About us

Golgotha Ministry adalah pelayanan dari Pdt. Budi Asali,M.Div dibawah naungan GKRI Golgota Surabaya untuk memberitakan Injil ke seluruh dunia dan mengajarkan kebenaran firman Tuhan melalui khotbah-khotbah, pendalaman Alkitab, perkuliahan theologia dalam bentuk tulisan maupun multimedia (DVD video, MP3, dll). Pelayanan kami ini adalah bertujuan agar banyak orang mengenal kebenaran; dan bagi mereka yang belum percaya, menjadi percaya kepada Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadinya, dan bagi mereka yang sudah percaya, dikuatkan dan didewasakan didalam iman kepada Kristus.
Semua yang kami lakukan ini adalah semata-mata untuk kemuliaan nama Tuhan Yesus Kristus.

Kami mengundang dengan hangat setiap orang yang merasa diberkati dan terbeban didalam pelayanan untuk bergabung bersama kami di GKRI Golgota yang beralamat di : Jl. Raya Kalirungkut, Pertokoan Rungkut Megah Raya D-16, Surabaya.

Tuhan Yesus memberkati.

Selasa, 29 Mei 2012

MAUT / KEMATIAN (3)



12) Mat 10:27-31 - “(27) Apa yang Kukatakan kepadamu dalam gelap, katakanlah itu dalam terang; dan apa yang dibisikkan ke telingamu, beritakanlah itu dari atas atap rumah. (28) Dan janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka. (29) Bukankah burung pipit dijual dua ekor seduit? Namun seekorpun dari padanya tidak akan jatuh ke bumi di luar kehendak Bapamu. (30) Dan kamu, rambut kepalamupun terhitung semuanya. (31) Sebab itu janganlah kamu takut, karena kamu lebih berharga dari pada banyak burung pipit”.
KJV: without your Father (= tanpa Bapamu).
Kata ‘kehendak’ (ay 29) sebetulnya tidak ada.

Jamieson, Fausset & Brown (tentang Mat 10:29): “‘And one of them shall not fall on the ground (exhausted or killed) without your Father’ - ‘Not one of them is forgotten before God,’ as it is in Luke” [= Dan seekorpun dari mereka tidak akan jatuh ke tanah (kelelahan atau dibunuh) tanpa Bapamu’ - ‘Tak seekorpun dari mereka dilupakan di hadapan Allah’, seperti dalam Lukas].
Luk 12:6-7 - “(6) Bukankah burung pipit dijual lima ekor dua duit? Sungguhpun demikian tidak seekorpun dari padanya yang dilupakan Allah, (7) bahkan rambut kepalamupun terhitung semuanya. Karena itu jangan takut, karena kamu lebih berharga dari pada banyak burung pipit”.
Luk 21:18 - “Tetapi tidak sehelaipun dari rambut kepalamu akan hilang.
KJV/RSV/NIV/NASB: ‘perish’ (= mati / binasa).
Catatan: Luk 21:8 ini kontextnya berbeda, tetapi juga menunjukkan perlindungan Tuhan terhadap anak-anakNya.

Burung pipit begitu murah sehingga kalau 1 duit dapat 2 ekor, maka kalau 2 duit dapat 5 ekor (buy four get one free!), tetapi tetap burung pipit ini dijaga / diperhatikan oleh Bapa.

Adam Clarke (tentang Mat 10:29): The doctrine intended to be inculcated is this: The providence of God extends to the minutest things; everything is continually under the government and care of God, and nothing occurs without his will or permission; if then he regards sparrows, how much more man, and how much more still the soul that trusts in him! ... ‘Without your Father.’ Without the will of your Father: ‎tees ‎‎boulees‎, the will or counsel, is added here by Origen, Coptic, all the Arabic, latter Persic, Gothic, all the Itala except two; Tertullian, Irenaeus, Cyprian, Novatian, and other Latin fathers. If the evidence be considered as insufficient to entitle it to admission into the text, let it stand there as a supplementary italic word, necessary to make the meaning of the place evident. All things are ordered by the counsel of God. This is a great consolation to those who are tried and afflicted. The belief of an all-wise, all-directing Providence, is a powerful support under the most grievous accidents of life. Nothing escapes his merciful regards, not even the smallest things of which he may be said to be only the creator and preserver; how much less those of whom he is the Father, Saviour, and endless felicity! (= Doktrin / ajaran yang dimaksudkan untuk ditanamkan di sini adalah ini: Providensia Allah meluas pada hal-hal yang paling kecil; segala sesuatu secara terus menerus ada di bawah pemerintahan dan penjagaan / kepedulian Allah, dan tak ada apapun yang terjadi tanpa kehendak atau ijinNya; maka jika Ia mempedulikan burung pipit, betapa lebih lagi manusia, dan betapa lebih lagi jiwa yang percaya kepadaNya! ... ‘Tanpa Bapamu’. Tanpa kehendak Bapamu: tees ‎‎boulees‎, ‘kehendak’ atau ‘rencana’, ditambahkan di sini oleh Origen, Coptic, semua bahasa Arab, Persic yang belakangan, Gothic, semua bahasa Itala kecuali dua; Tertullian, Irenaeus, Cyprian, Novatian, dan bapa-bapa gereja Latin yang lain. Jika bukti itu dianggap sebagai tidak cukup untuk memberinya hak untuk masuk ke dalam text, biarlah itu berada di sana sebagai kata yang dicetak miring dan bersifat penambahan, perlu untuk membuat jelas arti dari bagian ini. Segala sesuatu diatur / diperintah oleh rencana Allah. Ini adalah suatu penghiburan yang besar bagi mereka yang dicobai dan menderita. Kepercayaan tentang suatu Providensia yang seluruhnya bijaksana dan mengarahkan, merupakan suatu dukungan yang kuat di bawah kejadian-kejadian kehidupan yang paling menyedihkan. Tak ada yang lolos dari kepedulianNya yang penuh belas kasihan, bahkan tidak hal-hal yang terkecil tentang mana Ia bisa dikatakan hanya sebagai pencipta dan pemelihara; apalagi mereka bagi siapa Ia adalah Bapa, Juruselamat, dan kebahagiaan yang tak ada akhirnya).
Catatan: aneh, orang ini jadi Reformed di sini!

Barnes’ Notes (tentang Mat 10:29): Without your Father.’ That is, God, your Father, guides and directs its fall. It falls only with HIS permission, and where HE chooses (= ‘Tanpa Bapamu’. Yaitu / artinya, Allah, Bapamu, membimbing dan mengarahkan kejatuhannya. Ia jatuh hanya dengan ijinNYA, dan dimana IA memilih tempatnya).

Carson (tentang Mat 10:29-31): The third reason for not being afraid is an a fortiori argument: If God’s providence is so all embracing that not even a sparrow drops from the sky apart from the will of God, cannot that same God be trusted to extend his providence over Jesus’ disciples? ... God’s sovereignty is not limited only to life-and-death issues; even the hairs of our heads are counted. Jesus’ third argument against fear is thus the very opposite of what is commonly advanced. People say that God cares about the big things but not about little details. But Jesus says that God’s sovereignty over the tiniest detail should give us confidence that he also superintends the larger matters (= Alasan ketiga untuk tidak takut adalah suatu argumentasi a fortiori: Jika Providensia Allah begitu mencakup segala sesuatu sehingga bahkan seekor burung pipit tidak jatuh dari langit terpisah dari kehendak Allah, tidak bisakah Allah yang sama dipercaya untuk memperluas providensiaNya kepada murid-murid Yesus? ... Kedaulatan Allah tidak dibatasi hanya pada persoalan-persoalan hidup dan mati; bahkan rambut kepala kita dihitung. Argumentasi ketiga dari Yesus terhadap rasa takut adalah persis kebalikan dari apa yang biasanya diajukan. Orang-orang berkata bahwa Allah peduli tentang hal-hal yang besar tetapi tidak tentang detail-detail yang kecil. Tetapi Yesus berkata bahwa kedaulatan Allah atas detail yang terkecil harus memberi kita keyakinan bahwa Ia juga mengawasi / mengarahkan persoalan-persoalan yang lebih besar) - Libronix.
Catatan: argumentasi a fortiori adalah argumentasi yang lebih kuat dari argumentasi yang telah diberikan sebelumnya.

Matthew Henry (tentang Mat 10:29-31): Now this God, who has such an eye to the sparrows, because they are his creatures, much more will have an eye to you, who are his children. If a sparrow die not ‘without your Father,’ surely a man does not, - a Christian, - a minister, - my friend, my child. A bird falls not into the fowler’s net, nor by the fowler’s shot, and so comes not to be sold in the market, but according to the direction of providence; ... ‘But the very hairs of your head are all numbered.’ This is a proverbial expression, denoting the account which God takes and keeps of all the concernments of his people, even of those that are most minute, and least regarded. ... If God numbers their hairs, much more does he number their heads, and take care of their lives, their comforts, their souls. It intimates, that God takes more care of them, than they do of themselves. They who are solicitous to number their money, and goods, and cattle, yet were never careful to number their hairs, which fall and are lost, and they never miss them: but God ‘numbers the hairs of’ his people, and ‘not a hair of their head shall perish’ (Luke 21:18); not the least hurt shall be done them, but upon a valuable consideration: so precious to God are his saints, and their lives and deaths! [= Sekarang Allah ini, yang mempunyai perhatian seperti itu pada burung-burung pipit, karena mereka adalah makhluk-makhluk ciptaanNya, lebih-lebih lagi Ia akan memperhatikan kamu, yang adalah anak-anakNya. Jika seekor burung pipit tidak mati ‘tanpa Bapamu’, pastilah seorang manusia juga tidak, - seorang Kristen, - seorang pendeta / pelayan, - sahabatku, anakku. Seekor burung tidak jatuh ke dalam jerat seorang penangkap burung, ataupun oleh tembakan dari sang penangkap burung, dan tidak akan sampai di pasar untuk dijual, kecuali sesuai dengan pengarahan dari providensia; ... ‘Tetapi rambut kepalamupun terhitung semuanya’. Ini merupakan suatu ungkapan yang bersifat peribahasa, menunjukkan catatan yang Allah buat dan pegang tentang semua perhatian tentang umatNya, bahkan tentang hal-hal yang paling kecil, dan paling kurang dipedulikan. ... Jika Allah menghitung rambut mereka, lebih-lebih lagi Ia menghitung kepala mereka, dan menjaga kehidupan mereka, hiburan / pertolongan mereka, jiwa-jiwa mereka. Itu mengisyaratkan bahwa Allah lebih peduli pada hal-hal itu dari pada mereka sendiri mempedulikan hal-hal itu. Mereka yang cukup mempunyai perhatian untuk menghitung uang, dan harta benda, dan ternak mereka, tidak pernah menghitung rambut mereka, yang rontok dan hilang, dan mereka tak pernah kehilangan rambut-rambut itu: tetapi Allah menghitung rambut dari umatNya dan tak sehelai rambutpun dari kepala mereka akan binasa (Luk 21:18); tak akan ada rasa sakit yang terkecil akan dilakukan terhadap mereka, kecuali karena suatu pertimbangan yang berharga: demikian berharga bagi Allah orang-orang kudusNya, dan kehidupan dan kematian mereka!].

