About us

Golgotha Ministry adalah pelayanan dari Pdt. Budi Asali,M.Div dibawah naungan GKRI Golgota Surabaya untuk memberitakan Injil ke seluruh dunia dan mengajarkan kebenaran firman Tuhan melalui khotbah-khotbah, pendalaman Alkitab, perkuliahan theologia dalam bentuk tulisan maupun multimedia (DVD video, MP3, dll). Pelayanan kami ini adalah bertujuan agar banyak orang mengenal kebenaran; dan bagi mereka yang belum percaya, menjadi percaya kepada Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadinya, dan bagi mereka yang sudah percaya, dikuatkan dan didewasakan didalam iman kepada Kristus.
Semua yang kami lakukan ini adalah semata-mata untuk kemuliaan nama Tuhan Yesus Kristus.

Kami mengundang dengan hangat setiap orang yang merasa diberkati dan terbeban didalam pelayanan untuk bergabung bersama kami di GKRI Golgota yang beralamat di : Jl. Raya Kalirungkut, Pertokoan Rungkut Megah Raya D-16, Surabaya.

Tuhan Yesus memberkati.

Kamis, 01 Maret 2012

Tanggapan Pdt. Budi Asali Terhadap Serangan Dr. Suhento Liauw Kepada Calvinisme (John Calvin dan James Arminius)

John Calvin dan James Arminius

John Calvin dan James Arminius adalah sosok pribadi yang sangat berpengaruh. Dari mereka berdualah muncullah teologia yang saling bertentangan. Dan dalam tulisan ini, sejarah awal dari teologia mereka.

John Calvin
Lahir di Pikardy, Noyon, Perancis, dengan nama Jean Cauvin, 10 Juli, 1509.
Bapanya bernama Gerald Cauvin, dan dia punya lima saudara laki-laki (dua mati saat kanak-kanak) dan dua saudara perempuan. Ibunya meninggal, dan akhirnya ayahnya kawin lagi.
Calvin sangat pintar dan sangat maju dalam pendidikannya. Setelah menyelesaikan masternya di Universitas Paris, ia belajar hukum di Universitas Orleans.


Tidak jelas kapan dia diselamatkan karena Calvin sendiri jarang sekali membicarakan pertobatannya. Barangkali ini berhubungan dengan theologinya bahwa bukan manusia yang bertobat, tetapi Allah yang menyelamatkan.

Tanggapan Budi Asali:

Fitnah lagi. Calvin tak pernah punya theologia yang mengatakan bahwa ‘bukan manusia yang bertobat’! Ini fitnahan Liauw! Ajaran Calvinisme adalah: Yang bertobat / beriman tetap adalah manusia, tetapi yang membuat dia bertobat / beriman adalah Allah!

Philip Schaff mengatakan beberapa hal sehubungan dengan pertobatan Calvin di bawah ini:

· “Calvin was not an unbeliever, nor an immoral youth; on the contrary, he was a devout Catholic of unblemished character. His conversion, therefore, was a change from Romanism to Protestantism, from papal superstition to evangelical faith, from scholastic traditionalism to biblical simplicity. He mentions no human agency, not even Volmar or Olivetan or Lefevre. ‘God himself,’ he says, ‘produced the change. He instantly subdued my heart to obedience’” (= Calvin bukanlah seorang yang tidak percaya, juga bukan seorang pemuda yang tidak bermoral; sebaliknya, ia adalah seorang Katolik yang taat / saleh dengan karakter yang tak bercacat. Karena itu, pertobatannya adalah perubahan dari Roma Katolik ke Protestan, dari tahyul kepausan pada iman yang injili, dari tradisi abad pertengahan pada kesederhanaan yang alkitabiah. Ia tidak menyebut agen manusia, bahkan tidak Volmar atau Olivetan atau Lefevre. ‘Allah sendiri,’ kata-nya, ‘membuat perubahan ini. Ia secara langsung / mendadak menun-dukkan hatiku pada ketaatan’) - ‘History of the Christian Church’, vol VIII, hal 310.

· “‘Only one haven of salvation,’ he says, ‘is left open for our souls, and that is the mercy of God in Christ. We are saved by grace - not by our merits, not by our works’” (= ‘Hanya satu tempat keselamatan,’ katanya, ‘yang terbuka untuk jiwa kita, dan itu adalah belas kasihan Allah dalam Kristus. Kita diselamatkan oleh kasih karunia - bukan oleh jasa kita, bukan oleh pekerjaan / perbuatan baik kita’) - ‘History of the Christian Church’, vol VIII, hal 311.

· “The precise time and place and circumstances of this great change are not accurately known. He was very reticent about himself” (= Saat dan tempat dan keadaan yang tepat dari perubahan besar ini tidak diketahui secara akurat. Ia adalah orang yang sangat pendiam tentang dirinya sendiri) - ‘History of the Christian Church’, vol VIII, hal 311.


Sampai dengan juni 1533, Calvin masih seorang Katolik dan dia masih membantu seorang wanita masuk menjadi seorang biarawati. Barulah pada 4 Mei 1534, Calvin mengundurksan diri dari posisi dan gaji bulanan yang ia terima dari katedral di Noyon.


Pada tahun 1536, Calvin menyelesaikan dan menerbitkan edisi pertama dari Institutio. Ini baru dua tahun setelah ia resmi keluar dari Katolik.


Dalam perjalannya mencari tempat yang aman, ia akhirnya tiba di Jenewa. Ia memang pernah diusir dari Jenewa pada tahun 1538 karena ia dan temannya Gaullame Farel mencoba menerapkan sistem disiplin yang terlalu ketat bagi kota itu. Namun pada tahun 1541 Jenewa menerima Calvin kembali. Sejak saat itu, Calvin bekerja terus di Jenewa hingga kematiannya 23 tahun kemudian, pada tahun 1564.


Kepemerintahan Calvin di Jenewa adalah pemerintahan yang bertangan besi. Calvin menggabungkan Gereja dan Negara di Jenewa, membentuk sebuah Theokrasi.


Segala jenis dosa dijadikan oleh Calvin sebagai pelanggaran terhadap hukum Jenewa. Orang yang tidak datang kebaktian, dihukum, yang berbicara atau yang bermain-main dalam kebaktian juga dihukum, bahkan orang yang salah memotong rambut orang dengan kurang sopan juga dikenai hukuman. Sampai dengan tahun 1546, ada sekitar 58 orang telah dihukum mati, dan 76 orang yang dibuang dari Jenewa.

Tanggapan Budi Asali:

Liauw, seorang doktor menulis seperti ini, tanpa bukti kutipan / dukungan dari buku apapun, menurut saya merupakan sesuatu yang sangat memalukan! Saya bisa saja mengatakan: ‘Liauw, bapak dan anak, dua-duanya memimpin gereja dan sekolah theologia sesukanya sendiri, menggelapkan uang gereja, mencabuli jemaatnya, menipu uang jemaatnya dsb’.

Kasus penganiayaan yang paling terkenal adalah pembakaran terhadap Michael Servetus yang dihukum di Jenewa dengan dukungan penuh dari Calvin. Michael Servetus adalah sahabatnya sendiri yang menerima bukunya mengenai Institutio lalu Servetus menyoret-nyoretnya dan mengembalikan nya kepada Calvin. Jhon Calvin marah karena Servetus tidak setuju dengan doktrinnya dan ia menganngap Servetus menentang pemerintah dan konsekuensi orang yang melawan pemerintah adalah hukuman gantung yang sudah menjadi tradisi pada saat itu. Tuduhan terhadap Servetus adalah ajaran sesat, tetapi dalam pengadilan Calvin pura-pura membelanya agar ia tidak dihukum bakar, tetapi dihukum gantung saja. Karena pada saat itu kelompok yang dianggap sesat hukumannya adalah hukuman dibakar, Calvin membelanya dengan tuduhan memberontak kepada pemerintah supaya ia hanya digantung saja (untuk mengelabui dendam atas penolakan Servetus atas doktrinnya). Pada saat itu pemerintah Jenewa selalu meminta nasehat dan masukan kepada Calvin mengenai undang-undang dalam Negara.

Tanggapan Budi Asali:

Anda betul-betul orang kurang ajar, tak bermoral, memfitnah seenaknya sendiri. Saya tidak mengerti bagaimana orang Kristen, apalagi hamba Tuhan, bisa memfitnah secara sangat kurang ajar seperti ini.

Data-data yang anda berikan begitu tidak akurat sehingga saya jadi bingung, anda mendapatkannya dari mimipi atau bagaimana? Ini data-data yang salah:

1. Servetus = sahabat Calvin???

2. Hukuman gantung??? Seharusnya ‘penggal’.

3. Calvin pura-pura?

4. Calvin marah karena Servetus tak setuju doktrinnya? Semua orang marah kepada Servetus bukan karena penolakannya tentang Allah Tritunggal, tetapi karena penolakan itu disertai penghinaan dan penghujatan terhadap diri Allah.

Supaya para pembaca bisa melihat bagaimana ngawurnya Liauw ini, saya berikan kutipan dari buku saya, berjudul ‘Calvinisme yang Difitnah’ jilid I, yang berbeda dengan tulisan Liauw yang tidak diberi dukungan dari buku apapun, saya beri kutipan-kutipan dari buku-buku pendukung, khususnya dari buku sejarah tulisan ahli sejarah Philip Schaff.

Calvin dan Servetus.

Guy Duty, dalam bukunya yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia berjudul ‘Keselamatan, bersyarat atau tanpa syarat?’, hal 24, berkata:

“Berbahaya sekali menentang Calvinisme pada waktu itu, seperti dialami oleh Servetus, seorang ahli theologia lain. Calvin dan rekan-rekannya di Jenewa membakarnya dengan terikat di tiang, sebagai seorang bidat”.

Kata-kata Guy Duty ini seakan-akan menunjukkan bahwa Servetus sekedar berbeda pendapat dengan Calvin, tetapi bukan bidat (Ini akan lebih jelas lagi kalau saudara baca kontex dimana ia meletakkan cerita ini, yaitu dalam pertentangan Calvinisme dan Arminianisme, Synod of Dort, dsb). Sekalipun demikian Servetus dihukum mati dengan cara yang begitu mengerikan, yaitu dengan dibakar. Ini adalah kata-kata yang sangat berbau fitnah! Untuk meluruskan fitnahan Guy Duty ini mari kita mempelajari sedikit tentang Servetus, ajarannya, dan mengapa ia dihukum mati.

Servetus dilahirkan pada tahun 1509, yang juga merupakan tahun kelahiran Calvin.

Pada tahun 1531, ia menerbitkan buku yang berjudul ‘Errors on the Trinity’ [= kesalahan-kesalahan pada (doktrin) Tritunggal], dimana ia menyerang baik doktrin Allah Tritunggal, yang ia sebut sebagai monster berkepala tiga, maupun keilahian kekal dari Kristus. Ini menunjukkan bahwa Servetus bukanlah sekedar merupakan seorang kristen yang berbeda pendapat dengan Calvin. Sama sekali tidak! Sebaliknya, ia betul-betul adalah seorang bidat / sesat atau seorang nabi palsu!

Philip Schaff jelas menganggap bahwa Servetus adalah seorang bidat. Ini terlihat dari kata-kata Philip Schaff sebagai berikut:

“Servetus - theologian, philosopher, geographer, physician, scientist, and astrologer - was one of the most remarkable men in the history of heresy (= Servetus - ahli theolgia, ahli filsafat, ahli ilmu bumi, dokter, ilmuwan, dan ahli nujum - adalah salah seorang yang paling hebat dalam sejarah bidat) - ‘History of the Christian Church’, vol VIII, hal 786.

Buku ‘Errors on the Trinity’ ini menyebabkan Servetus dikecam oleh semua golongan, baik Protestan maupun Katolik.

Pada tahun 1534, pada waktu ia ada di Paris, ia menantang Calvin untuk berdebat. Tetapi pada waktu Calvin datang ke tempat yang dijanjikan, dengan resiko kehilangan nyawanya (ingat itu adalah saat terjadinya penganiayaan orang kristen di Paris), ternyata Servetus tidak datang ke tempat yang dijanjikan - Philip Schaff, ‘History of the Christian Church’, vol VIII, hal 324,688,720.

Theodore of Beza: Calvin was disappointed in his expectations of meeting Servetus, who wanted courage to endure even the sight of his opponent (= Calvin kecewa dalam pengharapannya untuk bertemu dengan Servetus, yang tidak mempunyai keberanian untuk bertahan bahkan pemandangan dari lawannya) - ‘The Life of Calvin’, hal 7.

20 tahun setelah itu, Calvin mengingatkan Servetus akan peristiwa ini:

“You know that at that time I was ready to do everything for you, and did not even count my life too dear that I might convert you from your errors” (= Kamu tahu bahwa pada waktu itu aku bersedia melakukan segala sesuatu untuk kamu, dan bahkan tidak menyayangkan nyawaku supaya aku bisa mempertobatkan kamu dari kesalahan-kesalahanmu) - Philip Schaff, ‘History of the Christian Church’, vol VIII, hal 324.

Setelah membatalkan pertemuan dengan Calvin itu, Servetus memulai perdebatan dengan Calvin melalui surat-surat, yang dilayani oleh Calvin, tetapi tanpa hasil. Selain menulis surat beberapa kali, Calvin juga mengirimkan bukunya ‘Institutes of the Christian Religion’, tetapi Servetus mengembalikannya dengan banyak serangan / keberatan terhadap ajaran-ajaran Calvin dalam buku itu.

“‘There is hardly a page,’ says Calvin, ‘that is not defiled by his vomit’” (= ‘Hampir tidak ada satu halamanpun,’ kata Calvin, ‘yang tidak ia kotori dengan muntahnya’) - Philip Schaff, ‘History of the Christian Church’, vol VIII, hal 324.

Pada sekitar pertengahan Juli 1553, Servetus secara nekad, tiba di Geneva. Padahal ia baru saja lolos dari hukuman mati di Wina. Pada tanggal 13 Agustus 1553, ia ditangkap polisi atas nama sidang gereja, dan Calvin bertanggung jawab atas penangkapan ini - Philip Schaff, ‘History of the Christian Church’, vol VIII, hal 764-765.

Pada tanggal 26 Oktober 1553, sidang memutuskan hukuman mati untuk Servetus dengan jalan dibakar bersama dengan buku sesatnya. Sebetulnya Calvin ingin memperingan hukuman itu dengan menggunakan pemenggalan, bukan pembakaran, tetapi usul itu ditolak oleh Sidang.

“... the wish of Calvin to substitute the sword for the fire was overruled” (= ... keinginan Calvin untuk menggantikan api dengan pedang ditolak) - Philip Schaff, ‘History of the Christian Church’, vol VIII, hal 781-782.

Pada pukul 7 pagi, tanggal 27 Oktober 1553, Farel dan Calvin masih mengunjungi Servetus dan berusaha mempertobatkannya, tetapi tidak ada hasilnya. Dan akhirnya, pada tengah hari tanggal 27 Oktober 1553, pada usia 44 tahun, Servetus dijatuhi hukuman mati dengan dibakar bersama bukunya, di Geneva.

Philip Schaff berkata:

“In the last moment he is heard to pray, in smoke and agony, with a loud voice: ‘Jesus Christ, thou Son of the eternal God, have mercy upon me!’. This was at once a confession of his faith and of his error. He could not be induced, says Farel, to confess that Christ was the eternal Son of God (= Pada saat terakhir terdengar ia berdoa, dalam asap dan penderitaan yang hebat, dengan suara keras: ‘Yesus Kristus, engkau Anak dari Allah yang kekal, kasihanilah aku!’. Ini sekaligus merupakan pengakuan imannya dan kesalahannya. Ia tidak bisa dibujuk, kata Farel, untuk mengaku bahwa Kristus adalah Anak yang kekal dari Allah) - Philip Schaff, ‘History of the Christian Church’, vol VIII, hal 785.

Beberapa hal yang perlu diketahui tentang penghukuman mati Servetus oleh Calvin:

· Banyak orang menganggap hal ini sebagai suatu noda dalam kehidupan Calvin. Termasuk di dalamnya Philip Schaff yang berkata:

“... the dark chapter in the history of Calvin which has cast a gloom over his fair name, and exposed him, not unjustly, to the charge of intolerance and persecution, which he shares with his whole age” (= pasal yang gelap dalam sejarah Calvin yang melemparkan kesuraman terhadap nama baiknya, dan membuka dia, secara benar, terhadap tuduhan tidak bertoleransi dan penganiayaan, yang ia tanggung bersama-sama dengan seluruh jamannya) - ‘History of the Christian Church’, vol VIII, hal 687.

· Philip Schaff berkata bahwa sekalipun Perjanjian Lama memerintahkan hukuman mati terhadap penyesat / nabi palsu (Kel 22:20 Im 24:16 Ul 13:5-15 Ul 17:2-5), tetapi Perjanjian Baru memerintahkan pengucilan, bukan penghukuman mati - Philip Schaff, ‘History of the Christian Church’, vol VIII, hal 694-695.

· Calvin memang sangat pemarah terhadap pengajar-pengajar sesat. Dan hal ini diakui sendiri oleh Calvin. Tetapi semua itu ditimbulkan oleh semangatnya yang berkobar-kobar untuk kebenaran dan kemurnian Gereja.

* “Calvin was, as he himself confessed, not free from impatience, passion, and anger, which were increased by his physical infirmities; but he was influenced by an honest zeal for the purity of the Church, and not by personal malice” (= Calvin, seperti yang diakuinya sendiri, tidaklah bebas dari ketidaksabaran, nafsu dan kemarahan, yang diperhebat oleh kelemahan fisiknya; tetapi ia dipengaruhi oleh semangat yang jujur untuk kemurnian Gereja, dan bukan oleh kebencian / kedengkian pribadi) - Philip Schaff, ‘History of the Christian Church’, vol VIII, hal 493.

* “His intolerance sprang from the intensity of his convictions and his zeal for the truth” (= Tidak adanya toleransi timbul dari intensitas keyakinannya dan semangatnya untuk kebenaran) - Philip Schaff, ‘History of the Christian Church’, vol VIII, hal 839.

· Satu hal terpenting yang tidak diceritakan oleh Guy Duty adalah bahwa pada jaman itu, penghukuman mati seperti itu adalah sesuatu yang wajar! Dengan tidak menceritakan hal ini, Guy Duty sudah memfitnah Calvin dengan cara menceritakan setengah / sebagian kebenaran (half truth)!

Philip Schaff berkata:

“He must be judged by the standard of his own, and not of our, age. The most cruel of those laws - against witchcraft, heresy, and blasphemy - were inherited from the Catholic Middle Ages, and continued in force in all countries of Europe, Protestant as well as Roman Catholic, down to the end of the seventeenth century. Tolerance is a modern virtue” (= Ia harus dinilai oleh standard jamannya sendiri, bukan standard jaman kita. Hukum-hukum yang paling kejam, yang menentang sihir, ajaran sesat dan penghujatan, diwarisi dari Katolik abad pertengahan, dan tetap berlaku di semua negara-negara Eropa, baik yang Protestan maupun yang Katolik, terus sampai akhir abad ke 17. Toleransi adalah kebajikan / sifat baik modern) - ‘History of the Christian Church’, vol VIII, hal 493-494.

Bandingkan dengan kata-kata Yesus, Yohanes Pembaptis, Paulus, Petrus dan Yohanes dalam Mark 7:19 Mat 3:7 Mat 15:26 Mat 23:33 Fil 3:2 Wah 22:15 2Pet 2:22, yang kalau diucapkan pada jaman ini tentu juga dianggap tidak etis / tidak benar!

Philip Schaff berkata lagi:

“The judgment of historians on these remarkable men has undergone a great change. Calvin’s course in the tragedy of Servetus was fully approved by the best men in the sixteenth and seventeenth centuries. It is as fully condemned in the nineteenth century” (= Penghakiman dari ahli-ahli sejarah terhadap orang-orang hebat ini mengalami perubahan yang besar. Jalan Calvin dalam tragedi Servetus disetujui sepenuhnya oleh orang-orang yang terbaik dalam abad ke 16 dan ke 17. Tetapi hal itu dikecam sepenuhnya dalam abad ke 19) - ‘History of the Christian Church’, vol VIII, hal 689.

“... if we consider Calvin’s course in the light of the sixteenth century, we must come to the conclusion that he acted his part from a strict sense of duty and in harmony with the public law and dominant sentiment of his age, which justified the death penalty for heresy and blasphemy, and abhorred toleration as involving indifference to truth. Even Servetus admitted the principle under which he suffered; for he said, that incorrigible obstinacy and malice deserved death before God and men (= ... jika kita merenungkan jalan Calvin dalam terang dari abad ke 16, kita pasti sampai pada kesimpulan bahwa ia bertindak dari rasa kewajiban / tanggung jawab yang ketat dan sesuai dengan hukum rakyat / umum dan perasaan yang dominan pada jamannya, yang membenarkan hukuman mati untuk orang sesat dan penghujat, dan tidak menyukai toleransi dan menganggapnya sebagai ketidakpedulian pada kebenaran. Bahkan Servetus sendiri mengakui prinsip dibawah mana ia menderita; karena ia berkata bahwa sikap keras kepala dan kejahatan yang tidak dapat diperbaiki, layak mendapatkan kematian di hadapan Allah dan manusia) - ‘History of the Christian Church’, vol VIII, hal 690.

Ini beberapa kutipan kata-kata Philip Schaff berkenaan dengan hukuman mati terhadap Servetus (buku ‘History of the Christian Church’):

· But if we consider Calvin's course in the light of the sixteenth century, we must come to the conclusion that he acted his part from a strict sense of duty and in harmony with the public law and dominant sentiment of his age, which justified the death penalty for heresy and blasphemy, and abhorred toleration as involving indifference to truth Even Servetus admitted the principle under which he suffered; for he said, that incorrigible obstinacy and malice deserved death before God and men. Calvin's prominence for intolerance was his misfortune. It was an error of judgment, but not of the heart, and must be excused, though it cannot be justified, by the spirit of his age. Calvin never changed his views or regretted his conduct towards Servetus. Nine years after his execution he justified it in self-defence against the reproaches of Baudouin (1562), saying: "Servetus suffered the penalty due to his heresies, but was it by my will? Certainly his arrogance destroyed him not less than his impiety. And what crime was it of mine if our Council, at my exhortation, indeed, but in conformity with the opinion of several Churches, took vengeance on his execrable blasphemies? Let Baudouin abuse me as long as he will, provided that, by the judgment of Melanchthon, posterity owes me a debt of gratitude for having purged the Church of so pernicious a monster." - Vol VIII, hal 690-691.

· In one respect he was in advance of his times, by recommending to the Council of Geneva, though in vain, a mitigation of punishment and the substitution of the sword for the stake. - Vol VIII, hal 691.

· Let us give him credit for this comparative moderation in a semi-barbarous age when not only hosts of heretics, but even innocent women, as witches, were cruelly tortured and roasted to death. Let us remember also that it was not simply a case of fundamental heresy, but of horrid blasphemy, with which he had to deal. If he was mistaken, if he misunderstood the real opinions of Servetus, that was an error of judgment, and an error which all the Catholics and Protestants of that age shared. Nor should it be overlooked that Servetus was convicted of falsehood, that he overwhelmed Calvin with abuse, 9 and that he made common cause with the Libertines, the bitter enemies of Calvin, who had a controlling influence in the Council of Geneva at that time, and hoped to overthrow him. - Vol VIII, hal 691.

· It is not surprising that this book gave great offence to Catholics and Protestants alike, and appeared to them blasphemous. Servetus calls the Trinitarians tritheists and atheists. He frivolously asked such questions as whether God had a spiritual wife or was without sex. He calls the three gods of the Trinitarians a deception of the devil, yea (in his later writings), a three-headed monster. - Vol VIII, hal 718-719.

· "From the time Servetus was convicted of his heresy," says Calvin, "I have not uttered a word about his punishment, as all honest men will bear witness; and I challenge even the malignant to deny it if they can." One thing only he did: he expressed the wish for a mitigation of his punishment. And this humane sentiment is almost the only good thing that can be recorded to his honor in this painful trial. - Vol VIII, hal 768.

· The severest charge against him is blasphemy. Bullinger remarked to a Pole that if Satan himself should come out of hell, he could use no more blasphemous language against the Trinity than this Spaniard; and Peter Martyr, who was present, assented and said that such a living son of the devil ought not to be tolerated anywhere. We cannot even now read some of his sentences against the doctrine of the Trinity without a shudder. Servetus lacked reverence and a decent regard for the most sacred feelings and convictions of those who differed from him. - Vol VIII, hal 788.

Sedikit tambahan lagi: mengapa para Arminian, seperti Liauw dan juga Guy Duty menyerang Calvin dan membela seorang sesat seperti Servetus? Servetus bukan hanya menolak predestinasi, tetapi juga menolak keilahian Kristus, dan menolak dan menghina Allah Tritunggal. Jadi, dengan membela orang seperti Servetus, orang-orang Arminian ini membela juga kesesatannya. Babi membela babi, anjing membela anjing!


Orang-orang yang mengkritik bukunya Calvin dan tidak setuju dengan theologinya, juga dihukum dengan pembuangan dari Jenewa.

Tanggapan Budi Asali:

Buktinya mana doktor Liauw???


Mengenai buku Calvin, Institutes of Christian Religion edisi final muncul pada tahun 1559:
Ditulis dalam bahasa Latin. Calvin ada juga membuat edisi-edisi dalam bahasa Prancis.
Terdiri dari 80 pasal Sangat bergantung kepada theologinya dan tulisan Augustine. Calvin mengutip lebih dari 400 kali dalam bukunya institutes belum termasuk karya-karyanya yang lain.

Tanggapan Budi Asali:

Bahwa Calvin memang mengambil theologia Agustinus, memang benar, tetapi bahwa ia sangat bergantung kepada Agustinus, merupakan omong kosong! Calvin merupakan orang yang paling banyak mengajar dengan tafsiran yang orisinil dari dirinya sendiri! Ia bahkan sering menentang Agustinus!

Mengutip 400x dari Agustinus saya tidak tahu. Tetapi kalau benar, itu tidak banyak, mengingat tebalnya buku Institute-nya adalah lebih dari 1500 halaman! Dan ini jelas lebih bagus dari anda, Liauw, yang pada waktu menuduh / memfitnah, tidak memberikan kutipan apa-apa!


Theologia Calvin:
Karena dibesarkan dalam lingkungan Katolik dan tidak berani mengadakan pemisahan yang sepenuhnya dengan Katolik, maka Calvin seperti juga bapa Reformasi yang lain, hanya melakukan Reformasi. Artinya, mereka melihat Katolik sebagai Gereja yang sebenarnya, tetapi yang telah salah jalan dan perlu reformasi. Yang salah hanya pemimpin pada saat itu bukan doktrinnya. (padahal doktrin inilah biang keroknya)

Tanggapan Budi Asali:

Ini tuduhan / fitnahan yang paling tolol yang pernah saya dengar. Jelas sekali anda tak pernah membaca buku-buku sejarah tentang Calvin maupun buku-buku Calvin sendiri, karena kalau anda pernah, anda pasti tahu bahwa Calvin jauh lebih memisahkan diri dari Gereja Roma Katolik dari pada Luther. Juga Calvin menyerang, terutama bukan orangnya (Paus dsb), tetapi khususnya justru ajarannya, yang dia kecam dengan cara-cara yang keras / kasar sekali.

Calvin tak pernah akui Gereja Roma Katolik sebagai gereja yang benar.

Saya beri contoh:

· dalam tafsirannya tentang Yak 5:14 Calvin berkata: “The Papists boast mightily of this passage, when they seek to pass off their extreme unction. But how different their corruption is from the ancient ordinance mentioned by James I will not at present undertake to shew. Let readers learn this from my Institutes. I will only say this, that this passage is wickedly and ignorantly perverted; when extreme unction is established by it, and is called a sacrament, to be perpetually observed in the Church”.

· dalam tafsirannya tentang Yak 5:16 Calvin berkata: “Wonderful, indeed, is the folly or the insincerity of the Papists, who strive to build their whispering confession on this passage. For it would be easy to infer from the words of James, that the priests alone ought to confess. For since a mutual, or to speak more plainly, a reciprocal confession is demanded here, no others are bidden to confess their own sins, but those who in their turn are fit to hear the confession of others; but this the priests claim for themselves alone. Then confession is required of them alone. But since their puerilities do not deserve a refutation, let the true and genuine explanation already given be deemed sufficient by us”.

Saya bisa memberikan ratusan contoh kalau saya mau, tetapi 2 contoh ini sudah menunjukkan ketololan fitnahan Liauw!


Theologia bawaan dari Katolik:


Penggabungan Gereja dengan Negara

Tanggapan Budi Asali:

Tak ada yang salah dengan ini. Buktikan kesalahannya. Pada jaman theokrasi (Daud dst), juga berlaku hal itu. Salah? Salahkan Allahnya! Berani, Liauw?

Baptisan bayi. Walaupun Calvin mengatakan, bahwa baptisan tidak perlu untuk keselamatan, tetapi ia sering tidak konsisten. Sering menghubungkan baptisan dengan pengampunan dosa, kelahiran kembali, dan lain- lain.

Tanggapan Budi Asali:

‘Menghubungkan’ dengan cara apa? Mengapa anda tak menyebutkannya, doktor Liauw? Jelas memang ada hubungannya. Anda tidak mempercayai bahwa ada hubungan seperti itu?


Sakramen: Baptisan dan Perjamuan (spiritual presence) sebagai sacramen. Ia mengakui bahwa Baptizo berarti menyelamkan, tetapi tetap mempraktekkan percikan. (anehkan?)
Sifat gereja yang Universal. Ia, seperti tokoh reformasi lainnya, tetap percaya gereja universal yang tidak kelihatan.

Tanggapan Budi Asali:

Dimana Calvin mengatakan Baptizo berarti menyelamkan? Kalau ada, apakah Calvin menganggap itu sebagai satu-satunya arti?

Sakramen itu salah? Gereja universal juga salah? Gereja yang tak kelihatan juga salah? Yang salah apanya, Liauw?


Menganggap bahwa Israel telah dibuang Allah. Ia bingung soal perbedaan Israel dengan Gereja, sehingga dalam eskatologi, ia Amillenial.

Tanggapan Budi Asali:

Israel memang sudah dibuang Allah, dalam arti bukan bangsa pilihan lagi. Israel sebagai bangsa pilihan merupakan TYPE dari gereja sebagai orang-orang pilihan Allah. Pada waktu anti TYPEnya datang, TYPEnya harus dibuang.

Bingung perbedaan Israel dan gereja? Dari buku mana anda simpulkan itu?

Karena kebingungan itu ia menjadi pemeluk Amillenialisme? Hehehe, apa hubungannya? Dan Calvin bukan seorang Amillenialist! Dia memberikan pandangannya berkenaan dengan persoalan Millenium, kecuali bahwa ia menentang pre-millenialisme, dan karena itu orang-orang Reformed terbagi dua, sebagian Amill, sebagian Post-Mill.

Doktor yang tak pernah belajar, tetapi berani menulis di internet! Anda seperti bonek (bondo nekat)!


Theologinya yang paling terkenal adalah tentang Pemilihan Allah atau Predestinasi.

Tanggapan Budi Asali:

Ini kebodohan orang yang tak mengerti baik tentang Calvin maupun Calvinisme. Calvin maupun Calvinisme menekankan banyak hal lebih dari predestinasi, misalnya doktrin-doktrin dasar dalam kekristenan, seperti Alkitab adalah Firman Tuhan, keilahian Kristus, Allah Tritunggal, keselamatan karena iman saja, dan sebagainya.

Mungkin anda katakan ‘paling terkenal’ karena anda memusuhi doktrin itu???


James Arminius

Tanggapan Budi Asali:

Wah, kita mulai membicarakan sang malaikat. Kalau anda menjelek-jelekkan Calvin, pasti membagus-baguskan Arminius!

Ia lahir di Oudewater Belanda 10 Oktober 1560 dan meninggal di Leiden 19 Oktober 1609, dan nama aslinya adalah Jacob Harmenszoom. Jacobus Arminius adalah bentuk latin dari namanya.
Dia menuntut pendidikan di berbagai universitas, dan ternyata adalah seorang pelajar yang hebat, bahkan ada universitas yang mau menganugerahi dia gelar Doktor jauh lebih cepat, tetapi ia tolak karena merasa masih muda.


Ia juga pernah belajar di Jenewa, di sekolah Calvin, yang dipimpin oleh Theodore Beza waktu itu. Ia belajar dari tahun 1581-1586, walaupun pernah cuti 1 tahun untuk belajar di Universitas Basel.


Setelah itu ia menjadi gembala sidang Dutch Reformed di kota Amsterdam ditahbiskan pada tahun 1588. Muncul kontroversi ketika ia berkotbah mengeksegesis kitab Roma dan tiba di pasal 7, pada tahun 1589. Menurut spekulasi Arminius mencapai kesimpulannya melawan Calvin, ketika tahun 1589 ia diminta untuk berdebat membela doktrinnya Calvin.


Mulai tahun 1603 Arminius menjadi Profesor theologia di Leiden. Pada masa ini ia terlibat perdebatan dengan berbagai tokoh Kalvinis. Karena diserang dan difitnah dari berbagai sisi, Arminius meminta agar topik ini diselesaikan dalam suatu pertemuan nasional. Tetapi ia lebih dahulu mati sebelum hal itu terjadi.


Calvin tidak pernah ketemu dengan Arminius, karena pada saat Calvin meninggal Arminius masih berusia 4 tahun.
Arminius meninggal pada usia 49 tahun (1560-1609)

Tanggapan Budi Asali:

Wah pendek sekali pembahasannya. Tak punya bahan? Memang dia diceritakan dalam buku sejarah mungkin tak ada 1/20 nya Calvin, karena memang tak bisa dibandingkan dengan Calvin!


D. Pasca-Calvin dan Arminius
Setelah kematian Arminius, kontroversi justru semakin menjadi-jadi. Pada 14 Januari 1610, para pengikut Arminius mengajukan kepada pemerintah (States General), suatu dokumen yang dikenal dengan nama Remonstrance. Dokumen ini merupakan suatu protes terhadap Kalvinisme.


Ada 5 poin Remonstrance yang tercantum dalam dokumen itu:
Allah telah menetapkan (decreed) untuk menyelamatkan mereka yang percaya kepada Yesus Kristus dan bertekun di dalam iman, sehingga yang tidak percaya ditinggalkan dalam dosa untuk dihukum.
Yesus Kristus mati bagi semua manusia, menyediakan penebusan jika seseorang percaya kepadaNya.
Manusia ada dalam kondisi berdosa, tidak mampu dari dirinya sendiri untuk melakukan apapun yang baik, tetapi memerlukan kelahiran kembali.
Manusia tidak dapat tanpa kasih karunia Allah untuk melakukan perbuatan atau tindakan baik apapun, tetapi kasih karunia Allah ini dapat ditolak.


Orang percaya memiliki kemampuan untuk betekun, tetapi mengenai apakah mereka dapat jatuh hilang harus ditentukan lebih jelas lagi dari kitab suci. Kaum Arminius belum bisa menyimpulkan apakah orang percaya dapat murtad atau berbalik dari imannya.
Kelompok Kalvinis membalasnya dengan dokumen Counter Remonstrance, pada tahun yang sama. Dokumen ini berisi 7 poin yang membela Kalvinisme (1610).


Kontroversi berlanjut hingga diputuskan untuk menggelar suatu sinod untuk menyelesaikannya. Sinod ini diputuskan di gelar di Dort 13 Nov 1618 – Mei 1619 di suatu kota Belanda yang pro-Kalvinis


Sinod ini sebenarnya sangat dikuasai oleh orang-orang Kalvinis. Pemimpin sinod adalah John Bogerman, seorang Kalvinis yang kuat. Tamu-tamu luar negeri yang diundang juga sengaja yang pro-Kalvinis.


Tidak heran bahwa pada akhir dari sinod dikeluarkan keputusan untuk mengecam pengajaran Arminius. Lalu pengajaran Kalvinis disistematiskan dalam 5 poin yang disebut Canons of Dort yakni TULIP yang dikenal luas hingga hari ini.


Setelah sinod, tokoh-tokoh Arminian dilarang untuk menulis apapun tentang sinod tersebut. Para hamba Tuhan Arminian disuruh untuk menyangkali pengakuan iman mereka atau mereka akan diusir bukan saja dari pelayanan, bahkan dari Belanda. Sekitar 200 hamba Tuhan berhaluan Arminian diasingkan. Puji Tuhan situasi Theokrasi sesat ini hanya bertahan sebentar saja, dan lenyap setelah kematian Pangeran Maurice pada tahun 1625. penggantinya, pangeran Frederick Henry, cukup toleran dan mengundang mereka kembali.


Kontroversi Kalvinisme di Inggris, membuahkan Westminster Confession of Faith atau Pengakuan iman Westminster yang dibuat oleh Westminster Assambly (1643-1649). Pengakuan ini menjadi pengakuan yang terkenal sekaligus sangat Kalvinistick. Westminster Assembly adalah kumpulan tokoh-tokoh theologis yang dipanggil oleh parlemen Inggris untuk mendiskusikan masalah-masalah theologis, sehingga dapat memberikan rekomendasi kepada Parlemen.

Tanggapan Budi Asali:

No comment. Saya tak membenarkan ataupun menyanggah bagian ini, karena saya sendiri belum pernah mempelajari secara seksama. Dan saya pikir tulisan Liauw bagian ini tak penting.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar