About us

Golgotha Ministry adalah pelayanan dari Pdt. Budi Asali,M.Div dibawah naungan GKRI Golgota Surabaya untuk memberitakan Injil ke seluruh dunia dan mengajarkan kebenaran firman Tuhan melalui khotbah-khotbah, pendalaman Alkitab, perkuliahan theologia dalam bentuk tulisan maupun multimedia (DVD video, MP3, dll). Pelayanan kami ini adalah bertujuan agar banyak orang mengenal kebenaran; dan bagi mereka yang belum percaya, menjadi percaya kepada Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadinya, dan bagi mereka yang sudah percaya, dikuatkan dan didewasakan didalam iman kepada Kristus.
Semua yang kami lakukan ini adalah semata-mata untuk kemuliaan nama Tuhan Yesus Kristus.

Kami mengundang dengan hangat setiap orang yang merasa diberkati dan terbeban didalam pelayanan untuk bergabung bersama kami di GKRI Golgota yang beralamat di : Jl. Raya Kalirungkut, Pertokoan Rungkut Megah Raya D-16, Surabaya.

Tuhan Yesus memberkati.

Tampilkan postingan dengan label Pengakuan Iman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pengakuan Iman. Tampilkan semua postingan

Selasa, 21 Januari 2014

KITAB KEHIDUPAN VERSI ERASTUS SABDONO DAN TANGGAPAN DARI BUDI ASALI

KITAB KEHIDUPAN & KITAB KEHIDUPAN ANAK DOMBA 

Nama seseorang bisa saja tertulis dengan tinta emas di buku bergengsi mana pun tetapi kalau tidak tertulis dalam kitab Kehidupan berarti bencana besar. Disebut kitab Kehidupan sebab nama-nama yang termuat di dalamnya adalah orang-orang yang diperkenan hidup tidak mati dalam kebinasaan. Mati di sini maksudnya terpisah dari hadirat Allah selamanya, yang sama dengan kebinasaan dalam api kekal atau gehenna.

Kitab Kehidupan dalam bahasa Ibraninya adalah sefer khayim dan dalam bahasa Yunaninya biblion tes zoes. Dalam Perjanjian Lama kita bisa menemukan kata ini di Mazmur 69:28/29, Keluaran 32:32-33 dan Daniel 12:1. Sedangkan di Perjanjian Baru ditemukan lebih banyak ayat tentang kitab Kehidupan, kitab Kehidupan Anak Domba dan yang berkaitan seperti di Filipi 4:3, Wahyu 3:5, 13:8, 17:8, 20:12,15, Lukas 10:20. Kitab Kehidupan hendak menunjukkan kenyataan bahwa setiap orang sangat berharga di hadapan Tuhan, sehingga Tuhan “mencatat” nama-nama mereka.

Mengacu pada hakekat Allah yang kasih adanya dan pernyataan Petrus dalam suratnya (2 Petrus 3:9), bahwa Tuhan tidak menghendaki seorang pun binasa, maka sesungguhnya setiap orang namanya sudah tertulis dalam kitab Kehidupan.

Tanggapan Budi Asali:
Bagaimana ini bisa sesuai dengan ayat ini?
Wah 17:8 - “Adapun binatang yang telah kaulihat itu, telah ada, namun tidak ada, ia akan muncul dari jurang maut, dan ia menuju kepada kebinasaan. Dan mereka yang diam di bumi, yaitu mereka yang TIDAK TERTULIS di dalam kitab kehidupan SEJAK DUNIA DIJADIKAN, akan heran, apabila mereka melihat, bahwa binatang itu telah ada, namun tidak ada, dan akan muncul lagi”.

Dalam hal ini Tuhan sudah menetapkan manusia-manusia yang akan pernah ada dan Allah menginginkan agar semuanya hidup sesuai dengan rancanganNya.

Tanggapan Budi Asali:
Tuhan sudah menetapkan manusia-manusia yang akan pernah ada? Nanti dalam faktanya ada yang lahir sebagai anak haram, bukan? Dan itu ditetapkan juga, bukan? Jadi Tuhan menetapkan dosa!

Tuhan tidak pernah merancang seorang pun diciptakan untuk dibinasakan. Tuhan tidak pernah bermaksud jahat kepada siapa pun. Semua manusia dirancang untuk memperoleh kelimpahanNya. Itulah sebabnya Tuhan menciptakan bumi dengan segala isinya dengan “sungguh sangat baik” untuk manusia yang dikasihiNya.

Tanggapan Budi Asali:
Bahwa Tuhan menciptakan semua ‘sungguh amat baik’, tak ada hubungannya dengan Tuhan merancang kebinasaan. Jelas bahwa neraka diciptakan oleh Tuhan, dan untuk apa kalau nggak dihuni? Tidak bisa tidak, Dia memang punya penetapan binasa.

Sesungguhnya Tuhan sudah mencatat setiap nama yang akan pernah hidup di bumi ini yang pada mulanya diciptakan sempurna untuk menjadi “firdaus” bagi manusia. Bumi inilah Firdaus bagi manusia. Tentu saja tidak ada catatan nama-nama orang yang akan binasa. Tidak ada yang ditarget untuk dikutuk.

Tanggapan Budi Asali:
Bumi = Firdaus? Kok mirip ajaran Saksi Yehuwa ya?

Firdaus itu adalah surga. Ini bisa terlihat kalau kita membandingkan 2Kor 12:4 dengan 2Kor 12:2, karena dalam 2Kor 12:2 Paulus mengatakan diangkat ke sorga, sedangkan dalam 2Kor 12:4 Paulus mengatakan diangkat ke Firdaus.
2Kor 12:2,4 - “(12) Aku tahu tentang seorang Kristen; empat belas tahun yang lampau - entah di dalam tubuh, aku tidak tahu, entah di luar tubuh, aku tidak tahu, Allah yang mengetahuinya - orang itu tiba-tiba diangkat ke tingkat yang ketiga dari sorga. ... (14) ia tiba-tiba diangkat ke Firdaus dan ia mendengar kata-kata yang tak terkatakan, yang tidak boleh diucapkan manusia.”.

Hendaknya kita tidak berpikir bahwa ada manusia-manusia yang namanya tertulis dan juga yang namanya tidak tertulis dalam kitab Kehidupan. Hal ini sama dengan meyakini adanya manusia-manusia yang diciptakan atau diijinkan hidup hanya untuk dibinasakan. Pandangan ini bertalian dengan theologia yang meyakini bahwa Tuhan Yesus mati di kayu salib hanya untuk sebagian manusia. Betapa naifnya pandangan ini.

Tanggapan Budi Asali:
Untuk hal-hal ini saya sudah pernah beri tanggapan, dan tak perlu saya ulang di sini.

Sejatinya Tuhan Yesus mati untuk semua orang. Dengan kematianNya di kayu salib berakibat, pertama, adanya penghakiman bagi orang di luar Kristus; apakah mereka diperkenan masuk dunia yang akan datang atau tidak. Jika diperkenan masuk dunia yang akan datang maka namanya tertulis dalam kitab Kehidupan. Kedua, memberi keselamatan: peluang dikembalikannya manusia ke dalam rancangan semula Allah dan melayani Tuhan. Jika menang, artinya menjadi manusia seperti yang dirancang Allah atau berhasil seperti Tuhan Yesus maka nama orang-orang seperti ini tertulis dalam kitab Kehidupan Anak Domba.

Tanggapan Budi Asali:
1. Lho tadi katanya semua manusia tertulis dalam kitab kehidupan, sekarang bilang ‘Jika diperkenan masuk dunia yang akan datang maka namanya tertulis dalam kitab Kehidupan’. Apa ini bukan kontradiksi?
2. a. Pengembalian kepada rencana semula, tanpa dasar Alkitab!
2. b. Lagi-lagi bertentangan dengan yang di atas dimana dikatakan semua nama dari semula tertulis dalam kitab kehidupan.

Ada pandangan theologi yang dengan naïf menyatakan keselamatan atau keselamatan seseorang sudah ditentukan sejak kekekalan lampau. Allah tanpa mempertimbangkan, tanpa syarat atau unconditional apa pun mengenai manusia yang bersangkutan memilih sebagian untuk diselamatkan dan sebagian untuk dibinasakan. Mereka berpikir bahwa mereka memuliakan Tuhan dengan pandangan tersebut, mereka merasa menghormati Tuhan dengan menjunjung tinggi kedaulatan Allah secara absolute. Tetapi sebenarnya sebaliknya pandangan itu melecehkan Tuhan, sebab Tuhan bisa dipandang sebagai sumber bencana pula.

Tanggapan Budi Asali:
Bolak balik katakan naif, tanpa jelaskan naifnya dimana!

Tuhan bukan sumber bencana?
Amos 3:6 Adakah sangkakala ditiup di suatu kota, dan orang-orang tidak gemetar? ADAKAH TERJADI MALAPETAKA DI SUATU KOTA, DAN TUHAN TIDAK MELAKUKANNYA?

Sejatinya, yang benar adalah ketika Tuhan mencatat nama-nama manusia yang ada hidup atau hadir dalam kenyataan kehidupan, Tuhan tidak merancang manusia jatuh dalam dosa. Dalam kasih dan ketulusanNya yang sempurna, Tuhan mencatat semua manusia yang akan pernah ada tanpa memikirkan bahwa mereka akan jatuh dalam dosa apalagi merancang manusia untuk jatuh dalam dosa dan membinasakannya. Ada pun kalau manusia jatuh dalam dosa,, hal itu karena pilihan manusia itu sendiri. Tuhan tidak bisa dan tidak boleh dipersalahkan.

Mazmur 69:29 tertulis: “Biarlah mereka dihapuskan dari kitab kehidupan, janganlah mereka tercatat bersama-sama dengan orang-orang yang benar.” Oleh ilham Roh, penulis Alkitab sudah memahami adanya kitab yang menulis nama-nama orang yang diperkenan masuk dunia yang akan datang atau beroleh kebangkitan. Mazmur 69:29 jelas sekali menunjukkan bahwa nama-nama orang fasik atau orang jahat pernah tertulis dalam kitab Kehidupan, tentu hal itu tertulis sebelum mereka terbukti berbuat jahat. Dengan demikian kitab Kehidupan adalah kitab yang mencatat nama-nama setiap orang yang akan pernah ada, baik atau jahat.

Tanggapan Budi Asali:
Nama-nama orang jahat tertulis dan tak dihapus sebelum mereka terbukti berbuat jahat??? Padahal Alkitab mengatakan manusia sudah menyimpang SEJAK LAHIR!
Maz 58:4 - Sejak lahir orang-orang fasik telah menyimpang, sejak dari kandungan pendusta-pendusta telah sesat. 
Kalau begitu, sejak lahir namanya dihapus dari kitab kehidupan?

Kebenaran di atas ini juga diteguhkan oleh Keluaran 32:32-33 yang tertulis: “Tetapi sekarang, kiranya Engkau mengampuni dosa mereka itu – dan jika tidak, hapuskanlah kiranya namaku dari dalam kitab yang telah Kautulis. Tetapi TUHAN berfirman kepada Musa: “Siapa yang berdosa kepada-Ku, nama orang itulah yang akan Kuhapuskan dari dalam kitab-Ku.” Tuhan tidak akan menghapuskan nama Musa dari kitab Kehidupan sebab Musa dipandang Tuhan sebagai orang benar.

Nama yang dihapus dari kitab Kehidupan adalah nama mereka yang berbuat dosa. Jadi, nama-nama orang-orang berdosa tersebut sebelumnya sudah pernah ditulis dalam kitab Kehidupan, tapi dihapus karena berbuat jahat/dosa terus menerus. Memang tidak ada penjelasan lebih detil tentang seberapa jahat/seberapa banyak dosa yang dibuat sehingga seseorang akhirnya dihapuskan dari kitab Kehidupan. Nanti di akhir jaman melalui proses pengadilan akhirnya mereka dibuang ke dalam lautan api sebab nama mereka juga tidak tercantum dalam kitab Kehidupan (Wahyu 20:12-15).

Tanggapan Budi Asali:

Hmm, jadi ES tak bisa jelaskan berapa banyak dosa dibutuhkan supaya nama seseorang dihapus dari kitab kehidupan ya? Bagaimana kalau ternyata dosanya ES sendiri sudah cukup banyak, sehingga nama ES sudah dihapus dari kitab kehidupan?
Yang ‘cukup baik’ atau ‘nggak terlalu banyak dosa’ tak dihapus dari kitab kehidupan. Ini jelas-jelas merupakan ajaran ‘keselamatan karena perbuatan baik’, sesuatu yang dia sendiri sangkal, dalam khotbahnya yang dibahas oleh Paulus Roi!

Saya tantang ES untuk menyebutkan satu orang saja yang secara faktuil betul-betul namanya dihapuskan dari kitab kehidupan!

Dengan demikian jelas bahwa semua nama manusia yang pernah hidup dari awalnya tertulis dalam kitab Kehidupan. Tetapi yang menjadi masalah adalah, bahwa ternyata dalam Kitab Wahyu terdapat dua ayat yang mengesankan bahwa ada orang-orang yang namanya tidak pernah tertulis dalam kitab Kehidupan sebelum dunia dijadikan:

Wahyu 13:8, Dan semua orang yang diam di atas bumi akan menyembahnya yaitu setiap orang yang namanya tidak tertulis sejak dunia dijadikan di dalam kitab kehidupan dari Anak Domba, yang telah disembelih.

Wahyu 17:8, Adapun binatang yang telah kaulihat itu telah ada, namun tidak ada, ia akan muncul dari jurang maut, dan ia menuju kepada kebinasaan. Dan mereka yang diam di umi, yaitu mereka yang tidak tertulis di dalam kitab kehidupan sejak dunia dijadikan, akan heran, apabila mereka melihat, nahwa binatang itu telah ada, namun tidak ada, dan akan muncul lagi. 

Dua ayat ini mengesankan bahwa Tuhan menentukan orang yang akan binasa, yaitu dengan tidak mencantumkan nama mereka dalam kitab Kehidupan. Pandangan ini membangun pandangan fatalistik yang menempatkan Tuhan sebagai pribadi yang diskriminatif dan jahat.

Tanggapan Budi Asali:
Membangun pandangan tentang predestinasi ya, fatalistik tidak!
Tuhan diskriminatif? Sejak penciptaan Ia sudah begitu. Mengapa anda dicipta sebagai manusia, bukan sebagai binatang atau sebagai malaikat? Dan mengapa sebagai manusia seperti sekarang ini bukannya lebih pandai, lebih ngganteng dsb? Itu ‘diskriminasi’ Tuhan, tetapi saya sendiri lebih memilih untuk mengatakan itu adalah HAK Tuhan sebagai Pencipta dan sebagai Tuhan!
Rom 9:20 Siapakah kamu, hai manusia, maka kamu membantah Allah? Dapatkah yang dibentuk berkata kepada yang membentuknya: "Mengapakah engkau membentuk aku demikian?" 
Rom 9:21 Apakah tukang periuk tidak mempunyai hak atas tanah liatnya, untuk membuat dari gumpal yang sama suatu benda untuk dipakai guna tujuan yang mulia dan suatu benda lain untuk dipakai guna tujuan yang biasa? 

Bagaimana untuk menerangkan hal ini? Kita harus memahami adanya dua kelompok manusia dalam Kerajaan Allah. Berkenaan dengan hal tersebut maka kita soroti bahwa dalam Wahyu dapat ditemukan dua jenis kitab yaitu kitab Kehidupan dan kitab Kehidupan Anak Domba. Memang ini bukan berarti ada dua buah buku, tetapi ini hendak menunjukkan kenyataan adanya anggota masyarakat dan anggota pejabat yang memerintah. Memang dalam Perjanjian Baru hal ini tidak selalu Nampak perbedaannya ditinjau dari penulisan sebab kadang-kadang kata kitab Kehidupan sebenarnya hendak menunjuk kitab Kehidupan Anak Domba. Untuk itu kita harus teliti membacanya.

Tanggapan Budi Asali:
Hmm, saya belum pernah tahu ada penafsir dari aliran manapun yang membedakan ‘kitab kehidupan’ dan ‘kitab kehidupan Anak Domba’! Pak Tjandra Tedja, bisa tanyakan kepada ES dia pakai buku apa tentang hal ini?

Lebih-lebih artinya, yang satu nama ‘anggota masyarakat’ dan yang lain nama ‘pejabat’! Hehe. Hebat sekali tafsirannya! Dari mana gerangan ada buku beri tafsiran seperti ini?
ES katakan ‘untuk itu kita harus teliti membacanya’. Ya, begitu teliti sampai melihat hal-hal yang sebenarnya tidak ada!

Kalau ‘kitab kehidupan’ harus dibedakan dari ‘kitab kehidupan Anak Domba’, maka ‘kerajaan’ (Mat 8:12) juga harus dibedakan dengan ‘kerajaan Sorga’ (Mat 9:35), dan dibedakan lagi dengan ‘Kerajaan Allah’ (Mat 12:28). Jadi ada 3 kerajaan?

Dalam Wahyu 21:27 ditunjukkan jelas adanya kitab Kehidupan Anak Domba. Wahyu 21 berbicara mengenai Yrusalem Baru, ini adalah ibukota Kerajaan Tuhan Yesus Kristus, berarti ini adalah tempat khusus. Dikatakan dalam ayat tersebut: “Tetapi tidak akan masuk ke dalamnya sesuatu yang najis atau orang yang melakukan kekejian atau dusta, tetapi hanya mereka yang namanya tertulis di dalam kitab Kehidupan Anak Domba itu.” Hanya orang-orang yang menjadi anggota Kerajaan yang masuk di dalamnya. Tidak semua orang bisa masuk ke dalamnya.

Tanggapan Budi Asali:
Hmm, tafsiran yang menyedihkan. Yerusalem Baru = ibu kota Kerajaan Tuhan Yesus Kristus? Tempat khusus? Khusus untuk ‘pejabat’ tadi?

Kitab Kehidupan Anak Domba hanya memuat nama orang-orang yang telah menderita bersama-sama dengan Tuhan Yesus yang juga dimuliakan bersama-sama dengan Tuhan Yesus. Mereka adalah orang-orang yang mengalami berkat sepenuh dari korban Tuhan Yesus di kayu salib. Mereka juga disebut sebagai orang-orang yang memiliki karunia sulung Roh, yang pernyataannya dinantikan semua makhluk hidup (Roma 8:17-19).

Tanggapan Budi Asali:
Oh, ada yang alami berkat sepenuh, dan implicitnya ada yang alami berkat sebagian??? Betul-betul begitu? Dan kalau ya, ayat dasarnya mana?
Hmm, ayat hanya diberikan kitab, pasal, dan ayat, tetapi bunyinya tak dituliskan. Saya mau baca dan berikan di sini.
Rom 8:17 Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia. 
Rom 8:18 Sebab aku yakin, bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita. 
Rom 8:19 Sebab dengan sangat rindu seluruh makhluk menantikan saat anak-anak Allah dinyatakan. 
Saya kok tak bisa lihat ada kata-kata ‘karunia sulung Roh’ ya? Saya cek terjemahan bahasa Inggris juga sama, nggak ada! Lalu apa maksudnya mengajar sesuatu, memberi ayat referensi yang gak cocok?
Kata-kata ‘karunia sulung Roh’ muncul dalam Ro 8:23, tetapi itu tak dia berikan, dan artinya pasti juga bukan seperti yang dia katakan di sini.
Ro 8:23 - “Dan bukan hanya mereka saja, tetapi kita yang telah menerima KARUNIA SULUNG ROH, kita juga mengeluh dalam hati kita sambil menantikan pengangkatan sebagai anak, yaitu pembebasan tubuh kita.”.

Kata-kata ‘karunia sulung’ diterjemahkan dari kata Yunani APARKHE, yang arti sebenarnya adalah ‘firstfruit’ (= buah pertama).
KJV: And not only they, but ourselves also, which have the FIRSTFRUITS of the Spirit, even we ourselves groan within ourselves, waiting for the adoption, to wit, the redemption of our body.
RSV: and not only the creation, but we ourselves, who have the FIRST FRUITS of the Spirit, groan inwardly as we wait for adoption as sons, the redemption of our bodies.
NIV: Not only so, but we ourselves, who have the FIRSTFRUITS of the Spirit, groan inwardly as we wait eagerly for our adoption as sons, the redemption of our bodies.
NASB: And not only this, but also we ourselves, having the FIRST FRUITS of the Spirit, even we ourselves groan within ourselves, waiting eagerly for our adoption as sons, the redemption of our body.

Albert Barnes menafsirkan bahwa kata ‘firstfruit’ itu menunjukkan bahwa orang-orang Kristen Roma adalah buah-buah pertama dari pelayanan Paulus, sehingga tak ada urusannya dengan yang dikatakan oleh ES.

Seperti yang tertulis dalam Lukas 10:20, bahwa nama orang-orang pilihan yang melayani Tuhan terdaftar di Sorga. Tentu ini adalah kitab Kehidupan. Juga dalam Filipi 4:3, “Bahkan, kuminta kepadamu juga, Sunsugos temanku yang setia: tolonglah mereka. Karena mereka telah berjuang dengan akudalam pekabaran Injil, bersama-sama dengan Klemens dan kawan-kawanku sekerja yang lain, yang nama-namanya tercantum dalam kitab Kehidupan.” Sunsugos dan teman-teman Paulus dalam pelayanan inilah orang-orang yang berjuang dan menderita untuk Injil. Nama mereka pasti tertulis dalam kitab Kehidupan Anak Domba.

Tanggapan Budi Asali:
Luk 10:20 Namun demikian janganlah bersukacita karena roh-roh itu takluk kepadamu, tetapi bersukacitalah karena NAMAMU ADA TERDAFTAR DI SORGA." 
Ayat ini tak menyebutkan ‘kitab kehidupan’, tetapi ‘terdaftar di sorga’. Kalau ES membedakan ‘kitab kehidupan’ dengan ‘kitab kehidupan Anak Domba’, mengapa tak membedakannya juga dengan dengan ‘daftar’ dalam Luk 10:20 ini?

Juga, ayatnya (Fil 4:3) mengatakan ‘kitab kehidupan’, tetapi ES menafsirkan / mengubah menjadi ‘kitab kehidupan Anak Domba’! Berdasarkan apa dilakukan perubahan seperti itu? Kalau dua istilah itu memang ia bedakan bagaimana bisa diubah seenaknya?

Juga dalam Wahyu 3:5, “Barangsiapa menang, ia akan dikenakan pakaian putih yang demikian; Aku tidak akan menghapus namanya dari kitab Kehidupan, melainkan Aku akan mengaku namanya di hadapan Bapa-Ku dan di hadapan para malaikat-Nya.” Mereka yang menang adalah mereka yang berhasil memiliki kehidupan seperti Tuhan Yesus. Mereka menjadi corpus delicti bagi kemuliaan Allah. Tuhan Yesus akan mengaku nama-nama tertentu, artinya ada orang-orang khusus yang namanya juga diakui di hadapan Bapa sebagai pemenang seperti diri-Nya yang taat sampai mati bahkan mati di kayu salib.

Kata mengaku dalam teks aslinya (Wahyu 3:5) adalah exomologeo yang artinya juga menyaksikan atau mengakui secara terbuka di depan umum. Tuhan Yesus akan menyatakan secara resmi (to declare) dan menyaksikan secara terbuka bahwa ada nama-nama tertentu yang diakui sebagai pemenang. Kalau hanya tertulis dalam kitab Kehidupan, maka tidak perlu dinyatakan secara resmi seperti ini. Oleh sebab itu bagaimana pun harus dibedakan antara kitab Kehidupan dan kitab Kehidupan Anak Domba.

Tanggapan Budi Asali:
Argumentasi yang sama sekali tak punya kekuatan / logika. Dengan argumentasi seperti ini ia membedakan dua istilah itu? Wow!

Lalu kalau memang ada dua kitab, yang pertama ‘kitab kehidupan’, dan yang kedua ‘kitab kehidupan Anak Domba’, dan semua manusia sejak semula sudah terdaftar di kitab pertama, kapan ada nama-nama mulai terdaftar di kitab yang kedua? Baru dalam pengadilan akhir jaman itu?

Tentu saja tidak banyak orang yang mengalami kemenangan seperti yang diraih oleh Tuhan Yesus. Sehingga nama-nama yang tertulis dalam kitab Kehidupan Anak Domba tidak banyak. Hal ini sesuai dengan pernyataan Tuhan Yesus bahwa banyak yang dipanggil tetapi sedikit yang terpilih (Matius 22:14).

Tanggapan Budi Asali:
Mengalami kemenangan ‘seperti yang diraih oleh Tuhan Yesus’??????
Bisakah dijelaskan itu kemenangan yang bagaimana?
Dan Mat 22:14, ayat tentang predestinasi, diartikan (baca: ‘disalahartikan’) seperti itu?????
Baca seluruh kontext, Mat 22:1-14, dan tunjukkan kemenangannya ada dimana?
Mat 22:1 Lalu Yesus berbicara pula dalam perumpamaan kepada mereka: 
Mat 22:2 "Hal Kerajaan Sorga seumpama seorang raja, yang mengadakan perjamuan kawin untuk anaknya. 
Mat 22:3 Ia menyuruh hamba-hambanya memanggil orang-orang yang telah diundang ke perjamuan kawin itu, tetapi orang-orang itu tidak mau datang. 
Mat 22:4 Ia menyuruh pula hamba-hamba lain, pesannya: Katakanlah kepada orang-orang yang diundang itu: Sesungguhnya hidangan, telah kusediakan, lembu-lembu jantan dan ternak piaraanku telah disembelih; semuanya telah tersedia, datanglah ke perjamuan kawin ini. 
Mat 22:5 Tetapi orang-orang yang diundang itu tidak mengindahkannya; ada yang pergi ke ladangnya, ada yang pergi mengurus usahanya, 
Mat 22:6 dan yang lain menangkap hamba-hambanya itu, menyiksanya dan membunuhnya. 
Mat 22:7 Maka murkalah raja itu, lalu menyuruh pasukannya ke sana untuk membinasakan pembunuh-pembunuh itu dan membakar kota mereka. 
Mat 22:8 Sesudah itu ia berkata kepada hamba-hambanya: Perjamuan kawin telah tersedia, tetapi orang-orang yang diundang tadi tidak layak untuk itu. 
Mat 22:9 Sebab itu pergilah ke persimpangan-persimpangan jalan dan undanglah setiap orang yang kamu jumpai di sana ke perjamuan kawin itu. 
Mat 22:10 Maka pergilah hamba-hamba itu dan mereka mengumpulkan semua orang yang dijumpainya di jalan-jalan, orang-orang jahat dan orang-orang baik, sehingga penuhlah ruangan perjamuan kawin itu dengan tamu. 
Mat 22:11 Ketika raja itu masuk untuk bertemu dengan tamu-tamu itu, ia melihat seorang yang tidak berpakaian pesta. 
Mat 22:12 Ia berkata kepadanya: Hai saudara, bagaimana engkau masuk ke mari dengan tidak mengenakan pakaian pesta? Tetapi orang itu diam saja. 
Mat 22:13 Lalu kata raja itu kepada hamba-hambanya: Ikatlah kaki dan tangannya dan campakkanlah orang itu ke dalam kegelapan yang paling gelap, di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi. 
Mat 22:14 Sebab banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih." 

Mereka hanya diundang dan bahkan ‘dipaksa / didesak untuk datang’ dan mereka datang, lalu ES katakan mereka pemenang. Pemenang dalam hal apa? Orang-orang ini jadi pemenang sedemikian rupa sehingga ES katakan mereka dicatat dalam ‘kitab kehidupan Anak Domba’. Hehehe, jasanya apa, kok pahalanya tinggi sekali? Jadi PEJABAT di surga?

Harus ditegaskan bahwa orang-orang yang namanya tertulis dalam kitab Kehidupan Anak Domba ditentukan oleh Allah Bapa sendiri. Hal ini Nampak dalam pernyataan Tuhan Yesus kepada keluarga Zebedeus bahwa hal duduk di sebelah kanan dan kiri Tuhan artinya menjadi pejabat dalam Kerajaan Sorga ditentukan oleh Bapa (Matius 20:23). Itulah sebabnya Tuhan Yesus berkata bahwa orang yang diserahkan oleh Allah Bapa kepada diriNya tidak akan ditolak oleh Tuhan Yesus, artinya Tuhan Yesus hanya menerima apa yang ditentukan oleh Bapa, bukan Tuhan Yesus sendiri yang menentukan (Yohanes 17:6).

Tanggapan Budi Asali:
Hmmm, ini predestinasi versi ES ya? Lagi-lagi tak pernah saya baca dalam buku manapun tafsiran model seperti ini!
Sekarang, untuk mendapatkan tempat ‘tertinggi’ pasti dosanya harus paling sedikit atau bahkan harus suci murni, bukankah begitu? Lha sebaliknya yang dapat tempat ‘bukan tertinggi’, dosa-dosanya harus lebih banyak, bukankah begitu? Kalau tempat-tempat masing-masing sudah ditentukan, maka bukankah dosa-dosanya juga harus ditentukan?

Orang-orang yang berkesempatan menjadi orang percaya adalah orang-orang yang istimewa. Keistimewaannya adalah hidup di jaman anugerah di mana Tuhan Yesus sudah datang, bisa mendengar Injil dengan benar dan lengkap serta memiliki potensi jasmani rohani untuk diproses menjadi umat pilihan. Tidak banyak orang memiliki kesempatan besar seperti ini. Inilah yang disebut sebagai umat pilihan. Tetapi mereka yang menjadi umat pilihan belum tentu terpilih menjadi orang yang sempurna seperti Tuhan Yesus dan dimuliakan bersama dengan Dia.

Tanggapan Budi Asali:
Lagi-lagi definisi tentang ‘umat pilihan’ yang tak pernah saya baca atau dengar dimanapun.
Jadi orang-orang jaman Perjanjian Lama, tak ada yang masuk orang pilihan ya? Apa demikian?
Kata-kata ‘menjadi orang sempurna seperti Tuhan Yesus’, ini yang sebabkan LBG dan kawan-kawan bisa katakan orang Kristen harus bisa sempurna ya? Hmm, ini bertentangan dengan:
1Yoh 1:8 Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita. 
1Yoh 1:10 Jika kita berkata, bahwa kita tidak ada berbuat dosa, maka kita membuat Dia menjadi pendusta dan firman-Nya tidak ada di dalam kita. 

Orang-orang yang menjadi umat pilihan memang sudah ditentukan oleh Allah Bapa, termasuk orang-orang yang terdaftar di kitab Kehidupan Anak Domba sebelum dunia dijadikan yaitu kelompok pejabat Kerajaan Allah. Seandainya Adam tidak jatuh dalam dosa, maka orang-orang ini juga tercatat secara khusus sebagai orang-orang istimewa yang memerintah, tentu saja tidak akan ada istilah kitab Kehidupan Anak Domba. Sebab, istilah ini muncul karena Anak Allah menjadi manusia yang mengorbankan diriNya sebagai anak domba yang disembelih. Tentu saja kata Anak Domba perlu dicantumkan untuk membedakan orang yang diselamatkan dan yang tidak diselamatkan. Kalau dikesankan bahwa kitab Kehidupan Anak Domba sudah ada sebelum dunia dijadikan bukan berarti Tuhan merancang manusia jatuh dalam dosa, tetapi solusi yang disediakan bila terjadi sesuatu atas manusia.

Tanggapan Budi Asali:
Hahaha, perhatikan kata-kata terakhir dari kutipan di atas ini. Sesuatu yang hanya MUNGKIN terjadi (dosa), tetapi diberikan solusinya yang PASTI! Problemnya gak pasti, solusinya pasti! Hebat sekali! Bagaimana kalau tahu-tahu problemnya (manusia jatuh ke dalam dosa) tak terjadi? Solusinya harus tetap jalan, Yesus harus tetap dikorbankan! Lalu dikorbankan untuk apa? Untuk dosa yang tidak terjadi itu?

Kitab Kehidupan memuat nama-nama orang yang diperkenankan masuk dunia yang akan datang setelah melalui proses pengadilan Allah. Mereka diperkenan masuk dunia yang akan datang karena mereka telah melakukan kebaikan kepada sesamanya (Matius 25:31-46, Roma 2:12-16). Tuhan Yesus sendiri menyatakan bahwa perbuatan baik seseorang kepada mereka yang membutuhkan pertolongan, diperhitungkan dan diakui oleh Tuhan sebagai perlakuan mereka kepada Tuhan sendiri. Semua perbuatan baik mereka tercatat dan dihakimi. Dalam hal ini Tuhan dalam keadilanNya memiliki alasan dan bukti atas orang-orang yang diperkenan masuk dunia yang akan datang (Wahyu 20:12-15).

Tanggapan Budi Asali:
Hmmm, keselamatan karena perbuatan baik! Bagaimana bisa sesuai dengan 
Ef 2:8-9 - “(8) Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan OLEH IMAN; itu BUKAN HASIL USAHAMU, tetapi pemberian Allah, (9) itu BUKAN HASIL PEKERJAANMU: jangan ada orang yang memegahkan diri.”.

Menganalisa Wahyu 13:8 dan 17:8 yang mengesankan bahwa hanya nama-nama tertentu yang tertulis dalam kitab Kehidupan, harus diperhatikan dengan teliti. Wahyu 13:8 (Dan semua orangyang diam di atas bumi akan menyembahnya, yaitu setiap orang yang namanya tidak tertulis sejak dunia dijadikan di dalam kitab Kehidupan dari Anak Domba, yang telah disembelih). Hal ini menunjuk adanya suatu agama besar yang tidak mau menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat. Mereka tidak mengakui Anak Allah sebagai Tuhan.

Tanggapan Budi Asali:
Heran, dari mana bisa loncat seperti itu? Kok tahu-tahu bisa diartikan menunjuk kepada agama besar yang tak akui Anak Allah sebagai Tuhan???? Dari mana gerangan?????

Pengikut mereka begitu banyak, apakah mereka semua masuk neraka? Tentu tidak, sebab setiap orang dihakimi menurut perbuatannya bukan menurut “iman”. Mereka yang berbuat baik asalkan tidak memusuhi Tuhan Yesus dan menentang, mereka bisa dimungkinkan masuk dunia yang akan datang. Pada kenyataannya ternyata tidak semua mereka melawan Tuhan Yesus. Selama roh antikris tidak menguasai mereka maka mereka tidak melawan Tuhan Yesus. Roh atau spirit antikris ini mencengkram kuat ketika seseorang diwarnai secara kuat oleh ajarannya.

Tanggapan Budi Asali:
‘Pengikut mereka begitu banyak’! Karena banyak lalu dipertimbangkan? Seandainya pengikut mereka sedikit gak dipertimbangkan?

Juga ES mengatakan “sebab setiap orang dihakimi menurut perbuatannya bukan menurut “iman””. Ini menunjukkan bahwa ia mengkontraskan ‘iman’ dan ‘perbuatan’. Lalu bagaimana beberapa anak buahnya bisa berkeras kalau iman = perbuatan?

Dan bagaimana kata-kata / ajaran ES bahwa mereka ini tidak dihakimi berdasarkan ‘iman’ bisa cocok dengan ayat-ayat di bawah ini:
Wah 21:8 Tetapi orang-orang penakut, ORANG-ORANG YANG TIDAK PERCAYA, orang-orang keji, orang-orang pembunuh, orang-orang sundal, tukang-tukang sihir, penyembah-penyembah berhala dan semua pendusta, mereka akan mendapat bagian mereka di dalam lautan yang menyala-nyala oleh api dan belerang; inilah kematian yang kedua." 
Joh 3:15 supaya setiap orang yang PERCAYA kepada-Nya beroleh hidup yang kekal. 
Joh 3:16 Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang PERCAYA kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. 
Joh 3:18 Barangsiapa PERCAYA kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa TIDAK PERCAYA, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia TIDAK PERCAYA dalam nama Anak Tunggal Allah. 
Joh 8:24 Karena itu tadi Aku berkata kepadamu, bahwa kamu akan mati dalam dosamu; sebab jikalau kamu TIDAK PERCAYA, bahwa Akulah Dia, kamu akan mati dalam dosamu." 

Asalkan tidak memusuhi Tuhan Yesus dan menentang??? Yang bukan kawan adalah lawan! Yang tidak bersama Yesus, melawan / menentang Yesus!
Mat 12:30 Siapa tidak bersama Aku, ia melawan Aku dan siapa tidak mengumpulkan bersama Aku, ia mencerai-beraikan. 

ES mengatakan orang yang termasuk antikris saja yang melawan Yesus. Padahal Alkitab tidak berkata demikian. Coba perhatikan ayat ini.
1Jn 4:2 Demikianlah kita mengenal Roh Allah: setiap roh yang mengaku, bahwa Yesus Kristus telah datang sebagai manusia, berasal dari Allah, 
1Jn 4:3 dan setiap roh, yang TIDAK MENGAKU YESUS, tidak berasal dari Allah. ROH ITU ADALAH ROH ANTIKRISTUS dan tentang dia telah kamu dengar, bahwa ia akan datang dan sekarang ini ia sudah ada di dalam dunia. 
Jadi, ayat ini mengatakan ‘orang yang tidak mengaku Yesus’ itu adalah antikris. Tak harus melawan, memaki-maki, menghujat Yesus, atau membakar gereja, membunuhi orang Kristen dan sebagainya. Cukup tak mengaku Yesus, ia adalah antikris!

Tuhan Yesus menyatakan bahwa siapa yang tidak melawan kita maka ia di pihak kita (Lukas 9:50).

Tanggapan Budi Asali:
Luk 9:50 - “Yesus berkata kepadanya: ‘Jangan kamu cegah, sebab barangsiapa tidak melawan kamu, ia ada di pihak kamu.’”.
Mat 12:30 - “Siapa tidak bersama Aku, ia melawan Aku dan siapa tidak mengumpulkan bersama Aku, ia mencerai-beraikan.”.
Apakah dua ayat ini saling bertentangan? Menurut saya hanya ada satu kemungkinan untuk menafsirkan supaya 2 ayat ini tidak saling bertentangan. Bagaimana? Dengan menafsirkan bahwa orang-orang yang ada di pihak netral jumlahnya adalah NOL!
Memang dalam hubungan dengan Yesus tak ada daerah netral. Atau anda adalah kawan, atau anda adalah lawan. Atau anak Allah, atau anak setan.

Tuhan juga menyatakan kalau ada orang yang memberi secangkir air kepada orang percaya, ia tidak kehilangan upahnya (Matius 10:42, Markus 9:41). Kalau di antara mereka yang tidak mengenal dan tidak menerima Injil karena kebodohannya atau ketidaktahuannya tetapi mereka melakukan perbuatan baik kepada orang percaya, Tuhan tidak akan menghilangkan upahnya. Doa Tuhan Yesus agar Bapa mengampuni mereka yang tidak tahu apa yang mereka perbuat. Ini merupakan peluang orang yang terlanjur salah mengenal Tuhan Yesus atau Injil bisa masuk dunia yang akan datang. Nama mereka bisa tertulis dalam kitab Kehidupan jika berbuat baik tetapi tidak tertulis dalam kitab Kehidupan Anak Domba.

Tanggapan Budi Asali:
Mat 10:42 Dan barangsiapa memberi air sejuk secangkir sajapun kepada salah seorang yang kecil ini, KARENA IA MURID-KU, Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ia tidak akan kehilangan upahnya dari padanya." 
Mar 9:41 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa memberi kamu minum secangkir air OLEH KARENA KAMU ADALAH PENGIKUT KRISTUS, ia tidak akan kehilangan upahnya." 

Kata-kata yang saya cetak dengan huruf besar itu membuat perbedaan yang sangat besar. Adalah mungkin bagi orang kafir untuk berbuat baik kepada orang Kristen, tetapi saya tidak percaya ada orang kafir bisa berbuat baik kepada orang Kristen DENGAN ALASAN KARENA IA ADALAH ORANG KRISTEN!

Ini kata-kata L. Boettner tentang orang berdosa di luar Kristus.
Loraine Boettner: “He may give a million dollars to build a hospital, but he cannot give even a cup of cold water to a disciple IN THE NAME OF JESUS” [= Ia bisa memberi satu juta dollar untuk membangun sebuah rumah sakit, tetapi ia tidak bisa memberi secangkir air sejuk kepada seorang murid DALAM NAMA YESUS (bdk. Mat 10:40-42)] - ‘The Reformed Doctrine of Predestination’, hal 68.

Doa Yesus memintakan ampun untuk orang-orang yang tak tahu apa yang mereka perbuat (Luk 23:34), tidak boleh dipisahkan dari ayat-ayat yang jelas-jelas mensyaratkan iman sebagai syarat keselamatan! Kalau doa Yesus itu mau Allah kabulkan bagi orang tertentu, maka pasti Allah akan membuat orang itu menjadi orang percaya! Allah tidak akan mengabulkan doa Yesus itu sedemikian rupa sehingga melanggar firmanNya sendiri!

Tidak sedikit orang-orang yang hidup di jaman anugerah ini, namanya tidak akan pernah tertulis dalam kitab Kehidupan Anak Domba, sebab pola berpikir mereka sudah salah sejak lahir. Mereka lahir di lingkungan yang tidak mengenal kebenaran Injil. Mereka bukan orang yang direncanakan menjadi corpus delicti, tetapi bisa saja masuk dunia yang akan datang. Perlu ditambahkan di sini bahwa orang-orang yang namanya tertulis dalam kitab Kehidupan Anak Domba adalah orang-orang yang sangat khusus, yaitu mereka yang dijadikan “jago” atau pertaruhan Tuhan seperti seorang gladiator untuk mengalahkan iblis dan mempercepat kedatangan Tuhan (2 Petrus 3:11-13).

Tanggapan Budi Asali:
Hmmm, ini sebabnya para pengikut ES membedakan ‘masuk surga’ dan ‘selamat’. Sumbernya di sini, yaitu ESnya ngajar ngawur! Dia mengabaikan begitu banyak ayat dalam Alkitab yang mensyaratkan iman untuk selamat / masuk surga / mendapat hidup yang kekal / mendapat pengampunan dosa.

KALAU ajaran ES ini benar, maka adalah bodoh gereja-gereja mau kirim misionaris-misionaris ke tempat-tempat yang belum terjangkau oleh Injil, bahkan semua orang Kristen yang memberitakan Injil juga adalah orang bodoh! Orang yang tidak dengar Injil toh bisa selamat. Untuk apa memberitakan Injil? Amanat Agung perlu dibuang ke tong sampah!

Dijadikan jago? ‘Dijadikan’ itu kata kerja bentuk pasif. Jadi, orangnya pasif, hanya tergantung Tuhannya. Kalau para pengikut ES menganggap predestinasi Calvinisme sebagai sesuatu yang tidak adil, mengapa mereka bisa terima ajaran seperti ini? Apakah ini juga tak menunjukkan bahwa Allahnya pilih kasih?

Demikian juga dengan orang-orang yang dilahirkan di lingkungan di mana manusia terikat dengan materi atau percintaan dunia (Wahyu 17). Di dalam Wahyu 17:8 mengesankan bahwa ada nama-nama yang tidak tertulis dalam kitab Kehidupan. Mereka adalah kelompok masyarakat yang hidup dalam kemakmuran sehingga mereka terkondisi tidak bertekun mencari Tuhan dan bergumul untuk menjadi Pemenang seperti Tuhan Yesus. Mereka memang bisa berbuat baik tetapi mereka tidak bisa menjadi corpus delicti yang namanya tertulis dalam Kitab Kehidupan Anak Domba. Terdapat beberapa Negara di dunia ini, khususnya di Eropa yang berkeadaan seperti ini. Perlu ditambahkan di sini sebagai catatan: Hal ini juga bisa terjadi dalam kehidupan orang-orang Kristen yang baik dimana pun tetapi masih terikat dengan dunia. Mereka bisa masuk dunia yang akan datang tetapi nama mereka tidak tercantum dalam kitab Kehidupan Anak Domba.

Tanggapan Budi Asali:
Semua manusia terkondisi seperti itu!

Meneguhkan kebenaran di atas ini perlu kita mengamati Matius 19:16-26, orang muda kaya yang datang kepada Tuhan tersebut tidak dikatakan oleh Tuhan Yesus sebagai orang jahat. Ia juga telah memiliki hidup yang berkualitas karena melakukan hukum Taurat. Tetapi karena hartanya banyak ia tidak mampu mengikuti jejak Tuhan Yesus. Ia bisa masuk dunia yang akan datang tetapi ia tidak bisa masuk keluarga Kerajaan Allah sebagai anak Allah yang dimuliakan bersama-sama dengan Tuhan Yesus. Namanya bisa tertulis di kitab Kehidupan tetapi tidak tertulis di kitab Kehidupan Anak Domba. Mengapa hal ini terjadi? Sebab ia sudah terlalu lama hidup dengan pola pikir Yudaisme yang mentolerir semangat materialisme sehingga hal itu membelenggunya dan tidak dapat meresponi secara benar anugerah keselamatan dalam Yesus Kristus.

Tanggapan Budi Asali:
Tidak mampu atau tidak mau? ES tulis ‘tidak mampu’, berarti ia percaya Total Depravity (= Kebejatan Total)! hehehe.
Hmmm, ia sudah terlalu lama hidup dengan pola pikir Yudaisme? Padahal ia dikatakan sebagai PEMUDA kaya. Lama mana ia atau Saulus? Kok Saulus / Paulus bisa jadi kristen, dan masuk ‘kitab kehidupan Anak Domba’???

Terdapat orang-orang seperti ini di suatu masyarakat yang makmur. Mereka tidak mempersoalkan lagi masalah ekonomi dan kehidupan jasmani. Kenyamanan hidup itu telah mengkondisi mereka tidak dapat meresponi anugerah keselamatan dalam Yesus Kristus. Walau pun mereka Kristen tetapi pada dasarnya mereka belum selamat dan tidak bisa selamat artinya tidak akan pernah bisa dikembalikan ke rancangan semula Allah. Dengan demikian memang telah ditentukan oleh Allah orang-orang yang namanya tidak tertulis dalam kitab Kehidupan (Anak Domba) – Wahyu 13:8, 17-8.

Tanggapan Budi Asali:
Lagi-lagi Allahnya pilih kasih. Gak masalah ya? Mengapa kalau predestinasi kok masalah?
Baik iman maupun pertobatan adalah anugerah Tuhan.
Php 1:29 Sebab kepada kamu DIKARUNIAKAN bukan saja UNTUK PERCAYA KEPADA KRISTUS, melainkan juga untuk menderita untuk Dia, 
Act 11:18 Ketika mereka mendengar hal itu, mereka menjadi tenang, lalu memuliakan Allah, katanya: "Jadi kepada bangsa-bangsa lain juga ALLAH MENGARUNIAKAN PERTOBATAN yang memimpin kepada hidup."
Tetapi dari ajaran ES ini kelihatannya untuk kelompok-kelompok tertentu Allah tidak berdaya berbuat apa-apa. Hmmm, Allah macam apa ini?

Seperti yang dijelaskan di atas bahwa nama seseorang akan terhapus dari kitab Kehidupan kalau seseorang berbuat jahat atau berbuat dosa (Mazmur 69:29). Kata terhapus dalam teks aslinya adalah machah, juga memiliki pengertian yang sama dengan kata terhapus dalam Wahyu 3:15, eksaleipho. Dengan demikian fakta penghapusan nama adalah fakta nyata atau kebenaran. Namun demikian perlu dijelaskan detil di sini bahwa penghapusan nama di Wahyu 3:5 bisa berarti di kitab Kehidupan dan juga bisa di kitab Kehidupan Anak Domba, sebab perkataan Tuhan itu ditujukan kepada umat pilihan. Ingat umat yang hidup di jaman anugerah bisa dihapus bukan saja dari kitab Kehidupan Anak Domba tetapi juga dari kitab Kehidupan.

Tanggapan Budi Asali:
Hanya dengan memberikan kata ‘terhapus’ dalam bahasa Ibrani dan Yunani, lalu tahu-tahu loncat pada kesimpulan “Dengan demikian fakta penghapusan nama adalah fakta nyata atau kebenaran.”. Betul-betul ajaib! Argumentasi apa ini?

Ada pandangan theologia yang tidak setuju bahwa nama bisa dihapus. Menurut mereka penghapusan nama hanya sebuah pesan atau pernyataan bahwa nama mereka belum pernah tertulis. Ini suatu pandangan konyol yang tidak mau tunduk kepada apa yang ditulis Alkitab atau kewibawaan Firman Tuhan. Dengan demikian mereka mengubah makna yang Alkitab paparkan.

Tanggapan Budi Asali:
Justru penghurufiahan apa yang simbolis adalah penafsiran yang konyol! Allah punya kitab, itu sudah jelas simbolis! Kita pakai komputer dan Allah pakai kitab? Apakah Allah butuh kitab untuk mengingat dosa-dosa, dan siapa-siapa yang tercatat dalam ‘kitab kehidupan’ atau ‘kitab kehidupan Anak Domba’? Bagi saya ini omong kosong.
Kalau memang mau main hurufiah, maka apakah istilah ‘Allah menyesal’ juga mau dihurufiahkan?
Juga apakah kata ‘was refreshed’ (= disegarkan kembali) dalam ayat di bawah ini mau dihurufiahkan?
Ex 31:17 (KJV): It is a sign between me and the children of Israel for ever: for in six days the LORD made heaven and earth, and on the seventh day he rested, and WAS REFRESHED. 

Kelompok ini juga berprinsip sekali selamat tetap selamat. Menurut mereka orang yang sudah ditentukan untuk selamat dari semula bagaimana pun tetap selamat. Jadi tidak ada penghapusan nama. Mereka berpandangan bahwa maksud kitab dalam Keluaran 32:32-33 adalah “kitab orang-orang hidup”. Jadi mereka berpandangan bahwa Musa bersedia meninggal dunia demi supaya Tuhan tetap menyertai umat Israel yang akan ditinggalkan oleh Tuhan. Pandangan ini keliru sebab orang-orang hidup tidak perlu kitab yang mencatat mereka; tidak ada kitab orang-orang hidup. Lagi pula kalau pengertian “dihapus namanya” artinya dibunuh Tuhan, pasti banyak orang berdosa telah mati juga tetapi nyatanya banyak orang berdosa masih hidup. Dengan demikian maksud Musa namanya terhapus dari kitab itu adalah terhapusnya dari kitab Kehidupan.

Suatu hari kelak setiap orang akan menghadap tahta pengadilan Tuhan dan setiap orang dihakimi menurut perbuatannya (Roma 14:12, 2 Korintus 5:9-10). Orang yang tulus dan berbuat baik kepada orang yang membutuhkan pertolongan akan memperoleh perhentian dari Sang Maha Raja, sebab apa yang mereka lakukan untuk saudara mereka yang membutuhkan pertolongan disamakan sebagai perbuatan teruntuk Tuhan sendiri (Matius 25:31-46).

Bagi orang percaya yang mengenal Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat agar namanya tidak terhapus dari kitab Kehidupan Anak Domba harus menjadi murid Tuhan Yesus dan diproses untuk sempurna. Harus terus tekun dan tidak mundur dari iman, artinya terus menerus secara berkesinambungan perjuangannya untuk memiliki iman yang sempurna seperti Tuhan Yesus (Ibrani 10:38-39).

Matius 7:21-23 memberi indikasi bahwa orang-orang yang sudah berprestasi dalam pelayanan begitu hebat yaitu mengadakan banyak mujizat, bernubuat dan mengusir roh-roh jahat ternyata bisa ditolak oleh Allah. Dengan demikian kita bisa mengerti mengapa Paulus mengatakan: “Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak.” (1 Korintus 9:27).

Tanggapan Budi Asali:
Makanya LBG ngotot pakai ayat ini. hehehe. Lagi-lagi sumbernya ada di ES.
Ayat-ayat ini dalam kontext nabi-nabi palsu, yaitu orang-orang yang hanya kelihatan Kristen, tetapi tak pernah sungguh-sungguh percaya.
Mat 7:15 "Waspadalah terhadap NABI-NABI PALSU yang datang kepadamu dengan menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas. 
Mat 7:16 Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. Dapatkah orang memetik buah anggur dari semak duri atau buah ara dari rumput duri? 
Mat 7:17 Demikianlah setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, sedang pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik.
Mat 7:18 Tidak mungkin pohon yang baik itu menghasilkan buah yang tidak baik, ataupun pohon yang tidak baik itu menghasilkan buah yang baik. 
Mat 7:19 Dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api. 
Mat 7:20 Jadi dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. 
Mat 7:21 Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. 
Mat 7:22 Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? 
Mat 7:23 Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!" 

Dan perhatikan kata-kata Yesus dalam ay 23, ‘Aku TIDAK PERNAH mengenal kamu’. Jelas ini bukan orang yang tadinya percaya lalu murtad, karena kalau demikian Yesus akan berkata ‘Dulu Aku kenal kamu, sekarang tidak’.

Kalau seseorang bertumbuh dewasa maka Tuhan akan melibatkan dia ke dalam pelayanan. Inilah yang disebut memikul salib; menderita bersama-sama dengan Tuhan. Orang-orang yang kehilangan nyawa artinya kehilangan kesenangan dunia, mempertaruhkan hidupnya tanpa batas bagi Tuhan akan dimuliakan bersama Tuhan Yesus (Roma 8:17). Orang-orang inilah yang namanya tertulis dalam ktab Kehidupan Anak Domba.

Dalam Daniel 12:1 tertulis: “Pada waktu itu juga akan muncul Mikael, pemimpin besar itu, yang akan mendampingi anak-anak bangsamu; dan akan ada suatu waktu kesesakan yang besar, seperti yang belum pernah terjadi sejak ada bangsa-bangsa sampai pada waktu itu. Tetapi pada waktu itu bangsamu akan terluput, yakni barangsiapa yang didapati namanya tertulis dalam Kitab itu.” Peristiwa ini menunjuk akhir sejarah dunia. Sungguh sangat berbahagia kalau seseorang memiliki nama yang tertulis dalam kitab Kehidupan, ia akan dibawa ke tempat di mana tidak ada peneritaan.

***

Dari Seminar “Menyingkap Kitab Kehidupan”, Rehobot Ministry – Pdt. Dr. Erastus Sabdono, 14 Jan 2014

Rabu, 26 Desember 2012

MANUSIA YESUS TIDAK KEKAL! (3)



Kebaktian

G. K. R. I. ‘GOLGOTA’

(Rungkut Megah Raya Blok D No 16)

Minggu, tgl 23 Desember 2012, pk 17.00

Pdt. Budi Asali
(HP: 7064-1331 / 6050-1331 / 0819-455-888-55)
buas22@yahoo.com

Manusia Yesus tidak kekal! (3)

Yoh 1:1,14 - “(1) Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. ... (14) Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaanNya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepadaNya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.”.

8)   Yoh 1:14 mengatakan bahwa ‘Firman itu telah menjadi manusia’.
Yoh 1:14 - Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaanNya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepadaNya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.”.
KJV: ‘And the Word was made flesh’ (= Dan Firman itu telah dibuat daging).
RSV/NASB: ‘And the Word became flesh’ (= Dan Firman itu menjadi daging).
NIV: ‘The Word became flesh’ (= Firman itu menjadi daging).

a)         ‘Menjadi’.

A. T. Robertson: John does not here say that the LOGOS entered into a man or dwelt in a man or filled a man. ... What ordinary mother or father ever speaks of a child ‘becoming flesh’? ... Thus John asserts the deity and the real humanity of Christ” (= Di sini Yohanes tidak mengatakan bahwa sang LOGOS masuk ke dalam seorang manusia atau tinggal dalam seorang manusia atau mengisi / memenuhi seorang manusia. ... Ibu dan ayah biasa mana yang pernah berbicara tentang seorang anak ‘menjadi daging’? ... Dengan cara ini Yohanes menegaskan keilahian dan kemanusiaan yang sungguh-sungguh dari Kristus) - ‘Word Pictures in the New Testament’, vol 5, hal 12,13.

Robert M. Bowman Jr.: “In his ‘Prologue’ John contrasts the Word, which ‘was’ (EN, third person imperfect form of EIMI) in the beginning, with his bringing into existence (EGENETO, the third person singular indicative form of GENESTHAI) of all things (John 1:1-3). ... to say that the Word was continuing to exist at the beginning of created time is simply another way of saying that the Word was eternal. By going on to say that this uncreated Logos ‘became’ (egeneto) flesh (1:14), John draws another contrast between the two natures of Christ. To put it in the classic terminology of orthodox incarnational theology, Christ was uncreated (EN) with respect to his deity, but created (EGENETO) with respect to his humanity [= Dalam ‘Pendahuluan’nya Yohanes mengkontraskan Firman, yang ‘was’ / telah ada (EN, orang ketiga, bentuk imperfect dari EIMI) pada mulanya, dengan pembuatan / penciptaan (EGENETO, orang ketiga tunggal, bentuk indikatif dari GENESTHAI) dari segala sesuatu (Yoh 1:1-3). ... mengatakan bahwa Firman terus ada pada permulaan dari waktu yang diciptakan hanyalah merupakan cara lain untuk mengatakan bahwa Firman itu kekal. Dengan mengatakan selanjutnya bahwa Logos yang tidak diciptakan ini ‘became’ / ‘menjadi’ (EGENETO) daging (1:14), Yohanes membuat kontras yang lain antara kedua hakekat Kristus. Untuk mengatakannya dalam ungkapan klasik dari theologia inkarnasi yang ortodox, Kristus tidak diciptakan (EN) berkenaan dengan keallahanNya, tetapi diciptakan (EGENETO) berkenaan dengan kemanusiaanNya] - ‘Jehovah’s Witnesses, Jesus Christ, and the Gospel of John’, hal 114.

Kata ‘menjadi’ bisa digunakan dalam 2 arti:
1.   Kalau kita berkata ‘nasi sudah menjadi bubur’, maka itu berarti bahwa mula-mula hanya ada nasi, dan setelah itu hanya ada bubur, sedangkan nasinya hilang / tidak ada lagi.
2.   Kalau saya berkata ‘tahun lalu saya menjadi pendeta’, maka itu berarti mula-mula ada saya, dan setelah itu saya tetap ada / tidak hilang, tetapi lalu ditambahi dengan jabatan pendeta .

Kalau kita berbicara tentang ‘Firman / Allah yang menjadi manu­sia’, maka kita harus mengambil arti ke 2 dari kata ‘menjadi’ tersebut! Pada waktu Allah menjadi manusia, keilahian Yesus tidak hilang (bahkan tidak berkurang sedikitpun), tetapi Ia ketambahan hakekat manusia pada diriNya.

Calvin: “Christ, when he became man, did not cease to be what he formerly was, and that no change took place in that eternal essence of God which was clothed with ‘flesh.’ In short, the Son of God began to be man in such a manner that he still continues to be that eternal Speech who had no beginning” (= Kristus, pada waktu Ia menjadi manusia, tidak berhenti menjadi apa adanya Ia dahulu / sebelumnya, dan bahwa tidak ada perubahan terjadi dalam hakekat Allah itu, yang dipakaiani dengan ‘daging’. Singkatnya, Anak Allah mulai menjadi manusia dengan cara sedemikian rupa sehingga Ia tetap adalah Ucapan / Firman yang kekal, yang tidak mempunyai permulaan) - hal 46.

Kalau manusia Yesus itu kekal, Calvin tidak mungkin mengatakan ‘began to be man’ / ‘mulai menjadi manusia’, dan juga kata ‘menjadi’ dalam Yoh 1:14 tidak bisa ada. Dan perlu diperhatikan bahwa kata ‘menjadi’ itu dalam bahasa Yunani ada dalam aorist tense (= past tense), yang menunjuk pada tindakan sesaat di masa lampau. Penggunaan ini mustahil kalau manusia Yesus itu kekal. Bandingkan dengan penyataan bahwa Yesus itu adalah Allah dalam Yoh 1:1 dimana digunakan imperfect tense.

Gresham Machen: “the imperfect refers to continuous action in past time, while the aorist is the simple past tense. ... in present time this distinction between the simple assertion of the act and the assertion of continued (or repeated) action is not made in Greek (luw / LUO, therefore, means either ‘I loose’ or ‘I am loosing’. But in past time the distinction is very carefully made; the Greek language shows no tendency whatever to confuse the aorist with the imperfect” [= imperfect tense menunjuk pada tindakan terus menerus di masa lampau, sedangkan aorist tense adalah simple past tense / past tense biasa. ... dalam waktu present pembedaan antara pernyataan biasa dari tindakan ini dan pernyataan dari tindakan yang terus menerus (atau diulangi) tidak dibuat dalam bahasa Yunani (karena itu, luw / LUO, berarti atau ‘saya kehilangan’ atau ‘saya sedang kehilangan’. Tetapi pada masa lampau / past pembedaan itu dibuat dengan hati-hati / seksama; bahasa Yunani tidak menunjukkan kecenderungan apapun untuk mencampur-adukkan aorist tense dengan imperfect tense] - ‘New Testament Greek For Beginners’, hal 81-82.

Bandingkan dengan ayat-ayat lain, yang berhubungan dengan inkarnasi, yang juga menggunakan aorist tense.

a.   Ibr 2:14 - “Karena anak-anak itu adalah anak-anak dari darah dan daging, maka Ia juga menjadi sama dengan mereka dan mendapat bagian dalam keadaan mereka, supaya oleh kematianNya Ia memusnahkan dia, yaitu Iblis, yang berkuasa atas maut”.
KJV: ‘Forasmuch then as the children are partakers of flesh and blood, he also himself likewise took part of the same; that through death he might destroy him that had the power of death, that is, the devil;.
Kata-kata ‘took part’ berasal dari kata Yunani METESKHEN, yang ada dalam bentuk aorist tense.

b.   Ibr 2:17 - “Itulah sebabnya, maka dalam segala hal Ia harus disamakan dengan saudara-saudaraNya, supaya Ia menjadi Imam Besar yang menaruh belas kasihan dan yang setia kepada Allah untuk mendamaikan dosa seluruh bangsa.”.
KJV: Wherefore in all things it behoved him to be made like unto his brethren, that he might be a merciful and faithful high priest in things pertaining to God, to make reconciliation for the sins of the people..
Kata-kata ‘to be made like’ berasal dari kata Yunani HOMOIOTHENAI, yang lagi-lagi ada dalam bentuk aorist tense.

c.   1Tim 3:16 - “Dan sesungguhnya agunglah rahasia ibadah kita: ‘Dia, yang telah menyatakan diriNya dalam rupa manusia, dibenarkan dalam Roh; yang menampakkan diriNya kepada malaikat-malaikat, diberitakan di antara bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah; yang dipercayai di dalam dunia, diangkat dalam kemuliaan.’”.
KJV: And without controversy great is the mystery of godliness: God was manifest in the flesh, justified in the Spirit, seen of angels, preached unto the Gentiles, believed on in the world, received up into glory..
Kata-kata yang diterjemahkan ‘was manifest’ dalam bahasa Yunani adalah EPHANEROTHE, yang lagi-lagi ada dalam bentuk aorist tense.

d.   Ro 8:3 - Sebab apa yang tidak mungkin dilakukan hukum Taurat karena tak berdaya oleh daging, telah dilakukan oleh Allah. Dengan jalan mengutus AnakNya sendiri dalam daging, yang serupa dengan daging yang dikuasai dosa karena dosa, Ia telah menjatuhkan hukuman atas dosa di dalam daging,”.
Kata ‘mengutus’ berasal dari kata Yunani PEMPSAS yang juga ada dalam aorist tense.

e.   Fil 2:7 - “melainkan telah mengosongkan diriNya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.”.
Kata-kata ‘telah mengosongkan’ (Yunani: EKENOSEN), ‘mengambil’ (Yunani: LABON), ‘menjadi’ (Yunani: GENOMENOS), semua ada dalam bentuk aorist tense.

f.    Yoh 1:11 - “Ia datang kepada milik kepunyaanNya, tetapi orang-orang kepunyaanNya itu tidak menerimaNya.”.
Kata ‘datang’ (Yunani: ELTHEN) juga ada dalam bentuk aorist tense.

Bdk. 1Yoh 4:2 - “Demikianlah kita mengenal Roh Allah: setiap roh yang mengaku, bahwa Yesus Kristus telah datang sebagai manusia, berasal dari Allah,”.
Kata-kata ‘telah datang’ berasal dari kata Yunani ELULUTHOTA, yang merupakan suatu ‘verb participle perfect’.
Memang ini bukan aorist tense, tetapi tak peduli apapun tense yang digunakan, bagaimana mungkin dikatakan ‘Yesus Kristus telah datang sebagai manusia, kalau manusia Yesus itu kekal?
Dan berbicara tentang perfect tense, Gresham Machen berkata: “The Greek perfect denotes the present state resultant upon a past action” (= Tensa perfect dalam bahasa Yunani menunjukkan keadaan present / sekarang yang dihasilkan / diakibatkan oleh suatu tindakan di masa lampau) - ‘New Testament Greek For Beginners’, hal 187.

b)         ‘Manusia’.
NIV/NASB: ‘flesh’ (= daging).
Kata Yunaninya adalah SARX, yang artinya memang adalah ‘flesh’ / daging.
Dalam tulisan Paulus, kata ‘daging’ sering menunjuk pada keberdosaan kita (misalnya: Gal 5:16,17,19). Tetapi dalam Yoh 1:14 ini kata ‘daging’ merupakan synecdoche (= suatu gaya bahasa dimana yang sebagian mewakili seluruhnya), dan menunjuk pada seluruh manusia (the whole man), yaitu baik tubuh maupun jiwa / roh (bandingkan dengan Maz 145:21 dimana kata ‘makhluk’ dalam bahasa Ibraninya adalah BASHAR, yang arti sebenarnya adalah ‘daging’).
Maz 145:21 - “Mulutku mengucapkan puji-pujian kepada TUHAN dan biarlah segala makhluk memuji namaNya yang kudus untuk seterusnya dan selamanya.”.

Calvin: “this is a figure of speech in which a part is taken for the whole; for the lower part includes the whole man” (= ini merupakan gaya bahasa dimana yang sebagian mewakili seluruhnya; karena bagian yang lebih rendah mencakup seluruh manusia) - hal 45.
Keterangan: Kristus adalah sungguh-sungguh Allah dan sungguh-sungguh manusia. Kata-kata ‘the lower part’ (= bagian yang lebih rendah) menunjuk kepada kemanusiaan dari Kristus, karena itu memang lebih rendah dari keilahianNya.

Jadi, kalimat ‘Firman telah menjadi daging’ itu tidak boleh diar­tikan seakan-akan Yesus hanya mempunyai tubuh manusia, tetapi tidak mempunyai jiwa / roh manusia (seperti yang diajarkan oleh ajaran Apollinarianisme).

c)         Beberapa komentar tentang Yoh 1:14.
Adam Clarke: The only begotten of the Father.’ That is, the only person born of a woman, whose human nature never came by the ordinary way of generation; it being a mere creation in the womb of the virgin, by the energy of the Holy Spirit. (= ‘Satu-satunya yang dipernakkan dari Bapa’. Artinya, satu-satunya pribadi yang dilahirkan dari seorang perempuan, yang hakekat manusiaNya tidak pernah datang dari cara kelahiran biasa; itu adalah suatu ciptaan belaka / hanya suatu ciptaan, dalam kandungan dari sang perawan, oleh kekuatan dari Roh Kudus.).
Catatan: jadi, bukan hanya orang-orang Reformed yang menganggap manusia Yesus sebagai ciptaan / tidak kekal. Adam Clarke adalah seorang Arminian, tetapi ia juga mempunyai pandangan itu. Saya menganggap bahwa doktrin bahwa ‘manusia Yesus tidak kekal’, bukanlah sekedar merupakan pandangan Reformed, tetapi merupakan pandangan Kristen!

Barnes’ Notes (tentang Yoh 1:1): In the beginning.’ This expression is used also in Gen 1:1. John evidently has allusion here to that place, and he means to apply to ‘the Word’ an expression which is there applied ‘to God.’ In both places it clearly means BEFORE creation, before the world was made, when as yet there was nothing. The meaning is: that the ‘Word’ had an existence before the world was created. This is not spoken of the MAN Jesus, but of that which ‘became’ a man, or was incarnate, John 1:14. The Hebrews, by expressions like this, commonly denoted eternity. Thus the eternity of God is described (Ps 90:2): ‘Before the mountains were brought forth, etc.;’ and eternity is commonly expressed by the phrase, ‘before the foundation of the world.’ Whatever is meant by the term ‘Word,’ it is clear that it had an existence before ‘creation.’ It is not, then, a ‘creature’ or created being, and must be, therefore, uncreated and eternal. There is only ONE Being that is uncreated, and Jesus must be therefore divine. [= ‘Pada mulanya’. Ungkapan ini digunakan juga dalam Kej 1:1. Di sini Yohanes jelas menunjuk secara tak langsung pada tempat itu, dan ia memaksudkan untuk menerapkan pada ‘Firman’ suatu ungkapan yang di sana diterapkan ‘kepada Allah’. Dalam kedua tempat itu jelas berarti SEBELUM penciptaan, sebelum dunia / alam semesta diciptakan, pada waktu di sana belum ada apa-apa. Artinya adalah: bahwa ‘Firman’ mempunyai suatu keberadaan sebelum dunia / alam semesta diciptakan. Ini tidak dibicarakan tentang manusia Yesus, tetapi tentang itu yang ‘menjadi’ seorang manusia, atau berinkarnasi, Yoh 1:14. Orang-orang Ibrani, dengan ungkapan seperti ini, biasanya memaksudkan kekekalan. Maka kekekalan dari Allah digambarkan (Maz 90:2): ‘Sebelum gunung-gunung dilahirkan, dst.’; dan kekekalan biasanya dinyatakan oleh ungkapan, ‘sebelum dunia dijadikan’. Apapun yang dimaksudkan dengan istilah ‘Firman’, adalah jelas bahwa itu mempunyai keberadaan sebelum ‘penciptaan’. Maka, itu bukanlah suatu ‘ciptaan’ atau makhluk ciptaan, dan karena itu haruslah tidak dicipta dan kekal. Hanya ada satu makhluk yang tidak dicipta, dan karena itu Yesus haruslah ilahi / Allah].

Kekekalan dari Kristus memang ditekankan dalam Yoh 1:1, tetapi itu menunjuk pada keilahianNya. Sedangkan Yoh 1:14 mengatakan bahwa Dia ‘telah menjadi’ manusia. Ini tidak bisa tidak, terjadi bukan dalam kekekalan, tetapi dalam waktu!

9)   Kemanusiaan Yesus dibutuhkan untuk menangani / membereskan dosa manusia.
Karena itu merupakan suatu kemustahilan untuk mengatakan bahwa manusia Yesus itu kekal, dan sudah ada sebelum dosa ada.
Memang ada orang yang menganggap bahwa Kristus harus tetap menjadi manusia sekalipun Adam / manusia tidak jatuh ke dalam dosa. Tetapi Calvin membantah ini (‘Institutes of the Christian Religion’, Book II, Chapter 12, no 1-5), karena Alkitab secara jelas menunjukkan bahwa tujuan Kristus menjadi manusia adalah untuk membereskan dosa manusia.
Mari kita membaca beberapa ayat berkenaan dengan hal ini.
Yoh 3:16 - “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.”.
Luk 19:10 - “Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang.’”.
Ro 8:3-4 - “(3) Sebab apa yang tidak mungkin dilakukan hukum Taurat karena tak berdaya oleh daging, telah dilakukan oleh Allah. Dengan jalan mengutus AnakNya sendiri dalam daging, yang serupa dengan daging yang dikuasai dosa karena dosa, Ia telah menjatuhkan hukuman atas dosa di dalam daging, (4) supaya tuntutan hukum Taurat digenapi di dalam kita, yang tidak hidup menurut daging, tetapi menurut Roh.”.
Luk 24:46-47 - “(46) KataNya kepada mereka: ‘Ada tertulis demikian: Mesias harus menderita dan bangkit dari antara orang mati pada hari yang ketiga, (47) dan lagi: dalam namaNya berita tentang pertobatan dan pengampunan dosa harus disampaikan kepada segala bangsa, mulai dari Yerusalem.”.
1Tim 2:5 - “Karena Allah itu esa dan esa pula Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus,”.
Ro 5:8 - “Akan tetapi Allah menunjukkan kasihNya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.”.
Ibr 9:22 - “Dan hampir segala sesuatu disucikan menurut hukum Taurat dengan darah, dan tanpa penumpahan darah tidak ada pengampunan.”.
Ibr 9:26-28 - “(26) Sebab jika demikian Ia harus berulang-ulang menderita sejak dunia ini dijadikan. Tetapi sekarang Ia hanya satu kali saja menyatakan diriNya, pada zaman akhir untuk menghapuskan dosa oleh korbanNya. (27) Dan sama seperti manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja, dan sesudah itu dihakimi, (28) demikian pula Kristus hanya satu kali saja mengorbankan diriNya untuk menanggung dosa banyak orang. Sesudah itu Ia akan menyatakan diriNya sekali lagi tanpa menanggung dosa untuk menganugerahkan keselamatan kepada mereka, yang menantikan Dia.”.
Yoh 10:10 - “Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.”.
Gal 4:4-5 - “(4) Tetapi setelah genap waktunya, maka Allah mengutus AnakNya, yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat. (5) Ia diutus untuk menebus mereka, yang takluk kepada hukum Taurat, supaya kita diterima menjadi anak.”.
1Tim 1:15 - “Perkataan ini benar dan patut diterima sepenuhnya: ‘Kristus Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang berdosa,’ dan di antara mereka akulah yang paling berdosa.”.
1Yoh 3:8 - “barangsiapa yang tetap berbuat dosa, berasal dari Iblis, sebab Iblis berbuat dosa dari mulanya. Untuk inilah Anak Allah menyatakan diriNya, yaitu supaya Ia membinasakan perbuatan-perbuatan Iblis itu.”.

III) Tambahan-tambahan penting.

Perlu diingat bahwa kata-kata ‘begotten, not made’ (= ‘diperanakkan, bukan dicipta’) dalam Pengakuan Iman Nicea - Konstantinople, tidak menunjuk kepada kemanusiaan / hakekat manusia Yesus, tetapi menunjuk kepada keilahianNya.

Perhatikan juga beberapa kutipan pendukung di bawah ini, baik dari penulis Reformed maupun bukan Reformed, yang menyatakan bahwa manusia Yesus tidak kekal dan merupakan ciptaan!

John Owen: “The framing, forming, and miraculous conception of the body of Christ in the womb of the blessed Virgin was the peculiar and especial work of the Holy Ghost. ... The act of the Holy Ghost in this matter was a creating act; not, indeed, like the first creating act, which produced the matter and substance of all things out of nothing, causing that to be which was not before, neither in matter, nor form, nor passive disposition; but like those subsequent acts of creation, whereby, out of matter before made and prepared, things were made that which before they were not, and which of themselves they had no active disposition unto nor concurrence in. So man was created or formed of the dust of the earth, and woman of a rib taken from man. There was a previous matter unto their creation, but such as gave no assistance nor had any active disposition to the production of that particular kind of creature whereinto they were formed by the creating power of God. Such was this act of the Holy Ghost in forming the body of our Lord Jesus Christ; for although it was effected by an act of infinite creating power, yet it was formed or made of the substance of the blessed Virgin” [= Penyusunan, pembentukan, dan pembuahan yang bersifat mujijat dari tubuh Kristus di dalam kandungan Perawan yang diberkati merupakan pekerjaan yang khas dan khusus dari Roh Kudus. ... Tindakan Roh Kudus dalam persoalan ini merupakan tindakan penciptaan; memang tidak seperti tindakan penciptaan pertama, yang menghasilkan bahan dan zat dari segala sesuatu dari tidak ada, menyebabkannya ada padahal tadinya tidak ada, baik dalam bahannya, bentuknya, maupun penyusunan / kecondongan pasif (?); tetapi seperti tindakan-tindakan penciptaan yang berikutnya, dengan mana, dari bahan yang sudah dibuat dan dipersiapkan sebelumnya, benda-benda / hal-hal yang sebelumnya tidak ada dibuat / dicipta, dan yang dari dirinya sendiri mereka tidak mempunyai kecondongan aktif kepada hal itu maupun persetujuan. Demikianlah manusia / orang laki-laki diciptakan atau dibentuk dari debu tanah, dan perempuan dari tulang rusuk laki-laki. Disana sudah ada bahan untuk penciptaan mereka, tetapi sedemikian rupa sehingga tidak memberikan bantuan atau mempunyai kecondongan aktif pada produksi dari jenis ciptaan tertentu ke dalam mana mereka dibentuk oleh kuasa penciptaan Allah. Demikian jugalah tindakan Roh Kudus dalam membentuk tubuh dari Tuhan Yesus Kristus; karena sekalipun itu dihasilkan oleh tindakan dari kuasa penciptaan yang tak terbatas, tetapi itu dibentuk atau dibuat dari zat dari sang Perawan yang diberkati] - ‘The Works of John Owen’, vol 3, ‘The Holy Spirit’, hal 162,163-164.

John Owen: the creating act of the Holy Ghost, in forming the body of our Lord Jesus Christ in the womb, ... the conception of Christ in the womb, being the effect of a creating act, was not accomplished successively and in process of time, but was perfected in an instant;” (= tindakan penciptaan dari Roh Kudus, dalam membentuk tubuh dari Tuhan kita Yesus Kristus dalam kandungan, ... pembuahan Kristus dalam kandungan, yang merupakan hasil dari tindakan penciptaan, tidak dicapai secara berturutan dan dalam proses waktu, tetapi disempurnakan dalam sesaat;) - ‘The Works of John Owen’, vol 3, ‘The Holy Spirit’, hal 165.

Herman Bavinck:
·         “Even though Christ has assumed a human nature which is finite and limited and which began in time, as person, as Self, Christ does not in Scripture stand on the side of the creature but on the side of God” (= Sekalipun Kristus telah mengambil suatu hakekat manusia yang terbatas dan yang dimulai dalam waktu, tetapi sebagai Pribadi, sebagai Diri / Ego, dalam Kitab Suci Kristus tidak berdiri di pihak makhluk ciptaan tetapi di pihak Allah) - ‘Our Reasonable Faith’, hal 317.
·         “The relationship is that of Creator and creature, and the creature from the nature of his being can never become Creator, nor have the significance and worth for us human beings of the Creator” (= Hubungan itu adalah hubungan Pencipta dan makhluk ciptaan, dan makhluk ciptaan sesuai dengan hakekat / keadaan alamiah keberadaanNya tidak pernah bisa menjadi Pencipta, atau mempunyai arti dan nilai dari sang Pencipta bagi kita manusia) - ‘Our Reasonable Faith’, hal 323.
·         That human nature did not exist beforehand. ... But in the incarnation, also, Scripture holds to the goodness of creation and to the Divine origin of matter” (= Hakekat manusia itu tidak ada sebelumnya. ... Tetapi juga dalam inkarnasi, Kitab Suci berpegang pada kebaikan penciptaan dan pada asal usul Ilahi dari zat / bahan) - ‘Our Reasonable Faith’, hal 325.
·         “Just as the human nature of Christ did not exist before the conception in Mary, so it did not exist for sometime before, nor some time after, in a state of separation from Christ” (= Sebagaimana hakekat manusia Kristus itu tidak ada sebelum pembuahan di dalam Maria, begitu juga hakekat manusia itu tidak ada sebelumnya, ataupun setelahnya, dalam keadaan terpisah dari Kristus) - ‘Our Reasonable Faith’, hal 326.
·         “In short, to one and the same subject, one and the same person, Divine and human attributes and works, eternity and time, omnipresence and limitation, creative omnipotence and creaturely weakness are ascribed” (= Singkatnya, subyek yang satu dan yang sama, pribadi yang satu dan yang sama, dianggap mempunyai sifat-sifat dasar dan pekerjaan-pekerjaan Ilahi dan manusia, kekekalan dan waktu / terbatas waktu, kemaha-adaan dan keterbatasan, kemaha-kuasaan yang bersifat mencipta dan kelemahan makhluk ciptaan) - ‘Our Reasonable Faith’, hal 326.

Dan dalam tafsirannya tentang Mikha 5:1, Calvin berkata sebagai berikut:
the Prophet could not properly nor wisely mention the human nature of Christ with the divine, with reference to eternity. The Word of God, we know, was eternal; and we know, that when the fulness of time came, as Paul says, Christ put on our nature, (Gal. 4:4.) Hence the beginning of Christ as to the flesh was not so old, if his existence be spoken of: to set them together then would have been absurd [= sang Nabi tidak bisa secara tepat / benar ataupun secara bijaksana menyebutkan hakekat manusia dari Kristus dengan hakekat ilahiNya, berkenaan dengan kekekalan. Firman Allah, kita tahu, adalah kekal; dan kita tahu, bahwa pada saat kegenapan waktunya datang, seperti Paulus katakan, Kristus memakai / mengenakan hakekat kita, (Gal 4:4). Karena itu permulaan dari Kristus berkenaan dengan daging tidaklah begitu tua, jika keberadaanNya dibicarakan: maka, membuat mereka bersama-sama akan merupakan sesuatu yang menggelikan].
Gal 4:4 - “Tetapi setelah genap waktunya, maka Allah mengutus AnakNya, yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat.”.

Philip Schaff: “The Son, as man, is produced; as God, he is unproduced or uncreated; he is begotten from eternity of the unbegotten Father. To this Athanasius refers the passage concerning the Only-begotten who is in the bosom of the Father” [= Anak, sebagai manusia, dihasilkan / diciptakan; sebagai Allah, Ia tidak dihasilkan atau tidak diciptakan; Ia diperanakkan dari kekekalan dari Bapa yang tidak diperanakkan. Untuk ini Athanasius menunjuk pada text tentang Satu-satunya yang diperanakkan, yang ada di dada Bapa (Yoh 1:18)] - ‘History of the Christian Church’, vol III, hal 658.
Catatan: Schaff adalah seorang ahli sejarah, dan dia jelas bukan Reformed.

Pengakuan Iman Chalcedon: “We, then, following the holy Fathers, all with one consent, teach men to confess, one and the same Son, our Lord Jesus Christ; the same perfect in Godhead and also perfect in Manhood; truly God, and truly Man, of a reasonable soul and body; consubstantial with the Father according to the Godhead, and consubstantial with us according to the Manhood; in all things like unto us without sin; begotten before all ages of the Father according to the Godhead, and in these latter days, for us and for our salvation, born of Mary the Virgin Mother of God according to the Manhood. He is one and the same Christ, Son, Lord, Only begotten, existing in two natures without mixture, without change, without division, without separation; the diversity of the two natures not being at all destroyed by their union, but the peculiar properties of each nature being preserved, and concurring to one person and one subsistence, not parted or divided into two persons, but one and the same Son, and Only-begotten, God The Word, the Lord Jesus Christ; as the prophets from the beginning have declared concerning Him, and as the Lord Jesus Christ Himself hath taught us, and as the Creed of the holy fathers has delivered to us” (= Maka, kami semua, mengikuti Bapa-bapa kudus, dengan suara bulat, mengajar manusia untuk mengaku, Anak yang satu dan yang sama, Tuhan kita Yesus Kristus, sempurna dalam keilahian dan juga sempurna dalam kemanusiaan, sungguh-sungguh Allah dan sungguh-sungguh manusia, dengan jiwa yang bisa berpikir dan tubuh; menurut keilahianNya mempunyai zat / hakekat yang sama dengan Sang Bapa, dan menurut kemanusiaanNya mempunyai zat / hakekat yang sama dengan kita, dalam segala hal sama seperti kita tetapi tanpa dosa; menurut keilahianNya diperanakkan sebelum segala jaman dari Bapa, dan menurut kemanusiaanNya dilahirkan dari Maria, sang Perawan, Bunda Allah dalam hari-hari akhir ini. Ia adalah Kristus, Anak, Tuhan yang satu dan yang sama, satu-satunya yang diperanakkan, mempunyai keberadaan dalam 2 hakekat, tanpa percampuran, tanpa perubahan, tanpa perpecahan, tanpa perpisahan; perbedaan dari dua hakekat itu sama sekali tidak dihancurkan oleh persatuan mereka, tetapi sifat-sifat dasar yang khas dari setiap hakekat dipertahankan dan bersatu menjadi satu pribadi dan satu keberadaan / makhluk, tidak berpisah atau terbagi menjadi dua pribadi, tetapi Anak yang satu dan yang sama, dan satu-satunya yang diperanakkan, Allah Firman, Tuhan Yesus Kristus; seperti nabi-nabi dari semula telah menyatakan tentang Dia, dan seperti Tuhan Yesus Kristus sendiri telah mengajar kita, dan seperti pengakuan iman bapa-bapa kudus telah menyampaikan kepada kita).

Pengakuan Iman Athanasius: “1. Whosoever wishes to be saved, it is above all necessary for him to hold the Catholic faith.  2. Which, unless each one shall preserve perfect and inviolate, he shall certainly perish forever.  3. But the Catholic faith is this, that we worship one God in trinity, and trinity in unity.  4. Neither confounding the persons, nor separating the substance.  5. For the person of the Father is one, of the Son another, and of the Holy Ghost another.  6. But of the Father, of the Son, and of the Holy Ghost there is one divinity, equal glory and co-eternal majesty.  7. What the Father is, the same is the Son, and the Holy Ghost.  8. The Father is uncreated, the Son uncreated, the Holy Ghost uncreated.  9. The Father is immense, the Son immense, the Holy Ghost immense.  10. The Father is eternal, the Son eternal, the Holy Ghost eternal.  11. And yet there are not three eternals, but one eternal.  12. So there are not three (beings) uncreated, nor three immense, but one uncreated, and one immense.  13. In like manner the Father is omnipotent, the Son is omnipotent, the Holy Ghost is omnipotent.  14. And yet there are not three omnipotents, but one omnipotent.  15. Thus the Father is God, The Son is God, the Holy Ghost is God.  16. And yet there are not three Gods, but one God.  17. Thus The Father is Lord, the Son is Lord, the Holy Ghost is Lord.  18. And yet there are not three Lords, but one Lord.  19. Because as we are thus compelled by Christian verity to confess each person severally to be God and Lord; so we are prohibited by the Catholic religion from saying that there are three Gods or Lords.  20. The Father was made from none, nor created, nor begotten.  21. The Son is from the Father alone, neither made, nor created, but begotten.  22. The Holy Ghost is from the Father and the Son, neither made, nor created, nor begotten, but proceeding.  23. Therefore there is one Father, not three fathers, one Son, not three sons, one Holy Ghost, not three Holy Ghosts.  24. And in this trinity no one is first or last, no one is greater or less.  25. But all the three co-eternal persons are co-equal among themselves; so that through all, as is above said, both unity in trinity, and trinity in unity is to be worship.  26. Therefore, he who wishes to be saved must think thus concerning the trinity.  27. But it is necessary to eternal salvation that he should also faithfully believe the incarnation of our Lord Jesus Christ.  28. It is, therefore, true faith that we believe and confess that our Lord Jesus Christ is both God and man.  29. He is God, generated from eternity from the substance of the Father; man, born in time from the substance of his mother.  30. Perfect God, perfect man, subsisting of a rational soul and human flesh.  31. Equal to the Father in respect to his divinity, less than the Father in respect to his humanity.  32. Who, although he is God and man, is not two but one Christ.  33. But one, not from the conversion of his divinity into flesh, but from the assumption of his humanity into God.  34. One not at all from confusion of substance, but from unity of person.  35. For as a rational soul and flesh is one man, so God and man is one Christ.  36. Who suffered for our salvation, descended into hell, the third day rose from the dead.  37. Ascended to heaven, sitteth at the right hand of God the Father omnipotent, whence he shall come to judge the living and the dead.  38. At whose coming all men shall rise again with their bodies, and shall render an account for their own works.  39. And they who have done well shall go into life eternal; they who have done evil into eternal fire.  40. This is the Catholic faith, which, unless a man shall faithfully and firmly believe, he can not be saved.” (= 1. Barangiapa yang ingin diselamatkan, adalah perlu baginya di atas segala-galanya untuk memegang / mempercayai iman Katolik / universal / am.  2. Yang, kecuali setiap orang memelihara / mempertahankannya secara sempurna dan tidak diganggu gugat, ia pasti akan binasa selama-lamanya.  3. Tetapi iman Katolik / universal / am adalah ini, bahwa kami menyembah satu Allah dalam tritunggal, dan tritunggal dalam kesatuan.  4. Tidak ada kekacauan / percampuran pribadi-pribadi ataupun pemisahan zat.  5. Karena pribadi dari Bapa adalah satu, dari Anak adalah pribadi yang lain, dan dari Roh Kudus adalah pribadi yang lain.  6. Tetapi dari Bapa, dari Anak, dan dari Roh Kudus ada satu keilahian, kemuliaan yang sama / setara dan keagungan yang sama kekalnya.  7. Apa adanya Bapa itu, demikian juga dengan Anak, dan juga Roh Kudus.  8. Bapa tidak diciptakan, Anak tidak diciptakan, Roh Kudus tidak diciptakan.  9. Bapa itu maha besar, Anak itu maha besar, Roh Kudus itu maha besar.  10. Bapa itu kekal, Anak itu kekal, Roh Kudus itu kekal.  11. Tetapi tidak ada tiga yang kekal, tetapi satu yang kekal.  12. Demikian juga tidak ada tiga (makhluk) yang tidak dicipta, juga tidak tiga yang maha besar, tetapi satu yang tidak dicipta, dan satu yang maha besar.  13. Dengan cara yang sama Bapa adalah maha kuasa, Anak adalah maha kuasa, Roh Kudus adalah maha kuasa.  14. Tetapi tidak ada tiga yang maha kuasa, tetapi satu yang maha kuasa.  15. Demikian juga Bapa adalah Allah, Anak adalah Allah, Roh Kudus adalah Allah.  16. Tetapi tidak ada tiga Allah, tetapi satu Allah.  17. Demikian pula Bapa adalah Tuhan, Anak adalah Tuhan, dan Roh Kudus adalah Tuhan.  18. Tetapi tidak ada tiga Tuhan, tetapi satu Tuhan.  19. Karena sebagaimana kami didorong seperti itu oleh kebenaran Kristen untuk mengakui setiap pribadi secara terpisah / individuil sebagai Allah dan Tuhan; demikian pula kami dilarang oleh agama Katolik / universal / am untuk mengatakan bahwa ada tiga Allah atau Tuhan.  20. Bapa tidak dibuat dari apapun, tidak diciptakan, tidak diperanakkan.  21. Anak itu dari Bapa saja, tidak dibuat, tidak dicipta, tetapi diperanakkan.  22. Roh Kudus itu dari Bapa dan Anak, tidak dibuat, tidak dicipta, tidak diperanakkan, tetapi keluar.  23. Karena itu ada satu Bapa, bukan tiga bapa, satu Anak, bukan tiga anak, satu Roh Kudus, bukan tiga Roh Kudus.  24. Dan dalam tritunggal ini tidak ada yang pertama atau terakhir, tidak ada yang lebih besar atau lebih kecil.  25. Tetapi ketiga pribadi yang sama-sama kekal dan setara di antara mereka sendiri; sehingga mereka semua secara keseluruhan, seperti dikatakan di atas, baik kesatuan dalam tritunggal, maupun tritunggal dalam kesatuan, harus disembah.  26. Karena itu, ia yang ingin diselamatkan harus berpikir demikian tentang tritunggal.  27. Tetapi adalah perlu untuk keselamatan kekal bahwa ia juga percaya dengan setia / benar inkarnasi dari Tuhan kita Yesus Kristus.  28. Karena itu adalah iman yang benar bahwa kita percaya dan mengaku bahwa Tuhan kita Yesus Kristus adalah Allah dan manusia.  29. Ia adalah Allah, diperanakkan dari kekekalan dari zat Sang Bapa; manusia, dilahirkan dalam waktu dari zat ibuNya.  30. Allah yang sempurna, manusia yang sempurna, terdiri dari jiwa yang rasionil dan daging manusia.  31. Setara dengan Sang Bapa dalam hal keilahianNya, lebih rendah dari Sang Bapa dalam hal kemanusiaanNya.  32. Yang, sekalipun adalah Allah dan manusia, bukanlah dua tetapi satu Kristus.  33. Tetapi satu, bukan dari perubahan dari keilahianNya menjadi daging, tetapi dari penerimaan / pengambilan dari kemanusiaanNya kepada / ke dalam Allah.  34. Satu, sama sekali bukan karena percampuran zat, tetapi dari kesatuan pribadi.  35. Karena sebagaimana jiwa yang rasionil dan daging adalah satu manusia, demikian juga Allah dan manusia adalah satu Kristus.  36. Yang menderita untuk keselamatan kita, turun ke neraka, hari yang ketiga bangkit dari antara orang mati.  37. Naik ke surga, duduk di sebelah kanan Allah Bapa yang mahakuasa, darimana Ia akan datang untuk menghakimi orang yang hidup dan yang mati.  38. Pada kedatangan siapa semua manusia akan bangkit kembali dengan tubuhnya, dan akan mempertanggungjawabkan pekerjaan / perbuatan mereka sendiri.  39. Dan mereka yang telah berbuat baik akan pergi ke dalam kehidupan kekal; mereka yang telah berbuat jahat ke dalam api yang kekal.  40. Inilah iman Katolik / universal / am, yang, kecuali seseorang percaya dengan setia dan teguh, ia tidak bisa diselamatkan) - A. A. Hodge, ‘Outlines of Theology’, hal 117-118.

Penutup / kesimpulan.

Yesus sebagai Allah memang jelas kekal, tetapi manusia Yesus tidak kekal, mulai ada dalam waktu, dan Ia memang diciptakan! Siapapun yang mempunyai kepercayaan yang berbeda dengan ini, harus memperhatikan kata-kata Herschel H. Hobbs di bawah ini:

Herschel H. Hobbs mengutip George W. Truett: “He was God as though he were not man. And he was man as though he were not God. He was the God-man. And never did a hyphen mean so much” (= Ia adalah Allah seakan-akan Ia bukanlah manusia. Dan Ia adalah manusia seakan-akan Ia bukanlah Allah. Ia adalah manusia-Allah. Dan sebuah tanda ‘-’ tidak pernah berarti begitu banyak seperti di sini) - hal 21.
Catatan: a hyphen adalah tanda ‘-’ yang muncul dalam istilah ‘the God-man’.

Herschel H. Hobbs mengutip Robert G. Lee: “As in eternity he leaned upon the bosom of his Father without a mother, so in time he leaned upon the bosom of his mother without a father” (= Sebagaimana dalam kekekalan Ia bersandar pada dada BapaNya tanpa seorang ibu, demikian juga dalam waktu Ia bersandar pada dada ibuNya tanpa seorang bapa) - hal 21.

Herschel H. Hobbs: “It is just as great a heresy to deny His humanity as to deny His deity” (= Menyangkal kemanusiaanNya adalah sama sesatnya dengan menyangkal keilahianNya) - hal 21.

John Calvin: The second requirement of our reconciliation with God was this: that man, who by his disobedience had become lost, should by way of remedy counter it with obedience, satisfy God’s judgment, and pay the penalties for sin. Accordingly, our Lord came forth as true man and took the person and the name of Adam in order to take Adam’s place in obeying the Father, to present our flesh as the price of satisfaction to God’s righteous judgment, and, in the same flesh, to pay the penalty that we had deserved. In short, since neither as God alone could he feel death, nor as man alone could he overcome it, he coupled human nature with divine that to atone for sin he might submit the weakness of the one to death; and that, wrestling with death by the power of the other nature, he might win victory for us. Those who despoil Christ of either his divinity or his humanity diminish his majesty and glory, or obscure his goodness. On the other hand, they do just as much wrong to men whose faith they thus weaken and overthrow, because it cannot stand unless it rests upon this foundation. (= Persyaratan kedua dari perdamaian kita dengan Allah adalah ini: bahwa manusia, yang oleh ketidak-taatannya telah menjadi terhilang, harus dengan cara pengobatan membalasnya dengan ketaatan, memuaskan penghakiman Allah, dan membayar hukuman dosa. Karena itu, Tuhan kita tampil ke depan sebagai manusia sejati / sungguh-sungguh dan mengambil pribadi dan nama dari Adam untuk mengambil tempat Adam dalam mentaati Bapa, untuk memberikan daging kita sebagai harga dari pemuasan bagi penghakiman yang benar dari Allah, dan, dalam daging yang sama, membayar hukuman yang layak kita dapatkan. Singkatnya, karena sebagai Allah saja Ia tidak bisa merasakan kematian, dan sebagai manusia saja Ia tidak bisa menanggulanginya, Ia menggandengkan hakekat manusia dengan hakekat ilahi sehingga untuk menebus dosa Ia bisa menundukkan kelemahan yang satu kepada kematian; dan supaya, bergumul dengan kematian oleh kuasa dari hakekat yang lain, Ia bisa memenangkan kemenangan bagi kita. Mereka yang merampok Kristus, atau dari keilahianNya atau dari kemanusiaanNya, mengurangi keagungan dan kemuliaanNya, atau mengaburkan kebaikanNya. Di sisi lain, mereka melakukan sama banyaknya kesalahan kepada orang-orang, yang imannya mereka lemahkan dan robohkan, karena itu tidak bisa berdiri / bertahan kecuali itu berdiri di atas dasar ini.) - ‘Institutes of the Christian Religion’, Book II, Chapter 12, no 3.




-AMIN-