Spurgeon (tentang Mat 10:29-31): Those birds are of little worth, and you are of far greater consideration than many of them. God observes the death of a sparrow, and he much more notes the lives and deaths of his people. Even the least part of his children’s bodily frame has been registered. ‘The very hairs of their head’ are counted and catalogued; and, to the most minute circumstance, all their lives are under the arrangement of the Lord of love. Chance is not in our creed: the decree of the Eternal Watcher rules our destiny, and love is seen in every line of that decree. Since we shall not suffer harm at the hand of men by their arbitrary conduct, apart from the will and permission of our Father, let us be ready to bear with holy courage whatever the wrath of man may bring upon us. God will not waste the life of one of his soldiers; no, nor a hair of his head (= Burung-burung itu sedikit nilai / harganya, dan kamu merupakan pertimbangan yang jauh lebih besar dari pada banyak dari mereka. Allah memperhatikan kematian dari seekor burung pipit, dan betapa lebih Ia memperhatikan kehidupan dan kematian dari umatNya. Bahkan bagian terkecil dari kerangka tubuh anak-anakNya telah dicatat. ‘Rambut kepala mereka’ dihitung dan didaftarkan; dan, sampai pada keadaan yang paling kecil, semua kehidupan mereka ada di bawah pengaturan dari Tuhan dari kasih. ‘Kebetulan’ tidak ada dalam pengakuan iman kita: ketetapan dari Penjaga Kekal mengatur / memerintah nasib kita, dan kasih terlihat dalam setiap baris dari ketetapan itu. Karena kita tidak akan mengalami kerugian / kerusakan pada tangan manusia oleh tingkah laku yang sewenang-wenang, terpisah dari kehendak dan ijin dari Bapa kita, hendaklah kita siap untuk memikul dengan keberanian kudus apapun yang bisa dibawa oleh murka manusia kepada kita. Allah tidak akan membuang-buang / memboroskan kehidupan dari salah satu dari tentaraNya, tidak, tidak sehelai rambutpun dari kepalanya) - ‘The Gospel of the Kingdom’ (Libronix).

III) Orang Arminian menganggap bahwa umur / saat kematian bisa diubah.

1) Kematian bisa dimajukan atau dimundurkan? Umur bisa dikurangi atau ditambah?

Ayub 14:5 - “Jikalau hari-harinya sudah pasti, dan jumlah bulannya sudah tentu padaMu, dan batas-batasnya sudah Kautetapkan, sehingga tidak dapat dilangkahinya”.
Di atas kita sudah membahas ayat ini, tetapi sekarang kita akan melihat tafsiran Adam Clarke, seorang Arminian, tentang ayat ini.
Adam Clarke (tentang Ayub 14:5): “‘Seeing his days are determined.’ The general term of human life is fixed by God himself; in vain are all attempts to prolong it beyond this term. ... Nor can death be avoided. Dust thou art, and unto dust thou shalt return, is the law, ... But, although man cannot pass his appointed bounds, yet he may so live as never to reach them; for folly and wickedness abridge the term of human life; and therefore the psalmist says, Bloody and deceitful men shall not live out HALF their days, Ps 55:23, for by indolence, intemperance, and disorderly passions, the life of man is shortened in cases innumerable. We are not to understand the bounds as applying to individuals, but to the race in general. Perhaps there is no case in which God has determined absolutely that man’s age shall be so long, and shall neither be more nor less. The contrary supposition involves innumerable absurdities (= ‘Melihat hari-harinya ditentukan’. Masa hidup yang umum dari kehidupan manusia ditentukan oleh Allah sendiri; sia-sia semua usaha untuk memperpanjangnya melampaui masa hidup ini. ... Juga kematian tidak bisa dihindari. ‘Dari debu engkau berasal, kepada debu engkau akan kembali’, adalah hukumnya, ... Tetapi, sekalipun manusia tidak bisa melampaui batasan-batasan yang ditentukanNya, tetapi ia bisa hidup sedemikian rupa sehingga tak pernah mencapainya; karena kebodohan dan kejahatan mempersingkat masa hidup manusia; dan karena itu sang pemazmur berkata: ‘Orang penumpah darah dan penipu tidak akan mencapai setengah umurnya’, Maz 55:24, karena oleh kemalasan, tak adanya penguasaan diri / minum minuman keras berlebihan, dan nafsu-nafsu yang kacau / melanggar peraturan, hidup manusia diperpendek dalam kasus-kasus yang tak terhitung / sangat banyak. Kita tidak boleh mengerti batasan-batasan itu sebagai diterapkan kepada individu-individu, tetapi kepada bangsa secara umum. Mungkin tak ada kasus dalam mana Allah telah menentukan secara mutlak bahwa umur manusia akan sepanjang ini, dan tidak akan lebih atau kurang. Anggapan yang bertentangan melibatkan / mencakup hal-hal menggelikan yang sangat banyak).
Maz 55:24 - “Tetapi Engkau, ya Allah, akan menjerumuskan mereka ke lubang sumur yang dalam; orang penumpah darah dan penipu tidak akan mencapai setengah umurnya. Tetapi aku ini percaya kepadaMu”.
Catatan: menurut saya ini adalah penafsiran yang sangat tolol! Tetapi Albert Barnes memberikan penafsiran tentang Maz 55:24 ini dengan kata-kata yang kurang lebih sama seperti komentar Clarke tentang Ayub 14:5.
Barnes’ Notes (tentang Maz 55:24): “‘Shall not live out half their days.’ Margin, as in Hebrew, ‘shall not halve their days.’ So the Septuagint, and the Latin Vulgate. The statement is general, not universal. The meaning is, that they do not live half as long as they might do, and would do, if they were ‘not’ bloody and deceitful. Beyond all question this is true. Such people are either cut off in strife and conflict, in personal affrays in duels, or in battle; or they are arrested for their crimes, and punished by an ignominious death. Thousands and tens of thousands thus die every year, who, ‘but’ for their evil deeds, might have doubled the actual length of their lives; who might have passed onward to old age respected, beloved, happy, useful. There is to all, indeed, an outer limit of life. There is a bound which we cannot pass. That natural limit, however, is one that in numerous cases is much ‘beyond’ what people actually reach, though one to which they ‘might’ have come by a course of temperance, prudence, virtue, and piety. God has fixed a limit beyond which we cannot pass; but, wherever that may be, as arranged in his providence, it is our duty not to cut off our lives ‘before’ that natural limit is reached; or, in other words, it is our duty to live on the earth just as long as we can. Whatever makes us come short of this is self-murder, for there is no difference in principle between a man’s cutting off his life by the pistol, by poison, or by the halter, and cutting it off by vice, by crime, by dissipation, by the neglect of health, or by those habits of indolence and self-indulgence which undermine the constitution, and bring the body down to the grave. Thousands die each year whose proper record on their graves would be ‘self-murderers.’ Thousands of young people are indulging in habits which, unless arrested, ‘must’ have such a result, and who are destined to an early grave - who will not live out half their days - unless their mode of life is changed, and they become temperate, chaste, and virtuous. One of the ablest lawyers that I have ever known - an example of what often occurs - was cut down in middle life by the use of tobacco. How many thousands perish each year, in a similar manner, by indulgence in intoxicating drinks! (= ).

Matthew Henry (tentang Maz 55:24): They were bloody men, and cut others off, and therefore God will justly cut them off: they were deceitful men, .. and now God will cut them short, though not of that which was their due, yet of that which they counted upon (= Mereka adalah orang-orang penumpah darah, dan membunuh orang-orang lain, dan karena itu Allah dengan adil akan membunuh mereka: mereka adalah orang-orang penipu, ... dan sekarang Allah akan memotong mereka pendek, sekalipun bukan dari apa yang merupakan hak / milik mereka, tetapi dari apa yang mereka harapkan / perhitungkan).

Maz 139:16 - “mataMu melihat selagi aku bakal anak, dan dalam kitabMu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk, sebelum ada satupun dari padanya”.
Sekarang perhatikan bagaimana penafsir ini menafsirkan ayat di atas ini.
The Bible Exposition Commentary: Old Testament (tentang Maz 139:16): But the Lord did more than design and form our bodies; He also planned and determined our days (v. 16). This probably includes the length of life (Job 14:5) and the tasks He wants us to perform (Eph 2:10; Phil 2:12-13). This is not some form of fatalism or heartless predestination, for what we are and what He plans for us come from God’s loving heart (33:11) and are the very best He has for us (Rom 12:2). If we live foolishly, we might die before the time God has ordained, but God’s faithful children are immortal until their work is done [= Tetapi Tuhan melakukan lebih dari pada merancang dan membentuk tubuh kita; Ia juga merencanakan dan menentukan hari-hari kita (ay 16). Ini mungkin mencakup panjangnya kehidupan (Ayub 14:5) dan tugas-tugas yang Ia inginkan untuk kita lakukan (Ef 2:10; Fil 2:12-13). Ini bukanlah sejenis fatalisme atau predestinasi tanpa hati / perasaan, karena apa adanya kita dan apa yang Ia rencanakan bagi kita datang dari hati Allah yang penuh kasih (33:11) dan merupakan yang terbaik yang Ia punyai untuk kita (Ro 12:2). Jika kita hidup secara bodoh, kita bisa mati sebelum waktu yang Allah tentukan, tetapi anak-anak yang setia dari Allah tidak bisa mati sampai pekerjaan mereka dilakukan / diselesaikan].
Catatan: saya tak mengerti mengapa Fil 2:12-13 Maz 33:11 dan Ro 12:2 dipakai sebagai ayat referensi, karena semuanya tidak cocok.
Ef 2:10 - “Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya”.

Lenski (tentang Mat 6:27): Worry does not lengthen life, it usually shortens life (= Kekuatiran tidak memperpanjang hidup, itu biasanya mempersingkat hidup).

Maz 102:24-25 - “(24) Ia telah mematahkan kekuatanku di jalan, dan memperpendek umurku. (25) Aku berkata: ‘Ya Allahku, janganlah mengambil aku pada pertengahan umurku! Tahun-tahunMu tetap turun-temurun!’”.
Pkh 8:13 - “Tetapi orang yang fasik tidak akan beroleh kebahagiaan dan seperti bayang-bayang ia tidak akan panjang umur, karena ia tidak takut terhadap hadirat Allah”.
Ul 4:25-26 - “(25) Apabila kamu beranak cucu dan kamu telah tua di negeri itu lalu kamu berlaku busuk dengan membuat patung yang menyerupai apapun juga, dan melakukan apa yang jahat di mata TUHAN, Allahmu, sehingga kamu menimbulkan sakit hatiNya, (26) maka aku memanggil langit dan bumi menjadi saksi terhadap kamu pada hari ini, bahwa pastilah kamu habis binasa dengan segera dari negeri ke mana kamu menyeberangi sungai Yordan untuk mendudukinya; tidak akan lanjut umurmu di sana, tetapi pastilah kamu punah”.

Lalu bagaimana dengan ayat-ayat yang mengatakan bahwa dengan melakukan sesuatu seseorang bisa panjang umur?
Misalnya:
Kel 20:12 - “Hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu”.
Adam Clarke: “‘That thy days may be long.’ This, as the apostle observes, Eph 6:2, is the first commandment to which God has annexed a promise; and therefore we may learn in some measure how important the duty is in the sight of God. In Deut 5:16 it is said, ‘And that it may go well with thee,’ we may therefore conclude that it will go ill with the disobedient, and there is no doubt that the untimely deaths of many young persons are the judicial consequence of their disobedience to their parents. Most who come to an untimely end are obliged to confess that this, along with the breach of the Sabbath, was the principal cause of their ruin (= ‘Supaya lanjut umurmu’. Ini, seperti sang rasul amati, Ef 6:2, adalah perintah / hukum yang pertama pada mana Allah telah menambahkan suatu janji; dan karena itu kita bisa belajar dalam ukuran tertentu betapa penting kewajiban ini dalam pandangan Allah. Dalam Ul 5:16 dikatakan, ‘dan baik keadaanmu’, dan karena itu kita boleh menyimpulkan bahwa akan buruk keadaannya dengan orang-orang yang tidak taat, dan tidak ada keraguan bahwa kematian-kematian yang terjadi sebelum waktunya dari banyak orang-orang muda merupakan konsekwensi yang bersifat penghakiman dari ketidak-taatan mereka kepada orang tua mereka. Kebanyakan dari mereka yang sampai pada akhir / kematian yang sebelum waktunya harus mengakui bahwa hal ini, bersama-sama dengan pelanggaran Sabat, merupakan penyebab utama dari kehancuran mereka).
Catatan: aneh dan tidak konsekwen! Dari ayat seperti Ayub 14:5 di atas, Adam Clarke mengatakan bahwa usia manusia tidak bisa melampaui batasan yang diberikan oleh Allah, tetapi bisa diperpendek. Lalu mengapa dari ayat seperti Kel 20:12, ia tidak menyimpulkan bahwa usia bisa diperpanjang, tetapi tetap mengatakan bisa diperpendek! Padahal ayat ini berkata ‘supaya lanjut umurmu’! Dan ayat-ayat seperti ini ada banyak! Lihat-lihat ayat-ayat di bawah ini:
  • Ul 4:40 - “Berpeganglah pada ketetapan dan perintahNya yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, supaya baik keadaanmu dan keadaan anak-anakmu yang kemudian, dan supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu untuk selamanya.’”.
  • Ul 5:33 - “Segenap jalan, yang diperintahkan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu, haruslah kamu jalani, supaya kamu hidup, dan baik keadaanmu serta lanjut umurmu di negeri yang akan kamu duduki.’”.
  • Ul 6:1-2 - “(1) ‘Inilah perintah, yakni ketetapan dan peraturan, yang aku ajarkan kepadamu atas perintah TUHAN, Allahmu, untuk dilakukan di negeri, ke mana kamu pergi untuk mendudukinya, (2) supaya seumur hidupmu engkau dan anak cucumu takut akan TUHAN, Allahmu, dan berpegang pada segala ketetapan dan perintahNya yang kusampaikan kepadamu, dan supaya lanjut umurmu.
  • Ul 11:8-9 - “(8) ‘Jadi kamu harus berpegang pada seluruh perintah yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, supaya kamu kuat untuk memasuki serta menduduki negeri, ke mana kamu pergi mendudukinya, (9) dan supaya lanjut umurmu di tanah yang dijanjikan TUHAN dengan sumpah kepada nenek moyangmu untuk memberikannya kepada mereka dan kepada keturunan mereka, suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya”.
  • Ul 11:18-21 - “(18) Tetapi kamu harus menaruh perkataanku ini dalam hatimu dan dalam jiwamu; kamu harus mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu. (19) Kamu harus mengajarkannya kepada anak-anakmu dengan membicarakannya, apabila engkau duduk di rumahmu dan apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun; (20) engkau harus menuliskannya pada tiang pintu rumahmu dan pada pintu gerbangmu, (21) supaya panjang umurmu dan umur anak-anakmu di tanah yang dijanjikan TUHAN dengan sumpah kepada nenek moyangmu untuk memberikannya kepada mereka, selama ada langit di atas bumi”.
  • Ul 22:6-7 - “(6) Apabila engkau menemui di jalan sarang burung di salah satu pohon atau di tanah dengan anak-anak burung atau telur-telur di dalamnya, dan induknya sedang duduk mendekap anak-anak atau telur-telur itu, maka janganlah engkau mengambil induk itu bersama-sama dengan anak-anaknya. (7) Setidak-tidaknya induk itu haruslah kaulepaskan, tetapi anak-anaknya boleh kauambil. Maksudnya supaya baik keadaanmu dan lanjut umurmu.
  • Ul 25:15 - “Haruslah ada padamu batu timbangan yang utuh dan tepat; haruslah ada padamu efa yang utuh dan tepat - supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu”.
  • Ul 32:46-47 - “(46) berkatalah ia kepada mereka: ‘Perhatikanlah segala perkataan yang kuperingatkan kepadamu pada hari ini, supaya kamu memerintahkannya kepada anak-anakmu untuk melakukan dengan setia segala perkataan hukum Taurat ini. (47) Sebab perkataan ini bukanlah perkataan hampa bagimu, tetapi itulah hidupmu, dan dengan perkataan ini akan lanjut umurmu di tanah, ke mana kamu pergi, menyeberangi sungai Yordan untuk mendudukinya.’”.
  • 1Raja 3:14 - “Dan jika engkau hidup menurut jalan yang Kutunjukkan dan tetap mengikuti segala ketetapan dan perintahKu, sama seperti ayahmu Daud, maka Aku akan memperpanjang umurmu.’”.
  • Maz 91:14,16 - “(14) ‘Sungguh, hatinya melekat kepadaKu, maka Aku akan meluputkannya, Aku akan membentenginya, sebab ia mengenal namaKu. ... (16) Dengan panjang umur akan Kukenyangkan dia, dan akan Kuperlihatkan kepadanya keselamatan dari padaKu.’”.
  • Amsal 3:1-2 - “(1) Hai anakku, janganlah engkau melupakan ajaranku, dan biarlah hatimu memelihara perintahku, (2) karena panjang umur dan lanjut usia serta sejahtera akan ditambahkannya kepadamu”.
  • Amsal 9:10-11 - “(10) Permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN, dan mengenal Yang Mahakudus adalah pengertian. (11) Karena oleh aku umurmu diperpanjang, dan tahun-tahun hidupmu ditambah.
Adam Clarke (tentang Amsal 9:11): “Vice shortens human life, by a necessity of consequence: and by the same, righteousness lengthens it” (= Perbuatan jahat memperpendek kehidupan manusia, oleh suatu keharusan dari konsekwensi: dan oleh konsekwensi yang sama, kebenaran memperpanjangnya).
Catatan: kata-katanya di bagian akhir bertentangan dengan tafsirannya tentang Ayub 14:5 yang saya berikan di atas.

Jadi, sangat banyak ayat yang mengatakan bahwa dengan hidup sesuai kehendak Tuhan umur bisa diperpanjang dan sebaliknya, dengan hidup jahat umur diperpendek.
Amsal 10:27 - “Takut akan TUHAN memperpanjang umur, tetapi tahun-tahun orang fasik diperpendek.
Ul 30:17-20 - “(17) Tetapi jika hatimu berpaling dan engkau tidak mau mendengar, bahkan engkau mau disesatkan untuk sujud menyembah kepada allah lain dan beribadah kepadanya, (18) maka aku memberitahukan kepadamu pada hari ini, bahwa pastilah kamu akan binasa; tidak akan lanjut umurmu di tanah, ke mana engkau pergi, menyeberangi sungai Yordan untuk mendudukinya. (19) Aku memanggil langit dan bumi menjadi saksi terhadap kamu pada hari ini: kepadamu kuperhadapkan kehidupan dan kematian, berkat dan kutuk. Pilihlah kehidupan, supaya engkau hidup, baik engkau maupun keturunanmu, (20) dengan mengasihi TUHAN, Allahmu, mendengarkan suaraNya dan berpaut padaNya, sebab hal itu berarti hidupmu dan lanjut umurmu untuk tinggal di tanah yang dijanjikan TUHAN dengan sumpah kepada nenek moyangmu, yakni kepada Abraham, Ishak dan Yakub, untuk memberikannya kepada mereka.’”.

Kalau semua ayat-ayat ini diartikan bahwa umur manusia betul-betul bisa diperpanjang atau diperpendek, maka itu akan bertentangan dengan semua ayat-ayat di atas yang menunjukkan bahwa usia manusia ditentukan oleh Tuhan. Jadi, saya berpendapat bahwa ayat-ayat seperti ini harus ditafsirkan dari sudut pandang manusia! Hanya dari sudut pandang manusia saja maka hidup yang jahat, dan juga segala macam kebodohan (seperti merokok dsb), bisa memperpendek umur, dan sebaliknya, hidup yang saleh bisa memperpanjang umur. Tetapi dari sudut Tuhan, semua itu (baik usianya maupun hidup baik / jahatnya) sudah ditentukan.

Sama seperti tentang hari Tuhan yang sudah ditentukan oleh Tuhan.
Bdk. Kis 17:31 - “Karena Ia telah menetapkan suatu hari, pada waktu mana Ia dengan adil akan menghakimi dunia oleh seorang yang telah ditentukanNya, sesudah Ia memberikan kepada semua orang suatu bukti tentang hal itu dengan membangkitkan Dia dari antara orang mati.’”.
Tetapi ada ayat yang menunjukkan bahwa itu bisa dimajukan.
2Pet 3:12 - “yaitu kamu yang menantikan dan mempercepat kedatangan hari Allah. Pada hari itu langit akan binasa dalam api dan unsur-unsur dunia akan hancur karena nyalanya”.
Mat 24:21-22 - “(21) Sebab pada masa itu akan terjadi siksaan yang dahsyat seperti yang belum pernah terjadi sejak awal dunia sampai sekarang dan yang tidak akan terjadi lagi. (22) Dan sekiranya waktunya tidak dipersingkat, maka dari segala yang hidup tidak akan ada yang selamat; akan tetapi oleh karena orang-orang pilihan waktu itu akan dipersingkat.
Dua text ini pasti berbicara dari sudut pandang manusia, sedang ayat yang di atas (Kis 17:31) berbicara dari sudut pandang Allah.

Juga dalam memikirkan umur panjang atau pendek, kita harus mengingat Pkh 8:12-13 - “(12) Walaupun orang yang berdosa dan yang berbuat jahat seratus kali hidup lama, namun aku tahu, bahwa orang yang takut akan Allah akan beroleh kebahagiaan, sebab mereka takut terhadap hadiratNya. (13) Tetapi orang yang fasik tidak akan beroleh kebahagiaan dan seperti bayang-bayang ia tidak akan panjang umur, karena ia tidak takut terhadap hadirat Allah”.

2) Doa kita bisa mengubah umur kita / menunda kematian kita?

2Raja 20:1-6a - “(1) Pada hari-hari itu Hizkia jatuh sakit dan hampir mati. Lalu datanglah nabi Yesaya bin Amos, dan berkata kepadanya: ‘Beginilah firman TUHAN: Sampaikanlah pesan terakhir kepada keluargamu, sebab engkau akan mati, tidak akan sembuh lagi.’ (2) Lalu Hizkia memalingkan mukanya ke arah dinding dan ia berdoa kepada TUHAN: (3) ‘Ah TUHAN, ingatlah kiranya, bahwa aku telah hidup di hadapanMu dengan setia dan dengan tulus hati dan bahwa aku telah melakukan apa yang baik di mataMu.’ Kemudian menangislah Hizkia dengan sangat. (4) Tetapi Yesaya belum lagi keluar dari pelataran tengah, tiba-tiba datanglah firman TUHAN kepadanya: (5) ‘Baliklah dan katakanlah kepada Hizkia, raja umatKu: Beginilah firman TUHAN, Allah Daud, bapa leluhurmu: Telah Kudengar doamu dan telah Kulihat air matamu; sesungguhnya Aku akan menyembuhkan engkau; pada hari yang ketiga engkau akan pergi ke rumah TUHAN. (6) Aku akan memperpanjang hidupmu lima belas tahun lagi”.

Yes 38:1-5 - “(1) Pada hari-hari itu Hizkia jatuh sakit dan hampir mati. Lalu datanglah nabi Yesaya bin Amos dan berkata kepadanya: ‘Beginilah firman TUHAN: Sampaikanlah pesan terakhir kepada keluargamu, sebab engkau akan mati, tidak akan sembuh lagi.’ (2) Lalu Hizkia memalingkan mukanya ke arah dinding dan ia berdoa kepada TUHAN. (3) Ia berkata: ‘Ah TUHAN, ingatlah kiranya, bahwa aku telah hidup di hadapanMu dengan setia dan dengan tulus hati dan bahwa aku telah melakukan apa yang baik di mataMu.’ Kemudian menangislah Hizkia dengan sangat. (4) Maka berfirmanlah TUHAN kepada Yesaya: (5) ‘Pergilah dan katakanlah kepada Hizkia: Beginilah firman TUHAN, Allah Daud, bapa leluhurmu: Telah Kudengar doamu dan telah Kulihat air matamu. Sesungguhnya Aku akan memperpanjang hidupmu lima belas tahun lagi”.

Banyak orang, khususnya yang Arminian, yang menganggap bagian ini sebagai dasar bahwa doa bisa mengubah Rencana Allah. Tetapi benarkah di sini terjadi perubahan rencana Allah, khususnya berkenaan dengan umur Hizkia? Saya tidak percaya hal itu, dengan alasan sebagai berikut:

a) Kitab Suci menyatakan bahwa doa yang dikabulkan hanyalah doa yang sesuai dengan kehendak / rencana Allah (1Yoh 5:14), dan karena itu dalam berdoa kita harus berserah / tunduk pada kehendak / rencana Allah itu (Mat 6:10b Mat 26:39b,42).
1Yoh 5:14 - “Dan inilah keberanian percaya kita kepadaNya, yaitu bahwa Ia mengabulkan doa kita, jikalau kita meminta sesuatu kepadaNya menurut kehendakNya”.
Mat 6:10b - “jadilah kehendakMu”.
Mat 26:39 - “Maka Ia maju sedikit, lalu sujud dan berdoa, kataNya: ‘Ya BapaKu, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari padaKu, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.’”.
Mat 26:42 - “Lalu Ia pergi untuk kedua kalinya dan berdoa, kataNya: ‘Ya BapaKu, jikalau cawan ini tidak mungkin lalu, kecuali apabila Aku meminumnya, jadilah kehendakMu!’”.
Kalau kita menafsirkan bahwa di sini terjadi perubahan rencana Allah karena doa Hizkia, maka penafsiran itu akan menentang ayat-ayat tersebut di atas.

Sebagai perbandingan, Musa sendiri, yang dihukum Tuhan dengan tidak boleh masuk ke Kanaan (Bil 20:12 Ul 1:37), berdoa supaya diijinkan hidup lebih lama sehingga bisa masuk tanah Kanaan, tetapi tidak dikabulkan (Ul 3:23-26).
Bil 20:12 - “Tetapi TUHAN berfirman kepada Musa dan Harun: ‘Karena kamu tidak percaya kepadaKu dan tidak menghormati kekudusanKu di depan mata orang Israel, itulah sebabnya kamu tidak akan membawa jemaah ini masuk ke negeri yang akan Kuberikan kepada mereka.’”.
Ul 1:37 - “Juga kepadaku TUHAN murka oleh karena kamu, dan Ia berfirman: Juga engkau tidak akan masuk ke sana.
Ul 3:23-26 - “(23) ‘Juga pada waktu itu aku mohon kasih karunia dari pada TUHAN, demikian: (24) Ya, Tuhan ALLAH, Engkau telah mulai memperlihatkan kepada hambaMu ini kebesaranMu dan tanganMu yang kuat; sebab allah manakah di langit dan di bumi, yang dapat melakukan perbuatan perkasa seperti Engkau? (25) Biarlah aku menyeberang dan melihat negeri yang baik yang di seberang sungai Yordan, tanah pegunungan yang baik itu, dan gunung Libanon. (26) Tetapi TUHAN murka terhadap aku oleh karena kamu dan tidaklah mendengarkan permohonanku. TUHAN berfirman kepadaku: Cukup! Jangan lagi bicarakan perkara itu dengan Aku.

b) Kitab Suci menyatakan berulang-ulang bahwa usia manusia ditetapkan oleh Allah, dan ketetapan itu tidak mungkin dilampaui. Ayat-ayat sudah sangat banyak saya berikan di atas. Kalau kita menafsirkan bahwa di sini terjadi perubahan penetapan usia karena doa Hizkia, maka kita menentang ayat-ayat tersebut di atas.

c) Pada saat itu Hizkia belum mempunyai anak, karena dengan membandingkan 2Raja 20:6 dan 2Raja 21:1 kita bisa tahu bahwa Manasye baru lahir 3 tahun setelah peristiwa ini.
Tidak mungkin Tuhan merencanakan kematian Hizkia pada saat itu karena itu akan menyebabkan:
1. JanjiNya kepada Daud dalam 2Sam 7:12-16 tidak akan tergenapi. Bandingkan ini dengan ay 6 akhir: ‘oleh karena Daud, hambaKu’. Ini menunjukkan bahwa doa Hizkia itu dikabulkan karena janji Tuhan kepada Daud dalam 2Sam 7:12-16 ini.
2. Janji tentang Mesias / Yesus juga tidak akan terjadi, karena Yesus lahir dari keturunan Hizkia maupun Manasye (Mat 1:9-10).

Kalau demikian, bagaimana penafsiran yang benar tentang cerita ini? Tuhan merencanakan bahwa kematian Hizkia terjadi pada usia 54 tahun (39 + 15). Tetapi pada usia 39 tahun Hizkia sakit dan hampir mati. Kalau Tuhan memang menghendaki kematian Hizkia, Ia bisa mendiamkan saja hal itu (tanpa mengirim Yesaya untuk memberitakan kematiannya). Tetapi Tuhan tidak menghendaki kematian Hizkia, dan karena itu ia mengirimkan Yesaya untuk memberitakan kematian Hizkia. Hizkia tersentak dan lalu berdoa, dan Tuhan mengabulkan permohonannya, sehingga akhirnya terlaksanalah rencana Allah, yang menunjukkan bahwa Hizkia mati pada usia 54 tahun (2Raja 18:2).
Tetapi kalau demikian apakah kata-kata Tuhan dalam ay 1 itu merupakan dusta? Tidak! Hizkia betul-betul akan mati, andaikata ia tidak berdoa. Tetapi Tuhan sendiri menggerakkan Hizkia untuk berdoa, dan Tuhan mengabulkan doa itu, sehingga rencana Tuhan yang terlaksana.

Perhatikan beberapa komentar tentang bagian ini:

a. E. J. Young: “Unless there is special intervention, Hezekiah will die. ... Only a miraculous intervention of God could deliver the king’s life; and this God would not do, unless first the king turned to Him in supplication. Thus, Hezekiah must learn how fully his life lay in God’s hands” (= Kecuali ada intervensi khusus, Hizkia akan mati. ... Hanya intervensi yang bersifat mujijat dari Allah bisa melepaskan sang raja; dan ini tidak akan dilakukan oleh Allah, kecuali sang raja lebih dulu berpaling kepadaNya dalam permohonan. Demikianlah Hizkia harus belajar betapa hidupnya sepenuhnya terletak di tangan Allah) - ‘Isaiah’, hal 508-509.

b. E. J. Young: “God has heard the king’s prayer. The prayer does not move God to change His purposes, for He is the unchangeable one; but God now reveals to Hezekiah what His purposes were” (= Allah telah mendengar doa sang raja. Doa tidak menggerakkan Allah untuk mengubah rencanaNya, karena Ia adalah seseorang yang tak berubah; tetapi sekarang Allah menyatakan rencanaNya kepada Hizkia) - ‘Isaiah’, hal 512.

c. Calvin: “But it may be thought strange that God, having uttered a sentence, should soon afterwards be moved, as it were, by repentance to reverse it; for nothing is more at variance with his nature than a change of purpose. I reply, while death was threatened against Hezekiah, still God had not decreed it, but determined in this manner to put to the test the faith of Hezekiah. We must, therefore, suppose a condition to be implied in that threatening; for otherwise Hezekiah would not have altered, by repentance or prayer, the irreversible decree of God. But the Lord threatened him in the same manner as he threatened Gerar for carrying off Sarah, (Gen. 20:3) and as he threatened the Ninevites (Jonah 1:2; and 3:4). ... God threatened the death of Hezekiah, because he was unwilling that Hezekiah should die; ... And thus we must suppose an implied condition to have been understood, which Hezekiah, if he did not immediately perceive it, yet afterwards in good time knew to have been added” [= Tetapi kelihatannya aneh bahwa Allah, setelah mengucapkan suatu kalimat / hukuman / vonis, lalu setelah itu digerakkan, seakan-akan oleh suatu pertobatan / penyesalan lalu membaliknya; karena tidak ada apapun yang lebih bertentangan dengan sifat alamiahNya dari pada suatu perubahan rencana. Saya menjawab, sekalipun kematian diancamkan terhadap Hizkia, tetap Allah tidak menetapkannya, tetapi menentukan dengan cara ini untuk menguji iman Hizkia. Karena itu kita harus menganggap bahwa ada syarat yang diberikan secara tidak langsung dalam ancaman itu; karena kalau tidak Hizkia tidak akan mengubah, oleh pertobatan atau doa, ketetapan Allah yang tidak bisa berubah. Tetapi Tuhan mengancamnya dengan cara yang sama seperti Ia mengancam Gerar karena mengambil Sara (Kej 20:3), dan seperti Ia mengancam Niniwe (Yun 1:2 dan 3:4). ... Allah mengancamkan kematian Hizkia, karena Ia tidak mau Hizkia mati; ... Dan demikianlah kita harus menganggap bahwa ada syarat tersembunyi yang harus dimengerti, yang jika tidak langsung dimengerti oleh Hizkia, pasti dimengertinya belakangan] - ‘Isaiah’, hal 157-158.
Catatan: anehnya, dalam tafsirannya tentang 2Raja 20:3, Adam Clarke memberikan tafsiran yang kira-kira sama dengan kata-kata Calvin di atas ini.
Adam Clarke (tentang 2Raja 20:3): “Hezekiah knew that, although the words of Isaiah were delivered to him in an absolute form, yet they were to be conditionally understood; else he could not have prayed to God to reverse a purpose which he knew to be irrevocable” (= Hizkia tahu bahwa, sekalipun kata-kata Yesaya disampaikan kepadanya dalam bentuk yang mutlak, tetapi kata-kata itu harus dimengerti secara bersyarat; karena kalau tidak, ia tidak akan berdoa kepada Allah untuk membalik suatu rencana yang ia tahu tidak bisa dibatalkan).

d. Calvin: “This might indeed, at first sight appear to be absurd; for we were created on the condition of not being able to pass, by a single moment, the limit marked out for us; as Job also says, ‘Thou hast appointed his bounds which he cannot pass.’ (Job 14:5). But the solution is easy. What is said about an extended period must be understood to refer to the views of Hezekiah” [= Sekilas pandang ini kelihatannya memang menggelikan; karena kita diciptakan dengan suatu batasan yang dipilih bagi kita, yang tidak bisa dilewati sesaatpun; seperti Ayub juga berkata: ‘batas-batasnya sudah Kautetapkan, sehingga tidak dapat dilangkahinya’ (Ayub 14:5). Tetapi pemecahannya mudah. Apa yang dikatakan sebagai masa perpanjangan harus dimengerti menunjuk pada pandangan Hizkia] - ‘Isaiah’, hal 160.

e. Calvin: “For why did the Lord send Jonah to the Ninevites to foretell the ruin of the city? Why did he through Isaiah indicate death to Hezekiah? For he could have destroyed both the Ninevites and Hezekiah without any messenger of destruction. Therefore he had in view something other than that, forewarned of their death, they might discern it coming from a distance. Indeed, he did not wish them to perish, but to be changed lest they perish” (= Mengapa Tuhan mengirimkan Yunus ke Niniwe untuk meramalkan kehancuran kota itu? Mengapa Ia, melalui Yesaya, menyatakan kematian kepada Hizkia? Karena Ia bisa menghancurkan baik Niniwe maupun Hizkia tanpa utusan kehancuran. Karena itu Ia mempunyai maksud yang lain dari itu; diperingatkan lebih dulu tentang kematian mereka, mereka melihat kematian itu datang dari jauh. Memang, Ia tidak menginginkan supaya mereka mati, tetapi supaya mereka diubah supaya mereka jangan mati) - ‘Institutes of the Christian Religion’, Book I, Chapter XVII, No 14.



-bersambung-

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar