About us

Golgotha Ministry adalah pelayanan dari Pdt. Budi Asali,M.Div dibawah naungan GKRI Golgota Surabaya untuk memberitakan Injil ke seluruh dunia dan mengajarkan kebenaran firman Tuhan melalui khotbah-khotbah, pendalaman Alkitab, perkuliahan theologia dalam bentuk tulisan maupun multimedia (DVD video, MP3, dll). Pelayanan kami ini adalah bertujuan agar banyak orang mengenal kebenaran; dan bagi mereka yang belum percaya, menjadi percaya kepada Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadinya, dan bagi mereka yang sudah percaya, dikuatkan dan didewasakan didalam iman kepada Kristus.
Semua yang kami lakukan ini adalah semata-mata untuk kemuliaan nama Tuhan Yesus Kristus.

Kami mengundang dengan hangat setiap orang yang merasa diberkati dan terbeban didalam pelayanan untuk bergabung bersama kami di GKRI Golgota yang beralamat di : Jl. Raya Kalirungkut, Pertokoan Rungkut Megah Raya D-16, Surabaya.

Tuhan Yesus memberkati.

Tampilkan postingan dengan label Doktrin Gereja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Doktrin Gereja. Tampilkan semua postingan

Jumat, 29 November 2019

KRISTOLOGI (7)

GOLGOTHA SCHOOL OF MINISTRY

(Rungkut Megah Raya Blok D No 16)
Rabu, tgl 17 Juli 2019, pk 19.00
PDT. BUDI ASALI, M. DIV.

KRISTOLOGI (7)


2) Communicatio Operationum / Apotelesmatum [communication of acts {= pemberian tindakan-tindakan}].

Semua tindakan / perbuatan Kristus, baik yang bersifat:
a) Ilahi, seperti penciptaan, pemeliharaan.
b) Manusia, seperti makan, minum.
c) Gabungan ilahi dan manusia, seperti penebusan.
adalah tindakan / perbuatan dari pribadi Kristus.

Jadi, pada waktu melihat Kristus makan, kita tidak perlu berkata ‘hakekat manusiaNya makan’, tetapi kita bisa berka­ta Kristus makan’. Pada waktu kita mau mengatakan bahwa Kristus mencipta dan mengatur alam semesta, kita tidak perlu berkata ‘hakekat ilahiNya mencipta dan mengatur alam semesta’, tetapi kita bisa berkata Kristus mencipta dan mengatur alam semesta’.

Catatan: sebutan ‘Yesus’ atau ‘Kristus’ atau penggunaan kata ganti orang (seperti ‘Aku’) untuk Yesus, biasanya menunjuk kepada pribadi.

Contoh:

Mat 27:26 - “Lalu ia membebaskan Barabas bagi mereka, tetapi YESUS disesahnya lalu diserahkannya untuk disalibkan.”.

Kata ‘disesah’ cocoknya untuk hakekat manusia Kristus, tetapi ditujukan kepada pribadiNya (‘Yesus’).

Mat 28:19-20 - “(19) Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa muridKu dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, (20) dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, AKU menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.’”.

Kata-kata ‘menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman’ cocoknya untuk hakekat ilahi Kristus, tetapi ditujukan kepada pribadiNya (‘Aku’).

Illustrasi:
Manusia terdiri dari tubuh + jiwa.
Ada tindakan hanya dari jiwa, seperti berpikir, marah, benci.
Ada tindakan hanya dari tubuh, seperti mencerna makanan, berdenyutnya jantung.
Ada tindakan dari gabungan tubuh dan jiwa, seperti membaca, menulis, berbicara dsb.
Tetapi adalah seluruh pribadi manusia yang marah, mencerna makanan, membaca dsb.
Karena itu kalau kita melihat seseorang (si A) sedang makan / berpikir, kita tidak mengatakan ‘tubuhnya makan’ tetapi ‘Dia / si A makan’. Kita tidak mengatakan ‘jiwanya berpi­kir’, tetapi ‘Dia / si A berpikir’.

Catatan: lagi-lagi ilustrasi ini hanya cocok untuk orang yang mempercayai Dichotomy, bukan Trichotomy.

3) Communicatio Charismatum / Gratiarum [communication of gifts {= pemberian karunia-karunia}].
Hakekat manusia dari Kristus, sejak saat pertama keberadaanNya, telah diberi bermacam-macam karunia yang mulia.

Misalnya:

a) Dipersatukannya hakekat manusia itu dengan LOGOS, dengan mana hakekat manusia itu ditinggikan melebihi semua ciptaan.

G. C. Berkouwer menggunakan Yoh 3:34 sebagai salah satu dasar: Sebab siapa yang diutus Allah, Dialah yang menyampaikan firman Allah, karena Allah mengaruniakan RohNya dengan tidak terbatas.”. - ‘Studies in Dogmatics: The Person of Christ’, hal 295.

Louis Berkhof berjalan lebih jauh dengan mengatakan bahwa ini menyebabkan hakekat manusia Yesus itu ‘menjadi object pemujaan (adoration) - ‘Systematic Theology’, hal 324.

Tetapi G. C. Berkouwer menentang pandangan ini dengan mengatakan: “Reformed theology resisted every form of the deification of the human nature of Christ.” [= Theologia Reformed menentang setiap bentuk pendewaan terhadap hakekat manusia Kristus.] - ‘Studies in Dogmatics: The Person of Christ’, hal 295.

Memang pada waktu seseorang bertemu dengan Kristus pada waktu Ia hidup dalam dunia ini, tentu saja orang itu boleh menyembahNya. Tetapi yang disembah sebetulnya adalah pribadi Kristus, atau hakekat ilahiNya, bukan hakekat manusiaNya.

Hal-hal ini memang tidak bisa dipisahkan tetapi bisa dibedakan.

Ini pandangan yang agak berbeda lagi.

John Owen“Hence the human nature of Christ, in his divine person and together with it, is the object of all divine adoration and worship, Rev. 5:13.” [= Jadi, hakekat manusia dari Kristus, dalam Pribadi Ilahinya dan bersama-sama denganNya, adalah obyek dari semua pemujaan dan penyembahan ilahi, Wah 5:13.] - ‘The Works of John Owen’, vol I, hal 241.

Wah 5:13 - Dan aku mendengar semua makhluk yang di sorga dan yang di bumi dan yang di bawah bumi dan yang di laut dan semua yang ada di dalamnya, berkata: ‘Bagi Dia yang duduk di atas takhta dan bagi Anak Dombaadalah puji-pujian dan hormat dan kemuliaan dan kuasa sampai selama-lamanya!’.
Catatan: menurut saya ayat ini tidak menunjukkan kebenaran dari apa yang Owen katakan di atas ini.

Jadi dalam hal ini, pandangan dari orang-orang Reformed tidak seragam!

Saya pribadi, condong pada pandangan G. C. Berkouwer.

Ini dasar saya:

Mat 4:10 - “Maka berkatalah Yesus kepadanya: ‘Enyahlah, Iblis! Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan HANYA kepada Dia sajalah engkau berbakti!’”.

‘Manusia Yesus’ bukan Allah, dan karena itu, berdasarkan ayat ini, tidak boleh disembah.

Mari kita melihat pandangan Calvin berkenaan dengan hal itu, dalam komentarnya tentang Fil 2:10. Tetapi sebelumnya kita melihat Fil 2:10 itu sendiri.

Fil 2:9-11 - “(9) Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepadaNya nama di atas segala nama, (10) supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, (11) dan segala lidah mengaku: ‘Yesus Kristus adalah Tuhan,’ bagi kemuliaan Allah, Bapa!.

Calvin (tentang Fil 2:10)“‘Every knee might bow.’ Though respect is shewn to men also be means of this rite, there can nevertheless be no doubt that what is here meant is that adoration which belongs exclusively to God, of which the bending of the knee is a token. ... But here a question arises - whether this relates to the divinity of Christ or to his humanity, for either of the two is not without some inconsistency, inasmuch as nothing new could be given to his divinity; and his humanity in itself, viewed separately, has by no means such exaltation belonging to it that it should be adored as God? I answer, that this, like many things else, is affirmed in reference to Christ’s entire person, viewed as ‘God manifested in the flesh.’ (1 Timothy 3:16.) [= ‘Setiap lutut bisa bertelut’. Sekalipun hormat yang ditunjukkan kepada manusia juga merupakan cara dari upacara ini, tetapi di sana tidak bisa ada keraguan bahwa apa yang dimaksudkan di sini adalah pemujaan itu yang merupakan milik Allah secara exklusif, tentang mana penekukan lutut adalah sebuah tanda. ... Tetapi di sini suatu pertanyaan muncul - apakah ini berhubungan dengan keilahian Kristus atau dengan kemanusiaanNya, karena yang manapun dari keduanya bukanlah tanpa suatu ketidak-konsistenan, karena tidak ada apapun yang baru bisa diberikan kepada keilahianNya; dan kemanusiaanNya dalam diriNya sendiri, dilihat secara terpisah, pasti tidak mempunyai pemuliaan seperti itu sebagai milikNya sehingga itu harus dipuja sebagai AllahSaya menjawab, bahwa ini, seperti banyak hal yang lain, ditegaskan / dinyatakan berkenaan dengan seluruh Pribadi Kristus, dipandang sebagai ‘Allah yang dinyatakan dalam daging’. (1Tim 3:16).].

Jadi, Calvin juga berpandangan bahwa secara strict kemanusiaan Yesus, dalam diriNya sendiri, tidak boleh disembah. Yang kita sembah adalah PribadiNya (Allah yang menjadi manusia / The God-Man).

b) Karunia-karunia Roh, khususnya dalam hal intelek, kehendak dan kuasa, dengan mana hakekat manusia itu ditinggi­kan melebihi makhluk-makhluk ciptaan yang lain. Menurut Louis Berkhof, termasuk di sini ketidak-mungkinannya untuk berbuat dosa (impeccability / non posse peccare). Tetapi untuk yang terakhir ini ada pro kontra lagi, dan saya tidak setuju dengan Louis Berkhof.

Saya tidak melihat contoh-contoh yang diberikan oleh para ahli Theologia Reformed, sehingga ada hal-hal yang membingungkan saya.

Kalau dalam hal intelek, maka contohnya adalah kepandaian yang jelas menonjol sekali dalam diri manusia Yesus, sejak masa kecilNya.

Luk 2:40,46-47,52 - “(40) Anak itu bertambah besar dan menjadi kuat, penuh hikmat, dan kasih karunia Allah ada padaNya. ... (46) Sesudah tiga hari mereka menemukan Dia dalam Bait Allah; Ia sedang duduk di tengah-tengah alim ulama, sambil mendengarkan mereka dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada mereka. (47) Dan semua orang yang mendengar Dia sangat heran akan kecerdasanNya dan segala jawab yang diberikanNya. ... (52) Dan Yesus makin bertambah besar dan bertambah hikmatNya dan besarNya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia.”.

Tetapi G. C. Berkouwer (hal 295) dengan sangat hati-hati menambahkan bahwa ini berbeda dengan ajaran Lutheran yang mengatakan bahwa ada pemberian sifat-sifat dari hakekat ilahi kepada hakekat manusia Yesus. Ini dianggap salah, karena karunia-karunia adalah pemberian dari Roh Kudus kepada manusia Yesus untuk bisa melakukan pelayananNya.
Jadi ayat di atas hanya menunjukkan bahwa Roh Kudus memberikan Yesus kecerdasan yang luar biasa dalam pengertian Kitab Suci, tetapi sama sekali tidak berarti bahwa manusia Yesus menjadi maha tahu karena pemberian sifat itu dari hakekat ilahiNya. Kalau manusia Yesus itu maha tahu, kita tidak akan bisa menjelaskan Mat 24:36, yang menunjukkan bahwa manusia Yesus tidak mengetahui hari Tuhan.

Tetapi dalam hal kehendak, itu membingungkan saya. Apa contohnya? Apakah hanya sekedar bahwa kehendakNya suci?

Kalau dalam hal kuasa, jelas bukan berarti Yesus sebagai manusia itu sebagai superman yang mempunyai kekuatan jasmani yang luar biasa. Tetapi mungkin ‘kuasa’ yang dimaksudkan adalah dalam hal wibawa dan kuasa dalam pengajaran / tindakan.

Yoh 2:14-16 - “(14) Dalam Bait Suci didapatiNya pedagang-pedagang lembu, kambing domba dan merpati, dan penukar-penukar uang duduk di situ. (15) Ia membuat cambuk dari tali lalu mengusir mereka semua dari Bait Suci dengan semua kambing domba dan lembu mereka; uang penukar-penukar dihamburkanNya ke tanah dan meja-meja mereka dibalikkanNya. (16) Kepada pedagang-pedagang merpati Ia berkata: ‘Ambil semuanya ini dari sini, jangan kamu membuat rumah BapaKu menjadi tempat berjualan.’”.

Catatan: coba bayangkan kalau orang biasa melakukan hal ini apakah ia tidak dirajam? Jelas di sini terlihat wibawa Yesus yang luar biasa, sehingga sekalipun ada yang menentangNya tetapi tak ada yang melakukan perlawanan fisik.

Luk 4:28-30 - “(28) Mendengar itu sangat marahlah semua orang yang di rumah ibadat itu. (29) Mereka bangun, lalu menghalau Yesus ke luar kota dan membawa Dia ke tebing gunung, tempat kota itu terletak, untuk melemparkan Dia dari tebing itu. (30) Tetapi Ia berjalan lewat dari tengah-tengah mereka, lalu pergi.”.

Calvin menganggap ini terjadi karena Allah melakukan mujijat, tetapi William Hendriksen membuka peluang (sekalipun tidak memastikan) bahwa sikap Yesus yang tenang dan agung membuat mereka tidak bisa / berani berbuat apa-apa.

Yoh 7:44-46 - “(44) Beberapa orang di antara mereka mau menangkap Dia, tetapi tidak ada seorangpun yang berani menyentuhNya. (45) Maka penjaga-penjaga itu pergi kepada imam-imam kepala dan orang-orang Farisi, yang berkata kepada mereka: ‘Mengapa kamu tidak membawaNya?’ (46) Jawab penjaga-penjaga itu: ‘Belum pernah seorang manusia berkata seperti orang itu!’.

William Hendriksen mengatakan bahwa penjaga-penjaga itu tidak berani menangkap Yesus karena sangat terkesan oleh kata-kata Yesus. Lenski mengatakan bahwa otoritas, keagungan dan kuasa Yesus membuat mereka tidak berani menangkapNya.

Yoh 18:3-6 - “(3) Maka datanglah Yudas juga ke situ dengan sepasukan prajurit dan penjaga-penjaga Bait Allah yang disuruh oleh imam-imam kepala dan orang-orang Farisi lengkap dengan lentera, suluh dan senjata. (4) Maka Yesus, yang tahu semua yang akan menimpa diriNya, maju ke depan dan berkata kepada mereka: ‘Siapakah yang kamu cari?’ (5) Jawab mereka: ‘Yesus dari Nazaret.’ KataNya kepada mereka: ‘Akulah Dia.’ Yudas yang mengkhianati Dia berdiri juga di situ bersama-sama mereka. (6) Ketika Ia berkata kepada mereka: ‘Akulah Dia,’ mundurlah mereka dan jatuh ke tanah.”.

Lenski menganggap bahwa seluruh pasukan rebah karena kata-kata Yesus ‘Akulah Dia’ dan ini pasti karena kuasa Ilahi. William Hendriksen berkata bahwa sikap, suara, pandangan mata, keagungan Yesus menyebabkan hal ini, tetapi ini juga merupakan suatu tanda dari Yesus bahwa Ia adalah Mesias / Kristus. Leon Morris mengatakan ini disebabkan keagungan Yesus.

Kuasa pengajaranNya terlihat dari ayat ini:
Mat 7:28-29 - “(28) Dan setelah Yesus mengakhiri perkataan ini, takjublah orang banyak itu mendengar pengajaranNya, (29) sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat mereka.”.

Catatan: Communicatio Charismatum / Gratiarum ini tidak mengubah hakekat manusia itu menjadi Allah!

D) Ayat-ayat Kitab Suci yang berhubungan dengan Personal Union.

Ada 4 golongan ayat-ayat Kitab Suci:

1) Ayat-ayat yang menggunakan sebutan bagi Kristus dengan sebutan yang berlaku untuk pribadi Kristus, tetapi tidak cocok / berlaku baik untuk hakekat manusia saja maupun untuk hakekat ilahi saja.

Contoh:
a) Yoh 1:29 - Anak Domba Allah.
b) Yoh 5:21-23 - Hakim.
c) Yoh 9:5 - Terang dunia.
d) Yoh 10:9,11 - Pintu, Gembala.
e) Yoh 15:1 - Pokok anggur yang benar.
f) Ro 8:34 - Pembela.
g) Ef 4:15 - Kepala Gereja.

Sebutan-sebutan ini tidak ditujukan kepada Kristus sebagai Allah Anak / LOGOS, juga tidak kepada Kristus sebagai manusia, tetapi kepada Pribadi Kristus (The God-man).

Calvin“Let this, then, be our key to right understanding: those things which apply to the office of the Mediator are not spoken simply either of the divine nature or of the human.” [= Biarlah ini menjadi kunci bagi kita untuk mendapatkan pengertian yang benar: hal-hal yang berhubungan dengan jabatan dari Pengantara, tidak dikatakan HANYA tentang hakekat ilahi atau manusia.] - ‘Institutes of the Christian Religion’, Book II, chapter XIV, 3.

2) Ayat-ayat yang sebetulnya hanya cocok untuk hakekat ilahi / LOGOS, tetapi ditujukan kepada pribadi Kristus.

Contoh:

a) Yoh 8:58 - Kata Yesus kepada mereka: ‘Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sebelum Abraham jadi, Aku (telah) ada.’.

Sebetulnya kata-kata ‘ada sebelum Abraham jadi’ hanya berlaku untuk hakekat ilahi, bukan untuk hakekat manusia. Tetapi sekalipun demikian, Yesus tidak berkata ‘sebelum Abraham jadi, hakekat ilahiKu ada’, tetapi Ia berkata ‘sebelum Abraham jadi, Aku (menunjuk pada pribadiNya) ada’.

b) Yoh 17:5 - Oleh sebab itu, ya Bapa, permuliakanlah Aku padaMu sendiri dengan kemuliaan yang Kumiliki di hadiratMu sebelum dunia ada..

Sebetulnya kata-kata ‘memiliki kemuliaan di hadirat Allah sebelum dunia dijadikan’ hanya berlaku untuk hakekat ilahi, bukan untuk hakekat manusia. Tetapi Yesus lagi-lagi menggunakan kata ‘Aku’, yang menunjukkan bahwa kata-kata itu Ia tujukan untuk pribadiNya.

3) Ayat-ayat yang sebetulnya hanya cocok untuk hakekat manusiaNya, tetapi ditujukan kepada pribadi Kristus.

Contoh:

a) Mat 26:37-38 - “(37) Dan Ia membawa Petrus dan kedua anak Zebedeus sertaNya. Maka mulailah Ia merasa sedih dan gentar, (38) lalu kataNya kepada mereka: ‘HatiKu sangat sedih, seperti mau mati rasanya. Tinggallah di sini dan berjaga-jagalah dengan Aku.’”.

Sebetulnya yang bisa merasa sedih dan gentar, seperti mau mati, dsb, hanyalah hakekat manusia, bukan hakekat ilahi. Tetapi ayat-ayat ini menujukannya untuk pribadi Yesus.

b) Hal yang sama bisa saudara jumpai dalam:

Luk 2:40,52 - “(40) Anak itu bertambah besar dan menjadi kuat, penuh hikmat, dan kasih karunia Allah ada padaNya. ... (52) Dan Yesus makin bertambah besar dan bertambah hikmatNya dan besarNya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia.”.

Luk 24:39-43 - “(39) Lihatlah tanganKu dan kakiKu: Aku sendirilah ini; rabalah Aku dan lihatlah, karena hantu (roh) tidak ada daging dan tulangnya, seperti yang kamu lihat ada padaKu.’ (40) Sambil berkata demikian, Ia memperlihatkan tangan dan kakiNya kepada mereka. (41) Dan ketika mereka belum percaya karena girangnya dan masih heran, berkatalah Ia kepada mereka: ‘Adakah padamu makanan di sini?’ (42) Lalu mereka memberikan kepadaNya sepotong ikan goreng. (43) Ia mengambilnya dan memakannya di depan mata mereka.”.

Yoh 11:35 - “Maka menangislah Yesus.”.

4) Ayat-ayat yang menggunakan sebutan / gelar yang hanya cocok untuk hakekat yang satu, tetapi menggunakan predikat yang hanya cocok untuk hakekat yang lain.
Ini terbagi dalam 2 golongan:

a) Ayat-ayat yang menyebut Kristus dengan sebutan / gelar ilahi, tetapi menggunakan predikat yang hanya cocok untuk hakekat manusia.

Contoh:

1. Kis 20:28 - “Karena itu jagalah dirimu dan jagalah seluruh kawanan, karena kamulah yang ditetapkan Roh Kudus menjadi penilik untuk menggembalakan jemaat Allah yang diperolehNya dengan darah (Anak)Nya sendiri.”.
NIV: “... the church of God, which he bought with his own blood” [= ... jemaat / gereja Allah, yang Ia beli dengan darahNya sendiri].

Catatan: dalam ayat ini TB1 - LAI salah terjemahan karena menterjemahkan ‘darah AnakNya’. Ini dibetulkan dalam TB2 - LAI yang menterjemahkan ‘darahNya’ (menghapus kata ‘Anak’ yang memang sebetulnya tidak ada dalam bahasa aslinya).

Ayat ini menggunakan sebutan / gelar ilahi (‘Allah’), tetapi predikatnya berbicara tentang ‘darah’, yang sebetulnya hanya cocok untuk hakekat manusia Yesus.

2. 1Kor 2:8 - “Tidak ada dari penguasa dunia ini yang mengenalnya, sebab kalau sekiranya mereka mengenalnya, mereka tidak menyalibkan Tuhan yang mulia.”.

Ayat ini menggunakan sebutan / gelar ilahi (‘Tuhan yang mulia’ / ‘The Lord of glory’), tetapi menggunakan predi­kat ‘menyalibkan’ yang sebetulnya hanya cocok untuk hakekat manusia Yesus.

3. 1Yoh 1:1 - Apa yang telah ada sejak semula, yang telah kami dengar, yang telah kami lihat dengan mata kami, yang telah kami saksikan dan yang telah kami raba dengan tangan kami tentang Firman hidup - itulah yang kami tuliskan kepada kamu..

Ayat ini menggunakan sebutan / gelar ilahi (‘Firman’ / LOGOS), tetapi menggunakan predikat ‘telah kami lihat dengan mata kami’ dan ‘telah kami saksikan dan yang telah kami raba dengan tangan kami’, yang sebetulnya hanya cocok untuk hakekat manusia Yesus.

4. Wah 11:8 - “Dan mayat mereka akan terletak di atas jalan raya kota besar, yang secara rohani disebut Sodom dan Mesir, di mana juga Tuhan mereka disalibkan.”.

Ayat ini menggunakan sebutan / gelar ilahi (‘Tuhan’), tetapi menggunakan predikat ‘disalibkan’ yang sebetulnya hanya cocok untuk hakekat manusia Yesus.

5. Ibr 7:14 - “Sebab telah diketahui semua orang, bahwa Tuhan kita berasal dari suku Yehuda dan mengenai suku itu Musa tidak pernah mengatakan suatu apapun tentang imam-imam.”.

Ayat ini menggunakan sebutan / gelar ilahi (‘Tuhan’), tetapi menggunakan predikat ‘berasal dari suku Yehuda’, yang tentu saja hanya cocok untuk hakekat manusia Yesus.

b) Ayat-ayat yang menyebut Kristus dengan sebutan / gelar manusia, tetapi menggunakan predikat yang hanya cocok untuk hakekat ilahi.

Contoh:

1. Mat 9:6 - Tetapi supaya kamu tahu, bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa’ - lalu berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu -: ‘Bangunlah, angkatlah tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu!’.

Ayat ini menggunakan sebutan / gelar manusia (‘Anak Manusia’), tetapi menggunakan predikat ‘berkuasa mengam­puni dosa’ yang hanya cocok untuk hakekat ilahi.

2. Mat 12:8 - “Karena Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat.’”.

Ayat ini menggunakan sebutan / gelar manusia (‘Anak Manusia’), tetapi menggunakan predikat ‘Tuhan atas hari Sabat’ yang hanya cocok untuk hakekat ilahi.

3. Hal yang sama bisa saudara lihat dalam ayat-ayat seper­ti:

Mat 13:41 - Anak Manusia akan menyuruh malaikat-malaikatNya dan mereka akan mengumpulkan segala sesuatu yang menyesatkan dan semua orang yang melakukan kejahatan dari dalam KerajaanNya..

Luk 19:10 - Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang.’.

Yoh 3:13 - Tidak ada seorangpun yang telah naik ke sorga, selain dari pada Dia yang telah turun dari sorga, yaitu Anak Manusia..

Yoh 6:62 - Dan bagaimanakah, jikalau kamu melihat Anak Manusia naik ke tempat di mana Ia sebelumnya berada?.

1Kor 15:47b - manusia kedua berasal dari sorga..

Calvin menjelaskan mengapa hal itu dilakukan dalam Kitab Suci dengan berkata sebagai berikut:

“And they (Scriptures) so earnestly express this union of the two natures that is in Christ as sometimes to inter­change them.”  [= Dan mereka (Kitab-kitab Suci) begitu sungguh-sungguh mewujudkan kesatuan dari dua hakekat yang ada di dalam Kristus sehingga kadang-kadang menukar / membolak-balik mereka.] - ‘Institutes of the Christian Religion’, book II, chapter XIV, 1.

“But because the selfsame one was both God and man, for the sake of the union of both natures he gave to the one what belonged to the other.” [= Tetapi karena ‘orang’ yang sama adalah Allah dan manusia, demi kesatuan dari kedua hakekat, ia memberikan kepada yang satu apa yang termasuk pada yang lain.] - ‘Institutes of the Christian Religion’, book II, chapter XIV, 2.


-o0o-

Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
Email : golgotha_ministry0@yahoo.com

KRISTOLOGI (5)

GOLGOTHA SCHOOL OF MINISTRY

(Rungkut Megah Raya Blok D No 16)
Rabu, tgl 3 Juli 2019, pk 19.00
PDT. BUDI ASALI, M. DIV.

KRISTOLOGI (5)


V) Kristus: 1 person / pribadi dengan 2 natures / hake­kat.

A) Istilah ‘Person’ dan ‘Nature’.

1) Mengapa digunakan istilah-istilah seperti ‘person’ [= priba­di] dan ‘nature’ [= hakekat], padahal istilah-istilah terse­but tidak ada dalam Kitab Suci?

Calvin (pada waktu ia berbicara tentang Allah Tritunggal dalam Yoh 1:1-2) menjawab pertanyaan tersebut sebagai berikut:

“And yet the ancient writers of the Church were excusable, when, finding that they could not in any other way maintain sound and pure doctrine in opposition to the perplexed and ambiguous phraseology of the heretics, they were compelled to invent some words, which after all had no other meaning than what is taught in the Scriptures. They said that there are three Hypostases, or Subsistences, or Persons, in the one and simple essence of God.” [= Dan / tetapi penulis-penulis kuno dari gereja bisa dibenarkan, karena pada waktu mereka melihat bahwa tidak ada jalan lain untuk mempertahankan doktrin yang sehat dan murni untuk menentang penyusunan kata yang membingungkan dan berarti dua dari orang-orang sesat, maka mereka terpaksa menciptakan beberapa kata-kata, yang sebetulnya tidak mempunyai arti lain dari pada apa yang diajarkan dalam Kitab Suci. Mereka berkata bahwa ada tiga pribadi dalam hakekat Allah yang satu dan sederhana.].

Herman Bavinck mengatakan sebagai berikut:
“It is of course self-evident that this confession of Nicea and Chalcedon may not lay claim to infallibility. The terms of which the church and its theology make use, such as person, nature, unity of substance, and the like, are not found in Scripture, but are the product of reflection which Christianity gradually had to devote to this mystery of salvation. The church was compelled to do this reflecting by the heresies which loomed up on all sides, both within the church and outside of it. All those expressions and statements which are employed in the confession of the church and in the language of theology are not designed to explain the mystery which in this matter confronts it, but rather to maintain it pure and unviolated over against those who would weaken or deny it.” [= Jelaslah bahwa pengakuan iman Nicea dan Chalcedon tidak bisa dianggap infalli­ble / tak bisa salah. Istilah-istilah yang digunakan oleh gereja dan theologinya, seperti pribadi, hakekat, kesatuan hakekat / zat, dan sebagainya, tidak ditemukan dalam Kitab Suci, tetapi merupakan hasil pemikiran yang secara bertahap / perlahan-lahan harus diberikan oleh kekristenan kepada misteri tentang keselamatan iniGereja dipaksa untuk melakukan pemikiran ini oleh bidat-bidat yang muncul dan mengancam dari semua sisi, baik di dalam maupun di luar gerejaSemua istilah dan pernyataan yang digunakan dalam pengakuan iman gereja dan dalam bahasa theologia, TIDAK DIMAKSUDKAN UNTUK MENJELASKAN MISTERI YANG DIHADAPItetapi untuk menjaganya supaya tetap murni dan tak terganggu dari mereka yang ingin melemahkan atau menyangkalnya.] - ‘Our Reasonable Faith’, hal 321-322.

Bavinck melanjutkan lagi:
“There have been many, and there still are many, who look down upon the doctrine of the two natures from a lofty vantage point, and try to supplant it by other words and phrases. What differences does it really make, they begin by saying, whether we agree with this doctrine or not? What matters is that we ourselves possess the person of Christ, He who stands high and exalted above this awkward confes­sion. But before long these same persons begin introducing words and terms themselves in order to describe the person of Christ whom they accept. ... And then history has taught that the terms of the attackers of the Doctrine of the Two Natures are far poorer in worth and force, and that they often, indeed, involve doing injustice to the incarnation as Scripture explains it to us.” [= Pernah ada banyak orang, dan sampai sekarang masih ada banyak orang, yang dari tempat yang tinggi dan menguntungkan, meremehkan / meman­dang rendah doktrin tentang 2 hakekat ini, dan mencoba untuk menggantinya dengan kata-kata dan ungkapan-ungkapan yang lain. Mereka memulainya dengan berkata: apa bedanya apakah kami menyetujui doktrin ini atau tidak? Yang penting adalah bahwa kami memiliki pribadi Kristus, yang berdiri jauh di atas pengakuan yang aneh ini. Tetapi sebentar lagi, orang-orang ini sendiri mulai memperkenalkan kata-kata dan istilah-istilah untuk menggambarkan pribadi Kristus yang mereka terima. ... Dan sejarah telah mengajar bahwa isti­lah-istilah dari para penyerang doktrin  tentang 2 hakekat ini, jauh lebih jelek dalam nilainya dan kekuatannya, dan bahwa mereka bahkan sering terlibat dalam perlakuan yang tidak benar terhadap inkarnasi seperti yang dijelaskan oleh Kitab Suci kepada kita.] - ‘Our Reasonable Faith’, hal 322.

Apa yang dikatakan oleh Bavinck ini terbukti dalam buku sesat dari Pdt. Yohanes Bambang, yang berjudul ‘Tuhan, Ajarlah Aku’.

Dalam hal 131, ia berkata sebagai berikut: “Jadi karena hakikat Alkitab berfungsi sebagai pewar­taan iman maka dalam kesaksiannya tidak pernah berspekulasi juga mengenai masalah sebagaimana yang dikemukakan oleh Tertullianus. Alkitab tidak pernah membuat hipotesa tentang Allah Bapa, Allah Anak dan Roh Kudus dengan kategori-kategori ‘UNA SUBSTANTIA, TRES PERSONAE’ (satu zat yang memiliki tiga pribadi). Cara berpikir Tertullianus adalah cara berpikir yang filsafati ketim­bang cara berpikir teologis-alkitabiah. Bila demikian, identitas Roh Kudus bukan dalam pengertian ZAT ILAHI yang memiliki kepri­badian sendiri. Alkitab tidak pernah mengenal atau mempergunakan istilah dan pengertian ZAT ILAHI.

Jadi terlihat bahwa ia menolak ajaran Tertullian ini dengan alasan bahwa istilah ‘zat ilahi’ itu tidak ada dalam Kitab Suci. Tetapi anehnya dalam bagian lain dari bukunya ia berkata:
a) “Secara matematis memang berjum­lah tiga. Tetapi dari penghayatan iman dan materi Allah: keti­gaNya adalah YANG TUNGGAL” (hal 109).
b) “Jadi Allah dan Yesus adalah satu, tapi bukan satu dalam arti matematis, juga bukan dalam arti satu zat. Allah dan Yesus adalah satu dalam ciri hakiki ilahi dan karya (pekerjaan)Nya” (hal 110).
c) “... sehingga dalam diri Yesus Kristus nampak seluruh ciri hakiki Allah sendiri” (hal 135).

Perhatikan bahwa sekarang ia menggunakan istilah-istilah ‘materi Allah’‘ciri hakiki ilahi’, dan ‘ciri hakiki Allah’Bukankah istilah-istilah itu juga tidak ada dalam Kitab Suci? Jadi terlihat kebenaran kata-kata Bavinck di atas. Orang ini baru saja mencela penggunaan istilah ‘zat ilahi’, tetapi lalu menciptakan istilahnya sendiri, yang juga tidak ada dalam Kitab Suci, dan jelas lebih jelek nilainya dari istilah ‘zat ilahi’ yang ia cela.

2)    Arti dari person dan nature.

Pada waktu LOGOS / Anak Allah berinkarnasi, Ia tidak mengambil pribadi manusia, tetapi hakekat manusia (yang lalu mendapatkan kepribadiannya dari LOGOS).

Kalau demikian, bisakah kita berkata bahwa Yesus tidak mengambil seluruh manusia, karena yang Ia ambil adalah manusia tanpa kepribadian? Kalau memang LOGOS tidak mengam­bil seluruh manusia, bukankah itu berarti bahwa Ia tidak menebus seluruh manusia? Kalau Ia tidak mengambil kepribadian manusia, bukankah itu berarti bahwa kepribadian kita tidak ditebus?

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, kita perlu mengerti tentang arti / definisi dari istilah ‘person / pribadi’ dan ‘nature / hekekat’.

a) Human nature adalah substance / essence [= hakekat] dari manusia. Tidak ada perbedaan antara human nature yang satu dengan human nature yang lain. Semua manusia mempunyai human nature yang sama.

b) Human nature sudah merupakan seluruh manusia, tidak ada sedikitpun yang kurang.

c) Human person [= pribadi manusia] adalah human nature yang sudah dipribadikan. Karena itu, human person yang satu berbeda dengan human person yang lain.

Beberapa kutipan kata-kata William G. T. Shedd:

1. “Personality is not an integral and essential part of a nature, but is, as it were, the terminus to which it tends” [= Kepribadian bukanlah merupakan bagian yang perlu untuk melengkapi dan bukan bagian yang pokok / hakiki dari suatu hakekat, tetapi merupakan terminal / tujuan yang dituju oleh hakekat itu] - ‘Shedd’s Dogmatic Theology’, vol II, hal 287.

2. “When we  speak of a human nature, a real substance having physical, rational, moral and spiritual properties is meant. This human nature is capable of becoming a human person but as yet is not one. It requires to be personalized, in order to be a self-conscious individual man. A human person is a fractional part of a specific human nature or substance which has been separated from the common mass, and formed into a distinct and separate individual, by the process of generation. Prior to this separation and formation, this fractional portion of the common human nature has all the qualities of the common mass of which it is a part, but it is not yet individual­ized. It is potentially, not actually personal. It has all the properties that subsequently appear in the par­ticular individual formed of it,” [= Pada waktu kita berbicara tentang suatu hakekat manusia, maka yang dimaksud adalah suatu zat yang nyata yang memiliki sifat-sifat fisik, ratio, moral dan rohani. Hakekat manusia ini bisa menjadi pribadi manusia tetapi belum / bukan merupakan pribadi manusiaHakekat manusia itu perlu dipribadikan supaya menjadi seorang manusia tersendiri yang sadar. Seorang pribadi manusia adalah sebagian kecil dari hakekat atau zat manusia tertentu yang telah dipisahkan dari seluruh massa, dan dibentuk menjadi pribadi tersendiri yang berbeda dan terpisah, oleh proses kelahiranSebelum pemisahan dan pembentukan ini, bagian kecil dari seluruh hakekat manusia itu, mempunyai semua sifat-sifat dari seluruh massa dari mana ia merupakan bagian, tetapi ia belum dipribadikan. Ia berpotensi untuk menjadi pribadi, tetapi ia tidak / belum sungguh-sungguh  merupakan pribadi. Ia mempunyai semua sifat-sifat dasar yang sesudah itu muncul dalam pribadi terten­tu yang dibentuk darinya,] - ‘Shedd’s Dogmatic Theology’, vol II, hal 289-290.

3. “A lump of clay has all the properties of matter that belong to the vessel of honor and dishonor. But it has not as yet the individual form of the vessel. An act of the potter must intervene, whereby a piece of clay is separated from the lump and moulded into a particular vase having its own peculiar shape and figure. In like manner, human nature as an entire whole existing in Adam possessed all the elementary properties that are requi­site to personality, though it was not yet personalized.” [= Segumpal tanah liat mempunyai semua sifat-sifat dasar dari bahan / zat yang dimiliki oleh bejana yang terhormat dan tak terhormatTetapi gumpalan tanah liat itu belum mempunyai bentuk dari bejana itu. Suatu tindakan dari penjunan harus ikut campur, dengan mana segumpal tanah liat itu dipisahkan dari seluruh gumpalan dan dibentuk menjadi suatu jambangan tertentu yang mempunyai bentuknya yang khasDemikian juga, hakekat manusia sebagai suatu keseluruhan yang ada di dalam Adam mempunyai semua sifat-sifat dasar yang diperlukan untuk kepribadian, sekalipun hakekat manusia itu belum dipribadikan.] - ‘Shedd’s Dogmat­ic Theology’, vol II, hal 290-291.

4. “The difference, then, between nature and person is virtually that between substance and form.” [= Jadi, perbedaan sebenarnya antara hakekat dan pribadi adalah perbedaan antara zat dan bentuk.] - ‘Shedd’s Dogmatic Theology’, vol II, hal 291.

5. “Still another point of difference between a ‘nature’ and a ‘person’ is the fact that a nature can not be distin­guished from another nature, but a person can be from another person.” [= Perbedaan lain lagi antara ‘hakekat’ dan ‘pribadi’ adalah fakta bahwa suatu hakekat tidak bisa dibedakan dari hakekat yang lainsedangkan suatu pribadi bisa dibedakan dari pribadi yang lain.] - ‘Shedd’s Dogmatic Theology’, vol II, hal 294.

Catatan: ini hanya ilustrasi untuk menjelaskan. Perlu dicamkan, bahwa dalam realitanya hakekat manusia yang belum dibentuk itu TIDAK PERNAH ADA sendirian / terpisah dari hakekat / pribadi ilahi!

Kesimpulan dari semua ini:
Karena person / pribadi adalah nature / hakekat yang sudah dibentuk / dipribadikan, maka sebetulnya person / pribadi tidak memiliki kelebihan zat dibandingkan dengan nature / hakekat. Ingat bahwa ‘pembentukan’ bukanlah penam­bahan zat!
Sama seperti segumpal tanah liat, yang sudah dibentuk menjadi jambangan / gelas, tidak mempunyai kelebihan zat dibanding­kan dengan saat gumpalan tanah liat itu belum dibentuk, demikian juga person / pribadi tidak mempunyai kelebihan zat dibandingkan dengan nature / hakekat.

Illustrasi:

  tanah liat                                                              Common Mass




                                                                        Nature / Hakekat





                                                                                                Person / Pribadi




Dari illustrasi gambar ini terlihat dengan jelas bahwa perbedaan antara nature dan person, tidak terletak pada perbedaan zat / hakekat, tetapi pada pembentukan (nature / hakekat - belum dibentuk; person / pribadi - sudah dibentuk).

Dengan demikian, pada waktu Yesus mengambil human nature / hakekat manusia, Ia sebetulnya sudah mengambil seluruh manusia, tanpa ada yang kurang sedikitpun.

B) Hypostatical / personal Union [= persatuan pribadi].

1) Yesus Kristus adalah sungguh-sungguh Allah dan sungguh-sungguh manusia. Tetapi Ia hanya merupakan 1 pribadi.

Dasar dari pandangan ini: dalam Kitab Suci sering ditunjukkan akan adanya lebih dari 1 pribadi dalam diri Allah. Misalnya:

a) Penggunaan kata ganti orang bentuk jamak.
Kej 1:26 - “Berfirmanlah Allah: ‘Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.’”.

b) Pembicaraan antara satu pribadi dengan pribadi yang lain.
Maz 2:7 - “Aku mau menceritakan tentang ketetapan TUHAN; Ia berkata kepadaku: ‘AnakKu engkau! Engkau telah Kuperanakkan pada hari ini.”.

c) Adanya saling kasih-mengasihi antara pribadi-pribadi itu.
Mat 3:17 - “lalu terdengarlah suara dari sorga yang mengatakan: ‘Inilah AnakKu yang Kukasihi, kepadaNyalah Aku berkenan.’”.

d) Pribadi yang satu mengutus pribadi yang lain.
Bapa mengutus Anak, dan Bapa dan Anak mengutus Roh Kudus.
Yoh 17:3 - “Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus.”.
Yoh 14:26 - “tetapi Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam namaKu, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu.”.
Yoh 15:26 - “Jikalau Penghibur yang akan Kuutus dari Bapa datang, yaitu Roh Kebenaran yang keluar dari Bapa, Ia akan bersaksi tentang Aku.”.

Tetapi hal-hal tersebut tidak pernah terjadi pada waktu Kitab Suci menggambarkan Yesus Kristus. Jadi jelaslah bahwa berbeda dengan Allah Tritunggal yang memiliki lebih dari 1 pribadi (dalam hal ini 3 pribadi), Yesus Kristus hanya memiliki 1 pribadi saja!

2) Sebelum inkarnasi, Yesus adalah Allah Anak yang jelas merupakan ‘seseorang’ yang berpribadi.
Jadi pada saat itu Ia adalah 1 pribadi dengan 1 hakekat, yaitu hakekat ilahi.
Pada saat Ia berinkarnasi, Ia tidak mengambil ‘pribadi manusia’ karena ini akan menimbulkan adanya 2 pribadi seperti yang diajarkan oleh Nestorianisme.
Yang diambil olehNya adalah hakekat manusia.
Hakekat manusia dan hakekat ilahi bersatu dalam pribadi Anak Allah sehingga setelah inkarnasi, Yesus adalah 1 pribadi dengan 2 hakekat (ilahi dan manusia).

Ada yang beranggapan bahwa yang diambil oleh LOGOS bukanlah ‘hakekat manusia’ tetapi ‘pribadi manu­sia’, karena yang diambil itu terdiri dari tubuh dan jiwa / roh, yang mencakup pikiran, perasaan, dan kehendak, dan ketiga hal ini merupakan ciri-ciri dari seorang pribadi.
Tetapi ini tidak benar, karena sekalipun LOGOS itu mengambil tubuh manusia dan jiwa / roh manusia, yang mempunyai pikiran, perasaan dan kehendak, tetapi semua itu belum dipribadikan, sehingga sifatnya belum / tidak specific [= tertentu].
Jadi, pikirannya belum tertentu (pandai atau bodoh / berapa tinggi IQnya), perasaannya belum tertentu (halus atau kasar), kehendaknya belum tertentu (keras atau tidak). Bahkan tubuhnyapun belum tertentu (tinggi atau pendek, berkulit putih atau kuning atau hitam, bermata biru atau coklat, berambut pirang atau hitam, dsb).
Dengan demikian ini bukan pribadi manusia, tetapi hakekat manusia.
Tetapi pada saat pertama LOGOS mengambil hakekat manusia itu, maka hakekat manusia itu mendapat kepribadiannya dari LOGOS, sehingga menjadi manusia tertentu.

3) Hakekat manusia itu tidak pernah ada terpisah dari pribadi Allah Anak.
Hakekat manusia itu mendapat kepribadiannya dari pribadi Allah Anak dan selalu ada di dalam pribadi Allah Anak itu.
Bahkan antara kematian dan kebangkitan Yesuspun, hakekat manusia itu tak terpisah dengan LOGOS / Allah Anak, karena sekalipun  hakekat manusia itu terpecah (roh terpisah dari tubuh), tetapi LOGOS / Allah Anak yang maha ada itu tetap bersatu baik dengan tubuh (yang ada di kuburan) maupun dengan roh (yang ada di surga).

4) Dalam Personal Union [= persatuan pribadi] ini terjadi suatu persatuan, bukan suatu percampuran (mixture / confu­sion), antara hakekat manusia dan hakekat ilahi.

Hakekat manusia dan hakekat ilahi tidak bercampur dan lalu membentuk satu hakekat yang baru.

Juga hakekat manusia tidak berubah menjadi hakekat ilahi, dan hakekat ilahi tidak berubah menjadi hakekat manusia.

JADI, BAIK HAKEKAT MANUSIA MAUPUN HAKEKAT ILAHI TETAP MEMPUNYAI / MEMPERTAHANKAN SIFAT-SIFATNYA SENDIRI-SENDIRI.

Mereka berbeda, tetapi bersatu dalam diri Yesus Kristus.


-bersambung-

Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
Email : golgotha_ministry0@yahoo.com