About us

Golgotha Ministry adalah pelayanan dari Pdt. Budi Asali,M.Div dibawah naungan GKRI Golgota Surabaya untuk memberitakan Injil ke seluruh dunia dan mengajarkan kebenaran firman Tuhan melalui khotbah-khotbah, pendalaman Alkitab, perkuliahan theologia dalam bentuk tulisan maupun multimedia (DVD video, MP3, dll). Pelayanan kami ini adalah bertujuan agar banyak orang mengenal kebenaran; dan bagi mereka yang belum percaya, menjadi percaya kepada Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadinya, dan bagi mereka yang sudah percaya, dikuatkan dan didewasakan didalam iman kepada Kristus.
Semua yang kami lakukan ini adalah semata-mata untuk kemuliaan nama Tuhan Yesus Kristus.

Kami mengundang dengan hangat setiap orang yang merasa diberkati dan terbeban didalam pelayanan untuk bergabung bersama kami di GKRI Golgota yang beralamat di : Jl. Raya Kalirungkut, Pertokoan Rungkut Megah Raya D-16, Surabaya.

Tuhan Yesus memberkati.

Rabu, 09 September 2015

PRO KONTRA TENTANG PERSEMBAHAN PERSEPULUHAN (10b)

Pemahaman Alkitab

G. K. R. I. ‘GOLGOTA’

(Rungkut Megah Raya, blok D no 16)

Rabu, tgl 26 Agustus 2015, pk 19.00

Pdt. Budi Asali, M. Div.

PRO KONTRA TENTANG

PERSEMBAHAN PERSEPULUHAN (10b)



b)   Supaya mereka diberkati / tetap diberkati.
Sebetulnya merupakan sesuatu yang salah kalau kita memberi persembahan persepuluhan SUPAYA KITA DIBERKATI. Yang benar adalah, kalau kita memberi, dengan kasih / tanpa pamrih apapun, maka Tuhan memang akan memberkati kita.

Ul 14:28-29 - “(28) Pada akhir tiga tahun engkau harus mengeluarkan segala persembahan persepuluhan dari hasil tanahmu dalam tahun itu dan menaruhnya di dalam kotamu; (29) maka orang Lewi, karena ia tidak mendapat bagian milik pusaka bersama-sama engkau, dan orang asing, anak yatim dan janda yang di dalam tempatmu, akan datang makan dan menjadi kenyang, supaya TUHAN, Allahmu, memberkati engkau di dalam segala usaha yang dikerjakan tanganmu.’”.

Mal 3:8-11 - “(8) Bolehkah manusia menipu Allah? Namun kamu menipu Aku. Tetapi kamu berkata: ‘Dengan cara bagaimanakah kami menipu Engkau?’ Mengenai persembahan persepuluhan dan persembahan khusus! (9) Kamu telah kena kutuk, tetapi kamu masih menipu Aku, ya kamu seluruh bangsa! (10) Bawalah seluruh persembahan persepuluhan itu ke dalam rumah perbendaharaan, supaya ada persediaan makanan di rumahKu dan ujilah Aku, firman TUHAN semesta alam, apakah Aku tidak membukakan bagimu tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan. (11) Aku akan menghardik bagimu belalang pelahap, supaya jangan dihabisinya hasil tanahmu dan supaya jangan pohon anggur di padang tidak berbuah bagimu, firman TUHAN semesta alam. (12) Maka segala bangsa akan menyebut kamu berbahagia, sebab kamu ini akan menjadi negeri kesukaan, firman TUHAN semesta alam.”.

Sebetulnya bukan hanya dalam persembahan persepuluhan, tetapi dalam persembahan apapun, baik kepada Tuhan ataupun kepada manusia / hamba Tuhan, itu mendatangkan berkat.

1Raja 17:10-16 - “(10) Sesudah itu ia bersiap, lalu pergi ke Sarfat. Setelah ia sampai ke pintu gerbang kota itu, tampaklah di sana seorang janda sedang mengumpulkan kayu api. Ia berseru kepada perempuan itu, katanya: ‘Cobalah ambil bagiku sedikit air dalam kendi, supaya aku minum.’ (11) Ketika perempuan itu pergi mengambilnya, ia berseru lagi: ‘Cobalah ambil juga bagiku sepotong roti.’ (12) Perempuan itu menjawab: ‘Demi TUHAN, Allahmu, yang hidup, sesungguhnya tidak ada roti padaku sedikitpun, kecuali segenggam tepung dalam tempayan dan sedikit minyak dalam buli-buli. Dan sekarang aku sedang mengumpulkan dua tiga potong kayu api, kemudian aku mau pulang dan mengolahnya bagiku dan bagi anakku, dan setelah kami memakannya, maka kami akan mati.’ (13) Tetapi Elia berkata kepadanya: ‘Janganlah takut, pulanglah, buatlah seperti yang kaukatakan, tetapi buatlah lebih dahulu bagiku sepotong roti bundar kecil dari padanya, dan bawalah kepadaku, kemudian barulah kaubuat bagimu dan bagi anakmu. (14) Sebab beginilah firman TUHAN, Allah Israel: Tepung dalam tempayan itu tidak akan habis dan minyak dalam buli-buli itupun tidak akan berkurang sampai pada waktu TUHAN memberi hujan ke atas muka bumi.’ (15) Lalu pergilah perempuan itu dan berbuat seperti yang dikatakan Elia; maka perempuan itu dan dia serta anak perempuan itu mendapat makan beberapa waktu lamanya. (16) Tepung dalam tempayan itu tidak habis dan minyak dalam buli-buli itu tidak berkurang seperti firman TUHAN yang diucapkanNya dengan perantaraan Elia.”.

Amsal 3:9-10 - “(9) Muliakanlah TUHAN dengan hartamu dan dengan hasil pertama dari segala penghasilanmu, (10) maka lumbung-lumbungmu akan diisi penuh sampai melimpah-limpah, dan bejana pemerahanmu akan meluap dengan air buah anggurnya.”.

Amsal 19:17 - “Siapa menaruh belas kasihan kepada orang yang lemah, memiutangi TUHAN, yang akan membalas perbuatannya itu.”.

Yeh 44:30 - “Dan yang terbaik dari buah sulung apapun dan segala persembahan khusus dari apapun, dari segala persembahan khususmu adalah bagian imam-imam; juga yang terbaik dari tepung jelaimu harus kamu berikan kepada imam supaya rumah-rumahmu mendapat berkat.”.

Hag 1:2-11 - “(2) ‘Beginilah firman TUHAN semesta alam: Bangsa ini berkata: Sekarang belum tiba waktunya untuk membangun kembali rumah TUHAN!’ (3) Maka datanglah firman TUHAN dengan perantaraan nabi Hagai, bunyinya: (4) ‘Apakah sudah tiba waktunya bagi kamu untuk mendiami rumah-rumahmu yang dipapani dengan baik, sedang Rumah ini tetap menjadi reruntuhan? (5) Oleh sebab itu, beginilah firman TUHAN semesta alam: Perhatikanlah keadaanmu! (6) Kamu menabur banyak, tetapi membawa pulang hasil sedikit; kamu makan, tetapi tidak sampai kenyang; kamu minum, tetapi tidak sampai puas; kamu berpakaian, tetapi badanmu tidak sampai panas; dan orang yang bekerja untuk upah, ia bekerja untuk upah yang ditaruh dalam pundi-pundi yang berlobang! (7) Beginilah firman TUHAN semesta alam: Perhatikanlah keadaanmu! (8) Jadi naiklah ke gunung, bawalah kayu dan bangunlah Rumah itu; maka Aku akan berkenan kepadanya dan akan menyatakan kemuliaanKu di situ, firman TUHAN. (9) Kamu mengharapkan banyak, tetapi hasilnya sedikit, dan ketika kamu membawanya ke rumah, Aku menghembuskannya. Oleh karena apa? demikianlah firman TUHAN semesta alam. Oleh karena rumahKu yang tetap menjadi reruntuhan, sedang kamu masing-masing sibuk dengan urusan rumahnya sendiri. (10) Itulah sebabnya langit menahan embunnya dan bumi menahan hasilnya, (11) dan Aku memanggil kekeringan datang ke atas negeri, ke atas gunung-gunung, ke atas gandum, ke atas anggur, ke atas minyak, ke atas segala yang dihasilkan tanah, ke atas manusia dan hewan dan ke atas segala hasil usaha.’”.
Hag 2:16-20 - “(16) ‘Maka sekarang, perhatikanlah mulai dari hari ini dan selanjutnya! Sebelum ditaruh orang batu demi batu untuk pembangunan bait TUHAN, (17) bagaimana keadaanmu? Ketika orang pergi melihat suatu timbunan gandum yang seharusnya sebanyak dua puluh gantang, hanya ada sepuluh; dan ketika orang pergi ke tempat pemerasan anggur untuk mencedok lima puluh takar, hanya ada dua puluh. (18) Aku telah memukul kamu dengan hama dan penyakit gandum dan segala yang dibuat tanganmu dengan hujan batu; namun kamu tidak berbalik kepadaKu, demikianlah firman TUHAN. (19) Perhatikanlah mulai dari hari ini dan selanjutnya - mulai dari hari yang kedua puluh empat bulan kesembilan. Mulai dari hari diletakkannya dasar bait TUHAN perhatikanlah (20) apakah benih masih tinggal tersimpan dalam lumbung, dan apakah pohon anggur dan pohon ara, pohon delima dan pohon zaitun belum berbuah? Mulai dari hari ini Aku akan memberi berkat!’”.

Mat 10:42 - “Dan barangsiapa memberi air sejuk secangkir sajapun kepada salah seorang yang kecil ini, karena ia muridKu, Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ia tidak akan kehilangan upahnya dari padanya.’”.

2Kor 9:6 - “Camkanlah ini: Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga.”.

Berkat dari Tuhan karena kita memberi ini, berlaku baik dalam Perjanjian Lama maupun dalam Perjanjian Baru. Tetapi juga perlu diingat bahwa jaman Perjanjian Lama ada bedanya dengan jaman Perjanjian Baru. Jadi, kalau dalam Perjanjian Lama balasan Tuhan itu berupa berkat jasmani berkelimpahan, maka ‘balasan Tuhan’ dalam Perjanjian Baru bisa berupa berkat rohani (sekalipun juga bisa berupa berkat jasmani, tetapi tak harus berkelimpahan, dan tidak harus menjadikan kita kaya). Orang-orang dalam gereja abad pertama yang mempersembahkan harta, rumah / tanah, tidak dikatakan menjadi kaya.
Catatan: saya sudah membahas tentang hal ini secara panjang lebar dalam point I, 6).

Kis 2:45 - “dan selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing.”.

Kis 4:32-37 - “(32) Adapun kumpulan orang yang telah percaya itu, mereka sehati dan sejiwa, dan tidak seorangpun yang berkata, bahwa sesuatu dari kepunyaannya adalah miliknya sendiri, tetapi segala sesuatu adalah kepunyaan mereka bersama. (33) Dan dengan kuasa yang besar rasul-rasul memberi kesaksian tentang kebangkitan Tuhan Yesus dan mereka semua hidup dalam kasih karunia yang melimpah-limpah. (34) Sebab tidak ada seorangpun yang berkekurangan di antara mereka; karena semua orang yang mempunyai tanah atau rumah, menjual kepunyaannya itu, dan hasil penjualan itu mereka bawa (35) dan mereka letakkan di depan kaki rasul-rasul; lalu dibagi-bagikan kepada setiap orang sesuai dengan keperluannya. (36) Demikian pula dengan Yusuf, yang oleh rasul-rasul disebut Barnabas, artinya anak penghiburan, seorang Lewi dari Siprus. (37) Ia menjual ladang, miliknya, lalu membawa uangnya itu dan meletakkannya di depan kaki rasul-rasul.”.

2Kor 8:1-9 - “(1) Saudara-saudara, kami hendak memberitahukan kepada kamu tentang kasih karunia yang dianugerahkan kepada jemaat-jemaat di Makedonia. (2) Selagi dicobai dengan berat dalam pelbagai penderitaan, sukacita mereka meluap dan meskipun mereka sangat miskin, namun mereka kaya dalam kemurahan. (3) Aku bersaksi, bahwa mereka telah memberikan menurut kemampuan mereka, bahkan melampaui kemampuan mereka. (4) Dengan kerelaan sendiri mereka meminta dan mendesak kepada kami, supaya mereka juga beroleh kasih karunia untuk mengambil bagian dalam pelayanan kepada orang-orang kudus. (5) Mereka memberikan lebih banyak dari pada yang kami harapkan. Mereka memberikan diri mereka, pertama-tama kepada Allah, kemudian oleh karena kehendak Allah juga kepada kami. (6) Sebab itu kami mendesak kepada Titus, supaya ia mengunjungi kamu dan menyelesaikan pelayanan kasih itu sebagaimana ia telah memulainya. (7) Maka sekarang, sama seperti kamu kaya dalam segala sesuatu, - dalam iman, dalam perkataan, dalam pengetahuan, dalam kesungguhan untuk membantu, dan dalam kasihmu terhadap kami - demikianlah juga hendaknya kamu kaya dalam pelayanan kasih ini. (8) Aku mengatakan hal itu bukan sebagai perintah, melainkan, dengan menunjukkan usaha orang-orang lain untuk membantu, aku mau menguji keikhlasan kasih kamu. (9) Karena kamu telah mengenal kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus, bahwa Ia, yang oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinanNya.”.

Memang ay 9nya sering digunakan sebagai dasar dari Theologia Kemakmuran, tetapi itu jelas ngawur, karena kontext (ay 2,7) jelas menunjukkan mereka sangat miskin secara jasmani, tetapi kaya SECARA ROHANI.

Bisa juga berkat Tuhan itu baru kita dapatkan di surga nanti.

Mat 25:34-40 - “(34) Dan Raja itu akan berkata kepada mereka yang di sebelah kananNya: Mari, hai kamu yang diberkati oleh BapaKu, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan. (35) Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan; (36) ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku. (37) Maka orang-orang benar itu akan menjawab Dia, katanya: Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar dan kami memberi Engkau makan, atau haus dan kami memberi Engkau minum? (38) Bilamanakah kami melihat Engkau sebagai orang asing, dan kami memberi Engkau tumpangan, atau telanjang dan kami memberi Engkau pakaian? (39) Bilamanakah kami melihat Engkau sakit atau dalam penjara dan kami mengunjungi Engkau? (40) Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudaraKu yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.”.

The Bible Exposition Commentary (tentang Ul 12:6-7): “Moses frequently reminded the people to support the Levites by faithfully bringing tithes and offerings to the sanctuary (12:12,18-19; 14:27,29; 16:11,14). God promised to bless His people abundantly if they would faithfully bring their tithes and offerings to His sanctuary (Mal 3:6-12; see 1 Kings 7:51 and Neh 13:12)” [= Musa sering mengingatkan bangsa itu untuk menyokong orang-orang Lewi dengan secara setia membawa persembahan persepuluhan dan persembahan ke tempat kudus (12:12,18-19; 14:27,29; 16:11,14). Allah berjanji untuk memberkati bangsaNya secara berlimpah-limpah jika mereka dengan setia membawa persembahan persepuluhan dan persembahan mereka ke Tempat KudusNya (Mal 3:6-12; lihat 1Raja 7:51 and Neh 13:12).].

Keil & Delitzsch (tentang Ul 14): “As an encouragement to carry out these instructions, Moses closes in v. 29 with an allusion to the divine blessing which would follow their observance.” [= Sebagai suatu dorongan / penguatan hati untuk melaksanakan instruksi-instruksi ini Musa menutup dalam ay 29 dengan suatu referensi pada berkat ilahi yang akan mengikuti ketaatan mereka.].

c)         Supaya mereka belajar takut akan Tuhan.
Ul 14:22-23 - “(22) ‘Haruslah engkau benar-benar mempersembahkan sepersepuluh dari seluruh hasil benih yang tumbuh di ladangmu, tahun demi tahun. (23) Di hadapan TUHAN, Allahmu, di tempat yang akan dipilihNya untuk membuat namaNya diam di sana, haruslah engkau memakan persembahan persepuluhan dari gandummu, dari anggurmu dan minyakmu, ataupun dari anak-anak sulung lembu sapimu dan kambing dombamu, supaya engkau belajar untuk selalu takut akan TUHAN, Allahmu.”.
KJV/RSV/NASB: ‘fear’ [= takut].
NIV: ‘revere’ [= hormat].

Tentang rasa takut / hormat ini ada beberapa penafsiran.

Matthew Henry (tentang Ul 14:22-23): “They are here charged to separate it, and set it apart for God: ‘Thou shalt truly tithe all the increase of they seed,’ v. 22. The Levites took care of their own, but the separating of this was left to the owners themselves, the law encouraging them to be honest by reposing a confidence in them, and so trying their fear of God. They are commanded to tithe truly, that is, to be sure to do it, and to do it faithfully and carefully, that God’s part might not be diminished either with design or by oversight. Note, We must be sure to give God his full dues out of our estates; for, being but stewards of them, it is required that we be faithful, as those that must give account. The end of this law we have (v. 23): ‘That thou mayest learn to fear the Lord thy God always;’ it was to keep them right and firm to their religion, (1.) By acquainting them with the sanctuary, the holy things, and the solemn services that were there performed. What they read the appointment of their Bibles, it would do them good to see the observance of in the tabernacle; it would make a deeper impression upon them, which would keep them out of the snares of the idolatrous customs.” [= Mereka di sini diperintahkan untuk memisahkannya, dan memisahkannya untuk Allah: ‘Haruslah engkau benar-benar mempersembahkan sepersepuluh dari seluruh hasil benih yang tumbuh di ladangmu,’ ay 22. Orang-orang Lewi mengurus milik mereka sendiri, tetapi pemisahan yang ini dibiarkan pada pemiliknya sendiri, hukum Taurat mendorong mereka untuk jujur dengan menempatkan suatu keyakinan dalam diri mereka, dan dengan demikian menguji rasa takut mereka kepada Allah. Mereka diperintahkan untuk memberi persembahan persepuluhan ‘dengan benar-benar’, artinya, memastikan untuk melakukannya, dan melakukannya dengan setia dan dengan teliti, supaya bagian Allah tidak dikurangi baik dengan direncanakan ataupun karena kelalaian. Perhatikan, Kita harus memastikan untuk memberikan kepada Allah hakNya sepenuhnya dari tanah kita; karena, kita hanyalah pengurus-pengurus dari mereka, dan dituntut bahwa kita setia, seperti mereka yang harus memberi pertanggungjawaban. Tujuan dari hukum ini kita punyai / peroleh (ay 23): ‘Supaya engkau belajar untuk selalu takut akan TUHAN, Allahmu’; itu adalah untuk menjaga mereka benar dan teguh terhadap agama mereka, (1.) dengan mengakrabkan mereka dengan tempat kudus, hal-hal kudus, dan ibadah-ibadah / pelayanan-pelayanan yang khidmat yang dilakukan di sana. Apa yang mereka baca tentang penetapan-penetapan dari Alkitab mereka, akan baik bagi mereka untuk melihat prakteknya dalam Kemah Suci; itu akan membuat kesan yang lebih dalam kepada mereka, yang akan menjaga mereka dari jerat dari kebiasaan penyembahan berhala.].

The Bible Exposition Commentary (tentang Ul 14:23): “The people of Israel were to be generous with tithes and offerings because the Lord had been generous with them. Each time they brought their tithes and gifts to the sanctuary and enjoyed a thanksgiving feast, it would teach them to fear the Lord (Deut 14:23), because if the Lord hadn’t blessed them, they would have nothing to eat and nothing to give. As David said, everything we give to God first comes from His hand and it all belongs to Him (1 Chron 29:16). When we cease to fear God and fail to appreciate His bountiful provision, we become proud and start to take His blessings for granted. Then the Lord has to discipline us to remind us that He is the Giver of every gift.” [= Bangsa Israel harus murah hati dengan persembahan persepuluhan dan persembahan-persembahan karena Tuhan telah bermurah hati kepada mereka. Setiap kali mereka membawa persembahan persepuluhan dan pemberian mereka ke tempat kudus dan menikmati suatu pesta syukur, itu akan mengajar mereka untuk takut kepada Tuhan (Ul 14:23), karena seandainya Tuhan tidak memberkati mereka, mereka tidak akan mempunyai apa-apa untuk dimakan dan diberikan. Seperti Daud katakan, segala sesuatu yang kita berikan kepada Allah mula-mula datang dari tanganNya dan itu semua adalah milikNya (1Taw 29:16). Pada waktu kita berhenti untuk takut kepada Allah dan gagal untuk menghargai penyediaanNya yang berlimpah-limpah, kita menjadi sombong dan mulai menganggap berkat-berkatNya sudah selayaknya kita terima. Maka Tuhan harus mendisiplin kita untuk mengingatkan kita bahwa Ia adalah sang Pemberi dari setiap pemberian.].
1Taw 29:16 - “Ya TUHAN, Allah kami, segala kelimpahan bahan-bahan yang kami sediakan ini untuk mendirikan bagiMu rumah bagi namaMu yang kudus adalah dari tanganMu sendiri dan punyaMulah segala-galanya.”.

Pulpit Commentary (tentang Ul 14:22-29): “A tithing of each year’s produce of the cultivated ground was to be made; and this tithe was to be brought to the place which the Lord should choose, as also the firstling of the herds and flocks; and there a sacrificial meal was to be partaken of, that Israel might learn to fear Jehovah their God always, reverencing him as their Ruler, and rejoicing in him as the Giver of all good.” [= Suatu persembahan persepuluhan dari hasil tahunan dari tanah yang diusahakan harus dibuat; dan persembahan persepuluhan ini harus dibawa ke tempat yang akan Tuhan pilih, seperti juga yang sulung / pertama dari ternak dan kawanan; dan di sana mereka harus ikut ambil bagian dalam makanan yang bersifat pengorbanan, supaya Israel bisa belajar untuk selalu takut kepada Yehovah Allah mereka, menghormati Dia sebagai Penguasa / Pemerintah mereka, dan bersukacita dalam Dia sebagai sang Pemberi dari semua yang baik.].

Keil & Delitzsch (tentang Ul 14:23): “The sacrificial meals were to be held before the Lord, in the place where He caused His name to dwell (see at Deut 12:5), that Israel might learn to fear Jehovah its God always; not, however, as Schultz supposes, that by the confession of its dependence upon Him it might accustom itself more and more to the feeling of dependence. For the fear of the Lord is not merely a feeling of dependence upon Him, but also includes the notion of divine blessedness, which is the predominant idea here, as the sacrificial meals were to furnish the occasion and object of the rejoicing before the Lord. The true meaning therefore is, that Israel might rejoice with holy reverence in the fellowship of its God.” [= Makanan korban harus dilakukan di hadapan Tuhan, di tempat dimana Ia menyebabkan namaNya untuk tinggal (lihat Ul 12:5), supaya Israel bisa belajar untuk selalu takut kepada Yehovah Allah mereka; tetapi bukan seperti yang diduga oleh Schultz, bahwa oleh pengakuan tentang ketergantungannya kepada Dia Israel bisa makin membiasakan diri mereka sendiri pada perasaan ketergantungan. Karena rasa takut kepada Tuhan bukanlah semata-mata suatu perasaan tergantung kepadaNya, tetapi juga mencakup pikiran / gagasan tentang keberkatan ilahi, yang merupakan gagasan yang utama di sini, karena makanan korban harus menyediakan peristiwa dan obyek tentang bersukacita di hadapan Tuhan. Karena itu, arti yang benar adalah, bahwa Israel bisa bersukacita dengan rasa hormat yang kudus dalam persekutuan dari Allah mereka.].
Catatan: saya tidak terlalu mengerti kata-kata bagian akhir dari Keil & Delitzsch ini, karena rasanya tidak ada bedanya antara pandangan Schultz ini (ketergantungan kepada Allah) dan pandangan Keil & Delitzsch sendiri (bukan hanya ketergantungan tetapi juga pikiran tentang berkat ilahi). Dan lalu tahu-tahu pada bagian terakhir Keil & Delitzsch bisa menyimpang dan berbicara tentang bersukacita di hadapan Tuhan dan persekutuan dengan Tuhan.

Peter C. Craigie (tentang Ul 14:22-27): “By returning a tithe to God regularly, the people would learn to fear the Lord (v. 23) and know that their prosperity did not depend on irrigation or advanced agricultural techniques, but on the beneficence and provision of their God.” [= Dengan mengembalikan suatu persembahan persepuluhan kepada Allah secara teratur, bangsa itu akan belajar untuk takut kepada Tuhan (ay 23) dan tahu bahwa kemakmuran mereka tidak tergantung pada irigasi / pengairan atau tehnik-tehnik pertanian yang maju, tetapi pada kemurahan hati dan persediaan dari Allah mereka.] - ‘The Book of Deuteronomy’ (Libronix).

Kalau dalam Perjanjian Lama persembahan persepuluhan harus diberikan supaya bangsa Israel belajar untuk takut kepada Tuhan, apakah persembahan persepuluhan harus dihapuskan dalam Perjanjian Baru? Mustahil, karena dalam Perjanjian Barupun kita harus belajar untuk takut kepada Tuhan!

d)   Melatih diri kita dalam memberi, bersikap dermawan dan sebagainya.

The Biblical Illustrator (tentang Neh 10:37): “God carries on His cause in the world by the aid of His people. He is constantly calling on us to give, now to this cause and now to that. Why so? Surely He to whom the silver and gold belong has no need of us to help forward His work. He could, if He would, do it much more efficiently without us. But He is striving to educate us into resemblance to Christ and meetness for heaven. If a father could place his child where he would be habitually giving, giving, in the expression of a benevolent sympathy and helpfulness, he would be putting him under the most efficient of all means for the development in him of a truly Christian, or Christlike, spirit. ... We need, then, to cultivate the habit of giving as much as the habit of praying.” [= Allah melanjutkan perkaraNya di dunia oleh bantuan umatNya. Ia secara terus menerus memanggil kita untuk memberi, kadang-kadang pada perkara ini dan kadang-kadang pada perkara itu. Mengapa demikian? Pastilah Ia yang empunya perak dan emas tidak membutuhkan kita untuk menolong memajukan pekerjaanNya. Ia bisa, jika Ia mau, melakukan itu dengan jauh lebih efektif tanpa kita. Tetapi Ia sedang berusaha untuk mendidik kita ke dalam kemiripan dengan Kristus dan kesesuaian untuk surga. Jika seorang bapa bisa menempatkan anaknya dimana ia akan terbiasa memberi, memberi, dalam ungkapan dari suatu simpati yang penuh kebaikan dan bersifat menolong, ia akan meletakkan dia di bawah cara yang paling efektif untuk perkembangan di dalam dia dari suatu roh / kecondongan yang sungguh-sungguh Kristen, atau menyerupai Kristus. ... Maka, kita perlu untuk mengusahakan / melatih kebiasaan memberi sama banyaknya seperti kebiasaan berdoa.].

Matthew Henry (tentang Ul 14:22-29): “A second portion from the produce of their land was required. The whole appointment evidently was against the covetousness, distrust, and selfishness of the human heart. It promoted friendliness, liberality, and cheerfulness, and raised a fund for the relief of the poor. They were taught that their worldly portion was most comfortably enjoyed, when shared with their brethren who were in want. If we thus serve God, and do good with what we have, it is promised that the Lord our God will bless us in all the works of our land (hand?). The blessing of God is all to our outward prosperity; and without that blessing, the work of our hands will bring nothing to pass. The blessing descends upon the working hand. Expect not that God should bless thee in thy idleness and love of ease. And it descends upon the giving hand. He who thus scatters, certainly increases; and to be free and generous in the support of religion, and any good work, is the surest and safest way of thriving.” [= Suatu bagian yang kedua dari hasil dari tanah mereka dituntut. Seluruh penetapan jelas adalah untuk menentang ketamakan, ketidak-percayaan, dan keegoisan dari hati manusia. Itu memajukan keramahan, kedermawanan, dan sikap sukacita, dan menggalang suatu dana untuk menolong orang miskin. Mereka diajar bahwa bagian duniawi mereka dinikmati secara paling menyenangkan, pada waktu dibagikan dengan saudara-saudara mereka yang ada dalam kebutuhan. Jika kita melayani Allah seperti itu, dan melakukan yang baik dengan apa yang kita miliki, dijanjikan bahwa Tuhan Allah kita akan memberkati kita dalam semua pekerjaan dari tanah (tangan?) kita. Berkat Allah adalah segalanya bagi kemakmuran / keberhasilan lahiriah kita; dan tanpa berkat itu, pekerjaan dari tangan kita tidak akan menghasilkan apapun. Berkat turun pada tangan yang bekerja. Jangan mengharapkan Allah akan memberkati engkau dalam kemalasan dan kecintaan pada kemudahan / tak adanya usaha. Dan itu turun pada tangan yang memberi. Ia yang menyebarkan seperti itu, pasti akan bertambah; dan menjadi bebas dan murah hati dalam menyokong agama, dan pekerjaan baik apapun, adalah cara / jalan yang paling pasti dan aman dari kemajuan / perkembangan.] - ‘Matthew Henry’s Consice Commentary’ (Libronix).

Sekalipun tidak ada ayat yang explicit tentang hal ini, dan kedua komentar di atas merupakan tafsiran, tetapi saya yakin itu memang benar. Memberi persembahan persepuluhan merupakan suatu latihan yang baik untuk memberi, bersikap dermawan, mendukung pekerjaan Tuhan, dan sebagainya. Karena itu, bukan hanya kita yang perlu melatih diri dalam hal ini, tetapi juga anak-anak kita perlu kita latih untuk hal ini. Dan jelas dalam hal ini juga tak ada perbedaan antara jaman Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru.

e)   Untuk mendukung penegakan nama Tuhan.
Ul 12:5-6,10-11 - “(5) Tetapi tempat yang akan dipilih TUHAN, Allahmu, dari segala sukumu sebagai kediamanNya untuk menegakkan namaNya di sana, tempat itulah harus kamu cari dan ke sanalah harus kamu pergi. (6) Ke sanalah harus kamu bawa korban bakaran dan korban sembelihanmu, persembahan persepuluhanmu dan persembahan khususmu, korban nazarmu dan korban sukarelamu, anak-anak sulung lembu sapimu dan kambing dombamu. ... (10) Tetapi apabila nanti sudah kamu seberangi sungai Yordan dan kamu diam di negeri yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu untuk dimiliki, dan apabila Ia mengaruniakan kepadamu keamanan dari segala musuhmu di sekelilingmu, dan kamu diam dengan tenteram, (11) maka ke tempat yang dipilih TUHAN, Allahmu, untuk membuat namaNya diam di sana, haruslah kamu bawa semuanya yang kuperintahkan kepadamu, yakni korban bakaran dan korban sembelihanmu, persembahan persepuluhanmu dan persembahan khususmu dan segala korban nazarmu yang terpilih, yang kamu nazarkan kepada TUHAN.”.

Ul 14:22-26 - “(22) ‘Haruslah engkau benar-benar mempersembahkan sepersepuluh dari seluruh hasil benih yang tumbuh di ladangmu, tahun demi tahun. (23) Di hadapan TUHAN, Allahmu, di tempat yang akan dipilihNya untuk membuat namaNya diam di sana, haruslah engkau memakan persembahan persepuluhan dari gandummu, dari anggurmu dan minyakmu, ataupun dari anak-anak sulung lembu sapimu dan kambing dombamu, supaya engkau belajar untuk selalu takut akan TUHAN, Allahmu. (24) Apabila, dalam hal engkau diberkati TUHAN, Allahmu, jalan itu terlalu jauh bagimu, sehingga engkau tidak dapat mengangkutnya, karena tempat yang akan dipilih TUHAN untuk menegakkan namaNya di sana terlalu jauh dari tempatmu, (25) maka haruslah engkau menguangkannya dan membawa uang itu dalam bungkusan dan pergi ke tempat yang akan dipilih TUHAN, Allahmu, (26) dan haruslah engkau membelanjakan uang itu untuk segala yang disukai hatimu, untuk lembu sapi atau kambing domba, untuk anggur atau minuman yang memabukkan, atau apapun yang diingini hatimu, dan haruslah engkau makan di sana di hadapan TUHAN, Allahmu dan bersukaria, engkau dan seisi rumahmu.”.
Catatan: saya yakin kata ‘nama’ dalam Ul 12:5,11 dan Ul 14:23,24 tidak menunjuk pada nama YHWH, tetapi pada diri Allah sendiri.

Kedua text di atas ini menunjukkan alasan untuk memberikan persembahan persepuluhan. Dalam jaman Perjanjian Lama, orang Israel harus membawa persembahan persepuluhan ke Kemah Suci / Bait Suci, karena di tempat itu Tuhan menegakkan namaNya!!! Apakah dalam jaman Perjanjian Baru, gereja (yang benar!) bukan merupakan tempat dimana Tuhan menegakkan namaNya? Kalau ya, maka jelas kita juga harus membawa persembahan persepuluhan ke gereja (yang benar!).

Jadi, menurut saya merupakan suatu omong kosong kalau orang berargumentasi bahwa karena Bait Suci dan imam-imam dan orang-orang Lewi sudah tidak ada, maka kita tidak lagi perlu / harus memberikan persembahan persepuluhan. Persembahan persepuluhan harus diberikan ke tempat yang menegakkan nama Tuhan, dan kalau dalam Perjanjian Lama ini adalah Bait Suci, maka jelas bahwa dalam Perjanjian Baru, ini adalah gereja (yang benar!).

Orang yang tidak mendukung penegakan nama Tuhan sebetulnya sedang mendukung penegakan nama setan!

Matthew Henry (tentang Ul 12:5-32): “The place which God would choose is said to be the place where he would put his name, that is, which he would have to be called his, where his honour should dwell, where he would manifest himself to his people, and make himself known, as men do by their names, and where he would receive addresses, by which his name is both praised and called upon.” [= Tempat yang akan Allah pilih dikatakan sebagai tempat dimana Ia akan meletakkan namaNya, artinya, yang akan Ia haruskan untuk sebut sebagai milikNya, dimana kehormatanNya tinggal, dimana Ia akan menyatakan diriNya sendiri kepada bangsa / umatNya, dan membuat diriNya sendiri dikenal, seperti manusia lakukan dengan nama mereka, dan dimana Ia akan menerima panggilan / sapaan, dengan mana Ia dipuji dan dipanggil.].

Barnes’ Notes (tentang Ul 12:5): “‘To put his name there’ means to manifest to men His divine presence. ... the expression comprehends all the various modes in which God vouchsafed to reveal Himself and His attributes to men. ... The words ‘the place which the LORD shall choose to put His Name there’ suggest Jerusalem and Solomon’s temple to our minds. But though spoken as they were by a prophet, and interpreted as they are by the Psalms (e.g. Ps 78:67-69), they have a proper application to the temple, yet they must not be referred exclusively to it. The text does not import that God would always from the first choose one and the same locality ‘to put His Name there,’ but that there would always be a locality so chosen by Him; and that there the people must bring their sacrifices, and not offer them at their pleasure or convenience elsewhere. Neither does the text forbid the offering of sacrifices to God at other places than the one chosen by Him ‘to put His Name there’ on proper occasions and by proper authority (compare Deut 27:5-6; Judg 6:24; 13:16; 1 Kings 3:4; 18:31). The text simply prohibits sacrifices at any other locality than that which should be appointed or permitted by God for the purpose.” [= ‘Meletakkan namaNya di sana’ berarti menyatakan kepada manusia kehadiran ilahiNya. ... ungkapan itu meliputi semua cara yang bermacam-macam dalam mana Allah menganugerahkan untuk menyatakan diriNya sendiri dan sifat-sifatNya kepada manusia. ... Kata-kata ‘tempat yang akan TUHAN pilih untuk meletakkan namaNya di sana’ menyatakan Yerusalem dan Bait Suci Salomo pada pikiran kita. Tetapi sekalipun diucapkan sebagaimana adanya oleh seorang nabi, dan ditafsirkan sebagaimana adanya oleh Mazmur-mazmur (misalnya Maz 78:67-69), mereka mempunyai suatu penerapan yang benar pada Bait Suci, tetapi mereka tidak boleh ditunjukkan secara eksklusif padanya. Textnya tidak berarti bahwa Allah akan selalu dari pertama / semula memilih tempat yang satu dan yang sama ‘untuk meletakkan namaNya di sana’, tetapi bahwa di sana akan selalu ada suatu tempat yang dipilih seperti itu olehNya; dan bahwa di sana orang-orang harus membawa korban-korban mereka, dan tidak mempersembahkan korban-korban itu sesuka hati mereka atau sesuai kesenangan mereka di tempat lain. Juga textnya tidak melarang persembahan korban-korban kepada Allah di tempat lain dari tempat yang dipilih olehNya ‘untuk meletakkan namaNya di sana’ pada peristiwa-peristiwa yang tepat dan oleh otoritas yang tepat (bandingkan dengan Ul 27:5-6; Hak 6:24; 13:16; 1Raja 3:4; 18:31). Textnya hanya melarang / mencegah korban-korban di tempat lain manapun dari pada tempat yang ditetapkan atau diijinkan oleh Allah untuk tujuan ini.].
Maz 78:67-69 - “(67) Ia menolak kemah Yusuf, dan suku Efraim tidak dipilihNya, (68) tetapi Ia memilih suku Yehuda, gunung Sion yang dikasihiNya; (69) Ia membangun tempat kudusNya setinggi langit, laksana bumi yang didasarkanNya untuk selama-lamanya;”.
Ul 27:4-6 - “(4) Dan sesudah kamu menyeberangi sungai Yordan, maka haruslah batu-batu itu, yang telah kuperintahkan kepadamu pada hari ini, kamu tegakkan di gunung Ebal dan kaukapuri. (5) Juga haruslah kaudirikan di sana mezbah bagi TUHAN, Allahmu, suatu mezbah dari batu yang tidak boleh kauolah dengan perkakas besi. (6) Dari batu yang tidak dipahat haruslah kaudirikan mezbah TUHAN, Allahmu, itu dan di atasnya haruslah kaupersembahkan korban bakaran kepada TUHAN, Allahmu.”.
Hak 6:24 - “Lalu Gideon mendirikan mezbah di sana bagi TUHAN dan menamainya: TUHAN itu keselamatan. Mezbah itu masih ada sampai sekarang di Ofra, kota orang Abiezer.”.
Hak 13:16 - “Tetapi jawab Malaikat TUHAN itu kepada Manoah: ‘Sekalipun engkau menahan Aku di sini, hidanganmu itu tidak akan Kumakan. Tetapi jika engkau hendak mengolahnya menjadi korban bakaran, persembahkanlah itu kepada TUHAN.’ Sebab Manoah tidak mengetahui, bahwa Dia itu Malaikat TUHAN.”.
1Raja 3:4 - “Pada suatu hari raja pergi ke Gibeon untuk mempersembahkan korban, sebab di situlah bukit pengorbanan yang paling besar; seribu korban bakaran dipersembahkan Salomo di atas mezbah itu.”.
1Raja 18:31 - “Kemudian Elia mengambil dua belas batu, menurut jumlah suku keturunan Yakub. - Kepada Yakub ini telah datang firman TUHAN: ‘Engkau akan bernama Israel.’ -”.

Keil & Delitzsch (tentang Ul 12:5): “‎the place ‘which He shall choose out of all the tribes to put His name there for His dwelling.’ Whereas the heathen seeks and worships his nature-gods, wherever he thinks he can discern in nature any trace of Divinity, the true God has not only revealed His eternal power and Godhead in the works of creation, but His personal being, which unfolds itself to the world in love and holiness, in grace and righteousness, He has made known to man, who was created in His image, in the words and works of salvation; and in these testimonies of His saving presence He has fixed for Himself a name, in which He dwells among His people. This name presents His personality, as comprehended in the word Jehovah, in a visible sign, the tangible pledge of His essential presence.” [= tempat ‘yang akan Ia pilih dari semua suku untuk meletakkan namaNya di sana untuk tempat tinggalNya’. Sekalipun orang kafir mencari dan menyembah dewa-alamnya, dimanapun ia pikir ia bisa mengenali dalam alam jejak apapun dari Keilahian, Allah yang benar tidak hanya menyatakan kuasaNya yang kekal dan keAllahanNya dalam pekerjaan penciptaan, tetapi juga diriNya, yang menyatakan kepada dunia dalam kasih dan kekudusan, dalam kasih karunia dan kebenaran, Ia telah menyatakan kepada manusia, yang diciptakan dalam gambarNya, dalam kata-kata dan pekerjaan keselamatan; dan dalam kesaksian-kesaksian dari kehadiranNya yang menyelamatkan ini Ia telah menetapkan bagi diriNya sendiri suatu nama, dalam mana Ia tinggal di antara bangsa / umatNya. Nama ini memperkenalkan kepribadianNya, seperti tercakup dalam kata Yehovah, dalam suatu tanda yang kelihatan, jaminan yang bisa dimengerti tentang kehadiran hakikiNya.].

Pulpit Commentary (tentang Ul 12:5-9): “Vers. 5-9. - Public worship. ... It is required in it - I. That God be present with his people. We meet in his Name. His presence is promised (Matt. 18:20). Without that presence sought and obtained, worship is in vain.” [= Ay 5-9. - Ibadah / kebaktian umum. ... Dituntut di dalamnya - I. Bahwa Allah hadir bersama umatNya. Kita bertemu dalam namaNya. KehadiranNya dijanjikan (Mat 18:20). Tanpa kehadiran itu dicari dan didapatkan, ibadah / kebaktian itu sia-sia.].

Dalam Perjanjian Lama mereka beribadah di Kemah Suci / Bait Suci, tetapi dalam Perjanjian Baru, harus dicamkan text ini:
Yoh 4:20-24 - “(20) Nenek moyang kami menyembah di atas gunung ini, tetapi kamu katakan, bahwa Yerusalemlah tempat orang menyembah.’ (21) Kata Yesus kepadanya: ‘Percayalah kepadaKu, hai perempuan, saatnya akan tiba, bahwa kamu akan menyembah Bapa bukan di gunung ini dan bukan juga di Yerusalem. (22) Kamu menyembah apa yang tidak kamu kenal, kami menyembah apa yang kami kenal, sebab keselamatan datang dari bangsa Yahudi. (23) Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian. (24) Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembahNya dalam roh dan kebenaran.’”.

Perempuan Samaria itu menanyakan tempat, tetapi Yesus tidak mempersoalkan tempat. Ia mengatakan orang akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran, artinya, ibadah lahiriah pada jaman Perjanjian Lama sedang dalam proses untuk diganti dengan ibadah dalam Perjanjian Baru yang bersifat rohani.

The Biblical Illustrator (tentang Ul 12:5-6): “The cessation of this holiness of places under the New Testament (John 4:21-23; Matt 18:22; 1 Tim 2:8; Mal 1:11). Every place is now a Judaea, every house a Jerusalem, every congregation a Zion.” [= Penghentian dari kekudusan tempat-tempat ini di bawah Perjanjian Baru (Yoh 4:21-23; Mat 18:22; 1Tim 2:8; Mal 1:11). Setiap tempat sekarang adalah Yudea, setiap rumah adalah suatu Yerusalem, setiap jemaat adalah suatu Zion.].
Catatan: Mat 18:22 itu pasti salah, mungkin seharusnya Mat 18:20.
Mat 18:20 - “Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam NamaKu, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.’”.
1Tim 2:8 - “Oleh karena itu aku ingin, supaya di mana-mana orang laki-laki berdoa dengan menadahkan tangan yang suci, tanpa marah dan tanpa perselisihan.”.
Mal 1:11 - “Sebab dari terbitnya sampai kepada terbenamnya matahari namaKu besar di antara bangsa-bangsa, dan di setiap tempat dibakar dan dipersembahkan korban bagi namaKu dan juga korban sajian yang tahir; sebab namaKu besar di antara bangsa-bangsa, firman TUHAN semesta alam.”.

Pulpit Commentary (tentang Ul 12:1-32): “IV. There was to be (after they were settled in Palestine) one place which God choose to put his name there. And this place where God would meet with his people is called, in the beautiful Hebrew phrase, God’s rest (ver. 5), ‘his habitation’ (cf. Ps. 132:13, 14). Thus would God, in his condescending love, launch a new thought into the world, in a form in which the people could understand it; viz. that God’s home is with his believing worshippers. It was necessary, for a while, to associate that truth with one special place, until ‘the fulness of times’ should come, when One should say - John 4:20-24; Matt. 18:20; and when Christians should learn that they are the home of God (1 Cor. 3:16; Eph. 2:22).” [= IV. Di sana akan ada (setelah mereka menetap di Palestina) satu tempat yang Allah pilih untuk meletakkan namanya di sana. Dan tempat ini dimana Allah akan bertemu dengan bangsa / umatNya disebut, dalam ungkapan Ibrani yang indah, tempat perhentian Allah (ay 5), ‘tempat tinggalNya’ (bdk. Maz 132:13,14). Jadi, Allah akan, dalam kasihNya yang berkenan merendahkan diri, memperkenalkan suatu pemikiran baru ke dalam dunia, dalam suatu bentuk dalam mana orang-orang bisa mengertinya; yaitu bahwa rumah / bait Allah adalah bersama dengan penyembah-penyembahNya yang percaya. Adalah perlu, untuk sementara, untuk menghubungkan kebenaran itu dengan satu tempat khusus, sampai ‘kegenapan waktunya’ tiba, dimana orang akan berkata - Yoh 4:20-24; Mat 18:20; dan pada waktu orang-orang Kristen mempelajari bahwa mereka adalah rumah / bait Allah (1Kor 3:16; Ef 2:22).].
Ul 12:5 - “Tetapi tempat yang akan dipilih TUHAN, Allahmu, dari segala sukumu sebagai kediamanNya untuk menegakkan namaNya di sana, tempat itulah harus kamu cari dan ke sanalah harus kamu pergi.”.
Maz 132:13-14 - “(13) Sebab TUHAN telah memilih Sion, mengingininya menjadi tempat kedudukanNya: (14) ‘Inilah tempat perhentianKu selama-lamanya, di sini Aku hendak diam, sebab Aku mengingininya.”.
1Kor 3:16 - “Tidak tahukah kamu, bahwa kamu adalah bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu?”.
Ef 2:22 - “Di dalam Dia kamu juga turut dibangunkan menjadi tempat kediaman Allah, di dalam Roh.”.

Pulpit Commentary (tentang Ul 12:6-29): “I. An assertion of the principle that God’s worship must be associated with his presence. (Vers. 5–11.) The sanctuary was constituted by God having ‘put his Name’ there. Under the New Testament the worship of the Father ‘in spirit and in truth’ is liberated from special sacred places (John 4:24), but the principle holds good that his being ‘in the midst’ of his people is essential to worship being acceptable (Matt. 18:20).” [= I. Suatu pernyataan tentang prinsip bahwa ibadah / penyembahan Allah harus dihubungkan dengan kehadiranNya. (ay 5-11). Tempat Kudus didirikan oleh Allah dengan ‘menempatkan namaNya’ di sana. Di bawah Perjanjian Baru penyembahan Bapa ‘dalam roh dan dalam kebenaran’ dibebaskan dari tempat-tempat kudus yang khusus (Yoh 4:24), tetapi prinsipnya tetap berlaku bahwa keberadaan / kehadiranNya ‘di tengah-tengah’ umatNya adalah hakiki / penting bagi penyembahan / ibadah untuk bisa diterima (Mat 18:20).].

Jadi jelaslah bahwa kalau dalam Perjanjian Lama penegakan nama Tuhan itu dilakukan pada umumnya di Bait Suci, maka dalam jaman Perjanjian Baru itu dilakukan di gereja!
Jadi kalau dalam Perjanjian Lama persembahan persepuluhan diberikan ke Bait Suci, maka dalam Perjanjian Baru persembahan persepuluhan diberikan ke gereja (yang benar)!


-bersambung-

PRO KONTRA TENTANG PERSEMBAHAN PERSEPULUHAN (10a)

Pemahaman Alkitab

G. K. R. I. ‘GOLGOTA’

(Rungkut Megah Raya, blok D no 16)

Rabu, tgl 19 Agustus 2015, pk 19.00

Pdt. Budi Asali, M. Div.

PRO KONTRA TENTANG

PERSEMBAHAN PERSEPULUHAN (10a)

  

II) Argumentasi-argumentasi yang mendukung tetap berlakunya persembahan persepuluhan.

Jelas bahwa dalam membantah argumentasi-argumentasi tentang sudah tidak berlakunya persembahan persepuluhan dalam jaman Perjanjian Baru, saya sudah memberikan argumentasi-argumentasi bahwa persembahan persepuluhan tetap berlaku pada jaman Perjanjian Baru, tetapi di sini saya masih ingin menambahkan beberapa argumentasi lagi.

1)   Alasan-alasan untuk memberi persembahan persepuluhan dalam Perjanjian Lama tidak berbeda dengan dalam Perjanjian Baru.

Alasan-alasan untuk memberikan persembahan persepuluhan dalam Perjanjian Lama:

a)         Memberi persembahan persepuluhan merupakan suatu pengakuan bahwa:
1.   Tuhan adalah pemilik segala sesuatu.
2.   Semua milik kita merupakan pemberian / berkat dari Tuhan.
3.   Pekerjaan kita bisa berhasil juga karena berkat Tuhan.

Gary North: “Man’s visible token of subordination before God is more than participation in a ritual meal on a holy day once a week. It also has to do with his subordination on the other six days of the week. It has to do with that most tempting of rival religions, the religion of mammon. ‘No man can serve two masters: for either he will hate the one, and love the other; or else he will hold to the one, and despise the other. Ye cannot serve God and mammon’ (Matthew 6:24). ... Then what is man’s judicial token of subordination on the other six days a week? The tithe. ... It is a visible announcement of God’s original ownership, final ownership, and ownership at all points in between. The doctrine of the covenantal tithe begins with an assumption: God owns it all. He has a legal claim on it all. History is the period in which God visibly extends His comprehensive claim of ownership to His legal heir: His son, Jesus Christ. ‘Then cometh the end, when he shall have delivered up the kingdom to God, even the Father; when he shall have put down all rule and all authority and power. For he must reign, till he hath put all enemies under his feet.’ (1 Corinthians 15:24-25) ... Until that day, covenant-keepers have a way to acknowledge God’s comprehensive legal claim on all things: the tithe. This is a legal claim by God, as surely as is His claim of universal ownership. The tithe is a judicially representative payment to God that symbolically announces two things: (1) God’s legal claim on all things; (2) man’s legal claim on everything besides the tithe as God’s delegated agent in history. God gets ten percent of all of man’s net increase as a token (i.e., representative) payment, while man keeps ninety percent as his legal commission from God. This is a very high commission.” [= Tanda ketundukan yang kelihatan dari manusia di hadapan Allah adalah lebih dari partisipasi dalam suatu makanan ritual pada suatu hari kudus sekali seminggu. Itu juga harus berhubungan dengan ketundukannya pada enam hari yang lain dari minggu itu. Itu harus berhubungan dengan agama-agama saingan yang paling menggoda, agama Mammon. ‘Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon’ (Mat 6:24). ... Jadi apa tanda ketundukan yang sah dari manusia pada enam hari yang lain dari satu minggu? Persembahan persepuluhan. ... Itu adalah suatu pengumuman yang terlihat tentang kepemilikan asli / pertama, kepemilikan akhir, dan kepemilikan pada semua titik / hal di antaranya dari Allah. Doktrin tentang persembahan persepuluhan yang bersifat perjanjian mulai dengan suatu anggapan: Allah memiliki semuanya. Ia mempunyai suatu claim / tuntutan yang sah pada semuanya. Sejarah adalah periode dalam mana Allah secara kelihatan memperluas tuntutan kepemilikanNya yang luas / menyeluruh kepada ahli warisNya yang sah: AnakNya, Yesus Kristus. ‘Kemudian tiba kesudahannya, yaitu bilamana Ia menyerahkan Kerajaan kepada Allah Bapa, sesudah Ia membinasakan segala pemerintahan, kekuasaan dan kekuatan. Karena Ia harus memegang pemerintahan sebagai Raja sampai Allah meletakkan semua musuhNya di bawah kakiNya.’ (1Kor 15:24-25) ... Sampai hari itu, pemelihara-pemelihara perjanjian mempunyai suatu cara untuk mengakui claim / tuntutan sah yang luas / menyeluruh dari Allah pada segala sesuatu: persembahan persepuluhan. Ini adalah suatu claim / tuntutan dari Allah, sama pastinya seperti claim / tuntutanNya tentang kepemilikan universal. Persembahan persepuluhan merupakan suatu pemberian secara hukum yang bersifat mewakili kepada Allah yang secara simbolis mengumumkan dua hal: (1) Claim / tuntutan yang sah dari Allah pada segala sesuatu; (2) claim / tuntutan sah dari manusia pada segala sesuatu disamping persembahan persepuluhan sebagai agen yang diutus / mewakili Allah dalam sejarah. Allah mendapatkan sepuluh persen dari semua pertambahan / penghasilan bersih manusia sebagai suatu tanda (yaitu, wakil) pemberian, sedangkan manusia menahan sembilan puluh persen sebagai orang-orang yang diserahi tugas secara sah dari Allah. Ini adalah suatu tugas yang sangat tinggi.] - ‘The Covenantal Tithe’, hal 19-20 (Libronix).

Gary North: “Covenant-breaking men resent this legal claim by God over all things. They believe that they, possibly in conjunction with gods invented by them, possess a legal claim to all creation. ... In God’s covenant, the tithe is a representative payment that acknowledges the existence of a hierarchy in which the Creator God of the Bible is sovereign, man is His delegated agent, and the creation is under man. The payment of the tithe is covenant-keeping man’s acknowledgment before heaven and hell that he honors this covenantal arrangement as God’s covenantal subordinate and also as His agent of dominion. Covenant-breaking men refuse to pay the tithe because they understand that such a payment is a covenantal act of subordination. ... They refuse to pay, thereby announcing to God and man, ‘This wealth is mine.’ They do not acknowledge the truth which Moses announced to Israel: ‘But thou shalt remember the Lord thy God: for it is he that giveth thee power to get wealth, that he may establish his covenant which he sware unto thy fathers, as it is this day’ (Deuteronomy 8:18). Astoundingly, they find that they have allies in this covenantal act of rebellion: Christian theologians. These theologians assure them that in the New Covenant era, no such requirement to pay the tithe exists. It used to exist for Israelites under the Mosaic law, but it no longer is required by God. Men are free to give as much or as little to God as they see fit. Covenant-breaking men are pleased with this message and enthusiastically adopt it as their own. They give God as little as they see fit. When men retain any portion of the tithe to spend as their own, on their own authority, they representatively sit at the forbidden tree and eat. The payment of the tithe is a covenantal act of subordination. It is a Christian’s duty. The vast majority of covenant-keepers do not acknowledge this duty (?). Most of them are deceived, just as Eve was deceived. ... A man may say, ‘I will freely give ninety percent to God and keep only ten percent for myself, but only on these terms: I have the legal right to keep all of it.’ This is an announcement of man’s autonomy. Judicially, he is saying loud and clear that he has full legal control over the tithe. He can lawfully do whatever he wants with all of his money. He has the right to fund any causes he believes in, or none. He has the right to spend it all on toys. The supreme issue, he insists, is not where he spends it but rather his legal right to spend it. This is a legal issue, he says. It is, indeed.” [= Para pelanggar perjanjian benci akan claim yang sah dari Allah atas segala sesuatu ini. Mereka percaya bahwa mereka, mungkin bersama-sama dengan allah-allah / dewa-dewa yang mereka ciptakan / temukan, memiliki suatu claim yang sah terhadap semua ciptaan. ... Dalam perjanjian Allah, persembahan persepuluhan merupakan suatu pemberian yang bersifat wakil yang mengakui keberadaan dari suatu hirarkhi dalam mana Allah sang Pencipta dari Alkitab adalah berdaulat, manusia adalah agen yang mewakiliNya, dan ciptaan ada di bawah manusia. Pemberian persembahan persepuluhan adalah pengakuan orang yang mentaati perjanjian di depan surga dan neraka bahwa ia menghormati pengaturan perjanjian ini sebagai bawahan dalam perjanjian Allah dan juga sebagai agen kekuasaanNya. Para pelanggar perjanjian menolak untuk memberikan persembahan persepuluhan karena mereka mengerti bahwa pemberian seperti itu merupakan suatu tindakan perjanjian dari ketundukan. ... Mereka menolak untuk memberi, dengan itu mengumumkan kepada Allah dan manusia, ‘Kekayaan ini adalah milikku’. Mereka tidak mengakui kebenaran yang Musa umumkan kepada Israel: ‘Tetapi engkau harus mengingat TUHAN Allahmu: karena Ialah yang memberimu kekuatan untuk mendapatkan kekayaan, supaya Ia bisa meneguhkan perjanjianNya yang Ia ikrarkan dengan sumpah kepada nenek moyangmu, seperti sekarang ini’ (Ul 8:18). Secara mengherankan, mereka mendapati bahwa mereka mempunyai sekutu-sekutu dalam tindakan pemberontakan perjanjian ini: ahli-ahli theologia Kristen. Ahli-ahli theologia ini meyakinkan mereka bahwa dalam jaman Perjanjian Baru, tidak ada tuntutan untuk memberi persembahan persepuluhan seperti itu. Dulu itu ada di bawah hukum Taurat Musa, tetapi itu tidak lagi dituntut oleh Allah. Manusia bebas untuk memberi kepada Allah sebanyak atau sesedikit seperti yang mereka anggap cocok. Orang-orang yang melanggar perjanjian senang dengan berita ini dan dengan bersemangat menerimanya sebagai pandangan mereka. Mereka memberi kepada Allah sesedikit seperti yang mereka anggap cocok. Pada waktu orang-orang menahan bagian apapun dari persembahan persepuluhan untuk menghabiskannya seperti milik mereka sendiri, berdasarkan otoritas mereka sendiri, mereka duduk secara mewakili pada pohon terlarang dan makan. Pemberian persembahan persepuluhan merupakan tindakan ketundukan yang bersifat perjanjian. Itu merupakan suatu kewajiban Kristen. Mayoritas yang besar dari pemelihara-pemelihara perjanjian tidak mengakui kewajiban ini (?). Kebanyakan dari mereka ditipu, persis sama seperti Hawa ditipu. ... Seseorang bisa berkata, ‘Aku akan dengan sukarela memberi 90 % kepada Allah dan menahan hanya 10 % untuk diriku sendiri, tetapi hanya dengan syarat ini: Aku mempunyai hak yang sah untuk menahan semuanya’. Ini merupakan suatu pengumuman tentang otonomi manusia. Secara hukum, ia sedang berkata dengan keras dan jelas bahwa ia mempunyai kendali sah yang penuh atas persembahan persepuluhan. Ia bisa secara sah melakukan apapun yang ia inginkan dengan semua uang itu. Ia mempunyai hak untuk mendanai perkara apapun yang ia percayai, atau tidak mendanai perkara apapun. Ia mempunyai hak untuk menghabiskannya semua untuk mainan. Ia berkeras bahwa persoalan yang tertinggi bukanlah dimana ia menghabiskannya tetapi haknya yang sah untuk menghabiskannya. Ini adalah suatu persoalan hukum, katanya. Itu memang adalah persoalan hukum.] - ‘The Covenantal Tithe’, hal 21-22 (Libronix).
Catatan:
a.   Kalimat yang saya beri tanda tanya, kelihatannya salah cetak / tulis. Rasanya yang dimaksudkan bukan ‘pemelihara-pemelihara perjanjian’ tetapi ‘pelanggar-pelanggar perjanjian’.
b.   Tidak seluruh kutipan ini saya setujui. Banyak orang menolak untuk memberikan persembahan persepuluhan tanpa memikirkan apapun tentang perjanjian yang dibicarakan oleh penulis ini. Juga tak semua ahli theologia anti persembahan persepuluhan. Orang juga tak akan mau memberi 90 % dengan syarat yang ia katakan. Tetapi point yang ia maksudkan adalah sangat jelas: orang yang tak mau memberi persembahan persepuluhan menganggap semua uang / penghasilannya adalah haknya sendiri, dan karena itu ia tak perlu memberi kepada Allah.

Ul 8:1-18 - “(1) ‘Segenap perintah, yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, haruslah kamu lakukan dengan setia, supaya kamu hidup dan bertambah banyak dan kamu memasuki serta menduduki negeri yang dijanjikan TUHAN dengan sumpah kepada nenek moyangmu. (2) Ingatlah kepada seluruh perjalanan yang kaulakukan atas kehendak TUHAN, Allahmu, di padang gurun selama empat puluh tahun ini dengan maksud merendahkan hatimu dan mencobai engkau untuk mengetahui apa yang ada dalam hatimu, yakni, apakah engkau berpegang pada perintahNya atau tidak. (3) Jadi Ia merendahkan hatimu, membiarkan engkau lapar dan memberi engkau makan manna, yang tidak kaukenal dan yang juga tidak dikenal oleh nenek moyangmu, untuk membuat engkau mengerti, bahwa manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi manusia hidup dari segala yang diucapkan TUHAN. (4) Pakaianmu tidaklah menjadi buruk di tubuhmu dan kakimu tidaklah menjadi bengkak selama empat puluh tahun ini. (5) Maka haruslah engkau insaf, bahwa TUHAN, Allahmu, mengajari engkau seperti seseorang mengajari anaknya. (6) Oleh sebab itu haruslah engkau berpegang pada perintah TUHAN, Allahmu, dengan hidup menurut jalan yang ditunjukkanNya dan dengan takut akan Dia. (7) Sebab TUHAN, Allahmu, membawa engkau masuk ke dalam negeri yang baik, suatu negeri dengan sungai, mata air dan danau, yang keluar dari lembah-lembah dan gunung-gunung; (8) suatu negeri dengan gandum dan jelainya, dengan pohon anggur, pohon ara dan pohon delimanya; suatu negeri dengan pohon zaitun dan madunya; (9) suatu negeri, di mana engkau akan makan roti dengan tidak usah berhemat, di mana engkau tidak akan kekurangan apapun; suatu negeri, yang batunya mengandung besi dan dari gunungnya akan kaugali tembaga. (10) Dan engkau akan makan dan akan kenyang, maka engkau akan memuji TUHAN, Allahmu, karena negeri yang baik yang diberikanNya kepadamu itu. (11) Hati-hatilah, supaya jangan engkau melupakan TUHAN, Allahmu, dengan tidak berpegang pada perintah, peraturan dan ketetapanNya, yang kusampaikan kepadamu pada hari ini; (12) dan supaya, apabila engkau sudah makan dan kenyang, mendirikan rumah-rumah yang baik serta mendiaminya, (13) dan apabila lembu sapimu dan kambing dombamu bertambah banyak dan emas serta perakmu bertambah banyak, dan segala yang ada padamu bertambah banyak, (14) jangan engkau tinggi hati, sehingga engkau melupakan TUHAN, Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari rumah perbudakan, (15) dan yang memimpin engkau melalui padang gurun yang besar dan dahsyat itu, dengan ular-ular yang ganas serta kalajengkingnya dan tanahnya yang gersang, yang tidak ada air. Dia yang membuat air keluar bagimu dari gunung batu yang keras, (16) dan yang di padang gurun memberi engkau makan manna, yang tidak dikenal oleh nenek moyangmu, supaya direndahkanNya hatimu dan dicobaiNya engkau, hanya untuk berbuat baik kepadamu akhirnya. (17) Maka janganlah kaukatakan dalam hatimu: Kekuasaanku dan kekuatan tangankulah yang membuat aku memperoleh kekayaan ini. (18) Tetapi haruslah engkau ingat kepada TUHAN, Allahmu, sebab Dialah yang memberikan kepadamu kekuatan untuk memperoleh kekayaan, dengan maksud meneguhkan perjanjian yang diikrarkanNya dengan sumpah kepada nenek moyangmu, seperti sekarang ini.”.

Tentang Ul 8:17, Calvin berkata bahwa dasar terutama dari kesombongan adalah bahwa orang-orang menganggap kalau mereka mendapatkan kekayaan karena diri mereka sendiri (kerajinan, kepandaian mereka dsb). Allah memang menghendaki kita bekerja, tetapi hukum dalam persoalan rohani berlaku juga dalam persoalan jasmani.
1Kor 3:5-7 - “(5) Jadi, apakah Apolos? Apakah Paulus? Pelayan-pelayan Tuhan yang olehnya kamu menjadi percaya, masing-masing menurut jalan yang diberikan Tuhan kepadanya. (6) Aku menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan. (7) Karena itu yang penting bukanlah yang menanam atau yang menyiram, melainkan Allah yang memberi pertumbuhan.”.

Calvin (tentang Ul 8:17): “17. ‘And thou say in, thy heart.’ He describes that kind of pride of which we have lately spoken, viz., when men attribute to their own industry, or labor, or foresight, what they ought to refer to the blessing of God. It has indeed been said, that our hearts are uplifted in other ways also; but this is the principal ground of pride, to assume and assign to ourselves what belongs to God. For nothing so greatly confines us within the boundaries of humility and modesty as the acknowledgment of God’s grace; for it is madness and temerity to raise our crests against Him on whom we depend, and to whom we owe ourselves and all we possess. Rightly, then, does Moses reprove the pride of the human heart which arises from forgetfulness of God, if they think that they have gained by their own exertions (marte suo) what God has given them of His own pleasure, in order to lay them under obligation to Himself. ‘To say in the heart,’ is a Hebraism for thinking in one’s self, or reflecting in one’s self. He does not, therefore, only require the outward expression of the lips, whereby men profess that they are grateful to God’s bounty, (for in this there is often nothing more than hypocrisy and vanity;) but he would have them seriously persuaded that whatever they possess is derived from His sheer beneficence. He has already said, that although when they entered the land they would be fed with bread and other foods, still the manna wherewith God had supported them in the wilderness would be a perpetual proof that man is not sustained by bread only, but by the secret virtue of God, which inspires the principle of life. Another lesson is now added, viz., that because God formerly fed and clothed them gratuitously, and without any act of their own, they thence are taught that, even whilst they strenuously labor and strive, whatever they acquire is not so much the reward of their own industry as the fruit of God’s blessing. For he not only affirms that at their first entrance into the land they were enriched, because God dealt with them liberally, but He extends this to the whole course of human life, that men obtain nothing by their own vigilance and diligence, except in so far as God blesses them from above. And this he more fully explains immediately afterwards, where he commands them to remember therefore that ‘it is God who giveth them power,’ etc. For although God would not have us slumber in inactivity, yet what Paul says of the preaching of the Gospel, holds good also in the most trifling matters, viz., that ‘neither is he that planteth anything, neither he that watereth,’ but all things are in the power of God, by whose only influence it is that the earth brings forth fruit. (1 Corinthians 3:7.) We must then recollect that although God reproves man’s slothfulness, and punishes it with want and hunger, still they who are active in labor do not get wealth by their own diligence, but by the blessing of God alone. On this doctrine the prayer which Christ dictated to us is founded, in which we ask to have our daily bread given us. But although this relates alike to all mankind, yet Moses appropriates it especially to God’s chosen people, in whom God’s blessing shines forth most brightly, and at the same time admonishes them that the fact of His supplying them with food depends on the covenant whereby He adopted the race of Abraham to Himself.”.

A. W. Pink: “In the next place we wish to suggest a few reasons why God has appointed tithing. In the first place, as a constant recognition of the Creator’s rights. As our Maker He desires that we should honor Him with one-tenth of our income. In other words, the tenth is the recognition of His temporal mercies and the owning that He is the Giver of them. It is the acknowledgment that temporal blessings come from Him and are held in trust for Him.” [= Selanjutnya kami ingin mengusulkan beberapa alasan mengapa Allah telah menetapkan persembahan persepuluhan. Di tempat pertama, sebagai suatu pengakuan konstan tentang hak-hak sang Pencipta. Sebagai Pencipta kita Ia ingin bahwa kita menghormati Dia dengan sepersepuluh dari penghasilan kita. Dengan kata lain, sepersepuluh (persembahan persepuluhan) merupakan pengakuan tentang berkat-berkatNya yang bersifat sementara dan pengakuan bahwa Ia adalah Pemberi dari berkat-berkat itu. Itu merupakan pengakuan bahwa berkat-berkat sementara datang dari Dia dan merupakan milikNya yang kita pegang / dipercayakan kepada kita.] - ‘Tithing’, hal 13-14 (AGES).

Ada beberapa text yang ingin saya bahas sehubungan dengan hal ini:

1.   Im 27:30-33 - “(30) Demikian juga segala persembahan persepuluhan dari tanah, baik dari hasil benih di tanah maupun dari buah pohon-pohonan, adalah milik TUHAN; itulah persembahan kudus bagi TUHAN. (31) Tetapi jikalau seseorang mau menebus juga sebagian dari persembahan persepuluhannya itu, maka ia harus menambah seperlima. (32) Mengenai segala persembahan persepuluhan dari lembu sapi atau kambing domba, maka dari segala yang lewat dari bawah tongkat gembala waktu dihitung, setiap yang kesepuluh harus menjadi persembahan kudus bagi TUHAN. (33) Janganlah dipilih-pilih mana yang baik dan mana yang buruk, dan janganlah ditukar; jikalau orang menukarnya juga, maka baik hewan itu maupun tukarnya haruslah kudus dan tidak boleh ditebus.’”.

Matthew Henry (tentang Im 27:30,32): “It is here appointed, 1. That they should pay tithe of all their increase, their corn, trees, and cattle, v. 30,32. Whatsoever productions they had the benefit of God must be honoured with the tithe of, if it were titheable. Thus they acknowledged God to be the owner of their land, the giver of its fruits, and themselves to be his tenants, and dependents upon him. Thus they gave him thanks for the plenty they enjoyed, and supplicated his favour in the continuance of it. And we are taught in general to honour the Lord with our substance (Prov 3:9), ... And how this may be done in a fitter and more equal proportion than that of the tenth, which God himself appointed of old, I cannot see.” [= Di sini ditetapkan, 1. Bahwa mereka harus memberikan persembahan persepuluhan dari semua pertambahan / keuntungan mereka, jagung / gandum, pohon-pohon, dan ternak mereka, ay 30,32. Produksi / hasil apapun yang mereka dapatkan keuntungan dari Allah harus dihormati dengan persembahan persepuluhan darinya, jika itu bisa diberi persembahan persepuluhannya. Demikianlah mereka mengakui Allah sebagai pemilik tanah mereka, pemberi dari buah-buahnya, dan mereka sendiri sebagai penyewaNya, dan tergantung kepadaNya. Demikianlah mereka bersyukur kepadaNya untuk kelimpahan yang mereka nikmati, dan memohon kebaikanNya dalam kelanjutan darinya. Dan kita diajar secara umum untuk menghormati Tuhan dengan harta kita (Amsal 3:9), ... Dan bagaimana ini bisa dilakukan dengan proporsi yang lebih cocok dan lebih adil / sesuai dari pada sepersepuluhnya, yang Allah sendiri tetapkan dari jaman dulu, saya tidak bisa melihat.].
Amsal 3:9 - “Muliakanlah TUHAN dengan hartamu dan dengan hasil pertama dari segala penghasilanmu,”.
KJV/RSV/NIV/NASB: ‘Honor’ [= Hormatilah].

Calvin (tentang Im 27:30): “30. ‘And all the tithe of the land.’ In these words God shews that in assigning the tithes to the Levites, He ceded His own rights, inasmuch as they were a kind of royal revenue; and thus He bars all complaint, since otherwise the other tribes might have murmured on being unduly burdened. He therefore appoints the priests as His receivers, to collect in His name what could not be refused without impious and sacrilegious fraudulency.” [= 30. ‘Dan semua persembahan persepuluhan dari tanah’. Dalam kata-kata ini Allah menunjukkan bahwa dalam memberikan persembahan persepuluhan kepada orang-orang Lewi, Ia menyerahkan hakNya sendiri, karena mereka adalah sejenis pajak kerajaan; dan demikianlah Ia mencegah semua keluhan, karena kalau tidak suku-suku yang lain bisa telah bersungut-sungut karena dibebani secara berlebihan / dengan cara yang tidak pantas. Karena itu Ia menetapkan imam-imam sebagai penerima-penerimaNya, mengumpulkan dalam namaNya apa yang tidak bisa ditolak tanpa penipuan yang jahat / tidak hormat dan bersifat melanggar hal-hal yang keramat.] - hal 281.

Gary W. Demarest (tentang Im 27:30-33): “Too often, I’m afraid, the tithe is presented as though only the first 10 percent belonged to God. Not so. Giving the first 10 percent is our way of expressing our conviction that everything belongs to God. Anything less must still be seen as robbing God.” [= Terlalu sering, saya takut / kuatir, persembahan persepuluhan diberikan seakan-akan hanya 10 persen pertama adalah milik Allah. Tidak demikian. Memberikan 10 persen pertama adalah cara kita menyatakan keyakinan kita bahwa segala sesuatu adalah milik Allah. Apapun yang kurang dari itu harus tetap dipandang sebagai merampok Allah.] - ‘Leviticus’ (The Preacher’s Commentary) - Libronix.

R. K. Harrison (tentang Im 27:30-31): “The tithe, comprising one-tenth of all the produce, is regarded as the offering due from the people to the true owner of the land (Lev. 25:23).” [= Persembahan persepuluhan, terdiri dari sepersepuluh dari semua hasil / produksi, dianggap sebagai persembahan yang seharusnya dari bangsa itu kepada pemilik sebenarnya dari tanah / negeri itu (Im 25:23).] - ‘Leviticus’ (Tyndale Old Testament Commentary) - Libronix.
Im 25:23 - “‘Tanah jangan dijual mutlak, karena Akulah pemilik tanah itu, sedang kamu adalah orang asing dan pendatang bagiKu.”.

Apakah hanya tanah Kanaan yang adalah milik Tuhan, dan apakah hanya Israel yang diberi tanah oleh Tuhan? Sebagai jawaban, baca ayat di bawah ini.
Maz 24:1 - “[Mazmur Daud.] Tuhanlah yang empunya bumi serta segala isinya, dan dunia serta yang diam di dalamnya.”.
Bdk. 1Kor 10:26 - “Karena: ‘bumi serta segala isinya adalah milik Tuhan.’”.
Menurut saya ayat ini penting dalam persoalan ini. Banyak orang yang anti persembahan persepuluhan mengatakan bahwa persembahan persepuluhan hanya diwajibkan untuk bangsa Israel saja, karena tanah Kanaan diberikan kepada mereka oleh Tuhan. Tetapi ayat ini mengatakan Tuhan adalah pemilik seluruh bumi / dunia!!! Jadi, siapapun kita (Israel atau bukan), dan dimanapun kita berada, dan tanah dan rumah apapun yang kita diami, itu adalah milik Tuhan, yang dipinjamkan kepada kita!! Jadi, apa alasannya untuk mengatakan bahwa persembahan persepuluhan hanya diwajibkan untuk Israel yang diberi tanah Kanaan???
Dan ingat satu hal lagi, ayat ini tidak hanya mengatakan bahwa bumi adalah milik Tuhan, tetapi juga segala isinya!!! Jadi, apapun yang kita dapatkan pada waktu kita bekerja, juga merupakan pemberian Tuhan!! Semua keberhasilan dalam pekerjaan, dan dalam hal apapun, diberikan oleh Tuhan! Ini berlaku bagi bangsa Israel dalam Perjanjian Lama, dan ini berlaku juga bagi siapapun dalam jaman manapun.

2.   Kej 14:20 - “dan terpujilah Allah Yang Mahatinggi, yang telah menyerahkan musuhmu ke tanganmu.’ Lalu Abram memberikan kepadanya sepersepuluh dari semuanya.”.

John Owen: “And the tenth which he gave was only of the spoils that he took from the enemies, as a token and pledge in particular that the victory and success which he had against the kings was from God.” [= Dan persembahan persepuluhan yang ia berikan hanyalah dari barang-barang rampasan yang ia ambil dari musuh-musuh, sebagai suatu tanda secara khusus bahwa kemenangan dan sukses yang ia dapatkan terhadap raja-raja itu adalah dari Allah.] - ‘Hebrews’, vol 7, hal 38 (AGES) / buku, vol 5, hal 321.

Matthew Henry (tentang Kej 14:20): “IV. What was done to him: ‘Abram gave him tithes of all,’ that is, of the spoils, Heb 7:4. This may be looked upon, 1. As a gratuity presented to Melchizedek, by way of return for his tokens of respect. Note, Those that receive kindness should show kindness. Gratitude is one of nature’s laws. 2. As an offering vowed and dedicated to the most high God, and therefore put into the hands of Melchizedek his priest. Note, (1.) When we have received some signal mercy from God, it is very fit that we should express our thankfulness by some special act of pious charity. God must always have his dues out of our substance, especially when, by any particular providence, he has either preserved or increased it to us. (2.) That the tenth of our increase is a very fit proportion to be set apart for the honour of God and the service of his sanctuary. (3.) That Jesus Christ, our great Melchizedek, is to have homage done him, and to be humbly acknowledged by every one of us as our king and priest; and not only the tithe of all, but all we have, must be surrendered and given up to him.” [= IV. Apa yang telah dilakukan kepadanya: ‘Abram memberinya persembahan persepuluhan dari semuanya’, yaitu, dari rampasan perang, Ibr 7:4. Ini bisa dipandang sebagai, 1. Sebagai suatu pemberian sukarela kepada Melkisedek, dengan membalas tanda-tanda penghormatannya. Perhatikan, Mereka yang menerima kebaikan harus menunjukkan kebaikan. Rasa terima kasih adalah salah satu dari hukum-hukum alamiah. 2. Sebagai suatu persembahan yang dinazarkan dan didedikasikan kepada Allah yang maha tinggi, dan karena itu diberikan ke dalam tangan dari Melkisedek, imamNya. Perhatikan, (1.) Pada waktu kita telah menerima beberapa tanda belas kasihan dari Allah, adalah sangat cocok bahwa kita harus menyatakan rasa terima kasih kita oleh beberapa tindakan khusus dari kasih / pemberian yang saleh. Allah harus selalu mendapatkan hakNya dari harta kita, khususnya pada waktu, oleh providensia khusus apapun, Ia telah memelihara / menjaga atau meningkatkannya bagi kita. (2.) Bahwa sepersepuluh dari pertambahan / penghasilan kita adalah suatu proporsi / bagian yang sangat cocok untuk dipisahkan bagi kehormatan dari Allah dan pelayanan dari tempat kudusNya. (3.) Bahwa Yesus Kristus, Melkisedek kita yang Agung, harus mendapatkan penghormatan yang dilakukan kepadaNya, dan diakui dengan rendah hati oleh setiap orang dari kita sebagai Raja dan Imam kita; dan bukan hanya persembahan persepuluhan dari semua, tetapi semua milik kita, harus diserahkan dan diberikan kepadaNya.].
Catatan: kalimat yang terakhir dari kutipan di atas ini tentu tidak berarti semua milik kita harus diberikan kepada Tuhan melalui gereja, tetapi bagaimanapun, semua harta kita memang harus dipergunakan untuk kemuliaan Tuhan.

The Bible Exposition Commentary (tentang Kej 14:20): “Gen 14:20 is the first mention of tithing in the Bible. To tithe is to give God 10 percent, whether of money, farm produce, or animals. (The Hebrew word means ‘ten.’) When we tithe, we acknowledge that God owns everything and that we are grateful stewards of His wealth. The Jews paid an annual tithe to the Lord (Lev 27:30-33) as well as a tithe every third year especially for the poor (Deut 26:12-15). They could also tithe the remaining 90 percent for a special ‘festive offering’ to be enjoyed in Jerusalem (Deut 12:5-19). The practice of tithing antedated the Law of Moses; for not only did Abraham tithe, but so did Jacob (Gen 28:22). For this reason, many Christians believe that God’s people today should begin their giving with the tithe. A godly deacon said to me once, ‘If the Old Testament Jew under Law could tithe, how much more ought New Testament Christians under grace!’ The New Testament plan for giving is outlined in 2 Cor 8-9, but tithing is a good place to start. We must be careful to give out of the devotion of our hearts, and not as a ‘bribe’ for God’s blessings. The late R. G. LeTourneau, well-known Christian manufacturer and philanthropist, used to say, ‘If you tithe because it pays - it won’t pay!’ But Abraham provides us with a good example of giving. He brought his gifts to Jesus Christ in the person of Melchizedek. (See Heb 7:1-10.) We do not give our tithes and offerings to the church, the pastor, or the members of the finance committee. If our giving is a true act of worship, we will give to the Lord; and, for that reason, we want to give our very best (Mal 1:6-8).” [= Kej 14:20 adalah penyebutan pertama tentang persembahan persepuluhan dalam Alkitab. Memberi persembahan persepuluhan adalah memberi Allah 10 persen, apakah dari uang, hasil pertanian, atau binatang. (kata Ibraninya berarti ‘sepuluh’.) Pada waktu kita memberi persembahan persepuluhan, kita mengakui bahwa Allah memiliki segala sesuatu dan bahwa kita adalah pengurus yang berterima kasih tentang kekayaanNya. Orang-orang Yahudi memberi persembahan persepuluhan tahunan kepada Tuhan (Im 27:30-33) maupun suatu persembahan persepuluhan setiap tiga tahun khususnya untuk orang-orang miskin (Ul 26:12-15). Mereka juga bisa memberi persembahan persepuluhan dari sisa yang 90 persen untuk ‘persembahan pesta / hari raya’ khusus untuk dinikmati di Yerusalem (Ul 12:5-19). Praktek memberi persembahan persepuluhan terjadi lebih dulu dari hukum Taurat Musa; karena bukan hanya Abraham memberi persembahan persepuluhan, tetapi demikian juga dengan Yakub (Kej 28:22). Untuk alasan ini, banyak orang Kristen percaya bahwa umat Allah pada jaman sekarang harus memulai pemberian mereka dengan persembahan persepuluhan. Seorang diaken yang saleh pernah berkata kepada saya, ‘Jika orang-orang Yahudi Perjanjian Lama di bawah hukum Taurat bisa memberi persembahan persepuluhan, betapa lebih seharusnya orang-orang Kristen Perjanjian Baru di bawah kasih karunia!’ Metode / pengaturan Perjanjian Baru untuk memberi diuraikan dalam 2Kor 8-9, tetapi memberi persembahan persepuluhan merupakan suatu tempat yang baik untuk mulai. Kita harus hati-hati untuk memberi dari pembaktian hati kita, dan bukan sebagai suatu ‘suap / sogokan’ untuk berkat Allah. Almarhum R. G. LeTourneau, pengusaha pabrik dan dermawan Kristen yang terkenal, pernah mengatakan, ‘Jika engkau memberikan persembahan persepuluhan karena itu berguna / memberi hasil - itu tidak akan berguna / memberi hasil!’ Tetapi Abraham menyediakan bagi kita suatu teladan yang baik tentang memberi. Ia membawa pemberiannya kepada Yesus Kristus dalam diri Melkisedek. (Lihat Ibr 7:1-10). Kita tidak memberi persembahan persepuluhan dan persembahan kita kepada gereja, pendeta, atau anggota-anggota dari komisi keuangan. Jika pemberian kita adalah tindakan yang benar dari penyembahan, kita akan memberi kepada Tuhan; dan, untuk alasan itu, kita ingin memberikan milik kita yang terbaik (Mal 1:6-8).].
Catatan: saya tak setuju kalau 2Kor 8-9 memberi penguraian tentang persembahan dalam Perjanjian Baru, karena 2Kor 8-9 merupakan pemberian orang Kristen kepada orang Kristen lain yang miskin, bukan pemberian kepada gereja / Tuhan. Ini sudah saya jelaskan di depan, dan tak perlu saya ulangi.

Ul 12:5-19 - “(5) Tetapi tempat yang akan dipilih TUHAN, Allahmu, dari segala sukumu sebagai kediamanNya untuk menegakkan namaNya di sana, tempat itulah harus kamu cari dan ke sanalah harus kamu pergi. (6) Ke sanalah harus kamu bawa korban bakaran dan korban sembelihanmu, persembahan persepuluhanmu dan persembahan khususmu, korban nazarmu dan korban sukarelamu, anak-anak sulung lembu sapimu dan kambing dombamu. (7) Di sanalah kamu makan di hadapan TUHAN, Allahmu, dan bersukaria, kamu dan seisi rumahmu, karena dalam segala usahamu engkau diberkati oleh TUHAN, Allahmu. (8) Jangan kamu melakukan apapun yang kita lakukan di sini sekarang, yakni masing-masing berbuat segala sesuatu yang dipandangnya benar. (9) Sebab hingga sekarang kamu belum sampai ke tempat perhentian dan ke milik pusaka yang diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu. (10) Tetapi apabila nanti sudah kamu seberangi sungai Yordan dan kamu diam di negeri yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu untuk dimiliki, dan apabila Ia mengaruniakan kepadamu keamanan dari segala musuhmu di sekelilingmu, dan kamu diam dengan tenteram, (11) maka ke tempat yang dipilih TUHAN, Allahmu, untuk membuat namaNya diam di sana, haruslah kamu bawa semuanya yang kuperintahkan kepadamu, yakni korban bakaran dan korban sembelihanmu, persembahan persepuluhanmu dan persembahan khususmu dan segala korban nazarmu yang terpilih, yang kamu nazarkan kepada TUHAN. (12) Kamu harus bersukaria di hadapan TUHAN, Allahmu, kamu ini, anakmu laki-laki dan anakmu perempuan, hambamu laki-laki dan hambamu perempuan, dan orang Lewi yang di dalam tempatmu, sebab orang Lewi tidak mendapat bagian milik pusaka bersama-sama kamu. (13) Hati-hatilah, supaya jangan engkau mempersembahkan korban-korban bakaranmu di sembarang tempat yang kaulihat; (14) tetapi di tempat yang akan dipilih TUHAN di daerah salah satu sukumu, di sanalah harus kaupersembahkan korban bakaranmu, dan di sanalah harus kaulakukan segala yang kuperintahkan kepadamu. (15) Tetapi engkau boleh menyembelih dan memakan daging sesuka hatimu, sesuai dengan berkat TUHAN, Allahmu, yang diberikanNya kepadamu di segala tempatmu. Orang najis ataupun orang tahir boleh memakannya, seperti juga daging kijang atau daging rusa; (16) hanya darahnya janganlah kaumakan, tetapi harus kaucurahkan ke bumi seperti air. (17) Di dalam tempatmu tidak boleh kaumakan persembahan persepuluhan dari gandummu, dari anggurmu dan minyakmu, ataupun dari anak-anak sulung lembu sapimu dan kambing dombamu, ataupun sesuatu dari korban yang akan kaunazarkan, ataupun dari korban sukarelamu, ataupun persembahan khususmu. (18) Tetapi di hadapan TUHAN, Allahmu, haruslah engkau memakannya, di tempat yang akan dipilih TUHAN, Allahmu, engkau ini, anakmu laki-laki dan anakmu perempuan, hambamu laki-laki dan hambamu perempuan, dan orang Lewi yang di dalam tempatmu, dan haruslah engkau bersukaria di hadapan TUHAN, Allahmu, karena segala usahamu. (19) Hati-hatilah, supaya jangan engkau melalaikan orang Lewi, selama engkau ada di tanahmu.”.

Ul 14:22-26 - “(22) ‘Haruslah engkau benar-benar mempersembahkan sepersepuluh dari seluruh hasil benih yang tumbuh di ladangmu, tahun demi tahun. (23) Di hadapan TUHAN, Allahmu, di tempat yang akan dipilihNya untuk membuat namaNya diam di sana, haruslah engkau memakan persembahan persepuluhan dari gandummu, dari anggurmu dan minyakmu, ataupun dari anak-anak sulung lembu sapimu dan kambing dombamu, supaya engkau belajar untuk selalu takut akan TUHAN, Allahmu. (24) Apabila, dalam hal engkau diberkati TUHAN, Allahmu, jalan itu terlalu jauh bagimu, sehingga engkau tidak dapat mengangkutnya, karena tempat yang akan dipilih TUHAN untuk menegakkan namaNya di sana terlalu jauh dari tempatmu, (25) maka haruslah engkau menguangkannya dan membawa uang itu dalam bungkusan dan pergi ke tempat yang akan dipilih TUHAN, Allahmu, (26) dan haruslah engkau membelanjakan uang itu untuk segala yang disukai hatimu, untuk lembu sapi atau kambing domba, untuk anggur atau minuman yang memabukkan, atau apapun yang diingini hatimu, dan haruslah engkau makan di sana di hadapan TUHAN, Allahmu dan bersukaria, engkau dan seisi rumahmu.”.

3.   Kej 28:20-22 - “(20) Lalu bernazarlah Yakub: ‘Jika Allah akan menyertai dan akan melindungi aku di jalan yang kutempuh ini, memberikan kepadaku roti untuk dimakan dan pakaian untuk dipakai, (21) sehingga aku selamat kembali ke rumah ayahku, maka TUHAN akan menjadi Allahku. (22) Dan batu yang kudirikan sebagai tugu ini akan menjadi rumah Allah. Dari segala sesuatu yang Engkau berikan kepadaku akan selalu kupersembahkan sepersepuluh kepadaMu.’”.
Catatan:
a.   Ada beberapa penafsir yang mengatakan bahwa kata ‘jika’ itu lebih tepat diterjemahkan ‘karena’. Tetapi KJV/RSV/NIV/NASB/NKJV/ASV semua menterjemahkan ‘if’ [= jika].
b.   Kata ‘selalu’ yang saya coret itu sebetulnya tidak ada.

Bible Knowledge Commentary (tentang Kej 28:22): “To give a tithe was an act whereby a person acknowledged that everything he had belonged to God. Faith outwardly recognizes this fact in token form.” [= Memberi persembahan persepuluhan merupakan suatu tindakan dengan mana seseorang mengakui bahwa segala sesuatu yang ia miliki adalah milik Allah. Iman secara lahiriah mengakui fakta ini dalam bentuk tanda lahiriah.].

A. W. Pink: “THE TITHE IN GENESIS 28:19-22. We will begin at verse 19 to get the context: ‘And he called the name of that place Bethel.’ You remember the circumstances. This was the night when Jacob was fleeing from Esau, a fugitive from home, starting out to Laban’s; and that night while he was asleep he had the vision. ‘And Jacob vowed a vow, saying, If God will be with me, and will keep me in the way that I go, and will give me bread to eat, and raiment to put on, so that I come again to my father’s house in peace; then shall the Lord be my God: and this stone, which I have set for a pillar, shall be God’s house: and of all that Thou shalt give me I will surely give the tenth unto Thee.’ Here again we have the tithe. Jacob vowed that in return for the Lord’s temporal blessings upon him, he would render a tenth in return unto the Lord. We are not told why he selected that percentage; we are not told why he should give a tenth; but the fact that he did determine so to do, intimates there had previously been a revelation of God’s mind to His creatures, and particularly to His people, that one-tenth of their income should be devoted to the Giver of all.” [= Persembahan persepuluhan dalam Kej 28:19-22. Kita akan mulai pada ay 19 untuk mendapatkan kontextnya: ‘Dan ia menamai tempat itu Betel’. Kamu mengingat sikonnya. Ini adalah malam pada waktu Yakub sedang lari dari Esau, seorang buronan / pelarian dari rumah. ‘Lalu bernazarlah Yakub: Jika Allah akan menyertai dan akan melindungi aku di jalan yang kutempuh ini, memberikan kepadaku roti untuk dimakan dan pakaian untuk dipakai, sehingga aku selamat kembali ke rumah ayahku, maka TUHAN akan menjadi Allahku. Dan batu yang kudirikan sebagai tugu ini akan menjadi rumah Allah. Dari segala sesuatu yang Engkau berikan kepadaku akan kupersembahkan sepersepuluh kepadaMu’. Di sini kita mendapati persembahan persepuluhan lagi. Yakub bernazar bahwa untuk membalas berkat-berkat sementara dari Tuhan kepadanya, ia akan memberikan sepersepuluh sebagai balasan kepada Tuhan. Kita tidak diberitahu mengapa ia memilih persentase itu; kita tidak diberitahu mengapa ia harus memberi sepersepuluh; tetapi fakta bahwa ia memang menentukan begitu untuk dilakukan, menunjukkan di sana telah ada sebelumnya suatu wahyu / penyataan tentang pikiran Allah bagi makhluk-makhluk ciptaanNya, dan secara khusus bagi umatNya, bahwa sepersepuluh dari penghasilan mereka harus diberikan / didedikasikan kepada sang Pemberi dari semua.] - ‘Thiting’, hal 4 (AGES).

Matthew Henry (tentang Kej 28:22): “Probably it was according to some general instructions received from heaven that Abraham and Jacob offered the tenth of their acquisitions to God.” [= Mungkin itu sesuai dengan beberapa instruksi umum yang diterima dari surga sehingga Abraham dan Yakub memberikan sepersepuluh dari apa yang mereka dapatkan kepada Allah.].

Dulu saya menganggap bahwa Abraham dan Yakub memberi persembahan persepuluhan secara sukarela. Tetapi setelah mempelajari dari banyak penafsir, saya sangat condong bahwa mereka memberi persembahan persepuluhan karena ada perintah dari Tuhan. Alasan saya:
a.   Mengapa bilangan 10 % bisa sama dalam kedua kasus itu? Saya tidak percaya pada ‘kebetulan’.
b.   Abraham memberi persembahan persepuluhan kepada Melkisedek, yang menjadi TYPE dari Kristus, sehingga sekarang kita memberi persembahan persepuluhan kepada anti TYPEnya, yaitu kepada Kristus sendiri. Ini lagi-lagi tidak mungkin sekedar merupakan suatu kebetulan.

Jadi, dalam jaman Perjanjian Lama memberi persembahan persepuluhan merupakan suatu pengakuan bahwa:
1.         Tuhan adalah pemilik segala sesuatu.
2.         Semua milik kita merupakan pemberian / berkat dari Tuhan.
3.         Pekerjaan kita bisa berhasil juga karena berkat Tuhan.

Sekarang, apakah dalam jaman Perjanjian Baru, 3 hal di atas ini berubah? Pasti tidak! Kalau demikian, ini juga harus menjadi alasan untuk memberikan persembahan persepuluhan dalam jaman Perjanjian Baru.


-bersambung-