About us

Golgotha Ministry adalah pelayanan dari Pdt. Budi Asali,M.Div dibawah naungan GKRI Golgota Surabaya untuk memberitakan Injil ke seluruh dunia dan mengajarkan kebenaran firman Tuhan melalui khotbah-khotbah, pendalaman Alkitab, perkuliahan theologia dalam bentuk tulisan maupun multimedia (DVD video, MP3, dll). Pelayanan kami ini adalah bertujuan agar banyak orang mengenal kebenaran; dan bagi mereka yang belum percaya, menjadi percaya kepada Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadinya, dan bagi mereka yang sudah percaya, dikuatkan dan didewasakan didalam iman kepada Kristus.
Semua yang kami lakukan ini adalah semata-mata untuk kemuliaan nama Tuhan Yesus Kristus.

Kami mengundang dengan hangat setiap orang yang merasa diberkati dan terbeban didalam pelayanan untuk bergabung bersama kami di GKRI Golgota yang beralamat di : Jl. Raya Kalirungkut, Pertokoan Rungkut Megah Raya D-16, Surabaya.

Tuhan Yesus memberkati.

Senin, 05 Maret 2012

Lazarus dan Orang Kaya (1)

LUKAS 16:19-31

Lazarus dan Orang Kaya (1)

oleh : Pdt. Budi Asali, M.Div  
Luk 16:19-31 - “(19) ‘Ada seorang kaya yang selalu berpakaian jubah ungu dan kain halus, dan setiap hari ia bersukaria dalam kemewahan. (20) Dan ada seorang pengemis bernama Lazarus, badannya penuh dengan borok, berbaring dekat pintu rumah orang kaya itu, (21) dan ingin menghilangkan laparnya dengan apa yang jatuh dari meja orang kaya itu. Malahan anjing-anjing datang dan menjilat boroknya. (22) Kemudian matilah orang miskin itu, lalu dibawa oleh malaikat-malaikat ke pangkuan Abraham. (23) Orang kaya itu juga mati, lalu dikubur. Dan sementara ia menderita sengsara di alam maut ia memandang ke atas, dan dari jauh dilihatnya Abraham, dan Lazarus duduk di pangkuannya. (24) Lalu ia berseru, katanya: Bapa Abraham, kasihanilah aku. Suruhlah Lazarus, supaya ia mencelupkan ujung jarinya ke dalam air dan menyejukkan lidahku, sebab aku sangat kesakitan dalam nyala api ini. (25) Tetapi Abraham berkata: Anak, ingatlah, bahwa engkau telah menerima segala yang baik sewaktu hidupmu, sedangkan Lazarus segala yang buruk. Sekarang ia mendapat hiburan dan engkau sangat menderita. (26) Selain dari pada itu di antara kami dan engkau terbentang jurang yang tak terseberangi, supaya mereka yang mau pergi dari sini kepadamu ataupun mereka yang mau datang dari situ kepada kami tidak dapat menyeberang. (27) Kata orang itu: Kalau demikian, aku minta kepadamu, bapa, supaya engkau menyuruh dia ke rumah ayahku, (28) sebab masih ada lima orang saudaraku, supaya ia memperingati mereka dengan sungguh-sungguh, agar mereka jangan masuk kelak ke dalam tempat penderitaan ini. (29) Tetapi kata Abraham: Ada pada mereka kesaksian Musa dan para nabi; baiklah mereka mendengarkan kesaksian itu. (30) Jawab orang itu: Tidak, bapa Abraham, tetapi jika ada seorang yang datang dari antara orang mati kepada mereka, mereka akan bertobat. (31) Kata Abraham kepadanya: Jika mereka tidak mendengarkan kesaksian Musa dan para nabi, mereka tidak juga akan mau diyakinkan, sekalipun oleh seorang yang bangkit dari antara orang mati.’”.
 

I) Perumpamaan atau cerita yang betul-betul terjadi?

 
Para penafsir memperdebatkan apakah bagian ini merupakan suatu perumpamaan atau cerita yang betul-betul terjadi.
 
Calvin: “Some look upon it as a simple parable; but, as the name Lazarus occurs in it, I rather consider it to be the narrative of an actual fact” (= Sebagian orang memandangnya sebagai suatu perumpamaan; tetapi karena nama Lazarus ada di dalamnya, saya menganggapnya sebagai suatu cerita dari fakta yang sungguh-sungguh terjadi) - hal 184.
 
Wiersbe’s Expository Outlines (New Testament): “Luke did not say that this narrative was a parable; perhaps it was an actual occurrence” (= Lukas tidak mengatakan bahwa cerita ini adalah suatu perumpamaan; mungkin cerita ini merupakan suatu kejadian sungguh-sungguh).
 
Adam Clarke: “This account of the rich man and Lazarus is either a parable or a real history. If it be a parable, it is what may be; if it be a history, it is which has been. Either a man may live as is here described, and go to perdition when he dies; or, some have lived in this way, and are now suffering the torments of an eternal fire. The accounts is equally instructive in whichsoever of these lights it is viewed (= Cerita tentang orang kaya dan Lazarus, atau merupakan suatu perumpamaan, atau suatu sejarah yang sungguh-sungguh. Jika itu adalah suatu perumpamaan, itu merupakan sesuatu yang bisa terjadi; jika itu merupakan suatu sejarah, itu adalah apa yang telah terjadi. Atau seseorang bisa hidup seperti yang digambarkan di sini, dan pergi ke neraka pada saat ia mati; atau, beberapa orang telah hidup dengan cara ini, dan sekarang sedang menderita siksaan dari api yang kekal. Cerita ini sama-sama bersifat instruktif dalam terang yang manapun cerita ini dipandang) - hal 464.
 

II) Bagian yang kelihatan (ay 19-22a,23a).

 
Bagian yang kelihatan adalah kehidupan dari 2 orang dalam cerita ini (Lazarus dan orang kaya) sampai mereka mati dan dikuburkan.
Sekarang mari kita mempelajari beberapa hal dari bagian ini.
 
1)   Kedua orang itu sama-sama adalah orang Yahudi.
 
a)      Untuk Lazarus itu terlihat dari namanya.
Nama Lazarus berasal dari kata Ibrani EL AZAR yang berarti ‘God has helped’ (= Allah telah menolong).
 
b)            Untuk orang kaya ini terlihat dari:
 
1.   Ia menyebut Abraham dengan sebutan ‘bapa’ (ay 24,27,30), dan Abraham menyebutnya dengan sebutan ‘anak’ (ay 25). Sebutan ‘bapa’ maupun ‘anak’ di sini tidak mungkin diartikan dalam arti rohani (seperti misalnya dalam Luk 19:9), karena orang kaya ini jelas bukan orang beriman. Jadi sebutan ‘bapa’ maupun ‘anak’ harus diartikan secara jasmani, dan ini menunjukkan bahwa orang kaya ini adalah keturunan Abraham.
 
2.   Orang kaya ini mempunyai 5 saudara, dan Abraham mengatakan bahwa kelima saudaranya itu mempunyai ‘kesaksian Musa dan para nabi’ (ay 29), yang jelas menunjuk pada Perjanjian Lama. Bahwa mereka mempunyai Perjanjian Lama, jelas menunjukkan bahwa mereka adalah orang Yahudi (bdk. Ro 3:1-2). Kalau mereka adalah orang Yahudi, maka jelas bahwa orang kaya itu juga adalah orang Yahudi.
 
Catatan:  para penafsir biasanya menyebut orang kaya ini dengan sebutan ‘Dives’, yang sebetulnya bukan merupakan suatu nama tetapi merupakan suatu kata bahasa Latin untuk ‘kaya’ (Barclay, hal 213).
 
2)   Kedua orang ini mempunyai 2 kehidupan yang sangat kontras (ay 19-21).
 
a)      Yang satu sangat kaya, yang lain sangat miskin.
Dalam terjemahan Kitab Suci Indonesia dikatakan bahwa Lazarus adalah seorang ‘pengemis’ (ay 20). Demikian juga KJV dan NIV menterjemahkan ‘beggar’ (= pengemis). Tetapi sebetulnya kata Yunani yang dipakai hanyalah berarti ‘orang miskin’. Karena itu RSV/NASB yang menterjemahkan ‘a poor man’ (= seorang miskin), merupakan terjemahan yang lebih benar.
 
Barnes’ Notes: “‘Beggar.’ Poor man. The original word does not mean ‘beggar,’ but simply that he was ‘poor.’ It should have been so translated to keep up the contrast with the ‘rich man.’” (= ‘Pengemis’. Orang miskin. Kata orisinilnya tidak berarti ‘pengemis’ tetapi hanya bahwa ia ‘miskin’. Itu seharusnya diterjemahkan demikian untuk memelihara / melanjutkan kontras dengan ‘orang kaya’.) - hal 234.
 
Selanjutnya perlu diketahui bahwa untuk kata ‘orang miskin’ ini digunakan kata Yunani PTOCHOS. Dalam bahasa Yunani ada beberapa kata yang bisa diartikan ‘orang miskin’, yaitu PTOCHOS, PENES, dan PENICHROS, tetapi artinya sebetulnya agak berbeda. Kata PENES dan PENICHROS juga berarti ‘orang miskin’ tetapi ini menunjuk kepada orang miskin yang masih mempunyai sedikit uang. Tetapi kata PTOCHOS menunjuk kepada orang miskin yang sama sekali tidak mempunyai apa-apa.
 
Pulpit Commentary mengomentari kata PTOCHOS dalam Mat 5:3 sebagai berikut:
·         “PTOCHOS, in classical and philosophical usage, implies a lower degree of poverty than PENES (2Cor 9:9)” [= PTOCHOS, dalam penggunaan klasik dan filosofis, menunjukkan tingkat kemiskinan yang lebih rendah dari PENES (2Kor 9:9)] - hal 147.
·         “The PENES may be so poor that he earns his bread by daily labour; but the PTOCHOS is so poor that he only obtains his living by begging ... The PENES has nothing superfluous, the PTOCHOS  nothing at all” (= Orang yang PENES adalah orang yang begitu miskin sehingga ia mendapatkan roti / makanannya melalui kerja keras setiap hari; tetapi orang yang PTOCHOS adalah orang yang begitu miskin sehingga ia hanya mendapatkan penghidupannya melalui pengemisan ... Orang yang PENES tidak mempunyai apapun secara berlebihan, orang yang PTOCHOS sama sekali tidak mempunyai apapun) - hal 147.
 
Perbedaan ini ditunjukkan secara menyolok dalam cerita tentang seorang janda miskin yang memberikan seluruh uangnya kepada Tuhan dalam Luk 21:1-4 - “(1) Ketika Yesus mengangkat mukaNya, Ia melihat orang-orang kaya memasukkan persembahan mereka ke dalam peti persembahan. (2) Ia melihat juga seorang janda miskin memasukkan dua peser ke dalam peti itu. (3) Lalu Ia berkata: ‘Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang itu. (4) Sebab mereka semua memberi persembahannya dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, bahkan ia memberi seluruh nafkahnya.’”.
 
Dalam Luk 21:2 ada kata ‘miskin’ dan demikian juga dalam Luk 21:3, tetapi dalam Luk 21:2 digunakan kata Yunani PENICHROS dan dalam Luk 21:3 digunakan kata Yunani PTOCHOS. Mengapa berbeda? Karena dalam Luk 21:2 sekalipun janda itu miskin, tetapi ia masih mempunyai uang sedikit (2 peser), dan karenanya digunakan kata PENICHROS. Tetapi setelah uangnya dipersembahkan semua, ia tidak mempunyai apa-apa lagi, sehingga dalam Luk 21:3 digunakan kata PTOCHOS.
 
b)      Yang satu ‘setiap hari bersukaria dalam kemewahan’ / berpesta (ay 19); yang lain ‘ingin menghilangkan laparnya dengan apa yang jatuh dari meja orang kaya itu’ (ay 21).
 
William Barclay: “In that time there were no knives, forks or napkins. Food was eaten with hands and, in every wealthy houses, the hands were cleansed by wiping them on hunks of bread, which were then thrown away. That was what Lazarus was waiting for” (= Pada jaman itu tidak digunakan pisau, garpu atau serbet. Makanan dimakan dengan tangan dan dalam setiap rumah orang kaya, tangan dibersihkan dengan mengusapkannya pada potongan roti, yang lalu dibuang. Itulah yang ditunggu oleh Lazarus) - hal 213-214.
 
c)      Yang satu mempunyai rumah; yang lain berbaring dekat pintu rumah orang kaya itu (ay 20). Kelihatannya orang kaya itu cukup baik, karena ia membiarkan Lazarus tidur di emperan rumahnya. Coba rumah saudara emperannya ditiduri pengemis, apa nggak ngamuk?
 
d)      Yang satu berpakaian ‘jubah ungu dan kain halus’ (ay 19a); yang lain bahkan tidak bisa membeli perban untuk membalut luka-lukanya sehingga anjing-anjing menjilati luka-lukanya (ay 21b).
 
Pulpit Commentary: “This purple, the true sea purple, was a most precious and rare dye, and the purple garment so dyed was a royal gift, and was scarcely used save by princes and nobles of very high degree. ... The fine linen (byssus) was worth twice its weight in gold” (= Warna ungu ini, sungguh-sungguh ungu laut, merupakan bahan celup / pewarna yang paling berharga dan jarang, dan pakaian ungu yang dicelup bahan pewarna seperti itu merupakan pemberian yang megah / indah, dan jarang dipakai kecuali oleh pangeran-pangeran dan bangsawan-bangsawan dari tingkat yang sangat tinggi. ... Kain lenan halus harganya 2 x beratnya dalam emas) - hal 66.
 
Dari kontras yang diceritakan ini terlihat bahwa dalam pandangan Tuhan, orang yang diberkati tidak selalu kaya, dan orang yang dikutuk tidak selalu miskin. Adalah mungkin diberkati tetapi miskin, dan dikutuk tetapi kaya!
 
3)   Kedua orang ini sama-sama mati (ay 22a,23a)!
Norval Geldenhuys (NICNT): “The rich man, like the sick beggar, also died - neither his multitude of possessions not his influence among men could protect him against the inevitability of death” (= Orang kaya itu, seperti pengemis yang sakit itu, juga mati - kekayaannya yang banyak maupun pengaruhnya di antara manusia, tidak bisa melindunginya terhadap kematian yang tidak bisa dihindari) - hal 425.
 
Ditinjau dari satu sudut, orang miskin lebih sukar mati dari orang kaya. Mengapa? Karena orang kaya bisa membeli segala makanan yang enak-enak, sehingga menjadi gemuk, kolesterolnya naik, dan mudah terkena serangan jantung. Sedangkan orang miskin makanannya sederhana sehingga relatif bebas dari bahaya itu.
Tetapi, ditinjau dari sudut yang lain, orang miskin lebih mudah mati dibandingkan dengan orang kaya. Mengapa? Karena kalau orang kaya sakit, ia dengan mudah membeli obat, pergi ke dokter, bahkan kalau perlu berobat ke luar negeri, untuk menyembuhkan penyakitnya. Tetapi kalau orang miskin sakit, apalagi dalam masa krismon seperti sekarang, ia tidak bisa membeli obat atau pergi ke dokter, sehingga cepat mati.
Tetapi apakah seseorang itu kaya atau miskin, tua atau muda, sehat atau sakit-sakitan, tetap saja semua orang akan mati (bdk. Ibr 9:27 - “manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja, dan sesudah itu dihakimi”).
Celakanya, kita tidak tahu kapan kematian itu akan ‘menjemput’ kita. Kalau itu terjadi pada hari ini, siapkah saudara?
 
4)   Kedua orang ini sama-sama dikubur.
Memang untuk orang kaya disebutkan penguburannya (ay 23a), sedangkan untuk Lazarus tidak. Tetapi rasanya tidak mungkin Lazarus tidak dikubur, karena bau mayatnya pasti akan mengganggu banyak orang. Orang kaya diceritakan penguburannya sedangkan Lazarus tidak, karena Lazarus dikubur secara sederhana, sedangkan orang kaya dikubur dengan upacara yang hebat, peti mati yang mahal, kuburan yang indah dsb.
Jaman sekarang juga banyak orang kaya yang pada saat kematiannya, dikubur dengan upacara yang sangat megah dan mewah, dihadiri banyak orang, dan sebagainya. Tetapi kalau ia adalah orang yang tidak percaya, maka semua itu bukan hanya tidak berguna, tetapi bisa dikatakan hanya sebagai olok-olok saja!
 
Biasanya manusia menyoroti kehidupan hanya sampai di sini. Kematian dan penguburan dianggap sebagai akhir segala-galanya. Andaikata cerita ini hanya berhenti sampai sini, maka jelas bahwa semua orang menginginkan kehidupan orang kaya itu, bukan kehidupan Lazarus. Karena itu manusia berusaha mati-matian untuk kehidupan yang sekarang ini! Tetapi dalam cerita ini, Yesus melanjutkan dengan menunjukkan bagian yang tidak kelihatan, yang seringkali diabaikan orang.
 

III) Bagian yang tidak kelihatan / tidak diperhatikan (ay 22b,23b-31).

 
Bagian yang tidak kelihatan ini diceritakan dalam ay 22b,23b-31. Jadi penceritaannya jauh lebih panjang dari bagian yang kelihatan tadi. Ini menunjukkan bahwa dalam hidup kita, kita harus lebih menekankan bagian yang tidak kelihatan ini.
 
The Biblical Illustrator (New Testament): “WHAT COMES AFTER DEATH IS TO US OF FAR MORE IMPORTANCE THAN WHAT COMES BEFORE” (= Apa yang datang setelah kematian lebih penting bagi kita dari pada apa yang datang sebelumnya).
 
Bandingkan dengan:
·                                 1Kor 15:19 - “Jikalau kita hanya dalam hidup ini saja menaruh pengharapan pada Kristus, maka kita adalah orang-orang yang paling malang dari segala manusia”.
·                                 Mat 16:26 - “Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?”.
 
Memang Kristus juga berguna untuk hidup yang sekarang ini, tetapi yang terutama Ia berguna untuk hidup setelah kematian. Jadi kalau selama ini saudara mempercayaiNya hanya sebagai penyembuh, pemberi berkat jasmani, penolong dari kesukaran, dsb, maka renungkan apa yang dikatakan oleh Paulus di sini! Percayalah kepada Kristus sebagai Juruselamat dosa, demi kehidupan saudara setelah kematian!
 
Dalam bagian yang tidak kelihatan ini diceritakan bahwa Lazarus ada di pangkuan Abraham (ay 22,23). Terjemahan ‘pangkuan’ sebetulnya adalah salah. NASB yang menterjemahkan secara hurufiah menggunakan kata ‘bosom’ (= dada). Jadi gambaran yang diberikan oleh cerita ini bukanlah bahwa Lazarus ini dipangku oleh Abraham seakan-akan ia adalah anak kecil. Gambarannya adalah bahwa ia ada dalam pelukan Abraham. Ini menunjukkan ia ada di surga.
 
Adam Clarke mengatakan bahwa gambaran ‘dada Abraham’ menunjuk pada kebiasaan / tradisi Yahudi dalam perjamuan makan mereka (khususnya perjamuan Paskah), dimana semua orang makan sambil duduk miring, dan menyandarkan siku kiri pada meja makan, sehingga kepala dari orang di kanannya ada di dekat dadanya (bdk. Yoh 13:25). Clarke menambahkan bahwa ‘dada Abraham’ merupakan suatu ungkapan yang digunakan di antara orang-orang Yahudi untuk menunjuk pada Firdaus Allah (surga).
Yoh 13:25 - “Murid yang duduk dekat Yesus itu berpaling dan berkata kepadaNya: ‘Tuhan, siapakah itu?’”.
KJV: ‘lying on Jesus’ breast’ (= bersandar pada dada Yesus).
 
Sementara itu orang kaya digambarkan masuk ke ‘alam maut’ (ay 23). Kata ‘alam maut’ ini diterjemahkan dari kata bahasa Yunani HADES, dan di sini jelas artinya adalah ‘neraka’ [KJV/NIV: ‘hell’ (= neraka)], karena orang kaya itu dikatakan ‘menderita sengsara’ (ay 23a), ‘sangat kesakitan dalam nyala api’ (ay 24b) dan ‘sangat menderita’ (ay 25b). Orang kaya ini adalah orang Yahudi, tetapi ia masuk ke neraka.
 
What money cannot buy.
“Money will buy a bed but not sleep; books but not brains; food but not appetite; finery but not beauty; a house but not a home; medicine but not health; luxuries but not culture; amusements but not happiness; religion but not salvation; a passport to everywhere but heaven” (= Uang bisa membeli ranjang tetapi tidak bisa membeli tidur; buku-buku tetapi tidak otak; makanan tetapi tidak nafsu makan; pakaian bagus / perhiasan tetapi tidak kecantikan; rumah tetapi tidak suasana rumah yang menyenangkan; obat tetapi tidak kesehatan; barang-barang lux / kemewahan tetapi tidak kebudayaan; hiburan tetapi tidak kebahagiaan; agama tetapi tidak keselamatan; sebuah paspor kemana saja kecuali ke surga).
 
 
-bersambung-
 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar