Kebaktian
G. K. R. I. ‘GOLGOTA’
(Rungkut
Megah Raya, blok D no 16)
Minggu, tgl 27 Maret 2011, pk
17.00
Pdt.
Budi Asali, M. Div.
(HP: 7064-1331 / 6050-1331)
HUKUM 7 (1)
jangan Berzinah
(Kel 20:14)
Kel 20:14 - “Jangan
berzinah”.
Contoh pelanggaran terhadap
hukum ini:
1) Melakukan hubungan sex diluar pernikahan (pelacuran,
dsb).
Satu hal yang
perlu dicamkan tentang hukum ketujuh ini adalah bahwa tidak ada orang yang
kebal terhadapnya (perzinahan)! Kalau Daud, yang begitu rohani, bisa jatuh ke
dalam perzinahan, maka semua orang juga bisa. Jadi, jangan pernah meremehkan
dosa ini!
Bdk. 1Kor 10:12 - “Sebab itu siapa
yang menyangka, bahwa ia teguh berdiri, hati-hatilah supaya ia jangan jatuh!”.
a) Hubungan sex dengan suami / istri atau tunangan
orang lain.
Im 20:10 - “Bila seorang
laki-laki berzinah dengan isteri orang lain, yakni berzinah dengan isteri
sesamanya manusia, pastilah keduanya dihukum mati, baik laki-laki maupun
perempuan yang berzinah itu”.
Ul 22:22-24 - “(22) Apabila
seseorang kedapatan tidur dengan seorang perempuan yang bersuami, maka
haruslah keduanya dibunuh mati: laki-laki yang telah tidur dengan perempuan itu
dan perempuan itu juga. Demikianlah harus kauhapuskan yang jahat itu dari
antara orang Israel.
(23) Apabila ada seorang gadis yang masih perawan dan yang sudah bertunangan
- jika seorang laki-laki bertemu dengan dia di kota dan tidur dengan dia, (24) maka
haruslah mereka keduanya kamu bawa ke luar ke pintu gerbang kota dan kamu
lempari dengan batu, sehingga mati: gadis itu, karena walaupun di kota, ia
tidak berteriak-teriak, dan laki-laki itu, karena ia telah memperkosa isteri sesamanya manusia. Demikianlah harus
kauhapuskan yang jahat itu dari tengah-tengahmu”.
Catatan:
1. Dalam hukum Yahudi, ada 2 tahap pertunangan.
Pertunangan tingkat 1 tidak terlalu dianggap. Tetapi dalam pertunangan tingkat
2 (seperti pertunangan Yusuf dan Maria) maka kedua orang itu sudah dianggap
sebagai suami - istri (perhatikan bahwa dalam ay 23 disebutkan ‘bertunangan’, tetapi dalam
ay 24 disebutkan ‘isteri’!), sekalipun
belum boleh melakukan hubungan sex. Bdk. Mat 1:18-25.
2. Kata ‘memperkosa’ yang saya beri
garis bawah ganda dalam ay 24 itu, diterjemahkan berbeda dalam Kitab Suci
bahasa Inggris.
KJV: ‘hath humbled’ (= telah
merendahkan).
RSV: ‘violated’ (= melanggar /
mengganggu).
Catatan: kata ‘to violate’ menurut kamus
memang bisa diterjemahkan ‘memperkosa’ tetapi kontextnya tidak cocok dengan
terjemahan itu, karena gadis itu tidak menolak. Jadi, ini merupakan hubungan
mau sama mau, bukan perkosaan.
b) Hubungan sex dengan seorang perawan, yang
bukan istri ataupun tunangan orang lain (tak ada yang punya).
Kel 22:16-17 - “(16) Apabila seseorang membujuk seorang
anak perawan yang belum bertunangan, dan tidur dengan dia, maka haruslah ia
mengambilnya menjadi isterinya dengan membayar mas kawin. (17) Jika ayah
perempuan itu sungguh-sungguh menolak memberikannya kepadanya, maka ia harus
juga membayar perak itu sepenuhnya, sebanyak mas kawin anak perawan.’”.
Hukuman ini kelihatannya ringan, tetapi
bagaimanapun menunjukkan bahwa ini tetap merupakan suatu dosa. Tetapi dosanya
kelihatannya dianggap jauh lebih ringan dari pada berzinah dengan orang yang
sudah mempunyai suami / istri / tunangan. Jadi, kata-kata banyak laki-laki yang
berbunyi “Oh,
aku tak mau berzinah / berhubungan sex dengan orang yang sudah menikah. Kalau
dengan yang belum / tidak menikah, aku mau”, sebetulnya juga ada benarnya, karena perzinahan
dengan orang yang tidak / belum menikah memang dianggap jauh lebih kecil dari
pada perzinahan dengan orang yang sudah menikah / bertunangan.
c) Hubungan sex dengan seadanya orang lain yang
bukan pasangan hidupnya.
Dalam
Ul 25:11-12 ada hukum yang kelihatannya aneh, yang bunyinya adalah sebagai
berikut: “(11) ‘Apabila dua orang
berkelahi dan isteri yang seorang datang mendekat untuk menolong suaminya dari
tangan orang yang memukulnya, dan perempuan itu mengulurkan tangannya dan
menangkap kemaluan orang itu, (12) maka haruslah kaupotong tangan perempuan
itu; janganlah engkau merasa sayang kepadanya.’”.
Perempuan itu
melihat suaminya berkelahi, lalu bermaksud menolong suaminya dengan ‘menangkap
kemaluan’ lawan suaminya itu. Hukum Taurat ini mengatakan bahwa tangan perempuan
itu harus dipotong. Hukum ini menunjukkan betapa keramatnya alat kelamin di
hadapan Allah. Kalau perempuan yang memegang alat kelamin lelaki lain dalam
sikon seperti itu (bukan karena nafsu!) harus dihukum dengan dipotong
tangannya, apalagi kalau ia melakukannya dalam suatu perselingkuhan /
perzinahan (dengan berahi / nafsu)! Dan jelas ini bukan hanya berlaku bagi
perempuan saja, tetapi juga bagi laki-laki, yang memegang alat kelamin
perempuan yang bukan istrinya!
Calvin: “This Law is
apparently harsh, but its severity shews how very pleasing to God is modesty,
whilst, on the other hand, He abominates indecency; for, if in the heat of a
quarrel, when the agitation of the mind is an excuse for excesses, it was a
crime thus heavily punished, for a woman to take hold of the private parts of a
man who was not her husband, much less would God have her lasciviousness
pardoned, if a woman were impelled by lust to do anything of the sort” (= Hukum ini kelihatannya keras, tetapi
kekerasannya menunjukkan betapa menyenangkannya kesopanan bagi Allah,
sementara, di sisi lain, Ia membenci ketidak-senonohan; karena, jika dalam
kepanasan dari suatu pertengkaran, pada waktu kekacauan / gangguan pikiran
merupakan suatu alasan untuk perbuatan-perbuatan yang keterlaluan, merupakan
suatu kejahatan yang dihukum dengan begitu berat, bagi seorang perempuan untuk
memegang bagian-bagian pribadi dari seorang laki-laki yang bukan suaminya,
lebih-lebih Allah tidak akan mengampuni tindakannya yang menimbulkan gairah /
birahi, jika seorang perempuan didorong oleh nafsu untuk melakukan apapun dari
jenis tindakan itu).
Matthew Henry: “The occasion is
such as might in part excuse it; it was to help her husband out of the hands of
one that was too hard for him. Now if the doing of it in a passion, and
with such a good intention, was to be so severely punished, much more when it
was done wantonly and in lust. ... The punishment was that her hand should be
cut off; and the magistrates must not pretend to be more merciful than God” (= Peristiwa / kejadiannya adalah sedemikian rupa sehingga bisa
memaafkannya sampai tingkat tertentu; itu adalah untuk menolong suaminya dari
tangan orang yang terlalu kuat baginya. Kalau dalam melakukan tindakan itu
dalam suatu emosi, dan dengan suatu maksud baik seperti itu, harus
dihukum dengan begitu berat, lebih lagi pada waktu itu dilakukan dengan
sembarangan / tanpa alasan dan dalam nafsu. ... Hukumannya adalah bahwa
tangannya harus dipotong; dan hakim-hakim tidak boleh menganggap diri lebih
berbelas kasihan dari pada Allah).
Catatan: kata ‘passion’ bisa menunjuk pada
emosi yang bermacam-macam seperti kasih, benci, sedih, takut, sukacita, dan
sebagainya (Webster’s New World
Dictionary). Saya tidak tahu yang mana yang dimaksudkan oleh Matthew Henry. Bisa
‘kasih’ (kepada suaminya), atau ‘benci’ (terhadap orang yang berkelahi dengan
suaminya).
Bible Knowledge Commentary: “The command in
25:11-12 was probably intended to protect both womanly modesty and the capacity
of a man to produce heirs. This second purpose probably helps explain why this
law is placed here immediately after the instructions about levirate marriages
(vv. 5-10)” [= Hukum dalam 25:11-12 mungkin
dimaksudkan untuk melindungi baik kesopanan perempuan dan kemampuan dari
seorang laki-laki untuk menghasilkan pewaris. Tujuan kedua ini mungkin menolong
untuk menjelaskan mengapa hukum ini diletakkan di sini langsung setelah
intruksi tentang pernikahan ipar (ay 5-10)].
Catatan: ‘levirate marriage’ (= pernikahan
ipar) adalah hukum yang mengharuskan seorang laki-laki mengawini istri
saudaranya, yang mati tanpa mempunyai anak, supaya bisa melanjutkan keturunan
dari saudaranya itu.
Yang membuat saya
bingung dengan hukum dalam Ul 25:11-12 ini adalah: bagaimana dengan dokter dan
suster yang merawat orang sakit di rumah sakit? Kalau harus memeriksa / merawat
orang yang berlawanan jenis kelamin, dan harus memegang alat kelaminnya,
bolehkah?
2) Melakukan hubungan sex sebelum pernikahan (dengan
pacar / tunangannya sendiri).
a) Hubungan sex sebelum pernikahan tetap adalah
dosa, sekalipun pernikahan sudah kurang 1 hari!
b) Kitab Suci tidak memberikan batasan orang
pacaran, selain dari dilarangnya hubungan sex. Jadi, sukar untuk berbicara
tentang hal ini secara mutlak. Mungkin sekali Ul 25:11-12 yang sudah saya
jelaskan di atas, bisa menjadi dasar untuk melarang memegang alat kelamin
pacarnya. Ada juga
yang berdasarkan Mat 5:28 bahkan melarang orang berciuman di bibir.
Mat 5:28 - “Tetapi Aku
berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya,
sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya”.
Sutjipto Subeno: “Telah disinggung di atas
bahwa pengembangan keintiman fisik hari ini merupakan masalah yang sangat
serius. Seorang anak kecil bisa berkata: ‘Wah, Andi belum pacaran dengan Ita,
karena belum ciuman bibir.’ Betapa mengerikan jika pacaran ditandai dengan
‘ciuman bibir.’ Inilah gambaran umum yang dipasarkan sangat meluas oleh
pemikiran yang berdosa pada masa kini. Sulit sekali orang Kristen atau pendeta
untuk mengatakan ‘Kalau pacaran, silahkan jangan ciuman bibir dulu. Boleh cium
di pipi atau di kening.’ Maka langsung dijawab: ‘Wah, itu kuno sekali.’
Pengembangan keintiman fisik sudah terbukti membawa masalah seksual yang sangat
serius di kalangan remaja. Begitu banyak terjadi kehamilan remaja akibat hal
yang sedemikian dianggap remeh dan biasa. ‘Kalau pacaran pasti harus ciuman
bibir.’ Ciuman bibir merupakan titik awal dari rangsangan seksual.
Ciuman bibir membawa satu pasangan, khususnya
pihak wanita, terbuai dengan rangsangan seks. Kemudian hal itu
mengakibatkan kebutuhan akan dosis yang lebih tinggi lagi. Mulai dari ciuman sedetik,
lalu menjadi 5 detik, lama-kelamaan bisa bermenit-menit. Dan ketika rangsangan
naik, si wanita semakin ingin dipeluk, diraba, dan rangsangan rabaan ini akan
berlanjut terus menuju ke daerah-daerah yang sangat pribadi dan sensitif.
Mungkin sebagai gadis baik-baik ia akan merasa bersalah, tetapi rangsangan kuat
akan menelan perasaan dan teguran itu. Ia hanya dapat berkata ‘jangan’ tetapi
tidak mampu melawan keinginannya. Rangsangan yang terjadi membawa dia pada
kondisi tidak berdaya, sehingga penentuannya di pihak pria. Jika pria itu
kurang ajar dan memang rusak, ia akan memanfaatkan keadaan itu untuk terus
melakukan rangsangan dan menekan pihak wanita yang akan semakin menyerah,
sampai semuanya terjadi. Setelah semua terjadi, wanita itu marah, kecewa,
sedih, tetapi semua sudah terjadi dan tidak bisa ditarik kembali. Selanjutnya
perasaan yang timbul adalah ketakutan ditinggal oleh sang kekasih yang telah
merenggut keperawanannya. Di kemudian hari, ia akan semakin takluk jika
kekasihnya meminta hal yang lebih, sampai berakibat kehamilan yang tidak
dikehendaki” -
‘Keindahan Pernikahan Kristen’, hal 82-83.
Saya berpendapat
ini terlalu extrim. Apa alasan dari Alkitab untuk mengatakan bahwa orang
pacaran dilarang ciuman di bibir tetapi boleh di kening atau di pipi? Teman
saya waktu Sekolah Theologia, yang juga mempunyai pandangan seperti Sutjipto
Subeno, mengatakan bahwa ciuman di bibir membuat terangsang, sehingga melanggar
Mat 5:28. Sutjipto Subeno dalam kutipan di atas mengatakan “Ciuman
bibir merupakan titik awal dari rangsangan seksual”. Lucu sekali!
Apakah ciuman di kening atau di pipi tidak membuat terangsang? Lalu bagaimana
dengan berpelukan? Apakah berpelukan tidak membuat orang terangsang? Orang
laki-laki, yang sudah tertarik kepada seorang gadis / perempuan, bisa
terangsang hanya dengan memegang tangannya atau bahkan hanya dengan melihatnya
(perhatikan kata ‘memandang’ dalam Mat 5:28)!
Dan kalau
alasannya adalah menguatirkan terjadinya eskalasi / peningkatan tindakan, maka
saya beranggapan bahwa semua tindakan yang paling ‘kudus’ dalam pacaran,
seperti ciuman di kening, ciuman di pipi, pelukan, gandengan tangan,
memungkinkan rangsangan, yang akan meningkatkan ‘tindakan kudus’ itu menjadi
‘tindakan tidak kudus’. Jadi, lalu harus pacaran bagaimana? Hanya lewat telpon?
Catatan: kata ‘kudus’ dan ‘tidak kudus’ saya letakkan
dalam tanda petik karena saya tak terlalu percaya istilah itu.
Untuk menghindari eskalasi /
peningkatan ‘tindakan pacaran’ pada waktu pacaran, maka pencegahan yang harus
dilakukan adalah, jangan berpacaran di tempat yang memungkinkan terjadinya
hubungan sex, misalnya berduaan dalam rumah yang kosong, apalagi dalam kamar.
Usahakanlah untuk selalu ada orang ketiga dalam rumah itu.
c) Bagaimana kalau terjadi hubungan sex sebelum
pernikahan?
Kalau terjadi hubungan sex sebelum
pernikahan maka si laki-laki harus menikahi gadis yang dicemarkannya itu.
Tetapi ayah si gadis berhak menolak hal itu.
Kel 22:16-17 - “(16) Apabila seseorang membujuk seorang
anak perawan yang belum bertunangan, dan tidur dengan dia, maka haruslah ia
mengambilnya menjadi isterinya dengan membayar mas kawin. (17) Jika ayah
perempuan itu sungguh-sungguh menolak memberikannya kepadanya, maka ia harus
juga membayar perak itu sepenuhnya, sebanyak mas kawin anak perawan.’”.
Bolehkah pernikahan seperti ini diberkati
di gereja? Kalau saya, saya memperbolehkan, asal ada pertobatan dan pengakuan di
depan umum. Mengapa di depan umum? Supaya orang tidak berpandangan negatif
tentang gereja yang melakukan pemberkatan pernikahan dalam kasus seperti itu!
3) Bercerai, kecuali kalau terjadi perzinahan fisik.
a) Kitab Suci jelas melarang perceraian.
Mal 2:16a - “Aku membenci
perceraian, firman TUHAN, Allah Israel”.
1Kor 7:10-11 - “(10) Kepada
orang-orang yang telah kawin aku - tidak, bukan aku, tetapi Tuhan - perintahkan,
supaya seorang isteri tidak boleh menceraikan suaminya. (11) Dan jikalau ia
bercerai, ia harus tetap hidup tanpa suami atau berdamai dengan suaminya. Dan
seorang suami tidak boleh menceraikan isterinya”.
Mat 19:6 - “Demikianlah
mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan
Allah, tidak boleh diceraikan manusia.’”.
Bahkan kalau
salah satu dari sepasang suami istri yang tadinya kedua-duanya kafir lalu
bertobat / menjadi Kristen, pihak yang menjadi Kristen ini tidak boleh
menceraikan pasangan kafirnya itu, selama pasangan kafirnya itu masih tetap mau
hidup dalam pernikahan dengannya.
1Kor 7:12-13
- “(12)
Kepada orang-orang lain aku, bukan Tuhan, katakan: kalau ada seorang saudara
beristerikan seorang yang tidak beriman dan perempuan itu mau hidup
bersama-sama dengan dia, janganlah saudara itu menceraikan dia. (13) Dan
kalau ada seorang isteri bersuamikan seorang yang tidak beriman dan laki-laki
itu mau hidup bersama-sama dengan dia, janganlah ia menceraikan laki-laki
itu”.
Catatan: ini bukan kasus
dimana orang Kristen menikah dengan orang non Kristen! Ini adalah orang kafir
yang menikah dengan orang kafir, tetapi setelah itu salah satu bertobat,
sehingga terjadi pasangan ‘Kristen - non Kristen’.
Tetapi bagaimana
dengan kasus dalam Ezra 9-10? Di sana,
orang-orang Israel
yang pulang dari pembuangan Babilonia kawin campur dengan perempuan-perempuan
asing, dan Ezra menyuruh mereka menceraikan istri-istri asing itu.
Dalam kasus Ezra
ini mungkin harus dianggap bahwa itu merupakan kasus khusus. Mengapa? Karena
mereka dalam jumlah kecil pulang dari pembuangan. Dalam keadaan seperti itu
kawin campur ini bisa menyebabkan kemusnahan dari bangsa Yahudi, dan kalau
demikian, akan menghancurkan rencana Allah tentang kedatangan Mesias melalui
mereka. Karena itu, dalam kasus itu Ezra mengambil tindakan seperti itu, dimana
mereka yang melakukan kawin campur itu harus menceraikan istrinya.
b) Perkecualian dalam hal larangan bercerai:
perceraian diijinkan pada saat salah satu pihak berzinah secara fisik.
1. Perceraian tidak dilarang secara
mutlak.
Ada satu, dan hanya satu,
alasan yang sah berdasarkan Alkitab, yang menyebabkan seseorang boleh
menceraikan pasangannya tanpa berbuat dosa / melanggar hukum ketujuh ini. Alasan
itu adalah perzinahan fisik yang dilakukan oleh pasangannya.
Mat 19:9 - “Tetapi Aku
berkata kepadamu: Barangsiapa menceraikan isterinya, kecuali karena zinah,
lalu kawin dengan perempuan lain, ia berbuat zinah.’”.
Bdk. Mat 5:32 - “Tetapi Aku
berkata kepadamu: Setiap orang yang menceraikan isterinya kecuali karena
zinah, ia menjadikan isterinya berzinah; dan siapa yang kawin dengan
perempuan yang diceraikan, ia berbuat zinah”.
Perzinahan ini
harus adalah perzinahan fisik, bukan hanya dalam hati / pikiran (bdk.
Mat 5:28), karena kalau tidak, maka semua perempuan boleh menceraikan
suaminya! Perzinahan fisik merupakan satu-satunya alasan yang sah untuk
bercerai. Dan perzinahan fisik ini harus betul-betul terbukti / ada saksi-saksi
dsb, bukan hanya gosip / desas desus dan sebagainya.
Barnes’ Notes (tentang Mat 5:32): “Nor has any man
or set of men - any legislature or any court, civil or ecclesiastical - a right
to interfere, and declare that divorces may be granted for any other cause” (= Juga
tidak ada siapapun / orang manapun atau kumpulan orang manapun - badan pembuat
undang-undang manapun atau pengadilan manapun, yang bersifat umum atau gerejani
- yang mempunyai hak untuk ikut campur, dan menyatakan bahwa perceraian
dikabulkan karena alasan / penyebab lain apapun).
The Bible Exposition Commentary: New
Testament (tentang Mat 19:9): “Marriage is a permanent physical union that can be
broken only by a physical cause: death or sexual sin. (I would take it that
homosexuality and bestiality would qualify.)” [= Pernikahan
adalah suatu persatuan fisik yang permanen yang bisa diputuskan hanya oleh
suatu penyebab fisik: kematian atau dosa sexual. (Saya menganggap bahwa homosex
dan hubungan sex dengan binatang memenuhi syarat untuk itu)].
Adam Clarke
(tentang Mat 5:32): “It
does not appear that there is any other case in which Jesus Christ admits of
divorce. A real Christian ought rather to beg of God the grace to bear
patiently and quietly the imperfections of his wife, than to think of the means
of being parted from her” (= Tidak terlihat bahwa disana
ada kasus lain apapun dalam mana Yesus Kristus mengijinkan perceraian. Seorang
Kristen yang sejati / sungguh-sungguh seharusnya memohon kepada Allah kasih
karunia untuk menanggung dengan sabar dan dengan tenang ketidak-sempurnaan
istrinya, dari pada memikirkan cara-cara untuk dipisahkan darinya).
Kalau terjadi
perzinahan fisik, pihak yang tidak bersalah berhak menceraikan pasangannya yang
berzinah itu, dan lalu kawin lagi. Dalam hal seperti itu perceraian
diijinkan, bukan diharuskan. Perkecualian ‘kecuali
karena zinah’ dalam Mat 19:9 berlaku bagi tindakan menceraikan, maupun tindakan
kawin lagi.
Banyak orang yang
mengatakan bahwa perceraian tetap tidak diijinkan sekalipun terjadi perzinahan.
Contoh:
Pdt. Sutjipto Subeno: “Allah sudah menetapkan bahwa
pernikahan tidak boleh diceraikan oleh manusia, kecuali oleh kematian” - ‘Keindahan Pernikahan
Kristen’, hal 28.
Ini bodoh, tidak
Alkitabiah, dan sama sekali salah! Alasannya:
a. Untuk apa kata-kata ‘kecuali
karena zinah’ itu diletakkan dalam Mat 5:32 dan Mat 19:9? Kalau perceraian dilarang
secara mutlak, maka hapuskan saja kata-kata itu!
b. Dalam Mat 19, orang-orang yang menentang
pandangan ini mencoba mengacu pada kontextnya, dan menyoroti Mat 19:6-8 - “(6) Demikianlah
mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan
Allah, tidak boleh diceraikan manusia.’ (7) Kata mereka kepadaNya: ‘Jika
demikian, apakah sebabnya Musa memerintahkan untuk memberikan surat cerai jika
orang menceraikan isterinya?’ (8) Kata Yesus kepada mereka: ‘Karena ketegaran
hatimu Musa mengizinkan kamu menceraikan isterimu, tetapi sejak semula tidaklah
demikian”.
Ini salah, karena
yang dimaksudkan dengan bagian ini adalah ‘menceraikan
istrinya dengan alasan apa saja’ (Mat 19:3). Disamping itu,
dalam Mat 5:32, tidak ada kontext seperti itu. Jadi, bagaimana membengkokkan
Mat 5:32 sehingga menjadi berarti larangan cerai secara mutlak?
c. Yer 3:8 - “Dilihatnya, bahwa oleh karena zinahnya
Aku telah menceraikan Israel, perempuan murtad itu, dan memberikan kepadanya
surat cerai; namun Yehuda, saudaranya perempuan yang tidak setia itu tidak
takut, melainkan ia juga pun pergi bersundal”.
Memang kasus
dalam Yer 3:8 ini adalah perzinahan rohani, dalam arti bangsa Israel
menyembah berhala. Tetapi prinsip yang berlaku adalah sama. Tuhan menceraikan Israel, karena Israel melakukan perzinahan! Ini
jelas merupakan dukungan kuat bagi penafsiran tentang Mat 5:32 dan
Mat 19:9 yang mengatakan bahwa kalau terjadi perzinahan, maka pihak yang
tidak bersalah itu boleh menceraikan pasangannya.
d. 1Kor 6:16 - “Atau tidak tahukah kamu, bahwa siapa yang
mengikatkan dirinya pada perempuan cabul, menjadi satu tubuh dengan dia? Sebab,
demikianlah kata nas: ‘Keduanya akan menjadi satu daging.’”.
Orang yang berzinah
menjadi satu tubuh dengan orang dengan siapa ia berzinah, dan ini secara
otomatis menghancurkan kesatuannya dengan istri / suaminya. Karena itulah maka
perceraian diijinkan.
e. Menceraikan pasangan yang berzinah berbeda
dengan tidak mengampuni!
Ada orang-orang yang
beranggapan bahwa karena orang Kristen harus mengampuni maka orang Kristen
tidak boleh menceraikan pasangannya sekalipun pasangannya itu berzinah. Ini
bukan hanya melarang secara tidak Alkitabiah, tetapi juga memberikan alasan
yang salah. Orang Kristen memang harus mengampuni pasangannya yang berzinah,
tetapi itu berbeda dengan harus tetap menerimanya sebagai pasangan hidup.
Illustrasi: kalau saudara
adalah seorang boss dan saudara mempunyai seorang pegawai yang berulang kali
mencuri. Salahkah kalau saudara memecat dia? Kalau saudara memecatnya, apakah
itu salah karena itu menunjukkan bahwa saudara tidak mengampuni dia? Saudara
memang harus mengampuni dia, tetapi itu tidak berarti saudara harus tetap
menjadikan orang itu pegawai saudara!
Catatan:
·
kalau mau mempelajari argumentasi yang lebih banyak
lagi berkenaan dengan hal ini, baca buku saya berjudul ‘Matius’ jilid II, dalam
exposisi tentang Mat 5:32 dimana saya menjelaskan semua ini secara sangat mendetail.
·
kalau dilihat hamba-hamba Tuhan di Indonesia maka
sebagian besar menganggap cerai dilarang secara mutlak, tetapi kalau dilihat
dari para penafsir, hampir semua (95 % atau lebih) menganggap bahwa kalau
terjadi perzinahan fisik, maka cerai dan kawin lagi diijinkan. Mungkin ini
terjadi karena mayoritas hamba-hamba Tuhan di Indonesia tidak membaca buku
tafsiran!
2. Tetapi kalau tidak terjadi perzinahan fisik,
maka perceraian, dan tindakan kawin lagi, merupakan perzinahan! Dan orang yang
mengawini orang yang bercerai secara tidak sah, juga dianggap berzinah!
Luk 16:18 - “Setiap orang
yang menceraikan isterinya, lalu kawin dengan perempuan lain, ia berbuat zinah;
dan barangsiapa kawin dengan perempuan yang diceraikan suaminya, ia berbuat
zinah.’”.
Mat 5:32 - “Tetapi Aku
berkata kepadamu: Setiap orang yang menceraikan isterinya kecuali karena zinah,
ia menjadikan isterinya berzinah; dan siapa yang kawin dengan perempuan yang
diceraikan, ia berbuat zinah”.
c) ‘Menceraikan’ sangat berbeda dengan
‘diceraikan’.
Kalau ada yang tidak membedakan kedua hal
ini, maka mereka juga harus menyamakan ‘membunuh’ dan ‘dibunuh’!
1. Yang
salah adalah yang menceraikan, bukan yang diceraikan (kecuali ia berzinah).
Mat 5:32 - “Tetapi Aku
berkata kepadamu: Setiap orang yang menceraikan isterinya kecuali karena
zinah, ia menjadikan isterinya berzinah; dan siapa yang kawin dengan perempuan
yang diceraikan, ia berbuat zinah”.
Luk 16:18 - “Setiap
orang yang menceraikan isterinya, lalu kawin dengan perempuan lain, ia
berbuat zinah; dan barangsiapa kawin dengan perempuan yang diceraikan suaminya,
ia berbuat zinah.’”.
1Kor 7:12-13,15 - “(12)
Kepada orang-orang lain aku, bukan Tuhan, katakan: kalau ada seorang saudara
beristerikan seorang yang tidak beriman dan perempuan itu mau hidup
bersama-sama dengan dia, janganlah saudara itu menceraikan dia. (13) Dan
kalau ada seorang isteri bersuamikan seorang yang tidak beriman dan laki-laki
itu mau hidup bersama-sama dengan dia, janganlah ia menceraikan laki-laki
itu. ... (15) Tetapi kalau orang yang tidak beriman itu mau bercerai,
biarlah ia bercerai; dalam hal yang demikian saudara atau saudari tidak terikat.
Tetapi Allah memanggil kamu untuk hidup dalam damai sejahtera”.
2. Menceraikan dikatakan sebagai ‘menjadikan
pasangannya berzinah’
(Mat 5:32). Apa artinya?
Tentang kata-kata ‘ia menjadikan isterinya berzinah’ dalam Mat 5:32b, Calvin berkata: “the
man who, unjustly and unlawfully, abandons the wife whom God had given him, is
justly condemned for having prostituted his wife to others” (= orang yang secara tidak benar dan
tidak sah meninggalkan istri yang telah Allah berikan kepadanya, secara benar
dikecam sebagai telah melacurkan istrinya kepada orang-orang lain) - hal 293.
Matthew Henry: “divorce is not
to be allowed, except in case of adultery, which breaks the marriage covenant;
but he that puts away his wife upon any other pretence, ‘causeth her to commit
adultery,’ and him also that shall marry her when she is thus divorced. Note,
Those who lead others into temptation to sin, or leave them in it, or expose
them to it, make themselves guilty of their sin, and will be accountable for it” [= perceraian tidak diijinkan, kecuali dalam kasus perzinahan, yang
menghancurkan perjanjian pernikahan; tetapi ia yang menyingkirkan istrinya
karena dalih lain apapun, ‘menyebabkan ia melakukan perzinahan’, dan dia (laki-laki) juga yang akan menikahinya (bekas
istrinya) pada waktu ia diceraikan seperti itu. Perhatikan, Mereka yang
membimbing orang-orang lain ke dalam pencobaan kepada dosa, atau meninggalkan
mereka di dalamnya, atau membukakan mereka terhadapnya, membuat diri mereka
sendiri bersalah tentang dosa mereka, dan akan bertanggung jawab untuknya].
William Hendriksen: “she is called
an adulteresses because she may easily become one. ... Far better, it would
seem to me, is therefore the translation, ‘Whoever divorces his wife except on
the basis of infidelity exposes her to adultery,’ or something similar. What
Jesus is saying, then, is this: Whoever divorces his wife except on the ground
of infidelity must bear the chief responsibility if as a result she, in
her deserted state, should immediately yield to the temptation of becoming
married to someone else” [=
ia disebut sebagai pezinah (perempuan) karena ia dengan mudah menjadi seorang
pezinah. ... Karena itu, bagi saya jauh lebih baik terjemahan: ‘Siapapun
menceraikan istrinya kecuali berdasarkan ketidak-setiaan membukakan dia kepada
perzinahan’, atau terjemahan lain yang serupa. Jadi, apa yang dimaksud oleh
Yesus adalah ini: Siapapun menceraikan istrinya kecuali berdasarkan
ketidak-setiaan, harus memikul tanggung jawab utama jika sebagai
akibatnya perempuan itu, dalam keadaan ditinggalkan, menyerah pada pencobaan
untuk menjadi istri dari orang lain] - hal 305,306.
Catatan: kata-kata ‘menjadikan
isterinya berzinah’ dalam
Mat 5:32 diterjemahkan berbeda dalam RSV dan NIV. William Hendriksen
kelihatannya menggunakan terjemahan ini.
RSV: ‘makes her an adulteress’ (=
membuatnya seorang pezinah).
NIV: ‘causes her to become an
adulteress’ (= menyebabkan dia menjadi seorang pezinah).
3. Sekalipun yang diceraikan tidak salah, ia tetap tidak boleh kawin
lagi, kecuali pasangannya yang menceraikannya itu kawin lagi. Kalau bekas
pasangannya itu kawin lagi, ia berzinah, dan itu mengesahkan perceraian itu,
sehingga pasangan yang dicerai itu sekarang boleh kawin lagi.
d) Bolehkah menceraikan istri
yang ternyata didapati tidak perawan pada malam pertama pernikahan?
Dalam hal ini
saya kira kita tidak bisa memberlakukan Mat 5:32 dan Mat 19:9, karena di sini
perzinahan terjadi sebelum pernikahan.
Saya tidak tahu dengan
pasti apakah dalam kasus ini perceraian diijinkan, karena dalam Perjanjian Lama
istri seperti itu dijatuhi hukuman mati (Ul 22:13-21). Adalah memungkinkan
bahwa dalam jaman Perjanjian Baru diijinkan untuk menceraikan istri seperti
itu, tetapi saya belum mendapatkan konfirmasi tentang hal ini dari penafsir
manapun.
Ada 3 hal yang ingin saya
tekankan di sini:
1. Pada waktu pacaran / mau
menikah, harus ada pengakuan tentang hal seperti ini (perawan atau tidak).
Kalau pernikahan batal, itu masih lebih baik dari pada ribut setelah
persoalannya terbongkar pada malam pertama pernikahan.
2. Tidak ada tanda keperawanan
kadang-kadang bisa terjadi bukan karena si gadis sudah pernah melakukan
hubungan sex, tetapi karena sebab lain.
3. Sebaliknya, adanya tanda keperawanan
belum tentu menunjukkan si gadis memang masih perawan, karena sobeknya selaput
dara bisa dijahit kembali oleh dokter, sehingga perempuan yang sebetulnya sudah
tidak perawan bisa menjadi ‘perawan’ lagi!
-bersambung-
Kebaktian
G. K. R. I. ‘GOLGOTA’
(Rungkut
Megah Raya, blok D no 16)
Minggu, tgl 3 April 2011, pk
17.00
Pdt.
Budi Asali, M. Div.
(HP: 7064-1331 / 6050-1331)
HUKUM 7 (2)
jangan Berzinah
(Kel 20:14)
4) Menikah dengan orang yang bercerai, kecuali
kalau perceraian itu adalah perceraian yang sah (terjadi karena ada
perzinahan).
Di atas ini sudah
saya singgung, tetapi di sini akan saya bahas dengan lebih terperinci.
a) Menikahi orang yang bercerai secara sah
(cerai karena pasangannya melakukan perzinahan) bukan dosa!
Jadi, kalau
mendengar ada orang kawin dengan janda / duda, jangan terlalu cepat mempunyai
pikiran yang negatif tentang orang itu. Periksa dulu, janda / duda itu menjadi
janda / duda karena apa? Kalau karena pasangannya mati, atau karena ia
menceraikan pasangannya yang berzinah, maka tidak salah menikah dengan janda /
duda seperti itu! Dan gereja / pendeta boleh memberkati pernikahan seperti ini!
b) Tetapi menikah dengan orang yang bercerai secara
tidak sah, jelas merupakan dosa!
Luk 16:18 - “Setiap orang
yang menceraikan isterinya, lalu kawin dengan perempuan lain, ia berbuat zinah;
dan barangsiapa kawin dengan perempuan yang diceraikan suaminya, ia berbuat
zinah.’”.
1Kor 7:10-11
- “(10)
Kepada orang-orang yang telah kawin aku - tidak, bukan aku, tetapi Tuhan -
perintahkan, supaya seorang isteri tidak boleh menceraikan suaminya. (11) Dan
jikalau ia bercerai, ia harus tetap hidup tanpa suami atau berdamai dengan
suaminya. Dan seorang suami tidak boleh menceraikan isterinya”.
c) Bagaimana dengan orang yang sudah menceraikan
istrinya (secara tidak sah / bukan karena perzinahan), dan lalu sudah menikah
lagi dengan perempuan lain? Jangan menasehatinya untuk menceraikan istri kedua
dan lalu kembali kepada istri pertama! Dalam kasus seperti itu, Kitab Suci
justru melarang orang itu kembali dengan istri pertamanya (rujuk).
Ul 24:1-4a -
“(1)
‘Apabila seseorang mengambil seorang perempuan dan menjadi suaminya, dan jika
kemudian ia tidak menyukai lagi perempuan itu, sebab didapatinya yang tidak
senonoh padanya, lalu ia menulis surat cerai dan menyerahkannya ke tangan
perempuan itu, sesudah itu menyuruh dia pergi dari rumahnya, (2) dan jika
perempuan itu keluar dari rumahnya dan pergi dari sana, lalu menjadi isteri
orang lain, (3) dan jika laki-laki yang kemudian ini tidak cinta lagi
kepadanya, lalu menulis surat cerai dan menyerahkannya ke tangan perempuan itu
serta menyuruh dia pergi dari rumahnya, atau jika laki-laki yang kemudian
mengambil dia menjadi isterinya itu mati, (4a) maka suaminya yang pertama,
yang telah menyuruh dia pergi itu, tidak boleh mengambil dia kembali menjadi
isterinya, setelah perempuan itu dicemari; sebab hal itu adalah kekejian di
hadapan TUHAN”.
Jadi jelas bahwa
rujuk (1Kor 7:11 - ‘berdamai
dengan suaminya’) hanya dimungkinkan kalau kedua belah pihak belum menikah lagi.
Tetapi kalau salah satu pihak sudah pernah menikah lagi, maka rujuk tak
dimungkinkan untuk selama-lamanya.
Jadi, apa yang
harus dilakukan oleh orang Kristen yang sudah menceraikan pasangannya (secara
tidak sah), dan sudah menikah lagi? Yang harus ia lakukan hanya mengaku dosa
kepada Tuhan.
5) Poligami atau poliandri / beristri atau bersuami lebih dari
satu.
a) Seseorang hanya boleh menikah lagi, kalau
pasangannya sudah mati.
Dari fakta bahwa
Allah menciptakan 1 Adam dan 1 Hawa (bukan 2 Hawa, 3 Hawa, dst), jelas bahwa
Allah tidak menghendaki poligami maupun poliandri.
Juga perhatikan
Kej 2:24 - “Sebab
itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan
isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging”.
Perhatikan bahwa
ayat ini menggunakan kata ‘keduanya’, bukan ‘ketiganya’, ‘keempatnya’ dst!
Jadi, seseorang
hanya boleh menikah lagi, kalau pasangannya sudah meninggal dunia.
1Kor 7:39-40a
- “(39)
Isteri terikat selama suaminya hidup. Kalau suaminya telah meninggal, ia
bebas untuk kawin dengan siapa saja yang dikehendakinya, asal orang itu adalah
seorang yang percaya. (40a) Tetapi menurut pendapatku, ia lebih berbahagia,
kalau ia tetap tinggal dalam keadaannya”.
Bdk. Ro 7:2-3 - “(2) Sebab
seorang isteri terikat oleh hukum kepada suaminya selama suaminya itu hidup.
Akan tetapi apabila suaminya itu mati, bebaslah ia dari hukum yang mengikatnya
kepada suaminya itu. (3) Jadi selama suaminya hidup ia dianggap berzinah, kalau
ia menjadi isteri laki-laki lain; tetapi jika suaminya telah mati, ia bebas
dari hukum, sehingga ia bukanlah berzinah, kalau ia menjadi isteri laki-laki
lain”.
Catatan:
1. 1Kor 7:40a memang kelihatannya menunjukkan
bahwa Paulus beranggapan bahwa orang yang kematian pasangannya lebih baik tidak
menikah lagi, tetapi ay 40a ini diberikan bukan sebagai peraturan umum,
tetapi hanya dalam keadaan darurat pada saat itu. Dalam 1Kor 7:17-40
kata-kata Paulus memang berhubungan dengan masa darurat itu, dan karena itu
tidak berlaku umum.
Bdk.
1Kor 7:26 - “Aku
berpendapat, bahwa, mengingat waktu darurat sekarang, adalah baik bagi
manusia untuk tetap dalam keadaannya”.
2. Tetapi 1Kor 7:39nya jelas memang
merupakan suatu hukum yang berlaku umum. Dan hukum ini menunjukkan bahwa
seseorang boleh menikah lagi kalau pasangannya telah meninggal dunia.
Jadi:
a. Dalam hal ini Kristen memang sangat berbeda
dengan Islam, yang mengijinkan seorang laki-laki mempunyai sampai 4 istri,
sekalipun diberi syarat, harus bisa berlaku adil (bandingkan dengan A. A. Gym).
Dalam Kristen, selama pasangannya masih hidup seseorang dilarang menikah lagi,
dengan alasan apapun, seperti pasangannya sakit / lumpuh, koma, tidak bisa
punya anak, tidak cocok, pasangannya dingin sex / impoten, bahkan gila, dan
sebagainya.
b. Dalam Kristen, seseorang hanya boleh menikah
lagi kalau pasangannya telah meninggal dunia. Jadi, jangan mempunyai
pandangan negatif sedikitpun tentang orang yang menikah lagi setelah
pasangannya meninggal dunia!
b) Keberatan-keberatan dan jawabannya.
1. Kalau poligami dilarang,
mengapa dalam Perjanjian Lama begitu banyak anak-anak Tuhan yang melakukannya,
dan kelihatannya dibiarkan, atau bahkan direstui oleh Tuhan? Contoh: Abraham,
Daud, Salomo, dan sebagainya.
Jawab:
a. Tuhan biasanya lebih bertoleransi terhadap
dosa-dosa yang sangat membudaya, dan pada jaman itu poligami dan perbudakan
merupakan dosa yang sangat membudaya. Tetapi itu tidak berarti Tuhan merestui
dosa tersebut.
b. Sekalipun tidak pernah ada kecaman terhadap
anak-anak Tuhan yang melakukan poligami, tetapi tak berarti mereka tak dihukum
/ dihajar. Boleh dikatakan semua anak Tuhan dalam Perjanjian Lama yang
melakukan poligami menderita karena hal itu. Contoh: Abraham, Yakub, Elkana,
Daud, Salomo, dan sebagainya.
2. Daud kelihatannya diberkati
karena poligaminya, karena dari Batsyeba ia mendapatkan anak Salomo.
Jawab: Demikian juga
dengan Yakub, karena dari 4 istrinya ia mendapatkan 12 anak laki-laki yang
menurunkan 12 suku Israel. Memang Tuhan bisa mendatangkan sesuatu yang baik
dari suatu dosa. Tetapi itu tidak membenarkan tindakan berdosa itu.
3. Kelihatannya 2Sam 12:8 menunjukkan bahwa
Tuhan menyetujui poligami, bahkan Tuhan mengatur terjadinya poligami.
2Sam 12:8 - “Telah
Kuberikan
isi rumah tuanmu kepadamu, dan isteri-isteri tuanmu ke dalam pangkuanmu.
Aku telah memberikan kepadamu kaum Israel dan Yehuda; dan seandainya itu
belum cukup, tentu Kutambah lagi ini dan itu kepadamu”.
Jawab: Ada beberapa hal yang perlu
diperhatikan:
a. Saul hanya mempunyai 1 istri dan 1 gundik
(1Sam 14:50 2Sam 3:7 2Sam 21:8),
dan Daud tidak pernah dikatakan mengawini istri / gundik Saul yang manapun.
Karena itu kata-kata ‘telah
Kuberikan ... isteri-isteri tuanmu ke dalam pangkuanmu’, jelas bukan
menunjuk pada fakta.
b. Jadi, kata-kata itu dianggap diucapkan bukan
berdasarkan fakta, tetapi berdasarkan kebiasaan saat itu, dimana seorang raja
yang menggantikan raja yang lama mendapatkan semua yang dimiliki raja yang lama
itu termasuk istri-istri dan gundik-gundiknya (bdk. 1Raja 2:13-25 2Sam 16:21-22).
c. Kata-kata ‘dan seandainya itu belum cukup, tentu
Kutambah lagi ini dan itu kepadamu’ (ay 8b) diartikan sebagai
janji pengabulan permintaan yang masuk akal, bukan yang bertentangan dengan
Firman Tuhan. Jadi, jelas tidak bisa diartikan Tuhan akan menambah istri
seandainya Daud menganggap istri-istri yang sudah banyak itu belum cukup!
c) Apa yang harus dilakukan oleh orang yang
sudah terlanjur mempunyai banyak istri, yang lalu bertobat dan menjadi orang
Kristen?
Kalau ada orang
yang sudah terlanjur mempunyai lebih dari satu istri, dan ia lalu menjadi
kristen, maka saya berpendapat bahwa ia harus menceraikan istri ke 2 dstnya,
tetapi harus tetap membiayai hidup mereka. Mengapa? Karena hanya pernikahan
pertama yang sah di hadapan Allah, sedangkan pernikahan kedua dstnya adalah
perzinahan (bdk. Ro 7:3). Karena itu, pada waktu ia bertobat / menjadi orang
kristen, ia harus membuang semua perzinahan itu.
Tetapi kalau
memang harus demikian mengapa dalam jaman Perjanjian Lama Tuhan tidak
memerintahkan anak-anakNya yang melakukan poligami untuk menceraikan
istri-istri ke 2 dst? Karena, seperti sudah saya katakan di atas, pada jaman
Perjanjian Lama, itu adalah salah satu dosa yang sangat membudaya, sehingga
lebih ditoleransi oleh Tuhan.
6) Perkosaan.
Ul 22:23-27
- “(23)
Apabila ada seorang gadis yang masih perawan dan yang sudah bertunangan - jika
seorang laki-laki bertemu dengan dia di kota dan tidur dengan dia, (24) maka
haruslah mereka keduanya kamu bawa ke luar ke pintu gerbang kota dan kamu
lempari dengan batu, sehingga mati: gadis itu, karena walaupun di kota,
ia tidak berteriak-teriak, dan laki-laki itu, karena ia telah memperkosa isteri
sesamanya manusia. Demikianlah harus kauhapuskan yang jahat itu dari
tengah-tengahmu. (25) Tetapi jikalau di padang laki-laki itu bertemu dengan gadis
yang telah bertunangan itu, memaksa gadis itu tidur dengan dia, maka hanyalah
laki-laki yang tidur dengan gadis itu yang harus mati, (26) tetapi gadis itu
janganlah kauapa-apakan. Gadis itu tidak ada dosanya yang sepadan dengan
hukuman mati, sebab perkara ini sama dengan perkara seseorang yang menyerang
sesamanya manusia dan membunuhnya. (27) Sebab laki-laki itu bertemu dengan dia di
padang;
walaupun gadis yang bertunangan itu berteriak-teriak, tetapi tidak ada yang
datang menolongnya”.
Catatan: jangan
menekankan kata-kata yang saya garis bawahi (‘di kota’ dan ‘di padang’). Yang
ditekankan adalah: apakah memungkinkan bagi gadis itu untuk berteriak minta
tolong atau tidak. Kalau memungkinkan, ia bersalah karena tidak berteriak.
Kalau tidak memungkinkan, ia tidak bersalah.
Ul 22:28-29 - “(28)
Apabila seseorang bertemu dengan seorang gadis, yang masih perawan dan belum
bertunangan, memaksa gadis itu tidur dengan dia, dan keduanya kedapatan - (29)
maka haruslah laki-laki yang sudah tidur dengan gadis itu memberikan lima puluh
syikal perak kepada ayah gadis itu, dan gadis itu haruslah menjadi isterinya,
sebab laki-laki itu telah memperkosa dia; selama hidupnya tidak boleh laki-laki
itu menyuruh dia pergi”.
Terus terang saya
menganggap ayat ini aneh. Karena kalau demikian, pada waktu seorang laki-laki
jatuh cinta kepada seorang gadis, dan gadis itu tidak menanggapinya, ia bisa
memperkosanya. Hukumannya adalah
menikahinya; ‘hukuman’ itu akan menyenangkan bagi laki-laki yang memang
mencintai gadis itu.Saya tidak bisa mendapatkan penjelasan yang memuaskan tentang ayat ini
dari penafsir manapun.
Semua tindakan ‘sexual
abuse’ (= penyalah-gunaan dalam hal sex) bisa dikategorikan sebagai
‘perkosaan’, dan jelas merupakan pelanggaran terhadap hukum ketujuh ini. Dan
yang boleh dikatakan terburuk dalam kategori ini adalah ‘child sexual abuse’,
yaitu penyalah-gunaan dalam hal sex yang dilakukan terhadap anak kecil, yang
sering disebut pedophilia.
7) Incest / perzinahan
dalam keluarga.
Ini mungkin
dianggap sebagai perzinahan yang paling buruk!
1Kor 5:1 - “Memang orang
mendengar, bahwa ada percabulan di antara kamu, dan percabulan yang begitu
rupa, seperti yang tidak terdapat sekalipun di antara bangsa-bangsa yang tidak
mengenal Allah, yaitu bahwa ada orang yang hidup dengan isteri ayahnya (maksudnya
‘ibu tirinya’)”.
Bandingkan
dengan:
Im 18:6-18 - “(6) Siapapun di
antaramu janganlah menghampiri seorang kerabatnya yang terdekat untuk
menyingkapkan auratnya; Akulah TUHAN. (7) Janganlah kausingkapkan aurat isteri
ayahmu, karena ia hak ayahmu; dia ibumu, jadi janganlah singkapkan auratnya. (8)
Janganlah kausingkapkan aurat seorang isteri ayahmu, karena ia hak ayahmu. (9) Mengenai
aurat saudaramu perempuan, anak ayahmu atau anak ibumu, baik yang lahir di
rumah ayahmu maupun yang lahir di luar, janganlah kausingkapkan auratnya. (10) Mengenai
aurat anak perempuan dari anakmu laki-laki atau anakmu perempuan, janganlah
kausingkapkan auratnya, karena dengan begitu engkau menodai keturunanmu. (11) Mengenai
aurat anak perempuan dari seorang isteri ayahmu, yang lahir pada ayahmu
sendiri, janganlah kausingkapkan auratnya, karena ia saudaramu perempuan. (12) Janganlah
kausingkapkan aurat saudara perempuan ayahmu, karena ia kerabat ayahmu. (13) Janganlah
kausingkapkan aurat saudara perempuan ibumu, karena ia kerabat ibumu. (14) Janganlah
kausingkapkan aurat isteri saudara laki-laki ayahmu, janganlah kauhampiri
isterinya, karena ia isteri saudara ayahmu. (15) Janganlah kausingkapkan aurat
menantumu perempuan, karena ia isteri anakmu laki-laki, maka janganlah
kausingkapkan auratnya. (16) Janganlah kausingkapkan aurat isteri saudaramu
laki-laki, karena itu hak saudaramu laki-laki. (17) Janganlah kausingkapkan
aurat seorang perempuan dan anaknya perempuan. Janganlah kauambil anak
perempuan dari anaknya laki-laki atau dari anaknya perempuan untuk
menyingkapkan auratnya, karena mereka adalah kerabatmu; itulah perbuatan mesum.
(18) Janganlah kauambil seorang perempuan sebagai madu kakaknya untuk
menyingkapkan auratnya di samping kakaknya selama kakaknya itu masih hidup”.
Im 20:11-12,17,19-21 - “(11) Bila
seorang laki-laki tidur dengan seorang isteri ayahnya, jadi ia melanggar hak
ayahnya, pastilah keduanya dihukum mati, dan darah mereka tertimpa kepada
mereka sendiri. (12) Bila seorang laki-laki tidur dengan menantunya perempuan,
pastilah keduanya dihukum mati; mereka telah melakukan suatu perbuatan keji,
maka darah mereka tertimpa kepada mereka sendiri. ... (17) Bila seorang
laki-laki mengambil saudaranya perempuan, anak ayahnya atau anak ibunya, dan
mereka bersetubuh, maka itu suatu perbuatan sumbang, dan mereka harus
dilenyapkan di depan orang-orang sebangsanya; orang itu telah menyingkapkan
aurat saudaranya perempuan, maka ia harus menanggung kesalahannya sendiri. ...
(19) Janganlah kausingkapkan aurat saudara perempuan ibumu atau saudara
perempuan ayahmu, karena aurat seorang kerabatnya sendirilah yang dibuka, dan
mereka harus menanggung kesalahannya sendiri. (20) Bila seorang laki-laki tidur
dengan isteri saudara ayahnya, jadi ia melanggar hak saudara ayahnya, mereka
mendatangkan dosa kepada dirinya, dan mereka akan mati dengan tidak beranak. (21)
Bila seorang laki-laki mengambil isteri saudaranya, itu suatu kecemaran, karena
ia melanggar hak saudaranya laki-laki, dan mereka akan tidak beranak”.
Dalam ayat-ayat
dari kitab Imamat itu ada larangan berzinah (mungkin sekali mencakup larangan
menikah) dengan keluarga dekat, dan yang disebutkan sebagai keluarga dekat
adalah:
a) Ibu tiri / istri dari ayah.
b) Saudara / saudara tiri / setengah saudara.
c) Cucu.
d) Saudara ayah / ibu.
e) Istri saudara dari ayah / ibu.
f) Menantu.
g) Ipar.
Dalam jaman Adam,
dan juga pada jaman Nuh, pernikahan dengan saudara / keluarga sendiri ini
memang harus dilakukan, karena tidak ada orang dengan siapa seseorang bisa
menikah kecuali saudara / keluarganya sendiri. Tetapi ingat juga bahwa pada
jaman itu, hukum yang melarang pernikahan dalam keluarga ini juga belum ada.
8) Pikiran-pikiran cabul, menginginkan /
membayangkan hubungan sex dengan orang yang bukan suami / istrinya.
Mat 5:28 - “Tetapi Aku
berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta
menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya”.
KJV: ‘to lust after her’ (= bernafsu
terhadapnya).
RSV/NIV: ‘lustfully’ (= dengan penuh
nafsu).
NASB: ‘with lust’ (= dengan nafsu).
TL: ‘bergerak
syahwatnya’.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan
berkenaan dengan Mat 5:28 ini:
a) ‘Wet dream’ (= mimpi basah)
bukanlah dosa, karena ini bukan pikiran dalam keadaan sadar, tetapi dalam
mimpi. Memang Im 15:1-18 menganggap lelehan yang keluar itu menajiskan
orang itu, tetapi ini adalah ceremonial law
(= hukum yang berhubungan dengan upacara agama), yang tidak lagi berlaku
saat ini (bdk. Ef 2:15).
b) Masturbasi / onani termasuk di sini.
Menurut pendapat
saya, sebetulnya bukannya masturbasi itu sendiri yang salah, tetapi fantasi sex
yang boleh dikatakan selalu menyertai masturbasi. Ini jelas bertentangan dengan
Mat 5:28 itu. Tetapi ada kemungkinan bahwa seseorang melakukan masturbasi,
tetapi tidak bersalah, yaitu:
1. Kalau ia bisa melakukannya tanpa fantasi sex.
Ini rasanya tidak masuk akal, tetapi saya pernah berdiskusi dengan seseorang
yang mengatakan bahwa ia bisa melakukan masturbasi tanpa membayangkan apa-apa.
Kalau ini memang bisa dilakukan, saya berpendapat tidak ada dasar apapun untuk
menentang masturbasi seperti ini.
2. Kalau ia melakukan masturbasi itu dengan
membayangkan istri / suaminya sendiri, mungkin pada saat ia terpisah jauh dari
pasangannya. Dengan istri atau suaminya sendiri, melakukan hubungan sexpun
tidak apa-apa, apalagi hanya membayangkan hubungan sex dengan dia.
c) Orang laki-laki harus menjaga pandangan
matanya, karena itu yang menyebabkan kejatuhan ke dalam dosa ini.
Saya kira, tidak
ada laki-laki yang tidak pernah melanggar Mat 5:28. Kelihatannya dalam Alkitab,
hanya Ayub yang menyatakan bahwa dirinya tidak melanggar hukum ini.
Bdk.
Ayub 31:1,7-11 - “(1) ‘Aku
telah menetapkan syarat bagi mataku, masakan aku memperhatikan anak dara? ...
(7) Jikalau langkahku menyimpang dari jalan, dan hatiku menuruti pandangan mataku,
dan noda melekat pada tanganku, (8) maka biarlah apa yang kutabur, dimakan
orang lain, dan biarlah tercabut apa yang tumbuh bagiku. (9) Jikalau hatiku
tertarik kepada perempuan, dan aku menghadang di pintu sesamaku, (10) maka
biarlah isteriku menggiling bagi orang lain, dan biarlah orang-orang lain
meniduri dia. (11) Karena hal itu adalah perbuatan mesum, bahkan kejahatan,
yang patut dihukum oleh hakim”.
Ay 1: “‘Aku telah menetapkan
syarat bagi mataku, masakan aku memperhatikan anak dara?”.
KJV: ‘made a covenant ... think’ (=
membuat perjanjian ... memikirkan).
RSV: ‘have made a covenant ... look
upon’ (= telah membuat perjanjian ... memandang kepada).
NIV: ‘made a covenant ... not to look
lustfully’ (= membuat perjanjian ... tidak memandang dengan nafsu).
NASB: ‘have made a covenant ... gaze’
(= telah membuat perjanjian ... memandang / menatap).
Tetapi, apakah
Ayub sudah bisa melakukan ini sejak masa mudanya? Menurut saya, itu
sangat meragukan.
John Stott mengomentari text Ayub ini
dengan berkata: “The control of his heart was due to the
control of his eyes” (=
Kontrol dari hatinya disebabkan oleh kontrol dari matanya) - ‘The Message of the Sermon on
the Mount’, hal 88.
Memang, ketidak-mampuan / ketidak-mauan
mengontrol mata sering membuat seseorang jatuh ke dalam dosa perzinahan. Bdk.
Daud dan Batsyeba. 2Sam 11:2-4 - “(2) Sekali peristiwa pada waktu
petang, ketika Daud bangun dari tempat pembaringannya, lalu berjalan-jalan di
atas sotoh istana, tampak kepadanya dari atas sotoh itu seorang perempuan sedang
mandi; perempuan itu sangat elok rupanya. (3) Lalu Daud menyuruh orang
bertanya tentang perempuan itu dan orang berkata: ‘Itu adalah Batsyeba binti
Eliam, isteri Uria orang Het itu.’ (4a) Sesudah itu Daud menyuruh orang
mengambil dia. Perempuan itu datang kepadanya, lalu Daud tidur dengan dia”.
d) Hal-hal yang harus diwaspadai karena bisa
menjatuhkan laki-laki ke dalam dosa ini.
1. Cara berpakaian, cara duduk, posisi tubuh
seorang perempuan / gadis.
Supaya tidak
membangkitkan pikiran cabul dalam diri lawan jenis / laki-laki, seorang
perempuan tidak seharusnya berpakaian sedemikian rupa sehingga merangsang orang
lain, karena dengan demikian, ia menjatuhkan orang lain ke dalam dosa ini.
Memang merupakan sesuatu yang wajar kalau seorang perempuan ingin tampil
menarik. Tetapi perlu diingat bahwa ‘menarik’ berbeda dengan ‘menggoda’ /
‘merangsang’!
John Stott: “This may be an appropriate moment to
refer in passing to the way girls dress. It would be silly to legislate about
fashions, but wise (I think) to ask them to make this distinction: it is one
thing to make yourself attractive; it is another to make yourself deliberately
seductive” (=
Ini mungkin merupakan saat yang tepat untuk membicarakan cara gadis-gadis
berpakaian. Adalah tolol untuk mengatur / membuat peraturan tentang mode,
tetapi saya kira merupakan sesuatu yang bijaksana untuk meminta mereka membuat
pembedaan ini: membuat dirimu sendiri menarik berbeda dengan secara sengaja
membuat dirimu menggoda / menggairahkan) - ‘The Message of the Sermon on the Mount’, hal 88.
Catatan: saya berpendapat bahwa kata ‘menarik’ dan
‘menggoda’ / ‘menggairahkan’ yang digunakan oleh John Stott juga merupakan
istilah-istilah yang relatif, karena berbeda untuk setiap orang. Tetapi memang
ada pakaian yang jelas tergolong ‘menggoda’ / ‘menggairahkan’, seperti misalnya
pakaian yang dipakai oleh para cewek dalam film ‘Baywatch’, dan banyak film
lainnya.
Menurut saya,
seorang perempuan bukan hanya harus memperhatikan pakaiannya, tetapi juga
posisi tubuhnya (posisi kaki yang terbuka pada waktu duduk, menunjukkan buah
dada pada waktu membungkuk, dsb), supaya jangan mempertontonkan bagian-bagian
tubuhnya yang merangsang laki-laki.
2. Dansa.
Pulpit Commentary (tentang Mat 5:28): “Sex is the
spirit of the modern dance” (=
Sex merupakan roh / semangat / ciri dari dansa modern) - hal 216.
Tidak semua dansa termasuk dalam golongan
ini, dan karena itu kita tidak bisa secara mutlak melarang orang kristen
berdansa atau melihat dansa. Tetapi jelas bahwa orang kristen harus hati-hati
dengan dansa.
Juga banyak ‘dance group’ yang disewa pada acara penikahan, yang
mempertontonkan tarian yang jelas-jelas merangsang, dan ini harus diwaspadai
oleh orang kristen pada waktu mengadakan pernikahan.
3. Permainan-permainan yang berbau porno dalam acara HUT, pernikahan,
dan sebagainya.
Permainan-permainan pada acara HUT banyak
yang berbau porno, dan sangat memungkinkan terjadinya rangsangan pada
seseorang. Misalnya memasukkan sesuatu ke dalam kantong celana seorang cowok,
dan menyuruh seorang cewek yang matanya ditutup untuk mencari dan mengambil
barang tersebut. Dan permainan seperti ini yang disenangi!
-bersambung-
Kebaktian
G. K. R. I. ‘GOLGOTA’
(Rungkut
Megah Raya, blok D no 16)
Minggu, tgl 17 April 2011, pk
17.00
Pdt.
Budi Asali, M. Div.
(HP: 7064-1331 / 6050-1331)
HUKUM 7 (3)
jangan Berzinah
(Kel 20:14)
9) Membaca buku-buku cabul, nonton Blue Film,
mempercakapkan hal-hal yang cabul.
1Kor 6:18a -
“Jauhkanlah
dirimu dari percabulan!”.
KJV: ‘Flee fornication’ (= Larilah dari percabulan).
NIV: ‘Flee
from sexual immorality’ (= Larilah
dari ketidak-bermoralan sexuil).
Matthew Henry: “‘Flee
fornication (v. 18), avoid it, keep out of the reach of temptations to it, of
provoking objects. Direct the eyes and mind to other things and thoughts.’ Alia vitia pugnando, sola libido fugiendo
vincitur - ‘Other vices may be conquered in fight, this only by flight;’
so speak many of the fathers” [= ‘Larilah dari percabulan (ay 18), hindarilah hal itu, jagalah dirimu agar
berada di luar jangkauan dari pencobaan kepada hal itu, dari obyek-obyek yang
bersifat merangsang. Arahkanlah mata dan pikiranmu kepada hal-hal dan
pikiran-pikiran yang lain’. Alia
vitia pugnando, sola libido fugiendo vincitur -
‘Kejahatan-kejahatan yang lain bisa ditaklukkan dengan pertarungan,
tetapi yang ini hanya dengan lari’; demikianlah kata-kata dari banyak
bapa-bapa (gereja)].
Bdk. Kej
39:12 - “Lalu perempuan itu memegang baju Yusuf
sambil berkata: ‘Marilah tidur dengan aku.’ Tetapi Yusuf meninggalkan
bajunya di tangan perempuan itu dan lari ke luar”.
Perintah untuk lari dari percabulan, jelas juga berlaku
sebagai larangan untuk membaca buku-buku cabul, nonton blue film, film-film /
foto-foto cabul (dari internet / hp!), mempercakapkan hal-hal yang cabul,
karena semua hal-hal ini membangkitkan nafsu cabul / zinah dalam diri kita.
Ef 4:29 - “Janganlah
ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang
baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh
kasih karunia”.
Ef 5:3-4 - “(3) Tetapi percabulan
dan rupa-rupa kecemaran atau keserakahan disebut sajapun jangan di antara kamu,
sebagaimana sepatutnya bagi orang-orang kudus. (4) Demikian juga perkataan
yang kotor, yang kosong atau yang sembrono - karena hal-hal ini tidak
pantas - tetapi sebaliknya ucapkanlah syukur”.
Renungkan: berapa kali
saudara mengucapkan kata-kata kotor, menceritakan cerita-cerita cabul,
lelucon-lelucon yang bersifat porno, dsb?
Berkenaan dengan
bacaan, John Stott mengatakan bahwa ia tidak mau memberikan peraturan / batasan
tentang buku / majalah apa yang boleh atau tidak boleh dibaca oleh orang
kristen. Ia berkata bahwa setiap orang berbeda. Ada orang-orang yang sangat
mudah terangsang dan ada yang tidak. Jadi batasan untuk setiap orang berbeda. Yang
jelas, apa yang menyebabkan berdosa / perzinahan dalam hati bagi dia, itu
dilarang.
10) Penyimpangan-penyimpangan sex (sexual deviation),
seperti:
a) Homosex.
Im 18:22 - “Janganlah
engkau tidur dengan laki-laki secara orang bersetubuh dengan perempuan, karena
itu suatu kekejian”.
Bdk. Im 20:13 - “Bila seorang
laki-laki tidur dengan laki-laki secara orang bersetubuh dengan perempuan, jadi
keduanya melakukan suatu kekejian, pastilah mereka dihukum mati dan darah
mereka tertimpa kepada mereka sendiri”.
Ro 1:26-27 - “(26) Karena itu
Allah menyerahkan mereka kepada hawa nafsu yang memalukan, sebab isteri-isteri
mereka menggantikan persetubuhan yang wajar dengan yang tak wajar. (27) Demikian
juga suami-suami meninggalkan persetubuhan yang wajar dengan isteri mereka dan
menyala-nyala dalam berahi mereka seorang terhadap yang lain, sehingga mereka
melakukan kemesuman, laki-laki dengan laki-laki, dan karena itu mereka menerima
dalam diri mereka balasan yang setimpal untuk kesesatan mereka”.
Ada yang merasa
kasihan dengan orang-orang yang homosex, dan menganggap bahwa mereka menjadi
seperti itu bukan karena kesalahan mereka. Sampai-sampai di Barat sekarang ada
gereja-gereja yang mau memberkati pernikahan antara 2 orang homosex! Ini jelas
merupakan kegilaan dan juga merupakan tindakan menginjak-injak Kitab Suci,
karena Kitab Suci jelas-jelas mengecam homosex! Memang mungkin sukar, atau
bahkan mustahil, untuk membuat seseorang yang homosex untuk menyukai lawan
jenisnya. Tetapi yang jelas ia tidak boleh menuruti dorongan sexnya terhadap
sesama jenisnya!
b) Bestiality / Zoophilia / hubungan sex dengan
binatang.
Kel 22:19 - “Siapapun yang
tidur dengan seekor binatang, pastilah ia dihukum mati”.
Im 18:23 - “Janganlah
engkau berkelamin dengan binatang apapun, sehingga engkau menjadi najis dengan
binatang itu. Seorang perempuan janganlah berdiri di depan seekor binatang
untuk berkelamin, karena itu suatu perbuatan keji”.
Im 20:15-16 - “(15) Bila
seorang laki-laki berkelamin dengan seekor binatang, pastilah ia dihukum mati,
dan binatang itupun harus kamu bunuh juga. (16) Bila seorang perempuan
menghampiri binatang apapun untuk berkelamin, haruslah kaubunuh perempuan dan
binatang itu; mereka pasti dihukum mati dan darah mereka tertimpa kepada mereka
sendiri”.
Tetapi oral sex, sekalipun
dianggap berdosa oleh banyak orang, tidak pernah dikecam / dilarang oleh
Kitab Suci, tentu saja selama hal itu dilakukan oleh pasangan suami istri.
Kalau saudara menganggap ini sesuatu yang tidak wajar, maka perlu
dipertanyakan: tidak wajar menurut siapa? Saya pernah membaca suatu majalah
yang mengadakan angket tentang hal ini dan ternyata lebih banyak pasangan yang
melakukan oral sex dari pada yang tidak!
Jadi, kalau saya
ditanya apakah boleh melakukan oral sex, maka saya akan menjawab: ‘Boleh, asal
dilakukan oleh sepasang suami istri, dan kedua pihak sama-sama tidak
keberatan’. Kalau ada satu pihak yang keberatan (biasanya karena merasa jijik),
maka pihak satunya tidak boleh memaksakan kehendaknya.
Catatan: oral sex bisa menularkan penyakit, termasuk
HIV / AIDS, tetapi tentu saja ini hanya bisa terjadi kalau orang itu memang
mengidap penyakit itu.
Renungkan: berapa kali
saudara melanggar hukum ketujuh ini? Ini lebih dari cukup untuk membawa ke
neraka selama-lamanya. Saudara hanya bisa bebas kalau saudara mempunyai Yesus
sebagai Juruselamat / Penebus dosa saudara.
Hal-hal lain
berkenaan dengan dosa perzinahan.
1) Beratnya
dosa perzinahan.
Apakah perzinahan merupakan dosa yang
paling berat? Coba baca kata-kata di bawah ini.
Sutjipto Subeno: “Allah
menganggap dosa perzinahan sebagai dosa yang paling serius dan paling berat.
Sejak Perjanjian Lama hingga Perjanjian Baru, dosa seks mendapat ancaman yang
sangat keras. Hukuman yang diberikan jauh lebih berat dari mencuri atau bahkan
membunuh sekalipun” - ‘Keindahan Pernikahan Kristen’, hal 86.
Tanggapan saya:
a) Ini betul-betul kata-kata tolol! Saya tidak meremehkan dosa
perzinahan, tetapi saya yakin bahwa itu bukan dosa yang paling serius / paling
berat, ataupun lebih berat dari dosa membunuh!
Dosa yang paling hebat adalah menghujat Roh
Kudus, yang dikatakan tidak bisa diampuni (Mat 12:31-32).
Dosa yang paling banyak dikecam dalam
Perjanjian Lama adalah penyembahan berhala, dan dalam Perjanjian Baru adalah
sikap ‘self-righteous’ (= merasa diri sendiri benar / suci) dari para
tokoh agama Yahudi.
Juga, kalau dibandingkan dengan dosa
membunuh, jelas bahwa dosa berzinah lebih ringan. Buktinya:
1. Bandingkan
Im 19:20-22 dengan Kel 21:20-21.
a. Perzinahan
dengan budak.
Im 19:20-22 - “(20)
Apabila seorang laki-laki bersetubuh dengan seorang perempuan, yakni seorang
budak perempuan yang ada di bawah kuasa laki-laki lain, tetapi yang tidak
pernah ditebus dan tidak juga diberi surat tanda merdeka, maka perbuatan itu
haruslah dihukum; tetapi janganlah keduanya dihukum mati, karena perempuan
itu belum dimerdekakan. (21) Laki-laki itu harus membawa tebusan salahnya
kepada TUHAN ke pintu Kemah Pertemuan, yakni seekor domba jantan sebagai korban
penebus salah. (22) Imam harus mengadakan pendamaian bagi orang itu dengan
domba jantan korban penebus salah di hadapan TUHAN, karena dosa yang telah
diperbuatnya, sehingga ia beroleh pengampunan dari dosanya itu”.
b. Pembunuhan
terhadap budak.
Kel 21:20-21 - “(20)
Apabila seseorang memukul budaknya laki-laki atau perempuan dengan tongkat,
sehingga mati karena pukulan itu, pastilah budak itu dibalaskan. (21)
Hanya jika budak itu masih hidup sehari dua, maka janganlah dituntut belanya,
sebab budak itu adalah miliknya sendiri”.
Untuk bagian yang saya garis-bawahi dalam
bahasa Inggris terjemahannya berbeda.
KJV: ‘he shall be surely punished’
(= ia pasti akan dihukum).
RSV/NASB: ‘he shall be punished’ (= ia
akan dihukum).
NIV: ‘he must be punished’ (= ia
harus dihukum).
Catatan: Memang dalam ayat ini tak
diberitahukan apa hukumannya. Ada banyak
penafsir yang beranggapan bahwa dalam Kel 21:20 itu hukuman yang diberikan
kepada tuan dari budak itu bukanlah hukuman mati, tetapi Calvin dan Adam Clarke
mempunyai pandangan bahwa hukumannya adalah hukuman mati. Jamieson, Fausset
& Brown sekalipun menganggap bahwa hukumannya bukanlah hukuman mati, tetapi
mengatakan bahwa dari kata Ibrani yang digunakan terlihat bahwa hukumannya
pastilah berat.
Jadi, tindakan berzinah dan tindakan
membunuh, yang sama-sama dilakukan terhadap budak, yang pertama bisa ditebus /
diampuni hanya dengan membawa korban penebus salah, tetapi yang kedua
mendapatkan hukuman mati atau hukuman yang berat. Jelas bahwa membunuh lebih
berat dari pada berzinah.
2. Bandingkan
Kel 22:16-17 dengan Kel 21:12-14.
a. Perzinahan.
Kel 22:16-17
- “(16)
Apabila seseorang membujuk seorang anak perawan yang belum bertunangan, dan
tidur dengan dia, maka haruslah ia mengambilnya menjadi isterinya dengan
membayar mas kawin. (17) Jika ayah perempuan itu sungguh-sungguh menolak
memberikannya kepadanya, maka ia harus juga membayar perak itu sepenuhnya,
sebanyak mas kawin anak perawan.’”.
Ul 22:28-29
- “(28)
Apabila seseorang bertemu dengan seorang gadis, yang masih perawan dan belum
bertunangan, memaksa gadis itu tidur dengan dia, dan keduanya kedapatan - (29)
maka haruslah laki-laki yang sudah tidur dengan gadis itu memberikan lima puluh
syikal perak kepada ayah gadis itu, dan gadis itu haruslah menjadi isterinya,
sebab laki-laki itu telah memperkosa dia; selama hidupnya tidak boleh laki-laki
itu menyuruh dia pergi”.
Catatan: memang kalau perzinahan dilakukan dengan orang yang
sudah menikah / bertunangan, maka hukumannya juga adalah hukuman mati (Im
20:10 Ul 22:22-24).
b. Pembunuhan.
Kel 21:12-14
- “(12)
‘Siapa yang memukul seseorang, sehingga mati, pastilah ia dihukum mati. (13)
Tetapi jika pembunuhan itu tidak disengaja, melainkan tangannya ditentukan
Allah melakukan itu, maka Aku akan menunjukkan bagimu suatu tempat, ke mana ia
dapat lari. (14) Tetapi apabila seseorang berlaku angkara terhadap sesamanya,
hingga ia membunuhnya dengan tipu daya, maka engkau harus mengambil orang itu
dari mezbahKu, supaya ia mati dibunuh”.
Lagi-lagi
terlihat bahwa dalam perzinahan (dengan seorang gadis yang belum bersuami /
bertunangan) tidak ada hukuman mati, tetapi kalau dalam pembunuhan sengaja,
maka hukumannya pastilah hukuman mati.
Bahkan
dalam kasus kesembronoan saja, yang mengakibatkan kematian orang lain,
hukumannya adalah hukuman mati!
Kel 21:22-23,28-29,31
- “(22)
Apabila ada orang berkelahi dan seorang dari mereka tertumbuk kepada seorang
perempuan yang sedang mengandung, sehingga keguguran kandungan, tetapi tidak
mendapat kecelakaan yang membawa maut, maka pastilah ia didenda sebanyak yang
dikenakan oleh suami perempuan itu kepadanya, dan ia harus membayarnya menurut
putusan hakim. (23) Tetapi jika perempuan itu mendapat kecelakaan yang
membawa maut, maka engkau harus memberikan nyawa ganti nyawa, .... (28)
Apabila seekor lembu menanduk seorang laki-laki atau perempuan, sehingga mati,
maka pastilah lembu itu dilempari mati dengan batu dan dagingnya tidak boleh
dimakan, tetapi pemilik lembu itu bebas dari hukuman. (29) Tetapi jika lembu
itu sejak dahulu telah sering menanduk dan pemiliknya telah diperingatkan,
tetapi tidak mau menjaganya, kemudian lembu itu menanduk mati seorang laki-laki
atau perempuan, maka lembu itu harus dilempari mati dengan batu, tetapi
pemiliknyapun harus dihukum mati. ... (31) Kalau ditanduknya seorang
anak laki-laki atau perempuan, maka pemiliknya harus diperlakukan menurut peraturan
itu juga”.
Ul 22:8 - “Apabila engkau
mendirikan rumah yang baru, maka haruslah engkau memagari sotoh rumahmu,
supaya jangan kaudatangkan hutang darah kepada rumahmu itu, apabila ada seorang
jatuh dari atasnya”.
3. Daud berzinah dengan Batsyeba dan membunuh Uria, tetapi
kelihatannya dosa yang lebih ditekankan adalah pembunuhan terhadap Uria.
2Sam 12:9-10 - “(9)
Mengapa engkau menghina TUHAN dengan melakukan apa yang jahat di mataNya? Uria,
orang Het itu, kaubiarkan ditewaskan dengan pedang; isterinya kauambil menjadi isterimu, dan dia sendiri telah
kaubiarkan dibunuh oleh pedang bani Amon. (10) Oleh sebab itu, pedang tidak
akan menyingkir dari keturunanmu sampai selamanya, karena engkau telah menghina
Aku dan mengambil isteri Uria, orang Het itu,
untuk menjadi isterimu”.
1Raja 15:5 - “karena
Daud telah melakukan apa yang benar di mata TUHAN dan tidak menyimpang dari
segala yang diperintahkanNya kepadanya seumur hidupnya, kecuali dalam
perkara Uria, orang Het itu”.
Dalam 2Sam 12:9-10 kelihatannya kedua
dosa ditekankan secara seimbang, tetapi dalam 1Raja 15:5, yang menunjukkan
kesalehan Daud, dengan satu cacat sebagai perkecualian, yang dibicarakan
bukanlah perzinahannya dengan Batsyeba, tetapi pembunuhan terhadap Uria!
Dalam Maz 51 yang dianggap sebagai doa
pengakuan dosa Daud karena perzinahan dengan Batsyeba dan pembunuhan terhadap
Uria, ay 1-2nya berbunyi sebagai berikut: “(1) Untuk
pemimpin biduan. Mazmur dari Daud, (2) ketika nabi Natan datang kepadanya setelah
ia menghampiri Batsyeba”.
Tetapi kalau ini mau digunakan sebagai alasan untuk mengatakan bahwa
perzinahannya dengan Batsyeba lebih ditekankan dari pada pembunuhannya terhadap
Uria, perlu diketahui bahwa Maz 51:1-2 bukan termasuk Alkitab / Firman Tuhan.
Itu hanya keterangan tambahan saja. Dalam Alkitab bahasa Inggris kedua ayat itu
diletakkan di atas sebagai keterangan saja, sedangkan ay 1nya adalah ay 3 dalam
Kitab Suci Indonesia.
b) Ayat
yang sering dipakai untuk menunjukkan beratnya dosa perzinahan adalah 1Kor
6:18.
1Kor 6:18 - “Jauhkanlah
dirimu dari percabulan! Setiap dosa lain yang dilakukan manusia, terjadi di
luar dirinya. Tetapi orang yang melakukan percabulan berdosa terhadap dirinya
sendiri”.
Bagian
ini kelihatannya mengistimewakan dosa percabulan / perzinahan dibandingkan
dengan dosa-dosa lain. Tetapi sebetulnya apa arti dari bagian ini? Boleh
dikatakan semua penafsir menafsirkan bagian ini secara hurufiah, tetapi setahu
saya Calvin adalah satu-satunya yang memberikan penafsiran yang berbeda, yang
jauh lebih masuk akal bagi saya.
Calvin: “Now
he shows its greatness by comparison - that this sin alone, of all sins, puts a
brand of disgrace upon the body. The body, it is true, is defiled also by
theft, and murder, and drunkenness, in accordance with those statements - ‘Your
hands are defiled with blood.’ (Isaiah 1:15.) ‘You have yielded your members
instruments of iniquity unto sin,’ (Romans 6:19,) and the like. ...
Hence I explain it in this way, that he does not altogether deny that there are
other vices, in like manner, by which our body is dishonored and disgraced, but
that his meaning is simply this - that defilement does not attach itself to our
body from other vices in the same way as it does from fornication. My hand, it is true, is defiled by theft or murder, my tongue by
evil speaking, or perjury, and the whole body by drunkenness; but fornication leaves a stain impressed upon the body, such as is not impressed
upon it from other sins. According to this
comparison, or, in other words, in the sense of less and more, other sins are
said to be ‘without the body’ - not,
however, as though they do not at all affect the body, viewing each one by
itself” [= Sekarang
ia menunjukkan besarnya dosa ini dengan menggunakan perbandingan - bahwa dosa
ini saja, dari semua dosa-dosa, memberikan suatu cap yang memalukan pada tubuh.
Tubuh, memang benar, juga dicemarkan oleh pencurian, dan pembunuhan, dan
kemabukan, sesuai dengan pernyataan-pernyataan ini - ‘Tanganmu dicemarkan
dengan darah’ (Yes 1:15). ‘Kamu telah menyerahkan anggota-anggota tubuhmu menjadi
alat-alat kejahatan kepada dosa’ (Ro 6:19) dan sebagainya. ... Karena itu saya
menjelaskan ini dengan cara ini, bahwa ia bukannya sama sekali menyangkal bahwa
ada kejahatan-kejahatan lain, dengan cara yang serupa, dengan mana tubuh kita
direndahkan / dihinakan dan dipermalukan, tetapi bahwa maksudnya sekedar adalah
ini - bahwa pencemaran tidak melekatkan dirinya sendiri kepada tubuh kita dari
kejahatan-kejahatan yang lain dengan cara yang sama seperti dalam kasus
percabulan. Adalah benar bahwa tanganku dicemarkan oleh pencurian atau
pembunuhan, lidahku dicemarkan oleh pembicaraan yang jahat, atau sumpah palsu,
dan seluruh tubuh dicemarkan oleh kemabukan; tetapi percabulan meninggalkan
suatu noda yang ditanamkan pada tubuh, dengan cara sedemikian rupa yang tidak
ditanamkan kepada tubuh dari dosa-dosa lain. Sesuai dengan perbandingan
ini, atau, dengan kata-kata yang lain, dalam arti kurang atau lebih, dosa-dosa
lain disebutkan sebagai ‘di luar tubuh’ - tetapi bukan seakan-akan dosa-dosa
lain itu sama sekali tidak mempengaruhi tubuh, kalau masing-masing ditinjau
secara terpisah].
Yes 1:15 - “Apabila kamu menadahkan tanganmu untuk berdoa, Aku akan
memalingkan mukaKu, bahkan sekalipun kamu berkali-kali berdoa, Aku tidak akan
mendengarkannya, sebab tanganmu penuh dengan darah”.
Ro 6:19 - “Aku
mengatakan hal ini secara manusia karena kelemahan kamu. Sebab sama seperti kamu
telah menyerahkan anggota-anggota tubuhmu menjadi hamba kecemaran dan
kedurhakaan yang membawa kamu kepada kedurhakaan, demikian hal kamu sekarang
harus menyerahkan anggota-anggota tubuhmu menjadi hamba kebenaran yang membawa
kamu kepada pengudusan”.
Dari semua ini saya menyimpulkan bahwa ayat ini (1Kor
6:18) juga tidak bisa digunakan untuk mengatakan bahwa dosa percabulan /
perzinahan adalah dosa yang paling berat. Ayat ini hanya menunjukkan bahwa dosa
percabulan / perzinahan adalah dosa yang paling memalukan.
Bible Knowledge
Commentary (tentang 1Kor 6:18): “Immorality was a unique sin
but not the most serious (cf. Matt 12:32)” [= Ketidak-bermoralan
merupakan dosa yang unik tetapi bukan dosa yang paling serius (bdk. Mat 12:32)].
2) Hubungan
sex dengan perempuan yang sedang datang bulan.
Yeh 18:5-9 - “(5) Kalau
seseorang adalah orang benar dan ia melakukan keadilan dan kebenaran, (6) dan ia
tidak makan daging persembahan di atas gunung atau tidak melihat kepada
berhala-berhala kaum Israel, tidak mencemari isteri sesamanya dan tidak
menghampiri perempuan waktu bercemar kain, (7) tidak menindas orang lain,
ia mengembalikan gadaian orang, tidak merampas apa-apa, memberi makan orang
lapar, memberi pakaian kepada orang telanjang, (8) tidak memungut bunga uang
atau mengambil riba, menjauhkan diri dari kecurangan, melakukan hukum yang
benar di antara manusia dengan manusia, (9) hidup menurut ketetapanKu dan tetap
mengikuti peraturanKu dengan berlaku setia - ialah orang benar, dan ia pasti
hidup, demikianlah firman Tuhan ALLAH”.
Im 18:19 - “Janganlah
kauhampiri seorang perempuan pada waktu cemar kainnya yang menajiskan untuk
menyingkapkan auratnya”.
Im 20:18 - “Bila seorang
laki-laki tidur dengan seorang perempuan yang bercemar kain, jadi ia
menyingkapkan aurat perempuan itu dan membuka tutup lelerannya sedang perempuan
itupun membiarkan tutup leleran darahnya itu disingkapkan, keduanya harus
dilenyapkan dari tengah-tengah bangsanya”.
Im 15:19-31 - “(19) Apabila seorang perempuan
mengeluarkan lelehan, dan lelehannya itu adalah darah dari auratnya, ia harus
tujuh hari lamanya dalam cemar kainnya, dan setiap orang yang kena kepadanya,
menjadi najis sampai matahari terbenam. (20) Segala sesuatu yang ditidurinya
selama ia cemar kain menjadi najis. Dan segala sesuatu yang didudukinya menjadi
najis juga. (21) Setiap orang yang kena kepada tempat tidur perempuan itu
haruslah mencuci pakaiannya, membasuh tubuhnya dengan air dan ia menjadi najis
sampai matahari terbenam. (22) Setiap orang yang kena kepada sesuatu barang
yang diduduki perempuan itu haruslah mencuci pakaiannya, membasuh diri dengan
air dan ia menjadi najis sampai matahari terbenam. (23) Juga pada waktu ia kena
kepada sesuatu yang ada di tempat tidur atau di atas barang yang diduduki
perempuan itu, ia menjadi najis sampai matahari terbenam. (24) Jikalau
seorang laki-laki tidur dengan perempuan itu, dan ia kena cemar kain perempuan
itu, maka ia menjadi najis selama tujuh hari, dan setiap tempat tidur yang
ditidurinya menjadi najis juga. (25) Apabila seorang perempuan berhari-hari
lamanya mengeluarkan lelehan, yakni lelehan darah yang bukan pada waktu cemar
kainnya, atau apabila ia mengeluarkan lelehan lebih lama dari waktu cemar
kainnya, maka selama lelehannya yang najis itu perempuan itu adalah seperti
pada hari-hari cemar kainnya, yakni ia najis. (26) Setiap tempat tidur yang
ditidurinya, selama ia mengeluarkan lelehan, haruslah baginya seperti tempat
tidur pada waktu cemar kainnya dan setiap barang yang didudukinya menjadi najis
sama seperti kenajisan cemar kainnya. (27) Setiap orang yang kena kepada
barang-barang itu menjadi najis, dan ia harus mencuci pakaiannya, membasuh
tubuhnya dengan air, dan ia menjadi najis sampai matahari terbenam. (28) Tetapi
jikalau perempuan itu sudah tahir dari lelehannya, ia harus menghitung tujuh
hari lagi, sesudah itu barulah ia menjadi tahir. (29) Pada hari yang kedelapan
ia harus mengambil dua ekor burung tekukur atau dua ekor anak burung merpati
dan membawanya kepada imam ke pintu Kemah Pertemuan. (30) Imam harus
mempersembahkan yang seekor sebagai korban penghapus dosa dan yang seekor lagi
sebagai korban bakaran. Dengan demikian imam mengadakan pendamaian bagi orang
itu di hadapan TUHAN, karena lelehannya yang najis itu. (31) Begitulah kamu
harus menghindarkan orang Israel dari kenajisannya, supaya mereka jangan mati
di dalam kenajisannya, bila mereka menajiskan Kemah SuciKu yang ada di
tengah-tengah mereka itu.’”.
Ada 2 hal yang ingin
saya bahas tentang kedua text di atas ini:
a) Im 20:18 memberikan
hukuman mati kepada orang yang melakukan hal itu, tetapi Im 15:24
menyatakan bahwa orang itu hanya menjadi najis selama 7 hari (tidak dihukum
mati). Mengapa kelihatannya bertentangan?
Boleh
dikatakan semua penafsir mengatakan bahwa kalau mereka secara sengaja melakukan
hubungan sex dengan sadar bahwa perempuan itu sedang datang bulan, maka berlaku
hukuman mati dalam Im 20:18. Tetapi kalau mereka sedang melakukan hubungan
sex, dan tahu-tahu perempuan itu mengalami datang bulan, maka itu tidak
disengaja, dan berlaku Im 15:24.
b) Apakah larangan seperti ini masih berlaku
pada jaman Perjanjian Baru?
Najisnya seorang perempuan pada waktu
datang bulan (Im 15:19-31), dan juga najisnya seorang laki-laki pada waktu
mengeluarkan air mani (Im 15:1-18), menurut saya semuanya termasuk dalam ceremonial
law (= hukum yang berhubungan dengan upacara keagamaan).
Matthew Henry
(tentang Im 15:19-33): “This is concerning the ceremonial uncleanness which women
lay under from their issues, both those that were regular and healthful, and
according to the course of nature (v. 19-24), and those that were unseasonable,
excessive, and the disease of the body” [= Ini berkenaan dengan
kenajisan yang bersifat upacara yang menimpa perempuan-perempuan dari
apa yang mereka keluarkan, baik hal-hal yang bersifat biasa dan sehat, dan
sesuai dengan jalannya alam (ay 19-24), maupun hal-hal yang tidak pada
tempatnya, berlebihan, dan merupakan penyakit bagi tubuh].
Jamieson, Fausset & Brown (dalam
tafsirannya tentang Im 15:19-30) juga menyebutnya sebagai ‘ceremonial
defilement’ (= pencemaran yang bersifat upacara). Pulpit Commentary (dalam tafsirannya
tentang Im 15 juga menyebutnya sebagai ‘ceremonial
uncleanness’ (= kenajisan yang bersifat upacara).
Sedangkan semua ceremonial law (=
hukum yang berhubungan dengan upacara keagamaan) sudah tidak berlaku lagi dalam
jaman Perjanjian Baru.
Ef 2:15 - “sebab dengan
matiNya sebagai manusia Ia telah membatalkan hukum Taurat dengan segala
perintah dan ketentuannya, untuk menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru
di dalam diriNya, dan dengan itu mengadakan damai sejahtera”.
Jadi, saya berpendapat bahwa ditinjau
dari sudut Alkitab, larangan hubungan sex dengan seorang perempuan yang
sedang datang bulan juga sudah tidak berlaku lagi, dan boleh dilakukan asal
keduanya sama-sama mau.
Tetapi ditinjau dari sudut medis,
dikatakan bahwa hubungan sex pada saat seorang perempuan datang bulan bisa
menimbulkan infeksi pada si perempuan. Tetapi ini bisa dihindarkan kalau yang
laki-laki menggunakan kondom. Lihat Google ‘coitus during menstruation’.
-AMIN-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar