About us

Golgotha Ministry adalah pelayanan dari Pdt. Budi Asali,M.Div dibawah naungan GKRI Golgota Surabaya untuk memberitakan Injil ke seluruh dunia dan mengajarkan kebenaran firman Tuhan melalui khotbah-khotbah, pendalaman Alkitab, perkuliahan theologia dalam bentuk tulisan maupun multimedia (DVD video, MP3, dll). Pelayanan kami ini adalah bertujuan agar banyak orang mengenal kebenaran; dan bagi mereka yang belum percaya, menjadi percaya kepada Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadinya, dan bagi mereka yang sudah percaya, dikuatkan dan didewasakan didalam iman kepada Kristus.
Semua yang kami lakukan ini adalah semata-mata untuk kemuliaan nama Tuhan Yesus Kristus.

Kami mengundang dengan hangat setiap orang yang merasa diberkati dan terbeban didalam pelayanan untuk bergabung bersama kami di GKRI Golgota yang beralamat di : Jl. Raya Kalirungkut, Pertokoan Rungkut Megah Raya D-16, Surabaya.

Tuhan Yesus memberkati.

Jumat, 29 November 2019

KRISTOLOGI (6)

GOLGOTHA SCHOOL OF MINISTRY

(Rungkut Megah Raya Blok D No 16)
Rabu, tgl 10 Juli 2019, pk 19.00
PDT. BUDI ASALI, M. DIV.

KRISTOLOGI (6)


5) Akibat adanya 2 hakekat dalam pribadi Yesus Kristus ini maka:

a) Kristus mempunyai 2 macam kesadaran, yaitu ilahi dan manusia.
Kadang-kadang Ia berpikir dan merasa sebagai Allah, dan kadang-kadang sebagai manusia.

Saya mengutip ulang kata-kata William G. T. Shedd yang sudah saya kutip di atas.

William G. T. Shedd“Previous to the assumption of a human nature, the Logos could not experience a human feeling because he had no human heart, but after the assumption he could; previous to the incarnation, he could not have a finite perception because he had no finite intellect, but after this event he could; ... The unincarnate Logos could think and feel only like God; he had only one form of consciousness. The incarnate Logos can think and feel either like God, or like man; he has two modes or forms of consciousness.” [= Sebelum mengambil hakekat manusia, LOGOS tidak bisa mengalami pera­saan manusia karena Ia tidak mempunyai hati manusiatetapi setelah mengambil hakekat manusia Ia bisasebelum inkarna­si, Ia tidak bisa mempunyai pengertian yang terbatas karena Ia tidak mempunyai pikiran yang terbatastetapi setelah peristiwa itu Ia bisa; ... LOGOS yang tidak / belum berinkarnasi bisa berpikir dan merasa hanya sebagai Allah; Ia hanya mempunyai satu bentuk kesadaranLOGOS yang berinkar­nasi bisa berpikir dan merasa, atau seperti Allah, atau seperti manusia; Ia mempunyai dua bentuk kesadaran.] - ‘Shedd’s Dogmatic Theology’, vol II, hal 267.

Contoh:

1. Kesadaran ilahi: Mat 8:26  Yoh 8:58  Yoh 11:43.

Mat 8:26 - “Ia berkata kepada mereka: ‘Mengapa kamu takut, kamu yang kurang percaya?’ Lalu bangunlah Yesus menghardik angin dan danau itu, maka danau itu menjadi teduh sekali.”.

Yoh 8:58 - “Kata Yesus kepada mereka: ‘Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sebelum Abraham jadi, Aku (telah) ada.’”.

Kata ‘telah’ yang saya coret dan letakkan dalam tanda kurung itu sebetulnya tidak ada, karena dalam Yunani digunakan present tense!

KJV: Before Abraham was, I am..

Yoh 11:43 - Dan sesudah berkata demikian, berserulah Ia dengan suara keras: ‘Lazarus, marilah ke luar!.

2. Kesadaran manusia: Mat 24:36  Mat 26:37-38  Yoh 11:35  Yoh 19:28.

Mat 24:36 - Tetapi tentang hari dan saat itu tidak seorangpun yang tahu, malaikat-malaikat di sorga tidak, dan Anakpun tidak, hanya Bapa sendiri.’.

Mat 26:37-38 - “(37) Dan Ia membawa Petrus dan kedua anak Zebedeus sertaNya. Maka mulailah Ia merasa sedih dan gentar, (38) lalu kataNya kepada mereka: ‘HatiKu sangat sedih, seperti mau mati rasanya. Tinggallah di sini dan berjaga-jagalah dengan Aku.’”.

Yoh 11:35 - Maka menangislah Yesus..

Yoh 19:28 - Sesudah itu, karena Yesus tahu, bahwa segala sesuatu telah selesai, berkatalah Ia - supaya genaplah yang ada tertulis dalam Kitab Suci -: ‘Aku haus!’.

Tetapi harus diingat bahwa dalam setiap contoh-contoh itu, adalah Pribadi yang sama yang berpikir / mempunyai kesadaran.

b) Kristus mempunyai 2 kehendak, ilahi dan manusia.
Tetapi karena kehendak manusia yang ada dalam diri Yesus adalah suci, maka tidak ada pertentangan / konfrontasi antara kehendak ilahi dan kehendak manusia dalam diri Yesus. Karena itu, sekalipun ada 2 kehendak, selalu hanya meng­hasilkan satu tindakan (bdk. Mat 26:39,42,44).

Mat 26:39,42,44 - “(39) Maka Ia maju sedikit, lalu sujud dan berdoa, kataNya: ‘Ya BapaKu, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari padaKutetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.’ ... (42) Lalu Ia pergi untuk kedua kalinya dan berdoa, kataNya: ‘Ya BapaKu jikalau cawan ini tidak mungkin lalu, kecuali apabila Aku meminumnyajadilah kehendakMu!’ ... (44) Ia membiarkan mereka di situ lalu pergi dan berdoa untuk ketiga kalinya dan mengucapkan doa yang itu juga.”.

Illustrasi / analogi:
Illustrasi / analogi yang paling cocok untuk menjelaskan Personal Union ini adalah persatuan antara tubuh dan jiwa pada manusia (Catatan: ini hanya berlaku untuk orang yang percaya pada Dichotomy, bukan pada Trichotomy!).

1. Pada manusia, tubuh dan jiwa membentuk 1 pribadi.
Pada Yesus Kristus, hakekat manusia dan Allah Anak membentuk 1 pribadi.

2. Pada manusia, kepribadian terletak pada jiwa, bukan pada tubuh.
Pada Yesus Kristus, kepribadian terletak pada Allah Anak, bukan pada hakekat manusia.

3. Pada manusia, tubuh berbeda dengan jiwa; mereka tidak bercampur, dan masing-masing mempertahankan sifat-sifatnya sendiri-sendiri.
Pada Yesus Kristus, hakekat manusia berbeda dengan hakekat ilahi; mereka tidak bercampur dan masing-masing mempertahankan sifat-sifatNya sendiri-sendiri.

C) Akibat dari Personal Union.

1) Communicatio Idiomatum [communication of properties {= pemberian sifat-sifat / sama-sama memiliki sifat-sifat}].

Catatan:
Istilah ‘Communicatio Idiomatum’ ini adalah istilah bahasa Latin, yang begitu populer dalam Kristologi, sehing­ga dalam buku-buku Theologia sering digunakan begitu saja tanpa diberikan terjemahannya (misalnya dalam komentar Calvin tentang Kis 20:28 bagian akhir).

a) Arti istilah ini:

1. Kata Idiomatum / properties berarti ‘sifat-sifat DASAR’.
Dalam diri manusia, sifat-sifat seperti pemarah, som­bong, pelit, tidak termasuk sifat dasar, karena tidak semua orang mempunyai sifat seperti itu.
Contoh sifat dasar dalam diri manusia adalah: terbatas, dicipta / tidak ada dengan sendirinya, tidak maha tahu, bisa berdosa, bisa sakit, bisa menderita, bisa mati, dsb. Sifat-sifat ini dimiliki oleh semua manusia.

Catatan: Perhatikan bahwa dalam sepanjang pembahasan tentang Communicatio Idiomatum ini, yang dimaksud dengan ‘sifat’ adalah ‘sifat DASAR’.

2. Dalam bahasa Yunani istilah bahasa Latin Communicatio diterjemahkan dengan istilah KOINONIA.

Kata Yunani KOINONIA bisa berarti:
1. fellowship [= persekutuan].
2. a close mutual relationship [= hubungan timbal balik yang dekat].
3. participation [= partisipasi].
4. sharing in [= sama-sama menikmati / memiliki].
5. partnership [= persekutuan].
6. contribution [= sumbangan].
7. gift [= pemberian].

Jadi, kalau dikatakan bahwa terjadi Communicatio Idiomatum dari A kepada B, maka itu berarti bahwa sifat-sifat A diberikan kepada B, atau bahwa B sama-sama memiliki sifat-sifat yang dimiliki oleh A (dari ke 7 arti di atas, mungkin yang paling ditekankan adalah arti ke 4 dan ke 7).

Dalam Collins Latin Dictionary, kata ‘COMMUNICATIO’ ini diterjemahkan ‘imparting’ [= memberikan].

Tetapi jangan diartikan seperti ini: saya punya kue, lalu saya berikan kepada si A sehingga sekarang hanya si A yang punya kue, dan saya tidak punya kue lagi.

Dalam Merriam Webster’s Dictionary (arti dari kata ‘communicate’), dicontohkan ‘memberikan pengetahuan’.

Tadinya saya punya pengetahuan, setelah saya berikan pengetahuan itu kepada si A, maka baik saya maupun si A sama-sama mempunyai pengetahuan itu.

Catatan: dalam pelajaran selanjutnya, kalau kita membicarakan ‘pemberian sifat-sifat’, maka itu bisa diartikan ‘sama-sama memiliki sifat-sifat’.

b) Dalam hal Communicatio Idiomatum ini, ajaran Reformed bertentangan dengan Lutheran.

1.    Ajaran Reformed.

Sifat-sifat dari hakekat manusia tidak diberikan kepada hakekat ilahi / tidak menjadi sifat-sifat dari hakekat ilahi, dan sebaliknya, sifat-sifat dari hakekat ilahi tidak diberikan kepada hakekat manusia / tidak menjadi sifat-sifat dari hakekat manusia. Tetapi, baik sifat-sifat dari hakekat manusia maupun sifat-sifat dari hakekat ilahi diberikan kepada pribadi Kristus / menja­di sifat-sifat dari pribadi Kristus.

Charles Hodge“Hence, inconsistent, or apparently contradictory affirmations may be made of the same person.” [= Karena itu, ketidak-konsistenan, atau pernyataan-pernyataan yang kelihatannya kontradiksi / bertentangan bisa dibuat tentang pribadi yang sama.] - ‘Systematic Theology’, vol II, hal 379.

 
                                                P



                             HM                      HI

Keterangan gambar:
P = Pribadi Kristus; HM = Hakekat Manusia; HI = Hakekat Ilahi.

CatatanJangan membayangkan bahwa diri Kristus betul-betul seperti gambar di atas! Gambar ini hanya untuk membantu saudara untuk melihat dimana terjadi pemberian sifat-sifat dan dimana tidak terjadi pemberian sifat-sifat.

Penjelasan:

Hakekat manusia mempunyai sifat terbatas, sedangkan hakekat ilahi mempunyai sifat tidak terbatas. Sifat terbatas dari hakekat manusia tidak diberikan kepada hakekat ilahi / tidak menjadi sifat dari hakekat ilahi, dan sifat tidak terbatas dari hakekat ilahi tidak diberikan kepada hakekat manusia / tidak menjadi sifat dari hakekat manusia.

Tetapi baik sifat terbatas dari hakekat manusia, maupun sifat tidak terbatas dari hakekat ilahi, sama-sama diberikan kepada pribadi Kristus / menjadi sifat dari pribadi Kristus. Jadi, pribadi Kristus mempunyai sifat terbatas dan tidak terbatas sekaligus.

Dengan cara yang sama bisa kita dapatkan bahwa pribadi Yesus bisa dikatakan terbatas pengetahuanNya maupun maha-tahu, lemah / terbatas kekuatanNya maupun mahakua­sa.

Karena itu jangan heran kalau melihat bahwa Kitab Suci kadang-kadang menggambarkan Yesus itu terbatas pengeta­huanNya (Mat 24:36), tetapi juga sering menggambarkan Yesus itu mahatahu (Mat 9:4  Mat 12:25  Yoh 2:24-25  Yoh 6:64).

Juga jangan heran kalau Kitab Suci kadang-kadang menggambarkan Yesus lemah / terbatas kekuatanNya, sehingga bisa lelah, membutuhkan istirahat / tidur (Yoh 4:6  Mat 8:24), tetapi juga sering menggambarkan Yesus itu mahakuasa, dimana Ia bisa membangkitkan orang mati, menghentikan badai, memberi makan 5000 orang dengan menggunakan 5 roti dan 2 ikan, mengusir setan, dsb.

Jadi ingat, bahwa Alkitab sendiri memang memberikan gambaran-gambaran yang kelihatannya bertentangan tentang diri Yesus.
Dalam bahasa saya sendiri, saya katakan bahwa dalam diri / Pribadi Kristus ada semacam dualisme.

2.    Ajaran Lutheran.

Mereka mengatakan:

a. Ada pemberian sifat-sifat dari kedua hakekat kepada pribadi. Dengan kata lain, pribadi memiliki sifat-sifat dari kedua hakekat. Ini sesuai dengan ajaran Reformed.

b. Juga ada pemberian sifat-sifat antar kedua hakekat tersebut.
Dengan kata lain, hakekat yang satu juga memiliki sifat-sifat dari hakekat yang lain. Ini tidak sesuai dengan ajaran Reformed.

 
                                                     P




                             HM                                HI

Perkembangan ajaran tentang Communicatio Idiomatum dalam kalangan Lutheran:

(1)Luther dan orang-orang Lutheran yang mula-mula mengajarkan adanya pemberian sifat-sifat, baik dari hake­kat manusia kepada hakekat ilahi, maupun dari hakekat ilahi kepada hakekat manusia.

(2)Orang-orang Lutheran selanjutnya hanyalah menekankan pemberian sifat-sifat dari hakekat ilahi kepada hakekat manusia.
Ini mereka lakukan untuk menghindar­kan hakekat ilahi menjadi terbatas karena pemberian sifat dari hakekat manusia.

(3)Dalam perkembangan selanjutnya, orang-orang Lutheran membedakan antara operative attributes / sifat-sifat operative (seperti maha kuasa, maha ada, maha tahu) dengan quiescent attributes / sifat-sifat diam (seperti tak terbatas, kekal) dari Allah, dan mereka mengatakan bahwa hanya operative atrributes sajalah yang diberikan dari hakekat ilahi kepada hakekat manusiaIni mereka lakukan untuk menghindarkan hakekat manusia menjadi tak terbatas dan kekal karena pemberian sifat dari hakekat ilahi.

Catatan:
Doktrin Lutheran yang salah tentang diri Kristus ini, dimana mereka menganggap bahwa hakekat manusia Yesus itu maha ada, menyebabkan mereka bisa percaya bahwa dalam Perjamuan Kudus, Yesus hadir secara jasmani. Reformed mempercayai bahwa dalam Perjamuan Kudus Kristus tidak hadir secara jasmani, tetapi secara rohani.

Keberatan / sanggahan terhadap ajaran Lutheran ini:

(a)Ajaran ini menunjukkan adanya pembauran / percampuran antara hakekat ilahi dan hakekat manusia dalam diri Kristus.
Hakekat manusia yang mempunyai sifat-sifat ilahi seperti maha ada, maha tahu dsb, tidak lagi bisa disebut sebagai hakekat manusia (perhatikan kutipan dari Charles Hodge di bawah).

Jadi jelas bahwa ajaran ini berbau ajaran Eutychianism dan jelas bahwa ajaran ini bertentangan dengan Chalcedonian Creed yang mengatakan ‘without confusion, without change’ [= ‘tanpa percampuran, tanpa perubahan’].

Charles Hodge“... the properties or attributes of a substance constitute its essence, so that if they be removed or if others of a different nature be added to them, the substance itself is changed. ... If divine attributes be conferred on man, he ceases to be man; and if human attributes be transferred to God, he ceases to be God.” [= ... sifat-sifat dari suatu zat / bahan mem­bentuk hakekatnya, sehingga kalau mereka disingkirkan atau kalau sifat-sifat yang lain ditambahkan kepada mereka, maka zat / bahan itu sendiri berubah. ... Kalau sifat-sifat ilahi diberikan kepada manusia, ia berhenti menjadi manusia; dan kalau sifat-sifat manusia diberikan kepada Allah, ia berhenti menjadi Allah.] - ‘Systematic Theology’, vol II, hal 390.

(b)Ajaran ini tidak konsekwen, karena kalau sifat-sifat ilahi diberikan kepada hakekat manusia, maka sifat-sifat manusia juga harus diberikan kepada hakekat ilahi.

Yoh 3:13 - Tidak ada seorangpun yang telah naik ke sorga, selain dari pada Dia yang telah turun dari sorga, yaitu Anak Manusia..

Yoh 3:13 menggunakan sebutan / gelar manusia (‘Anak Manusia’), tetapi memberikan predikat ilahi (‘turun dari sorga’). Ayat ini dipakai sebagai dasar (secara salah) oleh orang Lutheran untuk mengatakan bahwa sifat-sifat dari hakekat ilahi diberikan kepada hakekat manusia.

Tetapi anehnya, kalau mereka melihat ayat seperti 1Kor 2:8, yang menggunakan sebutan / gelar ilahi (‘Tuhan yang mulia / The Lord of glory’ ), tetapi memberikan predikat manusia (‘menyalibkan’), mereka tidak mau memakainya sebagai dasar untuk mengatakan bahwa sifat-sifat dari hakekat manusia diberikan kepada hakekat ilahi.

1Kor 2:8 - Tidak ada dari penguasa dunia ini yang mengenalnya, sebab kalau sekiranya mereka mengenalnya, mereka tidak menyalibkan Tuhan yang mulia..

Ketidak-konsekwenan yang lain ialah bahwa mereka hanya memberikan sebagian sifat-sifat ilahi kepada hakekat manusia. Kalau beberapa sifat hakekat ilahi diberikan kepada hakekat manusia, maka konsekwensinya adalah bahwa semua sifat-sifat ilahi harus diberikan kepada hakekat manusia.

(c)Ajaran ini tidak sesuai dengan gambaran tentang diri Kristus dalam Kitab Suci, karena dalam Kitab Suci Kristus tidak pernah digambarkan sebagai manusia yang maha tahu / maha ada / maha kuasa.

Sebaliknya, Kitab Suci menggambarkan Yesus sebagai manusia yang terba­tas pengetahuanNya (Mat 24:36), terbatas keberadaan­Nya (tidak bisa ada di lebih dari satu tempat pada saat yang sama), dan lemah (bisa lelah, butuh istira­hat, tidur, dsb. bdk. Yoh 4:6  Mat 8:24).

(d)Ajaran ini tidak bisa menjelaskan Luk 2:40,52 yang mengatakan bahwa Kristus bertumbuh dalam hikmat dan kekuatan.

Luk 2:40,52 - “(40) Anak itu bertambah besar dan menjadi kuat, penuh hikmat, dan kasih karunia Allah ada padaNya. ... (52) Dan Yesus makin bertambah besar dan bertambah hikmatNya dan besarNya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia..

Ingat bahwa orang Lutheran beranggapan bahwa Communi­catio Idiomatum ini terjadi pada saat yang sama dengan inkarnasi.
Dengan demikian, seharusnya manusia Yesus itu sudah maha tahu dan maha kuasa sejak lahir, dan kalau demikian, Ia tidak mungkin bertumbuh dalam hikmat maupun kekuatan.


-bersambung-

Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
Email : golgotha_ministry0@yahoo.com

KRISTOLOGI (5)

GOLGOTHA SCHOOL OF MINISTRY

(Rungkut Megah Raya Blok D No 16)
Rabu, tgl 3 Juli 2019, pk 19.00
PDT. BUDI ASALI, M. DIV.

KRISTOLOGI (5)


V) Kristus: 1 person / pribadi dengan 2 natures / hake­kat.

A) Istilah ‘Person’ dan ‘Nature’.

1) Mengapa digunakan istilah-istilah seperti ‘person’ [= priba­di] dan ‘nature’ [= hakekat], padahal istilah-istilah terse­but tidak ada dalam Kitab Suci?

Calvin (pada waktu ia berbicara tentang Allah Tritunggal dalam Yoh 1:1-2) menjawab pertanyaan tersebut sebagai berikut:

“And yet the ancient writers of the Church were excusable, when, finding that they could not in any other way maintain sound and pure doctrine in opposition to the perplexed and ambiguous phraseology of the heretics, they were compelled to invent some words, which after all had no other meaning than what is taught in the Scriptures. They said that there are three Hypostases, or Subsistences, or Persons, in the one and simple essence of God.” [= Dan / tetapi penulis-penulis kuno dari gereja bisa dibenarkan, karena pada waktu mereka melihat bahwa tidak ada jalan lain untuk mempertahankan doktrin yang sehat dan murni untuk menentang penyusunan kata yang membingungkan dan berarti dua dari orang-orang sesat, maka mereka terpaksa menciptakan beberapa kata-kata, yang sebetulnya tidak mempunyai arti lain dari pada apa yang diajarkan dalam Kitab Suci. Mereka berkata bahwa ada tiga pribadi dalam hakekat Allah yang satu dan sederhana.].

Herman Bavinck mengatakan sebagai berikut:
“It is of course self-evident that this confession of Nicea and Chalcedon may not lay claim to infallibility. The terms of which the church and its theology make use, such as person, nature, unity of substance, and the like, are not found in Scripture, but are the product of reflection which Christianity gradually had to devote to this mystery of salvation. The church was compelled to do this reflecting by the heresies which loomed up on all sides, both within the church and outside of it. All those expressions and statements which are employed in the confession of the church and in the language of theology are not designed to explain the mystery which in this matter confronts it, but rather to maintain it pure and unviolated over against those who would weaken or deny it.” [= Jelaslah bahwa pengakuan iman Nicea dan Chalcedon tidak bisa dianggap infalli­ble / tak bisa salah. Istilah-istilah yang digunakan oleh gereja dan theologinya, seperti pribadi, hakekat, kesatuan hakekat / zat, dan sebagainya, tidak ditemukan dalam Kitab Suci, tetapi merupakan hasil pemikiran yang secara bertahap / perlahan-lahan harus diberikan oleh kekristenan kepada misteri tentang keselamatan iniGereja dipaksa untuk melakukan pemikiran ini oleh bidat-bidat yang muncul dan mengancam dari semua sisi, baik di dalam maupun di luar gerejaSemua istilah dan pernyataan yang digunakan dalam pengakuan iman gereja dan dalam bahasa theologia, TIDAK DIMAKSUDKAN UNTUK MENJELASKAN MISTERI YANG DIHADAPItetapi untuk menjaganya supaya tetap murni dan tak terganggu dari mereka yang ingin melemahkan atau menyangkalnya.] - ‘Our Reasonable Faith’, hal 321-322.

Bavinck melanjutkan lagi:
“There have been many, and there still are many, who look down upon the doctrine of the two natures from a lofty vantage point, and try to supplant it by other words and phrases. What differences does it really make, they begin by saying, whether we agree with this doctrine or not? What matters is that we ourselves possess the person of Christ, He who stands high and exalted above this awkward confes­sion. But before long these same persons begin introducing words and terms themselves in order to describe the person of Christ whom they accept. ... And then history has taught that the terms of the attackers of the Doctrine of the Two Natures are far poorer in worth and force, and that they often, indeed, involve doing injustice to the incarnation as Scripture explains it to us.” [= Pernah ada banyak orang, dan sampai sekarang masih ada banyak orang, yang dari tempat yang tinggi dan menguntungkan, meremehkan / meman­dang rendah doktrin tentang 2 hakekat ini, dan mencoba untuk menggantinya dengan kata-kata dan ungkapan-ungkapan yang lain. Mereka memulainya dengan berkata: apa bedanya apakah kami menyetujui doktrin ini atau tidak? Yang penting adalah bahwa kami memiliki pribadi Kristus, yang berdiri jauh di atas pengakuan yang aneh ini. Tetapi sebentar lagi, orang-orang ini sendiri mulai memperkenalkan kata-kata dan istilah-istilah untuk menggambarkan pribadi Kristus yang mereka terima. ... Dan sejarah telah mengajar bahwa isti­lah-istilah dari para penyerang doktrin  tentang 2 hakekat ini, jauh lebih jelek dalam nilainya dan kekuatannya, dan bahwa mereka bahkan sering terlibat dalam perlakuan yang tidak benar terhadap inkarnasi seperti yang dijelaskan oleh Kitab Suci kepada kita.] - ‘Our Reasonable Faith’, hal 322.

Apa yang dikatakan oleh Bavinck ini terbukti dalam buku sesat dari Pdt. Yohanes Bambang, yang berjudul ‘Tuhan, Ajarlah Aku’.

Dalam hal 131, ia berkata sebagai berikut: “Jadi karena hakikat Alkitab berfungsi sebagai pewar­taan iman maka dalam kesaksiannya tidak pernah berspekulasi juga mengenai masalah sebagaimana yang dikemukakan oleh Tertullianus. Alkitab tidak pernah membuat hipotesa tentang Allah Bapa, Allah Anak dan Roh Kudus dengan kategori-kategori ‘UNA SUBSTANTIA, TRES PERSONAE’ (satu zat yang memiliki tiga pribadi). Cara berpikir Tertullianus adalah cara berpikir yang filsafati ketim­bang cara berpikir teologis-alkitabiah. Bila demikian, identitas Roh Kudus bukan dalam pengertian ZAT ILAHI yang memiliki kepri­badian sendiri. Alkitab tidak pernah mengenal atau mempergunakan istilah dan pengertian ZAT ILAHI.

Jadi terlihat bahwa ia menolak ajaran Tertullian ini dengan alasan bahwa istilah ‘zat ilahi’ itu tidak ada dalam Kitab Suci. Tetapi anehnya dalam bagian lain dari bukunya ia berkata:
a) “Secara matematis memang berjum­lah tiga. Tetapi dari penghayatan iman dan materi Allah: keti­gaNya adalah YANG TUNGGAL” (hal 109).
b) “Jadi Allah dan Yesus adalah satu, tapi bukan satu dalam arti matematis, juga bukan dalam arti satu zat. Allah dan Yesus adalah satu dalam ciri hakiki ilahi dan karya (pekerjaan)Nya” (hal 110).
c) “... sehingga dalam diri Yesus Kristus nampak seluruh ciri hakiki Allah sendiri” (hal 135).

Perhatikan bahwa sekarang ia menggunakan istilah-istilah ‘materi Allah’‘ciri hakiki ilahi’, dan ‘ciri hakiki Allah’Bukankah istilah-istilah itu juga tidak ada dalam Kitab Suci? Jadi terlihat kebenaran kata-kata Bavinck di atas. Orang ini baru saja mencela penggunaan istilah ‘zat ilahi’, tetapi lalu menciptakan istilahnya sendiri, yang juga tidak ada dalam Kitab Suci, dan jelas lebih jelek nilainya dari istilah ‘zat ilahi’ yang ia cela.

2)    Arti dari person dan nature.

Pada waktu LOGOS / Anak Allah berinkarnasi, Ia tidak mengambil pribadi manusia, tetapi hakekat manusia (yang lalu mendapatkan kepribadiannya dari LOGOS).

Kalau demikian, bisakah kita berkata bahwa Yesus tidak mengambil seluruh manusia, karena yang Ia ambil adalah manusia tanpa kepribadian? Kalau memang LOGOS tidak mengam­bil seluruh manusia, bukankah itu berarti bahwa Ia tidak menebus seluruh manusia? Kalau Ia tidak mengambil kepribadian manusia, bukankah itu berarti bahwa kepribadian kita tidak ditebus?

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, kita perlu mengerti tentang arti / definisi dari istilah ‘person / pribadi’ dan ‘nature / hekekat’.

a) Human nature adalah substance / essence [= hakekat] dari manusia. Tidak ada perbedaan antara human nature yang satu dengan human nature yang lain. Semua manusia mempunyai human nature yang sama.

b) Human nature sudah merupakan seluruh manusia, tidak ada sedikitpun yang kurang.

c) Human person [= pribadi manusia] adalah human nature yang sudah dipribadikan. Karena itu, human person yang satu berbeda dengan human person yang lain.

Beberapa kutipan kata-kata William G. T. Shedd:

1. “Personality is not an integral and essential part of a nature, but is, as it were, the terminus to which it tends” [= Kepribadian bukanlah merupakan bagian yang perlu untuk melengkapi dan bukan bagian yang pokok / hakiki dari suatu hakekat, tetapi merupakan terminal / tujuan yang dituju oleh hakekat itu] - ‘Shedd’s Dogmatic Theology’, vol II, hal 287.

2. “When we  speak of a human nature, a real substance having physical, rational, moral and spiritual properties is meant. This human nature is capable of becoming a human person but as yet is not one. It requires to be personalized, in order to be a self-conscious individual man. A human person is a fractional part of a specific human nature or substance which has been separated from the common mass, and formed into a distinct and separate individual, by the process of generation. Prior to this separation and formation, this fractional portion of the common human nature has all the qualities of the common mass of which it is a part, but it is not yet individual­ized. It is potentially, not actually personal. It has all the properties that subsequently appear in the par­ticular individual formed of it,” [= Pada waktu kita berbicara tentang suatu hakekat manusia, maka yang dimaksud adalah suatu zat yang nyata yang memiliki sifat-sifat fisik, ratio, moral dan rohani. Hakekat manusia ini bisa menjadi pribadi manusia tetapi belum / bukan merupakan pribadi manusiaHakekat manusia itu perlu dipribadikan supaya menjadi seorang manusia tersendiri yang sadar. Seorang pribadi manusia adalah sebagian kecil dari hakekat atau zat manusia tertentu yang telah dipisahkan dari seluruh massa, dan dibentuk menjadi pribadi tersendiri yang berbeda dan terpisah, oleh proses kelahiranSebelum pemisahan dan pembentukan ini, bagian kecil dari seluruh hakekat manusia itu, mempunyai semua sifat-sifat dari seluruh massa dari mana ia merupakan bagian, tetapi ia belum dipribadikan. Ia berpotensi untuk menjadi pribadi, tetapi ia tidak / belum sungguh-sungguh  merupakan pribadi. Ia mempunyai semua sifat-sifat dasar yang sesudah itu muncul dalam pribadi terten­tu yang dibentuk darinya,] - ‘Shedd’s Dogmatic Theology’, vol II, hal 289-290.

3. “A lump of clay has all the properties of matter that belong to the vessel of honor and dishonor. But it has not as yet the individual form of the vessel. An act of the potter must intervene, whereby a piece of clay is separated from the lump and moulded into a particular vase having its own peculiar shape and figure. In like manner, human nature as an entire whole existing in Adam possessed all the elementary properties that are requi­site to personality, though it was not yet personalized.” [= Segumpal tanah liat mempunyai semua sifat-sifat dasar dari bahan / zat yang dimiliki oleh bejana yang terhormat dan tak terhormatTetapi gumpalan tanah liat itu belum mempunyai bentuk dari bejana itu. Suatu tindakan dari penjunan harus ikut campur, dengan mana segumpal tanah liat itu dipisahkan dari seluruh gumpalan dan dibentuk menjadi suatu jambangan tertentu yang mempunyai bentuknya yang khasDemikian juga, hakekat manusia sebagai suatu keseluruhan yang ada di dalam Adam mempunyai semua sifat-sifat dasar yang diperlukan untuk kepribadian, sekalipun hakekat manusia itu belum dipribadikan.] - ‘Shedd’s Dogmat­ic Theology’, vol II, hal 290-291.

4. “The difference, then, between nature and person is virtually that between substance and form.” [= Jadi, perbedaan sebenarnya antara hakekat dan pribadi adalah perbedaan antara zat dan bentuk.] - ‘Shedd’s Dogmatic Theology’, vol II, hal 291.

5. “Still another point of difference between a ‘nature’ and a ‘person’ is the fact that a nature can not be distin­guished from another nature, but a person can be from another person.” [= Perbedaan lain lagi antara ‘hakekat’ dan ‘pribadi’ adalah fakta bahwa suatu hakekat tidak bisa dibedakan dari hakekat yang lainsedangkan suatu pribadi bisa dibedakan dari pribadi yang lain.] - ‘Shedd’s Dogmatic Theology’, vol II, hal 294.

Catatan: ini hanya ilustrasi untuk menjelaskan. Perlu dicamkan, bahwa dalam realitanya hakekat manusia yang belum dibentuk itu TIDAK PERNAH ADA sendirian / terpisah dari hakekat / pribadi ilahi!

Kesimpulan dari semua ini:
Karena person / pribadi adalah nature / hakekat yang sudah dibentuk / dipribadikan, maka sebetulnya person / pribadi tidak memiliki kelebihan zat dibandingkan dengan nature / hakekat. Ingat bahwa ‘pembentukan’ bukanlah penam­bahan zat!
Sama seperti segumpal tanah liat, yang sudah dibentuk menjadi jambangan / gelas, tidak mempunyai kelebihan zat dibanding­kan dengan saat gumpalan tanah liat itu belum dibentuk, demikian juga person / pribadi tidak mempunyai kelebihan zat dibandingkan dengan nature / hakekat.

Illustrasi:

  tanah liat                                                              Common Mass




                                                                        Nature / Hakekat





                                                                                                Person / Pribadi




Dari illustrasi gambar ini terlihat dengan jelas bahwa perbedaan antara nature dan person, tidak terletak pada perbedaan zat / hakekat, tetapi pada pembentukan (nature / hakekat - belum dibentuk; person / pribadi - sudah dibentuk).

Dengan demikian, pada waktu Yesus mengambil human nature / hakekat manusia, Ia sebetulnya sudah mengambil seluruh manusia, tanpa ada yang kurang sedikitpun.

B) Hypostatical / personal Union [= persatuan pribadi].

1) Yesus Kristus adalah sungguh-sungguh Allah dan sungguh-sungguh manusia. Tetapi Ia hanya merupakan 1 pribadi.

Dasar dari pandangan ini: dalam Kitab Suci sering ditunjukkan akan adanya lebih dari 1 pribadi dalam diri Allah. Misalnya:

a) Penggunaan kata ganti orang bentuk jamak.
Kej 1:26 - “Berfirmanlah Allah: ‘Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.’”.

b) Pembicaraan antara satu pribadi dengan pribadi yang lain.
Maz 2:7 - “Aku mau menceritakan tentang ketetapan TUHAN; Ia berkata kepadaku: ‘AnakKu engkau! Engkau telah Kuperanakkan pada hari ini.”.

c) Adanya saling kasih-mengasihi antara pribadi-pribadi itu.
Mat 3:17 - “lalu terdengarlah suara dari sorga yang mengatakan: ‘Inilah AnakKu yang Kukasihi, kepadaNyalah Aku berkenan.’”.

d) Pribadi yang satu mengutus pribadi yang lain.
Bapa mengutus Anak, dan Bapa dan Anak mengutus Roh Kudus.
Yoh 17:3 - “Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus.”.
Yoh 14:26 - “tetapi Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam namaKu, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu.”.
Yoh 15:26 - “Jikalau Penghibur yang akan Kuutus dari Bapa datang, yaitu Roh Kebenaran yang keluar dari Bapa, Ia akan bersaksi tentang Aku.”.

Tetapi hal-hal tersebut tidak pernah terjadi pada waktu Kitab Suci menggambarkan Yesus Kristus. Jadi jelaslah bahwa berbeda dengan Allah Tritunggal yang memiliki lebih dari 1 pribadi (dalam hal ini 3 pribadi), Yesus Kristus hanya memiliki 1 pribadi saja!

2) Sebelum inkarnasi, Yesus adalah Allah Anak yang jelas merupakan ‘seseorang’ yang berpribadi.
Jadi pada saat itu Ia adalah 1 pribadi dengan 1 hakekat, yaitu hakekat ilahi.
Pada saat Ia berinkarnasi, Ia tidak mengambil ‘pribadi manusia’ karena ini akan menimbulkan adanya 2 pribadi seperti yang diajarkan oleh Nestorianisme.
Yang diambil olehNya adalah hakekat manusia.
Hakekat manusia dan hakekat ilahi bersatu dalam pribadi Anak Allah sehingga setelah inkarnasi, Yesus adalah 1 pribadi dengan 2 hakekat (ilahi dan manusia).

Ada yang beranggapan bahwa yang diambil oleh LOGOS bukanlah ‘hakekat manusia’ tetapi ‘pribadi manu­sia’, karena yang diambil itu terdiri dari tubuh dan jiwa / roh, yang mencakup pikiran, perasaan, dan kehendak, dan ketiga hal ini merupakan ciri-ciri dari seorang pribadi.
Tetapi ini tidak benar, karena sekalipun LOGOS itu mengambil tubuh manusia dan jiwa / roh manusia, yang mempunyai pikiran, perasaan dan kehendak, tetapi semua itu belum dipribadikan, sehingga sifatnya belum / tidak specific [= tertentu].
Jadi, pikirannya belum tertentu (pandai atau bodoh / berapa tinggi IQnya), perasaannya belum tertentu (halus atau kasar), kehendaknya belum tertentu (keras atau tidak). Bahkan tubuhnyapun belum tertentu (tinggi atau pendek, berkulit putih atau kuning atau hitam, bermata biru atau coklat, berambut pirang atau hitam, dsb).
Dengan demikian ini bukan pribadi manusia, tetapi hakekat manusia.
Tetapi pada saat pertama LOGOS mengambil hakekat manusia itu, maka hakekat manusia itu mendapat kepribadiannya dari LOGOS, sehingga menjadi manusia tertentu.

3) Hakekat manusia itu tidak pernah ada terpisah dari pribadi Allah Anak.
Hakekat manusia itu mendapat kepribadiannya dari pribadi Allah Anak dan selalu ada di dalam pribadi Allah Anak itu.
Bahkan antara kematian dan kebangkitan Yesuspun, hakekat manusia itu tak terpisah dengan LOGOS / Allah Anak, karena sekalipun  hakekat manusia itu terpecah (roh terpisah dari tubuh), tetapi LOGOS / Allah Anak yang maha ada itu tetap bersatu baik dengan tubuh (yang ada di kuburan) maupun dengan roh (yang ada di surga).

4) Dalam Personal Union [= persatuan pribadi] ini terjadi suatu persatuan, bukan suatu percampuran (mixture / confu­sion), antara hakekat manusia dan hakekat ilahi.

Hakekat manusia dan hakekat ilahi tidak bercampur dan lalu membentuk satu hakekat yang baru.

Juga hakekat manusia tidak berubah menjadi hakekat ilahi, dan hakekat ilahi tidak berubah menjadi hakekat manusia.

JADI, BAIK HAKEKAT MANUSIA MAUPUN HAKEKAT ILAHI TETAP MEMPUNYAI / MEMPERTAHANKAN SIFAT-SIFATNYA SENDIRI-SENDIRI.

Mereka berbeda, tetapi bersatu dalam diri Yesus Kristus.


-bersambung-

Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
Email : golgotha_ministry0@yahoo.com