About us

Golgotha Ministry adalah pelayanan dari Pdt. Budi Asali,M.Div dibawah naungan GKRI Golgota Surabaya untuk memberitakan Injil ke seluruh dunia dan mengajarkan kebenaran firman Tuhan melalui khotbah-khotbah, pendalaman Alkitab, perkuliahan theologia dalam bentuk tulisan maupun multimedia (DVD video, MP3, dll). Pelayanan kami ini adalah bertujuan agar banyak orang mengenal kebenaran; dan bagi mereka yang belum percaya, menjadi percaya kepada Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadinya, dan bagi mereka yang sudah percaya, dikuatkan dan didewasakan didalam iman kepada Kristus.
Semua yang kami lakukan ini adalah semata-mata untuk kemuliaan nama Tuhan Yesus Kristus.

Kami mengundang dengan hangat setiap orang yang merasa diberkati dan terbeban didalam pelayanan untuk bergabung bersama kami di GKRI Golgota yang beralamat di : Jl. Raya Kalirungkut, Pertokoan Rungkut Megah Raya D-16, Surabaya.

Tuhan Yesus memberkati.

Selasa, 21 Januari 2014

EVERYTHING IS AGAINST ME!

Kebaktian G. K. R. I. ‘GOLGOTA’

(Rungkut Megah Raya Blok D No 16)

Minggu, tgl 12 Januari 2014, pk 08.00

Pdt. Budi Asali. M. Div.

KEJADIAN 42:1-38 

Kej 42:1-38 - “(1) Setelah Yakub mendapat kabar, bahwa ada gandum di Mesir, berkatalah ia kepada anak-anaknya: ‘Mengapa kamu berpandang-pandangan saja?’ (2) Lagi katanya: ‘Telah kudengar, bahwa ada gandum di Mesir; pergilah ke sana dan belilah gandum di sana untuk kita, supaya kita tetap hidup dan jangan mati.’ (3) Lalu pergilah sepuluh orang saudara Yusuf untuk membeli gandum di Mesir. (4) Tetapi Yakub tidak membiarkan Benyamin, adik Yusuf, pergi bersama-sama dengan saudara-saudaranya, sebab pikirnya: ‘Jangan-jangan ia ditimpa kecelakaan nanti.’ (5) Jadi di antara orang yang datang membeli gandum terdapatlah juga anak-anak Israel, sebab ada kelaparan di tanah Kanaan. (6) Sementara itu Yusuf telah menjadi mangkubumi di negeri itu; dialah yang menjual gandum kepada seluruh rakyat negeri itu. Jadi ketika saudara-saudara Yusuf datang, kepadanyalah mereka menghadap dan sujud dengan mukanya sampai ke tanah. (7) Ketika Yusuf melihat saudara-saudaranya, segeralah mereka dikenalnya, tetapi ia berlaku seolah-olah ia seorang asing kepada mereka; ia menegor mereka dengan membentak, katanya: ‘Dari mana kamu?’ Jawab mereka: ‘Dari tanah Kanaan untuk membeli bahan makanan.’ (8) Memang Yusuf mengenal saudara-saudaranya itu, tetapi dia tidak dikenal mereka. (9) Lalu teringatlah Yusuf akan mimpi-mimpinya tentang mereka. Berkatalah ia kepada mereka: ‘Kamu ini pengintai, kamu datang untuk melihat-lihat di mana negeri ini tidak dijaga.’ (10) Tetapi jawab mereka: ‘Tidak tuanku! Hanyalah untuk membeli bahan makanan hamba-hambamu ini datang. (11) Kami ini sekalian anak dari satu ayah; kami ini orang jujur; hamba-hambamu ini bukanlah pengintai.’ (12) Tetapi ia berkata kepada mereka: ‘Tidak! Kamu datang untuk melihat-lihat di mana negeri ini tidak dijaga.’ (13) Lalu jawab mereka: ‘Hamba-hambamu ini dua belas orang, kami bersaudara, anak dari satu ayah di tanah Kanaan, tetapi yang bungsu sekarang ada pada ayah kami, dan seorang sudah tidak ada lagi.’ (14) Lalu kata Yusuf kepada mereka: ‘Sudahlah! Seperti telah kukatakan kepadamu tadi: kamu ini pengintai. (15) Dalam hal ini juga kamu harus diuji: demi hidup Firaun, kamu tidak akan pergi dari sini, jika saudaramu yang bungsu itu tidak datang ke mari. (16) Suruhlah seorang dari padamu untuk menjemput adikmu itu, tetapi kamu ini harus tinggal terkurung di sini. Dengan demikian perkataanmu dapat diuji, apakah benar, dan jika tidak, demi hidup Firaun, sungguh-sungguhlah kamu ini pengintai.’ (17) Dan dimasukkannyalah mereka bersama-sama ke dalam tahanan tiga hari lamanya. (18) Pada hari yang ketiga berkatalah Yusuf kepada mereka: ‘Buatlah begini, maka kamu akan tetap hidup, aku takut akan Allah. (19) Jika kamu orang jujur, biarkanlah dari kamu bersaudara tinggal seorang terkurung dalam rumah tahanan, tetapi pergilah kamu, bawalah gandum untuk meredakan lapar seisi rumahmu. (20) Tetapi saudaramu yang bungsu itu haruslah kamu bawa kepadaku, supaya perkataanmu itu ternyata benar dan kamu jangan mati.’ Demikianlah diperbuat mereka. (21) Mereka berkata seorang kepada yang lain: ‘Betul-betullah kita menanggung akibat dosa kita terhadap adik kita itu: bukankah kita melihat bagaimana sesak hatinya, ketika ia memohon belas kasihan kepada kita, tetapi kita tidak mendengarkan permohonannya. Itulah sebabnya kesesakan ini menimpa kita.’ (22) Lalu Ruben menjawab mereka: ‘Bukankah dahulu kukatakan kepadamu: Janganlah kamu berbuat dosa terhadap anak itu! Tetapi kamu tidak mendengarkan perkataanku. Sekarang darahnya dituntut dari pada kita.’ (23) Tetapi mereka tidak tahu, bahwa Yusuf mengerti perkataan mereka, sebab mereka memakai seorang juru bahasa. (24) Maka Yusuf mengundurkan diri dari mereka, lalu menangis. Kemudian ia kembali kepada mereka dan berkata-kata dengan mereka; ia mengambil Simeon dari antara mereka; lalu disuruh belenggu di depan mata mereka. (25) Sesudah itu Yusuf memerintahkan, bahwa tempat gandum mereka akan diisi dengan gandum dan bahwa uang mereka masing-masing akan dikembalikan ke dalam karungnya, serta bekal mereka di jalan akan diberikan kepada mereka. Demikianlah dilakukan orang kepada mereka itu. (26) Sesudah itu merekapun memuat gandum itu ke atas keledai mereka, lalu berangkat dari situ. (27) Ketika seorang membuka karungnya untuk memberi makan keledainya di tempat bermalam, dilihatnyalah uangnya ada di dalam mulut karungnya. (28) Katanya kepada saudara-saudaranya: ‘Uangku dikembalikan; lihat, ada dalam karungku!’ Lalu hati mereka menjadi tawar dan mereka berpandang-pandangan dengan gemetar serta berkata: ‘Apakah juga yang diperbuat Allah terhadap kita!’ (29) Ketika mereka sampai kepada Yakub, ayah mereka, di tanah Kanaan, mereka menceritakan segala sesuatu yang dialaminya, katanya: (30) ‘Orang itu, yakni yang menjadi tuan atas negeri itu, telah menegor kami dengan membentak dan memperlakukan kami sebagai pengintai negeri itu. (31) Tetapi kata kami kepadanya: Kami orang jujur, kami bukan pengintai. (32) Kami dua belas orang bersaudara, anak-anak ayah kami; seorang sudah tidak ada lagi, dan yang bungsu ada sekarang pada ayah kami, di tanah Kanaan. (33) Lalu kata orang itu, yakni yang menjadi tuan atas negeri itu, kepada kami: Dari hal ini aku akan tahu, apakah kamu orang jujur: dari kamu bersaudara haruslah kamu tinggalkan seorang padaku; kemudian bawalah gandum untuk meredakan lapar seisi rumahmu dan pergilah; (34) lalu bawalah kepadaku saudaramu yang bungsu itu, maka aku akan tahu, bahwa kamu bukan pengintai, tetapi orang jujur; dan aku akan mengembalikan saudaramu itu kepadamu, dan bolehlah kamu menjalani negeri ini dengan bebas.’ (35) Ketika mereka mengosongkan karungnya, tampaklah ada pundi-pundi uang masing-masing dalam karungnya; dan ketika mereka beserta ayah mereka melihat pundi-pundi uang itu, ketakutanlah mereka. (36) Dan Yakub, ayah mereka, berkata kepadanya: ‘Kamu membuat aku kehilangan anak-anakku: Yusuf tidak ada lagi, dan Simeon tidak ada lagi, sekarang Benyaminpun hendak kamu bawa juga. Aku inilah yang menanggung segala-galanya itu!’ (37) Lalu berkatalah Ruben kepada ayahnya: ‘Kedua anakku laki-laki boleh engkau bunuh, jika ia tidak kubawa kepadamu; serahkanlah dia ke dalam tanganku, maka dia akan kubawa kembali kepadamu.’ (38) Tetapi jawabnya: ‘Anakku itu tidak akan pergi ke sana bersama-sama dengan kamu, sebab kakaknya telah mati dan hanya dialah yang tinggal; jika dia ditimpa kecelakaan di jalan yang akan kamu tempuh, maka tentulah kamu akan menyebabkan aku yang ubanan ini turun ke dunia orang mati karena dukacita.’”.

I) Saudara-saudara Yusuf pergi ke Mesir (ay 1-5).

1)   Kanaan terkena kelaparan.
Dalam Kej 41:56-57 dikatakan bahwa kelaparan itu menimpa ‘seluruh bumi’. Tidak jelas apa yang dimaksud dengan ‘seluruh bumi’ ini, karena istilah ‘seluruh bumi’ tidak harus betul-betul diartikan seluruh bumi (bdk. Luk 2:1 dimana ‘seluruh dunia’ jelas hanya berarti wilayah kekaisaran Romawi). Yang jelas adalah: bukan hanya Mesir yang terkena kelaparan, tetapi juga daerah sekitarnya, termasuk Kanaan (ay 5), tempat Yakub dan keluarganya tinggal.
Jadi, bahaya kelaparan itu tidak hanya menimpa orang kafir / tak beriman, tetapi juga menimpa orang beriman. Mengapa? Bukankah Tuhan bisa memberikan bencana hanya kepada orang kafir / tak beriman, dan mengecualikan orang beriman? Tentu saja Ia bisa, dan itu sering Ia lakukan, seperti yang Ia lakukan pada waktu memberikan 10 tulah di Mesir, dimana tulah-tulah itu sama sekali tidak menimpa orang Israel. Kalau demikian, mengapa Ia membiarkan Yakub dan keluarganya (‘gereja’ pada saat itu) juga terkena bahaya kelaparan? Jelas karena Ia mempunyai rencana yang baik terhadap mereka. Rencana apa?
a)   Untuk mempertemukan kembali Yakub dengan Yusuf, dan mempersatukan kembali Yusuf dengan keluarganya (karena mereka harus membentuk 12 suku Israel).
b)   Untuk menggenapi nubuatNya kepada Abraham dalam Kej 15:13-16 - “(13) Firman TUHAN kepada Abram: ‘Ketahuilah dengan sesungguhnya bahwa keturunanmu akan menjadi orang asing dalam suatu negeri, yang bukan kepunyaan mereka, dan bahwa mereka akan diperbudak dan dianiaya, empat ratus tahun lamanya. (14) Tetapi bangsa yang akan memperbudak mereka, akan Kuhukum, dan sesudah itu mereka akan keluar dengan membawa harta benda yang banyak. (15) Tetapi engkau akan pergi kepada nenek moyangmu dengan sejahtera; engkau akan dikuburkan pada waktu telah putih rambutmu. (16) Tetapi keturunan yang keempat akan kembali ke sini, sebab sebelum itu kedurjanaan orang Amori itu belum genap.’”.

Penerapan: Kalau ada bencana menimpa baik orang kafir maupun beriman, apakah itu krisis moneter, bencana alam (banjir, gempa bumi, gunung meletus, dsb), kebakaran, perusakan oleh massa, dsb, sebagai orang beriman kita harus tetap percaya bahwa kalau Allah tidak mengecualikan kita dari bencana itu, Ia pasti mempunyai maksud yang baik untuk kita.
Bdk. Ro 8:28 - “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.”.

2)   Menghadapi bencana itu saudara-saudara Yusuf hanya berpandang-pandangan saja (ay 1b).
Ay 1: “Setelah Yakub mendapat kabar, bahwa ada gandum di Mesir, berkatalah ia kepada anak-anaknya: ‘Mengapa kamu berpandang-pandangan saja?’”.

Mungkin ini menunjukkan sikap kehabisan akal / putus asa. Ini adalah sikap yang salah dalam menghadapi problem, kesukaran, dan penderitaan.
Amsal 17:22 - “Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang.”.
Amsal 18:14 - “Orang yang bersemangat dapat menanggung penderitaannya, tetapi siapa yang akan memulihkan semangat yang patah?”.

Karena itu kalau saudara mengalami penderitaan / problem besar, maka tetaplah berharap kepada Allah. Baca dan renungkanlah ayat-ayat di bawah ini:
·         Maz 42:6 - “Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku akan bersyukur lagi kepadaNya, penolongku dan Allahku!”.
·         Yes 40:27-31 - “(27) Mengapakah engkau berkata demikian, hai Yakub, dan berkata begini, hai Israel: ‘Hidupku tersembunyi dari TUHAN, dan hakku tidak diperhatikan Allahku?’ (28) Tidakkah kautahu, dan tidakkah kaudengar? TUHAN ialah Allah kekal yang menciptakan bumi dari ujung ke ujung; Ia tidak menjadi lelah dan tidak menjadi lesu, tidak terduga pengertianNya. (29) Dia memberi kekuatan kepada yang lelah dan menambah semangat kepada yang tiada berdaya. (30) Orang-orang muda menjadi lelah dan lesu dan teruna-teruna jatuh tersandung, (31) tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah.”.
·         Yes 41:8-16 - “(8) Tetapi engkau, hai Israel, hambaKu, hai Yakub, yang telah Kupilih, keturunan Abraham, yang Kukasihi; (9) engkau yang telah Kuambil dari ujung-ujung bumi dan yang telah Kupanggil dari penjuru-penjurunya, Aku berkata kepadamu: ‘Engkau hambaKu, Aku telah memilih engkau dan tidak menolak engkau’; (10) janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan tangan kananKu yang membawa kemenangan. (11) Sesungguhnya, semua orang yang bangkit amarahnya terhadap engkau akan mendapat malu dan kena noda; orang-orang yang membantah engkau akan seperti tidak ada dan akan binasa; (12) engkau akan mencari orang-orang yang berkelahi dengan engkau, tetapi tidak akan menemui mereka; orang-orang yang berperang melawan engkau akan seperti tidak ada dan hampa. (13) Sebab Aku ini, TUHAN, Allahmu, memegang tangan kananmu dan berkata kepadamu: ‘Janganlah takut, Akulah yang menolong engkau.’ (14) Janganlah takut, hai si cacing Yakub, hai si ulat Israel! Akulah yang menolong engkau, demikianlah firman TUHAN, dan yang menebus engkau ialah Yang Mahakudus, Allah Israel. (15) Sesungguhnya, Aku membuat engkau menjadi papan pengirik yang tajam dan baru, dengan gigi dua jajar; engkau akan mengirik gunung-gunung dan menghancurkannya, dan bukit-bukitpun akan kaubuat seperti sekam. (16) Engkau akan menampi mereka, lalu angin akan menerbangkan mereka, dan badai akan menyerakkan mereka. Tetapi engkau ini akan bersorak-sorak di dalam TUHAN dan bermegah di dalam Yang Mahakudus, Allah Israel.”.

3)   Yakub mendengar kabar bahwa di Mesir ada gandum, dan ia menyuruh anak-anaknya pergi ke Mesir untuk membeli gandum (ay 1-2).
Ay 1-2: “(1) Setelah Yakub mendapat kabar, bahwa ada gandum di Mesir, berkatalah ia kepada anak-anaknya: ‘Mengapa kamu berpandang-pandangan saja?’ (2) Lagi katanya: ‘Telah kudengar, bahwa ada gandum di Mesir; pergilah ke sana dan belilah gandum di sana untuk kita, supaya kita tetap hidup dan jangan mati.’”.

a)   Dalam buku Saat Teduhnya, Charles Haddon Spurgeon memberikan renungan tentang hal ini sebagai berikut: “Famine pinched all the nations, and it seemed inevitable that Jacob and his family should suffer great want; but the God of providence, who never forgets the objects of electing love, had stored a granary for His people by giving the Egyptians warning of the scarcity, and leading them to store up the grain in the years of plenty. Little did Jacob expect deliverance from Egypt, but there was the corn in store for him. Believer, though all things are apparently against you, rest assured that God has made a reservation on your behalf; in the roll of your griefs there is a saving clause. Somehow He will deliver you, and somewhere He will provide for you. The quarter from which your rescue arises may be a very unexpected one, but help will assuredly come in your extremity, and you will magnify the name of the Lord. If men do not feed you, ravens will; and if earth yield no wheat, heaven will drop with manna. Therefore be of good courage, and rest quietly in the Lord. God can make the sun rise in the west if He pleases, and make the source of distress the channel of delight” (= Kelaparan menjepit semua bangsa, dan kelihatannya tak terhindarkan bahwa Yakub dan keluarganya harus menderita kekurangan yang hebat; tetapi Allah dari providensia, yang tidak pernah melupakan obyek dari kasihNya yang memilih, telah menyimpan sebuah lumbung untuk umatNya dengan memberikan orang Mesir peringatan tentang masa kekurangan, dan memimpin mereka untuk menimbun gandum pada masa kelimpahan. Yakub tidak mengharapkan pertolongan dari Mesir, tetapi di sana ada jagung tersimpan untuknya. Orang percaya, sekalipun segala sesuatu kelihatannya menentangmu, tetaplah yakin bahwa Allah telah membuat persediaan demi kepentinganmu; dalam gulungan kesedihanmu ada ketentuan / persediaan keselamatan. Dengan cara tertentu Ia akan membebaskan / menolongmu, dan entah dimana, dan di suatu tempat tertentu Ia akan menyediakan bagimu. Pertolonganmu mungkin akan muncul dari sudut yang tidak diharapkan, tetapi pertolongan pasti akan datang dalam kebutuhanmu yang sangat hebat, dan engkau akan membesarkan nama Tuhan. Jika manusia tidak memberi engkau makan, burung-burung gagak akan melakukannya; dan jika bumi tidak mengeluarkan gandum, langit akan menurunkan manna. Karena itu teguhkanlah hatimu, dan beristirahatlah dengan tenang di dalam Tuhan. Allah bisa membuat matahari terbit dari Barat jika Ia menghendakinya, dan membuat sumber kesukaran sebagai saluran kesenangan / kesukaan) - ‘Morning and Evening’, May 21, evening.

b)   Yakub melakukan hal yang benar, dimana ia bukan hanya beriman dan berdoa, tetapi juga berusaha. Padahal Tuhan pernah berjanji kepada Yakub bahwa ia akan menjadi bangsa yang besar (Kej 28:14). Janji ini pasti terjadi, sehingga tidak mungkin Yakub dan keluarganya mati dalam bahaya kelaparan itu. Tetapi toh Yakub tidak hanya beriman pada janji Tuhan dan lalu tidak melakukan apa-apa di tengah-tengah bahaya kelaparan itu! Adanya rencana Allah / janji Allah tidak membuang tanggung jawab manusia!
Penerapan: Sekalipun sebagai orang beriman kita harus percaya kepada Allah, berdoa dan berharap kepada Allah pada waktu menghadapi kesukaran, itu tidak berarti bahwa kita tidak perlu melakukan apa-apa. Kita harus berusaha semaximal mungkin.

4)   Yakub tidak mengijinkan Benyamin ikut (ay 4).
Ay 3-4: “(3) Lalu pergilah sepuluh orang saudara Yusuf untuk membeli gandum di Mesir. (4) Tetapi Yakub tidak membiarkan Benyamin, adik Yusuf, pergi bersama-sama dengan saudara-saudaranya, sebab pikirnya: ‘Jangan-jangan ia ditimpa kecelakaan nanti.’”.

Yakub masih trauma karena ‘kematian’ Yusuf, sehingga ia melindungi Benyamin secara berlebihan. Benyamin sudah dewasa, dan tidak ada bahaya yang terlihat dengan mengirimkannya ke Mesir bersama 10 saudaranya, sehingga tidak pada tempatnya kalau Benyamin dilindungi seperti itu. Ini menunjukkan bahwa Yakub kurang beriman dan berserah kepada Tuhan.
Penerapan: kita memang perlu berhati-hati, karena ‘tidak berhati-hati’ sama dengan mencobai Tuhan. Tetapi ‘terlalu berhati-hati’ menunjukkan kurangnya iman dan penyerahan. Yang sukar adalah menentukan batas antara ‘tidak berhati-hati / mencobai Tuhan’ dengan ‘terlalu berhati-hati’. Mintalah hikmat dan pimpinan Tuhan dalam hal ini!

5)   Akhirnya hanya 10 saudara laki-laki Yusuf yang pergi ke Mesir (ay 3,5).
Ay 3,5: “(3) Lalu pergilah sepuluh orang saudara Yusuf untuk membeli gandum di Mesir. … (5) Jadi di antara orang yang datang membeli gandum terdapatlah juga anak-anak Israel, sebab ada kelaparan di tanah Kanaan.”.
Mengapa 10 orang yang diutus? Mengapa tidak hanya 2 orang saja dengan banyak keledai / kuda? Ditinjau dari sudut manusia / logika, ini mungkin disebabkan karena pembelian gandum di Mesir dijatah berdasarkan orangnya, sehingga kalau yang datang hanya sedikit orang maka hanya akan mendapatkan sedikit gandum. Karena itu Yakub mengirimkan sebanyak mungkin anak, kecuali Benyamin. Tetapi bagaimanapun juga dibalik semua ini ada tangan Allah yang mengatur supaya mimpi pertama Yusuf dalam Kej 37:7 (berkas gandum saudara-saudara Yusuf menyembah kepada berkas gandum Yusuf) tergenapi.

II) Pertemuan Yusuf dengan saudara-saudaranya (ay 6-25).

1)   Saudara-saudara Yusuf menyembah Yusuf yang adalah ‘mangkubumi’ (ay 6).
Ay 6: “Sementara itu Yusuf telah menjadi mangkubumi di negeri itu; dialah yang menjual gandum kepada seluruh rakyat negeri itu. Jadi ketika saudara-saudara Yusuf datang, kepadanyalah mereka menghadap dan sujud dengan mukanya sampai ke tanah.”.
NIV: ‘governor’ (= gubernur).
NASB: ‘ruler’ (= penguasa).

a)   Hati-hati dengan bagian-bagian Perjanjian Lama yang menunjukkan penyembahan manusia terhadap manusia. Dalam Perjanjian Lama hal seperti itu memang lazim, dan memang diijinkan karena belum adanya kata-kata Yesus dalam Mat 4:10.
Mat 4:10 - “Maka berkatalah Yesus kepadanya: ‘Enyahlah, Iblis! Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!’”.
Sekalipun Mat 4:10 itu dikutip oleh Yesus dari Ul 6:13, tetapi dalam Ul 6:13 tidak ada kata‘hanya’ [Catatan: dalam Ul 6:13 versi NIV memang ada kata ‘only’ (= hanya / saja), tetapi ini salah].
Dalam Perjanjian Baru setelah adanya kata-kata Yesus dalam Mat 4:10, maka penyembahan kepada manusia maupun malaikat dilarang (bdk. Kis 10:25-26  Kis 14:14-18 Wah 19:10  Wah 22:8-9  Kis 12:20-23).
Karena itu, dilarang menyembah Maria, orang-orang suci, roh orang tua, dan bahkan orang tua / kakek nenek yang masih hidup (paikwi / sungkem).
Ada orang yang keberatan dengan larangan ini dengan alasan bahwa paikwi / sungkem bukanlah penyembahan, tetapi penghormatan. Untuk ini perhatikan peristiwa dimana Kornelius menyembah Petrus dalam Kis 10:25.
Mungkinkah ia begitu bodoh sehingga menganggap Petrus sebagai Allah / dewa? Rasanya tidak mungkin, karena Kornelius adalah atau seseorang yang sudah memeluk Yudaisme atau seorang ‘simpatisan Yudaisme’ (Kis 10:2,22). Jelas bahwa ia sebetulnya bukan menyembah, tetapi hanya menghormat, tetapi ia melakukan penghormatan itu dengan sikap menyembah. Tetapi Petrus tetap menolak penghormatan seperti itu, dan ia berkata:“Bangunlah, aku hanya manusia saja” (Kis 10:26). Jadi, Petrus beranggapan bahwa penghormatan seperti itu tidak layak baginya karena ia hanya seorang manusia biasa; penghormatan seperti itu hanya layak bagi Allah.

b)         Ini merupakan penggenapan mimpi Yusuf dalam Kej 37:7.
Pada waktu mimpi itu diberikan, adalah sesuatu yang tidak masuk akal bahwa mimpi itu akan terjadi. Tetapi kenyataannya itu terjadi. Memang Firman Tuhan sering kelihatan tidak masuk akal dan pasti tidak akan terjadi, tetapi pada akhirnya itu pasti terjadi!

2)   Yusuf berlaku sebagai orang asing dan menuduh mereka sebagai pengintai (ay 7-14).
Ay 7-14: “(7) Ketika Yusuf melihat saudara-saudaranya, segeralah mereka dikenalnya, tetapi ia berlaku seolah-olah ia seorang asing kepada mereka; ia menegor mereka dengan membentak, katanya: ‘Dari mana kamu?’ Jawab mereka: ‘Dari tanah Kanaan untuk membeli bahan makanan.’ (8) Memang Yusuf mengenal saudara-saudaranya itu, tetapi dia tidak dikenal mereka. (9) Lalu teringatlah Yusuf akan mimpi-mimpinya tentang mereka. Berkatalah ia kepada mereka: ‘Kamu ini pengintai, kamu datang untuk melihat-lihat di mana negeri ini tidak dijaga.’ (10) Tetapi jawab mereka: ‘Tidak tuanku! Hanyalah untuk membeli bahan makanan hamba-hambamu ini datang. (11) Kami ini sekalian anak dari satu ayah; kami ini orang jujur; hamba-hambamu ini bukanlah pengintai.’ (12) Tetapi ia berkata kepada mereka: ‘Tidak! Kamu datang untuk melihat-lihat di mana negeri ini tidak dijaga.’ (13) Lalu jawab mereka: ‘Hamba-hambamu ini dua belas orang, kami bersaudara, anak dari satu ayah di tanah Kanaan, tetapi yang bungsu sekarang ada pada ayah kami, dan seorang sudah tidak ada lagi.’ (14) Lalu kata Yusuf kepada mereka: ‘Sudahlah! Seperti telah kukatakan kepadamu tadi: kamu ini pengintai.”.

a)   Pada saat Yusuf dijual, saudara-saudara Yusuf sudah dewasa, sehingga wajah mereka tidak berubah jauh. Disamping itu, pakaian mereka, jumlah mereka yang 10 orang, dan bahasa mereka, menyebabkan Yusuf langsung bisa mengenali mereka (ay 7-8a), sekalipun sedikitnya 20 tahun berlalu (bdk. Kej 37:2 dengan Kej 41:46,53).

b)   Tetapi saudara-saudara Yusuf tidak mengenal Yusuf (ay 8b), karena:
1.   Waktu ia dijual ia baru berusia 17 tahun, sehingga mungkin sekali ia banyak mengalami perubahan.
2.   Pakaian Mesir dan bahasa Mesir yang digunakan oleh Yusuf membuat mereka tidak mengenalinya.
3.   Pangkat Yusuf yang begitu tinggi menyebabkan mereka tidak menyangka bahwa itu adalah adik mereka yang mereka jual sebagai budak.

c)   Yusuf berlaku seolah-olah tidak kenal mereka, dan bahkan menuduh mereka sebagai pengintai. Mengapa ia melakukan ini? Pasti bukan karena ingin membalas dendam. Alasannya:
1.   Kalau ingin balas dendam ia bisa melakukan yang jauh lebih hebat.
2.   Kej 50:15-21 jelas menunjukkan Yusuf tidak mendendam kepada saudara-saudaranya.

Kalau begitu mengapa ia berlaku demikian?
a.   Untuk mengetahui apakah mereka menyesali tindakan mereka atau tidak.
b.   Untuk mengetahui keadaan Yakub dan Benyamin.
c.   Untuk mengetahui apa yang terjadi selama 20 tahun lebih ini.
Tetapi saya berpendapat bahwa bagaimanapun juga sikap pura-pura seperti ini tidak bisa dibenarkan dalam kekristenan, karena merupakan dusta dengan sikap / perbuatan.

3)   Yusuf menahan Simeon sampai mereka membawa Benyamin ke Mesir (ay 15-25).

a)   Mula-mula Yusuf menahan mereka semua sampai hari yang ketiga (ay 15-16).
Ay 15-16: “(15) Dalam hal ini juga kamu harus diuji: demi hidup Firaun, kamu tidak akan pergi dari sini, jika saudaramu yang bungsu itu tidak datang ke mari. (16) Suruhlah seorang dari padamu untuk menjemput adikmu itu, tetapi kamu ini harus tinggal terkurung di sini. Dengan demikian perkataanmu dapat diuji, apakah benar, dan jika tidak, demi hidup Firaun, sungguh-sungguhlah kamu ini pengintai.’”.
Mungkin ini dilakukan untuk memberi mereka waktu luang sehingga bisa merenungkan kejahatan mereka dahulu (Catatan: pada waktu menderita orang sering bertanya-tanya dan melakukan introspeksi dosa apa yang telah mereka lakukan sehingga mengalami semua itu). Tindakan Yusuf ini rupanya berhasil karena kata-kata mereka dalam ay 21 mungkin menunjukkan bahwa dalam tahanan itu mereka menduga-duga bahwa mereka mengalami semua ini karena mereka menjual Yusuf.
Ay 21: “Mereka berkata seorang kepada yang lain: ‘Betul-betullah kita menanggung akibat dosa kita terhadap adik kita itu: bukankah kita melihat bagaimana sesak hatinya, ketika ia memohon belas kasihan kepada kita, tetapi kita tidak mendengarkan permohonannya. Itulah sebabnya kesesakan ini menimpa kita.’”.

b)   Lalu Yusuf memanggil mereka dan berbicara kepada mereka (ay 18-25).
1.   Yusuf cuma menahan seorang, yaitu Simeon, sampai mereka kembali membawa Benyamin. Mengapa Simeon yang dipilih? Mungkin karena:
a.   Kata-kata Ruben dalam ay 22 terdengar oleh Yusuf sehingga ia tahu bahwa Ruben yang adalah saudara tertua tidaklah terlalu salah. Karena itu Yusuf memilih saudara yang kedua, yaitu Simeon.
b.   Mungkin Yusuf tahu bahwa dalam peristiwa memasukkan dia ke sumur dan / atau menjualnya sebagai budak, Simeonlah yang paling berperan.
2.   Yang lain diperbolehkan kembali sambil membawa gandum.
3.   Tanpa sepengetahuan mereka, Yusuf mengembalikan uang mereka dan memasukkannya ke dalam karung gandum masing-masing (ay 25).

III) Saudara-saudara Yusuf kembali ke Kanaan (ay 26-38).

1)   Dalam perjalanan seorang dari mereka mendapati bahwa uangnya ada dalam karung gandumnya. Ini membuat mereka jadi takut dan bertanya-tanya: ‘Apakah juga yang diperbuat Allah terhadap kita?’ (ay 27-28).
Mereka benar dalam satu hal, yaitu mereka tahu bahwa ‘God is the First Cause of everything’ (= Allah adalah Penyebab Pertama dari segala sesuatu). Tetapi kesalahan mereka adalah bahwa mereka tidak beriman pada kasih dan kebijaksanaan Allah!

2)   Ketika sampai di rumah, mereka menceritakan semuanya kepada Yakub (ay 29-34), lalu membuka karung gandum mereka. Ternyata mereka mendapati semua uang mereka ada di dalam karung gandum masing-masing. Ini membuat mereka lebih takut lagi (ay 35).

3)   Yakub menjadi putus asa (ay 36).
Ay 36: “Dan Yakub, ayah mereka, berkata kepadanya: ‘Kamu membuat aku kehilangan anak-anakku: Yusuf tidak ada lagi, dan Simeon tidak ada lagi, sekarang Benyaminpun hendak kamu bawa juga. Aku inilah yang menanggung segala-galanya itu!’”.
Hiburan tolol dari Ruben (ay 37) sama sekali tidak menolong Yakub dari keputus-asaannya, dan ini menyebabkan Yakub, tanpa mempedulikan Simeon, melarang Benyamin pergi ke Mesir (ay 38).
Ay 37-38: “(37) Lalu berkatalah Ruben kepada ayahnya: ‘Kedua anakku laki-laki boleh engkau bunuh, jika ia tidak kubawa kepadamu; serahkanlah dia ke dalam tanganku, maka dia akan kubawa kembali kepadamu.’ (38) Tetapi jawabnya: ‘Anakku itu tidak akan pergi ke sana bersama-sama dengan kamu, sebab kakaknya telah mati dan hanya dialah yang tinggal; jika dia ditimpa kecelakaan di jalan yang akan kamu tempuh, maka tentulah kamu akan menyebabkan aku yang ubanan ini turun ke dunia orang mati karena dukacita.’”.

Sekarang mari kita membahas kata-kata Yakub dalam ay 36.
Ay 36b: ‘Aku inilah yang menanggung segala-galanya’. Ini salah terjemahan.
NIV: ‘Everything is against me’ (= Segala sesuatu menentang aku).
KJV/NASB: ‘all these things are against me’ (= Semua hal ini menentang aku).

The Bible Exposition Commentary: Old Testament: “‘All these things are against me!’ was a valid statement from a human point of view, but from God’s perspective, everything that was happening was working for Jacob’s good and not for his harm (Rom 8:28)” [= ‘Semua hal ini menentang aku!’ merupakan suatu pernyataan yang sah dari sudut pandang manusia, tetapi dari sudut pandang Allah, segala sesuatu yang sedang terjadi sedang mengerjakan untuk kebaikan Yakub dan bukan untuk kerugiannya (Ro 8:28)].

Adam Clarke: “All these things are against me, said poor desponding Jacob; whereas, instead of being against him, all these things were for him” (= Semua hal-hal ini menentang aku, kata Yakub yang putus asa; padahal semua hal-hal itu bukannyamenentang dia, tetapi untuk dia).

Matthew Henry: “Jacob gives up Joseph for gone, and Simeon and Benjamin as being in danger; and he concludes, ‘All these things are against me.’ It proved otherwise, that all these were for him, were working together for his good and the good of his family: yet here he thinks them all against him. Note, Through our ignorance and mistake, and the weakness of our faith, we often apprehend that to be against us which is really for us. We are afflicted in body, estate, name, and relations; and we think all these things are against us, whereas these are really working for us the weight of glory” (= Yakub menganggap Yusuf mati, dan Simeon dan Benyamin sebagai ada dalam bahaya; dan ia menyimpulkan, ‘Semua hal-hal ini menentangaku’. Tetapi terbukti sebaliknya, bahwa semua ini adalah untuk dia, bekerja bersama-sama untuk kebaikannya dan kebaikan keluarganya: tetapi ia berpikir semua itu menentang dia. Perhatikan, Melalui ketidak-tahuan dan kesalahan kita, dan kelemahan dari iman kita, kita sering melihat itu sebagai menentang kita apa yang sebetulnya adalah untuk kita. Kita menderita dalam tubuh, milik / kekayaan, nama, dan hubungan; dan kita berpikir bahwa semua hal-hal ini menentang kita, sedangkan ini sebetulnya sedang mengerjakan untuk kita kemuliaan yang besar).
Catatan: dalam bahasa Inggris, lawan kata dari kata depan ‘for’ (= untuk) adalah kata depan‘against’ (= terhadap / menentang). 

Kalau saudara adalah seorang anak Tuhan yang sungguh-sungguh, maka Tuhan tidak pernah dan tidak akan pernah bekerja menentang saudara. Sebaliknya Ia selalu bekerjauntuk saudara!
Bdk. Ro 8:28 (KJV): “... all things work together for good to them that love God” (= ... segala sesuatu bekerja bersama-sama untuk kebaikan bagi mereka yang mengasihi Allah).

Pulpit Commentary: “So God’s providences are often misinterpreted by his saints” (= Demikianlah providensia Allah sering disalah-mengerti / disalah-tafsirkan oleh orang-orang kudusNya).
Pulpit Commentary: “How often the believer says, ‘All these things are against me.’ when he is already close upon that very stream of events which will carry him out of his distress into the midst of plenty, peace, and joy of a healed heart in its recovered blessedness” (= Betapa sering orang percaya berkata: ‘Semua hal ini menentang aku’ pada saat ia sudah dekat dengan aliran peristiwa-peristiwa yang akan membawanya keluar dari kesukaran / penderitaan ke tengah-tengah kelimpahan, damai dan sukacita dari hati yang disembuhkan dalam keadaan diberkati yang dipulihkan).

Memang, Yakub sebetulnya sudah dekat sekali dengan kebahagiaan yang luar biasa dimana ia bertemu kembali dengan Yusuf, dan semua yang ia alami ini mengarahkan ia kepada pertemuan yang berbahagia itu, tetapi saat ini ia justru menjadi putus asa.
Bagi kita, karena kita mengetahui Kej 43-dst, maka kita bisa melihat betapa bodohnya Yakub. Tetapi bagi Yakubnya sendiri pada saat itu, segalanya terlihat gelap gulita, sehingga ia menjadi putus asa.
Penerapan: kalau saudara adalah anak Allah, dan pada saat ini segalanya kelihatan gelap gulita bagi saudara, jangan putus asa seperti Yakub. Percayalah bahwa Allah mengarahkan semua itu pada kebaikan saudara, dan mungkin sekali, sama seperti Yakub, saudara sudah dekat sekali dengan saat yang akan sangat membahagiakan saudara!



-AMIN-

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar