatian pada jalan alam yang ditentukan (tujuan / akhir dan cara / jalannya ditentukan bersama-sama) dan pada peraturan-peraturan yang ditetapkan dari pemerintahan moral, penghukuman kejahatan dan pemberian pahala bagi kebaikan dalam hidup ini. Kita tidak diperintah oleh takdir buta dari golongan Stoa maupun oleh keberuntungan buta dari golongan Epikuros. (3.) Bahwa batasan-batasan yang telah Allah tetapkan / tentukan tidak bisa kita lampaui; karena rencanaNya tidak bisa berubah, pra penglihatanNya tidak bisa salah].
Ul 32:39 - “Lihatlah sekarang, bahwa Aku, Akulah Dia. Tidak ada Allah kecuali Aku. Akulah yang mematikan dan yang menghidupkan, Aku telah meremukkan, tetapi Akulah yang menyembuhkan, dan seorangpun tidak ada yang dapat melepaskan dari tanganKu”.
1Sam 2:6 - TUHAN mematikan dan menghidupkan, Ia menurunkan ke dalam dunia orang mati dan mengangkat dari sana”.
Kis 17:28a - “Sebab di dalam Dia kita hidup, kita bergerak, kita ada”.
Kis 15:18 (KJV): ‘Known unto God are all his works from the beginning of the world’ (= Diketahui oleh Allah semua pekerjaanNya sejak permulaan dunia).
Catatan: kalau Golongan Stoa percaya adanya takdir yang bahkan ada di atas Allah, maka golongan Epikuros percaya bahwa segala sesuatu terjadi secara kebetulan. Kedua golongan ini muncul dalam Kis 17:18.

Barnes’ Notes (tentang Ayub 14:5): The word ‘determined’ here means ‘fixed, settled.’ God has fixed the number of his days, so that they cannot be exceeded; compare the notes at Isa 10:23, and Ps 90:10. ‘The number of his months are with thee.’ Thou hast the ordering of them, or they are determined by thee. ‘Thou hast appointed his bounds.’ Thou hast fixed a limit, or hast determined the time which he is to live, and he cannot go beyond it. There is no elixir of life that can prolong our days beyond that period. Soon we shall come to that outer limit of life, and then we MUST DIE. When that is we know not, and it is not desirable to know. It is better that it should be concealed. If we knew that it was near, it would fill us with gloom, and deter us from the efforts and the plans of life altogether. If it were remote, we should be careless and secure, and should think there was time enough yet to prepare to die. As it is, we know that the period is not very far distant; we know not but that it may be very near at hand, and we would be always ready (= Kata ‘ditentukan’ di sini berarti ‘tertentu, tetap’. Allah telah menetapkan jumlah hari-harinya, sehingga hari-hari itu tidak bisa dilampaui; bandingkan dengan catatan pada Yes 10:23, dan Maz 90:10. ‘Jumlah bulan-bulannya ada bersama Engkau’. Engkau mempunyai pengaturan / pemerintahan dari bulan-bulan itu, atau bulan-bulan itu ditentukan olehMu. ‘Engkau telah menetapkan batasan-batasannya’. Engkau telah menetapkan suatu batasan, atau telah menentukan waktu untuk mana ia harus hidup, dan ia tidak dapat melampauinya. Tidak ada obat yang mujarab yang bisa memperpanjang hari-hari kita melampaui masa / periode itu. Segera kita akan sampai pada batasan luar dari kehidupan itu, dan lalu kita HARUS MATI. Kapan itu kita tidak tahu, dan bukan sesuatu yang bagus / menyenangkan untuk tahu. Adalah lebih baik bahwa hal itu disembunyikan. Jika kita tahu bahwa itu sudah dekat, itu akan memenuhi kita dengan kemurungan, dan menghalangi kita sama sekali dari usaha-usaha dan rencana-rencana kehidupan. Jika itu masih jauh, kita akan menjadi ceroboh dan merasa aman, dan berpikir bahwa masih ada waktu yang cukup untuk mempersiapkan diri untuk mati. Sebagaimana adanya, kita tahu bahwa masa itu tidak terlalu jauh; kita tidak tahu kecuali bahwa itu bisa sangat dekat, dan kita akan selalu siap).
Yes 20:23 - “Sungguh, kebinasaan yang sudah pasti akan dilaksanakan di atas seluruh bumi oleh Tuhan, TUHAN semesta alam”.
Maz 90:10 - “Masa hidup kami tujuh puluh tahun dan jika kami kuat, delapan puluh tahun, dan kebanggaannya adalah kesukaran dan penderitaan; sebab berlalunya buru-buru, dan kami melayang lenyap”.

7) Yak 4:13-15 - “(13) Jadi sekarang, hai kamu yang berkata: ‘Hari ini atau besok kami berangkat ke kota anu, dan di sana kami akan tinggal setahun dan berdagang serta mendapat untung’, (14) sedang kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap. (15) Sebenarnya kamu harus berkata: ‘Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu.’”.

Adam Clarke (tentang Yak 4:13): “‘To-day, or tomorrow, we will go.’ This presumption on a precarious life is here well reproved; and the ancient Jewish rabbis have some things on the subject which probably James had in view. In Debarim Rabba, sec. 9, fol. 261, 1, we have the following little story: ‘Our rabbis tell us a story which happened in the days of Rabbi Simeon, the son of Chelpatha. He was present at the circumcision of a child, and stayed with its father to the entertainment. The father brought out wine for his guests that was seven years old, saying, With this wine will I continue for a long time to celebrate the birth of my new-born son. They continued supper until midnight. At that time Rabbi Simeon arose and went out, that he might return to the city in which he dwelt. On the way he saw the angel of death walking up and down. He said to him, Who art thou? He answered, I am the messenger of God. The rabbi said, Why wanderest thou about thus? He answered, I kill those persons who say, We will do this, or that, and think not how soon death may overpower them: that man with whom thou hast cupped, and who said to his guests, With this wine will I continue for a long time to celebrate the birth of my new-born son, behold the end of his life is at hand, for he shall die within thirty days.’ By this parable they teach the necessity of considering the shortness and uncertainty of human life; and that God is particularly displeased with those people: ‘Who, counting on long years of pleasure here, Are quite unfurnished for a world to come.’” (= ‘Hari ini, atau besok, kami akan pergi’. Anggapan / kesombongan tentang hidup yang tergantung pada kehendak ‘Orang lain’ ini di sini dengan benar ditegur; dan rabi-rabi Yahudi kuno mempunyai beberapa hal tentang pokok yang mungkin ada dalam pandangan Yakobus. Dalam Debarim Rabba, sec. 9, fol. 261, 1, kami mempunyai cerita pendek sebagai berikut: ‘Rabi-rabi kita menceritakan kepada kita suatu cerita yang terjadi pada jaman Rabi Simeon, anak dari Chelpatha. Ia hadir pada penyunatan seorang anak laki-laki, dan tinggal dengan ayah anak itu sampai pada acara hiburan. Ayah itu membawa keluar anggur berusia 7 tahun untuk tamu-tamunya, sambil berkata, Dengan anggur ini aku akan terus merayakan, untuk waktu yang lama, kelahiran dari anak laki-lakiku yang baru lahir. Mereka melanjutkan makan malam sampai tengah malam. Pada saat itu Rabi Simeon bangkit dan keluar, supaya ia bisa kembali ke kota dalam mana ia tinggal. Dalam perjalanan ia melihat malaikat maut berjalan naik dan turun. Ia berkata kepadanya, Siapakah engkau? Ia menjawab, Aku adalah utusan Allah. Sang rabi berkata, Mengapa engkau berkeliling-keliling seperti ini? Ia menjawab, Aku membunuh orang-orang itu yang berkata, Kami akan berbuat ini, atau itu, dan tidak berpikir betapa cepat kematian bisa mengalahkan mereka: orang itu dengan siapa engkau telah minum anggur, dan yang berkata kepada tamu-tamunya, Dengan anggur ini aku akan terus merayakan, untuk waktu yang lama, kelahiran dari anak laki-lakiku yang baru lahir, lihatlah akhir dari hidupnya sudah dekat, dan ia akan mati dalam 30 hari’. Dengan perumpamaan ini mereka mengajar perlunya mempertimbangkan pendeknya dan tidak tentunya hidup manusia dan bahwa Allah secara khusus tidak senang dengan orang-orang itu: ‘Yang, memperhitungkan tahun-tahun yang panjang dari kesenangan di sini, dan tidak bersiap sedia untuk dunia yang akan datang’.).

Calvin (tentang Yak 4:13): He condemns here another kind of presumption, that many, who ought to have depended on God’s providence, confidently settled what they were to do, and arranged their plans for a long time, as though they had many years at their own disposal, while they were not sure, no not even of one moment. Solomon also sharply ridicules this kind of foolish boasting, when he says that ‘men settle their ways in their heart, and that the Lord in the mean time rules the tongue.’ (Proverbs 16:1.) And it is a very insane thing to undertake to execute what we cannot pronounce with our tongue. James does not reprove the form of speaking, but rather the arrogance of mind, that men should forget their own weakness, and speak thus presumptuously; ... James roused the stupidity of those who disregarded God’s providence, and claimed for themselves a whole year, though they had not a single moment in their own power; the gain which was afar off they promised to themselves, though they had no possession of that which was before their feet [= Di sini ia mengecam suatu jenis lain dari kesombongan, dimana banyak orang, yang seharusnya menggantungkan diri pada Providensia Allah, dengan yakin menentukan apa yang akan mereka lakukan, dan mengatur rencana-rencana mereka untuk waktu yang lama, seakan-akan mereka mempunyai banyak tahun yang tersedia bagi mereka, padahal mereka tidak pasti, tidak, bahkan tidak untuk sesaaatpun. Salomo juga dengan tajam mentertawakan / mengejek jenis dari pembanggaan tolol ini, pada waktu ia berkata bahwa ‘manusia menentukan jalan-jalan mereka dalam hati mereka, dan bahwa pada waktu yang sama Tuhan memerintah / menguasai lidah’. (Amsal 16:1). Dan merupakan hal yang sangat gila untuk berusaha melakukan apa yang tidak bisa kita ucapkan dengan lidah kita. Yakobus tidak mencela bentuk dari pembicaraan ini, tetapi lebih mencela kesombongan dari pikiran, bahwa manusia melupakan kelemahan mereka, dan berbicara dengan begitu sombong; ... Yakobus membangunkan kebodohan dari mereka yang tidak mempedulikan Providensia Allah, dan mengclaim bagi diri mereka sendiri seluruh tahun, sekalipun mereka tidak mempunyai satu saatpun dalam kuasa mereka sendiri; keuntungan yang masih jauh mereka janjikan kepada diri mereka sendiri, sekalipun mereka tidak memiliki apa yang ada di depan kaki mereka].
Amsal 16:1 - “Manusia dapat menimbang-nimbang dalam hati, tetapi jawaban lidah berasal dari pada TUHAN”.
NASB: The plans of the heart belong to man, But the answer of the tongue is from the LORD (= Rencana-rencana dari hati adalah milik manusia, Tetapi jawaban lidah adalah dari TUHAN).

Calvin (tentang Yak 4:15): “‘If the Lord will.’ A twofold condition is laid down, ‘If we shall live so long,’ and, ‘If the Lord will;’ because many things may intervene to upset what we may have determined; for we are blind as to all future events. By ‘will’ he means not that which is expressed in the law, but God’s counsel by which he governs all things (= ‘Jika Tuhan menghendaki’. Suatu syarat rangkap dua diberikan, ‘Jika kita akan hidup selama itu’, dan ‘Jika Tuhan menghendaki’; karena banyak hal bisa menghalangi untuk mengacaukan apa yang telah kita tentukan; karena kita buta berkenaan dengan semua peristiwa-peristiwa yang akan datang. Dengan ‘kehendak’ ia tidak memaksudkan apa yang dinyatakan dalam hukum Taurat, tetapi rencana Allah dengan mana Ia memerintah segala sesuatu).
Editor dari Calvin’s Commentary (John Owen): The words may be rendered thus, ‘If the Lord will, we shall both live and do this or that.’ So that living and doing are both dependent on God’s will (= Kata-kata itu bisa diterjemahkan demikian, ‘Jika Tuhan menghendaki, kita akan hidup dan melakukan ini atau itu’. Jadi / sehingga ‘hidup’ dan ‘berbuat’ keduanya tergantung kehendak Allah) - hal 341 (footnote).

Matthew Henry (tentang Yak 4:15): We must remember that our times are not in our own hands, but at the disposal of God; we live as long as God appoints, and in the circumstances God appoints, and therefore must be submissive to him, even as to life itself (= Kita harus ingat bahwa waktu kita tidak berada dalam tangan kita sendiri, tetapi ada dalam kontrol Allah; kita hidup selama Allah menetapkan, dan dalam keadaan-keadaan yang Allah tetapkan, dan karena itu harus tunduk kepada Dia, bahkan berkenaan dengan hidup itu sendiri).

Barnes’ Notes (tentang Yak 4:15): If the Lord will ...’ This is proper, because we are wholly dependent on him for life, and as dependent on him for success (= ‘Jika Tuhan menghendaki ...’. Ini tepat / benar, karena kita sepenuhnya tergantung kepadaNya untuk kehidupan, dan sama tergantungnya kepadaNya untuk kesuksesan).

Jamieson, Fausset & Brown (Yak 4:15): “‘We shall live.’ ‘We shall both live and do,’ etc. The boaster spoke as if life and the particular action were in their power; whereas both depend entirely on the will of the Lord (= ‘Kita akan hidup’. ‘Kita akan hidup dan berbuat / melakukan’ dst. Sang pembangga berbicara seakan-akan hidup dan tindakan khusus itu ada dalam kuasa mereka, padahal keduanya tergantung sepenuhnya pada kehendak Tuhan).



-bersambung-

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar