About us

Golgotha Ministry adalah pelayanan dari Pdt. Budi Asali,M.Div dibawah naungan GKRI Golgota Surabaya untuk memberitakan Injil ke seluruh dunia dan mengajarkan kebenaran firman Tuhan melalui khotbah-khotbah, pendalaman Alkitab, perkuliahan theologia dalam bentuk tulisan maupun multimedia (DVD video, MP3, dll). Pelayanan kami ini adalah bertujuan agar banyak orang mengenal kebenaran; dan bagi mereka yang belum percaya, menjadi percaya kepada Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadinya, dan bagi mereka yang sudah percaya, dikuatkan dan didewasakan didalam iman kepada Kristus.
Semua yang kami lakukan ini adalah semata-mata untuk kemuliaan nama Tuhan Yesus Kristus.

Kami mengundang dengan hangat setiap orang yang merasa diberkati dan terbeban didalam pelayanan untuk bergabung bersama kami di GKRI Golgota yang beralamat di : Jl. Raya Kalirungkut, Pertokoan Rungkut Megah Raya D-16, Surabaya.

Tuhan Yesus memberkati.

Tampilkan postingan dengan label Keselamatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Keselamatan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 20 Februari 2018

UNDANGAN PESTA

LUKAS 14:15-24


Luk 14:15-24 - “(15) Mendengar itu berkatalah seorang dari tamu-tamu itu kepada Yesus: ‘Berbahagialah orang yang akan dijamu dalam Kerajaan Allah.’ (16) Tetapi Yesus berkata kepadanya: ‘Ada seorang mengadakan perjamuan besar dan ia mengundang banyak orang. (17) Menjelang perjamuan itu dimulai, ia menyuruh hambanya mengatakan kepada para undangan: Marilah, sebab segala sesuatu sudah siap. (18) Tetapi mereka bersama-sama meminta maaf. Yang pertama berkata kepadanya: Aku telah membeli ladang dan aku harus pergi melihatnya; aku minta dimaafkan. (19)  Yang lain berkata: Aku telah membeli lima pasang lembu kebiri dan aku harus pergi mencobanya; aku minta dimaafkan. (20) Yang lain lagi berkata: Aku baru kawin dan karena itu aku tidak dapat datang. (21) Maka kembalilah hamba itu dan menyampaikan semuanya itu kepada tuannya. Lalu murkalah tuan rumah itu dan berkata kepada hambanya: Pergilah dengan segera ke segala jalan dan lorong kota dan bawalah ke mari orang-orang miskin dan orang-orang cacat dan orang-orang buta dan orang-orang lumpuh. (22) Kemudian hamba itu melaporkan: Tuan, apa yang tuan perintahkan itu sudah dilaksanakan, tetapi sekalipun demikian masih ada tempat. (23) Lalu kata tuan itu kepada hambanya: Pergilah ke semua jalan dan lintasan dan paksalah orang-orang, yang ada di situ, masuk, karena rumahku harus penuh. (24) Sebab Aku berkata kepadamu: Tidak ada seorangpun dari orang-orang yang telah diundang itu akan menikmati jamuanKu.’”.

I) Undangan diberikan pada saat pesta sudah siap.


Pada saat itu, kalau orang mau mengadakan pesta, maka jauh hari sebelum pesta itu diadakan, undangan sudah dikirimkan kepada para tamu. Dalam undangan itu sudah ditetapkan tempat pesta itu dan juga tanggal pada saat pesta itu akan diadakan. Tetapi jam pesta tidak diberitahukan. Lalu orang yang mengadakan pesta itu mengadakan segala persiapan untuk pesta. Setelah persiapan untuk pesta itu siap (pada tanggal yang sudah ditentukan), maka orang yang  mengadakan pesta itu mengirim hamba-hambanya untuk mengundang (undangan ke dua) orang-orang yang tadinya telah diundang untuk datang. Hal ini sebetulnya bisa terlihat pada ay 17 tetapi Kitab Suci bahasa Indonesia tidak menunjukkan hal itu.
Ay 17: “Menjelang perjamuan itu dimulai, ia menyuruh hambanya mengatakan kepada para undangan: Marilah, sebab segala sesuatu sudah siap.”.
KJV: ‘to them that were bidden’ [= kepada mereka yang telah diundang].
RSV: ‘to those who had been invited’ [= kepada mereka yang telah diundang].
NIV: ‘those who had been invited’ [= mereka yang telah diundang].
NASB: ‘to those who had been invited’ [= kepada mereka yang telah diundang].
Hanya KJV yang menggunakan bentuk past tense biasa, sedangkan RSV/NIV/NASB menggunakan past perfect tense. Penggunaan bentuk ‘past perfect tense’ (had been invited) menunjukkan bahwa orang-orang itu sudah mendapat undangan sebelum hamba itu memberitahukan bahwa pesta telah siap.

Bandingkan dengan Ester 5:8 (undangan pertama) dan Ester 6:14 (undangan ke dua).
Ester 5:8 - “Jikalau hamba mendapat kasih raja, dan jikalau baik pada pemandangan raja mengabulkan permintaan serta memenuhi keinginan hamba, datang pulalah kiranya raja dengan Haman ke perjamuan yang akan hamba adakan bagi raja dan Haman; maka besok akan hamba lakukan yang dikehendaki raja.’”.
Ester 6:14 - “Selagi mereka itu bercakap-cakap dengan dia, datanglah sida-sida raja, lalu mengantarkan Haman dengan segera ke perjamuan yang diadakan oleh Ester.”.
Jadi, adanya undangan ke dua menunjukkan bahwa pesta telah siap!

Orang yang mengadakan pesta itu, jelas menggambarkan Allah sendiri. Sama seperti orang itu sudah menyiapkan pesta, demikian juga Allah telah menyiapkan keselamatan bagi kita.

Bahwa keselamatan sudah siap, terbukti dari:

1)   Kata-kata ‘sudah selesai’ yang diucapkan Yesus di atas kayu salib (Yoh 19:30).
Yesus sudah dicambuki habis-habisan, dipakukan pada kayu salib, mengalami kehausan yang luar biasa, mengalami keterpisahan dengan Allah dsb untuk membereskan dosa kita! Lalu Ia berkata ‘sudah selesai’! Renungkan kata-kata Yesus ini! Keselamatan kita sudah diselesaikan di atas kayu salib. Kita hanya tinggal menerimanya dengan cuma-cuma.
Ro 3:23-24 - “(23) Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, (24) dan oleh kasih karunia Allah telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus.”.

2)   Kebangkitan Yesus dari antara orang mati.
Upah dosa ialah maut (Kej 2:16-17  Ro 6:23), dan kalau Yesus belum selesai membereskan dosa manusia, Ia tidak akan bisa bangkit dari antara orang mati.

3)   Kenaikan Yesus ke surga.
Yesus datang ke dunia karena ditugaskan oleh Bapa untuk membereskan dosa manusia. Kalau dosa belum dibereskan dan Ia mau pulang ke surga, Ia tidak akan diterima oleh Bapa. Bahwa Ia diterima oleh Bapa, menunjukkan bahwa tugasNya sudah selesai.

Ini adalah sesuatu yang sangat penting! Keselamatan kita sudah siap! Dosa kita sudah dibayar lunas, pengampunan dosa, pembenaran orang berdosa, perdamaian dengan Allah, pengangkatan menjadi anak Allah, hidup kekal, sukacita dan damai sejahtera, semuanya sudah tersedia! Semua sudah siap!
Karena pesta sudah siap (disiapkan oleh orang yang mengadakan pesta), maka para undangan itu tidak perlu melakukan apa-apa lagi (membawa piring, gelas, makanan, dsb).
Demikian juga, karena keselamatan sudah siap, untuk mendapatkan keselamatan kita yang diundang tidak perlu melakukan apa-apa lagi (memperbaiki hidup kita, membuangi dosa, dsb). Kita hanya perlu menerima undangan itu dengan datang kepada Yesus.
Setelah pesta siap, maka ada hamba yang memberikan undangan untuk datang. Demikian juga, karena keselamatan itu sudah siap, maka Allah memanggil saudara melalui hamba-hambaNya. Pada saat seorang kristen (pendeta, penginjil, guru sekolah minggu, orang kristen biasa) memberitakan Injil kepada saudara, itu adalah panggilan Allah kepada saudara!

II) Ada penolakan terhadap undangan (ay 18-20).


Ay 18-20: “(18) Tetapi mereka bersama-sama meminta maaf. Yang pertama berkata kepadanya: Aku telah membeli ladang dan aku harus pergi melihatnya; aku minta dimaafkan. (19)  Yang lain berkata: Aku telah membeli lima pasang lembu kebiri dan aku harus pergi mencobanya; aku minta dimaafkan. (20) Yang lain lagi berkata: Aku baru kawin dan karena itu aku tidak dapat datang.”.

Orang-orang dalam ay 18-20 sudah menerima undangan pertama dan sudah berjanji untuk datang. Tetapi waktu pesta sudah siap dan undangan kedua diberikan, mereka menolak. Ada yang menolak dengan halus (ay 18-19 - disertai permintaan maaf); ada yang menolak dengan kasar (ay 20 tanpa minta maaf). Demikian juga dalam dunia rohani ada banyak orang seperti ini. Kelihatannya mereka mau datang kepada Yesus. Mereka mau diajak ke gereja, mau dibaptis, mau belajar Kitab Suci, mau melayani Tuhan, mau memberi persembahan dsb, tetapi waktu mereka betul-betul ditantang untuk datang kepada Yesus dan menerimaNya sebagai Juruselamat dan Tuhan, mereka menolak!

Orang-orang dalam ay 18-20 memberikan alasan-alasan penolakan:
1.   Ay 18 - karena baru membeli ladang.
2.   Ay 19 - karena baru membeli lembu (kata ‘kebiri’ seharusnya tidak ada).
3.   Ay 20 - karena baru kawin.

Ada beberapa hal yang bisa kita pelajari dari alasan-alasan ini:

1)   Ini adalah alasan-alasan yang sangat umum.
Ay 18 - Alasan yang berhubungan dengan milik.
Ay 19 - Alasan yang berhubungan dengan pekerjaan.
Ay 20 - Alasan yang berhubungan dengan istri / keluarga.

Hal-hal ini (milik, pekerjaan, keluarga) memang sering menjadi penghalang untuk datang kepada Yesus. Misalnya:
a)   Tidak bisa datang ke gereja karena harus menjaga rumah.
b)   Tidak bisa ke gereja karena bekerja pada hari Minggu.
c)   Tidak bisa ikut Kebaktian / Pemahaman Alkitab karena menjaga anak.
d)   Sibuk bekerja, tidak ada waktu untuk Tuhan.
e)   Keluarga / orang tua tidak mengijinkan untuk dibaptis, ke gereja, dll.

2)   Hal-hal yang baik bisa menghalangi kita untuk menerima hal yang terbaik.
Ladang, lembu, istri bukanlah hal yang berdosa. Mereka semua baik. Tetapi semua itu bisa menghalangi untuk menerima yang terbaik (pesta). Karena apa? Karena salah prioritas!
Demikian juga dalam dunia rohani. Milik saudara, pekerjaan saudara, keluarga saudara bukanlah sesuatu yang berdosa. Tetapi kalau itu saudara prioritaskan lebih dari keselamatan, maka semua itu menghalangi saudara untuk menerima yang terbaik.

3)   Alasan-alasan dalam ay 18-20 adalah alasan-alasan yang dibuat-buat.
Melihat ladang, mencoba lembu bukanlah sesuatu yang urgent / mendesak! Orang yang baru kawin memang bebas dari wajib militer (Ul 24:5) supaya bisa bersenang-senang.
Ul 24:5 - “Apabila baru saja seseorang mengambil isteri, janganlah ia keluar bersama-sama dengan tentara maju berperang atau dibebankan sesuatu pekerjaan; satu tahun lamanya ia harus dibebaskan untuk keperluan rumah tangganya dan menyukakan hati perempuan yang telah diambilnya menjadi isterinya.’”.
Tetapi orang yang baru kawin tidak dilarang untuk ikut pesta. Apalagi pesta termasuk bersenang-senang! Jelas bahwa semua alasan-alasan ini cuma dibuat-buat.

Banyak orang membuat-buat alasan untuk menolak Yesus, misalnya dengan berkata:
a)         Banyak orang kristen brengsek.
Padahal orang dunia ini juga brengsek, tetapi mereka mau hidup di dunia dan berteman dengan orang dunia.
b)         Sibuk, tidak ada waktu.
Tetapi untuk hal-hal lain (pesta kawin, HUT, dsb) ada waktu!
c)         Gerejanya jauh.
Tetapi untuk hal-hal lain (belanja, piknik, undangan pernikahan) bisa pergi walaupun jauh!
d)   Dilarang oleh keluarga.
Kebanyakan orang berpikir, dari pada geger dengan keluarga, yang jelas bukan merupakan sesuatu yang dikehendaki Tuhan, lebih baik menolak Yesus. Terhadap alasan ini perlu saudara ingat bahwa Yesus berkata dalam Mat 10:34-36 - “(34) ‘Jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang. (35) Sebab Aku datang untuk memisahkan orang dari ayahnya, anak perempuan dari ibunya, menantu perempuan dari ibu mertuanya, (36) dan musuh orang ialah orang-orang seisi rumahnya.”.
Karena itu jangan terlalu cepat berkata bahwa Allah tidak menghendaki saudara geger dengan keluarga! Dalam persoalan seperti ini Allah menghendaki saudara geger dengan siapapun!
Jangan membuat-buat alasan. Tuhan tahu isi hati saudara!

4)   Alasan yang sesungguhnya: mereka tidak menghargai pesta itu!
Mereka sudah diundang jauh hari sebelumnya. Mengapa mereka tidak mengatur waktu untuk bisa datang ke pesta? Mengapa mereka justru membeli ladang / lembu atau kawin menjelang pesta? Jelas karena mereka tidak menghargai baik pestanya maupun orang yang mengadakan pesta! Orang yang menolak Injil boleh mempunyai 1001 macam alasan, tetapi alasan sebenarnya adalah:

a)         Mereka tidak menghargai keselamatan.
Mereka lebih peduli pada hal-hal duniawi (uang, keluarga, kesehatan, pekerjaan, study, dll). Bahkan pikiran mereka dipenuhi dengan hal-hal itu, sehingga tidak ada tempat dalam pikiran mereka untuk keselamatan jiwa mereka! Kalau saudara adalah orang yang seperti itu, ingatlah bahwa suatu hari saudara akan mati, dan tanpa keselamatan saudara akan masuk neraka! Bandingkan dengan:
1.   Mat 16:26 - “Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?”.
2.   Perumpamaan tentang orang kaya yang bodoh (Luk 12:16-21).
Luk 12:16-21 - “(16) Kemudian Ia mengatakan kepada mereka suatu perumpamaan, kataNya: ‘Ada seorang kaya, tanahnya berlimpah-limpah hasilnya. (17) Ia bertanya dalam hatinya: Apakah yang harus aku perbuat, sebab aku tidak mempunyai tempat di mana aku dapat menyimpan hasil tanahku. (18) Lalu katanya: Inilah yang akan aku perbuat; aku akan merombak lumbung-lumbungku dan aku akan mendirikan yang lebih besar dan aku akan menyimpan di dalamnya segala gandum dan barang-barangku. (19) Sesudah itu aku akan berkata kepada jiwaku: Jiwaku, ada padamu banyak barang, tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya; beristirahatlah, makanlah, minumlah dan bersenang-senanglah! (20) Tetapi firman Allah kepadanya: Hai engkau orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil dari padamu, dan apa yang telah kausediakan, untuk siapakah itu nanti? (21) Demikianlah jadinya dengan orang yang mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri, jikalau ia tidak kaya di hadapan Allah.’”.

b)         Mereka tidak menghargai Allah sendiri.
Orang dunia mungkin mau beragama, pergi ke gereja, berbuat baik, belajar Firman Tuhan, dsb. Tetapi mereka tidak akan mempedulikan, apalagi mengasihi Allah. Kalau saudara adalah orang yang seperti itu, ingatlah bahwa Allah mengasihi saudara! Tetapi kalau saudara terus menolak Dia, Ia akan menghakimi dan menghukum saudara!

5)   Orang-orang yang menolak ini menggambarkan orang-orang Yahudi yang menolak Injil / Kristus.
Matthew Henry mengatakan bahwa orang-orang yang menolak undangan ini menggambarkan orang-orang Yahudi, yang menanggapi Injil / Kristus dengan dingin.


Undangannya ditolak! Bagaimana sikapnya?

1)   Murka.
Ay 21: “Maka kembalilah hamba itu dan menyampaikan semuanya itu kepada tuannya. Lalu murkalah tuan rumah itu dan berkata kepada hambanya: Pergilah dengan segera ke segala jalan dan lorong kota dan bawalah ke mari orang-orang miskin dan orang-orang cacat dan orang-orang buta dan orang-orang lumpuh.”.
Penolakan terhadap undangan adalah penghinaan! Ia tidak mau menerima alasan-alasan itu! Demikian juga kalau saudara menolak Injil / undangan Allah untuk diselamatkan melalui Kristus, maka Allah juga murka kepada saudara! Ia tidak mau menerima alasan apapun! Ia murka!
Bahkan, sebetulnya karena kita lahir dalam dosa (karena kita keturunan Adam), dan kita lahir sebagai anak setan, maka sejak kita lahir murka Allah sudah ada di atas kita. Lalu Allah ingin kita berdamai dengan Dia. Ia menjadi manusia dan mati bagi dosa kita. Lalu Ia memanggil kita untuk mau datang kepada Kristus, sehingga bisa diperdamaikan dengan Dia. Kalau kita menolak, itu berarti kita tidak mau berdamai dengan Dia! Maka murka Allah akan tetap ada di atas kita.

Yoh 3:36 - “Barangsiapa percaya kepada Anak, ia beroleh hidup yang kekal, tetapi barangsiapa tidak taat kepada Anak, ia tidak akan melihat hidup, melainkan murka Allah tetap ada di atasnya.’”.

Murka itu akan dinyatakan sepenuhnya pada saat saudara mati dan masuk neraka! Pada saat ini murka itu belum dinyatakan sepenuhnya, tetapi murka itu ada di atas saudara! Kalau saudara tidak merasa menderita (semua baik-baik saja), jangan menganggap murka Allah itu tidak ada! Saudara ‘baik-baik’, karena murka Allah itu belum dinyatakan! Tetapi kalau saudara terus tidak mau bertobat dan datang kepada Kristus, maka pada akhirnya murka itu akan dinyatakan sepenuhnya! Dan kita tidak tahu kapan ini akan terjadi! Karena itu cepatlah bertobat!

2)   Menolak orang yang tadinya diundang (ay 24).
Ay 24: “Sebab Aku berkata kepadamu: Tidak ada seorangpun dari orang-orang yang telah diundang itu akan menikmati jamuanKu.’”.
Ada 3 hal yang ingin saya bahas dari ay 24 ini.

a)         Ay 24: “Aku berkata kepadamu.
Kata ‘mu’ di sini dalam bahasa Yunaninya ada dalam bentuk jamak! Padahal kata ‘hamba’ dalam ay 17 ada dalam bentuk tunggal. Jadi, ay 24 ini sebetulnya sudah tidak lagi termasuk dalam perumpamaan. Dalam ay 24 ini Yesus berbicara ditujukan kepada pendengarNya, yaitu orang-orang Yahudi / Farisi.
Sesuatu yang menarik adalah bahwa Yesus berkata ‘jamuanKu (ay 24). Dalam ay 16 orang yang mengadakan pesta jelas menggambarkan Allah. Tetapi dalam ay 24 Yesus berkata ‘jamuanKu. Jadi, ini menunjukkan bahwa Yesus adalah Allah!

b)         ‘Tak menikmati jamuanKu’ (ay 24) bukanlah suatu keadaan netral / tak menderita!
Itu adalah hukuman! ‘Tidak masuk surga’ berarti ‘masuk neraka’! Karena itu hati-hati dengan doktrin tentang Allah yang adalah kasih. Itu tidak boleh diartikan seakan-akan Ia tidak menghukum kalau manusia tidak mau bertobat. Hati-hati mengatakan bahwa Yesus tidak datang untuk menghakimi / menghukum tetapi untuk menyelamatkan (Yoh 3:17  Yoh 12:47). Pada kedatangan pertama Ia memang datang untuk menyelamatkan, tetapi kalau saudara tidak mau datang kepadaNya untuk diselamatkan, maka pada kedatangan kedua Ia akan menghakimi dan menghukum saudara!

c)   Ay 24 ini mengajar kita bahwa kita tidak bisa menolak undangan seenak kita.
Ada orang yang menolak dan berkata ‘Nanti saja, lain kali!’. Tetapi ingat bahwa penolakan kita mengundang penolakan Allah! Karena itu Yes 55:6 berkata: “Carilah Tuhan selama Ia berkenan ditemui;”.

3)   Ia mengundang orang lain (ay 21b-23).
Ay 21b-23: “(21b) Lalu murkalah tuan rumah itu dan berkata kepada hambanya: Pergilah dengan segera ke segala jalan dan lorong kota dan bawalah ke mari orang-orang miskin dan orang-orang cacat dan orang-orang buta dan orang-orang lumpuh. (22) Kemudian hamba itu melaporkan: Tuan, apa yang tuan perintahkan itu sudah dilaksanakan, tetapi sekalipun demikian masih ada tempat. (23) Lalu kata tuan itu kepada hambanya: Pergilah ke semua jalan dan lintasan dan paksalah orang-orang, yang ada di situ, masuk, karena rumahku harus penuh.”.

Ia tidak membatalkan pesta itu, tetapi Ia mengundang orang lain! Kalau ada orang menolak undangan Allah yang ingin menyelamatkannya, maka Allah tidak akan terus menunggui orang itu, tetapi Ia akan terus memberikan undanganNya kepada orang lain (bdk. Luk 9:5  Kis 13:51  Kis 18:6).

Luk 9:5 - “Dan kalau ada orang yang tidak mau menerima kamu, keluarlah dari kota mereka dan kebaskanlah debunya dari kakimu sebagai peringatan terhadap mereka.’”.
Kis 13:51 - “Akan tetapi Paulus dan Barnabas mengebaskan debu kaki mereka sebagai peringatan bagi orang-orang itu, lalu pergi ke Ikonium.”.
Kis 18:6 - “Tetapi ketika orang-orang itu memusuhi dia dan menghujat, ia mengebaskan debu dari pakaiannya dan berkata kepada mereka: ‘Biarlah darahmu tertumpah ke atas kepalamu sendiri; aku bersih, tidak bersalah. Mulai dari sekarang aku akan pergi kepada bangsa-bangsa lain.’”.

Undangan kepada orang lain ini merupakan gambaran dari undangan Allah kepada orang-orang non Yahudi (bdk. Ul 32:21  Ro 11:17-21).
Ul 32:21 - “Mereka membangkitkan cemburuKu dengan yang bukan Allah, mereka menimbulkan sakit hatiKu dengan berhala mereka. Sebab itu Aku akan membangkitkan cemburu mereka dengan yang bukan umat, dan akan menyakiti hati mereka dengan bangsa yang bebal.”.
Ro 11:17-21 - “(17) Karena itu apabila beberapa cabang telah dipatahkan dan kamu sebagai tunas liar telah dicangkokkan di antaranya dan turut mendapat bagian dalam akar pohon zaitun yang penuh getah, (18) janganlah kamu bermegah terhadap cabang-cabang itu! Jikalau kamu bermegah, ingatlah, bahwa bukan kamu yang menopang akar itu, melainkan akar itu yang menopang kamu. (19) Mungkin kamu akan berkata: ada cabang-cabang yang dipatahkan, supaya aku dicangkokkan di antaranya sebagai tunas. (20) Baiklah! Mereka dipatahkan karena ketidakpercayaan mereka, dan kamu tegak tercacak karena iman. Janganlah kamu sombong, tetapi takutlah! (21) Sebab kalau Allah tidak menyayangkan cabang-cabang asli, Ia juga tidak akan menyayangkan kamu.”.

Dalam Ro 11:17 Yahudi / Israel digantikan oleh non Israel. Tetapi dalam Ro 11:21 ada peringatan: “Kalau Allah tidak menyayangkan cabang-cabang yang asli (orang Yahudi), Ia juga tidak akan menyayangkan kamu (orang non Yahudi). Maksudnya: kalau Allah tidak menyayangkan orang Yahudi yang tidak percaya, Allah juga tidak akan menyayangkan kita yang tidak mau percaya!

Jadi, kalau saudara menolak undangan Allah untuk datang kepada Yesus, Allah akan mengalihkan undangan itu kepada orang lain! Prinsipnya adalah: Tuhan tidak mau memberikan sesuatu kepada orang yang tidak menghargai.

Bdk. Mat 7:6 - “Jangan kamu memberikan barang yang kudus kepada anjing dan jangan kamu melemparkan mutiaramu kepada babi, supaya jangan diinjak-injaknya dengan kakinya, lalu ia berbalik mengoyak kamu.”.

Dan karena itu saya berpendapat bahwa ini berlaku bukan hanya untuk keselamatan saja, tetapi juga untuk Firman Tuhan. Kalau saudara terus mengacuhkan Firman Tuhan, misalnya dengan tidak datang dalam Pemahaman Alkitab, maka jangan kaget kalau suatu kali Tuhan memindahkan Firman Tuhan dari diri saudara!

Dalam ay 23 ada kata ‘paksa’.
Ay 23: “Lalu kata tuan itu kepada hambanya: Pergilah ke semua jalan dan lintasan dan paksalah orang-orang, yang ada di situ, masuk, karena rumahku harus penuh.”.

Ini tidak bisa dijadikan dasar untuk berkata bahwa dalam Pemberitaan Injil kita boleh betul-betul memaksa seseorang secara fisik. Tetapi bagaimanapun dalam arti tertentu memang ada unsur pemaksaan dalam Pemberitaan Injil. Apa unsur pemaksaannya?
a)   Pemberitaan Injil adalah suatu perintah untuk datang dan percaya kepada Yesus.
b)   Pemberitaan Injil mengandung suatu ancaman bagi yang menolak.
c)   Dalam Pemberitaan Injil ada desakan untuk percaya kepada Yesus!
d)   Injil mengandung suatu argumentasi yang memaksa / mendesak orang untuk percaya dan menerimanya.

‘Paksaan’ ini menunjukkan kesungguhan Allah dalam menyelamatkan! Ini justru menunjukkan kasih Allah! Demikian pula kalau ada orang kristen yang ‘memaksa’ (terus mendesak) saudara untuk percaya kepada Yesus, jangan menganggap itu sebagai tindakan yang menyebalkan! Itu justru merupakan bukti bahwa orang kristen itu mengasihi saudara dan ingin supaya saudara diselamatkan!

IV) Pengganti para undangan (ay 21-23).


Ay 21-23: “(21) Maka kembalilah hamba itu dan menyampaikan semuanya itu kepada tuannya. Lalu murkalah tuan rumah itu dan berkata kepada hambanya: Pergilah dengan segera ke segala jalan dan lorong kota dan bawalah ke mari orang-orang miskin dan orang-orang cacat dan orang-orang buta dan orang-orang lumpuh. (22) Kemudian hamba itu melaporkan: Tuan, apa yang tuan perintahkan itu sudah dilaksanakan, tetapi sekalipun demikian masih ada tempat. (23) Lalu kata tuan itu kepada hambanya: Pergilah ke semua jalan dan lintasan dan paksalah orang-orang, yang ada di situ, masuk, karena rumahku harus penuh.”.

Mereka dikatakan sebagai orang miskin, cacat, buta, lumpuh (ay 21b). Mereka ada di jalan, lorong dan lintasan (ay 21b,23), yang mungkin berarti bahwa mereka adalah orang gelandangan.
Orang-orang ini kelihatannya justru sama sekali tidak siap untuk ikut pesta! Orang miskin tidak mempunyai pakaian pesta, orang cacat, buta, lumpuh akan sukar pergi ke pesta. Tetapi sekalipun mereka tidak siap, ada dua hal yang penting:

1)   Pestanya sudah siap!
Kesiapan pesta ini tidak tergantung kepada yang diundang, tetapi tergantung kepada yang mengundang! Apakah saudara merasa diri saudara belum siap menerima keselamatan? Saudara masih terlalu banyak dosa? Ingat bahwa keselamatan sudah siap! Yesus yang menyiapkannya bagi saudara dengan mati di salib dan bangkit dari antara orang mati!

2)   Mereka mau datang.
Mereka tak mencari alasan untuk menolak! Orang-orang dalam ay 18-20 lebih siap, tetapi mereka mencari alasan untuk menolak. Orang-orang di sini lebih tidak siap, tetapi tidak mencari alasan untuk menolak! Mereka mau datang! Itu yang penting!
Matthew Henry mengatakan bahwa seringkali orang-orang yang kelihatannya tidak bisa diharapkan, justru menerima undangan Injil, dan sebaliknya!

Bdk. Mat 21:31b-32 - “(31b) Kata Yesus kepada mereka: ‘Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal akan mendahului kamu masuk ke dalam Kerajaan Allah. (32) Sebab Yohanes datang untuk menunjukkan jalan kebenaran kepadamu, dan kamu tidak percaya kepadanya. Tetapi pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal percaya kepadanya. Dan meskipun kamu melihatnya, tetapi kemudian kamu tidak menyesal dan kamu tidak juga percaya kepadanya.’”.

Bagaimana dengan saudara? Maukah saudara datang kepada Yesus dan menerima keselamatan yang sudah Ia sediakan?





-AMIN-

Selasa, 21 Januari 2014

PENGHAKIMAN AKHIR ZAMAN (2)

Kelanjutan dari : http://golgothaministrysby.blogspot.com/2014/01/penghakiman-akhir-zaman-1.html

2.   Kitab Suci / Alkitab juga termasuk dalam ‘semua kitab’ itu.
Wiersbe: “What books are involved in this final judgment? The Bible will be there, according to John 12:48. The very Word that sinners hear and reject today will judge them on the last day” (= Kitab-kitab apa yang terlibat dalam penghakiman akhir ini? Alkitab akan ada di sana, menurut Yoh 12:48. Firman itu sendiri, yang didengar dan ditolak oleh orang-orang berdosa pada saat ini, akan menghakimi mereka pada hari terakhir).
Yoh 12:48 - “Barangsiapa menolak Aku, dan tidak menerima perkataanKu, ia sudah ada hakimnya, yaitu firman yang telah Kukatakan, itulah yang akan menjadi hakimnya pada akhir zaman”.
Jadi, kalau Alkitab kita termasuk dalam ‘semua kitab’ itu sangat masuk akal dan Alkitabiah, karena ada dasar Kitab Sucinya, yaitu Yoh 12:48.

Tetapi ada yang menafsirkan secara sangat gila bahwa kata-kata ‘semua kitab’ dalam Wah 20:12 itu menunjuk pada seadanya Kitab Suci dari semua agama. Orang-orang Liberal senang dengan tafsiran gila yang sama sekali tidak berdasar ini. Tetapi kebenarannya adalah: Tuhan hanya mempunyai satu Kitab Suci, yaitu Alkitab, yang betul-betul merupakan FirmanNya, dan ini saja yang akan Dia jadikan dasar penghakiman, bukan semua Kitab Suci lain, yang bukan merupakan FirmanNya!
Juga dari terjemahan KJV yang saya berikan di atas (juga Kitab Suci bahasa Inggris yang lain) terlihat dengan lebih jelas bahwa ay 12b menunjukkan bahwa kitab-kitab itu berisi perbuatan-perbuatan dari orang-orang yang akan dihakimi tersebut.
Kalau Alkitab dianggap termasuk, ini masih masuk akal, karena bisa saja Alkitab yang adalah Firman Tuhan itu, dijadikan standar untuk menilai perbuatan-perbuatan itu benar atau salah (bdk. Yoh 12:48). Tetapi kalau Kitab Suci - Kitab Suci agama lain, itu bukan Firman Tuhan, dan sangat tidak masuk akal dan tidak Alkitabiah bahwa Tuhan menjadikan Kitab Suci - Kitab Suci agama lain itu sebagai standard, karena kalau demikian, standardnya akan berbeda-beda dan bahkan saling bertentangan. Tidak ada pengadilan manapun yang pakai standard ganda, selalu standard tunggal. Dan di sini juga, standard pasti hanya Alkitab, tidak mungkin Kitab Suci - Kitab Suci agama-agama lain.

Matthew Henry: “‘The books were opened.’ What books? The books of God’s omniscience, who is greater than our consciences, and knows all things (there is a book of remembrance with him both for good and bad); and the book of the sinner’s conscience, which, though formerly secret, will now be opened. And another book shall be opened - the book of the scriptures, the statute-book of heaven, the rule of life. This book is opened as containing the law, the touchstone by which the hearts and lives of men are to be tried. This book determines matter of right; the other books give evidence of matters of fact” [= ‘Kitab-kitab dibuka’. Kitab-kitab apa? Kitab kemaha-tahuan Allah, yang lebih besar dari hati nurani kita, dan mengetahui segala sesuatu (ada suatu kitab ingatan dengan Dia untuk yang baik dan yang jahat); dankitab dari hati nurani orang berdosa, yang sekalipun dulunya tersembunyi, sekarang akan dibuka. Dan kitab lain yang akan dibuka adalah Kitab Suci, kitab undang-undang surga, peraturan / standard dari kehidupan. Kitab ini dibuka karena berisikan hukum, batu penguji dengan mana hati dan kehidupan manusia diuji. Kitab ini menentukan hal yang benar; kitab-kitab yang lain memberikan bukti tentang faktanya].

The Bible Exposition Commentary (NT): “Jesus Christ will judge these unsaved people on the basis of what is written ‘in the books.’ What books? For one thing, God’s Word will be there. The Word that I have spoken, the same shall judge him in the last day’ (John 12:48). Every sinner will be held accountable for the truth he or she has heard in this life. There will also be a book containing the works of the sinners being judged, though this does not suggest that a person can do good works sufficient to enter heaven (Eph 2:8-9; Titus 3:5). Why, then, will Jesus Christ consider the works, good and bad, of the people before the White Throne? To determine the degree of punishment they will endure in hell. All of these people will be cast into hell. Their personal rejection of Jesus Christ has already determined their destiny. But Jesus Christ is a righteous Judge, and He will assign each sinner the place that he deserves” [= Yesus Kristus akan menghakimi orang-orang yang tidak selamat berdasarkan apa yang tertulis ‘dalam kitab-kitab itu’. Kitab-kitab apa? Yang pertama, Firman Allah akan ada di sana. Firman yang telah Aku katakan, Firman yang sama akan menghakimi dia pada hari terakhir (Yoh 12:48). Setiap orang berdosa akan dianggap bertanggung jawab untuk kebenaran yang telah ia dengar dalam kehidupan ini. Di sana juga akan ada kitab berisikan perbuatan-perbuatan dari orang-orang berdosa yang dihakimi, sekalipun ini tidak berarti bahwa seseorang bisa berbuat baik secara cukup untuk masuk surga (Ef 2:8-9; Titus 3:5). Lalu, mengapa Yesus Kristus akan mempertimbangkan perbuatan, baik dan jahat, dari orang-orang di depan Takhta Putih? Untuk menentukan tingkat hukuman yang akan mereka tanggung di neraka. Semua orang-orang ini akan dilemparkan ke neraka. Penolakan pribadi mereka terhadap Yesus Kristus telah menentukan nasib mereka. Tetapi Yesus Kristus adalah seorang Hakim yang benar / adil, dan Ia akan memberikan setiap orang berdosa tempat yang layak ia dapatkan].
Ef 2:8-9 - “(8) Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, (9) itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri”.
Tit 3:5 - “pada waktu itu Dia telah menyelamatkan kita, bukan karena perbuatan baik yang telah kita lakukan, tetapi karena rahmatNya oleh permandian kelahiran kembali dan oleh pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh Kudus”.

c)         Kitab kehidupan juga dibuka pada saat itu.

1.   Kalau kitab kehidupan baru dibuka pada saat itu, bagaimana Yesaya Pariadji bisa berkata bahwa ia melihat namanya dan istrinya dalam satu halaman di dalam kitab kehidupan itu?
Pdt. Drs. Yesaya Pariadji: “tangan Tuhan Yesus menunjuk suatu buku yang sangat besar, ... saya mendengar kalimat, suaraNya: Pariadji, lihat ... namamu tercacat di Sorga sebagai warga Kerajaan Sorga ... Satu halaman dengan istrimu, Etty Darniaty ... Mengapa nama saya dan nama istri saya tercatat sebagai warga Kerajaan Sorga? Kalimat yang kedua, Tuhan Yesus berkata kepada saya: Karena kamu bisa menjadi seorang imam yang kudus di dalam rumah tanggamu” - ‘Majalah Tiberias’, Edisi II / Tahun I, hal 8.
Pdt. Drs. Yesaya Pariadji: “Saya dan istri memang tercatat sebagai warga Kerajaan Sorga. Kami memperoleh janji yang sangat indah, kami dijanjikan akan diundang ke Sorga, karena kami berjanji hidup yang suci di dalam rumah tangga kami” - ‘Majalah Tiberias’, Edisi IV / Tahun II, hal 6.
Kesalahan / kesesatannya bukan hanya karena ia mengatakan telah melihat namanya dan nama istrinya dalam satu halaman, tetapi juga karena hal itu ia dasarkan pada perbuatan baiknya, bukan pada imannya kepada Kristus.

2.   Hanya orang yang namanya tertulis dalam kitab kehidupan itu yang masuk surga.
Luk 10:20 - “Namun demikian janganlah bersukacita karena roh-roh itu takluk kepadamu, tetapi bersukacitalah karena namamu ada terdaftar di sorga.’”.
Fil 4:3 - “Bahkan, kuminta kepadamu juga, Sunsugos, temanku yang setia: tolonglah mereka. Karena mereka telah berjuang dengan aku dalam pekabaran Injil, bersama-sama dengan Klemens dan kawan-kawanku sekerja yang lain, yang nama-namanya tercantum dalam kitab kehidupan”.
Catatan: Paulus tahu bahwa nama-nama mereka tercantum dalam kitab kehidupan bukan karena ia melihat kitab kehidupan itu, tetapi karena orang-orang yang ia sebutkan adalah orang-orang percaya, dan karena itu pasti nama mereka tercantum dalam kitab kehidupan. Jadi, ini sangat berbeda dengan Yesaya Pariadji, yang mengaku melihat sendiri namanya dan nama istrinya ada dalam satu halaman dalam kitab kehidupan.

Wah 21:27 - “Tetapi tidak akan masuk ke dalamnya sesuatu yang najis, atau orang yang melakukan kekejian atau dusta, tetapi hanya mereka yang namanya tertulis di dalam kitab kehidupan Anak Domba itu”.

John Stott: “One day the books will be opened, and the dead will be judged by what is written in the books, and everyone whose name is not found written in the Book of Life will be ‘thrown into the lake of fire’ (Rev. 20:11-15). Is your name written in the Lamb’s book of life? You can have a name among men for being alive (like the Church of Sardis) and still have no entry in God’s book of the living. ... Jesus told His disciples to rejoice that their names were ‘written in heaven’ (Lk. 10:20; cf. Heb. 12:23). Can you rejoice like that today?” [= Suatu hari kitab-kitab ini akan dibuka, dan orang mati akan dihakimi berdasarkan apa yang tertulis dalam kitab-kitab ini, dan setiap orang yang namanya tidak ditemukan tertulis dalam Kitab Kehidupan akan ‘dilemparkan ke dalam lautan api’ (Wah 20:11-15). Apakah namamu tertulis dalam kitab kehidupan Anak Domba? Di antara manusia kamu bisa terkenal sebagai orang yang hidup (seperti Gereja Sardis) tetapi tetap tidak masuk dalam kitab orang hidup dari Allah. ... Yesus menyuruh murid-muridNya untuk bersukacita bahwa nama mereka ‘tertulis di surga’ (Luk 10:20; bdk. Ibr 12:23). Bisakah engkau bersukacita seperti itu hari ini?] - hal 97.
Ibr 12:23 - “dan kepada jemaat anak-anak sulung, yang namanya terdaftar di sorga, dan kepada Allah, yang menghakimi semua orang, dan kepada roh-roh orang-orang benar yang telah menjadi sempurna”.
Wah 3:1 - “‘Dan tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Sardis: Inilah firman Dia, yang memiliki ketujuh Roh Allah dan ketujuh bintang itu: Aku tahu segala pekerjaanmu:engkau dikatakan hidup, padahal engkau mati!”.

Jamieson, Fausset & Brown: “‘Book of life.’ ... Besides the general book of all, there is a special book for believers, in which their names are written, not for their works, but for Christ’s work for, and in, them: ‘the Lamb’s book of life.’ Electing grace has singled them out from the mass” (= ‘Kitab kehidupan’ ... Disamping kitab yang umum tentang semua, di sana ada kitab yang khusus untuk orang-orang percaya, dalam mana nama-nama mereka dituliskan, bukan karena perbuatan mereka, tetapi karena pekerjaan Kristus bagi, dan di dalam, mereka: ‘kitab kehidupan Anak Domba’. Kasih karunia yang memilih telah memilih mereka dari orang banyak).

Barnes’ Notes: “‘And another book was opened, which is the book of life.’ The book containing the record of the names of all who shall enter into life, or into heaven. ... The meaning here is, that John saw not only the general books opened containing the records of the deeds of people, but that he had a distinct view of the list or roll of those who were the followers of the Lamb. It would seem that in regard to the multitudes of the impenitent and the wicked, the judgment will proceed ‘on their deeds’ in general; in regard to the righteous, it will turn on the fact that their names had been enrolled in the book of life. That will be sufficient to determine the nature of the sentence that is to be passed on them. He will be safe whose name is found in the book of life; no one will be safe who is to have his eternal destiny determined by his own deeds” (= ‘Dan dibuka juga sebuah kitab lain, yaitu kitab kehidupan’. Kitab ini berisikan catatan dari nama-nama dari semua orang yang akan masuk ke dalam hidup, atau ke dalam surga. ... Artinya di sini adalah, bahwa Yohanes tidak hanya melihat kitab-kitab umum berisikan catatan dari perbuatan-perbuatan orang-orang dibuka, tetapi bahwa ia mempunyai pandangan yang berbeda / nyata tentang suatu daftar dari mereka yang adalah pengikut-pengikut dari Anak Domba itu.Kelihatannya berkenaan dengan orang banyak yang tidak bertobat dan orang-orang jahat, penghakiman akan dilakukan berdasarkan perbuatan mereka secara umum; tetapi berkenaan dengan orang-orang benar, itu akan bergantung pada fakta bahwa nama-nama mereka telah terdaftar dalam kitab kehidupan. Itu akan cukup untuk menentukan sifat dari hukuman / vonis yang akan diberikan kepada mereka. Ia yang namanya ditemukan dalam kitab kehidupan akan selamat; tak seorangpun yang nasib kekalnya ditentukan oleh perbuatan-perbuatannya sendiri akan selamat).

Barnes’ Notes: “‘According to their works.’ ... The fact that the name of anyone was found in the book of life would seem, as above remarked, to determine the ‘certainty’ of salvation; but the amount of reward would be in proportion to the service rendered to the Redeemer, and the attainments made in piety” (= ‘Menurut perbuatan mereka’. ... Fakta bahwa nama dari siapapun ditemukan dalam kitab kehidupan kelihatannya, seperti dikatakan di atas, menentukan kepastian keselamatan; tetapi jumlah pahala akan sebanding dengan pelayanan yang diberikan kepada sang Penebus, dan pencapaian yang dibuat dalam kesalehan).

Kesimpulan dari bagian ini: Orang-orang percaya namanya tercantum dalam kitab kehidupan. Hanya mereka yang akan masuk surga. Orang-orang yang tidak percaya akan dihakimi berdasarkan perbuatan mereka, dan mereka tidak mungkin bisa selamat. Tidak ada dosa dari orang-orang percaya yang akan dinyatakan pada hari pengakiman itu, karena semuanya telah dihapuskan oleh darah Kristus. Yang ada hanya perbuatan-perbuatan baik dari orang-orang percaya, dan itu dijadikan dasar untuk menentukan pahala orang-orang percaya itu di surga.

IV) Keadaan akhir.

Ay 14-15: “(14) Lalu maut dan kerajaan maut itu dilemparkanlah ke dalam lautan api. Itulah kematian yang kedua: lautan api. (15) Dan setiap orang yang tidak ditemukan namanya tertulis di dalam kitab kehidupan itu, ia dilemparkan ke dalam lautan api itu”.

1)   Maut dan kerajaan maut (Hades) dilemparkan ke neraka.

Ay 14: “Lalu maut dan kerajaan maut itu dilemparkanlah ke dalam lautan api. Itulah kematian yang kedua: lautan api.

Barnes’ Notes: “‘And death and hell were cast into the lake of fire.’ ... The idea is, that death, considered as the separation of soul and body, with all the attendant woes, will exist no more. The righteous will live forever, and the wicked will linger on in a state never to be terminated by death. The reign of Death and Hades, as such, would come to an end, and a new order of things would commence where this would be unknown. ... There would be ‘death’ still, but a ‘second death differs from the first, in the fact that it is not a separation of the soul and body, but a state of continual agony like what the first death inflicts - like that in intensity, but not in kind’ (Prof. Stuart)” [= ‘Lalu maut dan kerajaan maut itu dilemparkanlah ke dalam lautan api’. ...Gagasannya adalah, bahwa maut, dianggap sebagai perpisahan jiwa dan tubuh, dengan semua kesengsaraan yang melayaninya, tidak akan ada lagi. Orang benar akan hidup selama-lamanya, dan orang jahat akan tetap hidup dalam suatu keadaan yang tidak akan pernah diakhiri oleh kematian. Pemerintahan dari Maut dan Hades yang seperti itu akan berakhir, dan suatu susunan baru dari hal-hal akan mulai dimana ini tidak akan dikenal. ... Memang tetap akan ada ‘maut / kematian’, tetapi itu adalah ‘kematian kedua yang berbeda dengan kematian pertama, dalam fakta bahwa itu bukanlah perpisahan dari jiwa dan tubuh, tetapi suatu keadaan dari kesengsaraan yang terus menerus, seperti yang diberikan oleh kematian pertama - seperti itu dalam intensitas, tetapi bukan dalam jenisnya’ (Prof. Stuart)].

2)   Orang-orang yang tidak percaya juga dilemparkan ke neraka.
Ay 15: “Dan setiap orang yang tidak ditemukan namanya tertulis di dalam kitab kehidupan itu, ia dilemparkan ke dalam lautan api itu”.
Bdk. Wah 21:8 - “Tetapi orang-orang penakut, orang-orang yang tidak percaya, orang-orang keji, orang-orang pembunuh, orang-orang sundal, tukang-tukang sihir, penyembah-penyembah berhala dan semua pendusta, mereka akan mendapat bagian mereka di dalam lautan yang menyala-nyala oleh api dan belerang; inilah kematian yang kedua.’”.

a)         Hubungan kematian pertama dan kematian kedua.
Barnes’ Notes: “when it is said that ‘death and hell were cast into the lake of fire,’ it cannot be meant that all punishment will cease forever, and that all will be saved, for the writer goes on to describe what he calls ‘the second death’ as still existing. ... John describes this as the second death, not because it in all respects resembles the first death, but because it has so many points of resemblance that it may be properly called ‘death.’ Death, in any form, is the penalty of law; it is attended with pain; it cuts off from hope, from friends, from enjoyment; it subjects him who dies to a much-dreaded condition, and in all these respects it was proper to call the final condition of the wicked ‘death’ - though it would still be true that the soul would live. There is no evidence that John meant to affirm that the second death would imply an extinction of ‘existence.’ Death never does that; the word does not naturally and properly convey that idea” (= pada waktu dikatakan bahwa ‘maut dan kerajaan maut itu dilemparkanlah ke dalam lautan api’, itu tidak bisa diartikan bahwa semua hukuman akan berakhir selama-lamanya, dan bahwa semua akan diselamatkan, karena sang penulis melanjutkan dengan menggambarkan apa yang ia sebut ‘kematian yang kedua’ sebagai tetap ada. ... Yohanes menggambarkan ini sebagai kematian kedua, bukan karena itu dalam segala hal menyerupai kematian pertama, tetapi karena itu mempunyai begitu banyak point kemiripan sehingga itu bisa secara benar disebut ‘kematian’. Kematian, dalam bentuk apapun, merupakan hukuman dari hukum; itu disertai dengan rasa sakit; itu memotong kita dari pengharapan, dari teman-teman, dari penikmatan; itu membuat orang yang mati sebagai sasaran dari kondisi yang sangat ditakuti, dan dalam semua hal-hal ini adalah benar untuk menyebut kondisi akhir dari orang-orang jahat sebagai ‘kematian’ - sekalipun adalah tetap benar bahwa jiwa akan hidup. Tidak ada bukti bahwa Yohanes bermaksud untuk menegaskan bahwa kematian kedua ini secara implicit menunjuk pada pemusnahan keberadaan. Kematian tidak pernah melakukan hal itu; secara wajar dan benar kata itu tidak menyampaikan gagasan / pengertian itu).

Barnes’ Notes: “the wicked will be destroyed, in what may be properly called the ‘second’ death. ... It does not mean that they will be ‘annihilated,’ for ‘death’ never implies that. The meaning is, that this will be a cutting off from what is properly called ‘life,’ from hope, from happiness, and from peace, and a subjection to pain and agony, which it will be proper to call ‘death’ - death in the most fearful form; death that will continue for ever. No statements in the Bible are more clear than those which are made on this point; no affirmation of the eternal punishment of the wicked could be more explicit than those which occur in the sacred Scriptures” (= orang-orang jahat akan dihancurkan, dalam apa yang secara benar disebut ‘kematian yang kedua’. ... Itu tak berarti bahwa mereka akan dimusnahkan, karena ‘kematian’ tidak pernah mempunyai arti seperti itu. Artinya adalah, bahwa ini merupakan suatu pemotongan dari apa yang secara benar disebut ‘hidup’, dari pengharapan, dari kebahagiaan, dan dari damai, dan suatu ketundukan pada rasa sakit dan penderitaan, yang menyebabkan benar untuk menyebutnya ‘kematian’ - kematian dalam bentuknya yang paling menakutkan; kematian yang akan berlangsung selama-lamanya. Tidak ada pernyataan dalam Alkitab yang lebih jelas dari hal-hal yang dibuat tentang hal ini; tidak ada penegasan tentang hukuman kekal dari orang-orang jahat yang bisa lebih explicit dari itu yang ada dalam Kitab Suci yang kudus).

Adam Clarke: “‘This is the second death.’ The first death consisted in the separation of the soul from the body for a season; the second death in the separation of body and soul from God forever. The first death is that from which there may be a resurrection; the second death is that from which there can be no recovery. By the first the body is destroyed during time; by the second, body and soul are destroyed through eternity”(= ‘Inilah kematian yang kedua’. Kematian yang pertama terdiri dari pemisahan dari jiwa dari tubuh untuk sementara; kematian kedua terdiri dari pemisahan dari tubuh dan jiwa dari Allah untuk selama-lamanya. Kematian pertama adalah itu dari mana bisa ada suatu kebangkitan; kematian kedua adalah itu dari mana tidak bisa ada pemulihan. Oleh kematian yang pertama tubuh dihancurkan dalam waktu; oleh kematian yang kedua tubuh dan jiwa dihancurkan dalam sepanjang kekekalan).

b)   Jelas bahwa neraka / lautan api itu merupakan suatu tempat, dan itu adalah tempat penyiksaan.

Seiss’ Apocalypse: “What that ‘lake of fire’ is I cannot tell, I do not know, and I pray God that I may never find out. That it is a place, everything said about it proves. People in corporeal life, as these condemned ones are, must needs have locality. That it is a place of woe, pain, and dreadful torment, is specifically stated, and is the chief idea in every image of the description” (= Apa ‘lautan api’ itu saya tidak bisa memberi tahu, saya tidak tahu, dan saya berdoa kepada Allah supaya saya tidak pernah bisa tahu. Bahwa itu adalah suatu tempat, segala sesuatu yang mengatakan tentangnya membuktikannya. Orang-orang dalam hidup badaniah, seperti orang-orang yang dihukum ini, pasti membutuhkan tempat. Bahwa itu adalah suatu tempat kesengsaraan, rasa sakit, dan siksaan yang mengerikan, dinyatakan secara khusus, dan merupakan gagasan utama dalam setiap bayangan penggambaran).

Newell: “The very brevity of this verse is one of the elements of its awfulness. ... It is not love, or faithfulness, to avoid them because they are such terrible facts” [= Singkatnya ayat ini (Wah 20:15), adalah salah satu elemen dari sifat mengerikannya. ... Bukanlah kasih, atau kesetiaan, untuk menghindari mereka karena mereka adalah fakta-fakta yang begitu mengerikan] - hal 334.

Seiss’ Apocalypse: “But judgment is given as the works have been. There is just gradation in the sorrows of the lost, as well as in the rewards of the righteous. ... Though all the finally condemned go into one place, they do not all alike feel the same pains, or sink to the same depths in those dreadful flames. But the mildest hell is nevertheless HELL, and quite too intolerable for any sane being to be content to make experiment of it” (= Tetapi penghakiman diberikan sesuai dengan perbuatan-perbuatannya. Ada tingkatan-tingkatan yang adil dalam kesedihan / penderitaan dari orang-orang yang terhilang, maupun dalam pahala dari orang-orang benar. ... Sekalipun semua pada akhirnya dihukum dengan pergi ke satu tempat, tetapi mereka semua tidak merasakan rasa sakit yang sama, atau tenggelam pada kedalaman yang sama dalam nyala api yang mengerikan itu. Tetapi neraka yang paling ringan / sejuk tetap adalah neraka, dan terlalu tidak tertahankan untuk setiap orang waras yang mau mencobanya).

c)   ‘Orang-orang kristen’ yang keberatan dengan doktrin hukuman kekal di neraka.

The Bible Exposition Commentary (NT): “When the judgment is finished, all of the lost will be cast into hell, the lake of fire, the second death. Many people reject the biblical doctrine of hell as being ‘unchristian,’ and yet Jesus clearly taught its reality (Matt 18:8; 23:15,33; 25:46; Mark 9:46). A sentimental kind of humanistic religion will not face the reality of judgment but teaches a God who loves everyone into heaven and sends no one to hell” [= Pada waktu penghakiman selesai, semua orang-orang yang terhilang akan dilemparkan ke neraka, lautan api, kematian yang kedua. Banyak orang menolak doktrin Alkitabiah tentang neraka sebagai ‘tidak kristen’, tetapi Yesus dengan jelas mengajar kenyataan tentang hal ini (Mat 18:8; 23:15,33; 25:46; Mark 9:46). Suatu jenis agama yang sentimentil yang bersifat humanisme tidak akan menghadapi kenyataan dari penghakiman tetapi mengajarkan seorang Allah yang mengasihi setiap orang ke dalam surga dan tidak mengirimkan siapapun ke neraka].
Catatan: humanisme adalah ajaran yang menekankan kepentingan manusia.

Bible Knowledge Commentary: “The lake of fire is the second death, the final destination of the wicked. The doctrine of eternal punishment has always been a problem to Christians who enjoy the grace of God and salvation in Christ. The Bible is clear, however, that the punishment of the wicked is eternal. ... Though many have attempted to find some scriptural way to avoid the doctrine of eternal punishment, as far as biblical revelation is concerned there are only two destinies for human souls; one is to be with the Lord and the other is to be forever separated from God in the lake of fire. This solemn fact is motivation for carrying the gospel to the ends of the earth whatever the cost, and doing everything possible to inform and challenge people to receive Christ before it is too late” (= Lautan api adalah kematian yang kedua, tujuan akhir dari orang-orang jahat. Doktrin dari hukuman kekal selalu menjadi problem bagi orang-orang kristen yang menikmati kasih karunia Allah dan keselamatan dalam Kristus. Tetapi Alkitab adalah jelas, bahwa hukuman dari orang jahat itu kekal. ... Sekalipun banyak orang telah mencoba untuk menemukan beberapa jalan yang Alkitabiah untuk menghindari doktrin hukuman kekal, sejauh menyangkut wahyu yang Alkitabiah, hanya ada 2 tujuan / nasib bagi jiwa-jiwa manusia; yang satu adalah bersama dengan Tuhan, dan yang lain adalah terpisah dari Allah untuk selama-lamanya dalam lautan api. Fakta yang khidmat ini merupakan motivasi / pendorong untuk membawa Injil ke ujung-ujung bumi tak peduli berapapun ongkosnya, dan melakukan apapun yang mungkin untuk memberi tahu dan menantang orang-orang untuk menerima Kristus sebelum terlambat).

d)   Orang-orang Kristen yang mempunyai pandangan yang ‘bijaksana’ dan juga orang Kristen yang mempercayai adanya ‘second chance’ (= kesempatan yang kedua).

Pulpit Commentary: “MEN WILL BE JUDGED ACCORDING TO THE LIGHT THEY HAD; i.e. according to the use they made of the light God had granted them (Rom 2:11-15; Matt 10:15; 11:21-24; Luke 11:31,32; 12:47,48; Acts 10:34,35). The principles here laid down are those of most manifest equity, and we are quite sure that there will be nothing contrary thereto in the sentence of God. The late Dr. Lawson, of Selkirk, was once asked by a flippant young man how he could think that any, such as Plato and Socrates, would be lost because they had not heard of Jesus Christ. He replied, ‘If it please God in his mercy, and through faith in his Son, to take you and me to heaven, and that we shall find there Socrates and Plato, I am sure we shall be glad indeed to meet them; but if we shall not find them in heaven, I am also sure that the Judge of all the earth will be able to assign a good reason for their absence, and that none in heaven will be either able or willing to dispute either the justice or the wisdom of his sovereign arrangements.’ We may also add that Scripture not obscurely intimates that every soul will, before the dread day comes, be brought into contact with the Lord Jesus for acceptance or rejection; and those who followed conscientiously the dimmer light will surely accept joyfully the clearer. Certainly the Judge of all the earth will do right” [= Orang-orang akan dihakimi menurut terang yang mereka miliki; yaitu menurut bagaimana mereka menggunakan terang yang Allah telah berikan kepada mereka (Ro 2:11-15; Mat 10:15; 11:21-24; Luk 11:31,32; 12:47,48; Kis 10:34,35). Prinsip-prinsip yang diletakkan di sini adalah prinsip-prinsip yang paling menyatakan keadilan, dan kami cukup yakin bahwa di sana tidak akan ada apapun yang bertentangan dengannya dalam hukuman / vonis dari Allah. Almarhum Dr. Lawson, dari Selkirk, pernah ditanya oleh seorang muda yang bermulut usil, bagaimana ia bisa berpikir bahwa siapapun, seperti Plato dan Socrates, akan terhilang karena mereka tidak pernah mendengar tentang Yesus Kristus. Ia menjawab: ‘Jika itu menyenangkan Allah dalam belas kasihanNya, dan melalui iman kepada AnakNya, untuk membawa engkau dan aku ke surga, dan bahwa kita bertemu dengan mereka di surga, aku yakin bahwa kita akan gembira bertemu dengan mereka; tetapi jika kita tidak bertemu dengan mereka di surga, aku juga yakin bahwa Hakim dari seluruh bumi akan bisa memberikan alasan yang baik untuk absennya mereka, dan bahwa tidak ada orang di surga akan bisa atau mau mempertengkarkan keadilan atau hikmat dari pengaturanNya yang berdaulat’. Kami juga bisa menambahkan bahwa Kitab Suci tidak secara samar-samar menunjukkan bahwa setiap jiwa akan, sebelum hari yang menakutkan itu tiba, dipertemukan dengan Tuhan Yesus untuk penerimaan atau penolakan; dan mereka yang dengan sungguh-sungguh telah mengikuti terang yang lebih suram, pasti akan menerima dengan sukacita terang yang lebih besar. Pasti Hakim dari seluruh bumi akan melakukan hal yang benar] - hal 489-490.

Ada 2 hal yang perlu dibahas tentang kutipan dari Pulpit Commentary di atas ini:

1.   Saya berpendapat, kata-kata dari Dr. Lawson itu, yang mungkin oleh banyak orang akan dianggap sebagai kata-kata yang ‘bijaksana’, sudah berbau ketidak-yakinan bahwa Yesus adalah satu-satunya jalan. Mungkin sekali orang-orang seperti  Dr. Lawson itu berkata seperti itu, karena rasa hormat dan kekaguman yang luar biasa terhadap orang-orang seperti Plato dan Socrates, yang memang merupakan ahli-ahli filsafat yang luar biasa. Tetapi kekaguman kepada siapapun (misalnya Lady Di, Mother Theresa, dsb) tetap mengharuskan kita untuk bersikap obyektif dan hanya berdasarkan pada Firman Tuhan tentang keselamatan orang tersebut. Saya juga mendengar bahwa Stephen Tong percaya Kong Hu Cu bisa selamat, dan itu berarti ia sama saja dengan Dr. Lawson itu.
Catatan: Encyclopedia Britannica 2007 mengatakan bahwa Plato adalah ahli filsafat Yunani yang dilahirkan tahun 428 / 427 SM, dan mati pada tahun 348 / 347 SM. Sedangkan Socrates juga adalah ahli filsafat Yunani, yang lahir pada tahun 470 SM, dan mati pada tahun 399 SM. Jadi, keduanya hidup pada jaman sebelum Kristus, dan untuk mereka yang hidup sebelum Kristus, yang bisa diselamatkan hanyalah dari kalangan bangsa Israel / Yahudi, atau orang non Israel yang masuk agama Yahudi / diyahudikan.
Bdk. Ro 2:12 - “Sebab semua orang yang berdosa tanpa hukum Taurat akan binasa tanpa hukum Taurat; dan semua orang yang berdosa di bawah hukum Taurat akan dihakimi oleh hukum Taurat”.

2.   Dan tambahan bagian terakhir yang diberikan oleh penafsir dari Pulpit Commentary itu (bagian yang saya garis-bawahi), jelas-jelas juga merupakan ajaran sesat, yang menunjukkan bahwa setelah kematianpun seseorang bisa bertobat / percaya kepada Kristus dan diselamatkan!
Bandingkan kata-kata itu dengan komentar di bawah ini.

Pulpit Commentary: “That the final state of every soul will depend on its attitude to the Lord Jesus Christ. ... That for those who reject Jesus Christ in this life there will be no such thing as making up lost time, and that they will never attain to the blessedness they would have reached if they had received Christ in this, the accepted time. Their time once lost is lost forever, and the corresponding loss of blessedness will never be retrieved” (= Bahwa keadaan akhir dari setiap jiwa / orang akan tergantung pada sikapnya terhadap Tuhan Yesus Kristus. ... Bahwa untuk mereka yang menolak Yesus Kristus dalam hidup ini di sana tidak akan ada apa yang disebut mengejar / menebus waktu yang hilang, dan bahwa mereka tidak akan pernah mencapai keadaan diberkati yang akan sudah mereka capai, seandainya mereka telah menerima Kristus dalam waktu ini, waktu yang diterima ini. Waktu mereka yang sekali hilang, hilang selama-lamanya, dan kehilangan berkat yang sesuai tidak akan pernah didapatkan kembali) - hal 494.

Catatan: jangan heran kalau Pulpit Commentary di sini memberikan kata-kata yang bertentangan dengan kata-kata dari Pulpit Commentary di atas. Buku tafsiran ini berisikan komentar-komentar dan khotbah-khotbah dari banyak orang, sehingga bisa saja terjadi pertentangan di antara mereka.

e)   Siapapun orang yang namanya tak tertulis dalam kitab kehidupan itu, akan dilemparkan ke dalam lautan api / neraka.

Seiss’ Apocalypse: “Ho, ye unbelieving people - ye dishonest people - ye profane people - ye lewd men and women - ye slaves of lust and appetite - ye scoffers at the truth of God - ‘How can ye escape the damnation of hell?’ (Matt 23:33). Ye people of business - ye whose souls are absorbed with the pursuit of gain - ye people of wealth without riches toward God - ye passengers on the voyage of life, without prayer, without Church relations, without concern for your immortal good, your God, or the eternity before you hear: ‘Hell hath enlarged herself, and opened her mouth without measure, and your glory, and your multitude, and your pomp, and your rejoicing, shall descend into it!’ (Isa 5:14). Ye almost Christians, lingering these many years on the margin of the Kingdom, looking in through the gates, but never quite ready to enter them, intending but never performing, often wishing but still postponing, hoping but without right to hope - the appeal is to you: ‘How shall ye escape if ye neglect so great salvation?’ (Heb 2:2-4). And ye who call yourselves Christians but have forgotten your covenant promises - ye Terahs and Lot’s wives, who have started out of the place of sin and death but hesitate halfway, and stay to look back - ye baptized Elymases, and Judases, and Balaams, who, through covetousness and feigned words make merchandise of the grace of God - see ye not that ‘your judgment now of a long time lingereth not, and your damnation slumbereth not!’ (2 Peter 2:3). And if there be anyone oblivious or indifferent toward these great matters - asleep amidst the dashing waves of coming retribution - the message is to you: ‘What meanest thou, O sleeper? Arise, call upon thy God, if so be that God shall think upon thee, that thou perish not!’ (Jonah 1:6). For if anyone be not found written in the Book of Life, he must be swallowed up by the Lake of Fire” [= Hai kamu orang-orang yang tidak percaya - kamu orang-orang yang tidak jujur - kamu orang-orang yang duniawi - kamu laki-laki dan perempuan yang cabul - kamu hamba-hamba dari nafsu dan nafsu makan - kamu pengejek-pengejek kebenaran Allah - ‘Bagaimanakah mungkin kamu dapat meluputkan diri dari hukuman neraka?’ (Mat 23:33). Kamu orang-orang bisnis - kamu yang jiwanya telah diasyikkan dengan pengejaran keuntungan - kamu orang-orang kaya tanpa kekayaan terhadap Allah - kamu penumpang-penumpang pada perjalanan kehidupan, tanpa doa, tanpa hubungan Gereja, tanpa kepedulian untuk kebaikan kekalmu, Allahmu, atau kekekalan di depanmu mendengar: ‘neraka telah memperbesar / memperluas dirinya sendiri, dan membuka mulutnya tanpa ukuran, dan kemuliaanmu, dan barang-barangmu yang banyak, dan kemegahanmu, dan kesukacitaanmu, akan turun ke dalamnya!’ (Yes 5:14). Kamu orang-orang yang hampir Kristen, berlambat-lambat selama banyak tahun pada tepi dari Kerajaan, melihat ke dalam melalui pintu-pintu gerbang, tetapi tidak pernah cukup siap untuk memasukinya, bermaksud tetapi tidak pernah melaksanakan, sering menginginkan tetapi tetap menunda, berharap tetapi tanpa hak untuk berharap - seruan ini adalah untukmu: ‘Bagaimanakah kamu akan luput jikalau kamu menyia-nyiakan keselamatan yang sebesar itu?’ (Ibr 2:2-4). Dan kamu yang menyebut dirimu sendiri orang-orang Kristen tetapi telah melupakan janji-janji perjanjianmu - kamu Terah-Terah dan istri-istri Lot, yang telah mulai / berangkat dari tempat dosa dan kematian tetapi ragu-ragu di tengah jalan, dan tinggal diam untuk menoleh ke belakang - kamu Elymas-Elymas yang telah dibaptis, dan Yudas-Yudas, dan Bileam-Bileam, yang melalui ketamakan dan kata-kata yang pura-pura membuat kasih karunia Allah sebagai barang dagangan - tidakkah kamu lihat bahwa ‘penghakimanmu / hukumanmu telah lama tersedia dan kebinasaanmu tidak akan tertunda!’ (2Pet 2:3). Dan jika di sana ada siapapun terlupa atau acuh tak acuh terhadap hal-hal besar ini - tidur di tengah-tengah gelombang pembalasan yang mendekat - pesan ini adalah untukmu: ‘Apa maksudmu, hai tukang tidur? Bangunlah, berserulah kepada Allahmu, barangkali Allah itu akan mengindahkanmu, sehingga kamu tidak binasa!’ (Yunus 1:6). Karena jika siapapun tidak ditemukan tertulis dalam kitab kehidupan, ia harus ditelan oleh Lautan Api].

Newell: “Let us mark certain facts here: 1. It is not the absence of good works in the book that doom a person. It is the absence of his name. Only names, not works, are in that book! 2. It is not the fact of evil works. Many of earth’s greatest sinners have their names in the Book of Life. 3. All whose names do not appear in the Book, are cast into the lake of fire. 4. All names there found in that day, will have been written before that day. There is no record of anyone’s name being written into the Book of Life upon that day, but rather the opposite: ‘If any was not found written.’ How overwhelmingly solemn is this!” (= Marilah kita memperhatikan beberapa fakta di sini: 1. Bukanlah absennya perbuatan baik dalam kitab, yang menghukum seseorang, tetapi absennya namanya. Hanya nama-nama, bukan perbuatan-perbuatan baik, ada dalam kitab itu! 2. Itu bukan fakta dari perbuatan-perbuatan jahat. Banyak orang-orang yang paling berdosa di bumi yang mempunyai nama mereka dalam kitab kehidupan itu. 3. Semua orang yang namanya tidak muncul dalam Kitab itu, dilemparkan ke dalam lautan api. 4. Semua nama yang ditemukan di sana pada hari itu, telah dituliskan sebelum hari itu. Tak ada catatan tentang nama siapapun yang dituliskan ke dalam kitab kehidupan pada hari itu, tetapi sebaliknya: ‘Dan setiap orang yang tidak ditemukan namanya tertulis’. Betapa sangat khidmatnya hal ini!) - hal 334.

f)    Hanya orang yang percaya kepada Yesus yang namanya tertulis dalam kitab kehidupan itu.

The Bible Exposition Commentary (NT): “In light of Calvary, no lost sinner can condemn God for casting him into hell. God has provided a way of escape, patiently waiting for sinners to repent. He will not lower His standards or alter His requirements. He has ordained that faith in His Son is the only way of salvation” (= Dalam terang dari Kalvari, tidak ada orang berdosa yang terhilang bisa mengecam / menyalahkan Allah karena melemparkannya ke dalam neraka. Allah telah menyediakan suatu jalan untuk lolos, dengan sabar menunggu orang-orang berdosa untuk bertobat. Ia tidak akan menurunkan standardNya atau mengubah tuntutanNya. Ia telah menentukan bahwa iman kepada AnakNya adalah satu-satunya jalan keselamatan).
Bdk. Ro 3:25a - “Kristus Yesus telah ditentukan Allah menjadi jalan pendamaian karena iman, dalam darahNya”.

Penutup.

Saudara tak perlu menjadi orang yang sangat jahat untuk bisa masuk neraka. Asal saudara adalah orang yang tidak sungguh-sungguh percaya kepada Kristus, tak peduli saudara adalah orang yang hampir percaya, atau hampir menjadi Kristen, maka saudara akan masuk ke neraka selama-lamanya. Karena itu, percayalah sekarang juga kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat saudara, dan saudara tak perlu takut pada penghakiman akhir jaman, neraka dan sebagainya!


-AMIN-